Akhirnya~ Mira berhasil update! *nangis terharu* (T.T)
Maafkan Mira karena update yang terlalu lama, minna! Mira benar-benar menyesal karena telah membuat readers menunggu. m(_ _)m
Sebenarnya Mira punya sedikit kabar kalau chapter ini bukanlah chapter final, chapter final akan Mira tampilkan di chapter 4 nanti karena fic ini di luar dugaan sudah terlalu panjang.
Arigatou Gozaimasu! Terima Kasih kepada readers dan silent readers yang sudah bersedia membaca dan menunggu fic Mira, memberikan komentarnya, memberikan fave dan follownya. Saat membaca review yang readers tuliskan Mira sampai senyum-senyum sendiri dan membacanya berulangkali sebagai motivasi. Hontou ni Arigatou! *nunduk hormat*
Yosh! Ayo kita mulai ceritanya! Happy Reading, minna~ (^u^)
\(^0^\)"Selamat Membaca, minna-san~!"(/^0^)/
***# CHERRY #***
#*** Mirai Mine***#
.
Disclamer: Bleach bukan milik Mirai mine! Tite Kubo-sensei secara penuh memiliki hak atas Bleach! Mira hanya mempunyai kepemilikan SAH terhadap akun dan cerita fic ini.
Rated: T
Pairing : Ichigo x Rukia slight Kaien x Rukia
Genre : Friendship and Romance
Words : 7636 –murni panjang cerita-
Warning : typo(s), Alternated Universe (AU), Out Of Character (OOC), alur kecepatan, bahasa tak formal! Don't like? Don't read! I have warned you so don't blame this pairing! *plak!*
***# CHERRY #***
Cahaya keemasan memasuki celah-celah tirai kamar yang memiliki warna di dominasi violet, suara burung kecil yang bernyanyi di pagi hari untuk menyambut mentari pagi terdengar jelas dari pohon di samping jendela kamar. Di atas kasur seorang gadis tengah tertidur dengan damainya sambil membenamkan dirinya dari dinginnya udara pagi di bawah selimut tebal dan bantal empuknya.
Kedua kelopak matanya tertutup rapat, menyembunyikan sepasang iris indah yang tersimpan di sana. Dengkuran halus yang teratur terdengar dari celah bibirnya yang ranum, sedangkan tangannya memeluk erat sebuah boneka kelinci putih yang diberikan seseorang padanya kemarin.
KRIIIIING!
Suara alaram yang berbunyi kemudian menganggu ketenangan di dalam kamar, sang gadis yang tengah tertidur terlihat terganggu dengan sumber suara yang berasal dari meja kecil di sebelah tempat tidurnya. Dengan mata yang masih terpejam serta kesadaran yang belum sepenuhnya kembali, tangan mungilnya mencoba menggapai jam kecil yang terus berbunyi dan mengusik tidur pulasnya.
Ketika jemarinya mulai menyentuh jam tadi, dengan cepat di tekannya tombol yang berada di satu sisi jam dan menghentikan bunyi yang memekakan telinga itu.
Berhasil melaksanakan misinya, gadis tadi kembali membenamkan wajahnya pada bantal di bawahnya, mencoba kembali melanjutkan tidurnya sebelum suara lain yang jauh lebih keras datang ke kamarnya.
"Rukia, sekarang sudah pagi. Ayo bangun!"
Suara seorang perempuan dewasa terdengar dari balik pintu kamar sang gadis, tak selang beberapa waktu kemudian pintu kamarnya terbuka, menampakan seorang perempuan berwajah serupa dengannya namun memiliki rambut yang lebih panjang, Kuchiki Hisana. Dia adalah kakak kandung dari gadis yang baru terjaga dari dunia mimpinya ini, Kuchiki Rukia.
"Ungh..,izinkan aku tidur sebentar lagi, Hisana-nee," gumam Rukia. Matanya masih terasa berat untuk terbuka, ia masih ingin melanjutkan tidur pagi harinya.
