Minna-san~ Selamat datang di chapter kedua, CHERRY! (^O^)/
Gomennasai, Mira benar-benar minta maaf akibat keterlambatan update fic ini yang memang sangat lama! Ada banyak kejadian di Real World yang mengancam Mira hingga tidak bisa menyentuh komputer. (TT^TT)
Ah! Terima Kasih banyak kepada silent readers dan readers yang sudah berkenan hati membaca fic Mira ini! Sungguh, saat membaca review dari kalian Mira langsung senyum-senyum! Hontou ni Arigatou! *nunduk-nunduk hormat*
Lalu sebagai permintaan maaf karena sudah membuat readers menunggu lama, maka Mira membuat chapter ini lebih panjang dari chapter sebelumnya! Dan di sini ada adegan kencan Rukia dan Ichigo! *ngelirik IchiRuki*
Oh, ya! Mungkin belum terlambat bagi Mira untuk mengatakan Merry Chrismast and Happy NEW YEAR! Selamat Natal bagi readers yang merayakannya dan Selamat Tahun Baru untuk semuanya~
Ok! Langsung selamat menikmati fic Mira ya~
Jangan lupa Read and Review!
.
\(^0^\)"Selamat Membaca, minna-san~!"(/^0^)/
***# CHERRY #***
#*** Mirai Mine***#
.
Disclamer: Bleach bukan milik Mirai mine! Tite Kubo-sensei secara penuh memiliki hak atas Bleach! Mira hanya mempunyai kepemilikan terhadap akun dan cerita fic ini.
Rated: T
Pairing : Ichigo x Rukia slight Kaien x Rukia
Genre : Friendship and Romance *author jamin romancenya nggak terlalu terasa*
Words : 6938 –murni cerita-
Warning : typo(s), Alternated Universe (AU), Out Of Character (OOC), alur kecepatan, bahasa tak formal, cerita yang terlalu PANJANG! Don't like? Don't read! I have warned you so don't blame me! *plak!*
Summary : Apakah kalian tahu ? Kalau kita menyerahkan surat cinta di bawah pohon sakura di dekat gerbang sekolah maka cinta kita pasti kesampaian. Rukia tiba-tiba di ajak kencan oleh Ichigo, apakah Rukia bisa mengatakan bahwa hubungan mereka terjadi karena kesalahpahaman?
.
***# CHERRY #***
.
"Ka,Kaien-senpai?" ujar Rukia pelan.
Rukia terlalu kaget sampai kehilangan ucapannya saat melihat pemuda berambut raven dan bermata aqua marine itu, Shiba Kaien. Kakak kelas idolanya di Karakura Gakuen, laki-laki yang paling di hormatinya dan juga laki-laki yang disukainya kini berada di sebelahnya!
Kaien tersenyum simpul saat tahu Rukia berada di tempat yang sama dengannya, di ambilnya tempat di kursi sebelah Rukia dan meletakkan buku yang di pegangnya.
"Tidak kusangka kau ada di sini, Kuchiki. Terlebih kau datang bersama Ichigo," ucap Kaien sedikit menggoda Rukia, membuat kedua pipi Rukia sekilas terlihat kembali merona.
"Ano,,,kenapa Kaien-senpai ada di sini? Anda juga anggota klub basket?" tanya Rukia bingung.
"Oh, aku menggantikan manajer klub ini, beberapa hari lalu ia mengalami kecelakaan dan masuk rumah sakit. Aku sebagai temannya dipercayakan menggantikan tugasnya sementara waktu," jawab Kaien sambil meletakkan jempol tangannya di depan dada, seolah mengatakan 'aku ini orang terpecaya'.
"Tapi saya tidak tahu itu," komentar Rukia.
"Hei hei, memangnya aku harus memberitahumu semua kegiatanku padamu, Kuchiki," canda Kaien.
Mendengar ucapan Kaien membuat Rukia menggeleng cepat, kenapa dia sampai bertanya hal memalukan begitu, sih! Rasanya ia jadi terpengaruh sikap penuh selidik Inoue.
"Lalu kau sendiri? Menemani Ichigo, bukan?" tanya balik Kaien dengan wajah jahil.
Keringat dingin mendadak menetes di wajah Rukia, dia hampir saja melupakan hubungannya dengan Ichigo! Bagaimana ini? Padahal Kaien ada di sampingnya dan mungkin berpikiran kalau mereka berdua benar-benar pacaran?
"Bu-bukan begitu, Kaien-senpai! Aku hanya-"
"Kudengar dari Ichigo kalau kau menyerahkannya surat cinta, ternyata kau hebat juga ya," ujar Kaien ringan sambil mengacak-acak rambut Rukia.
Untuk sesaat Rukia terpana, cara Ichigo dan Kaien memperlakukannya sama, mengacak-acak rambut hitamnya. Bagaimana bisa?
'Ah! Sadarlah Rukia! Jangan terbawa suasana!' batin Rukia cepat sambil menggeleng kepalanya.
Yang menjadi masalah kenapa Ichigo mengatakan pada Kaien kalau mereka berpacaran? Apa cowok itu sampai mengumumkan pada seluruh sekolah tentang hubungan mereka? Dilihat dari sifatnya sih, kelihatannya begitu tapi sekarang baru hari pertama mereka jadian!
Dan lagi mereka berdua baru bertemu juga belum banyak mengenal, rasanya ganjil pemuda itu langsung menyukainya. Mungkin saja Ichigo menerima suratnya karena kasihan padanya…
"Memangnya anda teman dekat Ichigo?" tanya Rukia penasaran. Sesaat Kaien hanya diam, kemudian dilemparkannya ke Rukia sebotol minuman dingin saat melihat wajah Rukia yang menurutnya tiba-tiba terlihat gugup.
"Memangnya Ichigo tidak mengatakan padamu?" tanyanya balik sambil memberi gestur agar Rukia meminum minuman tadi.
Rukia menjawab pertanyaan Kaien dengan mengerutkan alisnya 'Bagaimana bisa dibilang 'tidak mengatakan' kami baru berpacaran satu hari. Dan itupun karena kesalah pahaman,' batin Rukia. Gadis itu meminum minuman yang di berikan Kaien padanya, entah kenapa tenggorokannya terasa agak kering.
"Kami berdua ini kakak-adik," lanjut Kaien.
BRUUUUSH!
Bagaikan petir di siang bolong, Rukia menyemburkan minuman yang berada di mulutnya dan tersedak kecil. Kaien yang melihat Rukia terlonjak kaget dan segera memberikan saputangan pada gadis itu agar merasa lebih baikan.
"Kalian berdua kakak-adik?" ulang Rukia dengan tatapan tidak percaya setelah membersihkan wajahnya.
"Kenapa wajahmu begitu, Kuchiki? Memangnya kami tidak terlihat mirip?" gumam Kaien.
Rukia diam-diam memperhatikan wajah pemuda berambut hitam di sampingnya, kalau dilihat wajah Kaien dan Ichigo memang ada miripnya, sikap mereka tadi padanya juga sama. Hanya warna rambut dan mata mereka yang membedakan kedua orang ini, tapi ia tidak sadar karena marga mereka berdua jelas berbeda.
"Marga kami memang berbeda, dulu ibu kami meninggal. Setelah itu kami hidup berpisah, Ichigo tetap bersama ayah sedangkan aku bersama keluarga ibu," jelas Kaien seolah mampu membaca pikiran Rukia.
Rukia menatap Ichigo yang kini sedang bermain di lapangan 'Jadi Ichigo tidak mempunyai seorang ibu? Wajar saja sifatnya urak-urakan begitu,' pikir Rukia.
Kemudian ketika menyadari cara Ichigo bermain basket Rukia tersenyum tipis, Ichigo terlihat memberikan bola di tangannya pada salah satu teman satu timnya yang berambut merah seperti nanas.
Kelihatannya Ichigo benar-benar mengikuti nasehatnya, Kaien yang tidak sengaja melihat senyum Rukia terpana. Tanpa di duga senyuman gadis mungil ini manis sekali.
