Selamat pagi, siang, sore, malam apalah terserah, berjumpa lagi dengan saya author maha tau, tau setau-taunya kalau satu ditambah satu itu sama dengan jendela.

Kali ini author terinspirasi dari suatu fic Vocaloid yang author baca. Ya meskipun beda tapi kata-kata 'dokter gigi' telah membuat author mendapatkan wangsit untuk chapter err... 9 YEY!

Dan itu menandakan bahwa 1 chapter terakhir yaitu chapter 10, akan menjadi penutup pada fanfic Vocaloid saya yang ini.

TAPI! Jangan khawatir bagi anda para pemirsah eh maap, readers yang setia membaca fic Vocaloid saya, karena author akan membuat Activities of Vocaloid The Series!

Selamat membaca.

Pairing : -

Genre : Humor

Disclaimer : YAMAHA

Warning : Oke, sebenarnya mungkin tidak ada kejadian seperti ini, kalau ada hanya kebetulan okay?

Pagi hari di kediaman Vocaloid.

KRAUUK!

KRAAUK!

KRAAUUK!

Bisa kita dengar, suara es batu dikunyah dengan napsunya. Ya, itulah mereka, Miku, Rin dan Len sedang duduk santai di sofa, menonton TV sambil... mengunyah es batu.

"Err... emangnya makan air itu enak ya?" Tanya Mikuo yang hari itu mendapat tugas mencuci piring sambil menengok ke arah 3 makhluk yang sedang fokus menonton sambil makan es batu itu.

"Coba aja sendiri." Jawab Miku singkat.

Setelah selesai mencuci piring dan gelas yang tadi digunakan untuk sarapan, Mikuo pun mengambil es batu yang ada di gelas bekas minuman Miku dengan tangannya. Lalu ia memasukkan es batu itu ke dalam mulutnya lalu mulai mengunyahnya.

KRAUUK!

"AWW!" Teriak Mikuo sehingga membuat es batu yang sedang digigitnya itu meloncat keluar dari mulutnya.

Miku, Rin dan Len menatap Mikuo dengan tatapan polos, tapi mereka segera kembali fokus dengan acara TV yang sedang mereka tonton.

"Aneh, bisa aja ya, kalian makan benda yang bikin gigi ngilu seperti ini... " Kata Mikuo sambil memegangi pipinya. Dia pun pergi ke kamarnya.

Siang hari.

Dari tadi, setelah mandi, Miku dan Rin hanya duduk di sofa tanpa melakukan apapun. Jika kita lihat kamar mandi mereka, sikat gigi mereka sepertinya tidak disentuh sama sekali.

Blam

Suara pintu ditutup yang berasal dari kamar Rin dan Len membuat Miku dan Rin menoleh ke arah orang yang baru saja keluar dari kamar. Terlihat Len yang keluar memakai kaos oranye dengan celana putih selutut dengan handuk di atas kepalanya. Tetesan air mengalir ke ujung rambut honeyblonde-nya.

"Ada apa?" Tanya Len yang menyadari bahwa dirinya diperhatikan oleh 2 gadis yang sedang duduk di sofa itu.

"Len. Sini deh." Panggil Rin dengan pergelangan tangannya yang naik dan turun.

Laki-laki tam—Uhuk! Len pun berjalan ke arah Rin dengan wajahnya yang polos. Kemudian, Rin membisikkan sesuatu ke telinga Len. Len meggeleng. Rin menatap Miku.

"Jadi dia juga gak gosok gigi ya?" Tanya Miku.

Blam

Suara pintu yang ditutup untuk kedua kalinya. Terlihat Mikuo yang baru selesai membuang sampah, memasuki rumahnya dengan wajah malas.

"Ada apa?" Tanyanya sembaring melihat ke arah 3 orang yang menatapnya dengan wajah polos-lagi-.

"Sini." Bisik Miku sambil menaik turunkan pergelangan tangannya. Mikuo pun berjalan malas ke arah kakaknya.

