The Hidden Story
Chapter 3
.
.
James
Masalah sebenarnya adalah gadis keriting jelek itu. Aku benar-benar tidak bisa—ralat: sangat amat tidak bisa sekali—tidak diam jika sudah bertemu dengannya.
Seperti saat ini.
"Memangnya aku pembantumu?" tanya Rose tidak terima, menolak ketika aku menyuruhnya membantuku—atau mungkin menggantikan tugasku—menyortir buku. "Kerjakan sendiri sana! Aku sedang sibuk!"
"Ya, kau pembantuku!" jawabku rusuh, membuat beberapa pasang mata di perpustakaan menoleh padaku seolah mengatakan "tunggu sampai Mrs. Pince tahu kau berbuat keonaran!".
"Sembarangan," balas Rose. "Kau itu yang pembantu. Wajahmu sangat memenuhi kualifikasi."
"Kau belum kapok rambutmu kulempari lumpur, ya?" tanyaku, mulai emosi. Enak saja dia mengomentari wajahku seperti itu! Belum tahu kau ya, kalau aku ini salah satu Prince of Hogwarts!
"Lempari saja lagi," kata Rose.
Aku nyaris saja lari keluar dari perpustakaan dan mengambil cadangan lumpur di kamarku kalau saja aku tidak ingat ancaman Profesor McGonagall yang akan meng-skors-ku kalau aku nekat berbuat keonaran lagi.
"Mana lumpurnya?" tanya Rose.
Aku berdigik menahan emosi, lalu bergegas menjauhi si Rambut Kusut itu sebelum aku benar-benar di-skors. "Sialan!"
.
Scorpius
"Hai!" sapaku ramah. "Bagaimana perpustakaan hari ini?"
Rose, orang yang kusapa, langsung tersenyum. "Halo! Perpustakaan benar-benar membosankan! Kau belum tahu bagaimana jika perpustakaan sudah dihuni oleh James. Sekali-kali kau coba datang deh, kalau dia didetensi di perpustakaan…."
"No, terima kasih untuk tawarannya," kataku meledek. "Bagaimana rasanya?"
Sambil berjalan ke kelas berikutnya denganku (kebetulan Gryffindor bersama-sama dengan Slytherin di kelas ini), ia menjawab, "Buruk. Dia memaksaku jadi pembantunya. Enak saja!"
"Baguslah," ujarku. "Ngomong-ngomong kau tidak lapar? Kenapa sih, kau suka sekali menukar jam makan siang-mu dengan membaca di perpustakaan?"
"Aku tidak selalu menukar jam makan siang, kok," balas Rose mengelak. "Dan aku tidak lapar. Aku sengaja sarapan lebih banyak tadi pagi, dan aku juga sudah terbiasa makananku disembunyikan oleh sepupu-sepupuku ketika liburan musim panas."
"Nih." Tiba-tiba aku teringat sesuatu. Aku sudah mengambilkan Rose beberapa roti sosis yang—kupikir—bisa mengganjal perut, dan kusembunyikan dalam tasku. Well, daripada dia tidak makan sama sekali. "Aku mengambilkan roti untukmu. Kupikir kau lapar."
Rose tersenyum dan mengambil roti yang kuulurkan. "Wow, thanks, Scorpius…"
"Sama-sama, Rosie."
Rose mengernyit. "Heh?"
"Kenapa?" tanyaku heran.
"Um… sebenarnya hanya orangtuaku yang memanggilku 'Rosie'."
O-ow. Salah satu masalah kalau kau mempunyai sahabat perempuan—atau yang berbeda jenis kelamin denganmu—adalah kalau kau tidak sengaja memanggilnya dengan panggilan 'khusus'. Apalagi kalau kau ada rasa dengannya!
.
Al
"Jadi kau diundang ke Pesta Slughorn malam ini," ujarku sambil mengambil—atau merebut—undangan dari tangan Lily. "Boleh, yah."
"Sana, mandi dulu," ujar Lily sambil mendorongku yang hendak duduk di sampingnya. "Kau baru saja latihan Quidditch, masih bau keringat!"
"Kau juga habis latihan Quidditch," ujarku. "Apa bedanya denganmu?"
"Bedanya adalah aku sudah mandi dan kau masih bau, Al!"
Tapi aku bersikeras duduk di samping adik cantikku tersebut. "Well, satu minggu lagi pertandingan Quidditch diadakan. Kalau aku tidak latihan Quidditch dan tidak bau keringat, maka Kapten-Mata-Meledak akan membunuhku."
"Malah curhat," timpal Lily kesal. "Ngomong-ngomong, kenapa Wood dijuluki Kapten-Mata-Meledak?"
"Kau lucu deh," ujarku sambil nyengir lebar. "Kau meledekku yang tidak sengaja curhat, tapi kau malah menanggapi curhatanku. Um… dia dipanggil Kapten-Mata-Meledak karena setiap dia marah, atau frustasi karena Quidditch, matanya melotot sampai kelihatan seperti akan meledak."