"Kaien-senpai, apa sekarang anda dan Ichigo tinggal bersama?" tanya Rukia. Kaien yang sedari tadi memperhatikan Rukia nyaris terlonjak saat Rukia tiba-tiba menatapnya dengan kedua iris violetnya.
Berdehem kecil sebentar, Kaien berusaha mengatur kembali suaranya.
"Tidak, awalnya karena sibuk ayah berniat menitipkan Ichigo padaku yang kebetulan tinggal di sini. Tapi Ichigo menolak dan memutuskan tinggal di apatemennya sendiri, aku hanya mengawasinya saja," jawab Kaien.
Rukia mengangguk paham, dengan sifat Ichigo yang sulit di atur begitu, sulit di percaya ia akan menurut begitu saja jika di suruh tinggal bersama Kaien yang notebane siswa teladan.
"Kuchiki, bisa aku meminta tolong padamu?" pinta Kaien memecahkan keheningan yang sempat tercipta.
Rukia mengangkat kedua alisnya tinggi, 'Kaien-senpai ingin meminta tolong padaku?' batin Rukia.
"Apa yang anda butuhkan, Kaien-senpai?" ujar Rukia.
"Sebenarnya ini bukan tentangku, tapi tentang Ichigo," kata Kaien.
Alis Rukia kembali berkerut "Ichigo?" tanyanya.
Kaien mengambil nafas sebentar sebelum menjawab, ia menatap kedua permata violet Rukia lurus, membuat sang gadis merasa canggung di pandangi seperti itu.
"Dulu waktu kecil dulu Ichigo itu anak yang dekat dengan ibu. Karena rambut orange miliknya yang mencolok Ichigo sering diejek anak lain, dari dulu ia anak yang mudah naik darah karena itu ia menghajar mereka, meski pada akhirnya ia kalah dan menangis keras," ujar Kaien memberi jeda sejenak.
'Jadi dari dulu sikap mudah emosi miliknya sudah ada ya,' gumam Rukia dalam hati. 'Tapi…menangis? Seorang Kurosaki Ichigo bisa menangis?' pikirnya heran.
"Namun apa kau tahu Kuchiki?… tangisannya akan langsung berhenti ketika Ibu datang," cerita Kaien. Rukia langsung terbagun setelah tenggelam dari pikirannya sendir ketika mendengar ucapan Kaien, cerita tentang Ichigo yang manja pada ibunya jelas menarik perhatiannya.
"Sayangnya ketika Ibu meninggal, sikapnya berubah pemurung dan sering menyendiri. Ayah dan aku berusaha menghiburnya tapi tidak berhasil, hingga akhirnya ia menjadi berandalan begini. Membuatku semakin cemas saja, untungnya kami berada satu sekolah ketika masuk SMA," menghentikan penjelasannya sejenak, Kaien menatap dalam mata Rukia yang sedang memperhatikannya. Ketika menemukan apa yang dicarinya dari sorotan mata gadis itu, Kaien tersenyum kecil.
"Kukira dia berusaha menghibur dirinya sendiri makanya jadi begini, tapi ketika bertemu dengannya tadi siang sebelum pertandingan…."
FLASHBACK…
Melihat seorang pemuda berambut orange masuk ke audoturium olahraga, Kaien yang sudah sampai duluan langsung berdiri dari duduknya dan memanggil sang pemuda, "Hei, Ichigo!"
Ichigo yang merasa namanya di panggil menoleh, dilihatnya Kaien yang mengisyaratkannya mendekat ke arahnya. Mengerutkan dahi karena Kaien biasanya jarang memanggilnya kecuali untuk menceramahinya tentang rencana pertandingan, Ichigo melangkah maju.
"Ichigo, kudengar tadi siang kau membawa kabur Kuchiki, ya? Memangnya dia salah apa?" tanya Kaien langsung.
Ichigo semakin mengerutkan dahi, " Aku tidak membawanya kabur!" tukasnya.
"Tapi kudengar dari Nanao-sensei kau membawanya di jam pelajaran saat berada di kelas," selidik Kaien.
"Kami hanya pergi kencan, kok," jawab Ichigo santai.
Kaien yang mendengar ucapan santai Ichigo langsung membeku di tempat dan hanya bergumam "Eh?" dengan raut wajah heran. Apakah masih ada gadis yang tahan berkencan dengan adiknya ini?
Sebab sepengetahuannya, semua fansgirl Ichigo yang sering berdiri di pinggir lapangan dan menyemangatinya itu jika mengajak sang pemuda berkencan bahkan tidak akan tahan berada di sebelah sang pemuda lebih dari 5 menit. Alasannya? Kurasa kalian sudah mengetahuinya sendiri.
"Kau tidak melakukan apapun padanya bukan, Ichigo," ujar Kaien dengan nada cemas di ucapannya. Wajar ia cemas, sebab ketika membayangkan Rukia yang berada di jok belakang motor Ichigo yang sedang 'mengamuk' di jalanan, bukanlah pikiran menyenangkan.
"Kau baru saja berpikir macam-macam padaku, ya," komentar Ichigo sambil menatap sinis kakaknya.
"Tidak juga sih, cuma-"
"Dia itu gadis yang baik," ucap Ichigo.
Kaien menghentikan ucapannya dan memandang Ichigo, memfokuskan pendengarannya agar dapat kembali mendengar kalimat yang jarang di ucapkan adiknya itu. Dan saat itu ia tertegun, ketika melihat Ichigo dengan wajah yang sedikit merona merah berusaha mengalihkan pandangan Kaien yang tertuju padanya.
"Aku tidak bermaksud macam-macam padanya, lebih baik kau tenang dan serahkan padaku saja, Kaien-nii," jelas Ichigo sembari tersenyum tipis.
Ichigo yang seperti 'itu' tersipu? Bukankah ini pemandangan… langka? Kaien yang melihat ekspresi sang adik hanya mampu bengong di tempat memandangi sang adik sampai tidak sadar bahwa Ichigo sudah tidak ada di sana.
End of FLASHBACK…
"Jujur saja, ini pertama kalinya aku melihat ekspresinya yang begitu sejak orang tua kami berpisah. Jarang sekali kulihat ia tersipu atau tersenyum. Kurasa itu karenamu, makanya kuharap kau tetap ada di sampingnya, Kuchiki," jelas Kaien sambil tersenyum lebar sembari mengacak-acak rambut Rukia -lagi-
Rukia memajukan bibir bawahnya, memang ia menyukai saat Kaien bersikap ramah begini padanya tapi tetap saja ia merasa Kaien memperlakukannya sebagai adiknya, bukan orang yang di sukainya.
Meski di sisi lain Rukia juga kaget, tidak di sangkanya Ichigo mempunyai masalah seperti itu. Padahal menurut teman-teman sekelasnya, sejak SMP dulu Ichigo sudah terkenal onar dan menjatuhkan ratusan korban. Siapa sangka di balik sosok onarnya Ichigo juga punya sisi memilukan di masa lalunya ?
Sungguh, setelah mendengar cerita Kaien tadi Rukia ingin mengatakan pada sang pemuda orange itu agar tidak terlalu terpuruk pada kejadian yang menimpanya di masa lalu, kelihatannya pemuda itu akan mendengarkannya jika Rukia yang bicara.
"Yo! Rukia!"
Menengadahkan kepalanya ketika mendengar seseorang memanggil namanya, Rukia di buat terpaku ketika melihat penampilan Ichigo di depannya. Bahkan kelihatannya bukan hanya Rukia yang terpaku, tapi juga para gadis yang berada di ujung lapangan sana.
Seperti apakah penampilan Ichigo?
Kaos olahraga basket Ichigo kini basah oleh keringat dan berhasil mencetak tubuh atletisnya, rambut orangenya terlihat berkilau terkena cahaya matahari karena basah oleh air yang di siramkan sang empu ke kepalanya dan tak lupa senyuman lebar yang menghiasi wajah Ichigo…berhasil membuat Rukia ataupun gadis lainnya tepar di tempat dengan hidung mengeluarkan darah.