Sama seperti Rin, Miku membisikkan hal yang sama kepada adik laki-lakinya. Mikuo mengangguk.

"Emangnya kenapa? Kau gak gosok gigi?" Tanya Mikuo sambil menaikkan sebelah alisnya.

Miku menggeleng.

"Kenapa?" Tanya Mikuo lagi.

"Sepertinya kami bertiga sakit gigi karena makan es batu tadi pagi." Kata Miku sambil memegangi kedua pipinya.

"Bagaimana ini Mikuo?" Tanya Rin dengan wajah amat khawatir.

"Mau bagaimana lagi? Satu-satunya cara adalah ke dokter gigi." Jawab Mikuo santai. Miku, Rin dan Len terdiam.

"Gak mau."

"Eh! Harus mau! Kalo gak biarin aja gigi kalian nanti jamuran, karatan, jigongan dan—"

"Tidak masuk akal, mana bisa gigi karatan?" Kata Miku dengan wajah bosan.

"Pokoknya aku gak mau ke dokter gigi!" Kata Rin tegas.

Mata Mikuo berpindah kepada laki-laki tam—Uhuk! Len yang dari tadi tidak berbicara.

"Len." Panggil Mikuo. "Gigimu gak sakit juga gak? Kok gak ngomong dari tadi?".

"Berbicara akan membuat gigiku yang sakit semakin terasa sakit." Jawab Len singkat.

"Cih, mau tidak mau, walaupun aku dibenci sekali pun, kalian tetap akan kubawa ke dokter gigi!" Kata Mikuo tegas.

"HUWEE! Tou-san jangan gitu dong! Itu namanya menyiksa anak dan istri!" Teriak Rin.

"Ya abisnya mau gimana lagi, gigi kalian itu kalo gak dibawa ke dokter gigi nanti malah tambah rusak!—eh. Tadi kau manggil aku apa?" Tanya Mikuo disela-sela nasehatnya.

"Tou-san... " Jawab Rin polos. Mikuo menatapnya dengan tatapan bosan.

"Heh. Aku tuh bukan ayahmu. Lagi pula siapa yang kau sebut istriku itu!?" Tanya Mikuo agak kasar.

Rin menunjuk Miku yang masih memegangi kedua pipinya.

"Anjrit! Eh denger ya! Mau panggil aku tou-san kek, mau panggil jii-san kek, mau panggil bakemono-san kek, mau panggil nii-san kek—oke, panggil aku nii-san kalo gak mau ke dokter gigi." Kata Mikuo gaje.

"Cih, Rin-chan! Len, bagaimana? Emangnya kita bilang kita gak mau ke dokter gigi ya?" Tanya Miku dengan wajah semangat 45.

Rin dan Len menggeleng.

"AIH! Tadi sendiri yang bilang gak mau ke dokter gigi! Sekarang giliran aku suruh panggil aku nii-san malah ngotot mau ke dokter gigi! Apa susahnya panggil aku nii-san hah!?" Tanya Mikuo dengan amarah membara.

"Kau itu gak pantes kalo dipanggil nii-san. Soalnya mukamu itu muka mas-mas tau?" Jawab Miku dengan wajah bosan. "Ayo Rin-chan, Len, kita pergi ke dokter gigi." Ajak Miku sambil pergi masuk ke kamarnya.

Activities of Vocaloid

"Emangnya mau periksa gigi itu harus ke rumah sakit ya? Bukannya ke bang Mamat lebih murah?" Tanya Rin. Sekarang mereka berempat sedang berdiri di depan pintu rumah sakit yang mewah.

"Emangnya di rumah sakit gak ada dokter gigi? Takutnya si bang Mamat gak bisa nyembuhin gigi kita. Dia kan tukang tambal ban." Kata Miku.

Setelah mendaftar sebagai pasien, mereka berempat menunggu di ruang tunggu. Setelah menunggu selama 15 menit, akhirnya nama mereka dipanggil.

Di dalam ruang dokter.

"Tou-san. Aku takut di suntik..." Gumam Rin pada Mikuo.

