Ehem! Sebelumnya maaf kalo updatenya lama. Tapi author cukup terkesan (Baca : kaget) karena review-nya cuma satu... hiks...

Tapi gak apa...! author akan tetap bersemangat untuk melanjutkan fic ini!

Ngomong-ngomong, di fandom vocaloid ini memang sulit untuk menjadi cerita di bagian atas. Baru beberapa hari author update, eh besokannya udah turun lagi... memang sulit... tapi author suka tantangan!

Selamat membaca!

Pairing : -

Genre : Humor

Disclaimer : Yamaha

Warning : Ini hanya khayalan author belaka. Jangan dianggap nyata.

Pagi hari di kediaman Vocaloid, tepatnya di ruang tamu.

Gadis berambut hijau toska bersama sahabatnya gadis berambut kuning sedang duduk lemas di sofa sambil menghadap TV.

"Rin-chan... kau mau makan apa?" Tanya Miku dengan lemasnya.

"Apa aja boleh... emangnya Miku-chan punya uang buat beli bahan makanan?" Tanya Rin balik dengan tidak kalah lemasnya.

"Tidak ada." Jawab Miku lemas sambil menutup wajahnya dengan bantal yang ia pegang.

Rin menekan-nekan tombol remot TV dengan mata setengah mengantuk.

"Bosan." Katanya.

"Entah apa yang merasukiku hingga aku membeli upulele ini... " Kata Rin sambil melihat upulele yang sedang ia pangku. "Mahal lagi... " Lanjutnya sambil mengembungkan pipinya.

"Aku juga... ngapain aku beli rok untuk menari hula-hula... " Kata Miku sambil melihat rok berwarna hijau yang ia pangku.

"Uang kita habis untuk beli oleh-oleh tidak berguna... " Ujar mereka berdua sambil menghela nafas berat dan melihat ke atas atap.

Tak lama Len berjalan melewati mereka. Miku dan Rin melihat laki-laki itu. Matanya bergerak tetapi kepalanya masih dalam posisi yang tetap.

"Len." Panggil mereka berdua. Yang dipanggil segera menengok dengan tampang tidak berdosa.

"Apa?" Tanya Len sambil berdiri di tempatnya.

"Ngapain kau beli topi kepala suku?" Tanya Rin.

"Lalu untuk apa kau beli tombak itu?" Tambah Miku.

"Ini? Inikan oleh-oleh yang aku beli di Hawai... " Jawab Len singkat. "Lalu untuk apa kalian beli upulele dan rok hula-hula itu?" Tanya Len sambil menunjuk benda yang ada dipangkuan Miku dan Rin.

"Ng... entah apa itu, tapi waktu di sana, aku merasa harus membelinya..." Jawab Rin sambil menatap dan mengelus-elus upulelenya.

"Entah kenapa, saat aku ada di sana, benda ini terlihat sangat lucu dan istimewa, bersinar pula. Tapi setelah dibawa pulang, jadi terlihat seperti rumput laut... atau mungkin alga...?" Jawab Miku dengan wajah polosnya.

"Kalau begitu kalian juga sama denganku." Kata Len yang kemudian melanjutkan perjalanannya.

"Len! Mau kemana?!" Teriak Rin sambil berbalik ke belakang, tangannya memeluk senderan sofa. #apalahitu

Len berhenti sejenak lalu berbalik. "Kenapa? Mau ikut?" Tanyanya.

Rin mengangguk hebat. "Mau! Mau! ... emangnya Len mau kemana?" Tanya Rin penasaran.

"Toilet." Jawab Len dengan wajah datar. "Kalau mau ikut cepat! Aku sudah gak tahan lagi nih!" Raut wajah Len berubah seperti seseorang yang sedang menahan sesuatu yang akan keluar.

"Gak jadi!" Teriak Rin. "Kirain mau pergi kemana... taunya ke toilet!" Kata Rin kesal. Miku yang duduk di sebelahnya hanya tertawa kecil.

Len pun hilang dari pandangan setelah ia memasuki toilet.

Rin pun duduk ke posisi semula.

