Previous Chap :

"Tuh, tadi kubantu beresin."

Tak lama kemudian, tanpa basa-basi lagi Naruto beranjak keluar. Pergi dari hadapan Sakura. Dan gadis bersurai pink itu merasakan wajahnya mulai memanas. Lalu ia memegang bibirnya sendiri.

"A-Apa-apaan tadi?" Gerutunya malu.

Walaupun Naruto tidak bisa dibilang menciumnya, tetap saja lidah mereka bertemu!

Jadi... apakah mereka ciuman, atau bukan?

"Aaaaaa, bodoh! Harusnya aku marah! Bukan speechless seperti tadi!"

.

.

Senin menjelang, Kurenai melihat Sakura yang baru memasuki ruang guru dengan wajah lesu. Ia yang menyadari hal itu langsung menyambutnya, berharap perempuan berambut merah muda itu menjadi semangat.

"Ohayou."

Mendengar sapaan barusan, Sakura menyahut singkat. "Ohayou..."

"Kenapa lesu? Ada masalah?"

Sakura menghela nafas, lalu memperhatikan Kurenai di dekat dispenser sebelah pintu masuk. Tampaknya ia sedang menyeduh coklat panas di mug-nya. Guru itu terlihat santai sekali mengawali hari ini.

"Ya, bisa dikatakan seperti itu..."

"Karena murid?"

Sakura mengangguk singkat.

"Naruto, ya?"

"Iya—" Sedetik setelah kata itu terucap, wajah Sakura memerah. Entah kenapa ia kembali teringat dengan insiden 'lidah mereka yang bersentuhan' pada Sabtu lalu. "B-Bu-Bukann! Tentu saja bukan! Hahaha!"

Kurenai tersenyum menyaksikan respons mencurigakan milik Sakura. "Tenang saja, tidak perlu panik. Aku sudah tau kok kalau kau—"

"AAA! Jangan dikatakan! Tolong jangan dikatakan! Aku berani sumpah, aku tidak mempunyai hubungan apa-apa dengannya!"

Kurenai memiringkan kepalanya, bingung. Dan di saat itulah Sakura berdesis. Kenapa ia bisa salah tingkah seperti itu? Dia tepuk-tepuk pelan kedua pipinya dan mencoba berkonsentrasi. "Abaikna yang tadi, Kurenai-san. Aku cuma lagi stres saja."

"Baiklah, Sakura-san..." Kurenai tertawa kecil. Dia jadi menyimpulkan diam-diam tentang adanya hubungan di antara Sakura dan Naruto. "Oh, ya. Apa kau sudah tau? Hari ini kau ada tes loh..."

"Tes?" Tanyanya. Lalu ia mengingat-ingat kalimat Tsunade dulu pernah diucapkannya. "Tes yang katanya akan menentukan apakah aku lulus atau tidaknya menjadi guru, ya?"

"Benar. Dan kau akan dites oleh Kakashi."

"Ehh? Benar-benar Kakashi, ya? Eh, tunggu! Hari ini!?" Sakura terkejut. Cepat-cepat ia menutup mulutnya agar tidak bersuara lebih kencang dari itu. "Be-Benarkah?"

"Iya..."

Sakura inginnya senang, tapi ketika mengingat adanya Naruto di salah satu kelas ajarannya, sebuah perasaan khawatir datang menghampiri. "Ng, Kurenai-san... kalau boleh tau, Kakashi-san mengetesku pada saat aku mengajar kelas apa?"

Kurenai berpikir sebentar. "Katanya sih 12-E. Soalnya tes ini harus dilakukan di kelas yang belum pernah kau ajari..."

"Ah, baguslahhh~" Sakura mendesah lega. Untung saja bukan di kelas 12-A—kelas Naruto. Kalau iya, pasti Naruto akan menghancurkan semuanya.

Cklek.

Seseorang membuka pintu. Kurenai dan Sakura yang masih berdiri di dekat sana pun menoleh. Dilihatnya Naruto yang dengan ceria memasuki ruang guru. Naruto pun segera memanggilnya. "Sakura-chan~"

Saat mendengar suara menyebalkan itu, Sakura kesal, tapi ia tidak bisa berbohong kalau jantungnya tidak berdetak kencang. "Jangan masuk sembarangan ke ruangan guru! Dasar tidak sopan!"

Naruto langsung berhenti di samping Kurenai. "Jangan marah-marah dong. Kurenai-sensei aja sudah terbiasa kok sama aku yang seperti ini. Iya kan, Sensei?"

