Hari ini di tempat author lagi ujan. Ujannya kecil-kecil gitu deh...
Oke, gak ada yang mau tau soal cuaca... kalau begitu,
Selamat membaca!
Pairing : -
Genre : Humor
Disclaimer : YAMAHA
Warning : Sama seperti pada chapter yang author buat di fandom lain, author tidak tau-me-nau soal dunia persepakbolaan.
"Seratus... dua ratus... tiga ratus... empat ratus... lima ratus... "
"Sudahlah, gak usah dihitung... kita kan makan ramen kemarin gratis... " Kata Rin dengan wajah bosan. Miku tidak mempedulikan perkataan gadis di sebelahnya.
"Tujuh... delapan... sembilan... sembilan setengah... " Gumam Miku sambil terus memisahkan uang yang ada di tangannya.
"Sudah kuduga! Uangnya ada yang hilang!" Kata Miku dengan wajah realistis. Semua shock mendengar itu. Mikuo dengan cepat merampas uang itu dari tangan kakaknya lalu menghitung kembali uangnya.
"Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan, sembilan... " Gumam Mikuo sambil menghitung uang itu dengan cepatnya.
"Iya kan? Benar kan? Uangnya kurang!" Kata Miku panik.
"Tunggu sebentar... bukannya semua uang kita hilang saat makan ramen?" Tanya Mikuo sambil menoleh ke kakaknya.
Mereka hening sejenak.
"Oh iya, ya... aku lupa... " Kata Miku sambil nyengir.
"Lalu ini uang siapa?" Tanya Mikuo.
"Itu uang Master tau!" Tiba-tiba muncul orang berbaju serba hitam dengan tulisan 'Master' di tengah sambil memakai topeng hitam. Ia dengan cepat merampas uang yang dipegang Mikuo. Semua bengong melihat kedatangan sekaligus kepergian orang itu.
"Melihat kedatangan Master selalu membuatku takut." Kata Miku dengan wajah miris.
"Kenapa? Master kan bukan hantu ataupun monster." Kata Mikuo.
"Hei, apa kau tidak takut, ada orang berpakaian serba hitam dengan wajahnya yang hitam tiba-tiba datang dan langsung merampas uang?" Tanya Miku.
Mikuo berpikir sejenak. "Soal itu... selama aku tau dia Master kurasa aku tidak takut..."
Baiklah, lupakan soal cerita gak nyambung ini, ini hanya kesalahan yang sengaja gak dihapus author.
Activities of Vocaloid
Pagi hari di kediaman Vocaloid.
"Miku-chan! Jangan bersedih dong... aku tau cara biar kita bisa dapet uang banyak!" Kata Rin memberikan sebutir harapan pada Miku.
"Apa? Menambal jalan dengan roadroller-mu?" Tanya Miku dengan nada lemas.
"Ck, ck, ck...bukan, bukan... " Kata Rin geleng-geleng sambil menggoyang-goyangkan jari telunjuknya di depan Miku. "Lihat ini." Rin memperlihatkan selembaran lomba sepakbola kepada Miku. Miku pun membacanya asal. Matanya langsung tertarik ketika ada tulisan 'Juara satu dapat uang 10 juta!'.
Miku pun melihat langit-langit rumahnya. Dia sedang membayangkan sesuatu yang hanya dia seorang yang tau.
"Miku-chan?... Miku-chan! Kau kenapa?!" Kata Rin sambil mengguncang-guncangkan tubuh Miku.
"Eh? Ah? Iya? Kenapa?" Tanya Miku yang baru sadar dari dunia imajinasinya.
"Bagaimana? Mau ikut tidak?" Tanya Rin. Miku langsung mengangguk sambil tersenyum lebar. Tapi senyuman Miku langsung memudar. "Kita tidak punya cukup anggota ya kan?" Tanya Miku.
Rin tersentak kaget. Ia baru menyadari persyaratan terpenting kalau mau main bola adalah punya anggota, dan mereka tidak punya anggota.
"Anggota... Len bisa ikut kan?" Tanya Rin. "Iya, tapi masih kurang Rin-chan... setidaknya kita harus punya 11 orang." Jawab Miku.
"Aah! Udahlah! Banyak banget sih! Gak usah banyak-banyak! Kita kan main sepakbola cuma buat dapetin duit, ngapain pake anggota banyak-banyak! Nanti bagi hasilnya susah!" Protes Rin.