"Miku-chan! Sepertinya tidak ada cara lain, selain kita harus menjual barang gak guna ini untuk mendapatnya uang belanja!" Kata Rin sambil menatap serius pada upulelenya. Mendengar itu, Miku pun menatap rok hula-hulanya.

"Baiklah Rin-chan! Kita kumpulkan barang-barang gak guna yang kita miliki!" Kata Miku semangat.

"Tidak, tidak. Barangku semua berguna... hanya oleh-oleh yang kita beli saja yang semuanya tidak berguna... " kata Rin sambil beranjak pergi dari ruang tamu.

Miku pun berpikir sejenak.

"Ah betul! Kau hebat! Kita bisa menjual oleh-oleh gak berguna yang kita beli dengan harga 2 kali lipat!" Kata Miku dengan senyum mantap.

Rin berbalik menghadap Miku. Lalu berjalan ke arahnya.

"Kita mau jualan dimana?"

Activities of Vocaloid

"Cepat dong kerjanya! Lama banget sih! Jadi laki-laki kok letoy!" Protes Miku pada Mikuo dan Len yang sedang membuat stand kecil di depan rumah.

"Berisik! Jangan cuma marah-marah! Sini bantu!" Kata Mikuo yang menghentikan aktivitasnya sejenak.

"Aku ini kan wanita lemah... tidak kuat kalau harus memegang palu begitu... kalau jari-jariku kena gimana?" Kata Miku melas.

Mikuo hanya terdiam dengan wajah sinis sambil melihat tingkah kakaknya itu, lalu melanjutkan pekerjaannya.

Sementara Rin sibuk ngeliatin Len yang lagi ngelukis buat papan nama stand mereka.

"Ha... wai... ac... cessories... " Gumam Len sambil mengecat papan nama itu.

"Len, yang itu warnanya gak rata... warnanya kok hijau sih? Kuning aja, lebih bagus tau... " Kata Rin sambil nunjuk-nunjuk tulisan 'Vocaloid'.

"Lagi pula tulisanmu itu jelek." Lanjut Rin.

"Kerjakan saja sendiri!" Kata Len yang kesal sambil melempar kuas bercat hijau itu ke wajah Rin.

"Eh? Len! Tunggu! Jangan pergi! Bagaimana dengan papan nama ini!?" Teriak Rin yang berlari menyusul Len.

Setelah beberapa jam, akhirnya stand mini mereka terlah selesai.

"Terima kasih ya." Kata Miku pada Mikuo. Mikuo tidak mempedulikan ucapan sang kakak. Ia langsung masuk ke dalam rumah sambil menguap lebar.

"Rin! Aku rasa barang ini gak guna deh, jual aja." Kata Len sambil memberikan topi kepala suku dan tombaknya.

"Serahkan padaku!" Rin menerima dua benda itu dan meletakkannya di atas meja stand.

"BELI! BELI! BELI! SAYANG ANAK! SAYANG PACAR! SAYANG SUAMI! SAYANG SELINGKUHAN!" Teriak Miku dan Rin beradu-adu.

Orang-orang yang melihat mereka, datang sekedar mampir.

Sebenarnya mereka penasaran dengan 4 buah benda yang di letakkan di sana, lalu pergi lagi.

"Ini jualan apaan sih?" Tanya seorang SPG yang di pakaiannya tergantung kartu identitas bertuliskan 'GUMI' SPG susu anak.

"Kami di sini jualan barang-barang asli dari Hawai." Jawab Miku sambil tersenyum ramah.

"Ooh... barang dari Hawai ya... upulele ini harganya berapa?" Tanya gadis bernama Gumi itu sambil menunjuk upulele milik Rin. Mata Rin langsung berbinar-binar melihat barang miliknya sudah punya calon pembeli.

"Harganya... 150.000 saja." Kata Rin dengan senyum sombong.

"Baiklah, aku beli." Kata gadis itu. Rin segera membungkus upulele miliknya dan memberikannya pada gadis SPG itu.

Rin pun tampak senang saat menerima uang 150.000-nya itu.

Miku pun tidak mau kalah. "SAYANG ANAK! SAYANG PACAR!" Teriak Miku makin keras.

Tak lama setelah Miku berteriak, dua orang calon pembeli pun datang.

