Wah, setelah membaca fic lain di tengah malam, akhirnya semangat author untuk menjadi author telah kembali lagi... baiklah, dari fic-fic yang author baca, author menemukan beberapa inspirasi yang tidak akan kalian temukan di chapter ini, tapi di chapter berikutnya. XD
Seperti fic author yang berjudul Day By Day Team Natsu, rencananya author juga akan membuat seri pada fic ini. Terima kasih saya ucapkan pada mata readers yang telah bersedia membaca pemberitahuan kecil ini.
Selamat membaca.
Pairing : -
Genre : Humor
Disclaimer : YAMAHA
Warning : Siapa pun nanti yang menang, walaupun saya wanita, walaupun laki-laki lebih kuat daripada perempuan, alur cerita tetap saya yang buat.
Di ruang ganti tim Merah.
"Rin-chan, apa kau gak deg-deg-an melawan tim Biru yang semuanya laki-laki?" Tanya Miku dengan wajah khawatir kepada temannya yang sedang memakai sepatu, Kagamine Rin.
"Gak! Ngapain deg-deg-an? Kalau perlu aku akan meludahi kapten tim mereka tepat di wajahnya!" Jawanb Rin dengan tatapan berapi-api.
"Hehehe... kenapa tidak lakukan saja nanti sebelum bertanding? Bukannya nanti ada lempar koin dulu oleh wasit?" Kata Miku dengan senyum miris.
"Huh! Akan kulakukan itu kalau kita menang... Miku-chan ini gimana sih, kalo kita kalah, kan aku yang malu..." Kata Rin sambil geleng-geleng. Miku terdiam beberapa saat.
"Jadi kapten, apa rencanamu?" Tanya' mantan' kapten Teto sembaring berjalan ke arah Rin yang masih duduk santai.
"Rencana? Tidak ada rencana-lah... lakukan apa saja untuk mencetak gol ke gawang mereka. Tapi jangan bawa bola menggunakan tangan... " Jawab Rin, mengingat kejadian yang dilakukan Teto pada babak pertama.
"Oke!"
Di ruang ganti tim Biru.
Di ruang ganti tim Biru, oke, karena semuanya laki-laki jadi... uhuk! Uhuk! Mereka semua lagi... ehem! Ganti baju... hehehe..
Kapten tim Biru yang baru, Kagamine Len, sedang duduk sambil menopang dagunya dengan salah satu tangannya. Sepertinya ia terlihat sedang merencanakan sesuatu. Tidak seperti lawannya yang sedang berleha-leha sekarang.
"Len, kau lagi mikirin apa?" Tanya Mikuo yang agak membuat Len kaget.
"Ah, tidak, cuma rencana licik untuk membuat si 'Kuning ngambang' itu kalah... " Jawab Len sambil tersenyum licik. Ah, kalau author ada di sana, sudah pingsan kali ya... oke, lagi pula author parempuan... GO RIN-CHAN!
"Rencana apa? Beritau aku!" Tanya Mikuo kepo mode.
"Begini... psst...psst... " Len pun membisikkan rencana liciknya pada Mikuo. Mikuo terlihat bingung pertama-tama, tapi ia segera mengerti apa maksud Len.
"Ternyata di balik tubuhmu yang pendek ini... IQ-mu itu tinggi ya... " Kata Mikuo sambil tersenyum jahil.
...
"Baiklah sodara-sodara! Babak kedua akan segera dimulai! Bagi yang mendukung tim Merah, harap ke bagian sebelah kanan, dan bagi yang mendukung tim Biru, harap pindah ke sebelah kiri." Kata Lily selaku komentator yang pastinya mendukung tim Merah.
"Babak kedua ini pasti akan dimenangkan oleh tim Biru karena mereka semua terdiri dari laki-laki. Dan laki-laki pasti menang... " Ujar rekan sesama komentator Lily, tapi bukan Yuzuki yukari. Siapa dia?
"AAH! Diamlah! Kiyoteru!" Teriak Lily sambil mengangkat mic yang ia gunakan untuk memberikan komentar.
