Pada hari ini author telah berhasil menyelesaikan chapter 3 Activities of Vocaloid! Jeng! Jeng!
Tepuk tangan! #BUK
Baiklah, pada chapter 1 dan 2, author telah mengumpulkan sebanyak 6 review... mogah-mogahan reviewnya nambah jadi 12 ya... WOKEH!
Selamat membaca!
Pairing : -
Genre : Humor
Disclaimer : Yamaha
Warning : Bisa membuat bingung, sakit kepala, muntah-muntah, dan lain sebagainya.
Miku dan Rin duduk di kursi 3 baris. Luka duduk di samping mereka. Terlihat Luka sedikit terganggu karena adanya kehadiran 2 kardus itu, tapi ia diam saja.
"Baiklah para penumpang maskapai penerbangan Voca-airline, kita bersama-sama akan terbang menuju Hawai. Silahkan pakai sabuk pengaman anda." Kata speaker yang ditempel di kedua ujung badan pesawat.
Pramugari pun muncul untuk memberikan cara-cara keselamatan yang biasa diperagakan sebelum pesawat terbang.
Pesawat pun mulai berjalan, maju, mundur, lalu terbang.
"Perjalanan ke Hawai akan memakan waktu 23 jam." Kata speaker itu lagi.
Tak lama, pramugari pun datang dan memberikan roti serta air minum kepada setiap penumpang.
Miku memasukkan tiket itu ke dalam kotak kardus Len, karena di rasa sudah tidak diperlukan lagi. Jadi kedua kardus itu adalah tong sampah selama perjalanan.
"Apa isi di dalam kardus itu? Kenapa tidak di taruh di bagasi?" Tanya Luka yang merasa terganggu dengan kehadiran 2 kardus itu.
"Kardus ini sangat penting bagi kami... " Kata Miku dengan senyum ramah.
"Iya, mereka adalah saudara kami... " Tambah Rin.
Luka cengo mendengar jawaban mereka. "Astaga! Kenapa orang gila bisa naik pesawat!" Batinnya.
5 jam sudah berlalu. Speaker pun berbunyi lagi.
"Kami akan memberikan sebuah pertanyaan kepada para penumpang sekalian, siapa yang berhasil menjawab pertanyaan dari kami akan mendapatkan 2 tiket pulang gratis." Kata pramugari yang berbicara di mic entah di mana.
"Miku-chan! Tiket pulang gratis!" Kata Rin semangat.
"Kita harus bisa menjawab pertanyaan dari mereka!" Kata Miku antusias.
"Baiklah, pertanyaannya adalah... " Kata seorang pramugari berambut pink dan temannya seorang pramugari berambut... ngg... ikal... ya! Ikal! Warnanya... cokelat muda? Kuning? Krem? Entahlah.
"Kenapa mereka ada di sini!?" Teriak Miku saat melihat IA dan SeeU kembali muncul di hadapannya.
"Sekalin menjadi penjual tiket di tepi jalan, penjual tiket di bandara, kami juga menjadi pramugari... sebenarnya kami juga menjadi pilot pesawat. Tapi untuk penerbangan ke Amerika. Sekarang tidak ada pernerbangan ke Amerika, jadi kami jadi pramugari." Jelas IA dengan berbicara menggunakan mic.
"Kau tidak perlu menjawabku dengan menggunakan mic!" Kata Miku dengan nada yang ditekan.
"Baiklah pertanyaannya... " Kata SeeU dengan wajah ceria.
"Siapakah nama pilot pesawat kita pada subuh ini?" Tanyanya dengan wajah yakin bahwa yang menjawabnya adalah pasti bukan Miku.
Len yang mendengar itu pun langsung membaca tiket pesawat yang tadi dibuang Miku ke dalam.
"Pilot pesawat... Akita Neru!" Gumam Len. Len pun mengetok-ngetok kardusnya.
Rin yang merasa terganggu pun menendang kardus itu.
"Rin! Aku tau jawabannya!" Bisik Len pada Rin.
"Apa?" Tanya Rin sambil menempelkan telingannya ke atas kardus.
Luka yang melihat itu pun jadi yakin kalau kedua kardus itu adalah saudara mereka.
Rin pun tersentak kaget lalu berdiri sambil mengangkat tangannya.
"Aku! Aku!" Katanya.
"Ya, silahkan, gadis yang berambut kuning... " Kata SeeU dengan wajah yang ceria sekali.
