Previous Chap :

Mendadak Naruto memukul meja. Tidak terlalu kencang, tapi hal itu sanggup membisukan Sakura yang dari tadi berbicara. Dia amati Naruto yang menekuk wajah. Alisnya bertautan dan kedua tangannya terkepal. "Aku bukan anak kecil! Bahkan aku bisa membuatmu tidak menyukai Kakashi lagi dan berbalik menyukaiku!"

Ia pun mematikan rokoknya yang masih menyala ke piring makanan Sakura, lantas berdiri. Sebelum ia benar-benar pergi, ia pastikan dulu untuk menatap iris berkrolofil Sakura dengan tatapan sinisnya.

"Akan kubuat kau menyukai anak kecil sepertiku, Sakura..."

.

.

Keesokan paginya, lagi-lagi langit di atas gedung Konoha High School bersih tanpa awan mendung. Kelopak bunga sakura berguguran diterpa angin sejuk yang berhembus pelan. Ya, ini memang awal musim semi yang indah.

Tepat jam 06.45, Sakura yang baru sampai di depan gerbang sekolah memperhatikan suasana di depan gerbang dengan senang. Guru muda bermarga Haruno itu menyelipkan anak rambutnya ke belakang telinga, lalu melangkah semangat memasuki area sekolah.

"Ohayou gozaimasu, Haruno-sensei..."

Sakura menoleh dan menemukan dua murid 12-B yang ber-ojigi kepadanya. Tentu saja Sakura membalasnya menggunakan senyuman tipis nan anggun. Seperti hari-hari sebelumnya, memang banyak yang menyapanya seperti tadi—terutama para siswa.

Kalau dipikir-pikir, dia jadi kangen masa-masa bersekolahnya dulu. Bercanda dengan teman, menggerutu, galau, menembak cowok yang ditaksir, belajar mati-matian saat ulangan, terlibat masalah dengan teman ataupun guru yang menyebalkan, dan lain-lain. Coba saja ia bisa mengulang waktu SMA-nya sekali lagi. Tapi ia ingin mengulangnya di sekolah ini. Tentu saja karena ada guru bernama Kakashi Hatake yang mengajar mata pelajaran favoritnya, biolgi.

Wanita bersurai pendek itu tersenyum lebar...

Membayangkan jika dia murid dan Kakashi gurunya saja sudah membuat ia tersipu sendiri. Kisah cinta guru dan murid, pasti romantis, kan?

Brukh!

Di tengah lamunannya, mendadak ada siswa yang menabrak bahu kanannya dari belakang. Sakura yang terkejut sontak menjatuhkan buku bawaannya ke lantai koridor. Sambil menahan amarah, Sakura berjongkok sekaligus melihat pelaku yang menabraknya.

"Makanya, kalau lagi jalan jangan mikirin aku terus..."

Alis Sakura mengernyit ketika ia mendapati Naruto yang melintasinya. Pria itu menjulurkan lidah. Ia tercengang. "Ugh, dasar tidak sopan! Coba saja tadi aku cepat tanggap dan menjewer telinganya!" Desisnya tidak terima.

Tapi kalau kisah guru dan muridnya mengenai dia dan Naruto... itu buruk—teramat sangat buruk.

.

.

.

DEAR TEACHER

"Dear Teacher" punya zo

Naruto by Masashi Kishimoto

[Naruto Namikaze x Sakura Haruno]

Romance, Drama, Friendship

AU, OOC, Typos, etc.

.

.

SECOND. Murid Menyebalkan

.

.

"Aaa..."

"Di mana kertaskuu?"

Suara itu terdengar dari ruang guru, lebih tepatnya di meja Sakura Haruno. Satu per satu lemari kerjanya Sakura buka. Lokernya ia obrak-abrik. Pandangan matanya ke sana-sini menjelajahi tiap celah. Ia berharap bisa menemukan selembar kertas penting.

Lelah, Sakura duduk dan mendesah pasrah. Ia berusaha mengingat-ingat sekalipun kepalanya telah pusing. "Duh, gimana dong? Padahal itu soal ulangan yang belum sempat difotokopi—ah!" Mendadak ia teringat. "Pasti kertas itu jatuh pas aku ditabrak Naruto!"

Baru saja Sakura akan berlari ke koridor lantai satu, ada guru yang mendatanginya. "Sakura-san, kau mencari ini?" Bersama senyuman manis, Kurenai memberikan selembar kertas yang dicari Sakura. "Sepertinya kertasmu ini terjatuh dan terbang ditiup angin ke kantin. Untung saja ada cleaning service yang menemukannya dan melihat namamu di kertas."

Sakura mengerjap pelan. Dia ambil kertas tersebut dan dilihat isinya baik-baik. Beberapa detik kemudian, mata Sakura berbinar. "Terima kasih, Yuuhi-san!"

"Panggil Kurenai aja."

"Baiklah, Kurenai-san..."

Kurenai tersenyum. "Dan kalau boleh tau, kenapa bisa sampai jatuh?"