"Masa kita main cuma 3 orang aja? Belum tentu kita menang..." Kata Miku.
"Kalau begitu aku kenal beberapa orang yang bisa diajak main... " Kata Rin dengan senyum sinis.
Rin pun berlari keluar rumah dan baru kembali pada sore hari.
"Aku pulang!" Teriak Rin yang hanya terdengar suaranya saja.
"Selamat datang... " Jawab Miku yang sedang memasak di dapur.
"Miku-chan sini dulu deh! Aku mau memperkenalkan anggota tim sepakbola kita!" Kata Rin yang hanya suaranya saja yang terdengar.
Miku pun meletakkan piring terakhirnya di atas meja dan berjalan ke ruang tamu, tempat Rin berada.
"Apa?" Tanya Miku.
"Baiklah! Ini anggota kita yang pertama!" Kata Rin sambil tersenyum ceria.
"Yang pertama! Om-om pemilik bengkel langgananku! Om Kaito!" Kaito pun nyengir sambil melambaikan tangannya.
"Disebelahnya! Ada bibi-bibi pemilik kedai sake seberang stasiun kereta yang udah ditutup! Meiko!"
"Lalu! Dua orang gadis yang berprofesi sebagai penjual tiket di jalanan dan di loket, pramugari juga pilot, dan juga sebagai konsumen!"
Perasaan Miku mulai gak enak saat mendengar kalimat itu.
"SeeU dan IA!" Teriak Rin.
"Kenapa mereka harus ada di tim kita!?" Tanya Miku sinis.
"Lho, kita kan lagi cari anggota.. jadi siapa pun yang aku kenal pasti aku ajak... " Jawab Rin dengan wajah polos.
"Tapi aku gak mau mereka ada di timku!" Lanjut Miku. "Miku-chan, please deh... jangan jadi keduanya Mikuo yang suka protes!" Rin pun kembali melanjutkan acara perkenalan anggota tim sepakbolanya.
"Lalu, seorang samurai berambut panjang dari masa lalu, yang kuajak dengan meminjam 'Time Machine' VOCA001X buatan Jepang yang belum di jual bebas. GAKUPO!"
Karena tidak ada respon dari pihak manapun, suasana menjadi hening. "Gakupo-san, tersenyumlah. Jangan memasang muka serius begitu. Sekarang kita tidak sedang ada di medan perang." Kata Rin dengan wajah datar.
"Selanjutnya! Penerjemah yang kukenal sewaktu kita liburan ke Hawai! Luka-san!"
"Selamat sore." Sapa Luka.
"Dan sisanya adalah kita berempat." Kata Rin.
"Jadi semuanya... Aku, Rin-chan, Len, Mikuo, om Kaito, bibi Meiko-san, Si...see...SeeU! dan IA...lalu, Luka-san dan...lalu Gakupo-san... semuanya ada 10..." Kata Miku.
"Apa-apaan Miku-chan ini... kenapa sepertinya sulit sekali menyebut namaku... namaku kan mudah... " Gerutu SeeU diam-diam.
"Setelah aku membaca selembaran ini dengan teliti, aku menemukan fakta yang mengejutkan. Miku-chan pasti juga akan kaget!" Kata Rin kembali memberikan selembaran itu pada Miku.
Miku membaca selembaran itu dengan teliti. "Hadiah 10 juta maksudmu?" Tanya Miku.
"Bukan! Bukan! Tulisan kecil di bawah itu! Yang paling bawah!" Kata Rin geregetan.
"Anggota...nya... 10 orang... yang main 7... cadangan 3... oke, oke. Aku sudah tau." Kata Miku.
"Jadi... apa kau terkejut?" Tanya Rin. "Tidak sama sekali." Jawab Miku.
"Jadi, kapan kita akan bertanding? Dan dimana? Lalu siapa pelatihnya? Dan siapa yang akan kita lawan?" Tanya SeeU.
"Besok, di lapangan VocaLand, kita tidak butuh pelatih karena kita tidak akan berlatih karena pertandingannya besok dan sekarang sudah sore, orang." Rin menjawab pertanyaan SeeU dengan urut dan jelas. SeeU pun mengangguk paham.
"Baiklah semuanya, mari kita makan malam bersama... " Ajak Miku.
"Ih! Miku-chan! Kalo mereka semua diajak, nanti kita makannya gak kenyang!" Bisik Rin pada Miku.
