Previous Chap :
"Dan soal penilaian itu..." Kurenai sedikit menahan senyumnya. "Tenang saja, Kakashi pasti meluluskanmu. Sebelumnya ia cerita padaku, katanya kemampuan mengajarmu sangat baik—dia sama sekali tidak menyebutkan kekuranganmu. Ditambah lagi tadi Naruto sempat datang ke sini untuk memohon pada Kakashi agar menaikkan nilaimu. Waktu itu Kakashi cuma tertawa. Nilaimu sudah bagus, untuk apa perlu ditambah?"
Sakura terdiam, kali ini cukup lama.
"Dan karena itu aku dan Kakashi-sensei sedikit menyimpulkan. Sepertinya Naruto mempunyai perasaan khusus untukmu."
.
.
Hari demi hari telah berganti, sehingga sudah saatnya Sakura Haruno mengajar di kelas 12-A lagi. Dengan menghela nafas malas, buka pintu dan memberikan ucapan selamat pagi kepada murid-muridnya. Berhubung ini adalah kelas unggulan di sekolah, dengan rapi dan serempak, mereka menyahut sopan.
Sakura duduk di bangkunya dan menaruh map-mapnya di sana.
Tapi saat ini, sebelum mengabsen, ia memeriksa kehadiran Naruto terlebih dulu. Tentunya karena ia sudah tau kebohongan Naruto—bahwa ia adalah anak kelas 12-E, bukan 12-A. Jadi jika ia menemukan Naruto, ia harus mengusirnya.
Namun setelah ditelusuri selama beberapa menit. Sakura sama sekali tidak mendapati kehadiran Naruto di sana. Bukannya lega, ia malah terheran. Sambil membuka buku absensi siswa sekelas, Sakura bersuara.
"Sekarang ada yang bisa menjelaskan di mana Naruto Namikaze, murid nakal yang sebelumnya selalu terlihat berada di kelas ini?" Walaupun semua mata memandang ke arahnya, tidak ada satu pun orang yang menjawab. "Ada yang bisa menjelaskan?" Ulangnya, benar-benar meminta jawaban dengan serius.
Rock Lee, salah satu sahabat Naruto yang berada di kelas itu pun mengangkat tangannya. Siswa yang berprestasi di bidang atletik itu langsung menjawab dengan suara lantang. "Dia bilang, dia mau caper sama Sensei."
"Kenapa kalian tidak mengusirnya? Dia itu berisik, dan pastinya mengganggu konsentrasi kalian dalam belajar. Iya, kan?"
"Kami senang kok ada Naruto-kun... habisnya dia lucu..." Shion menambahkan, diikuti oleh anggukan siswi-siswi lain. Wajahnya sedikit memerah saat ia membicarakan Naruto yang sepertinya termasuk kategori anak populer.
Sakura mendesah malas. "Memangnya guru-guru lain yang sadar tidak marah ya saat melihatnya ada di sini? Apa tidak ada yang menghukumnya?"
"Tidak. Naruto biasanya langsung kembali ke kelas 12-E setelah jam pelajaran biologi selesai. Dia juga cuma datang kalau ada pelajaran biologi. Sepertinya Naruto menyukai Haruno-sensei!" Dengan seenaknya Lee menyimpulkan. Seketika, terdengarlah godaan heboh dari murid sekelas.
Sakura segera memejamkan mata. "Tentu saja tidak. Jangan asal bicara, Lee-san..."
Ternyata siswa yang bernama Naruto Namikaze itu benar-benar menyebalkan. Sakura dikerjai secara telak olehnya.
.
.
.
DEAR TEACHER
"Dear Teacher" punya zo
Naruto by Masashi Kishimoto
[Naruto Namikaze x Sakura Haruno]
Romance, Drama, Friendship
AU, OOC, Typos, etc.
.
.
FOURTH.Berhenti?
.
.
Sesudah mengajar dua kelas di jadwal pagi, sekarang Sakura lagi berada di kantin sekolah. Ia duduk sendirian. Dengan bertopang dagu, ia memainkanspaghetti yang ada di piring dengan garpu. Tatapannya kosong, ia melamun. Tampaknya Sakura lagi banyak pikiran.
Dan salah satu dari beban pikirannya... adalah profesinya sebagai guru.