"Iya, tadi aku ditabrak Naruto. Kurenai-san tau, kan? Murid menyebalkan dari kelas 12-A itu..." Dengan mendengus kesal Sakura merapihkan mejanya yang sempat acak-acakan karena ulahnya sendiri.

"Naruto?" Kurenai memiringkan kepalanya, berpikir. "Iya, aku tau. Tapi, seingatku dia bukan—" Ia menutup mulut.

Sakura menatapnya sekilas. "Bukan apa?"

"Tidak, tidak ada apa-apa. Abaikan kalimat terakhirku. Aku ke kelas duluan, ya?"

Sakura mengangguk pelan.

.

.

~zo : dear teacher~

.

.

Sakura melirik sekilas jadwal pelajarannya di hari ini; hari Senin. Lagi-lagi nama kelas yang terpajang di sana adalah kelas 12-A. Kelas yang ditempati Naruto, yang artinya juga kelas yang paling malas ia masuki. Jujur saja, anak kelas A itu baik dan pintar. Semuanya terbukti unggulan. Tapi masalahnya di sana ada Naruto Namikaze. Biang ribut, menyebalkan, dan segalanya yang bersifat negatif. Sakura menghela nafas. Jika ia boleh memindahkan Naruto ke kelas lain, mungkin ia sudah melakukannya sejak awal.

Perlahan, dia buka pintu 12-A. Seperti biasa murid-murid menyambutnya sambil duduk di bangkunya masing-masing.

Setelah Sakura meletakkan buku-bukunya di atas meja, wanita itu melihat buku agenda. "Nah, minggu lalu ada latihan yang belum selesai, kan? Sekarang cepat lanjutkan tugasnya selama 30 menit. Kalau sudah selesai kita akan mengoreksinya bersama-sama..."

Dengan serentak tiap murid mematuhi perintah Sakura. Tak terkecuali Naruto.

Hm?

Tumben.

Di mejanya Sakura menunggu. Ia membaca buku biologinya sambil melirikkan matanya ke Naruto Namikaze. Tampaknya pria jabrik itu sedang fokus mengerjakan tugas. Terlihat dari pena di genggaman tangannya yang bergerak-gerak. Sakura jadi tersenyum. Apa Naruto sudah berubah?

15 menit terlewat tanpa ada sepatah kata pun dari bibir Naruto. Sakura senang walau agak heran juga. Dia tutup buku paket biologinya dan berdiri. Bersama kedua tangan yang tersilang di depan dada, Sakura berjalan ke deretan bangku murid terdepan kelas.

"Kalau ada pertanyaan, jangan lupa bertanya, ya..."

"Iya, Sensei..."

Dilihatnya sekilas, Naruto tidak menjawab kalimatnya. Ia masih serius dengan buku latihannya. Oke, sekarang rasa penasarannya semakin bertambah. Dia pun mendekati meja Naruto.

Mungkin karena suara langkah sepatu haknya, Naruto sedikit melepaskan pandangannya dari buku dan mengadah. Sakura sempat seram sendiri ketika ia dapati arah mata menyelidik dari Naruto yang menatapnya dari atas ke bawah. "Kenapa?"

Mata Naruto kembali ke mata Sakura. "Tidak ada apa-apa, Sakura-chan. Kau cantik sekali hari ini..." Ia tersenyum lebar. "Apa sepulang sekolah mau main ke rumahku?"

"Tidak akan!" Tanpa berpikir Sakura menjawab dengan bentakan. Beberapa murid yang mendengar ikut tertawa. Kemudian ia tarik buku latihan Naruto untuk dia lihat. "Tapi tumben kau mengerjakan latihan—eh, tunggu, ini apa?"

Dugaan positif Sakura pecah ketika melihat isi buku Naruto. Ternyata pria itu bukan sedang belajar, melainkan menggambar. Ada gambar dirinya dan Naruto versi chibi yang sedang berpegangan tangan.

"Itu aku sendiri loh yang gambar. Lucu, kan?" Ucapnya, penuh semangat. "Oh, ya... Sakura-chan, kau harus lihat juga di halaman sebelumnya! Tadi aku menggambarmu pakai bikini loh!"

Dibantingnya buku tersebut ke meja Naruto. "Aku tidak menyuruhmu menggambar! Di mana latihanmu!?"

Mendapati perbedaan raut wajah Sakura membuat Naruto cemberut. "Lupa."

"Latihan itu bukan PR, cepat kerjakan sekarang!"

"Aku malas. Tulisin dong—aduh!" Mendadak Naruto meringis kesakitan saat cuping telinganya dijewer oleh Sakura. Sesudah mengambil kembali buku latihan pria tadi, tanpa rasa kasihan dia menarik Naruto sampai berdiri di tempatnya. Akhirnya kesampaian juga menyiksa bocah ini.

"Duh, sakiit!"

"Sekarang tarik bangkumu ke depan. Kau harus menyelsaikan latihan ini di hadapan mejaku!"

. . .