"Pilotnya! Akita Neru!" Jawab Rin semangat.
"Betul!" Teriak SeeU. IA yang berdiri di sampingnya bertepuk tangan kecil.
"Baiklah, jadi aku dapat tiketnya?" Tanya Rin dari kursinya.
Mata IA langsung melihat ke arah Miku yang duduk disebelahnya. "Belum. Masih ada satu pertanyaan lagi." Melihat ada Miku di sampingnya, dia mengambil kesimpulan kalau gadis berambut kuning itu adalah temannya Hatsune Miku. Entah kenapa ia senang sekali mengerjai gadis penyuka negi itu.
"Katanya cuma satu pertanyaan!" Kata Rin protes.
"Kami rasa itu tidak adil kalau dapat dua tiket gratis dengan hanya menjawab satu pertanyaan." Kata IA datar. "Apa kau berpendapat sama, rekanku?" Tanyanya kepada SeeU.
"Ngg... betul juga... itu tidak adil... rugi di kita ya... baiklah! Satu pertanyaan lagi!" Kata SeeU.
"CURANG!" Batin Rin sambil menarik nafas karena kaget.
"Pertanyaannya... siapakah nama Co-Pilot kita pada subuh ini? Ayo jawab!" Tanya SeeU pada Rin.
Len yang ada di dalam kardus itu pun langsung mencari-cari nama Co-Pilot yang mungkin tertera dalam tiket pesawat. Ternyata... nihil.
"Tidak bisa menjawab kan...? nama Co-Pilot tidak tertera dimana-mana... fufufu... " Kata SeeU agak mengejek Rin.
"Sial! Kau curang rupanya!" Kata Rin dengan suara yang agak lantang.
"Baiklah, para penumpang, saya Co-Pilot, Akaito, sekarang kita berada di ketinggian 6.000 km di atas permukaan laut. Perjalanan ke Hawai membutuhkan waktu 18 jam lagi. Terima kasih." Kata Co-Pilot itu melalui speaker.
"AAH! AKAITO!" Teriak Rin.
"Sial! Kau curang! IA! Kau setuju kan kalau dia curang?!" Tanya SeeU yang sekarang tau rasanya dicurangi.
"Ya aku setuju. Oleh karena itu... kau harus menjawab satu pertanyaan lagi. Haha... " Kata IA sambil tertawa kecil namun datar.
"OKE! Berikan aku pertanyaan yang paling sulit yag kau punya!" Tantang Rin pada IA.
"Baiklah. Siapa nama lengkap kami...?" Tanya IA. Dia sangat yakin kali ini dua lembar tiket gratis itu tidak akan jatuh ke tangan mereka.
"HWAA! Miku-chan! Sepertinya mereka tidak punya nama lengkap deh!" Kata Rin pada Miku yang dari tadi terus berpikir.
"Ngg... kalo kita kan ada ya... kalo mereka apa?" Tanya Miku pada dirinya sendiri.
"IA... IA... IA... gak ada ah... kalo SeeU? SeeU... SeeU... kayaknya gak ada..." Kata Miku. "Jadi jawabannya gak ada?" Tanya Rin. Miku hanya mengangguk.
"Jawabannya TIDAK ADA!" Jawab Rin semangat.
"Salah." Kata IA.
"APHOA?!" Rin shock sampai pingsan 5 detik karena jawabannya salah.
"Kami punya nama lengkap." Lanjut IA.
"Betul! Nama lengkapku itu... See U. Haha!" Kata SeeU sambil tertawa di atas kekalahan seorang Kagamine Rin.
"Dan nama lengkapku I A. Haha... " Kata IA sambil tertawa garing.
"Tidak bisa! Tidak masuk akal!" Kata Rin tidak terima. "Sudahlah! Miku-chan! Aku serahkan padamu! Semua pertanyaan ini membuatku ingin ke toilet!" Kata Rin yang segera pergi ke toilet. Mendengar Rin pergi ke toilet, Len langsung keluar dari dalam kardus dan duduk di kursi. Luka yang duduk di dekat jendela langsung shock setengah mati melihat manusia keluar dari dalam kardus indomie. Walaupun memang tubuh Len kecil, tapi bayangkan seberapa lenturnya dia sampai bisa masuk ke dalam kardus indomie! Luka pun mematung melihat Len.