"Tenang saja, aku sudah masak banyak kok." Kata Miku sambil tersenyum.
Len keluar dari kamar mandi sambil membawa handuk di pundaknya.
"Oh, Len. Habis mandi ya?" Tanya Rin.
"Gak, habis buang air." Jawab Len singkat.
Rin pun mematung sejenak dengan wajah datar, Len yang bingung dengan ekspresi Rin menatapnya dengan wajah bingung. Mereka bertatap-tatapan di depan kamar mandi selama beberapa detik, kemudian Rin berjalan lagi dapur.
Makan malam.
"Stt! Rin! Rin! Siapa mereka? Dan mau apa mereka ke sini? Kenapa mereka makan makanan kita?" Tanya Len dengan wajah tidak senang.
"Mereka semua adalah tim sepakbola kita. Besok kau harus bangun pagi ya!" Kata Rin yang masih sibuk mengupas kulit jeruknya.
"Kak... apa kau yakin mereka semua tau cara bermain sepakbola? Apalagi laki-laki berambut panjang itu... kau bilang kan dia kan dari masa lalu... masa iya samurai main bola?" Kata Mikuo.
"Aku tidak perduli. Orang-orang pilihan Rin-chan pasti adalah cucu dari pesepakbola terhebat di dunia. Lagi pula kau kan gak tau Gakupo-san itu di masanya jadi apa... bisa jadi dia adalah kapten tim sepak bola yang hebat pada masanya!" Kata Miku. Mikuo diam mendengar kata-kata kakaknya.
"Tidak masuk akal." Gumam Mikuo.
Keesokan subuhnya.
"Baiklah, aku sudah punya seragam, kita adalah Tim Merah! Ingat itu!" Kata Rin sambil melemparkan kaos merah itu ke setiap pemain yang masih mengantuk.
"Silahkan tehnya... hooaam..." Kata Miku sambil meletakkan 10 cangkir teh ke atas meja.
Setelah 30 menit, akhirnya roh mereka sudah sepenuhnya kembali ke tubuhnya masing-masing.
"Kita harus pemanasan dulu kan?" Tanya Miku.
"Tentu saja! Ayo! Ikuti gerakanku! Satu! Dua! Satu! Dua!" Kata Rin yang mulai menggerakan seluruh otot tubuhnya.
"Sepertinya Rin-chan cocok jadi pelatih ya... " Gumam Miku.
"Oh iya! Kita belum punya kapten!" Kata Rin yang baru sadar.
"Kapternya adalah kau! Miku-chan!" Rin menunjuk Miku dengan penuh percaya diri.
"Eh? Aku?" Tanya Miku.
"Ya! Karena kau lebih tinggi dariku." Lanjut Rin.
"Aku juga lebih tinggi darimu." Protes SeeU. Rin menatapnya sinis.
"Kapten itu harusnya kan laki-laki... " Protes Mikuo.
"Kau ini kenapa sih, tiap hari, tiap menit, bahkan setiap pendapat orang kau protesin?! Gak penting banget tau gak?" Kata Rin sambil berkacak pinggang. Mikuo kaget lalu terdiam.
Mereka pun berangkat ke stadion VocaLand.
Di ruang ganti.
"Kaos kaki pemain sepak bola itu panjang ya... " Kata Len yang kesulitan memakai kaos kaki berwarna merahnya.
"Bukannya susah! Tapi kau pendek!" Kata Rin yang juga kesulitan memakai kaos kakinya.
"Berkaca dulu sebelum bicara... " Kata Len dengan wajah datar sambil melihat Rin.
"Hei kalian berdua... aku punya kaos kaki yang ukurannya lebih kecil. Kalian mau coba? Siapa tau cocok." Miku datang dengan membawa 2 pasang kaos kaki dan menukarnya dengan kaos kaki milik Kagamine bersaudara.
Para wanita berambut panjang mengikat rambut mereka ke atas. Rin yang berambut pendek pun ikut-ikutan mengikat rambutnya dan sekarang ia terlihat seperti Len kalau dilihat sekilas. Dan itu bisa membahayakan anggota tim yang lain.
"Baiklah! Sekarang kita keluar dan aku sudah tidak sabar bertatapan muka langsung dengan lawan kita!" Kata Rin semangat. Tim merah pun keluar dari lubang persembunyiannya. Cahaya lampu pun menyilaukan mata mereka. Sekarang mereka sudah berdiri di tengah lapangan.
