Author kembali hadir untuk mengupdate chapter baru! Tak perlu banyak berkata-kata,
Selamat membaca!
Pairing : -
Genre : Humor
Disclaimer : Yamaha
Warning : Bisa membuat tertawa kalau mungkin dibayangkan.
Pagi hari di kediaman Vocaloid.
"Hoaaam..." Rin baru bangun dari tidur panjangnya, dan dia berjalan ke ruang makan. Di sana sudah ada Miku, Mikuo, dan Len yang sama sepertinya. Baru bangun tidur.
"Miku-chan, " Panggil Rin. Yang dipanggil menengok.
"Selamat pagi Rin-chan." Kata Miku yang sedang memasak.
"Hari ini sarapan apa?" Tanya Rin yang masih mengantuk sambil menarik kursi.
"Hari ini ikan bakar dan sup miso." Jawab Miku sambil meletakkan 4 mangkuk nasi ke atas meja.
"Ah ikan... " Kata Rin sambil menyandarkan pipinya di atas meja.
"Selamat makan!" Kata Miku diikuti yang lain.
Mata Rin menyapu seluruh makanan yang ada di atas meja. Dan dia tidak melihat adanya buah-buahan.
"Ada apa Rin-chan? Kenapa tidak dimakan?" Tanya Miku dengan sumpit yang masih nyantel di mulutnya.
"Aku tidak melihat adanya buah-buahan di sini." Kata Rin masih dengan bola mata yang bergerak kiri-kanan.
"Buah?" Miku melihat seluruh makanan yang ada di atas meja. Dan tidak ada buah-buahan.
"Kau benar. Lalu kenapa?" Tanya Miku.
"Belakangan ini aku sulit buang air besar... mungkin karena aku jarang makan buah dan sayur..." Kata Rin sambil memasukkan nasi ke mulutnya menggunakan sumpit.
"Benar... aku juga gak masak sayur untuk sarapan pagi ini... semuanya daging... " Kata Miku membenarkan kata-kata Rin.
"Kakak macam apa aku ini?!" Kata Miku memarahi dirinya sendiri.
"Kakak? Emangnya kau kakaknya mereka apa?" Kata Mikuo dengan mulut penuh.
"Aku kan yang paling tua di sini... jadi aku harus bertindak seperti kakak di sini." Kata Miku.
"Kau lebih cocok sebagai ibu." Ejek Mikuo.
"Pokoknya aku mau buah-buahan!" Kata Rin memaksa.
"Baiklah! Aku akan membawakan Rin-chan buah-buahan segar supaya buang air nya lancar!" Miku segera berlari ke kulkas dan mengobrak-abriknya. Dia mengeluarkan melon, alpukat, stroberi, dan nanas.
"Ini dia!" Kata Miku sambil menyodorkan segelas es buah dingin pada Rin. Mata Rin yang melihat itu langsung berbinar-binar.
"Terima kasih Miku-chan!" Kata Rin yang langsung menyantap es buah itu.
Sebenarnya ini adalah taktik Rin untuk mendapatkan segelas es buah tanpa harus membuatnya sendiri. Sebagai saudara kembar Rin, tentu Len merasa iri dengan es buah yang Rin dapat.
"Aku juga mau satu dong." Kata Len pada Miku yang sedang makan.
"Len juga mau makan buah? Tuh ada pisang." Kata Miku santai.
"Bukan, maksudnya es buah kayak Rin." Jelas Len. "Buat saja sendiri. Aku mau makan." Kata Miku masih dengan kegiatannya.
"Kok Rin boleh makan es buah aku gak!?" Protes Len.
"Rin-chan itu kan sulit buang air besar! Jadi aku buatkan sesuatu yang isinya beraneka macam buah-buahan!" Kata Miku dengan wajah tegas seperti seorang ayah.