"Tenang aja, gak bakal di suntik kok... dan aku bukan bapakmu!" Kata Mikuo yang sedang duduk di kursi... yaa depan meja dokter deh pokoknya.

"Jadi apa keluhannya?" Tanya si dokter yang memakai kacamata itu.

"Jadi gini dok, mereka itu tadi pagi makan es batu, dan sekarang gigi mereka sakit." Jelas Mikuo singkat.

"Oke, sekarang siapa yang mau duduk di kursi itu duluan?" Tanya si dokter sambil menunjuk kursi... yang biasa ada di dokter gigi deh pokoknya.

"Gak usah ditanya dok. Biar gadis hijau toska ini saja yang pertama." Kata Mikuo sambil mendorong Miku ke arah kursi menyeramkan itu.

"A-a-apaan sih Mikuo!" Kata Miku sambil membanting tangan adiknya.

"Baiklah, nona, silahkan duduk di kursi itu." Kata si dokter mempersilahkan Miku duduk. Dokter itu sudah bersiap memeriksa gigi Miku. Jelas ia sudah memakai maskernya sekarang.

Dengan berat hati Miku menduduki kursi itu. Disampingnya ada Mikuo yang memperhatikannya dengan penasaran. Penasaran bagaimana dokter gigi itu bekerja.

Miku memegang erat tangan Mikuo. Mikuo menatap kakaknya yang sedang ketakutan itu.

"Tenang saja, cuma diperiksa. Paling buruk juga dicabut... " Kata Mikuo sambil nyengir. Genggaman tangan Miku semakin erat.

"Tou-san! Jaga kaa-san baik-baik!" Bisik Rin pada Mikuo disertai oleh anggukan dari Len.

"Aku bukan bapakmu!" Balas Mikuo.

Di dalam ruangan putih itu hanya terdengar suara benturan gigi Miku dan alat dokter gigi itu. Mata Miku menjelajahi ruang dokter itu, sampai akhirnya matanya bertatapan dengan mata Mikou.

"Jadi... " Kata si dokter.

"Jadi?" Tanya Miku dengan jantung yang berdebar kencang. Sama seperti Miku, Mikuo yang tangannya digenggam erat oleh Miku juga sepertinya mendapat telepati perasaan yang biasanya hanya dapat dirasakan oleh anak kembar. Oke, lupakan penjelasan panjang tadi, intinya, sekarang jantung Mikuo juga berdetak kencang sama seperti Miku.

"Gigimu hanya perlu ditambal saja kok. Gak sampai dicabut... " Kata si dokter sambil tersenyum kepada mereka, walaupun senyumnya itu tidak terlihat karena tertutup maskernya.

Miku dan Mikuo menghela nafas lega.

"Selanjutnya... " Kata Mikuo sembaring melihat ke arah 2 anak kembar yang dari tadi duduk manis di kursi depan meja dokter.

"Len! Kau pasti bisa! Berjuanglah! Jangan mau dibohongi peri gigi kalau dia ngomong meletakkan gigi di bawah bantal besoknya akan jadi pisang!" Teriak Rin yang berada di atas Len yang sekarang sedang berbaring di kursi pasien.

"Y-ya! Aku mengerti! Seorang kakak akan berjuang demi adiknya!" Teriak Len yang matanya sudah berkaca-kaca.

"Heh! Yang benar itu kan adik yang berjuang... ingat, kau adikku!" Kata Rin dengan wajah sinis.

"Kalau aku adikmu... ya sudah, sekarang cium sepatuku." Kata Len dengan wajah sombongnya sama seperti pada... ya... pertandingan sepak bola beberapa hari yang lalu.

"Aih!" Rin tersentak kaget mendengar Len yang masih ingat rupanya.

"Sekarang aku minta pengakuanmu lagi. Sepertinya pengakuanmu yang kemarin hanya main-main... sekarang panggil aku Len nii-sama!" Ujar Len bak seorang raja pada masa penjajahan.