"Eh, bukannya kita harus nyanyi-nyanyi dulu sebelum mulai bertanding?" Tanya Mikuo.
"Tenang saja, hal sekecil itu sudah kupersiapkan sejak 5 menit yang lalu... " Rin pun berjalan sambil membagikan selembaran kepada setiap pemainnya.
"Apa ini Rin-chan?" Tanya Miku.
"Itu adalah lirik lagu yang kutulis sendiri! Ini adalah parodi dari lagu Sekiranun Graffiti! Baiklah, siap?" Tanya Rin.
Semua menarik nafas sambil melihat kertas yang diberikan oleh Rin.
"Kita Tim Merah memakai baju merah, kalo ijo berarti kita bukan tim merah..., kita tim merah ada sepuluh orang, cadangan kita semuangnya orang tua..., turun lapangan! Ayo tendang, tendang sampai masuk gawang, tendang bolanya sampai masuk gawang tim biru... takkan opsite... tapi malah finalty! Tidak peduli siapa yang melawan kami, kami merah pasti kami yang paling berani, yang paling... berani..."
"Ya, kita sudah melihat Tim merah keluar dan sekarang mereka berdiri di tengah lapangan, sekarang giliran tim biru yang akan keluar." Kata Lily selaku komentator yang ditemani rekannya Yuzuri Yukari.
"Ya, Kapten tim biru, Kasane Teto, di belakangnya ada Gumi, Aoki Lapis, Cul, Hibiki Lui, Yowane Haku, Akita Neru, Sakine Meiko, Megurine Luki, Akaito!"
"Baiklah semuanya, seperti latihan waktu 5 menit yang lalu!" Kata Teto dengan wajah serius.
Tim biru pun melakukan hal yang sama seperti Tim merah. Mereka pun bernyanyi.
"Tendang terus bola sampai masuk ke gawang, tendang, tendang terus, oper sana dan sini, kita semua pake baju berwarna biru, karena kita semua adalah Tim biru. Tim biru terdiri dari sepuluh orang, dengan 3 cadangan yang semuanya wanita, kami Tim biru kaptennya Kasane Teto, yakin 100 persen pasti akan menang, tendang terus bola sampai masuk ke gawang, tendangnya jangan ke gawang sendiri, tendanglah bolanya ke gawang lawan, biar tim kita dapat mewakili Jepang! Tendang terus bola sampai masuk ke gawang, Tim biru pasti menang, karena kami tinggi, kartu merah tidak masalah untuk kami, karena kami punya tiga cadangan."
"Ooh! Ini lagu Servant of Evil! Hebat ya mereka!" Kata Len yang sedikit kagum pada lagu parodian Tim biru.
"Ah! Lagu kita juga gak kalah kok sama lagu mereka!" Kata Rin dengan nada sinis karena merasa tersaingi.
"Baiklah, bola pertama akan diberikan pada Tim merah!" Kata Ring Suzune selaku wasit di lapangan.
Priiiittt!
"Tendangan pertama dimulai dari Hatsune! Dia berlari membawa bola... ada Yowane dan Sakine yang menghalangi di depan. Wah! Apa yang terjadi?! Kagamine tiba-tiba menubruk mereka berdua!"
Priiiitttt!
"Kartu kuning!" Teriak Ring Suzune sambil mengangkat kartu berwarna kuning.
"Rin-chaaaan! Ini bukan American Football tau! Mana boleh menubruk lawan pada saat bermain sepak bola!?" Kata Miku geregetan.
"Emangnya gak boleh? Peraturannya udah ganti ya? Kok gak ada yang kasih tau aku?" Tanya Rin bingung.
"Rin... Rin... ternyata kau orangnya, yang gak tau caranya main sepak bola?" Kata Mikuo dengan wajah kecewa.
"Gak! Aku tadi cuma lupa aja! Udah! Udah! Ayo main lagi!" Kata Rin sambil mengibas-ngibaskan kedua tangannya, menyuruh yang lain bubar.
Pertandingan pun kembali berlanjut.
"Sekarang bola ada di kaki Sakine! Wah! Dislengkat sama Hatsune! Tunggu... Hatsune ada dua?! Kagamine juga ada dua?! Astaga, bagaimana aku bisa membedakan si Kagamine ini... mereka mirip dari jauh... "
"Hei! Aku ini perempuan! Dan dia itu laki-laki!" Teriak Rin menghadap ke arah komentator yang berada di sebuah ruangan yang tertutup kaca.