Sambil mengusap-usap telinga kirinya yang memerah karena jeweran sadis Sakura, dengan ogah-ogahan Naruto menyeret bangkunya. Ia letakan bangku itu tepat di depan meja Sakura, sang guru. Naruto duduk dan merengut.

"Nih, aku sudah duduk."

Sakura mengangguk singkat lalu membuka buku tulis Naruto yang kebanyakan cuma berisi coretan asal, tidak ada tulisan sama sekali. "Sekarang, tulis apa yang kau ketahui dari 10 pertanyaan esai yang ada di buku."

"Aku lupa bawa buku paket."

"Kuberikan buku paketku untuk sementara. Cepat kerjakan."

"Aku lupa bawa alat tulis."

"Tadi kau gambar pakai apa, hah!?"

"Pulpen sih. Tapi mendadak hilang saat aku dijewermu."

"Jangan alasan!"

Naruto mengangkat tangan dan membentuk huruf v dengan kedua jarinya. "Seriusan."

Sakura berdesis sebal dan memberikan penanya sebagai pinjaman.

"Sakura-chan, aku lupa—"

"AKU TIDAK MAU TAU!" Dengan tampang seram Sakura melirik tajam Naruto. Naruto ketakutan, bahkan siswa-siswi yang terkikik pun langsung mencoba fokus lagi ke latihannya.

Pria itu nyengir. "Baiklah..."

Setelah Naruto yang ada di depan mejanya menulis, Sakura mendinginkan kepalanya sesaat. Dia amati Naruto agar dia tidak berulah lagi, dan tak lupa juga mengawasi murid lain agar tidak menyontek.

Akhirnya tidak terasa sudah belasan menit terlewat. Sakura melirik jam dinding. Tinggal tersisa 10 menit lagi sebelum ia akan membahas latihan tersebut di papan tulis. Sakura yang sempat mengantuk mulai bertopang dagu. Karena tidak ada kerjaan, ia lirik buku latihan Naruto—karena kebetulan memang itulah yang ada di depannya. Naruto sedang menulis jawaban sebisanya. Namun mendadak tangan tan itu berhenti menulis.

Sakura sedikit mengangkat wajah, mencoba melihat mata Naruto. Tapi tak dia sangka, ternyata Naruto juga sedang menatapnya. Iris hijau viridian bertemu dengan iris sebiru langit. Lama. Anehnya, pandangan Naruto terasa janggal. Susah diartikan. Setelah lima detik mereka terus berpandangan, yang pertama kali memalingkan wajah adalah Sakura. Ia segera menunduk untuk menyalakan notebook miliknya. Entah kenapa jadi dia yang salah tingkah sendiri.

"Waktu tinggal sebentar lagi, pastikan kalian sudah menjawab lebih dari 5 soal, ya?"

Sesudah mengatakannya, Sakura mencoba untuk melupakan keheranannya pada Naruto dan fokus ke layar notebook. Ia buka powerpoint yang sudah dia buat kemarin malam. Dan setelah ia mengklik file tersebut, Naruto memanggil namanya.

"Sakura."

Dengan tatapan waspada, Sakura melihatnya. Tapi untungnya Naruto hanya menatap buku sambil menunjuk salah satu halaman dengan jari. "Aku lupa ini apa. Jelasin dong..."

Naruto telah kembali ke sifat biasanya. Orang itu memang aneh, kadang biasa saja, kadang menyebalkan dan kadang serius. Tapi mood-nya terlalu cepat berubah. Sakura menghela nafas. "Tentang apa?"

"Yang ini..." Naruto mengetukkan ujung pulpennya ke gambar sebuah siklus. Sakura sedikit memajukan tubuhnya dan melihat gambar yang ditunjuk Naruto.

"Oh, itu tentang siklus hidup cacing kremi. Pelajaran animalia kelas 10."

"Kenapa pelajarannya ngulang sih?"

"Karena kau sudah kelas 12. Sudah sepantasnya kau mengulang pelajaran kelas 10 dan 11, kan?"

"Aku tau, mending sekarang jelasin aja."

Sakura meliriknya sinis. "Iya, iyaa..."

"Jadi, sesuai gambar pertama yang ini, cacing kremi itu bisa menembus kulit manusia..." Sakura lanjut menjelaskan panjang lebar, dan Naruto terdiam sambil memperhatikan jari Sakura yang sedang menyentuh gambar. Pandangan matanya kembali datar. "Nah, kau mengerti?"

Naruto menatapnya. "Kok penjelasannya singkat banget? Aku masih tidak mengerti nih." Bohongnya, padahal dia sendiri yang dari awal tidak mendengarkan. Karenanya Naruto meraih tangan Sakura dan mengarahkan telunjuk wanita itu ke gambar yang seolah-olah tidak ia pahami. "Jelaskan lagi yang ini..."

Sakura cukup kaget saat pria itu menggenggam tangannya. Tapi karena Naruto sedang bertanya, Sakura mencoba tak acuh dan cepat-cepat menjelaskan ulang. "Nah... sudah kujelaskan sampai tiga kali loh, awas kalau masih tidak mengerti." Kata Sakura dengan nada sok sinis. Perlahan-lahan Sakura menarik tangan kanannya yang masih dipegang Naruto. Tapi tidak bisa—lebih tepatnya, Naruto tidak mau melepaskannya.