Sebenarnya ia hanyalah mahasiswi berumur 20 tahun yang belajar di jurusan kedokteran. Namun karena ingin mengejar Kakashi Hatake—guru pria di sekolah ini—ia pun coba-coba menjadi guru. Karena tekad dan usahanya yang begitu besar, akhirnya Sakura sempat berbicara dan juga makan bersama pria itu.
Namun jika dipikir-pikir lagi, tampaknya sulit jika ia melakukan pendekatan ke Kakashi. Terutama setelah ia mengenal Naruto, murid sekolah ini yang terkenal nakal dan gemar menggodanya. Tak jarang juga anak itu mengacaukan harga dirinya di depan Kakashi. Anggap saja Naruto adalah cobaan sebagai guru.
Yang menjadi puncak adalah kejadian beberapa hari yang lalu, ketika bibirnya dicium Naruto di depan kelas, di hadapan Kakashi Hatake yang tengah melaksanakan penilaian. Imejnya di mata Kakashi pasti runtuh, apalagi saat ia menampar Naruto yang seolah-olah tanpa alasan.
Sakura mendengus sedih, nafsu makannya menghilang. Dia benar-benar malas. Seandainya ia bisa pulang sekarang...
"Haruno-sensei."
Saat namanya dipanggil, lamunan Sakura terpecah di detik itu juga. Segeralah ia mengadah dan menyahut. "Iya, ada apa?"
"Tsunade-sensei memanggilmu di ruang kepala sekolah."
Tanpa basa-basi lagi, Sakura segera mengangguk dan langsung beranjak. "Baiklah. Aku akan ke sana."
.
.
~zo : dear teacher~
.
.
Cklek.
"Permisi..." Suara Sakura terdengar sopan sesaat ia membuka pintu ruangan kepala sekolah yang berada di lantai dua.
Dia lihat tantenya—Tsunade Senju—yang sedang serius di mejanya yang ditumpuki banyak map yang harus dia periksa. Namun ketika Tsunade menyadari kehadiran Sakura yang baru saja datang, segeralah ia menutup map tersebut dan membuka kacamata bacanya. Wanita pirang yang terkesan muda dan seksi itu tersenyum.
"Selamat siang, Sakura." Katanya. "Silahkan duduk di depanku..."
Sakura mengangguk singkat dan segera duduk. Awalnya Sakura terlihat gugup, tapi setelah ia menghela nafas dan merilekskan kedua bahunya yang tegang, segeralah ia menaikkan kedua sudut bibirnya. "Ada apa memanggilku, Tsunade-basan?"
Tsunade tertawa kecil, mencoba mencairkan suasana. "Kupikir kau sudah tau apa alasanmu dipanggil ke sini..."
Sakura terdiam sebentar, lalu ia menggeleng. "Mm, sebenarnya aku tidak tau. Memangnya ada apa?"
"Ini tentang hasil tesmu yang telah dinilai oleh Kakashi."
Di saat itu juga tiba-tiba saja jantung Sakura merespons lebih cepat. "O-Oh, iya. Bagaimana hasil tesku?"
Tsunade mengambil sebuah map di samping kirinya, lalu mengeluarkan beberapa lembar kertas dari sana. Ia baca ulang angka serta kalimat catatan yang ditulis oleh Kakashi. "Tampaknya di sini ada keajaiban, ya?"
"Eh? Maksudnya?" Sakura bertanya. Lalu ia sedikit khawatir apabila berita tentang Naruto yang membantu nilainya telah terdengar di telinga tantenya itu.
"Tentu saja tentang Naruto. Katanya dia sampai memohon-mohon agar nilaimu dinaikkan, ya?"
Sakura menghela nafas lelah. Ternyata benar... berita itu sudah beredar luas.
"Kau seharusnya merasa beruntung, Sakura. Naruto Namikaze itu siswa nakal yang tidak pernah mau diatur. Karena itu aku sendiri kaget saat ia berusaha keras untuk mempertahankanmu di sini. Yah, walaupun hal itu tak berguna sih. Kakashi telah menulis bahwa penilaianmu baik, di atas rata-rata malah." Jelasnya panjang lebar. "Tapi kalau boleh tau, apa kalian berpacaran?"
"Tidak! Tidak sama sekali! Kenapa Tsunade-basan bisa berpikir seperti ituu?" Sakura menampilkan raut memelasnya.
Mendapati wajah memerah Sakura, Tsunade tertawa lagi. "Tenanglah, kan aku hanya bertanya..."
Cklek.