Untungnya Rukia berhasil menahan dirinya agar tidak terlihat seperti penjelasan di atas, ia hanya menundukkan kepalanya dalam-dalam agar sang pemuda tidak melihat wajah bersemu miliknya, sikap Rukia ini berbeda dari para gadis yang berusaha menghentikan pendarah di hidungnya dengan sekotak tisu masing-masing bersiaga di tangan mereka.
"Kaien? Apa kau lakukan di sini bersama, Rukia?" tanya Ichigo begitu menangkap sosok Kaien di samping Rukia, perasaan tidak suka muncul di hatinya melihat kedekatan Rukia dan Kaien sejak pertandingan babak kedua tadi.
Kaien hanya tersenyum tipis lalu berdiri dari duduknya, "Tidak ada, hanya bernostalgia sebentar tentang kejadian masa lalu," jawabnya jujur kemudian menjauh dari sana menghampiri anggota tim basket lainnya yang sedang duduk melepaskan lelah.
Ichigo semakin mengerutkan alisnya dalam, bingung dengan ucapan sang kakak. Tapi tidak begitu ia pikirkan karena kini perhatiannya tertuju pada Rukia yang sedang mengalihkan wajahnya dari Ichigo, berusaha menyembunyikan semburat merah di wajahnya.
"Rukia! Bagaimana pertandinganku tadi? Kau suka?" tanya Ichigo antusias lalu duduk di samping Rukia menunggu jawaban sang gadis. Rukia yang masih belum bisa menyembunyikan rona merah di wajahnya, terlonjak saat Ichigo tiba-tiba duduk di sebelahnya dan menatapnya.
"Ka-kau mengikuti saranku, Ichigo?" tanya Rukia gugup.
"Huh? Tentu saja, bukankah kau menyuruhku membagi bola dengan anggota tim?" tanya balik Ichigo heran.
"I-iya sih, tapi-"
"Ichigo! Berkumpul di sini sebentar!"
Suara Kaien yang mengintropeksinya membuat ichigo mendelik kesal, ia baru saja ingin berbicara dengan Rukia tapi Kaien sudah memanggilnya membahas sebentar pertandingan tadi.
Bagaimanapun juga dia seorang kapten, makanya ketika melihat anggota tim lain sudah menunggunya ia beranjak pergi setelah meminta Rukia menunggunya.
"Cara bermainmu tadi sudah bagus, Ichigo. Pertahankan seperti itu sampai pertandingan semi-final minggu depan," ujar Kaien sambil melihat video rekaman pertandingan yang diam-diam di buatnya tadi. "Dan jangan berpikir kalau lapangan seperti milikmu sendiri, kau harus bekerja sama seperti tadi," kritik Kaien tajam.
Ichigo mendengus, ia hanya ingin mendengar komentar Rukia padanya saat pertandingan tadi, bukan mendengar komentar Kaien yang selalu berbelit-belit. Ia harap diskusi singkat ini segera berakhir sehingga ia bisa mengaja Rukia pulang bersama.
"Jika kita memenangkan pertandingan dengan Hueco Mundo setelah ini, kita akan masuk final. Lawan kita di pertandingan itu berasal dari Sekolah Tinggi Las Noches, tahun lalu mereka berhasil mendapat peringkat 2 di turnamen. Kuharap kalian melakukan latihan ringan di rumah,"
Kaien kembali memulai penjelasannya, semua anggota mendengarkan setiap ucapannya. Kecuali Ichigo yang malah sibuk memainkan ponsel di tangannya dari pada mendengar ucapan Kaien, membuat sang pemuda yang melihat tingkahnya diam-diam mengomel dalam hati.
"Baiklah, kurasa tidak ada yang perlu kukatakan lagi. Permainan kalian sudah bagus, jangan lupa jaga kesehatan kalian. Minggu depan kita masih memiliki pertandingan," ucap Kaien mengingatkan anggota tim.
Kaien tersenyum puas ketika melihat mereka mengangguk paham, Ichigo sendiri menghembuskan nafas lega melihat diskusi membosankan ini selesai, setelah ini ia tinggal mengganti bajunya dan pulang bersama Rukia.
"Ichigo, kau tetap di sini! Kita akan membahas rencana untuk pertandingan minggu depan!" tegur Kaien ketika melihat Ichigo yang baru saja mengambil langkah pergi.
Pemuda berambut orange itu langsung berbalik dan menatap Kaien dengan pandangan bertanya sekaligus tidak percaya, "Bukankah kau kapten?" kata Kaien seolah bisa membaca apa yang di pikirkan sang pemuda.
"Tapi setelah ini aku akan pulang bersama Ru-"
Ichigo yang hendak protes menghentikan ucapannya ketika Kaien melemparkan 2 lembar kertas ke arahnya, Ichigo spontan menangkap kertas yang ternyata sebuah tiket.
"Itu hadiah dariku," ujar Kaien. "Sebenarnya aku ingin mengajakmu pergi bersama denganku hari minggu nanti, tapi karena kau sudah memiliki pasangan tidak ada salahnya kalau kau membawa Kuchiki ke sana," lanjutnya.
Ichigo tersenyum lebar saat melihat 2 tiket taman bermain di tangannya, ia bisa mengajak Rukia kencan di sana besok.
"Tapi kau TETAP harus ikut denganku sekarang untuk diskusi formasi tim minggu depan," kata Kaien mengingatkan dengan penekanan pada kata 'tetap'. Ichigo yang tadi sudah tersenyum kembali cemberut ketika mendengar ucapan Kaien.
"Ok!Ok! Aku akan menemuimu setelah mengantar Rukia pulang hari ini!" ujar Ichigo yang bermaksud memotong Kaien yang dilihatnya bara saja ingin membuka mulutnya. "Arigatou na, Kaien," lanjutnya kemudian sebelum menghampiri Rukia yang masih duduk diam di tempatnya.
Melihat Ichigo yang sudah menemukan apa yang ingin dilindunginya, pemuda berambut raven itu tersenyum kecil melihat tingkah laku adik kecilnya.
.
***# CHERRY #***
.
"K-ke-ken-kencan?"
Rukia hanya mampu menunjuk pemuda orenji di hadapannya dengan tangan gemetar dan suara terbata-bata saat mendengar 'rencana' tak terduga dari sang pemuda beberapa detik lalu setelah mengantarnya sampai rumah.
"Kau tidak suka, Rukia?" tanya Ichigo sambil menatap Rukia dengan salah satu alis terangkat, entah kenapa saat itu di mata Rukia terlihat raut wajah kecewa dari wajah Ichigo membuat Rukia yang melihatnya merasa bersalah.
"Bu-bukan begitu! Tapi besok aku…" Rukia menghentikan ucapannya mencoba mencari alasan yang tepat pada Ichigo. Sayangnya ia gadis yang jarang berbohong sehingga mencari satu dari sejuta alasan di dunia ini terasa sulit baginya.
Ichigo yang kini sedang duduk di atas motor hitam kesayangannya tersenyum tipis ketika akhirnya melihat Rukia menganggukkan kepalanya pelan, senyumnya semakin lebar ketika tahu wajah gadis itu kembali memerah. Entah apa alasannya tapi Ichigo menyukai setiap kali melihat wajah plum Rukia di hias semburat merah karena ulahnya.
"Benar juga, jangan lupa membawa bekal buatanmu juga Rukia," pinta Ichigo sambil memasang helmnya tanpa menyadari perubahan ekspresi Rukia.
"Bekal? Kau ingin aku membuatkanmu…bekal?" ujar Rukia mengulangi ucapan Ichigo.
"Memangnya kenapa? Bukankah kalau sedang berpacaran anak perempuan biasanya akan membuatkan bekal?" tanya balik Ichigo.