"Rukia!"
Menggelengkan kepala karena tingkah adik kandungnya ini, Hisana dengan kaki yang dihentak-hentakkan berjalan ke kasur Rukia dan langsung menarik paksa selimut yang kini kembali menggulung tubuh Rukia.
"Cepat bangun dan sarapan di bawah!" tegas Hisana.
Tidak ingin mendapat teguran lebih keras lagi dan yakin kalau ia tidak bisa melanjutkan tidurnya setelah kedatangan Hisana, Rukia segera bangkit dari atas kasur.
Penampilan khas orang yang baru bangun tidur terlihat jelas pada dirinya, rambut hitamnya terlihat acak-acakan, matanya setengah terbuka serta kantong mata bewarna kehitaman dan wajahnya terlihat lesu, pertanda bahwa sang gadis beriris senada dengan kamarnya itu belum sepenuhnya terjaga.
Rukia mengangguk pelan, ia mengambil handuk yang tergantung di lemari dan berjalan menuju kamar mandi dengan langkah gontai. Ya, sekali lagi Rukia mengalami kurang tidur sejak kencannya kemarin dengan Kurosaki Ichigo.
Cowok itu baru membawanya pulang jam 8 malam setelah makan malam bersama di luar, membuat Rukia mendapat ceramah dari Hisana yang khawatir lebih dari 3 jam hingga membuatnya tidur saat malam telah larut. Ceramah dari kakak kembaran dirinya itu baru berakhir saat suami Hisana, Kuchiki Byakuya pulang dari kerja.
Dan di sinilah Rukia, terjebak dalam kemarahan Hisana. Kakak kembarnya itu sebenarnya bukan tipe orang yang mudah marah, namun jika sudah membuat masalah dengannya maka kemarahan Hisana lebih mengerikan dari pada suaminya, Byakuya.
"Ohayou, Byakuya-nii sama," sapa Rukia ketika melihat kakak iparnya sedang menyeduh kopi hitam panas di meja makan.
Byakuya melirik Rukia yang baru turun dari tangga sekilas sebelum membalas sapaan Rukia dengan sangat singkat "Ohayou," lalu kembali menikmati sarapan paginya yang sempat tertunda.
Rukia mengambil kursi dan mendudukan diri di meja makan bersebrangan dengan tempat duduk Byakuya, ia sudah terbiasa dengan sikap dinginnya Byakuya.
Di hadapan Rukia kini sudah tersedia telur mata sapi, sossis, roti, beberapa sayuran dan segelas susu, menu sarapan yang biasa di buat Hisana di hari Minggu seperti sekarang. Sarapan yang tergolong sehat, sesuai dengan Hisana yang selalu menyuruh orang-orang di rumah memakan makanan yang bebas lemak dan kalori.
"Lain kali, jangan pulang terlalu larut, Rukia. Hisana mencemaskanmu seharian," ujar Byakuya angkat suara, iris hitam kelamnya menatap Rukia tajam. Rukia menghentikan sarapannya, menatap Byakuya dan mengangguk kecil menandakan kalau ia mengerti.
Bagi orang lain, mungkin pandangan Byakuya ini terlihat normal seperti kebanyakan kakak yang mengkhawatirkan adiknya. Tapi bagi Rukia yang sudah kenal dan tahu persis sikap Byakuya, ia mempunyai firasat tersendiri kalau Byakuya sudah lelah menenangkan Hisana dan memintanya jangan mengulangi hal yang sama jika tidak mau uang jajan bulanannya dikurangi.
Sudut mata Rukia kemudian menangkap jam yang terpasang di dinding ruang makan, pukul 7 pagi. Seingatnya kemarin sebelum mengatarnya ke rumah, Ichigo mengatakan padanya kalau ia akan menjemput Rukia untuk pergi ke rumah keluarganya.