Tau-tau ada Kakashi Hatake yang mendadak datang ke dalam ruangan. Ia menempati bangku kosong di sebelah Sakura. Tsunade membuka topik utama. "Nah, Kakashi, tugasmu di sini adalah menjelaskan laporan penilaian cara mengajar Sakura kepadaku. Dan Sakura, kau dengarkan juga positif dan negatifnya."
"Baik."
Sakura mengangguk, lalu ia sempatkan matanya untuk melirik Kakashi yang saat ini tidak sedang memandangnya. Lama kelamaan, Sakura sedikit menundukkan kepalanya dengan kedua alis yang mengernyit. Ia berpikir selama beberapa saat.
Aneh...
Ini aneh...
Saat ini, dia dan Kakashi sedang duduk sebelahan. Bahu mereka sedikit menempel, dan suara berat Kakashi—yang sudah mulai menjelaskan isi laporan penilaiannya—terdengar jelas di telinganya.
Namun...
Dengan telapak tangannya sendiri, Sakura menyentuh dadanya—tempat jantungnya berada. Kenapa ia tidak deg-degan lagi seperti yang dulu-dulu?
Menghela nafas, Sakura pun mencoba kembali fokus ke penjelasan Kakashi untuknya. Setelah hampir sepuluh menit terlewat begitu saja, akhirnya Kakashi berhenti berbicara. Tsunade menjadi orang pertama yang menanggapi. Katanya metode cara mengajar Sakura terlampau baik untuk usia sepantarannya. Tapi sayang emosinya masih belum bisa terkontrol dengan baik. Apalagi di bagian Sakura yang main tangan—menampar Naruto. Sebab Bagaimanapun juga, Naruto adalah seorang murid. Dan di sekolah swasta ini, guru dilarang keras melakukan kekerasan apa-apa terharap muridnya.
"Intinya, kau dinilai cukup berhasil menjadi guru. Jadi kau lulus. Kau sudah sepenuhnya resmi menjadi guru di Konoha High School."
"Ano, Tsunade-basan..."
Saat Sakura yang masih menunduk itu memanggil sang kepala Sekolah, Tsunade dan Kakashi berbarengan melihatnya.
"Hm?"
"Boleh aku mengatakan sesuatu?"
"Ya. Apa?"
"Aku ingin berhenti jadi guru."
.
.
~zo : dear teacher~
.
.
Ketika sore menjelang, Sakura masih duduk di bangku mejanya yang berada di ruang guru. Sebenarnya ia cuma guru freelancer—yang bisa langsung pulang ketika jam mengajar habis. Tapi berhubung Sakura telah mengatakan sesuatu yang membuat Tsunade terkejut, maka ia disuruh menjelaskannya nanti—ketika kerjaan wanita tersebut sudah sepenuhnya selesai semua.
Namun sampai sore menjelang pun Sakura belum diberi kabar oleh Tsunade untuk kembali ke ruangannya. Sakura hanya bisa bersabar. Mungkin tugasnya sebagai kepala sekolah tidaklah sedikit.
Karena itu, sekarang gadis berusia 20 tahun itu memilih untuk menunggu di ruang guru di lantai 4. Awalnya ia sempat bosan. Tapi ketika menyadari bahwa guru-guru di ruangan tersebut sudah banyak yang pulang, Sakura memutuskan untuk membuka laptopnya dan chatting bersama sahabatnya, Ino Yamanaka.
Saat fokus di layar laptop, Sakura senang saat ia mendapati Ino sedang online. Ia sapa terlebih dulu. Tanpa menunggu waktu lama, akhirnya muncul balasan dari Ino. Sakura mengembangkan senyumnya, dan kemudian gadis itu terlarut sendiri dengan obrolannya. Itu bermula dari ia yang curhat mengenai Kakashi, lalu merambat ke masalah-masalahnya dengan Naruto.
v) Ino-ymnka: Ohhh... jadi seperti itu, ya? Oke, aku ngerti.
v) Sakuharu: Iyaaaaa, huhu. Memalukan, kan?
