Yey! Hari ini author telah meng-update chapter terbaru dari Activities of Vocaloid!
Author gak tau mau ngomong apa,
Selamat membaca!
Pairing : -
Genre : Humor
Disclaimer : YAMAHA
Warning : Mungkin gak lucu dan membuat readers menekan tanda panah di kiri atas.
"Seratus... dua ratus... tiga ratus... empat ratus... lima ratus... "
"Enam ratus... tujuh ratus... delapan ratus... sembilan ratus... "
"Satu juta!"
Seru Miku, Rin, dan Mikuo yang sedang menghitung uang sisa yang mereka miliki.
"Jadi uang kita ada satu juta?" Tanya Len sambil menopang dagunya dengan kedua tangannya.
"Ya. Seperti yang kau dengar dari Mikuo." Jawab Rin sambil menyusun uang berwarna merah itu.
"Mau diapakan?" Tanya Len lagi dengan wajah bosan.
"Ditabung?"
"Dibagi rata?"
"Diberikan ke orang tidak mampu!"
"Dimakan?"
"Hah? Dimakan?"
"Iya, dimakan. Ah! Maksudku dijajanin!" Kata Miku membetulkan kata-katanya.
"Oh... dijajanin... kirain uangnya dimakan... " Kata Rin dengan kepala yang dinaikkan.
"Mau makan apa pakai uang ini?" Tanya Mikuo.
"Negi?" Usul Miku.
Suasana menjadi hening.
"Jeruk?"
...
"Pisang?"
...
Semua berpikir keras makanan apa yang mau dibeli dengan uang itu.
"Ramen?" Gumam Mikuo.
"Ramen?" Tanya Miku.
"Apa itu ramen?" Tanya Rin.
"Ah! Masa kamu gak tau ramen sih Rin! Tidak bisa dipercaya! Ramen itukan udang yang digoreng!" Kata Len.
"Itu ebi furai!" Kata Miku.
"Ramen itu mie." Kata Mikuo dengan wajah bosan.
"Oh! Mie itu!" Kata Rin sambil memukul telapak tangan kirinya.
"Jadi kau mau makan ramen? Bagaimana dengan Rin-chan dan Len?" Tanya Miku.
"Aku mau makan ramen!" Kata Rin semangat. Len hanya mengangguk.
"Baiklah! Kita pergi!" Teriak Miku.
. . . . .
Di kedai ramen.
"Paman! Ramennya satu ya!" Teriak Miku.
"Paman! Ramennya satu!" Teriak Rin.
"Kok kita gak dipesanin sih?" Kata Len.
"Teriak sendiri!" Kata Rin dengan wajah sinis.
"Hey! Siapa yang berteriak mengingatkan tukang bajaj waktu kau masih ada di dalam bajaj dan belum turun?!" Kata Len.
"Len... " Jawab Rin dengan wajah cemberut. "Paman! Ramennya satu lagi!" Teriak Rin masih dengan wajah cemberut.
"Paman, ramennya satu." Kata Mikuo pelan. Paman itu tidak menjawab 'Ya!' pada Mikuo. Mikuo mengerutkan dahinya.
"Paman! Ramennya!" Kata Mikuo pelan.
"Adikku, kau harus berteriak... kalau tidak kau tidak akan dilayani... " Kata Miku menasehati adiknya. Di telinga Mikuo perkataan kakaknya itu hanya masuk kuping kanan keluar kuping kiri.
"Paman! Ramennya satu lagi!" Kata Miku.
Beberapa menit kemudian, 4 mangkuk ramen pun diberikan pada mereka berempat. Seorang laki-laki yang terlihat berantakkan melihat dompet Miku yang mencuat dari saku rok-nya. Laki-laki itu terus memperhatikan dompet Miku. Sampai akhirnya ia berjalan mendekati Miku.
Perlahan-lahan laki-laki itu mendekat dan mengambil dompet Miku. Ternyata laki-laki itu adalah copet. Miku tidak menyadarinya karena sedang asyik makan ramen.
"Enak ya ramennya!" Kata Miku dengan mulut penuh.
"Ramen di kedai ini memang terkenal enak!" Kata Rin menambahkan.
Dan tak satu pun dari mereka yang menyadari bahwa uang yang akan digunakan untuk membayar ramen yang telah mereka makan sudah diambil orang.
"Tambah lagi!" Teriak Miku.
"Aku juga!" Kata Rin.
"Ini sudah mangkuk yang ke 4, porsi jumbo pula... perempuan macam apa kalian ini?" Kata Mikuo yang jijik melihat dua gadis di sebelahnya.
Miku dan Rin menoleh ke Mikuo dengan wajah mengantuk dengan mulut yang penuh dengan ramen.