"Terkadang dia bisa jadi seorang kakak, teman, ibu, bahkan ayah... hebat... multifungsi... " Batin Mikuo sambil melihat Miku yang sedang bertindak seperti seorang ayah.
"Tidak adil! Harusnya Rin diberi jeruk saja tadi!" Kata Len sambil berjalan menuju dapur untuk mengambil pisang.
"Belakangan ini harga jeruk sedang selangit, kualitasnya pun kurang bagus. Sedangkan pisang, harganya sedang murah dan kualitasnya pun bagus... " Jelas Miku. Len tidak mempedulikan ucapan Miku. Baginya, ucapan Miku hanyalah sebuah pembelaan diri.
"Kalau begitu, buatkan jus dari pisang ini!" Kata Len sambil menyodorkan sebuah pisang yang ia pegang.
"Jus saja sendiri." Kata Miku yang sedang menumpukkan piring dan mangkuk untuk di cuci.
"Aku gak tau cara pake blender." Kata Len santai.
Miku menatapnya sinis.
"Mana, berikan pisangnya padaku!" Kata Miku dengan sinis sambil mengulurkan tangannya. Len memberikan pisang yang sedang ia pegang sambil nyengir.
Pukul 09.00
Rin sedang menonton acara Super Orange yang baru tayang pagi itu. Mikuo sedang mandi, dan Len sedang duduk di meja makan sambil menunggu Miku yang sedang membuat jus pisang di dapur.
"Baru dibuka! Wahana special awal bulan Februari! Datanglah bersama keluarga, teman ataupun kekasih anda! Ini adalah tempat yang cocok untuk berekreasi!" Rin terpaku dengan iklan tempat wisata baru yang tayang di TV. Ada kebun buah, danau yang indah, stand makanan yang sepertinya menjual makanan yang enak. Dan... labirin.
"Labirin? Apa itu?" Gumam Rin.
Tak lama, Mikuo keluar dari kamar mandi dengan handuk kecil yang ia letakkan di atas kepala.
"Mikuo! Labirin itu apa?" Tanya Rin pada laki-laki yang sedang berjalan santai menuju kamarnya.
"Labirin itu suatu permainan yang menguji seberapa besar keberuntunganmu. Kalau kau tidak cukup beruntung, kau tidak akan bisa keluar setelah masuk ke dalam sana." Jelas Mikuo yang kemudian hilang dari pandangan Rin. Habis Mikuo, terbitlah Len yang berjalan dan duduk di samping Rin sambil membawa jus pisangnya.
"Ada apa?" Tanya Len.
"Labirin." Jawab Rin sambil menatap kosong meja di depannya.
"Labirin? Ooh... permainan itu ya... kita harus berjalan terus sampai ketemu pintu keluar. Kalau gak ketemu-temu, kita bakalan ada di dalam labirin itu selamanya... " Kata Len.
Rin telah menerima beberapa keterangan seputar labirin dari orang di sekitarnya. Dan ia menyimpulkan, labirin adalah permainan yang menyeramkan karena permainan itu akan memakan korban, koban yang tidak akan pernah bisa keluar.
"Lain kali buatlah jus pisangmu sendiri!" Kata Miku yang baru selesai mencuci piring, mangkuk, dan blender yang tadi ia pakai.
"Miku-chan... " Panggil Rin.
"Ada apa?" Tanya Miku sambil duduk di samping Rin.
"Labirin itu kayak apa sih?" Tanya Rin dengan wajah serius.
"Labirin...? Labirin ya... " Miku berpikir sejenak. Lalu ia berdiri an mengambil sebuah majalah anak.
"Ini! Ini namanya labirin!" Kata Miku sambil menunjuk halaman yang penuh dengan permainan labirin full page. "Kau harus menarik garis untuk mencari jalan keluar." Jelas Miku.
Dengan serius Rin pun mengambil pensil dan mulai menarik garis.
5 menit.
7 menit.
10 menit.