"Sepertinya Kagamine yang itu berbicara pada kita, tapi kita tidak bisa mendengarnya... " Kata Yuzuri Yukari dengan wajah datar.
"Rin-chan! Bolanya!" Teriak Miku.
"Ya, sekarang bola ada di kaki Kagamine. Bola dioper ke Kagamine lagi... lho? Kok komennya jadi aneh ya?" Kata Lily sambil menggaruk-garuk kepalanya.
"Yang pakai jepitan itu namanya Kagamine Rin, lalu yang satunya Kagamine Len. Kalau mereka sama-sama menghadap ke belakang, kita tidak akan bisa membedakannya." Kata Yuzuri Yukari.
"Aah... baiklah, sekarang bola ada di kaki Kagamine Len! Dia di kejar Megurine dan Aoki Lapis!" Kata Lily semangat. "Tunggu! Di Tim Merah juga ada yang namanya Megurine?! Sebenarnya apa yang terjadi di sini?! Ada dua Hatsune, dua Kagamine, dan dua Megurine!" Kata Lily sambil menjambak rambutnya sendiri.
"Megurine Tim Merah itu Megurine Luka. Kalau Megurine-nya Tim Biru itu namanya Megurine Luki." Jelas Yuzuri Yukari.
"B-baiklah! Sekarang bola ada di kaki Cul! Tidak! Tidak! Bola sudah direbut oleh IA! IA mengoper pada SeeU! SeeU terpeleset! Bola langsung diambil Hatsune Miku, dan dia mengoper ke Hatsune satunya!" Kata Lily semangat.
"WOI! Namaku bukan Hatsune satunya! Tapi Hatsune Mikuo!" Teriak Mikuo dari lapangan. Dan sama seperti Rin, mereka tidak bisa mendengar Mikuo.
"Gumi mengambil bola dari kaki Hatsune Mikuo! Hatsune Miku dan Kagamine Rin mengejarnya di belakang. Di depan Gumi ada Kagamine Len yang siap menghadang! Wow! Gumi dengan cepat menendang bola ke samping... dan BOLA KELUAR LAPANGAN!" Teriak Lily hiteris.
"Kita cuma nonton aja nih? Gak seru ah... " Kata Kaito yang duduk di bangku cadangan.
"Ya... kan jelas di lirik lagu yang Rin tulis... Tim Merah cadangannya orang tua... ya kita maksudnya... " Kata Meiko lemas.
Gakupo yang duduk di antara mereka menonton dengan serius... yak. Sangat serius.
"OI! Aku kaptennya! Kenapa tidak ada satu pun yang mengoper bola ke sini!?" Teriak Teto sambil melambai-lambaikan tangannya.
"Kapten Teto!" Teriak Hibiki Lui sambil menendang bolanya ke arah Teto. Teto pun tersenyum lebar sambil 'menangkap' bola itu dengan tangannya lalu memeluknya dengan erat.
Priiittt!
"Kartu kuning! Hand Ball!" Teriak Ring Suzune sambil berlari ke arah Teto.
"Aduh! Teto! Mana boleh main bola pake tangan!" Gerutu Gumi sambil menepuk-nepuk dahinya.
"Emangnya gak boleh ya? Aku baru tau... " Kata Teto dengan wajah polos.
"Ck, ck, ck... di sini orang yang paling semangat justru tidak tau caranya main bola... di Tim Biru, malah kaptennya sendiri yang gak bisa main bola... " Gumam Mikuo.
"Siapa maksudmu orang yang paling semangat itu hah?" Tanya Rin yang merasa tersingung dengan ucapan Mikuo.
"Baiklah, pertandingan kembali dilanjutkan! Oh tunggu sebentar! Tim Merah mengeluarkan pemain cadangannya!" Teriak Lily kaget.
"Ayo om Kaito! Jangan sampai kita kalah!" Teriak Rin sambil mengangkat tangannya. "Kalau kita sampai kalah aku gak mau datang ke bengkelmu lagi!" Lanjut Rin dengan tampang horor.
"Baiklah! Lawannya jadi imbang sekarang! 8 vs 8!" Kata Miku.
"Baiklah! Aku akan mengoper sekarang!" Teriak Miku.
"Ya! Hatsune Miku mulai mengoper ke Kaito! Ah! Kaito terjatuh tersandung syal-nya! Sial sekali dia! Ya, dia menggulung syalnya, ah! Dia tidak bisa melihat sekarang! Ooh... dia melilitkan syalnya ke kepala dan sekarang dia terlihat seperti ibu-ibu pengajian!" Komen Lily.