"Cih! Mereka lagi!" Batin Miku saat melihat IA dan SeeU datang ke stand mereka sambil mengenakan pakaian bebas.

"Vocaloid... Hawai accessories... " Gumam IA.

"Rok ini berapa harganya, Miku-chan?" Tanya SeeU sok akrab dengan Miku. Miku menatapnya sinis.

"200.000!" Jawabnya sinis.

"Wah, murah sekali... aku be—"

"Tidak! Tidak! 300.000!" Kata Miku lagi.

"Aah, masih murah, aku beli ya—"

"Tidak! Harganya 500.000!" Teriak Miku histeris.

"Baiklah, aku beli." Kata SeeU dengan senyum manis menjijikkannya.

"T-terima kasih... " Miku pun menerima uang SeeU dengan wajah tertunduk malu.

"Topi ini berapa harganya?" Tanya IA sambil mengangkat topi ala Indiana milik Len.

"Eh? Ng... tunggu sebentar ya!" Kata Rin. Ia pun cepat-cepat berlari masuk ke dalam rumah.

Di dalam rumah, Rin mencari saudara kembarnya, yang kebetulan sedang menonton TV sambil minum jus pisang.

"Len! Topimu itu mau dijual berapa?" Tanya Rin.

"Satu lah... kan cuma ada satu." Jawab Len polos.

"Ck! Ih! Bukan! Maksudnya harganya!" Kata Rin sambil berdecak.

"Oh... terserah. Pokoknya aku beli topi itu harganya 20.000. terserah Rin mau jual berapa." Jawab Len sambil kembali terfokus pada acara TV yang sedang ia tonton.

"Aku mau jual satulah. Kan cuma ada satu... " Gumam Rin.

"Baiklah!" Rin pun keluar dari rumah dan kembali ke standnya.

IA menatapnya datar.

"Harganya 200.000!" Kata Rin dengan tangan yang membentuk 'peace'.

"Baiklah, aku beli." Kata IA yag membuka dompet pink-nya.

"Gantungan kunci ini harganya berapa?" Tanya SeeU 'lagi' kepada Miku yang udah gak tahan dengannya.

"IIH! Itu gak dijual! Kenapa sih aku selalu bertemu dengan kalian!? " Kata Miku.

SeeU dan IA menatap Miku sejenak.

"Selain berprofesi sebagai penjual tiket pesawat di pinggir jalan, penjual tiket pesawat di bandara, pramugari, dan pilot tujuan penerbangan ke Amerika, kami juga berprofesi sebagai konsumen." Jelas IA yang seperti biasa, dengan wajah dan nada yang datar.

"Baiklah, Miku-chan, berapa harga tombak ini?" Tanya SeeU.

"Tanya pada orang di sebelahku." Kata Miku singkat dengan wajah sinis.

"Harganya... 300.000!" Kata Rin sambil mangajukan tangannya dengan 3 jari yang terangkat.

"Baiklah, ini uangnya." Kata SeeU yang menyerahkan uangnya pada Rin.

"Terima kasih! Silahkan datang kembali!" Kata Miku dan Rin sambil membungkuk.

"Cih... dia itu, ternyata dia orang kaya ya!" Kata Miku yang menatap sinis kepergian dua orang itu.

"Aku tidak menyangka kalau hubungan kalian sangat baik." Kata Rin sambil menghitung uang hasil berjualannya.

"Apa!? Hubungan baik?! Huh! Selai kacang! Kenapa Rin-chan bisa berkata seperti itu?" Kata Miku agak sinis.

"Tadi, SeeU-san memanggil Miku-chan dengan embel-embel '-Chan' tuh... " Jawab Rin dengan wajah polos. Ia berhenti menghitung uangnya dan menatap Miku.

"Huh! Dasar sok akrab!" Kata Miku sambil membuang muka.

Mereka pun masuk ke dalam rumah. Karena hari sudah sore dan barang yang mereka jual pun telah habis.

"Mari kita lihat... tadi ada SPG beli upulele, harganya 150 ribu... terus SeeU-san dan IA-san beli rok hula-hula, tombak dan topi, totalnya 1 juta." Kata Rin.