Kurenai hanya tertawa. "Dasar, Naru..."

Sakura menggeleng pasrah. Ia sedikit heran dengan Kurenai yang begitu baik ke Naruto yang menyebalkan. Gadis berambut pendek itu melirik ke wajah Naruto. Dan kebetulan, ada sesuatu hal yang menangkap perhatiannya. Sesuatu yang panjang dan putih—menyerupai batang rokok versi kecil—yang berada di sela bibir pria itu.

"Ah! Dia ngerokok!"

Saat Sakura meneriakinya, Naruto langsung memasang wajah kaget yang disengaja. Lalu ia membuka mulutnya lebar-lebar, memperlihatkan sebuah permen lolipop mini berbentuk bundar di atas permukaan lidahnya. "Bukan sih. Ini permen."

Merasa ia hanya mempermalukan dirinya sendiri, Sakura langsung membuang muka dan berjalan ke mejanya. Naruto—yang semula mendatangi ruang guru memang untuk bertemu Sakura—mengikutinya dari belakang.

"Cie, yang nanti mau penilaian..." Godanya dengan nada menyebalkan—tampaknya siswa pirang itu sudah tau duluan. Sakura tetap mengabaikannya. Melihat reaksi Sakura, Naruto tertawa dan mempercepat langkah kakinya sehingga dapat membalap Sakura dan menghalangi jalannya.

"Cie, yang nanti mau dinilai sama Kakashi-sensei..." Naruto mencondongkan wajahnya ke Sakura. Gadis bermata emerald itu mundur selangkah—risih. "Cie, yang nanti mau—"

"Iya!" Sebelum Naruto mengulang kalimatnya lagi, Sakura berdesis—berharap suara sinisnya hanya dapat didengar oleh siswa itu seorang. "Hari ini aku memang akan dinilai oleh Kakashi! Tapi sayangnya image-ku akan baik di depan dia, karena penilaiannya saat aku mengajar di kelas 12-E—bukan kelasmu!" Sakura memajang senyuman kemenangan, lalu ia memukul lengan Naruto dengan mapnya. "Sana ke kelas! Kau tidak boleh berada di sini!"

Naruto pun dikeluarkan dari ruang guru oleh Sakura. Tapi bukannya pergi, ia malah terdiam di depan pintu. Siswa itu merenung.

"Oh... ternyata begitu. Di kelas 12-E, ya?"

Naruto menggigit permen lolipopnya sampai manisan itu pecah di dalam mulutnya.

"Kebetulan. Mungkin justru itulah waktu yang pas untuk meruntuhkan harga dirimu di depan Kakashi-sensei."

.

.

.

DEAR TEACHER

"Dear Teacher" punya zo

Naruto by Masashi Kishimoto

[Naruto Namikaze x Sakura Haruno]

Romance, Drama, Friendship

AU, OOC, Typos, etc.

.

.

THIRD. Penilaian

.

.

Sebentar lagi Sakura akan menjalankan sebuat tes yang membuat jantungnya berdegup kencang. Tentu saja, tes tersebut akan mempertaruhkan citranya di hadapan orang yang ia taksir selama ini. Sebab Kakashi lah yang telah ditentukan sebagai penulainya. Jadi Sakura benar-benar tidak sabar sekaligus gugup.

Setelah memastikan poninya tertata rapi, pakaiannya wangi, riasannya tidak berlebihan dan tak ada yang kurang, gadis beriris emerald itu mencoba tersenyum dan berjalan menuju kelas 12-E. Ia keluar dari ruang guru dan menuruni tangga. Tapi tak disangka-sangka ia berpapasan dengan Kakashi yang baru saja turun.

Saat pandangan mata mereka bertemu, Kakashi menyapanya dengan senyuman, dan Sakura mengangguk pelan—sedikit menyembunyikan rona merah di pipinya.

"Ohayou, Haruno-san. Siap untuk penilaian?" Tanyanya.

"I-Iya." Sakura memasang cengiran terbaiknya. "Aku siap."

"Baguslah, selamat berusaha. Setelah memfotokopi di ruang guru, aku akan segera ke bawah." Kakashi pun berjalan melewati Sakura. Sepeninggalnya, gadis itu pun memeluk erat mapnya dan tersenyum lebar. Tidak tau kenapa hari ini dewi fortuna sedang membelanya. Pertama, Kakashi mendukunEgnya. Dan yang kedua, tidak ada Naruto di kelas 12-E.