v) Ino-ymnka: Hahahah, memang sih. Pasti malu berat kalau dicium di depan kelas. Tapi lucu juga loh. Jarang-jarang ada orang yang berani seperti itu. Terlebihnya lagi (dari foto yang kau kasih tadi) dia ganteng! Duh, Sakura-ku jadi brondong nih. Congrats, ya? :P
v) Sakuharu
Ihh, apa sih? Kenapa malah bahas Naruto? Kan saat ini aku lagi bicara tentang Kakashi, Ino... :(
v) Ino-ymnka
Habisnya aku lebih pro hubunganmu dengan Naruto, hahaha. Dan kalau dipikir-pikir dari segala kejadian yang barusan kau ceritakan, aku yakinnya sih dia menyukaimu! :D
v) Sakuharu
Aaah, tidak. Aku tidak mau. Aku hanya mau sama Kakashi. Tapi karena aku mau berhenti jadi guru, lebih baik aku relakan dia aja. Aku capek jadi guru :(
v) Ino-ymnka
Hh, iya deh. Meski kau memang payah dalam urusan cinta, aku akan terus mendukungmu! :*
Sakura menghela nafas. Tampaknya percuma juga bercerita kepada salah satu teman kuliahnya yang bernama Ino Yamanaka. Habis nyatanya Ino lebih mendukung dirinya dengan Naruto. Padahal yang dari tadi ia bicarakan di media chatting itu adalah kebaikan Kakashi dan keburukan Naruto saja.
Merasa posisi duduknya membuat pegal, Sakura menghela nafas sebentar dan merenggangkan badan. Sembari menguap, ia pun menutup laptopnya yang telah ia matikan. Ketika ia sedang mencari jam untuk melihat waktu, baru disadarinya bahwa ia sudah hampir sendirian di ruangan ini.
Tinggal tersisa ia dan Hayate, seorang guru olahraga. Tapi ia telah membawa tasnya dan bersiap-siap pulang.
Karena menyadari kedua iris mata Sakura memperhatikannya, guru berambut biru keabuan itu memberikan salam pamit. "Duluan ya, Haruno-sensei."
Sakura mengangguk kecil. Berhubung saat ini ia tidak ingin sendirian di ruangan luas ini, tanpa dikomando pun Sakura langsung berkemas. Mungkin ia ingin langsung mendatangi ruangan kepala sekolah. Dan apabila wanita tersebut masih sibuk, mungkin pembicaraan mereka—perlihal Sakura yang ingin berhenti menjadi guru—bisa dibicarakan di lain waktu. Ia ingin pulang sih.
'Yang terakhir keluar, jangan lupa matikan printer.'
Itulah yang terpajang di pintu bagian dalam ruang guru. Sakura melirik ke arah samping. Ditemukannya sebuah printer berukuran besar yang terdapat sebuah lampu kuning kecil yang menyala—tanda masih dalam mode 'on'. Ia samperi mesin cetak tersebut, lalu ia tekan tombolnya sekali.
"Sakura."
Di detik-detik printer tersebut mati, suara itu terdengar. Dengan terkejut, guru tersebut langsung berbalik. Dilihatnya seorang murid yang baru saja memasuki pintu ruang guru. Dia berambut pirang jabrik, iris sapphire, kulit tan, dan juga ketiga garis yang berada di masing-masing pipinya. Dia Naruto Namikaze. Dan saat ini ia berekspresi datar.
"Hei, aku memanggilmu..."
Reaksi pertama Sakura adalah menghela nafas. Dia pun sedikit menundukkan wajahnya—lebih tertarik untuk melihat lantai. Kemudian tanpa mengacuhkan Naruto, ia berjalan ke arah pintu keluar.
Tapi sayangnya Naruto tidak ingin Sakura melewatinya begitu saja. Jadi sebelum Sakura keluar, Naruto sudah menghalangi jalan Sakura dengan tubuhnya sendiri. Masih dengan tatapan mata yang sama, Naruto tersenyum lemah. "Kau tidak boleh kabur. Aku mau bicara."
Sakura berdecak. Dengan sedikit mengadah, ia balas menatap kedua manik mata Naruto yang menantangnya. "Maaf, tapi aku mau pulang. Jadi lebih baik sekarang kau menyingkir..."
Naruto menggeleng. "Aku mau bicara sebentar."
Sakura memaksakan senyumannya mengembang. "Sudah kubilang aku tidak mau."
Kali ini Naruto mendesah malas. "Kau ini dengar aku, kan? Aku mau bicara."
"Dari tadi kau sudah bicara, bodoh!" Usai berteriak, secara mendadak emosi Sakura menjadi tidak stabil. Bersama gerakan cepat, Sakura sedikit berlari ke arah pintu. Namun nyatanya Naruto lebih cepat memundurkan langkahnya dan menabrakkan punggungnya ke permukaan pintu. Bersama dengan debaman yang lumayan kencang, jalur keluar dari ruang guru pun terblokir.