"Jadi totalnya ada 1 juta 150 ribu ya... " Gumam Miku.

Mikuo dan Len yang melihat uang itu, matanya berubah menjadi hijau. Mereka pun berusaha mengambil uang itu. Tapi tangan mereka terlebih dulu dipukul oleh Miku.

"Bagi bagian dong! Kan tadi aku tugas bikin stand!" Protes Mikuo.

"Nih, bagianmu! 50.000!" Kata Miku sambil memberikan uang 50.000 kepada Mikuo.

"Wah! Dikit amat! Gak mau ah!" Kata Mikuo.

"Gak mau ya sudah, aku ambil balik." Kata Miku santai.

"Ng... bukan begitu! Kakak jauh dapat uang lebih banyak dariku! Bagi rata!" Protes Mikuo lagi.

"Kau kan gak menyumbang barangmu kepada kami untuk dijual." Kata Miku santai sambil mengibas-ngibaskan uangnya.

"Dasar nenek sihir pelit!" Ejek Mikuo yang langsung berlari ke dalam kamarnya.

Sementara si kembar terlihat sangat senang dengan uang yang mereka dapat.

"Uang kita ada banyak ya Rin!" Kata Len.

"Iya! Uang kita ada banyak ya Len!" Kata Rin.

Mereka terlihat seperti dua orang bocah yang baru melihat uang.

"Uang hasil barang jualanmu ada 500.000. nih, aku kasih ke Len aja." Kata Rin yang menyodorkan uang sebesar 500.000 kepada Len. Len pun menerimanya. Akan tetapi ia berpikir sejenak.

"Rin. Kita bagi dua aja deh hasil jualan barang aku. Nih 250 buat Rin." Kata Len sambil menyodorkan 250 ribu kepada Rin.

"Kenapa? Ini kan hasil jualan barangnya Len. Kok dikasih ke aku? Aku kan udah dapet 150 ribu dari hasil jualan upulele." Kata Rin yang heran.

"Ya, kan Rin udah susah-susah jualin barang aku. Aku gak butuh uang banyak-banyak. Ini buat dibeliin bahan makanan aja." Jelas Len.

"Oke deh. Uangku jadinya ada 400.000 ya." Kata Rin. Mereka pun sepakat.

"Huh, berbagi ya... aku sih gak mau..." Gumam Miku yang diam-diam menatap Rin dan Len dari dekat.

"Kalau gitu aku jadi gak sabar buat belanja nih... " Kata Rin sambil memeluk uangnya di dada.

"Kalo aku mau beli kaset Super Negi keluaran terbaru ah!" Kata Miku dengan mata berbinar-binar.

Sementara, mari kita menengok ke dalam kamar Mikuo.

"Semoga kaset Super Negi abal itu belom keluar! Dan gak usah keluar! Baru boleh keluar setelah dia memberiku uang 200.000!" Batin Mikuo yang sedang meringkup di pojokan sambil mengutuk Miku di dalam kamarnya.

Siang hari, keesokan harinya.

"Ya, baiklah, sekarang kita ke toko kaset deh... beli film yang Miku-chan suka!" Kata Rin yang mood-nya sedang senang karena berhasil membeli bahan makanan, terutama jeruk.

"Baiklah! Ayo, Rin-chan temani aku masuk ke dalam!" Kata Miku yang segera menarik tangan Rin masuk ke toko itu.

Di dalam toko.

"Mana ya... Super... Super... Negi... " Mata Miku menyapu seluruh barisan kaset yang berbaris di meja-meja toko itu sambil bersenandung.

Rin berjalan di belakang Miku sambil cuci mata.

"Eh? Tips cara mudah menanam pohon jeruk di rumahmu? Ukuran halaman 3x3 meter?" Gumam Rin saat melihat salah satu kaset di meja toko itu.

"Halaman kita kan 3x3 meter... " Gumam Rin, ia berniat untuk membeli kaset itu.

"IDIH! Mana sih tuh kaset! Masa belom keluar sih!? Aku kan sudah cari di internet tanggal keluarnya! Kok gak ada!?" Protes Miku sambil terus berjalan menyusuri deretan meja di toko itu. Ia mempercepat langkah kakinya.