"Aku menyerah. Labirin memang permainan yang memakan korban. Aku tidak bisa keluar!" Kata Rin sambil berteriak histeris. Mikuo pun keluar dari kamarnya.
"Oh, main labirin di majalah ya?" Tanyanya. "Itu sih gampang. Lebih sulit kalau kita sendiri yang berada di dalam labirin itu. Dari pada melihatnya dari atas, lebih baik memainkannya dengan banyak semak-semak yang menjadi pembatas jalan." Kata Mikuo.
Miku, Rin dan Len tidak mengerti apa yang diucapkan Mikuo.
"Lihat ini, aku dapat menemukan jalan keluarnya dengan mudah." Kata Mikuo yang mengambil pensil yang dipegang Rin dan mulai menarik garis.
Benar saja, dalam hitungan detik, garis yang ditarik Mikuo telah menemukan jalan keluar. Miku, Rin dan Len takjub melihatnya.
"Bagaimana kau bisa melakukannya?" Tanya Rin.
"Itu mudah. Sudah kubilang, lebih mudah keluar kalau melihat dari atas dari pada kau sendiri yang masuk ke dalamnya." Jelas Mikuo. Ia pun segera pergi meninggalkan tiga orang yang masih mematung melihat garis yang ditarik Mikuo.
"Dasar bodoh. Mudah sekali dibohongi. Aku kan sering main labirin di majalah... tentu saja aku hafal." Gumam Mikuo.
"Baiklah! Keputusanku sudah bulat! Miku-chan! Kita pergi ke wahana baru yang ada labirinnya!" Kata Rin semangat.
"Wahana apa?" Tanya Miku yang tidak melihat iklan itu.
Siang hari pukul 12.00
Di depan pintu masuk, telah berdiri Miku, Rin, Len, dan Mikuo.
"Jadi ini wahana baru yang Rin-chan bilang..." Gumam Miku sambil melihat sekeliling.
"Mana labirinnya?" tanya Mikuo semangat. Laki-laki ini sangat suka dengan tantangan.
"Itu! Di sana!" Kata Rin sambil menunjuk wahana semak-semak itu.
Mereka pun berjalan ke wahana itu.
"Baiklah, siapa yang mau masuk duluan?" Tanya Rin sambil bersembunyi di belakang punggung Miku.
Belum ada yang menjawab, Mikuo sudah berjalan masuk terlebih dahulu. Mereka tidak langsung mengikuti Mikuo. Mereka mau melihat. Apakah orang ini hanya jago main labirin yang ada di majalah saja? Apakah dia akan terjebak selamanya?
Tak berapa lama, Mikuo keluar dari ujung labirin.
"HEY! KALIAN! CEPAT SUSUL AKU! INI MUDAH!" Teriak Mikuo dari ujung sana.
Mereka bertiga pun yakin untuk memasuki labirin itu.
"Apa kita akan dimakan oleh labirin ini?" Tanya Rin.
"Tidak mungkin... pasti kita akan keluar! Mikuo aja bisa kok!" Kata Miku mantap.
"Jalannya pelan-pelan dong!" Kata Len takut-takut.
Mikuo berjalan menuju menara paling tinggi di wahana itu, dan melihat mereka bertiga dari ketinggian.
"Sudah kubilang ini mudah." Gumam Mikuo.
"Miku-chan... sudah berapa lama kita di sini? Kok belum keluar-keluar... " Kata Rin yang hatinya sudah berdebar-debar.
"Kita pasti akan keluar... tenang saja Rin-chan!" Kata Miku yang menggenggam tangan Rin semakin kuat.
Belok kiri, belok kanan, lurus, maju, mundur... tetap saja mereka tidak menemukan jalan keluarnya.
"Miku-chan... aku takut... " Kata Rin dengan nada bergetar.
"Tenang Rin-chan... kita pasti akan keluar. " Kata Miku terus menyemangati Rin.