"Dengarkan aku sekali. Setelah itu terserah kau mau mencampakkanku atau tidak."
Merasa kalimat Naruto semakin serius, Sakura menelan ludah. Akhirnya Sakura menghela nafas dan memalingkan wajah. Karena ada kemungkinan bahwa apa yang ingin dikatakan Naruto adalah sesuatu yang penting, Sakura memutuskan menjadi mendengar. "Oke. Apa yang mau kau bicarakan?"
Naruto menghela nafasnya sebentar. Dapat Sakura lihat kedua bahu pria itu yang mulai rileks. "Apa benar kau mau pergi dari sekolah ini?"
Saat mendengar pertanyaan tadi dari bibir Naruto, Sakura terdiam. Tentu saja ia kaget. Bagaimana caranya Naruto tau berita itu? Apa dari Kakashi?
"Ya." Jawab Sakura.
Naruto mendengus. "Kau yakin?"
Sakura mengangguk, kali ini agar lebih terasa meyakinkan. "Aku ini mahasiswi, Naruto. Seharusnya aku belajar dulu sampai tamat sebelum benar-benar bekerja di sini. Aku takut pendidikanku yang belum sempurna ini menyesatkan kalian."
"Aku tidak percaya." Naruto mendengus. "Kata Tsunade-bachan, alasan utama kau diterima di sini karena kau pintar. Tanpa menjadi sarjana pun kau sudah bisa mengajar dengan jelas dengan baik..."
"Ah, kau salah. Meskipun aku pintar, sekolah ini tidak akan menerima guru tanpa gelar. Dan Tsunade-basan menerimaku jadi guru di sini karena aku memohon-mohon kepadanya. Karena ia tanteku, akhirnya ia mengizinkan. Singkatnya aku melakukan nepotisme." Sakura menjelaskan.
Naruto berdecak kesal. Sangat terlihat jelas bahwa siswa bermarga Namikaze itu sama sekali tidak rela Sakura meninggalkan sekolah. "Memangnya kau sudah tidak mau mengejar Kakashi-sensei lagi?"
Sedetik kemudian, Sakura langsung menelan ludahnya sendiri. Rupanya Naruto masih ingat bahwa tujuannya menjadi guru di sekolah ini hanyalah untuk mengejar Kakashi Hatake—seorang guru yang membuatnya jatuh cinta.
Namun bukannya itu juga alasannya untuk meninggalkan sekolah ini? Sakura mencoba untuk memejamkan kedua matanya.
"Aku... sudah tidak menyukai Kakashi lagi. Dan itu karena kau, Naruto."
Naruto menaikkan salah satu alisnya. "Hah? Karena aku? Jadi sekarang kau menyukaiku?"
"Tidak!"
"Lalu apa?"
Sakura berdesis sinis. "Jadi kau masih bisa berpura-pura tidak tau, hah?"
"Ya lalu karena apa? Karena aku menggodamu di depan dia? Apa karena ciuman? Karena tamparan? Karena nilai tes? Atau hal lain?"
Ketika Naruto mendesaknya, Sakura sedikit mendapati beban di hatinya yang pengap. Apa karena hal itu kembali dibahas sehingga ingatannya tentang itu terulang? Tanpa diminta pandangan Sakura memburam. Ada genangan air di matanya yang hendak tumpah. Namun Sakura langsung menggunakan punggung tangannya untuk menghapusnya dalam sekali lap. Ia harus tetap tegar.
"Me-Memangnya kau pikir itu sepele?" Walau raut wajahnya masih terlihat marah, suaranya tetap bergetar. Ia telan segala sesak di hatinya, kemudian ia melanjutkan. Sekarang ia tatapn langsung kedua mata Naruto. "Memangnya kau pikir aku tidak malu ketika kau menciumku di depannya? Dan memangnya kau pikir aku tidak malu saat ia melihatku marah sampai-sampai aku menamparmu?"
Sakura menggigit bibirnya sendiri. "Karenamu, aku sudah tidak punya muka lagi untuk mendekati Kakashi! Kau sudah mempermalukanku!" Ia terengah. Setidaknya, setengah dari unek-uneknya sudah dia keluarkan di depan Naruto.
"Oh, jadi hanya karena itu kau mengundurkan diri? Hanya karena malu dengan Kakashi-sensei? Kau kekanak-kanakan!"
"Lalu kenapa!?" Sakura menjadi kesal. "Aku ke sini karena Kakashi, dan karena Kakashi jugalah aku keluar! Kurasa itu wajar!"