Setelah keluar dari toko.

"... " Sejak keluar dari toko itu, Miku selalu menunduk dan diam. Rin yang ingin berbicara dengannya pun mengurungkan niatnya.

Tiba-tiba, Miku berbelok ke arah pinggir sungai, dengan air yang jernih tentunya. Sungai itu terletak di bawah bukit. (Author bingung cara ngejelasinnya. Biasanya ada di pedesaan di Anime)

Rin berhenti dan melihat Miku yang sepertinya sedang ingin menggalau sendirian.

"Miku-chan... " Panggil Rin.

"Kau pulang duluan saja Rin-chan. Aku mau duduk-duduk dulu." Kata Miku sambil terus berjalan ke arah tepi sungai itu. Miku pun hilang di bawah bukit.

"Karena kaset itu ya..." Gumam Rin. Dengan berat, ia pun melangkahkan kakinya menuju rumah.

Miku duduk di tepi sungai sambil terus memikirkan kaset Super Negi-nya yang belum kunjung dirilis.

Miku yang sedang sedih pun mengambil batu kerikil dan melemparkannya ke sungai. Entah teknik apa yang ia gunakan, batu itu melompat beberapa kali di atas air.

Hari sudah menjelang sore. Miku masih belum mau pulang. Ia masih duduk di tepi sungai.

"Aku yakin kalau hari ini film-nya dirilis... tapi kenapa tidak ada..." Gumamnya. "Malah toko kaset cuma dia doang lagi... " Lanjutnya. Miku merasa kesal pada dirinya sendiri. Bukan, sepertinya ia kesal kepada toko itu.

Hari pun sudah menjelang malam, dan Miku masih tidak mau beranjak dari situ. Terdengar suara langkah kaki seseorang dari belakang.

"Kau masih di sini?" Tanya seseorang yang sepertinya laki-laki itu dari belakang Miku.

Perlahan dengan wajah yang masih galau, Miku menengok ke asal suara.

"Oh Mikuo, ada apa? Mau menjemputku? Aku tidak mau pulang sebelum aku mendapatkan kaset Super Negi itu!" Kata Miku yang langsung duduk bersila sambil membuang mukanya.

"Benar kau mau pulang kalau kaset itu ada?" Tanya Mikuo.

Miku mengangguk.

"Kalau aku bilang aku punya kasetnya bagaimana?" Tanya Mikuo. Miku dengan cepat langsung berdiri dan menghadap adik laki-lakinya itu.

"Mana?!" Tanya Miku semangat.

"Ada di rumah." Jawab Mikuo singkat sambil menjauhkan wajah kakaknya yang terlalu dekat itu.

"Ayo pulang. Nanti akan kuberikan kaset tidak berguna itu." Kata Mikuo yang langsung dibalas anggukan hebat dari Miku.

Mereka pun berjalan menaiki bukit itu dan berjalan di tepi bukit.

"Hei, ngomong-ngomong kau tau dari mana kalau aku ada di sana?" Tanya Miku penasaran.

"Waktu sore tadi, tiba-tiba Rin berteriak dan bilang 'Miku-chan belum pulang dan mungkin dia masih menggalau!' begitu... aku tidak peduli." Jelas Mikuo.

"Lalu Kenapa kau datang!?" Tanya Miku sinis.

"Karena sudah malam, kakak masih belum pulang juga, lalu aku berpikir tempat mana yang biasanya dijadikan tempat untuk menggalau... lalu aku terpikir tempat itu. Tadinya kalau kau tidak ada di sana, aku mau ke taman atau pulang lagi ke rumah." Jawab Mikuo santai.

"Wah, tak disangka. Ternyata adikku bisa khawatir juga denganku... " Gumam Miku.

"Hah?"

"Eh? Kenapa? Aku bicara sesuatu?" Tanya Miku pada adiknya yang lebih tinggi beberapa cm darinya.

"ya, sepertinya aku mendengar sesuatu... " Kata Mikuo.

"Mungkin cuma perasaanmu saja..." Jawab Miku dengan wajah polos. Ia pun mendahului Mikuo.

Sampai di kediaman Vocaloid.