"Kalau kau tidak mau... cium sepatuku." Kata Len dengan seringaian yang terpampang di wajahnya.

Kali ini Rin terlihat sinis namun jelas terlihat dia –lagi-lagi- sedang menahan air matanya.

"L-Len nii-sama... " Panggil Rin.

Len mengangguk. "Sebagai adik yang baik, tentunya kau harus menuruti SEMUA perintahku. Sekarang turun dari sini. Aku mau periksa gigi." Kata Len sambil mengusir Rin dengan tangannya yang melambai-lambai.

Rin pun berjalan layaknya terkena omelan dari guru killer. Dia pun duduk di kursi depan meja dokter.

"Heh! Siapa suruh duduk di situ! Sini!" Panggil Len sambil setengah duduk di kursi pasien.

Rin pun dengan wajah sinis berjalan ke arahnya sambil menghentak-hentakkan kakinya. Len menggenggam tangan Rin dengan erat. Sama seperti saat Miku diperiksa tadi. Ternyata Len takut dengan dokter gigi toh...

Alat yang sama saat digunakan untuk memeriksa gigi Miku pun sekarang berbenturan dengan gigi Len. Beberapa menit kemudian, dokter pun mengeluarkan alat berbentuk bulat dengan gagang tipis di ujungnya.

"Baiklah, yang terakhir... " Panggil si dokter.

Rin dengan gaya yang gagah berani berjalan tanpa ragu dan duduk di kursi pasien. Len yang ada di sebelahnya menyodorkan tangannya dengan wajah sombong. Maksudnya dia mau Rin menggenggam tangannya.

Tapi Rin seolah-olah tidak melihat Len yang berdiri di sebelahnya.

Melihat itu, Len membuang muka dan berdiri di samping Mikuo.

Alat dokter gigi itu kemudian berbenturan dengan gigi Rin. Terlihat wajah Rin yang menahan sakit beberapa kali.

Dokter itu pun melepas maskernya dan berjalan ke mejanya.

Miku dan Mikuo pun duduk di kursi yang disediakan untuk tempat konsultasi.

"Jadi bagaimana keadaan gigi mereka berdua?" Tanya Mikuo penasaran.

"Gigi mereka berdua yang paling parah. Tulang gigi mereka bergeser sehingga menimbulkan rasa ngilu yang benar-benar hebat, kalau dibiarkan, akan menjalar ke gusi dan akan menimbulkan rasa ngilu dimana-mana." Jelas dokter itu panjang lebar.

"Lalu bagaimana cara menyembuhkannya?" Tanya Mikuo.

"Operasi."

Activities of Vocaloid

Di koridor ruang operasi, Miku, Mikuo, Rin dan Len, sedang duduk di ruang tunggu.

"Mikuo. Bagaimana cara kita membayar tagihan konsultasi dokter gigi dan biaya operasi nanti?" Tanya Miku pada Mikuo. Mikuo tidak memperlihatkan wajah bingung sedikit pun. Ia terlihat sangat santai.

Tak lama dokter yang akan melakukan operasi pada Rin dan Len datang.

"Mikuo! Bayarnya gimana?!" Tanya Miku sekali lagi dengan suara yang lebih kencang.

Mikuo berjalan menghampiri dokter yang akan mengoperasi gigi kedua anak kembar itu.

Dia pun berbisik, "Dok, disini bisa gesek kan?" Tanya Mikuo.

"Huh! Dasar tukang ngutang!" Batin si Dokter, Miku, Rin dan Len.

Lalu si dokter mengangguk kecil.

"Oke! Tenang aja kak!" Kata Mikuo dengan wajah yang makin santai.

"Sekarang siapa yang mau dioperasi?" Tanya si dokter.

"Nih dok, dua anak ini tulang giginya kenapa gitu... saya gak ngerti... " Jawab Miku sambil mendorong pelan Rin dan Len. Wajah kedua calon pasien operasi itu menjadi pucat.