"Sakura, tapi kau—"
"Sudah, Naruto. Cukup." Sakura memotong. "Aku sudah menutup sesi tanya-jawab denganmu. Sekarang aku mau pulang. Jadi silahkan menyingkir dari depan pintu."
Naruto memutar bola matanya, dan memilih untuk terus berdiri di depan pintu. Menutupi satu-satunya akses keluar dari ruang guru. Sakura kesal.
"Minggir...
"Tidak."
"Naruto, jangan seperti anak SD!"
"Aku tidak mau." Naruto menggeleng. "Kalau kau mencabut kalimat-kalimatu yang barusan, yang berkata akan keluar dari sekolah ini, aku baru mau memperbolehkanmu keluar."
"Tidak akan kukatakan. Keputusanku sudah bulat."
"Oke. Kalau begitu kita akan selamanya berada di sini."
"Naruto!" Sakura mulai frustasi. "Lagi pula, kau itu kenapa sih? Seharusnya kau senang karena ada guru sepertiku yang berhenti!"
"Tidak." Tiba-tiba saja nada suara Naruto berubah. "Siapa yang bilang? Aku tidak ingin kau pergi."
Kali ini Sakura yang dibuatnya terdiam. Terutama karena kedua iris sebiru langit milik Naruto yang terus menatapnya intens tanpa berkedip sekalipun. Karena merasa ada hawa berat yang dirasakan olehnya, Sakura menundukkan kepalanya.
"Jangan melihatku seperti itu."
Tiba-tiba saja jemari tangan Naruto menarik dagu sakura agar wanita itu kembali mengadah. "Kalau begitu kau mau aku melihatmu seperti apa, hah?"
Sakura langsung menepisnya. "Ck, kau aneh."
"Karena kau duluan yang membuatku seperti itu."
Sakura kembali melihatnya. Jantungnya berdegup kencang. Dan mulai ada keringat dingin yang keluar dari pori-pori wajahnya. Tampaknya suasana hatinya terlalu mudah berubah-ubah ketika ia bersama Naruto.
"Oke, Naruto. Lebih baik kita sudahi pembicaraan ini dan pulang."
"Kau boleh pulang, kalau besok kau akan kembali ke sekolah ini untuk mengajar."
"Naruto, aku itu—"
"Aku tidak ingin kau pergi!" Naruto berteriak. Kedua alisnya yang menekuk mempertegas raut kesalnya. "Aku tidak ingin kau berhenti dari sini!"
Sakura terbelalak, apa lagi saat Naruto mulai mengenggam pergelangan tangannya.
"Kau tidak kuperbolehkan keluar!"
Tanpa terasa, kini punggung Sakura disentuhkannya ke dinding ruangan. Lalu ia kurung guru muda itu dengan kedua tangannya.
"Kau harus terus mengajar! Kau harus tetap bersamaku! Aku tidak mau kau jauh!"
"Ke-Kenapa?" Mendadak Sakura memberanikan diri untuk bertanya. "Kenapa kau seperti ini?"
Naruto terdiam. Kedua tangannya terkepal erat. Kemudian ia tatap lagi kedua iris Sakura, berucap lirih. "Karena aku... juga jatuh cinta pada pandangan pertama denganmu..."
Sebelum kalimat itu berlanjut, Sakura merasakan seseorang menarik tengkuknya, dan kemudian, bibirnya pun menempel dengan kedua belah bibir Naruto. Saat ia merasakannya, Sakura merasakan ada sebuah setruman dadakan yang mengalir lembut dari seluruh syarafnya.
Inginnya ia langsung memberontak dari Naruto agar dapat terlepas. Tapi ia tidak mau. Degupan jantungnya yang begitu kencang seolah-olah membuat otaknya tidak bisa berpikir lagi. Jadi Sakura memutuskan untuk memejamkan mata. Dengan ragu ia menaikkan tangannya ke punggung Naruto. Mendekapnya erat selagi Naruto mulai memiringkan kepalanya, memperdalam ciuman mereka.
Ketika suara decapan dari kedua lidah mulai terdengar, kaki Sakura melemas. Tiap hembusan nafas yang ia keluarkan sedikit bergetar. Kalau saja ia tidak mencengkram erat kemeja belakang Naruto, mungkin ia akan merosot ke lantai.