Dengan tatapan tanya Sakura melirik Naruto. Lagi-lagi pria itu sudah memandanginya dengan lekukan mata yang memancarkan keseriusan.

"H-Hei, lepaskan..." Sakura berbisik. Tidak ada jawaban. "Naruto... kau dengar aku, kan?"

Saat Sakura semakin memberikan tatapan sinisnya ke Naruto, pria itu mendadak tersenyum. Tersenyum lebar yang tampak dipaksakan. Tau-tau ia menarik tangan Sakura. Membuatnya tersentak ke depan. Dan belum sempat Sakura menjauhkan wajahnya—yang kini semakin dekat dengan Naruto—pria itu menahannya dengan memeluk kepalanya.

Sakura mulai panik. Ini depan umum, depan kelas, kenapa Naruto berani sekali memperlakukannya seperti ini? Bagaimana kalau ada siswa-siswi lain yang melihat?

Karena memikirkan hal itu, degup jantung Sakura berdentum kencang. Apalagi ketika Naruto mengelus tangannya dengan ibu jari. "Lepaskan aku..." Sakura berucap pelan. Naruto menyampingkan wajahnya dan menyenderkan pipi berkumis kucingnya ke permukaan pipi Sakura yang kini memanas. Naruto menyeringai.

"Teruslah merona seperti ini."

Dilepaskannya tangan Sakura sampai wanita itu langsung mundur menabrak dinding di belakangnya.

"Kau harus suka padaku."

Sakura tertegun, nyaris tidak bisa bernafas saat mendengarnya.

Kemudian Naruto berdiri bersama senyuman, kali ini benar-benar tersenyum ala Namikaze. "Sudah saatnya membahas latihan, kan? Boleh aku duduk di belakang lagi?" Katanya sambil menarik kursinya kembali ke tempat asalnya.

Di detik itu Sakura merasakan lagi dirinya dapat menghembuskan nafas.

.

.

~zo : dear teacher~

.

.

Seminggu kemudian, hari Sabtu pun tiba. Itu adalah salah satu hari yang paling ditunggu-tunggu oleh Sakura dalam waktu satu minggu. Sekolah libur, tugas kuliahnya pun telah selesai. Oleh sebab itulah ia bisa berenang-senang di weekend kali ini.

Terbalut dengan baju pergi santai, Sakura menyandarkan punggungnya ke sofa cafe dan mendesah bahagia. Wanita berumur 20 tahun itu membuka kelopak matanya, lalu menatapi dinding ruangan yang didesain dengan sangat cantik dan unik. Cocok buat dirinya yang sedang stres akibat pekerjaan paruh waktunya di sekolah. Oke, dia memang cuma mengajar tiga kelas. Tiap pekerjaannya selesai pun ia bisa bebas pulang kapan saja—tidak seperti guru lain. Tapi tetap saja ia lelah. Toh, ia masih berstatus sebagai mahasiswi yang mengejar sarjana kedokteran sih.

Kalau saja bukan karena Kakashi Hatake, mungkin Sakura sudah angkat bendera merah. Cinta memang harus berkorban, kan?

Takut nanti ketiduran di sini, Sakura sedikit merenggangkan tubuh. Ia menoleh ke sekitar. Di sini ia sendirian dan hanya ditemani oleh segelas fruit punch serta chiffon cake-nya yang tinggal separuh. Dia lirik jam digital yang tertera di ponselnya.

"Ah, Ino di mana sih? Kok lama banget?" Sakura menggerutu.

Saat ini kan dia memang sedang ada janji bersama sahabat karibnya, Ino Yamanaka. Rencananya mereka akan menghabiskan waktu untuk spa di salah satu salon yang baru buka minggu lalu. Tapi sayangnya wanita pirang tersebut sudah terlambat sekitar 20 menitan.

Trrrr...

Mendadak ponsel Sakura bergetar. Tanpa melihat siapa yang menelfon, ia langsung mengangkat.

"Moshi moshi? Ino?" Jawabnya terlebih dulu. Lalu orang di speaker berbicara panjang lebar sampai mengubah raut wajah Sakura menjadi cemberut. "Ah... begitu, ya? Baiklah kalau kau mendadak tidak bisa... mungkin minggu depan aja. Jaa."

Klik.

"Aaaaa..." Sakura mengerang sembari memegangi rambut merah mudanya yang kini sedikit acakan-acakan. "Acara merilekskan diri gagal. Mending pulang deh..." Ia minum fruit punch-nya sampai habis. Setelah itu barulah ia mengangkat tangannya untuk meminta bill kepada pelayan.