Jadi ia harus tampil prima di penilaian nanti!

.

.

~zo : dear teacher~

.

.

Ketika jarum panjang di jam dinding kelas sudah menunjukkan pukul 10.00 pagi, itu tandanya sudah saatnya kelas 12-E mendapatkan pelajaran biologi. Tapi berhubung sang guru belum datang, sebagian besar dari murid-murid banyak yang merusuh. Ada yang tertawa keras-keras, merumpi di meja belakang, bahkan ada yang saling melempar kertas.

Sampai akhirnya Sakura membuka pintu dan memberikan salam. "Siang, semua..." Melihat guru—yang sebelumnya tidak pernah mengajar mereka—memasuki kelas, salah satu siswa berambut coklat terheran-heran.

"Kau siapa, eh?"

"Aku adalah guru biologi, yang akan mengajar di sini untuk sementara waktu."

"Oh... guru, ya? Padahal kalau kau murid baru, kau akan kujadikan pacar kedua..." Orang itu bertingkah seolah-olah dirinya kecewa, disusul oleh tawa teman-teman sekelas. "Oh, ya. Aku Kiba Inuzuka. Salam kenal, Sensei..."

Sakura sedikit mengerjap. Dari nada suara yang dikeluarkan Kiba, sudah dapat diketahui bahwa ia adalah siswa yang sangat tidak sopan. Dia spesies yang tidak terlalu berbeda jauh dengan Naruto. Dengan sedikit menggeleng pasrah, Sakura menaruh barang-barangnya terlebih dulu ke meja. Ia ambil spidol dari tempat pensil dan mengetukannya ke meja. "Harap perhatiannya..."

Setelah situasi kelas lumayan tenang, Sakura menghela nafas dan mencoba memulai perkenalan singkat. Ia buka tutup spidol hitamnya, lalu menulis namanya besar-besar di papan tulis.

Sakura Haruno.

"Namaku Sakura Haruno, guru freelancer biologi. Kalian bisa memanggilku dengan sebutan Haruno-sensei. Apa ada pertanyaan sebelum pelajaran dimulai?"

"Ada."

Suara seorang siswa membuat Sakura tersentak.

"Aku mau les privat dong di rumah Sakura-chan. Tapi ajarin bab tentang reproduksi aja, ya?"

Sakura menelan ludahnya. Kiba pun tertawa keras. "Kau gila, Naruto!"

"Na-Naruto?" Sakura nyaris memekik saat nama tadi disebutkan.

Sakura meluruskan pandangan, menatapi satu per satu murid di kelas yang sudah duduk di bangkunya masing-masing. Dan ternyata memang benar; ada Naruto di sini. Pria itu sedang duduk di bangku tengah terbelakang. Dia menyandarkan punggungnya ke tembok lalu memberikan senyuman nakal ke Sakura. Dari ekspresinya, Naruto terlihat senang mendapati reaksi Sakura yang terkejut menemukannya di kelas 12-E ini.

"Kenapa kau bisa ada di sini!? Cepat kembali ke kelasmu!" Sakura berteriak.

"Hah? Apa tidak salah?" Tanyanya Naruto. "Ini kelasku."

"Kelasmu di 12-A!"

Sambil menahan tawa, Naruto menggeleng pelan. "Seharusnya kau lebih rajin memeriksa daftar absensi kelas sewaktu akan memulai pelajaran, Sakura-chan..."

Dengan menahan kesal, Sakura buru-buru mengambil buku absensi kelas yang tersedia di sudut meja lalu melihat daftar nama. Setelahnya, Sakura menggigit bibir bawahnya. Sedari dulu... Naruto memang penghuni kelas 12-E.

"La-Lalu kenapa setiap aku mengajar kelas 12-A, kau selalu ada di sana!?"

"Karena aku ingin diajar olehmu. Itu saja. Kan kau cuma mengajar kelas 12-A, B dan C..." Naruto tersenyum manis, sedangkan Kiba mulai mengeluarkan suara-suara heboh untuk menggoda Naruto dan guru cantik di depan sana. Sakura merasakan emosinya naik setingkat. Untungnya Kakashi belum datang, jadi ia masih mempunyai waktu untuk marah-marah sedikit.

"Naruto, kau dihukum karena telah berbohong! Sekarang, berdiri di depan pintu!"

"Eh? Kok gitu?"

"Cepat!"

Sembari memutar bola matanya, Naruto berdiri. "Apa harus membawa kursi seperti kemarin?"