"Huh, percuma saja kau marah-marah, Lily-san. Yang menang pasti adalah tim biru..." Kata Kiyoteru santai. Lily semakin panas mendengar itu.
"Bagaimana kalau kita buat taruhan?" Tawar Kiyoteru dengan senyum iblis nan jahat nan sadis nan kejam nan dramatis nan tragis nan abis nan sexi(?) nan... nan... nananananan... –Udah ah, author diliatin sama kiyoteru jadi serem sendiri...-
Lily terdiam sebentar. "Kalau timku menang, kau harus membayar taruhanmu sebanyak 200.000." Kata Kiyoteru masih senyam-senyum. Lily pun akhirnya mengerti maksud dari taruhan ini. Ya, ajang cari duit tambahan karena gaji sebagai komentator kecil. #becanda.
"K-kalau begitu! Kalau timku yang menang, kau harus membayarku sebanyak 500.000!" Kata Lily setengah berteriak.
"Oke, oke. Gak masalah buatku... asal tau saja, aku selalu menang tiap kali taruhan... " Tambah Kiyoteru maskin membuat Lily takut.
"Duh! Duit juga kan cuma ada 150 ribu! Berarti kalau gua kalah taruhan utang ke dia 50 ribu dong! Aduh! Kenapa gua iya-in taruhan dia! Bego lu Lily!" Batin Lily dengan keringat dingin yang mulai mengalir di pelipisnya.
"B-baiklah... sekarang seperti yang anda lihat, para penonton sekarang sudah terbagi menjadi 2 kelompok. Sebelah kanan semuanya wanita, dan sebelah kiri semuanya laki-laki. Di saat yang bersamaan pula, tim-tim kesayangan kita sudah memasuki lapangan. Mereka saling bertatapan. Dapat dilihat dengan jelas aura kebencian yang keluar dari mata mereka masing-masing. Seperti apakah rencana yangmereka susun?!" Komen Lily semangat.
"Tim Merah! Jangan kalah! Jangan sampai kalah untukku!" Teriak Lily dengan nyaring sehingga membuat micnya... ya taulah... suara Nyiiiiing... gitu...
"Wah, ini hebat. Bukan hanya kita yang ganti personil. Komentator bahkan wasit pun juga ikut ganti." Gumam Miku yang berdiri di belakang Rin.
"Hah? wasitnya ganti?" Tanya Rin yang langsung menengok ke arah wasit karena penasaran.
"Eh, bukan. Maksudnya nambah satu... " Tambah Miku.
"Lho kok wasitnya jadi ada dua sih? Curang! Mentang-mentang wasitnya cewe, jadi nambah lagi satu cowo! Ih sebel!" Gerutu Rin sambil meludah.
"Baiklah, perkenalkan aku Dell, aku juga wasit selama pertandingan babak dua ini." Kata Laki-laki yang berdiri di sebelah Ring Suzune.
"B-baiklah, kita mulai lempar koinnya." Ring pun mulai melempar koinnya ke atas lalu menangkapnya.
"Orang... " Gumam Ring. Itu berarti tim Merah yang duluan!" Ujar Ring semangat.
"Tunggu sebentar... " Ujar Dell. "Kita belum menentukan tim Merah yang mana, tim Biru yang mana, dan aku belum bilang setuju kalau orang itu mewakili tim Merah. Kalau begitu sebagai hukumannya, koin yang bergambar orang itu mewakili tim Biru." Kata Dell yang kemudian langsung meniup peluit tanda dimulainya babak kedua.
Ring beserta tim Merah masih terdiam dengan kata-kata Dell tadi.
"Dia itu, pintar atau licik?" Gumam Miku.
"Kurasa dia licik..." Kata Rin yang berdiri di depan Miku.
"Heh, 'kuning ngambang'! Jangan harap kau bisa menang dari timku ya! Kita ini laki-laki, pasti menang kalau melawan perempuan lemah seperti kalian... lagipula memang sudah dari jaman dulu, laki-laki itu kuat...weee!" Kata Len sambil menjulurkan lidahnya.