"Len? Kau ada di belakangku kan?" Tanya Rin.
Tidak ada jawaban.
"Len?" Rin menengok ke belakang dan tidak menemukan Len di sana.
"LEN!" Teriak Rin.
"Miku-chan! Miku-chan! Len tidak ada! Len dimakan labirin ini! Dan selanjutnya adalah kita Miku-chan!" Kata Rin histeris. Dia pun pingsan.
"Eh? Rin-chan! Bagunlah!" Kata Miku yang menggoyang-goyangnya tubuh Rin. Mikuo pun menelpon kakaknya.
"Halo?" Kata Miku.
"Dari tempatmu, lurus, belok kiri." Kata Mikuo.
Miku pun berjalan sesuai petunjuk Mikuo.
"Belok ke kanan, gang ke dua, beok kiri, lurus terus, ada jalan buntu. Belok ke kanan, lalu ada belokan ke kiri. Lurus terus dan kau akan keluar." Kata Mikuo.
Miku pun berjalan sesuai petunjuk Mikuo sambil menggendong Rin. Tak lama, mereka pun keluar.
Sementara Len.
"Duh... aku dimana ya?" Kata Len yang berjalan sendiri di labirin itu. Karena baru buka, wahana ini masih sepi.
"Rin! Miku! Tolong aku!" Teriak Len.
Sebenarnya Mikuo mau membantu Len, sama seperti saat ia membantu Miku tadi. Tapi Len tidak membawa ponsel.
"LEN! BELOK KIRI TERUS LURUS!" Teriak Mikuo dari jauh. Karena terlalu jauh, Len tidak bisa mendengarnya.
Hari sudah menjelang sore.
"Ng? Miku-chan." Menjelang sore, Rin tersadar dari pingsan panjangnya.
"Rin-chan! Kau sudah sadar!" Kata Miku senang.
Rin celingak-celinguk. "Mana Len?" Tanyanya.
"Dia masih di dalam labirin." Jawab Mikuo santai.
Butuh beberapa detik untuk Rin agar dapat mencerna kata-kata Mikuo.
"Hah? Labirin? DIA MASIH ADA DI DALAM LABIRIN!?" Teriak Rin yang langsung bangun dari posisinya.
"Ternyata benar. Labirin adalah permainan yang meminta korban! Len sudah menjadi korbannya!" Kata Rin.
"LEN! BELOK KIRI TERUS LURUS!" Teriak Rin dengan suaranya yang melengking.
"Hah?" Len menengok ke asal suara. "Rin?"
Terlihat dari posisi Len sekarang, Rin sedang menunjuk-nunjuk arah kiri dan mengankat tangannya.
"Belok kiri lalu lurus maksudnya?" Gumam Len. Ia pun mencoba berjalan ke arah yang Rin maksud.
"Wah! Dia mengerti maksudku!" Kata Rin yang berada di atas menara. Miku dan Mikuo berjalan untuk melihat Len.
Rin terus menggerak-gerakkan tangannya. Dan Len mengartikannya sebagai berikut.
"Kalau tidak cepat-cepat, labirin akan memakanmu, kau tidak bisa keluar dari sini?" Gumam Len. Len menarik nafas.
Dengan rasa takut yang luar biasa, Len berlari sampai menembus semak-semak yang menjadi pembatas labirin itu. Dan dengan kejadian itu, Len berhasil mematahkan kepercayaan Rin bahwa sebenarnya Labirin tidak memakan korban. Dan itu juga membenarkan kata-kata Mikuo. Kalau punya keberuntungan pasti kau bisa keluar.
Mereka pun pulang dengan rasa lega yang luar biasa.
To Be Continued
Chapter ini akhirnya selesai juga... author harap chapter ini cukup menghibur.
Jangan malas dan bosan untuk mereview ya! Author sangat menghargai apapun itu review dari readers tercinta!
Jangan lupa review! :D