Saat Sakura akan mengiyakan, ia kembali mengingat kenangan terakhir mereka—saat Naruto memegang tangannya. Guru berkulit putih itu pun menggeleng.

Naruto berjalan ke depan dengan menghela nafas malas. "Ya, sudahlah. Apa sih yang tidak untuk calon istri?"

"Apa-apaan kau ini!?" Tatapan sinis Sakura langsung mengarah ke Naruto. Naruto nyengir dan segera berdiri di tempat yang ditentukan.

"Nah, ayo kita mulai pelajaran—"

Cklek.

Pintu terbuka oleh seseorang. Kakashi Hatake memasuki ruangan dengan sebuah salam—berupa senyuman kecil—yang dia berikan ke Sakura. Lalu guru bersurai perak itu menatap Naruto sebentar. "Kau sudah dihukum?"

"Iyoi."

Kakashi tertawa pelan dan menempati bangku kosong milik Naruto. Setelah duduk, Kakashi meletakkan sebuah kertas dan pulpen. "Oke. Silahkan dilanjutkan kembali, Haruno-san..."

Di detik itu genggaman tangan Sakura ke spidolnya mengerat.

Ah, kenapa dia mendadak jadi gugup seperti ini?

Usai menelan ludah, Sakura meneruskan suaranya untuk menjelaskan materi. Sedikit-sedikit, tatapan matanya sering mencuri pandang ke Kakashi yang memperhatikannya. Ternyata tak ada sedetik pun pria itu melepaskan pandangan darinya. Sakura menelan ludah. Pipinya tak jarang jadi memanas sendiri.

Perlahan-lahan waktu pun berlalu. Semua bahasan materi biologi kelas 12 sudah Sakura sampaikan dengan sebaik mungkin. Sambil tersenyum manis, Sakura bertanya. "Ada yang kurang mengerti? Jika tidak, silahkan bertanya, ya..."

Beberapa orang—yang didominasi oleh para siswi—mengangkat tangan. Masing-masing dari mereka bertanya satu soal, dan semuanya langsung dijelaskan lebih detail oleh Sakura. 10 menit kemudian, empat pertanyaan telah diselesaikannya dengan mudah.

"Kalau tidak ada yang ditanyakan lagi, kita akan membahas materi selanjutnya."

"Sakura-chan, aku mau tanya!"

Suara yang sama sekali tidak diharapkan oleh sang guru mulai terdengar lagi. Ia arahkan pandangan malasnya ke Naruto. "Ya? Apa?"

"Sepertinya rokmu tidak pantas deh kalau digunakan di sekolah..."

"Itu bukan pertanyaan yang sesuai dengan materi pembelajaran, Namikaze-san." Sakura menjawabnya dengan santai. Ia tak lagi memanggil Naruto dengan nama kecilnya—untuk asas kesopanan di depan kelas.

Tapi ada sebuah rasa penasaran ketika Naruto menanyai hal barusan. Berhubung ia masih guru baru, Sakura memang tidak menggunakan seragam khusus guru—ia masih menggunakan baju bebas. Oleh sebab itu, Sakura langsung melirik roknya—diikuti oleh tatapan warga sekelas yang juga heran kenapa Naruto mengomentari rok tersebut.

Apa roknya terlalu mini? Atau terlalu ketat dan pendek?

Setaunya ini normal-normal saja...

"Tapi ada apa dengan rokku?"

Naruto pun nyengir. "Tidak ada apa-apa. Seksi aja kalau dipakai olehmu."

Sontak saja tawa dan juga seruan lagi-lagi dikeluarkan oleh murid sekelas. Sakura berdesis tidak suka. Ia ketuk papan tulis berkali-kali untuk mengembalikan fokus para murid.

"Kembali ke materi!" Langsunglah ia tatap Naruto dengan pandangan sinisnya. "Jangan pernah berbicara lagi di kelas!"

"Tapi, kan—"

"Diam! Kalau kau mengeluarkan satu kalimat lagi, kau akan kuhukum lebih berat!"

Naruto mendengus malas. "Iya, sayang. Tenang aja."

"Ck, jaga cara bicaramu kepada guru!"

"Oke, beb."

Sakura menggeram. Berani-beraninya murid kurang ajar seperti Naruto memanggilnya seperti itu di depan Kakashi!

Kali ini Sakura memejamkan mata. Ia gunakan telapak tangannya untuk menutupi wajahnya yang sudah mengerut frustasi. "Namikaze-san, kerjakan soal yang ada di buku paket dan terangkan di papan tulis!"