"Kok kamu keluar?" Tanya Miku pada Len. "Emangnya kau pikir enak apa, mendekam di dalam kardus!" Kata Len sinis. Miku hanya tertawa miris. "Nanti kalo ditanya-in kau siapa, kau mau jawab apa?" Tanya Miku. Len pun melepas ikatan rambutnya dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia juga mengobrak-abrik tas Rin.
"Aku Kagamine Rin!" Jawab Len sambil mengenakan pita besar cadangan milik Rin.
"Oh... iya... kau Rin... ya... " Kata Miku tidak bisa banyak bicara.
"Baiklah, karena kami kasihan, kami akan memberikan pertanyaan terakhir. Ini sungguhan." Kata IA datar.
"Jadi dia yang dari tadi memberikan pertanyaan sampai Rin kebelet pipis?" Tanya Len. "Iya. Pertanyaannya sih pertama nyambung... lama-lama jadi gak nyambung. Gak tau nih pertanyaan selanjutnya apa... " Kata Miku.
"Pertanyaannya... siapa orang yang sekarang berada di toilet?" Tanya IA.
"Tuh kan gak nyambung..." Gumam Miku. Sepersekian detik kemudian Miku baru tersadar kalau orang yang ada di dalam toilet itu adalah Rin. Miku pun mengangkat tangan. IA dan SeeU yang menyadarinya pura-pura tidak melihat. Padahal tubuh Miku sudah bergoyang-goyang mengikuti arah mata mereka.
"SIAL!" Kata Miku kesal.
"Biar aku aja!" Kata Len yang berwajah Rin.
"AKU MAU JAWAB!" Teriak Len. Mata IA dan SeeU langsung tertuju pada Len.
"Kau... " Gumam mereka berdua. "Tidak normal."
"KENAPA?!" Tanya Len shock.
"Wajahmu manis seperi perempuan tapi suaramu seperti laki-laki." Jawab IA.
Len langsung memegang lehernya. Ia pun denga lemas masuk kembali ke dalam kardus karena malu.
"Eh... Len... kau tidak apa-apa, kan di dalam sana?" Bisik Miku pada Len yang kembali mendekam di dalam kardus.
"Tidak apa... jangan pikirkan aku... " Jawab Len lemas.
"Untuk membalas perlakuan mereka terhadap adikku Len! Aku akan menjawab pertanyaan mereka!" Batin Miku. Ia tidak terima mereka mempermalukan Len di depan semua orang. Baginya Kagamine bersaudara sudah dianggap sebagai adiknya sendiri.
"Kalau kau terlalu lama membatin, nanti orang yang ada di dalam toilet keluar lho... " Kata Luka yang sudah selesai mematung karena Len sudah kembali masuk ke dalam kardus. Walaupun ia masih sedikit shock.
"Oh iya! Kau betul!" Kata Miku yang langsung berlari ke arah IA dan SeeU.
"Aku mau menjawab!" Teriak Miku di depan mereka.
"B-baiklah... " Kata SeeU yang sudah tidak bisa menolak lagi kalau orang yang mau menjawab saja ada tepat di depan mereka. Akan sangat memalukan jika mereka masih pura-pura tidak melihat.
"Jawabanya adalah Kagamine Rin!" Jawab Miku semangat.
Tak lama Rin pun keluar dari dalam toilet.
"Apa benar namamu Kagamine Rin?" Tanya SeeU agak gugup. Rin mengangguk.
"B-baiklah, kau mendapatkan dua tiket pulang gratis... " Kata SeeU sambil memberikan dua lembar tiket pulang ke Jepang gratis.
"HORE!" Teriak Miku dan Rin. Mereka segera duduk di kursinya sampai menunggu mendarat di Hawai.
18 jam kemudian.
"Baiklah para penumpang sekalian, saya pilot Akita Neru, kita akan mendarat di bandara Hawai segera. Harap tidak meninggalkan barang bawaan anda." Kata pilot dari speaker.
"Yeeey! Kita udah sampai! Hawai!" Teriak Rin saat kakinya menginjak pulau Hawai.
"Maaf, Luka-san, hotel tempat kami menginap dimana ya?" Tanya Miku.
"Tidak jauh dari sini." Jawabnya singkat.
Tiba-tiba, Len dan Mikuo melompat dari dalam kardus. Luka kembali mematung karena kaget dengan kehadiran Mikuo.
"Wah! Jadi ini Hawai ya!?" Teriak Len sambil tertawa senang.
"Hebat ya! Ramai! Tapi semua orang kok rambutnya warna cokelat, kuning, hitam... gitu? Kita kok hijau sendiri?" Tanya Mikuo.