"L-lupakan." Kata Mikuo kembali menghabiskan ramennya.
"Aku sudah selesai makan." Kata Len.
"Lho? Kok gak habis?" Tanya Mikuo.
"Ramennya banyak sekali... aku tidak kuat lagi." Jawab Len sambil memegangi perutnya.
"Biar aku yang habiskan!" Kata Rin yang langsung merampas mangkuk ramen milik Len dan menghabiskannya seperti mesin penghisap debu yang menyedot setiap benda di depannya.
"Tambah lagi paman!" Teriak Rin dan Miku saling berlomba-lomba.
"ini sudah mangkuk ke 7... " Bisik Mikuo pada Len.
"Aku tidak bisa membayangkan seberat apa mereka nanti." Gumam Len.
Kedua laki-laki itu terus memperhatikan saudara mereka yang seperti kecanduan makan ramen.
"Fuah! Kenyang!" Kata Miku.
"Akhirnya kata-kata kenyang keluar juga dari mulutnya... " Kata Mikuo.
"Paman! Bungkus 4 porsi ya!" Kata Miku.
Mikuo menepuk dahinya mendengar perkataan kakaknya.
"Aku bungkus 4 juga!" Kata Rin sambil membersihkan giginya dengan tusuk gigi.
"Kalian sudah jadi ramen lovers ya?" Tanya Len.
Miku dan Rin menoleh ke arah Len dengan wajah mengantuk lagi.
"Umm... paman, berapa harga semuanya?" Kata Miku dengan senyum 10 cm.
"Semuanya jadi 500.000." Jawab pemilik kedai.
"Baik, baik... " Kata Miku sambil merogoh sakunya.
"Eh?" Dan sekarang Miku menyadari kalau ada sesuatu yang hilang.
"Dompetku?" Gumam Miku.
"Ada apa Miku-chan?" Tanya Rin.
"Dompetku hilang... " Kata Miku dengan wajah sedih.
"Ah! Mungkin terjatuh di sekitar sini!" Kata Rin yang berjongkok sambil merangkak ke seluruh bagian kedai.
"Ada apa? Dompetmu hilang?" Tanya Mikuo. Miku mengangguk dengan wajah tertunduk.
Rin, Mikuo, dan Len bersama-sama mencari dompet Miku dengan paniknya.
"Ada apa?! Mana uangnya!?" Kata pemilik kedai mulai kesal.
"T-tidak ada... " Jawab Miku masih tertunduk dengan suara pelan.
"Tidak! Tidak! Pasti terjatuh di sekitar sini!" Kata Rin yakin.
"Tenang saja Miku! Pasti ada di sini!" Kata Len yang berada di bawah kursi.
"Kak! Kau yakin bawa dompet?" Tanya Mikuo.
Mikuo, Rin, Len, serta pemilik kedai menoleh ke Miku. Miku mengangguk. Kemudian mereka kembali mencari dompet Miku yang telah ada di tangan copet.
"Hah! Tidak ada!" Kata Mikuo yang kesal sendiri karena tidak menemukan dompet bercorak negi itu.
"Bagaimana kalian ini!? Mau makan tapi tidak punya uang!" Kata pemilik kedai marah-marah.
"Aku yakin aku membawanya... " Kata Miku dengan suara bergetar.
"Kalau begitu, kalian harus—"
"Bekerja?" Tanya Rin.
"Cuci piring?" Tanya Len.
"Mengantar pesanan?" Tanya Mikuo.
"Menyapu dan mengepel?" Tanya Miku dengan suara bergetar.
"Tidak... " Kata paman itu.
"Kalian harus bisa menjawab pertanyaanku dengan benar baru boleh keluar! Kalau tidak, kalian harus membayar ramen yang kalian makan entah bagaimana caranya!" Kata pemilik kedai itu.
"Baik!" Kata mereka berempat.
"Pertama, apa fungsi pusar setelah tali pusar dipotong? Ada dua jawaban." Kata paman itu.
"Kalau waktu di dalam perut, itu buat menyalurkan makanan kepada si calon bayi... kalau sudah dipotong buat apa ya?" Gumam Rin.
"Fungsinya cuma buat nyimpen kotoran!" Jawab Len.
Paman pemilik kedai mengangguk-ngangguk.
"Satunya lagi! Sebagai pajangan! Kan kalo perut kita polo gak sedap dipandang! Jadi motif gitu deh... " Kata Rin.
Paman pemilik kedai menganguk lagi.
"Kalian boleh keluar." Kata paman itu.
"Kami akan menunggumu di luar!" Bisik Rin pada Miku sambil tertawa kecil. Rin dan Len pun berlari keluar.