Sampai akhirnya Naruto memundurkan wajahnya. Membiarkan kedua matanya menikmati kecantikan dari wajah seorang Sakura Haruno yang memerah. Saat ia menatapi emerald wanita itu, dilihatnya Sakura yang terlihat benar-benar merona bak tomat masak.
Karena tubuh Sakura sudah sedikit lemas tak bertenaga, akhirnya Naruto membantunya agar dapat kembali berdiri tegak. Dia sentuhkan dahinya dengan dahi Sakura, lalu Naruto tersenyum lebar.
"Oi, Sensei. Coba lihat aku..."
Perlahan-lahan, Sakura—yang masih sangat gugup itu—melihat ke arah Naruto. Dimulai dari kerah baju, leher, dagu, bibir, hidung, sampai akhirnya mata.
"A-Apa?"
Naruto menunjukan senyumannya, lalu ia dekatkan bibirnya ke arah telinga Sakura. "Ada sesuatu yang ingin kukatakan..."
Ketika menunggu kalimat selanjutnya, Sakura menelan ludah.
"Selamat..." Naruto memulai dengan suara pelan. "Anda... sudah menjadi pacar dari seorang Naruto Namikaze..."
Eh?
Tunggu. Apa yang barusan ia katakan?
Pacar?
Dengan seketika, Sakura langsung mendorong Naruto sampai pria itu mundur empat langkah ke belakang. Naruto awalnya terkikik, tapi lama-lama tawanya ia lepaskan dengan begitu saja.
"Apa-apaan!? Sejak kapan aku menjadi pacarmu!?"
"Kau sudah mau dicium olehku. Karena itu aku sudah dapat menyimpulkan." Sahutnya, enteng.
"Tapi aku tetap tidak mau!"
"Lalu kenapa kau mau menerima ciumanku?"
"Ka-Karena..." Sakura kehabisan kata-kata. Semua kegugupan yang dihasilkan Naruto untuknya membuat perutnya terasa geli—seolah-olah ada perasaan menggelitik yang berasal dari dalam. "Ka-Karena—ahh! Pokoknya aku tidak mau menjadi pacarmu!"
Naruto tau itu adalah sebuah kebohongan. Jadi itulah sebabnya ia hanya menyeringai.
"Apa kau tau, Sakura-chan? Wanita yang wajahnya memerah itu sangat ketahuan kalau berbohong."
"Aku tidak berbohong!"
"Oh, oke. Jadi kau benar-benar tidak mau jadi pacarku nih?" Sakura tidak menjawab. Tapi dari tadi wanita itu terus menggigit bibir bawahnya. Ia bingung akan menjawab apa. Naruto mengangkat kedua bahunya. "Kalau begitu, aku tidak mau pacaran denganmu."
Ketika kalimat santai Naruto itu terucap, kedua iris emerald Sakura beralih ke matanya. Menatapnya dengan tatapan yang terkejut, cemas dan... tidak rela. Naruto menaikkan salah satu sudut bibirnya, dan kemudian mengambil sesuatu dari saku celananya. Kotak kecil yang terbalut kain beludru berwarna biru. Saat ia buka, sebuah cincin polos berwarna perak terlihat mencolok di sana.
Ia pun melepaskan cincin tersebut dan langsung menarik tangan kiri Sakura tanpa izin. Naruto menunjukan cincin itu di depan mata Sakura, lalu memakaikannya ke jari manis Sakura. "Mungkin kita memang tidak berpacaran. Tapi dengan ini, kita bertunangan."
Lalu Naruto memberikan kecupan kecil di punggung tangan Sakura, dan juga sekali di bibir wanita bermarga Haruno itu.
"Tunggu aku lulus..." Bisiknya. "Lalu aku akan memberikanmu sebuah lamaran yang lebih berkesan. Setelah itu, aku janji akan menikahimu."
Baru sekali dalam setahun ini, Sakura benar-benar tidak bisa berkata-kata. Ia hanya bisa terdiam dan terus menatap kedua manik mata Naruto yang menatapnya dengan sebegitu intens.
"Bagaimana? Cepat katakan ya. Untuk sekarang, aku sama sekali tidak menerima penolakan."
Dan akhirnya, sedetik kemudian air matanya mengalir dan Sakura pun tersenyum. Ia tidak tau apakah jawabannya ini salah, atau benar. Tapi hatinya sudah memilih—bahkan sudah sedari tadi.
"Ya..."