Setelah membayar di tempat, Sakura berdiri dan berniat langsung pergi. Namun di detik itu dirinya kaku, ada sebuah sosok yang membuat jantungnya berdebar-debar. Bagaikan tersengat listrik, tubuhnya membeku, dan perlahan-lahan ia langsung terduduk sambil menutupi wajahnya dengan buku menu. Tentu saja Sakura salah tingkah. Tau-tau di cafe ini ada Kakashi Hatake yang baru masuk lewat pintu depan. Dia sedang berjalan sendiri ke daerahnya, tempat di mana banyak meja-meja yang masih kosong.

Dalam hati, Sakura berdebat ke inner-nya sendiri. Ia ingin menyapa Kakashi, tapi takut Kakashi mengiranya sok kenal. Tapi jika ia tidak menyapa Kakashi, ia bisa-bisa dibilang sombong. Nah, galau. Sekarang ia harus memilih satu... dia anggap sok kenal, atau dianggap sombong. Cepat pilih, Sakura...

"Kau?"

Kaget, Sakura pun sontak saja menurunkan buku menunya dan langsung melihat Kakashi—yang sudah berdiri di samping mejanya—dengan tatapan tegang.

"Haruno-san?" Ulangnya. Itu Kakashi.

"Eh, H-Hatake-san!"

"Tidak kusangka kita bisa bertemu di sini..."

"A-Aa, h-hai!" Sapa Sakura, maksa karena terlalu gugup.

Kakashi mengangguk singkat. "Boleh aku duduk di sini?"

"I-IYA!"

. . .

Di mall yang sama, namun di tempat yang berbeda, di sanalah Naruto berada. Jika saat ini Kakashi dan Sakura sedang menempati sebuah cafe, Naruto sedang menghabiskan waktu bermainnya di game center. Dan kedua tempat itu dekat, bahkan bersebrangan.

Brakh!

Brakh!

Suara bola basket yang memasuki ringitu membuat suara pantulan berisik, tapi tidak ada yang memperhatikan. Sudah umum kalau tempat ini selalu dipenuhi oleh suara kencang dari segala mesin game. Salah satunya adalah game yang sedang dimainkan oleh Naruto dan Kiba, game basket. Ketika waktu sudah habis, total score pun tercetak di papan nilai.

"Score-ku 264. Kau berapa, Naruto?" Kiba Inuzuka—sahabatnya yang tadi juga memainkan game ini di sebelah—menoleh dan melihat score Naruto. Naruto mendongak dan melihat ke score yang tertera di atas ring. Totalnya 356. Tidak buruk, tapi tetap saja masih jauh dibawah rekor sebelumnya yang pernah ia raih.

"Cih, aku kalah. Ayo main lagi. Kali ini aku tidak akan kalah darimu."

Naruto tidak berbicara. Sembari mengelap keringat yang tertumpuk di dahinya menggunakan bahu, Naruto menggesekkan kembali kartu game-nya sehingga mesin itu dapat beroperasi lagi. Saat penutup laju bola sudah terbuka, dengan cepat Naruto mengambil dan balik melemparkannya ke ring untuk mencetak dua score. Ada yang langsung masuk, ada yang tidak. Tapi perbandingannya 10:1. Angka di score pun naik dengan sebegitu cepat.

Brakh!

Brakh!

Brakh!

Jdukh!

Naruto tersentak saat bola hitam lemparannya menghantam keras ke ujung ring dan memantul keluar. Nyaris saja bola tersebut menabrak wajahnnya apabila ia tidak cepat menghindar. Naruto berdecak singkat lalu melirik bola yang kini menggelinding jauh ke luar game center.

"Bentar, mau ngambil bola dulu..." Katanya ke Kiba yang masih sibuk bermain.

Kiba tertawa pelan. "Oke. Tapi jangan jadiin itu alasan kalau aku menang darimu, ya!"

Naruto lantas mencari di mana bola tadi berhenti. Ternyata bola itu sudah berada di depan pintu masuk cafe yang dindingnya terbuat dari kaca transparan. Ia ambil bola tersebut dan berniat langsung kembali ke tempat game. Tapi mendadak langkahnya tertahan karena suatu hal. Tidak sengaja ia melihat dua orang warga sekolahnya yang berada di satu meja dalam cafe. Mereka adalah Sakura... dan Kakashi?

Naruto mengernyit. Lama terdiam, sadar-sadar Naruto langsung berlari ke game center, melempar bola ke ring, kemudian menepuk pundak Kiba. "Woi, aku pergi duluan, ya."

. . .

Jika melihat raut wajah Sakura, semuanya pasti sudah dapat menebak bahwa wanita itu sedang jatuh cinta. Dengan pipi yang terus memerah, wanita muda itu tidak bisa melepaskan pandangan matanya dari Kakashi duduk di hadapannya. Saat mengobrol saja kadang Sakura salah tingkah, gelisah sendiri, dan lain-lain. Perasaannya bercampur aduk ketika Kakashi tersenyum dan mengajaknya berbicara. Apa lagi sesaat Kakashi menatap langsung kedua matanya.

"Permisi..."

Sialnya suara itu mengalihkan perhatian Sakura. Dengan perasaan shock Sakura dapati Naruto yang sudah di sebelah meja mereka. Pria berambut pirang itu tersenyum lebar tanpa rasa bersalah. Ia pun langsung duduk di sampingnya.