Naruto mendesah malas. Dengan langkah terseret, ia berjalan ke sebelah Sakura. Tapi saat Sakura menyadari Naruto hanya mengenakan kemeja berwarna putihnya—tanpa jas seragam—segeralah Sakura berteriak lagi.

"Di mana jasmu!? Pakai sekarang!"

"Iya, iyaaa..." Daripada diteriakin lagi, Naruto memilih untuk nurut dan mengambil jas biru tua kehitamannya di loker bawah meja. Ia kenakan jas itu walaupun kedua tangannya tidak ia masukan ke sana.

"Pakai yang benar."

"Tidak, ah. Kan lebih kerenan kalau dibeginikan. Aku jadi mirip yakuza..." Bangganya.

"Pakai yang benar!"

Naruto merengut.

Tapi saat Naruto melepaskan jasnya dan akan mengenakannya kembali, Sakura mencium sebuah bebauan ketika jas siswa itu terkibas di depannya.

Bau rokok.

Sebenarnya kalau Naruto merokok, Sakura sudah tidak terlalu kaget. Karena ia juga sering memergoki pria itu merokok seenaknya di dalam lingkungan sekolah—bahkan Naruto pernah merokok di depannya. Tapi berhubung itu tetaplah perbuatan yang melanggar peraturan, Sakura menegurnya. "Kau... bau rokok lagi."

"Hari ini aku tidak merokok. Coba aja cek."

Deja vu.Di depan Sakura, Naruto membentangkan kedua tangannya, memberikan celah supaya Sakura bisa memeriksa tubuhnya. Guru itu memasang wajah tidak yakin. Kalau ia tidak salah, dulu pernah juga ada kejadian yang sama seperti ini. Dengan wajah penuh kepercayaan diri, Naruto membiarkan Sakura memeriksa seragamnya. Tapi pastinya selalu aja ada rokok yang ia temukan.

"Keluarkan semua benda yang ada di saku jas dan celanamu."

Naruto memberikan senyum kemenangan lalu memperlihatkan satu per satu isi kantungnya. "Nah, tidak ada, kan?"

Karena ketidakadaan itu, Sakura terkejut. Segeralah ia periksa masing-masing saku Naruto dengan tangannya.

"Pasti kau sembunyikan!"

"Duh, jangan ngeraba dong. Nanti aku terangsang."

Tawa murid sekelas pun kembali membuncah ketika mereka mendengar lawakan Naruto—yang sebenarnya bagi Sakura sama sekali tidak lucu. Sontak saja guru itu mendorong Naruto untuk menjauh. Walaupun ia tidak melakukan hal yang dikatakan oleh Naruto, tetap saja ia malu. Akhirnya Sakura menghela nafas lelah.

Karena tidak ingin harga dirinya semakin terinjak-injak oleh Naruto, Sakura mencoba mengabaikan bau rokok di jas Naruto dan memberikannya spidol secara kasar. "Cepat kerjakan!"

Naruto pun menerimanya dan kemudian berbalik menghadap papan tulis. Sekarang pria berkulit tan itu terdiam cukup lama.

"Sakura, aku tidak mengerti ini..."

Sakura sama sekali tidak berniat membantu orang itu. Jadi ia hanya melipat kedua tangannya di dada dan memperhatikan gerak-gerik Naruto tanpa meresponnya. "Hei, aku benar-benar tidak tau. Kasih clue-nya dong."

"Tulis apa yang kau tau dulu."

"Masalahnya otakku kosong, tidak ada apa-apa."

"Tulis aja apa yang kau tau, kalau tidak kau akan berdiri selamanya di depan pintu."

"Ahhh, kau tega banget melihatku seperti ini..." Naruto memelas.

Jujur saja, Sakura puas melihat wajah kesusahan yang sedang ditampilkan oleh Naruto. Mungkin rasa kesalnya bisa terbalas karena hukuman ini. Di sela waktu menunggu, Sakura sama sekali tidak kepikiran untuk mengintip Kakashi melalui ekor matanya. Masalahnya ia tidak berani. Dia sudah membuat banyak aib di depan pria itu karena Naruto.

Apa Kakashi sudah ilfil, ya?

Sakura sedikit menggigit bibir bawahnya.

Jangan sampai hal itu terjadi...

Sakura melirik jam dinding. Masih ada waktu 30 menit lagi untuk mengajar di kelas. Semoga Naruto tidak berbuat ulah, sehingga ia dapat kembali mengajar kelas dengan benar dan tenang.