"Heh! Memangnya siapa yang melahirkanmu?! Bapakmu? Huh! Kau tidak akan bisa terlahir ke dunia kalau bukan karena ibumu. Dan ibumu wanita... weee!" Bela Rin sambil membalas juluran lidah Len.
"Huh! Kau salah besar! Wanita tidak bisa hamil atau bahkan melahirkan kalau bukan karena pria yang melakukannya!" kata Len dengan senyum sombong.
"A-apa?! Melakukan apa maksudmu hah?!" Wajah Rin memperlihatkan semburat merah di pipinya. Begitupun semua anggota tim Merah yang mendengar itu. Tapi semburat itu segera hilang. "Laki-laki tidak bisa melakukan itu kalau tidak ada wanita! Dan kalau laki-laki mau melakukan itu dia harus menikah dengan perempuan!" Kata Rin bertubi-tubi.
"Perempuan juga tidak bisa menikah kalau tidak ada laki-laki!"
"Heh! Memangnya siapa yang biasa mengurus rumah dan memasak makanan untukmu hah!?" Teriak Rin tepat di depan wajah Len.
"Lalu siapa yang menemanimu saat kau bilang mau pergi ke toko buku atau hanya sekedar jalan-jalan?!" Teriak Len tidak mau kalah.
"Baik! Setelah ini tidak usah temani aku kemana-mana lagi!"
"Bagaimana kalau kita buat taruhan...?" Tanya Len kembali dengan senyum misteriusnya. #ya ampun... author mau disenyumin kayak gitu.
"T-taruhan? Taruhan apaan?!" Tanya Rin dengan kasar.
"Kalau aku yang menang, kalian harus mencium sepatu kami..."
"Dan kalau kami yang menang, kalian harus menggunakan rok dan berjalan mengelilingi perumahan!"
"Baik!" Jawab Len tanpa rasa takut sedikit pun. Beda dengan orang-orang di belakangnya yang sudah berkeringat karena membayangkan kalau-kalau mereka memakai rok.
Priiiittt priiiiittt!
"Baiklah! Bola pertama ada di kaki Kagamine Len! Len mengoper Mikuo yang ada di sebelahnya! Mikuo membawa bola! AAH! Diambil oleh Kasane! Baiklah... lalu... mana bolanya? Ditendang kemana? Ooh... di kaki Hatsune Miku! Ya! Hatsune-san! Tendang terus bolanya!" Komen Lily bersemangat seperti biasanya.
"Sayangnya bola direbut lagi oleh Mikuo... fufufu... memang tidak mungkin wanita bisa mengalahkan laki-laki." Kata Kiyoteru sambil tertawa kecil. Telinga Lily yang mendengar itu kembali panas.
"AYO! HATSUNE! REBUT BOLANYA!" Teriak Lily, dan kembali membuat mic mengeluarkan suara... Nyiiing...
"Wah! Komentator mendukung kita! Ayo Rin-chan! Lebih semangat lagi!" Kata Miku yang terus berlari. Tapi sayangnya, orang yang ia ajak bicara justru sedang adu mulut dengan kapten tim Biru.
"Aah! Kenapa kau terus mengikutiku hah?! pergi sana!" Kata Rin dengan kasar.
"Baik, baik... aku akan pergi... " Kata Len dengan santai. Ia pun menurunkan kecepatan berlarinya dan akhirnya berhenti. Meninggalkan Rin yang masih terus berlari.
"Kagamine Rin..." Gumam Len dengan senyum licik sambil terus melihat Rin.
"Oper sini!" Teriak Hibiki Lui pada Teto.
"OKE! Terima ini!" Teto pun menendang bola itu ke arah Lui. Dengan sigap, Lui pun menangkapnya.
Tunggu, ada yang gak beres.
"Aduh Teto! Lui itu kan laki-laki! Kenapa bolanya dikasih ke dia!?" Gerutu Rin pada Teto.