Jujur, Rukia merasa keberatan dengan tawaran itu. Bukannya benci atau apa, tapi biasanya jika kita sudah mengenalkan lawan jenis ke hadapan orang tua sendiri bukankah itu berarti lamaran dan sejenisnya?
Rukia belum siap untuk itu, terlebih lagi hubungan ia dan Ichigo masih belum cukup seminggu malah baru 3 hari dengan sekarang. Apa pemuda itu tidak terlalu cepat membuat keputusan?
Tapi ketika melihat kalau sekarang sudah pukul 7 rasanya Ichigo tidak akan datang. Ichigo bilang akan menjemput Rukia pagi-pagi karena rumah keluarganya berada di Tokyo, Rukia berpendapat kalau mereka akan naik shinkasen yang berangkat pukul 7 pagi agar lebih cepat dan menghemat waktu.
Namun, melihat kenyataan bahwa Ichigo jam sekarang masih belum datang menjemputnya dan tidak ada kabar seperti pesan dan telepon dari sang pemuda. Rukia merasa kalau rencana itu batal, bisa saja Ichigo tiba-tiba diajak latihan basket oleh Kaien karena pertandingan timnya yang sudah dekat.
Entah Rukia harus senang atau sedih sekarang, harusnya ia merasa senang karena hari ini bisa istirahat tapi ia juga harus bersedih karena sejak Kaien menjadi pelatih sementara klub basket Ichigo, waktu ia bertemu dengan pemuda berambut raven itu berkurang.
"Bagaimana, Hisana? Orang itu sudah pergi?"
Rukia tersadar dari lamunannya sendiri ketika mendengar kembali suara Byakuya, kini di sampingnya berdiri Hisana yang sedang memegang piring kotor bekas sarapan sambil sesekali melihat ke luar jendela di samping ruang makan.
"Dia masih belum pergi, sudah lebih dari sejam ia berdiri di sana. Kenapa tidak diajak masuk ke dalam saja, Byakuya-sama? Mungkin dia sedang menunggu seseorang di rumah ini," komentar Hisana.
Byakuya menggeleng pelan, "Terlalu berbahaya, menurutmu apa sebaiknya aku panggil polisi saja?" saran Byakuya, tangannya kini sudah sibuk menekan beberapa digit angka dari ponselnya.
Rukia menaikkan sebelah alisnya, bingung dengan pembicaraan 2 anggota keluarganya barusan. Siapa yang mereka bicarakan? Apakah terjadi sesuatu di luar sana?
"Apa yang sedang kalian bicarakan, Hisana-nee?" tanya Rukia, melepaskan pertanyaan di pikirannya dalam satu kalimat barusan pada Hisana. Hisana menoleh saat mendengar namanya dipanggil, ketika ingat kalau Rukia belum mengerti arah pembicaraan mereka Hisana segera buka mulut.
"Sejak pagi tadi, ada orang asing yang berdiri di depan rumah kita," jelas Hisana.
"Orang asing?" gumam Rukia, rasa penasaran menyelimutinya. Jarang sekali ada orang asing yang muncul di rumah mereka, biasanya kebanyakan tamu akan langsung memencet bel dan masuk ke dalam, bukannya menunggu di luar begitu saja.
"Ia berdiri di depan rumah kira-kira pukul 6 tadi sebelum Rukia bangun, awalnya kukira ia menunggu seseorang atau mencari alamat dan ingin menghampirinya tapi Byakuya-sama melarangku," lanjut Hisana kemudian.
"Aku melarangmu karena orang itu terlihat berbahaya, Hisana," ujar Byakuya, menyanggah perkataan Hisana yang memberi kesan bahwa ia orang yang overprotektif terhadap istrinya.
Mendengar kalimat terakhir dari Byakuya tadi berhasil Rukia terdiam, perasaan tidak tenang menghampirinya seketika. Jangan katakan padanya kalau orang asing itu…
"Se-seperti apa ciri-cirinya?" tanya Rukia sedikit ragu.