Sakura menyandarkan punggungnya ke tembok, lalu melihat Naruto di samping kirinya. Kali ini pria itu sudah mau menulis. Ujung spidol yang dia pegang disentuhkan ke permukaan papan tulis. Tapi baru kata yang kelima, Naruto berhenti. Ia memandang Sakura dengan diam.

"Kenapa?"

"Aku salah. Butuh penghapus..."

Sakura melihat penghapus di meja guru yang terletak di sebelah kanannya. "Ambil sendiri."

Naruto pun mundur selangkah. Dengan posisi yang masih memunggungi siswa-siswi sekelas, ia berjalan tiga langkah ke samping agar dapat mengambil penghapus di meja. Hal itu juga yang membuat Sakura ketutupan oleh tubuhnya yang lumayan tinggi.

Semua itu menyisakan Sakura dan Naruto yang saling berhadapan dan berpandangan.

Lalu saat telapak tangan Naruto sudah menggenggam penghapus dan akan kembali ke posisi awalnya, Naruto langsung sedikit menunduk dan menempelkan bibirnya ke Sakura.

Sakura terbelalak.

Kali ini, Naruto benar-benar menciumnya... di saat yang tidak diduganya. Di depan kelas. Dengan muka memerah, Sakura sontak saja memundurkan diri sampai belakang kepalanya terbentur tembok.

Mungkin karena posisi murid-murid lain sedang berada di belakang, jadi mereka tidak menyadari kejadian singkat itu. Coba saja kalau ada yang melihat dari samping, pasti mereka sudah tau kalau Naruto dan Sakura baru saja berciuman.

Melihat pandangan Naruto—yang bagi Sakura—terlihat berbeda; menjadi serius, Sakura mendorong Naruto. Dengan punggung tangan ia tutupi bibir merah mudanya.

PLAK!

Sebuah tamparan kencang melayang ke pipi Naruto. Itu dari Sakura. Semua murid—yang tidak mengetahui apa-apa—langsung terkejut melihat Sakura yang berani menampar bocah Namikaze tersebut. Sakura berdesis. Ia ingin sekali mencacimaki pria yang berani-beraninya melakukan hal seperti itu kepadanya. Tapi di satu sisi, dia sedang diperhatikan oleh semua murid, bahkan Kakashi yang berada di kelas. Dan akhirnya tersisalah suasana menegangkan, terutama di antara Naruto dan Sakura yang masih menjadi titik fokus dari semua orang di ruangan ini.

Tapi sebelum ada yang bertanya ataupun berbisik tentang keanehan mereka berdua, suara decitan kecil dari sebuah bangku terdengar. Kakashi berdiri, menyisakan Sakura yang menatapnya dengan pandangan khawatir. Pria berambut perak itu melewati mereka berdua dan meraih pintu. Sebelum keluar, ia sempatkan diri untuk tersenyum. "Penilaian sudah selesai. Terima kasih, Haruno-san..."

Pintu terbuka dan Kakashi pun pergi.

Di detik itu, Sakura merasakan dirinya kacau. Detak jantungnya berdetak lebih kencang, melebih-lebihkan rasa sedih yang sedang melanda dirinya.

bertetes-tetes dari air bening keluar dari kedua sudut matanya dan mengalir ke pipi.

"Hiks..."

Ia...

Ia malu.

Sakura menutupi wajahnya dengan punggung tangan. Sedangkan Naruto yang sedikit kaget melihat guru itu pun hanya bisa terdiam.

"Ha-Haruno-sensei... Haruno-sensei kenapa?"

Salah satu siswi bertanya kepadanya.

Awalnya Sakura tidak menjawab karena masih sibuk menghapus air matanya yang tidak bisa berhenti keluar. Tapi, akhirnya dengan suara terisak ia menjawab pelan.

"Sudah..." Bisiknya. "Ti-Tidak apa... hiks..."

Masih dengan bahu yang terguncang pelan karena menangis, Sakura menutupi sebagian wajahnya menggunakan tangan. Ia pun langsung berbalik membelakangi siswa-siswi lain yang kebingungan—kecuali Naruto—dan kembali menuliskan sesuatu di papan tulis.

"Ayo kita lanjutkan pelajaran..."

.

.

~zo : dear teacher~

.

.

Setelah jam di dinding ruang guru sudah menunjukan pukul 14.00 siang, bel pergantian pelajaran berdering. Di saat itu juga, Sakura selesai mengajar di kelas 12-B. Setelah mengucapkan pamit, Sakura keluar ruangan dan segera beranjak ke lantai 4—ruang guru.