"Oh iya ya... tim-nya kan udah ganti ya? Maap deh kalo gitu. Lupa!" Jawab Teto santai.
"Ayo oper sini!" Teriak Luka dari kejauhan. Di depannya ada Luki yang siap menghadang.
"Eh! Ngapain kamu di situ? Awas dong! Nanti Rin gak bisa oper ke sini!" Protes Luka pada Luki.
"Enak aja nyuruh orang minggir... aku kan lawanmu!" Kata Luki sewot.
"Ooh... jadi aku harus melawanmu ya? Kalau begitu... " Luka berlari ke depan Luki lalu dengan cepat mengambil bola yang ditendang Rin.
"Ah sial! Dia bikin aku gak konsentrasi!" Kata Luki geregetan sambil menginjak-injak rumput di bawahnya.
Sementara itu, Len sudah siap dengan rencananya.
Sekarang ia berdiri di lapangan dengan menggunakan pita besar di kepala dan hairpin di poni. Persis seperti Rin.
"Ini akan membuat kalian bingung... " Gumam Len.
"Ayo oper! Mikuo!" Kata Kaito sambil berlari membawa bola.
"Dan ditangkap oleh Gakupo. "Ah! Yang dipanggilkan aku kenapa kamu yang ambil bolanya!" Protes Mikuo.
"Ya! Gakupo membawa bola, tapi larinya tidak akan secepat Kagamine Rin di belakangnya!" Komen Lily menggebu-gebu.
"Wah!" Bola berhasil diambil Rin dengan mudah. Dan tidak ada yang mencurigai hal itu.
"Kagamine Rin menggiring bola ke arah gawang...nya?" Lily menjadi bingung saat melihat arah Rin berlari. Ya, ke gawangnya sendiri.
"GOOL?! Ri-Rin Kagamine? Bunuh diri?!" Teriak Lily bertanya-tanya.
Semua yang ada di lapangan terdiam kecuali orang yang disebut-sebut Rin itu.
"AH! Kau curang! Buat apa kau berpenampilan seperti aku hah?!" Teriak Rin pada Rin yang satu lagi sambil memukul-mukul punggungnya.
"Aku hanya menjalankan rencana..." Jawab Len.
Mikuo hanya menahan tawa melihat rencana licik kaptennya itu berhasil.
"Hei, Mikuo. Kau tau sesuatu ya?" Tanya Miku dengan ekspresi datar.
"T-tidak kok... fufufu... " Jawab Mikuo yang tidak bisa menahan tawanya lagi.
"Curang!" Gerutu Rin.
"Lagi pula kemana kau saat aku dengan asyik-nya berlari menuju gawang?" Tanya Len dengan wajah sombong.
"A-aku kan gak nyadar! Lagi pula posisi Gakupo tadi memang sudah dekat gawangku! Jadi percuma kalau aku kejar! Uuuuh!" Gerutu Rin.
"Score sekarang 0-1!" Seru Kiyoteru yang sudah pasrah menerima kemenangannya. Lily hanya menggigit mic-nya dengan sekuat tenaga.
"Ikat balik rambutmu itu dasar peniru!" Teriak Rin sambil menunjuk Len. Len dengan santai nya berjalan sambil mengikat rambutnya.
Dia melakukan 'tos' dengan Mikuo. "Sekarang kita hanya perlu bertahan saja... " Kata Len.
Priiiittt
Pluit kedua ditiup oleh Dell.
"Bola ada di kaki Hatsune Miku, dioper ke Kagamine Rin, Rin dengan lincahnya melewati Hibiki Lui, Megurine Luki, Kaito dan Hatsune Mikuo! Wah! Lincahnya dia. APA?! Kagamine Len melakukan selengkat?!" Kata Lily kaget.
"Aduh! Pelanggaran!" Teriak Rin. Tapi tidak ada jawaban dari wasit. Rin menatap sinis pada wasit yang sedang berdiri di pinggir lapangan. Dia melihat Ring Suzune yang takut untuk berbicara karena ada Dell di sebelahnya.