Mungkin ini awal yang aneh bagi mereka berdua, terutama Sakura, tapi siapa tau dengan jantung yang masih berdetak tak normal ini, perlahan-lahan perasaannya benar-benar bisa terpatri ke anak nakal ini. Ya, semoga saja pilihannya tak salah.
.
.
OMAKE
.
.
Dengan kedua tangan yang saling bergandengan erat, Naruto dan Sakura keluar dari gedung sekolah yang memang terbilang sepi.
"Hei, Sakura-chan. Kau tetap yakin mau berhenti menjadi guru?"
"Mm... aku mau fokus ke kuliah dulu."
"Kau kuliah di jurusan kedokteran, ya?"
"Hm."
"Kalau begitu, ajari aku secara privat di materi reproduksi. Kalau bisa, sekalian praktek—"
Buakh!
Sebuah jitakan melayang ke kepala Naruto.
"Dasar bodoh."
"Ah, Sakura-chan jahat. Itu kan cuma candaan lawas..." Sembari mengusap keningnya, Naruto meringis kesakitan.
Sedangkan Sakura yang kali ini sudah berjalan beberapa langkah di depannya hanya memandangi langit sore. Ia pun sedikit mengangkat tangan kirinya, lalu melihat kembali sebuah cincin yang tersemat di jari manisnya.
Kemudian ia belai cincin tersebut menggunakan ibu jarinya. Sampai tiba-tiba saja ia berbalik dan memandang Naruto.
"Tapi untukmu, mungkin akan kuajari. Mau kapan?"
Naruto yang melihat wajah merona Sakura pun langsung terdiam. Ia belum mengeluarkan respon. Sampai akhirnya salah satu alis Naruto naik, ia menyeringai.
"Malam ini di rumahku. Bagaimana?"
.
.
THE END
.
.
Author's Note :
Omake yang tadi itu hanya sebuah fan service, jadi tolong jangan minta sekuel, ya? #siapayangmau. Itu semua karena aku ngerasa bersalah. Kan awalnya aku udah nyediain banyak ide untuk fict ini, tapi aku potong (dan mungkin itu bisa kujadiin ide di fict yang lain). Semoga ending yang ini ngga begitu maksa deh. Anw, aku seneng banget akhirnya ada satu fict in-progress-ku yang complete... :')
Terakhir, aku ucapin banyak makasih untuk orang yang udah nge-review, nge-alert, nge-fave dan ngebaca fict ini sampai akhir. Arigatou gozaimasu... :D
.
.
Thankyou for Read & Review!
Special Thanks to :
mendokusai144, Lily Purple Lily, TaraZein10, heryanilinda, Nauri Minna-Uchisaso KSS, gdtop, Chooteisha Yori, Rinzu15 The 4th Espada, Neerval-Li, minatsuki heartnet, gui gui M-I-T, Guest, Mistic Shadow, Momo kuro, Chisuke Az, Amai Yuki, Claro de Lune, OhhunnyEKA, IndraNirwanF, Kiki RyuEunTeuk, Guest, Rei Jo, Nara Kazuki, SoraYa UeHara, Guest, Flo Deveraux, Uchipon, Lacie, YUI, Kataokafidy, noviejack-sevenfoldism.
.
.
Pojok Balas Review :
Naruto dapet tamparan cinta. Haha, iya tuh.Moga di chap 4 author dapet ide yang lebih menarik lagi. Amin. Tapi ada sebagian idenya kusimpen untuk fict lain, hehe. Di chap 3, udah kesel sama Naruto, tapi pas tau si Sakura ditolongin, jadi terharu. Sama :') Pas tau Naruto anak pemilik sekolah, jadi makin melting. Hahaa. Aku suka alurnya yang ngga keburu-buru. Makasihh.Di sini ngga ada Hinata atau Ino, ya? Iya, ngga ada. Jangan bikin Naruto bego ya di sini. Bego dalam makna apa dulu nih? Kalo bego pelajaran, aku ngga bisa bantu (?). Tapi kalo bego sifat, kayaknya ngga deh. Aku juga pernah jadi guru yang sampe dibuat nangis sama muridnya. Aaa, sabar, ya... :'( Naruto sulit ditebak, ya? Heheh. Kalo bisa, 'previous chap'-nya ngga usah ditulis lagi. Masalahnya itu udah kujadiin kekhasanku... hnn, tapi kalo untuk dipersedikit, kayaknya aku masih sanggup :|a
.
.
Review kalian adalah semangatku :')
Mind to Review?
.
.
THANKYOU
