The Hidden Story

Seluruh karakter milik JKR

Chapter 2

Chapter 2 special for my BFF :D

,

,

Al

"Lils."

"Hm?"

"Apakah Malfoy sudah menerima cokelatmu?" tanyaku pada Lily. Kami berdua sedang bersantai di Ruang Rekreasi Gryffindor sambil bermain Catur Sihir.

"Tidak," katanya kalem, seolah tidak terjadi apa-apa. Ia malah—dengan santainya—memindahkan pion untuk memakan kudaku dalam permainan catur kami. Hah, Lily memang seorang perempuan yang tegar. "Yes, sebentar lagi aku akan menang, Al…."

Aku tidak memedulikan kalimat terakhirnya. "Heh? Kenapa dia menolak cokelatmu lagi?"

"Entah," katanya. "Sudah, ah. Aku sedang malas membicarakan hal itu."

Tapi aku tetap saja berkomentar, "Dasar Malfoy tidak tahu adat! Menolak rejeki kan tidak pernah diajarkan oleh para leluhur penyihir!"

Lily hanya diam.

Iseng kulihat matanya. Kucoba gali perasaan yang terpancar dari mata hazel-nya tersebut. Kuharap, aku melihat rasa lelahnya dalam mengejar Malfoy, tapi ternyata aku tidak bisa membaca apa pun dari mata tersebut. Aku memang tidak berbakat, sih. Ramalan dan feelingku sangat payah!

"…bagaimana perasaanmu?" tanyaku akhirnya setelah menyelamatkan rajaku dari cengkraman kedua bentengnya dalam permainan Catur kami.

Lily mendesah. "Hah… biasa saja. Aku sudah kebal dengan penolakannya."

"Kasihan kau," kataku.

"Aku tidak suka dikasihani," timpalnya tajam.

"Lebih baik kau lupakan dia, Lils," kataku seakan menggurui. "Dia itu hanya Malfoy yang bahkan tidak menyukaimu! Cih! Menerima cokelat saja, tidak bisa! Laki-laki seperti apa itu?"

Lily membelalak. "Enak saja kau bicara begitu!"

"Hei," ujarku. "Aku berbicara fakta!"

"Memangnya gampang mencari cowok lain?"

"Gampang!" seruku tidak mau kalah. "Misalnya, aku."

Aduh. Keceplosan lagi.

Lily diam sejenak. Lalu ia berkata dengan nada muak, "Stop bercanda! Lagipula kalau aku disuruh memilihmu atau Scorpius, aku pasti memilih Scorpius! Ingat tidak? Dia bahkan mengalahkanmu dalam pertandingan Quidditch Gryffindor-Slytherin yang terakhir, Al!"

Aku langsung pergi ke kamarku, meninggalkannya bersama Catur Sihir kami. Aku berusaha menahan emosi yang sudah hampir akan keluar. Aku bahkan sudah mengepalkan tinjuku, hendak meninju Malfoy yang berani-beraninya membuat Lily muak padaku.

Sungguh aku benci jika harus dibandingkan dengan Malfoy jelek itu!

Tunggu, Lils. Di pertandingan Gryffindor versus Slytherin selanjutnya, akan kuambilkan Snitch itu untukmu! U-n-t-u-k-m-u!

.

.

Rose

"Scorpius!" teriakku memanggilnya—yang baru saja muncul dari balik pintu Aula Besar—dari pojok meja Gryffindor sambil melambaikan tangan.

Sekarang sudah waktunya makan malam.

Scorpius berbalik mendengar teriakanku. Lalu ia tersenyum.

"Sini!" seruku lagi.

Dia pun berjalan ke arahku dan duduk di sebelahku.

Iseng kuhirup bau ujung rambut pirangnya. Di antara bau mint-nya yang khas, samar-samar kucium bau busuk yang sedikit menyengat. "Hmmh… bau! Ternyata lumpur hijau yang James lemparkan pada kita kemarin belum hilang baunya di rambutmu!"

Scorpius ikut iseng menghirup ujung rambutku. "Eh? Kok baunya di rambutmu sudah hilang?"

Aku nyengir. "Roxanne, yang pernah menjadi korban pelemparan lumpur dari James, memberitahuku agar memakai shampoo ini. Shampoo ini dibeli di toko Uncle Fred, sepaket dengan lumpur bau itu."