"Ayo ikut suster sekarang, kita ganti pakaian dulu... " Ajak si suster yang berwajah lembut itu. Sebelum pergi, Rin menengok ke belakang.

"Miku-chan. Jangan pulang dulu ya..." Katanya.

Miku mengangguk. "OKE! SIP!"

Rin dan Len pun tidak terlihat lagi saat pintu ruang operasi tertutup.

"Jadi sekarang kita ngapain?" Tanya Mikuo.

"Makan yuk!" Ajak Miku.

Activities of Vocaloid

"kimi o koroshite ii no?

nee kirei na kimi mo itsuka yogorete shimau nara
nee kirei na mama de ima owarasete shimaou ka
matsuge no saki no garasudama ni utsuru sakasa no sekai
kono mama no futari o eien ni tojikomete okitai"

Lantunan lagu yang dinyanyikan oleh Len terdengar di cafe tempat Miku dan Mikuo akan makan sambil mengisi waktunya untuk menunggu Rin dan Len yang sedang di operasi.

"Mau pesan apa?" Tanya pelayan.

"Es buah satu. Sama jus sari negi satu!" Kata Miku kepada di pelayan.

"Baik. Tunggu sebentar." Pelayan itu pun masuk ke dapur.

"Eh Mikuo." Panggil Miku. Yang dipanggil menengok.

"Kau tau kan ini lagunya Len? Aku bingung lho. Padahal kita terkenal, sering konser, banyak fans, tapi kok duit kita pas-pas-an gini sih?" Tanya Miku penasaran.

Mikuo pun berbisik pada Miku.

"Ku dengar uang hasil kerja kita ada di tabungan bank kita! Ini rahasia lho!" Bisik Mikuo.

"Hah! kok rahasia sih!? Rekening kita kan punya kita! Harusnya kita tau kalau kita punya rekening! Jadi hidup kita gak susah gini!" Protes Miku sambil memukul meja.

"Kalau mau tau alasannya tanya master aja..." Kata Mikuo santai.

Tak lama pelayan pun datang dan meletakkan pesanan mereka di meja orang.

"EH MBA! SALAH!" Teriak Miku.

Oke, sekarang pesanan mereka sudah ada di meja yang benar.

"Eh Mikuo. Ada pisang bakar sama kue rasa jeruk tuh... apa kita beli ini aja buat mereka?" Tanya Miku.

"Di beli pun keburu basi. Merekan kan operasi gigi. Pasti ada larangan tertentu soal makanan yang mereka makan." Kata Mikuo yang sedang mengaduk-aduk es buahnya.

"Kasihan Rin-chan..." Gumam Miku.

Setelah membayar dengan cara 'gesek', Miku dan Mikuo pun berjalan keluar.

Di perjalanan Miku melihat kios pernak-pernik lucu di pinggir jalan. Sama seperti author, Miku pun menghampiri kios itu.

"Wah, barangnya lucu-lucu ya!" Ujar Miku. Matanya menyapu semua pernak-pernik yang dijual di kios itu.

"Mikuo! Liat deh! Ada gantungan kunci bentuk beruang!" Kata Miku sambil menunjuk 2 buah gantungan kunci beruang yang dibuat sepasang itu.

"Lalu kenapa? Apa tiba-tiba kau suka beruang?" Tanya Mikuo malas.

Miku menggeleng. "Aku mau beli buat Rin-chan dan Len!" Kata Miku.

"Pisang sama kue aja gak boleh dimakan apalagi gantungan kunci... " Kata Mikuo sambil mengerutkan dahinya.

Miku yang mendengar pemikiran konyol adiknya itu mengerutkan dahinya lebih mengkerut dari pada dahi Mikuo.

"Oke, gak lucu ya... " Gumam Mikuo.

"Bantal bentuk bantal!" Teriak Miku.

"Sekarang aku bilang, kakakku itu bodoh, atau sedang melawak? Bantal yang bentuknya memang begitu." Gumam Mikuo sambil memijit batang hidungnya.