Kali ini Rukia hanya dapat terdiam menanggapi ucapan Ichigo, memang wajar kalau seorang gadis membuatkan bekal untuk orang yang di sukainya saat kencan tapi…ia tidak bisa memasak. Ah! Jangan salahkan Rukia karena ia tidak bisa memasak, tapi gadis ini selalu berakhir dengan masakan gosong jika memasak. Karena itu di antara keluarga mereka, Hisana yang selalu menyempatkan diri untuk memasak.
"Tapi Ichigo, aku tidak bisa...," Rukia menghentikan ucapannya ketika Ichigo menyela pembicaraannya.
"Pacar temanku di klub basket, selalu membawakannya bekal selesai pertandingan atau latihan. Aku tidak suka mengakuinya tapi aku juga ingin memakan bekal, makanya besok kau harus membawanya. Dan itu harus buatanmu sendiri! Aku tidak menerima penolakan," ujar Ichigo dengan nada memerintah.
Rukia yang mendengar itu kontan terbelalak kaget. 'Hey, begitukah caramu meminta pacarmu membuatkan bekal? Bersikaplah lebih lembut pada seorang gadis!' gerutu Rukia dalam hati.
"Kalau begitu aku pergi, akan kujemput kau besok pagi. Jangan sampai kesiangan!" perintah sebelum menancap gas dan segera pergi dari sana, meninggalkan Rukia yang hanya bisa melongo melihat tingkahnya.
.
***# CHERRY #***
.
"Kau sedang membuat apa, Rukia?"
Hisana menatap Rukia yang sedang berkutat di dapur dengan buku memasak di tangannya, kedua alis gadis itu mengerut dalam sambil berkali-kali mengalihkan pandangannya dari buku ke masakannya, dahinya berkerut dan kedua alisnya bertemu menunjukkan rasa bingungnya.
"Rukia?"
Kakak kandung Rukia itu memanggil kembali adiknya saat merasa adiknya tidak mendengarkan ucapannya dan benar saja, Rukia baru menoleh menatap kakaknya.
"Kau sedang membuat apa? Serius sekali?" tanya Hisana lembut, di langkahkannya kakinya menatap apa yang sedang di masak oleh sang adik. Kedua iris violetnya membulat seketika melihat 'sesuatu' yang tidak jelas bentuknya, bewarna hitam dan mengeluarkan bau aneh berada di dalam kuali.
"Ini apa?" gumamnya heran.
"Aku sedang membuat omelet," kata Rukia dengan wajah tanpa dosa sambil mengangkat benda yang di katakan omelet itu ke atas piring. "Bentuknya memang sedikit berbeda dari yang di buku, tapi setidaknya ini lebih baik dari yang kubuat pertama kali," ujar Rukia polos.
Hisana menelan ludah paksa, apa yang dibuat Rukia itu sama sekali berbeda! Hisana bahkan tidak tahu kalau itu omelet!
"Memangnya kau membuatnya untuk siapa, Rukia? Kalau untuk sarapan, aku bisa membuatnya sendiri. Kau tidak perlu bangun pagi-pagi begini," ucap Hisana, ia tidak ingin kata-katanya melukai hati Rukia. Sebab dilihat dari sisi manapun, makanan yang dibuat Rukia itu tidak bisa dimakan.
"Itu…sebenarnya hari ini aku ada kencan," ujar Rukia jujur.
"…."
Suasana mendadak hening, Hisana terdiam menatap adiknya dengan kedua mata membulat sempurna dan alis terangkat tinggi. Tidak percaya dengan apa yang di katakan Rukia.
"Serahkan pada kakakmu ini, Rukia," kata Hisana sambil menaikkan lengan bajunya dan mengambil sebuah pisau besar yang sudah di asah tajam. Rukia yang melihat perubahan sikap kakaknya sendiri hanya sweetdrop di tempat.
"Ano,,,kakak. Dia ingin aku membuat bekalnya sendiri," ingat Rukia begitu melihat Hisana yang sudah begitu bersemangat.
"…." Hisana hanya diam.
"Kak Hisana?" tanya Rukia ragu-ragu.
"Khu khu khu khu,,,ternyata tanpa sepengetahuanku Rukia sudah beranjak dewasa ya. Tenang saja, akan kubuat kau pintar memasak sebuah bekal sempurna dalam waktu kurang dari sejam," tawa Hisana sambil tersenyum tipis dan menggosokkan pisau di tangannya pada daging di depannya.
"Heegh?"
Sedangkan Rukia, hanya membatu di tempat melihat tingkah kakaknya yang sudah seperti salah satu gurunya, Unohana Retsu yang meskipun sedang tersenyum lebar terlihat lebih mengerikan di bandingkan seringaian. Kelihatannya pagi ini akan menjadi kursus memasak paling mengerikan untuk Rukia.
.
***# CHERRY #***
.
"Fuhhhh~"
Rukia mengambil nafas lega, ia sangat beruntung bisa sampai di taman bermain ini dengan nyawa yang masih lengkap di badan. Sungguh, menaiki motor Ichigo membuatnya hampir kehilangan nyawa hidupnya selama seminggu! Apalagi ketika Ichigo dengan ganas menyalip mobil-mobil di jalan raya dengan kecepatan sangat tinggi dan membuat mereka berdua di hadiahi umpatan kesal pengemudi lain.
Rukia sampai tidak berani melonggarkan pegangannya pada Ichigo, takut jika ia melonggarkan pelukannya itu maka tubuh mungilnya akan terbang ke belakang terbawa angin.
Ok! Rukia tahu kalau pemikirannya tadi berlebihan, kelihatannya kepalanya harus mengalami regenerasi akibat sikap berlebihan Ichigo di jalanan dan di rumahnya tadi. Apakah kalian tahu? Tadi pagi tepat ketika Rukia sedang bersiap-siap, Ichigo membunyikan klaksonnya cukup keras hingga membuat seisi rumah dan tetangga-tetangganya Rukia terlonjak kaget.
Hisana yang mengira ada keributan apa langsung menuju halaman depan, tapi tepat sebelum kakaknya sampai di bawah, Rukia yang lebih dulu sampai sudah dibawa lari Ichigo dengan motornya. Dalam hitungan detik Rukia keluar rumah dan dalam hitungan detik pula ia pergi meninggalkan rumah…bahkan sebelum pamit pada kakaknya.
"Maaf membuatmu menunggu, Rukia! Saat pakir tadi petugasnya ribut-ribut menyuruhku parkir di tempat yang lebih jauh, menyusahkan saja," omel Ichigo.
Rukia yang saat itu sedang duduk di dalah satu bangku untuk menunggu Ichigo yang sedang memakirkan motornya, menoleh menatap sang pemuda.
"Memangnya dimana kau memakirkan motormu, Ichigo?" tanya Rukia.
"Tentu saja di depan pintu masuk taman, kalau di sana lebih mudah saat ingin pulang," jelas Ichigo.
Rukia kembali sweet drop, di pandanginya Ichigo dengan tatapan seolah mengatakan mana-mungkin–kau–boleh–parkir–motormu-disana!
"Ada apa, Rukia?" tanya Ichigo begitu menyadari tatapan yang diberikan Rukia padanya.
Gadis itu hanya menggeleng pelan dan berdiri dari duduknya, mengambil tas yang tadi di letakkannya dan berjalan duluan di depan Ichigo. Bagaimanapun juga ia tidak ingin berdebat dengan Ichigo dan menjadi pusat perhatian di taman ini.
Lagi pula selain keributan yang di alaminya bersama Ichigo kemarin, Rukia sudah cukup lelah karena mengerjakan tugas rumah yang di berikan gurunya di kelas dan ditambah selang waktu kegiatannya di klub! Kali ini Rukia hanya ingin membebaskan pikirannya dengan bermain sepuasnya di taman bermain, sudah cukup lama ia tidak datang kemari.
"Dari pada berdiri di sini, bagaimana kalau kita jalan-jalan saja, Ichigo?" tawar Rukia kemudian menolehkan kepalanya pada Ichigo.