"Seorang pemuda berambut orange terang dengan alis berkerut dan dandanan mencolok yang menggunakan motor bewarna hitam," jawab Byakuya.
"Tapi kalau di lihat dari dekat dia lumayan tampan lho, Byakuya-sama," ucap Hisana, membela pemuda orenji dalam pembicaraan mereka.
"Meski kau bilang begitu aku tetap tidak akan mengizinkanmu bertemu orang asing yang belum jelas begitu, Hisana," kata Byakuya tegas.
Hisana mengerutkan alisnya kesal, bagaimanapun juga Byakuya itu terlalu khawatir berlebihan padanya. Pernah suatu kali Hisana berbelanja lebih lama dari biasanya karena mencari bahan makan malam yang sudah habis di minimarket dekat rumah mereka dan Byakuya nyaris menelpon polisi setempat karena berpikir istrinya diculik atau mengalami kecelakaan di jalan pulang.
Jangan heran mengapa Byakuya bisa menghubungi polisi sesukanya seperti menghubungi food chatering, laki-laki tampan ini bekerja sebagai seorang inspektur di Kepolisian Karakura. Menghubungi polisi yang merupakan bawahannya bisa ia lakukan sesukanya.
Ketika Hisana sampai di rumahnya sepulang belanja di tempat lain, ia hanya bisa membatu di tempat melihat rumahnya di kerumuni mobil polisi dengan sirine yang memekakkan telinga lengkap dengan orang-orang yang berkerumun dan Rukia yang menangis histeris seolah rumahnya baru saja menjadi TKP pembunuhan.
"Kuharap kau setuju dengan pemikiranku, Rukia. Bukankah kakak iparmu ini orang yang punya kecemasan berlebihan?" kata Hisana, meminta persetujuan dari Rukia.
Tidak mendengar sahutan Rukia, Hisana menoleh ke kursi tempat adiknya masih duduk manis beberapa saat lalu kini sudah kosong. Matanya berkedip sebentar sebelum mulutnya terbuka membentuk huruf 'O' hal yang sama juga dialami oleh Byakuya dimana iris hitam miliknya membulat sempurna.
BRAK!
Suara pintu yang tertutup keras beberapa detik kemudian membuat pasangan suami-istri itu menoleh seketika, menatap horor pintu rumah mereka yang sudah memiliki sedikit retakan di pinggirnya. Apakah Rukia yang melakukan ini? batin mereka berdua.
Sementara gadis yang tengah di bicarakan, tidak menanggapi retakan pintu yang dibuatnya dan berlari menuju pagar rumah secepat yang ia bisa. Ada yang harus ia pastikan sekarang ini, jika dugaannya tidak salah maka seharusnya orang itu,
Langkah Rukia terhenti begitu melihat sosok seorang pemuda orange yang memakai jaket hitam sedang berdiri bersandar pada motor hitam di belakangnya, senyum lebar dimunculkan sang pemuda begitu melihat Rukia.
Benarkan? Apa yang ia khawatirkan sejak tadi menjadi kenyataan…
Kurosaki Ichigo, kini sedang berdiri dan melambai ke arahnya. Bertepatan dengan kedatangan Hisana dan Byakuya yang menyusul Rukia ke teras, kelihatannya…hari ini akan menjadi hari yang panjang bagi Rukia.
***# CHERRY #***
"Tambah."
Tersangka orang asing yang dibicarakan beberapa menit lalu, Kurosaki Ichigo, kini dengan santainya duduk di meja makan dengan hidangan sarapan yang masih mengepul di hadapannya. Sebuah mangkok kosong dengan butiran nasi di pinggirannya kini terarah pada dapur, menunggu untuk diisi.
Rukia melihat Ichigo dengan tatapan cemberut, bibirnya dimajukan hingga membuat yang dipandangi tertawa geli dalam hati. Sudah ia duga, gadis mungil ini pasti akan kaget dengan kedatangannya yang tiba-tiba.