Lily menyeringai. "Hahaha, pantas saja."
"Dan kau akan pergi bersama?" tanyaku, langsung mengeluarkan pertanyaan yang sedari tadi ingin kutanyakan tanpa basa-basi lagi.
"Pergi ke mana?"
"Jangan konyol," ujarku sambil memutar bola mata. "Ke Pesta Slughorn. Di undangan ini tertulis kau boleh membawa teman."
"Mungkin aku akan mengajak Scorpius," kata Lily sambil merebut undangan dari tanganku dan membaca undangan itu baik-baik sekali lagi. "Aku bisa mengajaknya karena dia bukan anggota Klub Slug."
"Rose pasti sudah mengajaknya."
"Belum," kata Lily. Lalu ia mengeluarkan sebuah kertas yang ia duduki. "Undangan Rose ada di tanganku dan belum ia baca. Ia tidak tahu kalau ada pesta malam ini, jadi dia tidak bisa mengajak Scorpius ke pesta itu."
"Kalau kau mengajak Scorpius, pasti Scorpius memberitahu Rose," kataku, berusaha berdebat dan meyakinkan Lily bahwa Scorpius tidak pantas untuk diajak ke Pesta Slughorn. "Dan Rose akan berpikir ada pesta malam itu."
"Sayangnya ia tidak bisa datang karena Profesor Slughorn mengharuskan semuanya membawa undangan yang sudah mereka dapatkan," ujar Lily. "Peraturan pesta itu berlaku setelah Slughorn menyadari banyaknya penyelundup yang masuk demi makan gratis."
"Ia bisa saja datang tanpa membawa undangan." Aku masih belum puas. "Profesor Slughorn pasti mengingatnya sebagai anggota Klug Slug dan mengizinkannya masuk."
"Rose tidak akan seperti kau yang memang urat malunya sudah putus," seru Lily, membuatku mendelik. "Akui saja Al, kau kalah debat denganku."
"Tidak," kataku. "Dia bisa saja datang, tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Makanya jangan ajak Scorpius!"
"Terserah padaku," jawab Lily. "Yang diundang siapa sih, aku atau kau? Terus kenapa kau yang mengatur? Dan kenapa sih, kau tidak pernah setuju setiap aku ingin mengajak Scorpius ke pesta itu?"
Hm. Lebih baik aku tidak menjawab pertanyaan itu.
.
Lily
"Scorp."
Dia berbalik padaku. "Ada apa, Potter?"
Sebelum menjawabnya aku menatap Rose tajam lebih dulu. Untung saja, sepupu yang paling tidak kusukai ini tahu diri. Dia berpamitan, "Aku ke asrama duluan, Scorp. Aku akan menemuimu di Aula saat makan malam nanti."
Scorpius nyengir. "Berjanjilah kau tidak akan menukar makan malam itu dengan membaca di perpustakaan?"
Rose balas nyengir, membuatku seperti ingin mencabut kepalanya sampai putus. Masalahnya, dia membuat Scorpius-ku nyengir dan ingin tersenyum. "Ya, aku janji. Nanti aku yang ke meja Slytherin."
Rose pun pergi, lalu Scorpius kembali bertanya padaku, "Ada apa, Potter?"
Tanpa basa-basi, aku langsung memintanya pergi denganku ke Pesta Slughorn. "Malam nanti, pas dengan jam makan malam, Profesor Slughorn mengadakan pesta di kantornya. Dia ingin kami membawa teman, dan aku ingin mengajakmu ke pesta itu. Kau mau?"
"Undangan ke Pesta Slughorn? Wah, karena Rose juga anak Klub Slug, dia pasti dapat undangan… dan dia tak bisa pergi karena sudah janji denganku di Aula."
Bisa tidak sih, semuanya berhenti membawa-bawa nama Rose?
Aku memaksakan diri tersenyum. Rasanya wajahku kelu saat senyum itu kupaksakan keluar. "Er… mungkin ya, mungkin tidak. Intinya… kau mau tidak, pergi denganku ke Pesta Slughorn?"
Scorpius menggeleng sambil tersenyum kecil. "Sori Potter, tapi aku ada janji."
"Janji apa?"
"Kau tidak dengar tadi?" tanya Scorpius. "Aku kan sudah janji dengan Rose untuk makan malam di Aula nanti."
Gara-gara janji kecil dengan Rose seperti itu… Scorpius tidak ingin datang ke Pesta Slughorn? Astaga! Dunia harusnya kiamat dalam waktu dekat ini!
.
Rose
Begitu masuk ke Aula Besar, aku langsung menemui Scorpius. Seperti janjiku.
"Hei!" sapa Scorpius, lalu bergeser beberapa kali untuk memberiku tempat duduk yang lebih luas. "Sini, duduk."
Aku tersenyum dan langsung duduk di sebelahnya. "Yes! Hari ini ada puding! Entah kenapa aku ingin sekali makan puding sejak tadi sore…."