"Kau semangat sekali?" tanya Ichigo kemudian menyamakan langkahnya dengan Rukia yang sudah berjalan duluan.
"Soalnya sudah lama aku tidak pergi ke taman bermain," jawab Rukia, matanya mulai melirik kesana-kemari mencari wahana yang akan dinaikinya. Ichigo yang melihat tingkah Rukia hanya bisa tertawa kecil dalam hati, sikap Rukia benar-benar seperti anak-anak yang baru pertama kali datang ke taman bermain.
Tidak percaya? Lihat saja mata Rukia yang berbinar penuh minat itu dan wajah polosnya yang menoleh ke kanan dan kekiri bergantian karena bingung dengan banyaknya wahana yang tersedia, siapa yang tidak akan tersenyum geli?
"Kalau kau kebingungan mencari wahana yang menarik, sebaiknya kau mengikutiku," kata Ichigo dengan nada bangga di dalam ucapannya.
Rukia yang sedang berjalan di depannya menoleh dan menatap pemuda itu dengan tatapan bingung bercampur penasaran, tanpa aba-aba Ichigo menggenggam erat kedua tangan Rukia hingga membuat wajah gadis itu bersemu merah.
"Ikut aku," perintah Ichigo.
Rukia saat itu hanya menurut saja, tidak ada salahnya juga mengikuti saran Ichigo. Lagi pula yang mengajaknya berkencan itu adalah Ichigo sendiri bukan?
.
***# CHERRY #***
.
Ketika Ichigo mengatakan kalau ia mengetahui wahana yang menarik, Rukia akui kalau ia memang menurut saja waktu itu. Karena ia berpikir Ichigo sering ke tempat ini dan berpengalaman dalam setiap wahanya taman ini. Tapi kelihatannya kali ini ia harus menyesali tindakannya beberapa saat yang lalu itu sebab kali ini sang pemuda orenji membawanya ke dalam…rumah hantu.
Sedikit bergidik ngeri, Rukia mendekatkan dirinya ke tubuh Ichigo. Suasana sekitarnya benar-benar gelap, membuatnya takut bahkan untuk melangkah. Rukia memang bukan gadis penakut, bahkan untuk ukuran gadis seumurannya ia termasuk berani.
Namun, siapa yang tidak akan takut kalau kau akan masuk ke dalam salah satu rumah hantu yang di kenal paling mengerikan di Jepang hanya sendirian?
Rumah hantu itu di buat khusus untuk pasangan, di mana setiap pasangan di haruskan memasuki pintu yang berbeda dan melewati labirin hingga akhirnya bertemu dan keluar dari rumah hantu bersama-sama.
Tentu saja di setiap labirin terdapat hantu! Terlebih ruangan di sana gelap gulita, angin dingin dari AC yang sengaja di setel sedemikian dingin dan suara-suara yang menakutkan yang diputar dari kaset, tidak ketinggalan boneka hantu Jepang yang dengan mengerikannya di gantung di atas atap juga beberapa orang yang menyamar menjadi hantu beseta aksesori aneh lainnya.
Kata penjaganya, itu untuk menguji kedekatan batin pasangan itu. Entah itu benar atau hanya untuk promosi agar tempat ini ramai, Rukia tidak tahu dan tidak mau tahu.
"Jadi pintu masuk Labirin-nya di sini?" ujar Ichigo, di depannya terdapat 2 pintu yang terbuat dari kayu yang terlihat sudah agak lapuk hingga menambah kesan mengerikan di sana.
Rukia yang tersadar dari lamunan singkatnya kembali menatap pintu di depannya, bulu romanya entah kenapa berdiri begitu saja.
"I-ichigo? Kau yakin mau masuk ke sana?" tanya Rukia memastikan, dirinya masih ragu masuk ke dalam ruangan yang di pastikan akan lebih mengerikan di banding pintu masuk labirin ini. Terlebih Rukia bisa mendengar suara-suara aneh serta jeritan takut pengunjung yang sudah masuk kemari sebelum dirinya dan Ichigo.
"Kenapa? Kau takut, Rukia?" tanya balik Ichigo, kedua alisnya terangkat begitu melihat Rukia yang mengaitkan lengan mungilnya di lengan kekar Ichigo, sebuah seringaian lebar langsung menghiasi wajah sang pemuda.
"Jadi seorang Kuchiki Rukia yang merupakan anggota komite ketertiban siswa takut pada rumah hantu, eh? Padahal semua hantu di sini hanya tiruan, aku bisa bayangkan wajah temanmu saat mendengar kondisimu seperti sekarang," lanjut Ichigo dengan nada meremehkan.
CTAK! "URUSAI, MIKAN!"
Ichigo terdiam, melihat gadis berambut hitam yang tadinya masih bergelayut di tangannya kini berdiri di hadapannya sambil menatap tajam dengan kedua tangan yang bertolak di pinggang. Simpangan empat muncul di dahi Rukia, ia bisa merasakan kedua alis Rukia kini berdenyut kesal.
Rukia mengacungkan jari telunjuknya dan meletakkannya tepat di depan wajah sang pemuda lalu dengan emosi yang tersulut ia membentak Ichigo –sang biang onar nomor 1 di sekolah- dengan semua tenaga yang ia punya.
"Jangan berpikir aku gadis lemah yang bergantung padamu! Lihat saja nanti, aku akan mendapat jalan keluar lebih dulu darimu dan keluar dari rumah hantu ini, KAU DENGAR!"
Dan dengan itu, Rukia membalikkan badannya hingga membelakangi Ichigo dan membuka pintu di depannya kemudian menutupnya dengan bantingan keras. Ichigo terperangah di tempatnya, tidak menyangka kalau gadis mungil itu tipe orang yang emosinya cepat tersulut. Dan ini pertama kalinya, seorang murid di sekolah membentaknya! MEMBENTAKNYA! Terlebih orang yang mendapat kehormatan ini seorang perempuan!
Ichigo kembali tersenyum senang, ia tidak salah pilih terhadap Rukia. Gadis itu berbeda dengan gadis lainnya yang lebih suka bersikap manja pada dirinya seolah ia orangtuanya. Dari pada siswa di sekolah yang menjelekkannya di belakang, Rukia lebih suka mengungkapkan langsung perasaannya bahkan memberinya julukan 'mikan'.
'Gadis yang menarik,' batin Ichigo dalam hati. Tanpa menunggu, Ichigo membuka pintu di depannya dan melangkah masuk ke dalam.
.
***# CHERRY #***
.
Rukia ingat kalau tadi ia berbicara dengan lantangnya pada Ichigo bahwa ia bisa menemukan pintu keluar dari labirin ini, tentu ia masih ingat karena itu baru terjadi kira-kira 30 menit yang lalu.
Rukia tahu kalau ia termasuk orang yang cepat tersulut emosinya jika sudah ada orang yang meledeknya dan kebiasaan buruknya ia akan melakukan tindakan apapun agar orang yang meledeknya itu tidak berani memandangnya rendah lagi, apapun itu bahkan jika ia tidak mampu. Intinya ia sering memaksakan dirinya sendiri.
Rukia tidak bisa menghilangkan kebiasaan buruknya ini, jika ia sudah emosi ia kehilangan cara berpikir logisnya dan maju saja karena keberanian semata. Biasanya Rukia tidak akan menyesalinya karena umumnya akan berakhir manis, kecuali untuk yang satu ini.
Beberapa menit yang lalu ia masih kesal dengan tindakan Ichigo hingga masuk begitu saja dan tidak melihat nama yang tertera di pintu, ia salah memasuki ruangan yang seharusnya untuk pasangan pria. Dan membuatnya harus berhadapan…dengan hantu yang jauh lebih mengerikan. Bodohnya, Rukia baru menyadari hal sepenting itu ketika akhirnya ia tersesat tepat di dalam labirin.