"Rin! Terima bolanya!" Teriak Kaito dengan kerudung birunya. Yang dipanggil tidak menengok. Ah, ternyata dia bukan Rin, tapi Len.
"Apa?" Teriak Rin yang ada di sisi lain. Len yang terus berlari pun meninggalkan bola yang menggelinding di belakangnya, dan langsung direbut Haku.
"Meiko!" Haku menendang bola ke arah Sakine Meiko.
"Ah, pasti kalau aku turunkan bibi Meiko... akan timbul masalah baru... soal masalah itu... readers bayangkan sajalah sendiri... " Gumam Miku.
"Sakine Meiko membawa bola sendiri! Di depan ada Kagamine Rin dan Len yang berlari menghadang! Sakine mengoper bola!"
"Megurine!"
Maksud hati menendang ke arah Luki, malah Luka yang menangkap.
"Berhasil! Miku!" Luka dengan cepat, oh bukan, dengan buru-buru ia menendang bola ke arah Miku. Bola melambung ke arah Miku.
"Baiklah!" Miku pun mengambil ancang-ancang untuk melakukan salto. Dan hasilnya...
Semuanya slow motion... Lily yang berdiri di atas kursi komentator, Rin dan Len yang memandangi Miku, Meiko dan Gakupo yang mematung melihat Miku, Kapten Teto yang sudah pasrah, dan Mikuo yang berkata...
"Tidak akan berhasil."
"Aww! Sayang sekali! Hatsune Miku terlalu cepat melakukan salto sehingga dia jatuh duluan sebelum bolanya berhasil ditendang!"
IA langsung berlari ke arah bola dan menendangnya ke atas. SeeU yang melihat bola itu langsung berlari ke arah bola dan bermaksud melakukan salto juga.
"Aku akan berhasil!" Teriak SeeU sambil melompat. Dan karena cahaya lampu yang langsung mengenai mata, SeeU pun terjatuh. Bola masih melambung, Rin berusaha mengejarnya. Tapi ia terlalu pendek untuk melakukan salto, jadi dia berhenti berlari. Mikuo berlari mendahului Rin, bola sudah tidak setinggi saat ditendang oleh IA, Mikuo pun melompat dan melakukan salto.
"BERHASIL!" Teriak Lily histeris. Yuzuri Yukari terbangun dari tidurnya setelah mendengar teriakan dari Lily.
Mikuo merasa puas dengan saltonya yang berhasil. Dia pun mengusap lubang hidungnya karena saat salto tadi ingusnya meler keluar.
"Sayang sekali! Bola mengenai tiang!" Teriak Lily.
"AAAH!" Mikuo yang kesal pun berteriak sambil menyebutkan teman-temannya di kebun binatang.
"Saltomu memang berhasil... tapi tidak tepat sasaran... " Kata Miku sambil menepuk pundak adiknya.
Bola pun ditendang oleh Tim Biru. Haku menendang ke arah Hibiki Lui, Lui menendang ke arah Megurine Luki, Luki menendang ke Aoki Lapis, dan Aoki menendang bola ke Ring Suzune.
"Aw!" Ringis Ring Suzune yang wajahnya terkena bola. "Aduh! Gimana sih!?" Katanya sambil mengusap-usap wajahnya yang merah.
Bola yang terjatuh itu langsung diambil Teto, Teto menendang bola ke arah Kaito.
"Ah! Kapten! Kenapa tendangnya ke musuh! Aku ini kawanmu!" Kata Lui kesal.
Teto diam sesaat. Dia pun melihat ke arah Kaito yang berlari tanpa ada yang mengejar.
"Ya sudah, apa yang kau lakukan? Kejar dia." Kata Teto santai.
Kaito menendang ke arah Kagamine.
"Ini pasti Len! LEN!" Teriak Kaito sambil menendang bola ke arah orang yang mungkin bisa Len, mungkin bisa Rin.
"Aku di sini!" Kata Len dari sisi yang lain. Bola pun mengenai kepala Rin.
"Aduh!" Ringis Rin sambil memegangi kepalanya. Bola langsung diambil IA. IA langsung menendang ke arah gawang.
Dan berhasil di tepis.
"Tunggu! Siapa kiper kita?" Tanya Miku. Semua melihat ke arah gawang. Kosong...