"Hei Mikuo! Bantal bentuk jeruk! Dan guling bentuk pisang! Keren kan!?" Tanya Miku pada Mikuo. Mikuo hanya mengangguk dengan wajah tidak peduli.

"Kenapa kau harus beli sepasang? Beli aja buat Rin." Kata Mikuo. "Kan mahal bayarnya... " Lanjut Mikuo.

"Mikuo, apa kau tidak menyadarinya? Rin dan Len dilahirkan sepasang. Mata mereka sepasang, rambut mereka sepasang, wajah yang bisa dibilang sepasang karena mirip pula. Pakaian mereka juga sepasang... maka dari itu, kalau tidak dibelikan yang sepasang nanti mereka merasa ada yang kurang!" Jelas Miku.

"Apa otak mereka sepasang?" Tanya Mikuo sambil menaikkan alisnya.

"Sebenarnya mungkin iya, tapi kurasa Len lebih pandai memakai otaknya dari pada Rin-chan. Jadi dengan kata lain, semua hal dari mereka itu se-pa-sang!" Jawab Miku sambil berjalan ke arah kasir.

"Tapi jeruk dan pisang bukan sepasang!" Protes Mikuo.

"Hey, coba bayangkan, jeruk itu bulan purnama, dan pisang itu bulan sabit. Mereka sama-sama bulan dan mereka adalah satu!" Kata Miku dengan bijaksananya sambil meletakkan barang yang ia beli di kasir.

"Terserahlah... " Gumam Mikuo.

"Semuanya 120.000." Ujar si penjaga kasir.

"Mikuo." Panggil Miku.

Mikuo menengok ke arah kakaknya yang sedang mengambil plastik belanjaannya dan akan bersiap keluar.

"Gesek." Lanjut Miku.

Activities of Vocaloid

"Mikuo. Tak terasa sudah jam segini. Ayo kita kembali ke rumah sakit." Kata Miku sambil melihatjam tangannya. Mikuo mengangguk.

Di rumah sakit.

Saat Miku masuk ke tempat administrasi, seorang suster menghampirinya. Ya, suster yang menangani operasi gigi Rin dan Len.

"Walinya pasien Kagamine Rin dan Kagamine Len kan?" Tanya suster.

"Iya." Jawab Miku.

"Operasinya sudah selesai dan berjalan lancar... " Kata si suster. "Mari saya antar ke kamar mereka." Lanjutnya sambil memimpin jalan.

Kamar 207

Terlihat Rin dan Len yang baru selesai diperiksa oleh suster lain. Di sana juga dokter masih menunggu kedatangan wali, untuk memberitau sedikit pantangan untuk mereka.

"Hatsune-san, saya akan memberi tau sedikit pantangan berupa makanan yang tidak boleh dimakan oleh Kagamine-san untuk sementara. Mereka tidak boleh makan makanan yang harus dikunyah. Untuk sementara mereka bisa minum susu atau biskuit yang bisa diemut (Duh! Bahasanya!) dan untuk sementara, kurangi frekuensi berbicara untuk mereka. Kalian bisa berkomunikasi dengan bahasa isyarat atau dengan tulisan. Itu saja pantangan untuk mereka, kalau ada yang bingung silahkan tanya sama suster ya." Setelah menjelaskan panjang lebar, dokter itu pun kembali ke ruangan.

"Rin-chan! Bagaimana keadaanmu?" Tanya Miku antusias.

Rin mengangguk.

"Kalau Len bagaimana?" Tanya Miku pada Len yang sedang berbaring di kasur sebelah Rin.

Len mengangguk.

"Hei, kalian tau? Aku beli sesuatu untuk kalian! Lihat ini!" Miku pun mengeluarkan barang yang dibelinya tadi di kios pernak-pernik.

Rin dan Len tersenyum 2 cm. Sebenarnya mereka sangat senang, tapi karena bekas operasi tadi, rasa sakit jika menggerakkan mulut akan terasa jika mereka tersenyum lebar apalagi membuka mulut.