"Eh, justru bagus lagi. Kalo ilang kan gampang dicari. Nah kalo kayak Rin-chan sama Len, kan susah dicari... malah pendek lagi... " Kata Miku yang membanggakan warna rambutnya.
Yang disindir hanya diam saja. Mereka merasa tenang karena gak dianggap aneh sama warga setempat. Nah kalo Miku sama Mikuo, mereka akan jadi bahan tontonan orang dan dikira orang aneh yang mengecat rambutnya. Luka pun tenang-tenang saja dengan rambut berwarna pinknya.
"Ayo kita ke hotel!" Teriak Rin dan Len sambil berlari ke depan. "Maaf, tapi hotel kita lewat sini." Kata Luka sambil menunjuk ke kanan. Mereka berjalan kembali sambil tertawa dan menggaruk-garuk belakang kepala mereka.
Di Hotel.
"Welcome to our hotel. In here you'll get many good fasility, such as swimming pool, large bed room... bla bla bla... " Kata pelayan hotel berambut ikal itu.
"Dia ngomong apa sih?" Tanya Miku.
"Dia bilang, selamat datang, di sini kalian akan mendapat fasilitas yang bagus. Seperti kolam renang, dan kamar yang lebar dan lain-lain. Kita juga akan mendapat kamar yang langsung menuju ke pantai." Jelas Luka.
Dari mana kau tau? Perasaan dia gak ngomong 'Beach' deh... " Kata Miku.
"Kata IA sih, nanti kita dikasih kamar yang langsung menuju pantai... " Kata Luka.
"Cih! Dia lagi!" Batin Miku.
Pelayan itu pun membukakan kunci kamar mereka dan memberikan kunci itu pada Luka.
"Hope you enjoy." Kata pelayan itu yang segera pergi meninggalkan mereka. "Thank you." Jawab Luka.
"Dia ngomong apa?" Tanya Rin pada Luka. "Dia bilang semoga kalian menikmati." Jawab Luka.
Mereka pun memasuki kamar mereka. Di dalam ada 1 ruang tamu, 1 kamar mandi, 3 kamar tidur. Mereka pun mulai mendiskusikan pembagian tempat tidur.
"Disini ada 3 kamar tidur. Kalian mau pilih yang mana?" Tanya Miku.
"Kok Cuma ada 3 sih... sedikit sekali... di sini kan kita ada 5 orang... " Protes Mikuo.
"Heh! Kalian itu kan penumpang gelap! Jadi kamar yang di sediakan cuma untuk aku, Rin-chan, dan Luka-san aja! Kalo gak mau tidur di ruang tamu aja!" Kata Miku yang memarahi Mikuo karena terlalu sering protes.
"Kalo gitu aku tidur di kamar yang ketiga." Kata Luka yang langsung masuk ke kamar paling ujung.
"Kalo gitu kita di kamar yang kedua ya Rin!" Kata Len pada Rin yang sedang meransel tas warna kuningnya.
"OGAH!" Jawab Rin singkat. "Kenapa? Kau mau menyuruhku tidur di luar semantara kau tidur di kamar ber-AC? Gak adil!" Protes Len.
"Aku mau tidur sama Miku-chan aja!" Kata Rin sambil membuang muka.
"Yah! Aku sama Mikuo dong..." Kata Len lemas.
"Hey, aku tau mau mu... aku sudah bisa menduga kalau kita tidur disatu kasur... pasti hal itu akan terjadi!" Kata Rin masih membuang mukanya dari Len.
"Tidak akan! Aku tidak akan melakukannya! Kalau perlu aku akan mengalah!" Kata Len memohon.
"Tidak mau! Kau itu kalau tidur satu kasur sama orang lain, pasti tengah malam kau menarik selimut itu untuk dirimu sendiri! Selimut yang dikasih kan cuma satu... " Kata Rin sinis.
"Gak! Aku janji! Kalo aku tidur sama Mikuo... yang ada pagi-pagi aku udah tengkurep di lantai... " Kata Len.
"Heh apaan!?" Protes Mikuo.
"Kau kan kalau tidur bisa karate... sambil nendang-nendang... " Kata Len dengan wajah sinis.
"Ayo Miku-chan. Kita masuk ke kamar." Kata Rin yang mendorong Miku masuk ke kamar paling depan.
"Haah... mau gak mau deh... " Gumam Len lemas.