Sakura tak seperti biasanya, ia terlihat lesu, tidak semangat. Mungkin karena beban berat masih menggentayangi pikirannya. Tentu saja karena hal yang disebabkan oleh Naruto—tentang peristiwa di beberapa jam yang lalu di kelas 12-E.

Sakura menghela nafas.

Entah bagaimana caranya ia bisa berhadapan lagi dengan Kakashi. Pasti pria itu telah menganggapnya seorang gadis cerewet nan galak yang bisa menampar muridnya sendiri tanpa alasan yang jelas. Kan pastinya Kakashi tidak tau kenapa hal itu terjadi. Lagi pula, mana mungkin ia menjelaskan secara tiba-tiba kepada Kakashi kalau Naruto menciumnya?

Sambil mengacak-acak rambutnya, Sakura menaiki anak tangga. Namun tiba-tiba dirinya berhenti ketika melihat ada sepasang kaki yang berada di depannya. Sakura sedikit mengadah, lalu ia mendapati Naruto yang sedang memandangnya. Sakura terdiam, Naruto pun juga. Tatapan mereka bersatu, tapi tak ada yang saling menyapa.

Merasa keadaan ini benar-benar tidak berguna, akhirnya Sakura berjalan ke samping dan berniat melewatinya begitu saja. Tapi Naruto kembali menghalanginya. "Kau mau apa sih?" Tanya Sakura sambil menggunakan nada berat. "Sana kembali ke kelasmu. Ini belum waktunya istirahat untuk para murid."

Naruto menggeleng pelan, lalu ia merendahkan tinggi tubuhnya agar wajahnya sejajar dengan guru muda itu. "Kau marah?" Seperti biasa, Naruto Namikaze yang dikenalnya memang selalu seenaknya ketika bertanya.

Karena kalimatnya yang tadi tidak dianggap oleh Naruto, maka ia juga tidak mau menganggapi siswa yang satu itu. Segeralah ia membuang muka dan mencoba menerobosnya dengan berlari.

"Hei, Sakura-chan!" Naruto langsung berbalik saat melihat Sakura yang sudah mendahuluinya. "Sakura!" Tapi karena Sakura benar-benar lari darinya, Naruto hanya bisa menghela nafas pasrah. Lalu ia pun turun dari tangga.

. . .

Sesampainya di dalam ruang guru, Sakura menyandarkan punggungnya ke pintu ruangan. Ia hirup oksigen di sekitarnya dengan rakus, lalu menghembuskannya cepat. Kurenai yang kebetulan sedang tidak mengajar pun melihatnya—lagi. "Ada apa, Sakura-san?"

Sakura membuka kedua matanya, lalu mencoba tersenyum. "Tidak, tidak ada apa-apa."

Bersama senyuman yang lumayan dipaksakan, Sakura kembali berjalan dan melewati Kurenai yang masih menatapnya. "Ada hal buruk yang terjadi di masa penilaian?"

"Tidak..." Sakura menjawab pelan, lalu ia berhenti untuk menoleh. "Tapi... ya, sebenarnya ada."

"Kenapa?"

"Aku tidak menyangka ada murid badung itu di 12-E. Setauku dia di kelas 12-A..." Ujarnya lirih.

"Ah... Naruto, ya?"

"Iya." Desisnya. "Pertama, aku baru tau kalau dia adalah murid kelas 12-E. Padahal selama ini dia selalu ada di 12-A saat aku mengajar biologi. Aku heran kenapa tidak ada murid yang mengadukan dirinya kepadaku." Sakura memejamkan mata. "Lalu kenapa dia selalu membuatku terpojok seperti ini sih?"

"Terpojok?" Kurenai kurang mengerti penjelasan Sakura. "Memangnya dia berbuat ulah?"

"Ya, sampai-sampai aku menamparnya di depan Kakashi yang sedang menilaiku." Sontak saja Sakura menyesal telah membahas hal tadi. Soalnya, ia menjadi kembali kepikiran. "Ahh, kurasa aku tidak akan lama lagi mengajar di sini. Mana mungkin aku bisa lulus tes penilaian..."

Kurenai hanya bisa tertawa pelan. "Mau bagaimana lagi, Sakura-san? Habisnya keluarga Naruto itu adalah pemilik sekolah ini sih, jadi sedikit wajar apa bila ia terlalu dibebaskan."