"Ah! Ini namanya ancaman!" Gumam Rin.
"Kalau begitu aku akan balas dendam!" Rin pun berlari sekuat tenaga mengejar Len lalu melakukan hal yang sama seperti Len.
"AWW! Wasit! Wasit!" Ringis Len –pura-pua- kesakitan sambil memegangi lututnya.
Dell turun lapangan sambil meniup pluitnya. Tak lupa, kartu berwarna kuning yang ia angkat.
"Tu—! Hey! Tadi dia juga menyelengkatku, tapi gak pelanggaran!" Protes Rin.
"Maaf, tadi aku lagi bengong jadi gak liat. Sudah, kembali melanjutkan pertandingannya." Dell pun kembali ke pinggir lapangan.
"Maaf ya, 'kuning ngambang'..." Kata Len sambil tersenyum sinis.
"AARGH! Kau itu juga kuning tau!"
"Bola di kaki Hatsune Miku, dioper ke IA, IA melambungkan bola itu, apakah ia akan melakukan salto? Oh bukan, SeeU menangkapnya. Gakupo mengejar di belakang. Hatsune Mikuo ada di depan, ya, sungguh pintar sodara-sodara, SeeU menendang bola ke samping dan langsung ditangkap oleh Teto. Lalu dioper ke IA lagi, IA mengoper ke Kagamine Rin, tapi direbut kembali... AAH! Mending gua yang main aja sini! Sebel gua liatnya!" Kata Lily, seperti biasa, bersemangat.
Kiyoteru dari tadi tidak berkomentar sama sekali, dia memang sudah pasrah menerima kemenangannya.
"Waktunya sudah mau habis." Kata Yuzuki Yukari yang baru terbangun dari tidurnya. Lily dan Kiyoteru pun melihat papan waktu.
"5 menit lagi..."
...
"AYO TIM MERAH! 5 MENIT LAGI!" Teriak Lily dan lagi-lagi menimbulkan suara... Nyiiiing... pada mic.
"Hah!? 5 menit lagi?! Wah bencana nih!" Kata Miku yang segera menendang bola ke arah gawang, tapi berhasil ditangkap oleh Akaito, kiper tim Biru.
Bertubi-tubi serangan dilancarkan oleh tim Merah. Tapi berhasil digagalkan tim Biru. Serangan tim Biru pun beberapa kali mengancam keselamatan gawang tim Merah, tapi untungnya Meiko punya hoki tinggi dan dapat menepis bola demi bola.
Pertandingan pun selesai.
"YES! Pertandingan ini dimenangkan oleh tim Biru! YEY! Ehem! Lily-san?" Kiyoteru pun menegur Lily.
"Ngg... Kiyoteru-san... taruhannya... bisa diutang gak?" Tanya Lily.
Sementara tim yang ada di lapangan.
"Ehem!" Len berdehem dengan wajah aaaamaaaaaat sombong. Para anggota tim Merah ada yang menangis, ada yang wajahnya memerah, ada juga yang menahan marah, contohnya Rin ini.
"Nona 'kunging ngambang'..." Len pun menyodorkan sepatunya kepada Rin. Terlihat mata Rin mulai berkaca-kaca.
Mikuo yang sedari tadi sudah mengotori sepatunya sekarang menyodorkan sepatu yang amat kotor itu ke wajah kakaknya, Miku.
"Mikuo, kau serius?" Tanya Miku.
Mikuo mengangguk. "Bukankah itu taruhannya?" Tanyanya balik kepada Miku.
Tim Merah yang lain pun dengan berat hati berlutut untuk mencium sepatu tim Biru.
Rin masih terdiam. Sedangkan Len hanya berkacak pinggang dengan senyum kemenangan yang terpampang di wajahnya.
"Ayo, tunggu apa lagi?" Tanya Len.
"Len... " Panggil Rin.
"Hn?"
"Len... aku minta..."
"Maaf? Gak boleh."
Mata Rin semakin berkaca-kaca saat mendengar jawaban Len.