"Masa sih aku kayak gitu? Gak percaya ah..." Kata Mikuo masih tidak percaya.
Semua pun sudah masuk ke dalam kamar.
Pagi hari.
"Selamat pagi." Kata Miku dan Rin pada Len dan Mikuo yang baru bangun.
Miku, Rin, dan Luka sedang sarapan roti di meja makan.
"Badanku sakit... aku jatuh dari kasur kemarin... " Kata Len yang baru duduk di kursi.
"Tuh kan, aku yakin kok, aku tidur gak sampai karate gitu. Kau sendiri yang jatuh... " Kata Mikuo yang merasa menang atas sesuatu.
"Nanti setelah mandi kita mau ke pantai lho. Cepat habiskan sarapan kalian." Kata Miku yang berjalan ke kamar mandi. Rin dan Luka yang sudah selesai makan, sedang mencuci piring bersama.
"Nanti kalau udah selesai makan cuci piring sendiri ya!" Kata Rin pada Len dan Mikuo.
Siang hari.
"Wah! Pantainya luas sekali!" Kata Rin sambil berlari di tepi pantai. "Airnya hangat!"
"Rin-chan! Hati-hati! Nanti kau terseret ombak!" Kata Miku khawatir.
"Aku kan bukan sendal!" Teriak Rin yang sudah cukup jauh. Saat ombak datang, kakinya terseret dan ia pun terjatuh.
"Rin-chan!" Teriak Miku.
"Tidak apa! Miku-chan gak usah khawatir! Aku kan bisa berenang!" Kata Rin yang jadi kaget karena teriakkan Miku.
Rin pun berenang di awasi Miku dari jauh. Tiba-tiba Rin berteriak.
"KYAA! Mataku kemasukan air asin! Pedes! Pedes!" Teriak Rin dari kejauhan. Ia pun tidak bisa menjaga keseimbangannya.
Semua pun kaget mendengar teriakkan itu. Miku dan Luka yang lagi berjemur, Len dan Mikuo yang lagi main pasir, serta ikan-ikan yang terinjak oleh kaki Rin.
"Rin-chan! Tunggu di situ! Aku akan menolongmu!" Kata Miku yang segera berlari ke arah laut.
"Kakak! Kau kan gak bisa berenang!" Kata Mikuo yang membuat Miku berhenti berlari. Ia hanya pasrah melihat Rin yang makin jauh terbawa ombak.
"Rin-chan... maafkan aku... seharusnya aku belajar berenang waktu SD... " Kata Miku menyesal.
"Kita harus menyelamatkan Rin dari ombak itu! Bagaimana pun caranya!" Kata Len yang semangat untuk menolong kembarannya itu.
Mereka pun bersama-sama dengan perlahan berjalan semakin mendekati Rin.
"HWEE! Cepetan dong! Sakit nih mata!" Teriak Rin yang sesekali kelelep.
"Tunggu Rin-chan! Kami akan segera datang!" Kata Miku yang tangannya sangat memegang erat tangan Mikuo di depan dan tangan Len di belakang. Ia sendiri juga takut teseret ombak.
Tak lama, Mikuo pun berhasil menangkap tangan Rin. Mereka pun menarik Rin ke tepi pantai.
Luka bengong melihat aksi penyelamatan yang heroik itu.
"Aku gak mau ke pantai lagi!" Teriak Rin yang wajahnya sedang disiram air putih sama Miku.
Tiba saatnya untuk membeli oleh-oleh.
"Aku mau beli ini... ini... ini... ini... yang ini juga!" Kata Rin yang dari tadi terus mengambil barang toko itu tanpa henti. "Bando dari kayu ini kelihatannya bagus..."
"Hati-hati Rin-chan, nanti kita gak bisa bayar... uang kita Cuma 400.000... " kata Miku.
"Oke! Tenang saja!" Kata Rin.
Saat membayar oleh-oleh yang mereka berempat beli, mereka takjub melihat angka di mensin kasir.
'399.999'.
Baiklah, dengan begitu, mereka pulang ke Jepang tidak membawa uang sepeser pun...
"Bagaimana dengan uang belanja kita untuk besok... " Gumam Miku yang sudah lelah. Rin terlalu banyak membawa oleh-oleh dari Hawai. Di pesawat menuju Jepang, mereka kembali bertemu dengan IA dan SeeU.
To Be Continued
Chapter 3 selesai!
Oke, jangan lupa untuk mereview ya! :D