Kedua mata Sakura terbelalak. "Apa? Anak pemilik sekolah ini?"

"Iya, sebenarnya banyak guru yang tidak suka kepadanya karena dia gemar membuat keberisikan, merokok, bolos atau malah bertengkar di saat jam pembelajaran. Namun itulah sifatnya—bahkan ayahnya menyuruh kami untuk maklum."

Pantas ketika Naruto merokok tidak ada yang menegurnya.

"Tapi tetap saja, Kurenai-san. Dia terlalu menyebalkan. Dia harus berubah..." Lirihnya.

"Sudah, anggap saja dia sebagai anak kecil. Dan kurasa semenjak kedatanganmu di sekolah ini, kupikir sifatnya mulai membaik kok."

Sakura mengernyit heran.

"Dan soal penilaian itu..." Kurenai sedikit menahan senyumnya. "Tenang saja, Kakashi pasti meluluskanmu. Sebelumnya ia cerita padaku, katanya kemampuan mengajarmu sangat baik—dia sama sekali tidak menyebutkan kekuranganmu. Ditambah lagi tadi Naruto sempat datang ke sini untuk memohon pada Kakashi agar menaikkan nilaimu. Waktu itu Kakashi cuma tertawa. Nilaimu sudah bagus, untuk apa perlu ditambah?"

Sakura terdiam, kali ini cukup lama.

"Dan karena itu aku dan Kakashi-sensei sedikit menyimpulkan. Sepertinya Naruto mempunyai perasaan khusus untukmu."

.

.

TO BE CONTINUED

.

.

Author's Note :

Haa... masih to be continued. Sebenernya sih ini mau kutamatin sekarang, tapi berhubung aku takut ngebuat ending-nya maksa kayak fict-fict-ku yang lain, makanya kupanjangin sechap lagi. Abisnya awal aku buat ini tuh bener-bener ngga pake perencanaan plot sih, makanya jadi agak maksa huhu. Oh, ya. Kalo ada yang punya ide untuk kelanjutan fict ini, jangan sungkan-sungkan ditulis di kotak review, ya? :D #nyarisWB.

.

.

Thankyou for Read & Review!

Special Thanks to :

Guest, Guest, Uzumaki Reina, namikaze reina, Miya-hime, Nakashinki, Neerval-Li, Chooteisha, Yori, gui gui M-I-T, Dae Uchiha, Mistic Shadow, Cha KriMoFe Doujinshi, guesta, ore, Eilla 'qina, Lily Purple Lily, minatsuki heartnet, Satoshi 'Leo' Raiden, Tema chan g login, Baek dong syu, Nara Kazuki, Zack, Riri, AY4ever, cassiewol, mendokusai14.

.

.

Pojok Balas Review :

Di chap 2 kok ngga ada ulasan next chap? Itu tandanya aku belom ngebuat chap selanjutnya (tapi nanti akan kukasih kalo chap ini udah update). Sebenernya aku lebih suka SasuSakuNaru. Aku aku sih lebih suka KakaSakuNaru, makanya ceritanya kubuat begini. Naruto tuh beneran murid, kan? Iyaa. Bikin Kakashi udah punya pacar dong. Hmm, kayaknya chap depan udah ngga gitu banyak lagi bahas Kakashi :') Ada cewek sebagai pihak ketiga, ngga? Ngga.Mau sampai berapa chapter? Niatnya chap ini tamat, tapi kayaknya bakalan nambah satu chap lagi. Sakura udah kuliah berapa semester? Karena umurnya 20 tahun, berarti itu udah 6 semester, kan? Di sini Naruto bikin melting. Terima kasihh. Kok di chap 2 yang jadi temen Naruto tuh Kiba? Sasuke mana? Sasuke ngga begitu diceritain di sini. Tambahin Akatsuki sebagai preman dong? Wah, boleh juga tuh. Tapi kayaknya bakalan kutaro idenya ke fict lain aja, hehe.

.

.

Next Chap :

"Sekarang ada yang bisa menjelaskan di mana Naruto Namikaze, murid nakal yang sebelumnya selalu terlihat berada di kelas ini?"

"Aku ingin berhenti jadi guru."

"Karenamu aku sudah tidak punya muka lagi untuk mendekati Kakashi! Kau sudah mempermalukanku!"

"Hei, Sakura-chan. Kau tetap yakin mau berhenti menjadi guru?"

.

.

Review kalian adalah semangatku :')

Mind to Review?

.

.

THANKYOU