Aku mengeluarkan sebuah botol hijau berisi shampoo penangkal bau dari dalam tasku, lalu menyerahkannya pada Scorpius. "Ini, pakai saja."

Scorpius meraihnya.

Tapi, selain memegang botol shampoo itu untuk diraih, Scorpius ikut memegang tanganku.

"Eh?" Aku dan dia berkata bersamaan.

Shampoo itu langsung kulepaskan dari genggamanku. Dia juga begitu. Lalu shampoo botol itu menggelinding turun ke bawah meja, mengenai ujung kakiku.

Kurasakan wajahku memerah. Dan wajahnya juga.

Ah, kenapa harus seperti ini?

.

.

James

"Potter, catatan kenakalanmu…" Profesor McGonagall lalu meraih satu kotak berisi catatan pelanggaran milikku yang diserahkan oleh Filch. "Astaga! Banyak sekali! Dan… sampai satu kotak besar penuh seperti ini?"

Aku hanya bisa nyengir. "Hehehe…"

"Sebenarnya masih ada dua kotak besar lagi, Madam," kata Filch dengan parau sambil menyodorkan sebuah kotak kayu lapuk yang besar—berisi catatan pelanggaranku—lagi. Satu kotak lainnya teronggok di bawah meja.

"Stop, stop," ujar Profesor McGonagall sambil mengelus dadanya. "Jangan perlihatkan aku dua kotak itu, kalau tidak aku akan benar-benar pingsan."

"Baik, Madam," kata Filch.

Lalu Profesor McGonagall beralih padaku, "Kau sudah keterlaluan, Potter. Aku akan menulis surat pada orangtuamu dan memberitahu mereka, kau akan diskorsing dua minggu dari sekolah jika melakukan satu pelanggaran lagi."

"Eh?" ujarku kaget. Tidak percaya bahwa Profesor McGonagall akan memulangkanku ke rumah jika aku melakukan pelanggaran satu kali lagi. Ini kan hukuman yang berat! Selalu ada kemungkinan aku akan dikubur Mum hidup-hidup begitu sampai di rumah.

Sementara itu, ketika mendengar ancaman skorsing untukku, mata Filch berkilat. Sialan.

"Satu pelanggaran lagi, Potter," kata Profesor McGonagall. "Dan untuk pelanggaran kali ini, menggantung dua Profesor sekaligus di atap-atap langit, kau terpaksa kuberikan detensi. Kebetulan Madam Pince baru-baru saja mengeluh padaku karena kesusahan mengatur buku-buku di Perpustakaan, jadi detensimu adalah membantunya menyortir buku-buku tersebut."

Menyortir buku? Aku sih sudah biasa. Sudah puluhan kali aku dikirim ke sana untuk menyortir.

Masalah sebenarnya adalah…

.

.

Scorpius

Tahun ini tahun OWL.

Waktu untuk belajar harus semakin ditingkatkan. Apalagi untuk yang bercita-cita menjadi Auror sepertiku.

Tapi terlalu susah bagiku untuk membagi waktu. Untuk belajar, Quidditch, bermain, beristirahat… ah. Mungkin sebentar lagi kepalaku akan terbagi empat saking pusingnya. Apalagi ditambah dengan beban pikiran.

Semakin hari aku semakin pusing dengan pikiranku.

Sejak kecil, seluruh keinginanku selalu dikabulkan. Dan aku terbiasa dengan hal itu.

Tapi kali ini, aku menginginkan sesuatu yang kemungkinannya kecil sekali untuk kudapatkan.

Rose.

Sebenarnya aku sendiri yang membuatnya susah. Aku masih ada di pikiran ingin menjadikannya sahabat atau kekasih. Jujur, aku ingin memilikinya. Tapi aku tidak ingin kehilangannya sebagai sahabat sejatiku.

Banyak kenangan-kenangan yang membuatku tak bisa melepaskannya dari status sahabatku.

Misalnya, aku ingat sekali ketika aku baru saja putus dengan Amelie. Rose-lah yang menghiburku. Dia yang mengajakku ke Hogsmeade secara diam-diam melewati jalan rahasia, dan dia mengajakku menikmati banyak hal. Shrieking Shack, permen Honeydukes, pertunjukan sirkus—yang saat itu ada, dan banyak hal lainnya. Hingga Hogsmeade tutup.