"Sekarang aku…berada di bagian apa?" ucapnya kebingungan. Kelihatannya gadis ini akan kembali menjadi dirinya yang seperti biasanya begitu ia melupakan emosinya.
Rukia menoleh ke kiri lalu kanan, kakinya melangkah maju dan menemukan dua jalan berbeda arah. Rukia berjalan ke kanan lalu menemukan empat persimpangan, ketika merasa ragu Rukia membalikkan badannya menuju ke tempat semula…namun ia malah tersesat ke tempat yang memiliki 3 persimpangan lain.
Kening Rukia mengerut dalam, dahinya berkerut dan wajahnya terlihat berpikir. Bagaimana bisa? Rasanya tadi ia hanya berjalan sebentar dan jalan yang di laluinya tadi menghilang? Hey! Ini bukan seperti di film Harry Potter dimana sebuah tangga bisa berubah sesuka hati'kan!
"Khu hu hu hu hu,"
Mendengar suara perempuan yang tertawa membuat Rukia yang tenggelam dalam pikirannya sendiri sontak membalikkan badannya, tapi ia tidak melihat apapun di belakangnya. Salah satu alis Rukia terangkat, ia yakin kalau tadi merasa ada seseorang yang berdiri di belakangnya tapi kemana dia?
"…Mungkin cuma perasaanku saja," ujarnya kemudian sebelum meninggalkan tempat itu, menganggap apa yang di dengarnya itu hanyalah angin lalu.
"Kau mau kemana, gadis manis? Bukankah seharusnya kau tidak berada di sini,"
GLEK!
Rukia menelan ludah paksa, suara itu terdengar lagi tapi lebih dekat dari sebelumnya seolah wanita itu tepat di belakangnya. Dengan gerakan kaku, Rukia menoleh kebelakang dan seketika terbelalak dengan apa yang dilihatnya.
Seorang wanita yang menggunakan gaun bewarna merah, berkulit putih sangat pucat seperti mayat, memiliki rambut panjang sebahu dan memakai masker menatap Rukia. Dari gerakan matanya kelihatannya orang itu sedang tersenyum pada Rukia, namun gadis itu malah merasakan firasat buruk.
"Ano,,, apa yang anda laku-"
"Apakah aku cantik?" tanya wanita itu, memotong ucapan Rukia.
"Eh?" gumam Rukia.
"Apakah aku cantik?" wanita itu mengulangi pertanyaannya. Rukia dibuat bingung untuk menjawab, bagaimana ia bisa mengatakan wanita itu cantik atau tidak jika yang bersangkutan menggunakan masker yang hampir menutupi setengah wajahnya.
"Maaf, tapi aku tidak bisa melihat wajah anda," jawab Rukia jujur, sedikit rasa curiga terasa dari ucapannya.
"Oh, lalu aku akan membukanya," balas wanita itu sambil memberi gestur akan membuka maskernya. Rukia menunggu hingga wanita itu selesai dan langsung terkesiap begitu wanita itu memperlihatkan senyumnya tanpa terhalang apapun.
Benar-benar senyum murninya yang terlihat jelas tanpa penghalang sampai-sampai membuat geraham belakang dan lidah wanita itu terlihat jelas begitu ia tersenyum karena ia tidak memiliki pipi.
"Bagaimana? Apakah aku cantik?" tanya wanita itu lagi.
Rukia membatu di tempat, seluruh saraf motorik di tubuhnya menyuruhnya untuk segera lari dari sana namun otaknya tidak menjalankan perintah. Rukia tahu hantu jenis apa yang ada di depannya ini, Kuchisake-onna! Ia wanita bermulut sobek yang terkenal membunuh orang yang tidak menjawab pertanyaan yang sama setiap di ajukannya. Apakah ia cantik?
Dan jika orang itu lari, maka ia akan mengejarnya dengan sebuah sabit. Seperti dilakukannya sekarang pada Rukia yang entah kenapa tubuhnya kembali bergerak.
"Kyaaaaaa!"
Rukia berteriak sekuat tenaga, kakinya digerakannya dengan cepat! Tanpa menoleh ke kanan atau kiri, Rukia mengambil langkah ke labirin apapun sesuai instingnya!
"TUNGGUUUU~ BERHENTI KAU!"
Gadis itu kembali menambah kecepatan berlarinya begitu mendengar suara Kuchisake-onna di belakangnya. Diam-diam ia menoleh kebelakang dan terkejut setengah mati begitu melihat wanita itu mengejarnya cepat hingga beberapa langkah di belakangnya dengan sebuah sabit yang terlihat mengkilap terkena cahaya remang-remang.
Apakah Kuchisake-onna ini manusia yang benar-benar sedang berpura-pura? Kalau benar begitu kenapa sabit di tangannya terlihat begitu nyata! Tidak LUCU kalau Rukia tertangkap oleh seseorang yang mencoba menyamar jadi hantu namun terlalu mendalami perannya!
"KUBILANG BERHENTI!" perintah hantu itu tanpa mengurangi kecepatan larinya untuk mengejar Rukia.
Rukia kembali menoleh ke belakang, wajahnya memutih saat melihat sabit di tangan hantu itu. "Mana mungkin aku akan berhenti, bodoh!" tolak Rukia.
Tiba-tiba nafas Rukia kembali terasa sesak, ia sudah berlari terlalu jauh. Padahal tadi pagi belum sempat sarapan karena membuat bekal dan langsung dibawa kabur oleh Ichigo. Tenaganya jelas sudah terkuras! Sayang sekali, sebab di belakangnya orang yang 'mungkin' menyamar jadi hantu itu masih mengejarnya.
Langkah Rukia yang semakin lemah memperdekat jarah antara ia dan sang hantu, Rukia sudah tidak kuat lagi berlari. Beruntunglah Rukia saat kami-sama memutuskan untuk menolongnya. Ketika ia berbelok di Labirin terakhir ia bertemu cowok berambut orange yang memasang wajah terkejut begitu melihat Rukia dengan keringat bercucuran berlari ke arahnya.
"Rukia?"
Kurosaki Ichigo, langsung dibuat terheran-heran begitu Rukia dengan wajah bahagianya memeluk sang pemuda dengan sangat bersemangat sampai membuat Ichigo mundur beberapa langkah. "Hah?" hanyalah gumaman yang bisa dikatakan pemuda orenji itu.
Sebenarnya Ichigo baru sampai di sini beberapa menit yang lalu dan bermaksud menunggu Rukia, sebelum gadis itu datang dengan sendirinya dan tanpa aba-aba langsung memeluknya begitu saja.
Memang sih kalau tadi Ichigo sempat mendengar jeritan, tapi ia tidak berpikir kalau mungkin jeritan tadi berasal dari Rukia. Makanya saat merasakan tubuh Rukia yang berkeringat dingin dan sedikit gemetaran ia membiarkan sang gadis memeluknya lalu menenangkan sang gadis dengan memberi sentuhan ringan seperti mengelus rambut Rukia lembut.
"Jadi, apa yang kau lakukan sampai berlarian begitu?" tanya Ichigo.
Rukia menengadahkan kepalanya ke atas begitu ia merasa lebih tenang, di tatapnya Ichigo yang kini balik menatapnya. Saat Rukia sadar kalau ia kini memeluk Ichigo dengan cepat gadis itu menjauh dengan wajah memerah.
"Ku,Kuchisake-onna," jawab Rukia kemudian, suaranya terdengar pelan tapi cukup untuk di dengar Ichigo.
"Kuchisake-onna?" ucap Ichigo mengulangi perkataan Rukia.
Rukia menangguk pelan, "Tadi dia mengejarku sambil memegang sabit, karena takut aku berlari tanpa arah di Labirin sebelum bertemu denganmu," jelasnya.
Ichigo yang mendengar penjelasan Rukia langsung melihat ke belakang Rukia, ia menemukan sekelebat bayangan bewarna merah sebelum menghilang. Berjalan ke sana tanpa rasa takut, Ichigo pergi ke tempat asal Rukia datang sambil berlari tadi dan di buat mengepalkan tinjunya kesal saat melihat sang hantu Kuchisake-onna yang bergantian gemetar saat melihat Ichigo menangkap basah dirinya yang sedang mencoba menyembunyikan diri.