"Laper... minta makan dong."

Sakura terdiam, dan Kakashi lah yang menyambut Naruto.

"Ternyata kau ada di sini ya, Naruto?"

"Iya, tadi aku sama Kiba. Tapi Kiba sudah pulang." Bohongnya dan mengambil gelas pesanan baru milik Sakura yang sekarang tinggal setengah. Tanpa sungkan pria itu meminumnya lewat sedotan yang sama. Sakura mendelik.

"Kenapa, Sakura-chan? Marah karena minumanmu kuambil, ya? Tidak, kan?" Naruto, pria yang saat ini memakai pakaian bebas berupa jaket putih bergaris merah, dengan santai menaikkan sudut bibirnya.

Nah, benar, kan? Naruto pasti lagi memancingnya untuk marah. Dan Naruto berhasil, kini ia sudah sangat amat marah. Terutama karena Naruto berbuat ulah di saat dirinya lagi bersama Kakashi.

"Kalian akrab, ya?"

Kakashi yang mulanya cuek berubah peka. Pasti karena sadar bahwa Naruto sempat memanggil Sakura dengan nama kecil dan juga embel-embel '-chan' di dalamnya. Tentu saja Sakura berniat menggeleng, namun Naruto keburu menyelanya. "Iya, Sensei baru tau?"

Sakura berdecak. Entah kenapa dia sangat risih dengan kehadiran Naruto di sini—yang juga menghancurkan suasana romantisnya bersama Kakashi.

"Kenapa?" Naruto menghadapkan wajah polosnya ke Sakura. "Sakura-chan marah ya karena aku ganggu?"

Sakura mencoba bersabar. Jangan sampai kedua tangan miliknya lepas kendali dan malah menghajar Naruto. Ia tidak boleh beringas di depan Kakashi. Oleh sebab itu ia harus tetap menjaga image anggunnya.

"Kakashi-sensei, ngomong-ngomong aku tidak apa kan join di sini?"

"Tidak apa-apa." Kakashi menjawabnya ramah. "Kau datang di waktu yang tepat, Naruto. Baru saja aku mau pergi. Mungkin kau bisa menemani Haruno-san di sini."

Jdeng.

Nyawa Sakura seakan mau lepas ketika melihat Kakashi berdiri. Dan bukannya merasa bersalah, Naruto malah melambaikan tangan. "Yosh, hati-hati di jalan pulang, Kakashi-sensei!"

Sakura terduduk lemas di bangkunya.

Ah... parah.

Semua ini karena Naruto.

"Sakura-chan, Kakashi-sensei sudah pergi. Nge-date, yuk—"

BUAGH!

"BODOOOH! KENAPA KAU MENGHANCURKAN MOMEN-MOMEN TERBAHAGIAKU BERSAMA KAKASHI, HAH?!"

.

.

~zo : dear teacher~

.

.

Bersama langkah kaki yang terayun cepat, Sakura berjalan dengan emosi yang merasuki seluruh tubuhnya. Ia sedang marah. Dan kini, bersama wajah tenang, pria berambut jabrik itu masih saja membuntutinya dari belakang.

Kadang kali Sakura berbalik, menyuruh Naruto pergi dan bentakan kasar. Tapi bukannya nurut Naruto malah menggeleng. Sakura kesal, jadi dia biarkan saja Naruto mengikutinya. Mungkin kalau orang itu sudah bosan atau capek, dia akan pergi dengan sendirinya. Tapi sayang saat ini jalan yang dipilih Sakura merupakan jalan buntu.

Dengan menghela nafas kesal, Sakura berbalik dan berniat melewati si Namikaze. Tapi tampaknya hal itu gagal karena ada tangan Naruto yang mencekal pergelangan tangannya. "Kau mau ke mana sih?"

"Aku tidak mau ke mana-mana! Kau pergi sana! Jangan ikuti aku lagi, sialan!"

Naruto tertawa. "Jangan gitu, Sakura-chan... kau tidak boleh bilang 'sialan' ke muridmu sendiri, tau."

"Masa bodo! Cepat lepaskan aku! Atau aku akan berteriak minta tolong!"

"Teriak saja... kau mau mempermalukan dirimu sendiri? Lagi pula orang tampan kayak aku mana bisa disangka penjahat?"

"Aku tidak peduli!"

"Ck, ck, kau ini pemarah sekali. Bilang aja kau lagi bingung mau ke mana..." Ia abaikan Sakura yang sedang bersusah payah melepaskan genggaman tangannya, dan menarik wanita itu ke sebuah stand faforitnya. Stand es krimyang cukup ternama.

"Tenang, kau kutraktir."

"Tidak perlu! Kau pikir aku tidak punya uang!?" Sakura yang sudah melepaskan tangannya bersedekap.

"Kau mau rasa apa aja?" Tanya Naruto tak acuh ketika sudah berdiri di depan stand. Sakura melirik berbagai macam rasa yang tersedia. Inginnya sih dia memilih rasa strawberry, tapi tidak jadi karena ia menjaga image-nya.