Padahal aku mengerti dia tidak suka melanggar peraturan.

Tapi dia melanggar peraturan demi menghiburku. Karena aku sahabatnya.

Huh, hanya orang bodoh yang mampu kehilangan sahabat seperti itu.

.

.

Lily

Aku sedang menggenggam sebuah cokelat lagi. Tapi kali ini bukan cokelat untuk Scorpius—seperti biasanya. Cokelat ini khusus kubeli di Hogsmeade untuk Al.

Setelah aku membuat Al marah siang tadi, entah kenapa aku merasa bersalah. Sangat bersalah. Memangnya dia salah apa sih, kalau mencintaiku sebagai adiknya? Harusnya aku mengatakan terima kasih, bukan menghina atau bahkan membandingkannya dengan Scorpius.

Karena itu, setelah Al naik ke kamarnya, aku langsung keluar dari Asrama dan kabur ke Hogsmeade melalui jalan yang pernah diberitahu oleh James.

Itulah asal muasal mengapa cokelat almond kesukaan Al ada di tanganku saat ini.

Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Sekarang sudah masuk jam tidur Al.

Sebenarnya aku ingin memberikan cokelat ini sebagai tanda permintaan maaf pada Al jam tujuh tadi, ketika Al ikut menonton bagaimana cara James 'mendandani' Bianca Summer, anak kelas satu yang belagu dan mengesalkannya minta ampun.

Tapi nyaliku benar-benar menciut saat itu.

Maka inilah saatnya! Aku harus berani!

Ayo, Lils! Menyerahkan cokelat pada Scorpius saja, kau berani! Apalagi menyerahkan cokelat pada kakakmu! Ayo! Kau Gryffindor sejati, Lils! Kau pasti bisa!

Aku berjalan dari Ruang Rekreasi Gryffindor yang sudah mulai sepi ke kamar Al. Setelah sampai dan mengambil napas panjang berkali-kali, kuketuk pintunya.

Tok tok tok

"Siapa?" tanya orang itu.

Kebetulan. Yang membuka pintu itu adalah Al.

"Er… aku," kataku canggung.

Al diam sejenak, mengamatiku dari ujung kaki sampai ujung rambut. Seolah berusaha mencari apa yang membuatku tiba-tiba 'nyasar' ke kamarnya. Lalu matanya terpaku ketika melihat cokelat yang kugenggam.

Al kembali menatap mataku. "Cari siapa?"

"Aku mencarimu," kataku cepat. Lalu, dengan tangan gemetar—setengah takut—aku menyerahkan cokelat itu. "Um… aku minta maaf soal yang tadi. Saat kita bermain Catur Sihir. Sebenarnya aku tidak bermaksud untuk membandingkanmu dengan Scorpius. Itu semua… yah, entah kenapa kuucapkan begitu saja."

"Terus?" tanya Al tidak peduli.

Aku menelan ludah. "Ini cokelat untukmu. Sebagai permintaan maaf."

Al diam saja selama beberapa detik kemudian, membuatku gugup bercampur takut. Yah, walaupun dia mengesalkan, dia tetap kakakku, kan? Siapa lagi yang menjagaku kalau bukan Al? Wajar saja aku takut kehilangannya.

Lalu Al, dengan gerakan cepat, tiba-tiba mengambil uluran cokelat dari tanganku dan langsung memelukku.

Aku tersentak kaget.

Sekuat tenaga berusaha kulepaskan pelukannya, tapi tetap tidak bisa. Al terlalu kuat.

Al mengelus rambutku. "Lils… tolong jangan ulangi lagi…"

,

,

TBC

Oke, chapter ini dibuat dari dulu tapi baru diselesaikan sekarang karena ulangan entah kenapa silih berganti di sekolah saya -_- minta maaf sebesar-besarnya, dan saya tahu ini adalah salah satu chapter terjelek yang pernah saya bikin. Drabble-nya cuma lima lagi! Padahal saya janji setiap chapter, ada 6 drabble! Rasanya saya gak pantes minta review -_- sekali lagi saya minta maaf…

Terima kasih sudah mau baca… semoga chapter berikutnya bisa update cepat dan semakin bagus amin :D

-Rani