"Boleh aku tahu apa yang kau lakukan pada pacarku?" tanya Ichigo dengan nada datar namun penuh ancaman di dalamnya.
Hantu jadi-jadian bergaun merah itu terlihat berkeringat dingin sebelum menjawab pertanyaan Ichigo, "Ha-hanya mengejarnya, tidak perlu marah seperti itu kan, I-ichigo?" jawab sang hantu yang ternyata mengetahui nama sang pemuda.
Dengan alis berdenyut kesal, Ichigo tanpa aba-aba langsung melayangkan pukulannya pada sang tersangka. Membuat Rukia yang melihat adegan live itu terpaku di tempatnya.
"Jangan pernah membuat Rukia ketakutan seperti itu lagi, KAU MENGERTI!"
Dan acara rumah hantu siang ini, berakhir dengan teriakan membahana Ichigo yang terdengar sampai keluar wahana dan membuat pengunjung lain yang sedang menunggu giliran di luar mengurungkan niatnya saat mendengar gertakan Ichigo yang jauh lebih mengerikan di bandingkan melihat hantu di sana.
.
***# CHERRY #***
.
"Dia temanmu?"
Rukia menatap sosok di depannya dengan pandangan kaget, tidak percaya, bingung dan heran bercampur menjadi satu. Ichigo yang sedang berjalan di samping gadis itu menangguk pelan. Kini mereka berdua –Rukia dan Ichigo- baru saja keluar dari rumah hantu tadi istirahat sejenak di sebuah meja café setelah Rukia mengeluh kalau badannya terasa lelah saat dikejar hantu jadi-jadian tadi.
"Lebih tepatnya, Ishida Uryuu pemilik rumah hantu itu adalah temanku. Dia mendirikan wahana itu untuk biaya sekolah dan memaksa teman sekelas menjadi hantu di sana," jelas Ichigo singkat.
Rukia mengangguk kecil pertanda ia mengerti, wajar saja orang itu ketakutan waktu mengetahui jika Ichigo bersama dengannya. Kelihatannya orang itu ketinggalan berita tentang dirinya dan Ichigo yang sedang berstatus 'kekasih' meski terjadi karena kesalahan Rukia yang belum di katakan sang gadis pada Ichigo sampai sekarang. Dan penyebaran berita tentang mereka berdua, meluas lebih cepat dari yang mereka duga.
Rukia masih bisa merasakan kepalanya terasa berat saat tahu seisi sekolah mengetahui hubungannya dan Ichigo dalam waktu kurang dari 2 jam! Apalagi Ichigo sempat datang ke kelasnya dan membawanya kabur begitu saja hanya untuk di ajak berkencan.
"Lalu, mana balasan terima kasihmu?"
Ucapan Ichigo selanjutnya menghentikan lamunan Rukia, di tatapnya Ichigo dengan wajah bertanya yang untungnya diketahui sang pemuda.
"Makan siang, kau berjanji membuatkannya kemarinkan?" kata Ichigo mengingatkan. "Atau kau tidak membawanya?" selidiknya.
Rukia yang sampai beberapa detik lalu masih terdiam langsung menggeleng cepat begitu menyadari apa yang diinginkan Ichigo, dengan cepat di keluarkannya sesuatu dari dalam tas yang dibawanya. Mengeluarkan sebuah kotak bekal, Rukia meletakkannya di depan Ichigo dan dirinya sendiri.
"Berterima kasihlah, aku sudah bangun pagi-pagi hanya untuk membuatkanmu bekal ini," ujar Rukia.
Sebelah alis itu terangkat begitu melihat bekal Rukia yang tersedia di hadapannya, di bukanya kotak penutup bekal itu dengan ragu-ragu sambil sesekali menatap Rukia yang kini sedang tersenyum dengan bangganya.
KREK!
Tutup bekal itu terbuka, Ichigo membulatkan kedua irisnya dengan sempurna begitu melihat apa yang ada di dalam kotak itu. Sebuah kaki binatang berbentuk tentakel yang entah kenapa masih bergerak-gerak, bola-bola kecoklatan dengan saus kental bewarna merah darah, onigiri yang tidak berbentuk karena nasinya bertaburan entah kemana, sayuran yang di potong dadu tapi bewarna biru, ungu, pink dan warna aneh lainnya yang sangat tidak mungkin untuk sayuran juga terakhir minuman yang disediakan Rukia terlihat memiliki beberapa gelembung yang meletus-letus layaknya sebuah ramuan.
Ichigo melihat ke arah Rukia yang masih menyimpan senyum bangganya, iris violetnya memperhatikan gerakan Ichigo, berharap pemuda itu secepatnya memakan makanannya dan memberikan komentar.
"Rukia, bisa kau bantu aku menjelaskan apa yang kau buat ini?" tanya Ichigo, iris cinnamonnya masih memperhatikan bekal istimewa Rukia.
Sementara Rukia sendiri kini tersenyum lebar dan dengan semangat menjelaskan masakannya pada pemuda di depannya. "Aku dibantu kakakku saat membuat bekal ini, ia sangat pintar memasak. Pertama ia menyuruhku membuat cumi sesuai petunjuknya, dia bilang seusai jalan-jalan kau harus menambah tenaga dengan memakan makanan laut," kata Rukia memulai penjelasannya.
Sesaat Ichigo sempat lega ketika tahu Rukia dibimbing kakaknya yang pintar memasak, tapi rasa lega itu hanya sebentar ketika Rukia menjelaskan cara membuat bekalnya.
"Aku buat cumi-cumi itu sesuai petunjuknya tapi kutambahkan beberapa bumbu, lalu kubuat bola-bola daging dengan saus aneh yang kebetulan ada di dapur, tidak lupa ketika memasak sayuran kutambahkan warna yang mencolok agar lebih menarik dan terakhir saat membuat onigiri aku sedikit kesusahan karena masih panas jadi bentuknya memang sedikit aneh. Kujamin kau menyukai masakanku, Ichigo!" komentar gadis itu di akhir penjelasannya.
Mungkin Rukia tidak sadar jika ia menjelaskan makanannya sangat bersemangat hingga menarik perhatian pelayan bahkan orang-orang di sekitar café, mereka melihat masakan Rukia untuk Ichigo dengan tatapan penasaran…sebelum wajah mereka berubah membiru saat menatap bekal itu.
Dengan cepat mereka mencuci mata dengan makanan lain yang lebih 'layak'. Beberapa orang bahkan menatap iba pada Ichigo, menyemangati pemuda itu untuk menjalani 'rintangan' di hadapannya.
Ichigo sendiri kini dilanda bingung, ia ragu akan memakan bekal itu atau tidak, ia sudah kehilangan selera makannya dalam sekejab tadi. Ia ragu apakah perutnya masih baik-baik saja setelah menerima masakan itu.
"Kau tidak ingin memakannya, Ichigo?" tanya Rukia, memecahkan keheningan yang tercipta.
Ichigo kembali menatap Rukia, gadis itu kelihatannya sadar dengan keterdiamannya. Ichigo bermaksud mengembalikan kotak bekal itu pada Rukia karena nafsu makannya hilang, sebelum ia menyadari rasa kecewa yang lebih dulu menyampiri wajah Rukia. Ok! Ichigo memang seorang biang onar dan suka melakukan tindak kekerasan, tapi ia paling anti main tangan dengan wanita dan juga tidak suka jika air mata perempuan mengalir karenanya. Apalagi saat memikirkan bahwa Rukia membuatkan bekal ini khusus untuknya.
"Tentu saja kumakan," jawab Ichigo, senyum lebar ia usahakan terpampang di wajahnya. "Kau sudah susah payah membuatnya, apapun bentuknya tapi aku akan memakannya," lanjutnya kemudian.