"Ngomong-ngomong kau tidak diundang ke Pesta Slughorn?" tanya Scorpius, tidak nyambung dengan kata-kataku sebelumnya. "Kau anak Klub Slug, kan? Tadi Lily mengajakku, tapi karena kau sudah janji padaku, aku menolaknya."
"Hah? Malam ini ada pesta?" tanyaku kaget. "Aku tidak dapat undangan hari ini!"
Scorpius mengernyit, lalu hanya mengangkat bahu.
Dan aku benar-benar panik. "Hei, apakah nilaiku menurun akhir-akhir ini sampai aku dikeluarkan dari Klub Slug? Atau aku membuat kesalahan sehingga Profesor Slughorn marah dan tidak mengundangku?" Aku menutup wajahku. "Astaga… aku harus minta maaf padanya!"
"Santai saja, Rose," ujar Scorpius sambil menyendokkan kentang tumbuk dalam mulutnya. Huh, dia kan belum tahu rasanya! "Mungkin Profesor Slughorn tidak mengundangmu karena—"
"Aku tahu kenapa! Ini karena ramuanku hanya berwarna kuning, padahal harusnya berwarna jingga kemerah-merahan!" seruku panik. Ya, pasti karena itu! Tidak salah lagi!
Scorpius memutar bola matanya, entah kenapa. "Kalau itu yang membuatmu dikeluarkan dari Klug Slug, berarti Slughorn bodoh. Ramuanmu yang berwarna kuning-lah yang terbaik di kelas Ramuan beberapa hari yang lalu! Ramuanku saja, entah kenapa malah jadi berwarna cokelat pekat…."
Aku tidak mendengar apa yang dikatakan Scorpius lagi dengan baik. "Tidak, oh tidak… aku harus mengulang… tidak… ini mimpi buruk… aku akan membawakan Profesor Slughorn makanan, permen nanas, dan sekotak cokelat sambil meminta agar aku bisa mengulang ramuanku… ya, lebih baik seperti itu…."
"Stop, Rose," ujar Scorpius, berusaha menghentikanku yang meracau. "Profesor Slughorn hanya tidak mengundangmu, dan kau sampai—"
"Diam, Scorp!" seruku jengkel. "Kau tidak tahu rasanya!"
"Silakan meracau," ujar Scorpius, mulai ikut kesal. "Tapi ini waktu makan malam! Kau harus makan dulu! Dan apa sih, untungnya diajak ke Pesta Slughorn? Bukannya kau selalu mengeluh, kalau kau merasa bosan dan terkucil di sana karena ada Potter? Kau tidak perlu berpikir terlalu jauh, Rose!"
Saking kerasnya suara Scorpius, beberapa orang di meja Slytherin melirik ke arah kami.
Aku hanya diam. Scorpius terlihat menyeramkan kalau sudah marah dan mulai menasihatiku. Daripada semuanya berakhir dengan 'kacau', lebih baik aku diam saja. Aku tidak ingin kehilangan sahabat seperti dia.
Walaupun dia menyeramkan ketika sedang marah, dia tetap saja satu-satunya sahabatku. Entah jadi apa kalau aku kehilangannya. Mungkin aku akan pindah ke sekolah sihir lain saja.
Sisa waktu makan malam yang kulewati bersama Scorpius itu berlangsung canggung. Dia hanya diam, dan aku juga tidak berani memecah keheningan. Aku hanya berharap, semuanya bisa kembali seperti biasa dan dia tidak menjauhiku dengan sifatku yang seperti ini.
Iya juga sih… selama ini aku selalu mengeluh ketika diundang ke Pesta Slughorn. Tapi kenapa aku panik ketika aku tidak diundang? Scorpius benar, harusnya aku santai saja… dan bertanya pada Profesor Slughorn apakah aku benar-benar dikeluarkan…
"Kau mau tidak?" tanya Scorpius tiba-tiba, membuatku kaget dan nyaris tersedak pudingku.
Aku meminum seteguk jus labu, lalu bertanya, "Mau apa?"
"Jam sembilan nanti, aku akan menjemputmu di depan pintu asrama Gryffindor."
"Mau ke mana?" tanyaku heran. Hah… syukurlah dia tidak marah padaku lagi.
"Diam saja," jawabnya. Nadanya ketus, membuatku tanpa sadar mengangguk dan berkata…
"Mau."
Well, daripada dia pergi dan tidak ingin berteman denganku lagi, lebih baik aku mengikuti ajakannya….
.
TBC
Akhirnya selesai ._. hanya lima drabble karena saya lagi sakit dan gak sanggup melanjutkan semuanya lagi. Chapter ini gak nulis disclaimer karena males (saking malesnya) dan lagipula disclaimer ada di chapter awal.
Kalau ada kesalahan di chapter ini, mohon maaf sebesar-besarnya -_- dan aku gak bisa balesin review, karena aku bingung review mana yang udah kubalas dan mana yang belum. Sori sekali…
Intinya makasih untuk semua yang udah review… :')
Well, mind to review? Thank youuuuus.
-Rani