"KYAA! Bibi Meiko! Cepat diisi gawangnya!" Teriak Miku. Meiko langsung turun lapangan.
"Ah! Susah nih! Rin! Lepas dong ikatan rambutmu! Aku gak bisa bedain kamu dan Len... " Kata Kaito sambil menghela nafas berat.
"Main bola itu kan berlari, berlari itu bikin capek. Capek itu bisa menimbulkan keringat, dan keringat bisa menimbulkan rasa panas. Aku gak mau." Jawab Rin sambil membuang mukanya.
"Ya sudah, bagaimana kalau aku panggil pakai nomor punggung saja?" Tanya Kaito.
"Om... karena kami kembar, nomor punggung kami sama... " Kata Len sambil mengangkat tangannya.
"Ayo! Bukan saatnya untuk mengobrol!" Kata Miku.
"Rin-chan! Bolanya!" Teriak Miku.
"Hah?" Teriak Rin dari sebelah kanan Miku.
"Wah!" Untungnya, Len kebetulan berbalik dan dengan cepat bisa menangkap bola. Dia pun membawa bola mendekati gawang musuh.
"Sakine! Rebut bolanya!" Teriak kapten Teto.
Len menendang bolanya ke arah Rin. Rin menendangnya ke belakang dan ditangkap oleh kaki Haku.
"RIN! Kau itu bodoh sekali sih! Kenapa bolanya di tendang ke belakang!" Kata Len sambil marah-marah.
"Kau sendiri mau mengoper tapi gak manggil aku dulu! Mana ku tau kau mau ngoper ke aku?!" Kata Rin tidak kalah emosinya.
"Pokoknya aku tidak mau mengoper ke kakimu lagi!" Kata Len.
"Huh! Laki-laki memang payah! Selalu ceroboh dan tidak bisa melakukan apa-apa!" Kata Rin.
Mereka pun bertengkar di tengah pertandingan.
"Bola ada di kaki Yowane! Yowane mengoper ke Megurine! Ah! Direbut Megurine satunya! Megurine Luka mengoper ke SeeU, aduh... bola direbut Hibiki Lui... bola dioper ke Aoki lapis... lalu Teto... Teto menendang...! dan... GOL!" Teriak Lily sambil mukul-mukul meja.
"GOL pertama Tim Biru!"
PRIITTT! PRIIIIT! PRIIIT!
"Pluit tanda berakhirnya babak pertama! Dimenangkan oleh Tim Biru!"
"Aah... kita kalah... " Gumam Miku.
"Ya sudah, masih ada babak kedua kan?" Kata Mikuo sambil mengelap keringatnya.
"Pokoknya kita kalah itu gara-gara kamu!" Kata Len.
"Enak aja! Makannya kalau mau ngoper bola itu manggil dulu!" Kata Rin tidak mau kalah.
"Kalian kenapa?" Tanya Miku.
Mereka tidak menjawab. Mereka duduk berjauhan dan saling membuang muka.
"Dia yang salah." Kata Rin sambil menunjuk Len.
"Bukan. Dia yang salah!" Kata Len sambil menunjuk Rin.
"Oh... berantem ya... " Gumam Miku.
"AAAH! Pokoknya laki-laki itu payah! Payah! Payah! Payah!" Teriak Rin tepat di telinga Len.
"Eh! Memangnya perempuan bisa apa hah?! Cuma bisa belanja dan ngoceh-ngoceh! Payah!" Teriak Len tidak mau kalah.
"Oke! Akan kubuktikan kalau perempuan itu lebih hebat dari pada laki-laki! Lihat saja pada babak kedua ini! Semuanya dengar! Babak kedua! Tim Merah anggotanya perempuan semua dan Tim Biru anggotanya laki-laki semua! Kita buktikan perempuan itu bisa menang dari laki-laki!" Kata Rin pada seluruh pemain, termasuk Tim Biru yang masih ada di tengah lapangan.
Tim Biru yang mendengar itu jadi tertarik dan ikut bergabung.
"Sekarang, aku adalah kapten Tim Merah." Kata Rin yang bersiap menyusun strategi untuk mengalahkan Tim Len.
To Be Continued
Buseeet! Ini chapter terpanjang yang pernah author bikin selama jadi author!
Gimana? Puas gak?
Lucu gak?
Oke, jawab itu di review readers ya!
Jangan lupa review! :D