Senyum Rukia yang sempat pudar kembali merekah, di amatinya Ichigo yang sedang mengambil suapan pertamanya menggunakan sendok. Ichigo berusaha tidak terlihat gugup saat memasukkan 'benda' itu ke mulutnya, berpasang-pasang mata di sana menonton perjuangannya hingga ruangan itu kini tanpa sadar diliputi keheningan.
GLUP!
Makanan itu masuk ke mulutnya, Ichigo kini mengunyahnya sambil menutup mata, menunggu reaksi yang terjadi sampai kelopak matanya terbuka kembali bersamaan dengan sendok yang dipegangnya terjatuh, menyuruh orang-orang yang menonton menahan nafas.
"Enak sekali," komentar Ichigo pelan.
Mata Rukia langsung berbinar senang, orang-orang yang menonton terdiam dengan mulut yang membentuk huruf 'O'. Ternyata di luar dugaan, meski memiliki bentuk yang tidak meyakinkan namun rasanya sungguh enak. Salah satu keajaiban yang diciptakan seorang Kuchiki Rukia.
"Sudah kukatakan kalau itu pasti enak," ujar gadis itu sambil tersenyum kembali ditambah dengan salah satu jempolnya yang teracung, membuat Ichigo yang melihat senyumnya terpana. Dan juga mengembalikan keramaian yang sempat menghilang di café tempat mereka berdua duduk, pengunjung di café itu kembali melanjutkan aktivitasnya.
Ichigo yang baru sadar beberapa saat kemudian langsung melanjutkan makannya, lalu kembali terhenti ketika melihat Rukia yang hanya diam sambil memandanginya yang sedang makan.
"Kau tidak ikut makan, Rukia?" tanya Ichigo.
Rukia yang mendengar pertanyaan Ichigo kemudian menggeleng, "Tadi pagi aku hanya sempat membuat bekal untuk satu orang, kurasa aku akan makan setelah pulang dari sini saja," jawab Rukia.
Ichigo mengerutkan alisnya lebih dalam, ditatapnya bergantian antara bekal dan di hadapannya dengan Rukia. Kemudian, dengan wajah sedikit bersemu merah Ichigo menggeser letak kotak bekal itu ke tengah meja. "Kita makan bekal ini berdua," ucapnya.
"Hah?" gumam Rukia, di tatapnya Ichigo dengan pandangan yang mengatakan tidak-perlu–mengkhawatirkan–ku.
"Aku akan susah kalau kau tiba-tiba pingsan di tengah kencan kita hanya karena tidak makan," ujar pemuda itu.
Rukia mengerucutkan bibirnya saat mendengar ucapan Ichigo yang mengatakan bagian 'susah' dan 'tidak makan'. Tapi gadis itu kemudian menurut lalu mengambil salah satu sendok yang ada di meja dan menghabiskan bekal yang dibuatnya tadi bersama Ichigo dengan wajah memerah.
Sebenarnya, baik Ichigo maupun Rukia bisa memesan makanan yang memang tersedia di café tempat mereka sekarang hingga tidak perlu kembali ditatap pengunjung café karena menjadi pusat perhatian.
Tapi memang lebih baik jika mereka tidak tahu, sebab kedekatan mereka setelah ini tidak akan terbentuk jika mereka memesan makanan yang ada di café.
.
***# CHERRY #***
.
Rukia merentangkan kedua tangannya ke udara, rasa lelah mulai menghampiri gadis ini. Kedua iris violetnya menatap jam yang melingkar manis ditangannya, pukul 5 sore. Tidak terasa sudah lebih dari 8 jam sejak ia dan Ichigo datang ke taman bermain ini, wajar saja jika kini semua tubuhnya terasa sangat lelah.
"Rukia, bisa kau temani aku sebentar?"
Rukia menolehkan kepalanya kebelakang ketika mendengar suara Ichigo, dilihatnya sang pemuda tengah masuk ke salah satu toko yang ada di gerbang keluar taman. Mengangguk kecil, Rukia mengikuti langkah sang pemuda dari belakang di sertai rasa penasaran mengapa pemuda itu ingin masuk ke toko aksesoris wanita di tempat ini, apa mungkin Ichigo ingin memberinya hadiah?
Wajah Rukia terasa memanas saat pemikiran tadi muncul di kepalanya, segera digelengkan kepalanya kuat melupakan pikiran konyolnya barusan, mana mungkin Ichigo ingin memberinya hadiah?
Ayolah, Ichigo bukan tipe laki-laki romantis yang akan menawarkannya rangkaian bunga mawar sambil bersimpuh dan mencium tangan kanannya layaknya seorang putri!
"Kau ingin mengambil itu?" tanya Rukia, begitu kedua matanya melihat sepasang gelang dan ikat rambut bewarna pink dengan corak bunga sakura kini berada di tangan Ichigo.
"Ya, besok hari ulang tahun adik perempuanku," jawab Ichigo. Pemuda itu kembali menelusuri toko mencari sesuatu yang menarik perhatiannya.
Rukia membatu di tempatnya, mencoba mencerna apa yang di katakan Ichigo tadi dalam benaknya. "Heegh? A-adik? Jadi kau mempunyai seorang adik?" ujarnya dengan nada tidak percaya.
Ichigo berbalik menatap Rukia, kedua alisnya saling bertautan. "Kenapa? Memangnya aku belum memberitahumu?" tanya balik sang pemuda.
Rukia menggeleng cepat, ia tahu kalau Ichigo dan Kaien itu bersaudara saja sudah membuatnya kaget. Sekarang ia mendapatkan informasi baru kalau ternyata Ichigo dan Kaien memiliki adik?
"Kalau kau mau, akan ku ajak kau menemui mereka besok. Memperkenalkanmu pada mereka bukanlah rencana yang buruk," ujar Ichigo sambil menyeringai lebar, sebuah rencana terpikir di otaknya.
.
***# To be continued #***
.
Apakah hanya perasaan Mira saja atau akhir ceritanya memang terlalu….garing? (=.=")
Mira memang agak kekurangan ide pas bagian endingnya, soalnya takut buat yang lebih panjang dari ini. *kebiasaan buruk sang author*
Ya sudahlah, yang penting Chapter 2 selesai! *lompat2 kelinci*
Untuk info, Mira putuskan bahwa chapter 3 besok adalah chapter final dari CHERRY! Adakah yang penasaran? Apakah Rukia akan mengatakan yang sebenarnya dan meninggalkan Ichigo? Atau kedua muda-mudi ini menjadi pasangan serasi nantinya?
Silahkan menunggu dengan sabar sebab jawabannya ada di chapter depan. ('w')
Untuk readers Mira sudah balas reviewnya lewat PM, bagi yang nggak login Mira jawab reviewnya di sini ya~
Crystalline Arch: Se-sekomputer? (OAO) Kaya'nya kita senasib ya. Semua data kita hilang. *jabat tangan* Fu fu fu jelas banget Chi-san cemburu waktu lihat Kaien dekat sama Rukia. *ngebayangin wajah Ichigo* Arigatou sudah review ya~ (n_n) Jangan lupa baca chapter depan~
Arienne39: Sekarang sudah update! Gomennasai sudah buat Arienne lama menunggu. Arigatou sudah review ya~ jangan lupa review untuk chapter ini juga! (^U^)
chappy: Arigatou sudah review, chappy~ yupz, chappy benar! Awalanya Mira mau buat sms salah kirim, tapi gak jadi karena Mira putuskan untuk sedikit mengerjai Rukia di hadapan Chi-san. *woy!* Jangan lupa baca chapter depan ya~
Ok! Balas reviewnya selesai! Sekarang saatnya berpisah!
Sampai chapter depan, readers! Jangan lupa Review untuk chapter ini! Semakin banyak review maka Mira akan semakin semangat buat updatenya~
Sayounara~ (n_n)
I am NOTHING without my readers, my friend, my family, and you…
So, thank you….thank you so much !
MiRai MiNe