Semua mata tertuju pada kedua kapten dari tim yang berbeda ini.
"Len! Aku akan melakukan apa saja! Tapi jangan suruh aku mencium sepatumu ya! Ya? Ya?" Rin meminta dengan penuh sangat. Sekarang air matanya sudah mengalir perlahan.
Len tercengang melihat saudara kembarnya mulai menangis. Seumur-umur belum pernah Len membuat saudaranya itu menangis.
"B-baiklah! Kalau kau tidak mau mencium sepatuku, mulai sekarang kau harus memanggilku dengan kata 'nii-chan' di belakang namaku!" Kata Len agak gugup.
Rin terdiam sambil terus melihat Len. Semua juga terdiam melihat mereka. Termasuk Miku yang mengetahui proses persalinan ibu mereka.
"Setauku Rin-chan itu keluar duluan deh... " Gumamnya. "Tapi tak apalah, toh mereka kembar dan mereka sendiri tidak tau siapa yang keluar duluan. Kecuali aku yang menyaksikan proses mereka keluar secara LIVE." Lanjutnya.
"L-Len...-nii...chan..." Gumam Rin masih berlutut.
"HAH? aku gak dengar apa-apa nih!" Kata Len agak membungkuk.
"Len nii-chan!" Kata Rin agak berteriak.
"Kau ini bicara atau tidak sih?" Tanya Len.
"KUBILANG LEN NII-CHAN DASAR BODOH!" Teriak Rin yang tiba-tiba bangun dan langsung memukul kepala Len sampai membuat Len mundur beberapa langkah.
"Aduuh..." Ringis Len. Tanpa disuruh, air mata Len keluar karena tidak bisa menahan ngilu di kepalanya. Tapi bukan berarti dia menangis.
Semua cengo melihat itu.
"Oi. Kalau kau tidak mau mencium sepatuku juga boleh... tapi sebagai gantinya—" Kata Mikuo. Tapi terpotong oleh Miku yang dengan cepat mencium-cium sepatu Mikuo beberapa kali.
"Tidak! Tidak! Lebih baik aku mencium sepatumu dari pada harus memanggilmu dengan embel-embel nii-chan!" Kata Miku sambil terus mencium sepatu Mikuo.
"Eh? Ah! Sudah! Sudah! Hentikan! Iya! Iya! Aku hanya bercanda! Sudah! Sudah!" Ternyata di balik sifatnya yang suka protes dan ingin dipuja itu, Mikuo masih punya rasa hormat seorang adik kepada kakaknya.
Setelah mencium sepatu Mikuo, Miku pun menangis. Sama seperti Len, dia juga tidak pernah membuat kakaknya menangis. Dia sangat merasa bersalah sekarang.
Mereka pun pulang ke rumah dengan tenang. Tapi tidak dengan Miku dan Rin yang masih agak menangis.
"Mikuo." Panggil Miku. Yang dipanggil menengok.
"Maaf ya." Lanjut Miku.
"Maaf untuk apa... tidak ada yang salah... " Kata Mikuo heran.
"Len." Panggil Rin.
"Apa?" Jawab Len sambil menengok ke arah Rin.
"Maaf."
Len terdiam. Ia tersenyum lalu mengusap kepala Rin. Wajah Rin mengeluarkan semburat merah untuk yang kedua kalinya.
"A-ah! K-kenapa kau mengusap kepalaku hah?!" Tanya Rin dengan nada sinis.
Len tertawa kecil dan berkata, "Karena sekarang aku adalah kakakmu."
To Be Continued
YOSSSSSSS! XD #Ah! Gila ih!
Duh, pegel nih badan, tapi chapter ini untungnya selesai dalam waktu 2 setengah jam! Ohohohoh! XD
Oke, kalo chapter ini gak lucu yang mohon maaf yang segede-gedenya.
Chapter berikutnya ditunggu ya! Pasti lucu dah! Makannya kalo mau membaca chapter lucu,semangati author, caranya?
Jangan lupa Review! :D