"Pertanyaan kedua!" Kata paman itu.
"Kenapa bisa ada uban di rambut?"
"Karena stress!" Jawab Mikuo. Dia pun segera meninggalkan Miku yang masih menganga.
"Pertanyaan terakhir." Kata paman itu.
Jantung Miku berdebar sangat kencang. Entah pertanyaan aneh apa lagi yang akan diberikan pria paruh baya ini.
"Apa rasa upil?"
"Hah?!"
Miku pun berbalik membelakangi paman itu sambil bergumam. "Rasa upil? Asin? Manis? Tidak! Tidak! Kalau manis pasti semua orang akan memakannya! Jadi apa dong rasanya?!"
"Ayo, cepat jawab!" Kata paman itu.
"Karena semua orang tidak suka rasa obat yang pahit, berati rasa upil itu pahit sehingga orang-orang tidak mau memakannya!" Kata Miku.
"Jawabannya pahit!" Jawab Miku dengan yakinnya.
"Salah!" Kata paman itu dengan tegas.
"Kok salah?!" Protes Miku.
"Di dunia ini, ada beberapa orang yang suka makan upil, jadi rasanya pasti asin." Kata paman itu.
"Jangan-jangan paman pernah mencobanya ya?" Tanya Miku ragu-ragu.
"Tidak, itu hanya menurutku saja, kalau rasa upil pahit, pasti semua orang tidak mau memakannya. Kalau manis, pasti semua orang akan memakannya termasuk kau. Jadi aku ambil kesimpulan kalau rasa upil itu asin." Jelas pemilik kedai.
Miku mengangguk-angguk mendengarkannya.
"Baiklah, kali ini kau ku ampuni! Ramen yang dibungkus ini tidak boleh kau bawa pulang! Keluar sana!" Kata paman itu agak kasar. Miku pun segera berlari keluar setelah ia membungkuk pada paman itu.
Di luar kedai.
"Miku-chan! Kau dapet pertanyaan apa?" Tanya Rin di luar kedai.
"Masa dia tanya apa rasa upil?! Mana ku tau rasanya!" Kata Miku marah-marah.
"Lalu apa yang kau lakukan? Mencobanya? Tanya Rin.
"Tidak! Aku jawab pahit, eh salah. Yang benar asin katanya. Ya sudah, untungnya dia baik, jadi aku dimaafkan... " Kata Miku dengan wajah sinis melihat kedai itu.
"Ayo kita pulang, sudah sore." Kata Mikuo.
Mereka pun pulang ke rumah pada sore hari sambil melewati pertokoan yang sebagian sudah tutup. Di tengah jalan Miku dan yang lainnya melihat sesuatu.
"Miku-chan!" Panggil Rin.
"Ya! Aku tau!" Kata Miku sambil menatap benda di depannya itu dengan teliti.
"Tidak salah lagi!" Kata Miku yakin.
"Ada apa? Ada sesuatu?" Tanya Mikuo sambil berjalan ke depan. Setelah ia melihat benda di depannya, matanya yang setengah terbuka menjadi sepenuhnya terbuka. "Itu kan... " Gumam Mikuo.
"DOMPETKU!" Teriak Miku sambil berlari ke arah benda di tengah jalan itu.
"Ternyata benar... dompetnya Miku-chan terjatuh... " Kata Rin.
Angin sepoi-sepoi bertanda bahwa masalah telah selesai. Miku pun dengan girangnya membuka dompetnya.
Siiiiiiing
"K-kosong... " Kata Miku dengan wajah shock.
Dan sekarang, angin sepoi-sepoi itu menandakan sesuatu kebahagiaan yang gak jadi.
Miku pun memasukkan dompet kempesnya ke dalam saku dan kembali berjalan dengan pose galau.
Saat di komplek rumah, mereka melihat selembaran yang tergeletak di jalan. Rin pun mengambil kertas itu dan membacanya. Mikuo dan Len pun tertarik untuk membacanya juga. Miku masih berjalan dengan pose galau di depan.
"Lomba sepak bola. Pemenangnya dapet hadiah 10 juta dan berkesempatan membela Jepang di piala FIFA." Gumam Rin.
"Ayo kita ikut! Kita main sepak bola untuk mendapatkan hadiahnya!" Kata Rin semangat. Mikuo dan Len mengangguk setuju.
Sementara Miku sudah masuk ke dalam rumah.
To Be Continued
Bagaimana Chapter kali ini? Apa isinya lucu? Oke kalau gak lucu gak pa-pa.
Apa isinya mendebarkan? Bikin penasaran? Ohohoho...
Review anda sangat berpengaruh pada cepat lambatnya fanfic ini di update.
Jangan lupa review! :D