Sepuluh detik terlewat tanpa suara, Naruto menghela nafas. "Tidak mau memilih? Kupilihin deh." Kedua iris sapphire-nya memandang si penjual. "Ada rekomendasi rasa yang paling tidak enak—?"

"Eh, jangan! Biar aku yang pilih sendiri!" Sakura sweatdrop, membiarkan Naruto tersenyum melihat responsnya. "Em... aku ingin yang campuran white chocolatedanstrawberry."

"Kalau begitu aku pilih blueberry yang dicampur mint."

"Baiklah, tunggu sebentar..."

Tak lama kemudian, dua buah es krimbulat yang cukup besar itu ditaruh ke wafel coklat berbentuk mangkuk. Jujur saja, Sakura terkagum-kagum sendiri melihatnya. Mungkin karena ia jarang makan ice cream, kali ya. Jadi baru pertama kalinya ia makan es krim dengan variasi seperti ini.

Setelah Naruto membayar semua, akhirnya mereka berdua pun duduk bersebelahan di salah satu meja kayu outdoormilik stand.

"Manis..." Sakura berbisik senang saat menyentuhkan lidahnya ke permukaan es krim. Naruto meliriknya.

"Apa kau lupa, ya? Tadi kan kau menolakku untuk menraktirmu. Kupikir gengsimu tinggi."

"Tadi kau sudah menghancurkan rasa gengsiku. Jadi untuk apa aku mempertahankannya lagi?" Sakura membuang muka.

"Jadi... bagaimana?"

"Bagaimana apa?" Tanya Sakura.

"Sudah tidak marah lagi denganku, kan?"

"Oh... kau menyogokku, ya?" Desisnya sambil mengernyit. "Tentu saja aku masih marah! Kakashi mengajakku berbicara di sekolah aja aku sudah sujud syukur! Dan hari ini... kau malah menghancurkannya dengan wajah tak berdosa."

"Aku memang tidak berdosa kok."

"Hah, sudahlah!"

Naruto berdecak malas. "Lagian kenapa kau marah sih? Bukannya Kakashi memang pergi karena sudah bosan berbasa-basi denganmu? Tadi kebetulan aku datang dan dia membuangmu padaku."

"Sembarangan!"

Naruto tertawa kecil, tapi kemudian ia menatap Sakura menggunakan pandangan kosong. "Hei, Sakura-chan..."

"Apa?"

"Mau nanya."

"Nanya tentang apa?"

"Pelajaran."

"Wah, tumbenan. Apa yang mau kau tanya?"

"Apa bedanya aku sama Kakashi-sensei?"

Kedua mata Sakura mengerjap pelan. "Itu bukan pelajaran..."

"Jawab aja apa susahnya?"

Dia pandangi Naruto yang masih diam menunggu sepatah kata darinya. "Aa... apa, ya?"

Tatapan Naruto menjadi tajam ketika melihat iris emerald itu mulai menghindarinya.

"Mungkin karena Kakashi lebih—"

"Jangan kau jawab karena Kakashi-sensei lebih dewasa dariku."

Sakura mengerjap pelan.

"Kau tidak tau apa-apa tentang kedewasaanku, ataupun kedewasaan Kakashi-sensei. Aku mau jawaban yang lain."

Sakura menelan ludah. Kenapa pembicaraan ini seakan menekannya sih?

"Oke, tenang dulu. Bairkan aku berpikir sebentar..." Sakura menghela nafas. "Hm... mungkin karena sifatnya yang pendiam, cuek, namun tetap ramah." Sakura menatap Naruto. Kini pria itu menatap es krimnya sendiri. Lalu ia merendahkan suara, berharap Naruto tidak akan terlalu tersinggung. "Sedangkan kau ribut, menyebalkan, dan... aneh."

"Lalu kenapa kau bisa menyukai Kakashi-sensei? Ada ratusan orang yang pendiam, cuek dan ramah, kan?" Naruto menjawab cepat.

"Iya, tapi mau bagaimana lagi? Namanya juga cinta pada pandangan pertama. Jelas itu berbeda..."

Kedua alis Naruto mengernyit. "Kau cinta pada pandangan pertama dengannya?"

"Iya."

"Kapan kalian berdua pertama kali bertemu?"

"Di universitasku. Dia datang menjadi asisten dosen pengganti." Sakura tersenyum saat mengingat masa-masa itu. Tapi Naruto malah memasang wajah tidak suka.

"Lalu, kalau misalnya saat guru asisten pengganti di universitasmu adalah aku, apa kau akan jatuh cinta padaku?"

"Mungkin... tidak. Ah, entahlah..."

Pemilik iris sapphire itu memejamkan mata, lalu menghela nafas panjang. "Oke, aku harus pulang."

Naruto pun melempar es krimnya yang sudah hampir habis itu ke tong sampah di dekatnya, lalu ia melirik Sakura.

"Hoi, ada krim di atas bibirmu."