"Wah! Miku-chan! Selamat datang!" Teriak Rin yang langsung berlari dan memeluk Miku.

"Eh... Rin, sudah malam. Nanti tetangga kita bangun... " Kata Miku yang melepaskan pelukan 'rindu seorang ibu' dari Rin.

"Aku gak perduli! Lagi pula kita gak punya tetangga!" Kata Rin yang kembali memeluk Miku.

Mikuo berjalan memasuki kamarnya. Tak lama ia pun keluar lagi.

"Nih." Katanya singkat sambil menyodorkan sebuah CD bercover super hero dengan kostum neginya sedang terbang.

Mata Miku pun berbinar-binar melihat kaset itu.

"Jadi itu kaset yang sampai membuat Miku-chan galau?" Tanya Rin yang sudah tidak memeluk Miku lagi.

Miku pun dengan perasaan berdebar-debar mengulurkan tangannya untuk mengambil kaset idamannya itu dari tangan Mikuo.

"Super Negi keluaran terbaru... " Gumam Miku.

"Eish!" Kata Mikuo sambil menjauhkan kaset yang ia pegang itu dari jangkauan Miku. Padahal tinggal hitungan cm lagi Miku akan menyentuhnya.

"Ada apa?" Tanya Miku heran. Begitu juga Rin yang melihat Mikuo dengan tatapan polos.

"200 ribu." Kata Mikuo sambil membuka telapak tangannya.

"IH! Kau ini rela gak sih ngasih kaset itu ke aku?!" Tanya Miku mulai kesal.

"Rela... Rela... tapi 200 ribu dulu... " Jawab Mikuo santai.

"Adik macam apa kau ini!?" Kata Miku menahan marah.

"200 ribu itu sudah mencakup, aku bangun pagi-pagi, mengantri untuk mendapatkan kaset jelek ini, berdesak-desakkan dengan anak-anak yang menginginkan kaset ini, dan yang paling penting adalah..." Jelas Mikuo.

"Kaset ini yang terakhir."

Miku dan Rin diam sejenak.

"Jadi pantaskan kalau harganya mahal... " Lanjut Mikuo dengan bangganya.

"Kau bangun pagi-pagi? Emangnya bisa?" Tanya Miku.

"Mikuo berdesak-desakkan dengan anak-anak? Itu terlihat seperti guru TK." Kata Rin.

"Itu satu-satunya cara agar aku bisa mendapatkan uang 200 ribu dari dia!" Kata Mikuo menahan marah. "Kalau tidak mau akan kupatahkan kasetnya!"

"Baiklah! Ini 200 ribu untukmu... dan kasetnya untukku... " Kata Miku sambil menyodorkan uang 200 ribu kepada Mikuo. Mikuo pun memberikan kaset Super Negi itu kepada Miku.

"Terima kasih kakakku yang baik, cantik, tapi bodoh dan pelit, silahkan menikmati kasetmu, dan aku menikmati uangku. Selamat tidur." Kata Mikuo sambil mengibas-ngibaskan uangnya lalu pergi ke kamarnya.

"Aku sebaiknya tidur... aku harus mempraktekkan teknik berkebun yang baik untuk tanaman jeruk." Kata Rin yang masuk ke kamarnya juga.

Miku masih mematung menatap kaset idamannya itu. Tangannya sedikit bergetar.

"Super Negi... "

To Be Continued

Chapter 4 udah selesai! Bagaimana humornya?

Tolong di-review ya...

Sebenarnya author mau bikin fic detektif tentang pencurian, tapi masih bingung soal proses perncuriannya... tapi gak usah dipikirkan, lagi pula fic ini untuk fandom Fairy Tail.

Kalau ada yang minat, silahkan mampir. Author adalah spesialis untuk genre humor! Jadi semua fic author genrenya pasti humror semua. Kalau ada yang gak humor, silahkan tembak author.

Buat yang lagi bad-mood, yang lagi galau, yang lagi patah tulang #BUAK! Ehem! Patah hati maksudnya. Silahkan baca fic author dan mood kalian akan segera bangkit kembali! #Dihajarmasa

OKE!

Jangan lupa review! :D