"Hatsune-san, untuk 3 hari atau lebih, Kagamine-san harus tinggal di rumah sakit untuk pengecekkan berkala." Jelas si suster. "Kalau mau di rawat di rumah juga tidak masalah, tapi setiap hari harus dibawa ke rumah sakit untuk pengecekkan." Lanjut si suster.

"Rin-chan maunya gimana?" Tanya Miku.

Rin mengambil note kecil yang ada di atas meja di sebelahnya lalu mulai menulis.

"Dari pada merepotkan Miku-chan nanti, aku di rumah sakit saja. Sementara aku di rumah sakit, tolong Miku-chan belikan aku makanan yang dianjurkan dokter, biar nanti pas pulang bisa langsung makan. Oh ya! Belikan juga semua hal yang berbentuk jeruk ya! "

"Baiklah! Saat kau pulang! Kamarmu akan penuh dengan benda bulat dan orange!" Kata Miku sambil mengangguk mantap. Rin tersenyum kecil mendengar itu.

"Kalau Len gimana?" Tanya Miku.

Len meminta note yang dipegang Rin lalu mulai menulis.

"Aku juga di rumah sakit aja, selain buat nemenin Rin, suster di sini cantik-cantik! :D"

"Hehehe... kalau begitu, besok kami akan ke sini lagi ya. Miku-chan mau bawain baju ganti!" Kata Miku sambil tersenyum lebar.

Rin dan Len mengangguk. Miku dan Mikuo pun keluar dari kamar 207.

"Sekarang kita bayar dulu Mikuo!" Kata Miku.

Di kasir.

"Atas nama siapa?" Tanya panjaga kasir.

"Kagamine Rin dan Kagamine Len." Jawab Miku yang sedang duduk di kursi. Bersama Mikuo yang duduk di sebelahnya.

"Operasi apa?" Tanya penjaga kasir lagi.

"Operasi gigi." Jawab Miku.

"Oh, ya. Tunggu sebentar ya." Si penjaga kasir itu tampaknya sedang mencari nama yang dimaksud.

"Semuanya 20 juta. Mau dibayar cash atau pake kartu kredit?" Tanya panjaga kasir.

"Gesek aja mba." Jawab Mikuo sambil memberikan kartu tipis itu pada di penjaga kasir. Setelah mendatangani struk (Itu struk ya?), Mikuo dan Miku pulang ke rumah.

"Mikuo! Kita gak ke ATM sekarang?" Tanya Miku.

"Nanti aja, tunggu Rin sama Len keluar dari rumah sakit." Jawab Mikuo yang melihat lurus ke depan.

"Lho kenapa?" Tanya Miku heran.

"Sejak kita dibuat, kita gak pernah ke ATM. Makanya, kita ke ATM bareng-bareng aja. Len sama Rin pasti juga mau ke ATM." Jawab Mikuo sambil melihat kakaknya yang lebih pendek beberapa senti darinya.

"Jadi kau mau ngajak mereka ke ATM?" Tanya Miku. "Hn..." Jawab Mikuo.

"Mikuo memang tou-san yang baik ya... " Kata Miku sambil menyandarkan kepalanya di bahu Mikuo.

"Apaan sih! Aku kan masih muda!" Protes Mikuo.

"Jadi tou-san muda juga boleh... " Kata Miku yang disertai dengan tawa kecil. Mikuo tidak tau harus berkata apa, akhirnya dia diam saja mendengar tawa Miku yang semakin besar.

To Be Continued

CHAPTER 9! Jeng! Jeng! XD

Oke, tak terasa kita sudah memasuki chapter ke 9.

Baiklah, lucu gak lucu, review ajah!

Sedikit INFO :

*Lirik lagu yang terdengar di cafe tempat Miku dan Mikuo makan tadi adalah 'Virgin Suicides' yang dinyanyikan oleh Kagamine Len.

*Beberapa kali Mikuo dan Miku menyebutkan kata 'gesek'. Kata lain dari kata gesek adalah 'memakai kartu kredit'.

Akhir kata,

Jangan lupa review! :D