Sakura pun panik. "Mana?"

Saat Sakura akan membereskan krim manis di bibirnya dengan lidah, mendadak dan tidak di sangka olehnya, wajah pria itu mendekat, sehingga membuat lidahnya sekilas bersentuhan dengan lidah Naruto yang juga ikutan menjilat krim di bibirnya.

Ditatapnya mata Sakura yang masih mematung.

"Tuh, tadi kubantu beresin."

Tak lama kemudian, tanpa basa-basi lagi Naruto beranjak keluar. Pergi dari hadapan Sakura. Dan gadis bersurai pink itu merasakan wajahnya mulai memanas. Lalu ia memegang bibirnya sendiri.

"A-Apa-apaan tadi?" Gerutunya malu.

Walaupun Naruto tidak bisa dibilang menciumnya, tetap saja lidah mereka bertemu!

Jadi... apakah mereka ciuman, atau bukan?

"Aaaaaa, bodoh! Harusnya aku marah! Bukan speechless seperti tadi!"

.

.

TO BE CONTINUED

.

.

Author's Note :

BA! *digampar* Huhu, maaf ya telat nge-update, padahal niatannya ini dua minggu sekali loh, eh ternyata malah berbulan-bulan gini. Aku emang payah banget. Yaudah, singkat kata... semoga suka aja sama chapter ini... :(

.

.

Thankyou for Read & Review!

Special Thanks to :

jst rdr, Guest, Kuromi no Sora, Guest, Eilla 'qina, Rei Jo, Lily Purple Lily, jerry. ekin, Namikaze nada, si bumi, Sabaku Tema-chan, Momo kuro, Zack, L Namikaze, reader, Rinzu15 The 4th Espada, gui gui M. I. T, Hoshi Yukinua, nona fergie, molly, NaMIKAze Nara, Amai Yuki, Miya-hime Nakashinki, Kataokafidy, C. O. Pinkblond, Lokkasena, RizalulAmzad, Namikaze Resta, minatsuki heartnet.

.

.

Pojok Bales Review :

Akhirnya ada fanfict NaruSaku high school lagi. Semoga suka. Guru sama murid tapi cuma beda dua tahun, ya?Iya, jangan terlalu berondonglah heheh. Kok rasanya Naruto bandel gitu? Em, gemana, ya. Iseng semi bandel deh. Di sini Naruto ngga IC, tapi juga ngga OOC. Keren! Terima kasihh. Apa Naruto ada hubungan darah sama Kakashi? Ngga, mereka cuma temenan aja :) Rasanya di kalimat terakhir di chap 1 agak jomplang sama sifat senga Naruto. Eh? Menurutku itu termasuk senga banget loh. Oh, mungkin karena di sini Naruto jadi bad temper, kali ya? Mood-nya bisa ganti-ganti dari senga dan serius dengan cepat. Cmiiw xD Penasaran sama cara Naruto buat Sakura suka sama dia. Hehe. Gomen aku ngga bisa jadi reviewer pertama. Nggapapaa (y). Dapet inspirasi sifat Naruto dari teman SMP-ku yang mana? Cowok yang sifatnya keren ituu. Aku suka banget ngeliatin gayanya dia, apa lagi cincin kawin (?) yang dia pake di jari manisnya hihi #apasihzo. Everywhere you are, you always be my sister. Awww makasih, Tema-chan! #peyukTema-chan. Kenapa Naruto merokok? Karena aku suka sama cowok yang ngerokok (di FFn). Kakashi ngga terlalu mengganggu NaruSaku, kan? Ngga, di sini malah semuanya Sakura yang ngejar Kakashi kok. Zo aneh ya, ngga tertarik sama percintaan guru-murid di RL, tapi malah seneng bikin fict guru-murid. Hahah aku juga ngga tau. Tapi itu memang 1000% benar. Partikel 'lah'-nya terlalu banyak. Oke, akan dikurangin. 'Tau' harusnya jadi 'tahu'. Um, tapi aku lebih suka make 'tau'. Tapi mungkin kalau di kata 'tau' yang diapit sama imbuhan, aku bisa ngeubahnya jadi 'tahu'. Terima kasih sarannya :D Update IBWFY. Udah, baru aja di-update minggu lalu hehe. Slight pairing ini SasuHina, ya? Ada sih, tapi kayaknya ngga bakalan dibahas lagi. Kakashi udah punya istri belum, ya? Wah, ada ngga yaa wkwk. Great, more than sinetron at RCT*. Terima kasihh.

.

.

Next Chap :

"Oh, ya. Apa kau sudah tau? Hari ini kau ada tes loh."

"Dan kau akan dites oleh Kakashi."

"Ha-Haruno-sensei... Haruno-sensei kenapa?"

"Mau bagaimana lagi, Sakura-san? Habisnya keluarga Naruto adalah pemilik sekolah ini, jadi sedikit wajar apa bila ia terlalu dibebaskan."

.

.

Review kalian adalah semangatku :')

Mind to Review?

.

.

THANKYOU