Iris cinnamon Ichigo kemudian beralih dari Rukia pada laki-laki yang duduk di sebelah gadis itu, laki-laki berambut hitam kelam dengan wajah dingin yang terus memberikan tatapan tajam menusuk seolah ingin menendangnya keluar dari rumah Rukia sejak kedatangannya tadi. Merasa dirinya ditatap seperti ini, Ichigo memberikan seringai khasnya…bermaksud menantang sang 'tuan rumah' dan seringaiannya semakin lebar saat laki-laki itu menatapnya lebih tajam lagi.
"Wahh~ ternyata kekasih Rukia makannya lumanyan banyak juga ya~," suara Hisana terdengar -sangat- riang terdengar dari dapur. Tak selang beberapa lama kemudian, kakak kandung Rukia itu sudah kembali dengan semangkok nasi di tangan kanannya dan semangkuk kare sisa makan malam kemarin di tangan yang lain.
"Sebab masakan yang anda buat terasa sangat enak, Hisana-san," komentar Ichigo manis, lengkap dengan sebuah senyuman ramah di wajahya.
Mendengar kalimat Ichigo membuat Hisana tersipu, semburat merah muda terlihat kontras di pipinya yang putih. Sedangkan…reaksi berbeda dilihatkan oleh Rukia dan Byakuya.
Rukia dengan mata yang membulat sempurna dan alis yang terangkat tinggi, menatap Ichigo dengan wajah yang benar-benar pucat dan keringat dingin di keningnya. Telunjuknya terarah pada Ichigo dengan gemetar dan tatapan syok, Hey! Bagimana mungkin Kurosaki Ichigo bersikap sesopan itu!
Dan Byakuya memberikan reaksi yang JAUH lebih berbeda, ia membatu di tempat dengan mata yang membulat sempurna dan aura kelam di sekitarnya lengkap dengan simpangan empat merah besar di keningnya. Membuat siapa saja yang berada pada jarak ini akan mencari tempat perlindungan pertama dari amukan sang 'dewa sakura'.
Namun, kelihatannya reaksi Byakuya ini tidak memberikan pengaruh berarti pada Ichigo. Buktinya, pemuda itu masih santai menggunakan sumpitnya untuk mengambil nasi yang telah sampai di genggamannya.
"Jadi, apa yang membuat pemuda 'baik-baik' sepertimu datang ke kediaman kami, Kurosaki Ichigo," gumam Byakuya pelan dengan penekanan mendalam pada kata 'baik-baik'. Sifat posesif untuk melindungi setiap anggota keluarganya dari orang berbahaya seperti 'Ichigo' kelihatannya sudah bangkit.
"Hmm? Aku hanya menjemput Rukia, kami akan berkencan," ujar Ichigo polos, tanpa menyaring ucapannya terlebih dahulu sehingga menimbulkan efek seperti menyiram minyak dalam api.
CTAK!
Simpangan empat di kening Byakuya semakin membesar, tangannya terkepal kuat dan iris matanya meihat setiap gerakan Ichigo dengan sangat 'detail'
"Berkencan? Memangnya kau ini siapa?" tanya Byakuya, ia masih berusaha menahan sikap stay cool andalan miliknya.
"Pacar Rukia, memangnya kau tidak tahu?" kata Ichigo, menghentikan makannya dan meletakkan sumpit yang sedari tadi di pegangnya ke atas meja. Iris cinnamon miliknya balik menatap iris kelabu Byakuya, sudah cukup! Ia tidak ingin dipandangi lagi dan ditanyai seperti seorang tersangka kejahatan yang menculik anak di bawah umur –atau memang itulah kenyataannya-.
"Kau kakak ipar yang buruk sekali, apa kau terlalu sibuk bekerja sampai tidak memperhatikan adikmu yang manis, eh?" lanjutnya kemudian.
TRANG!
Byakuya merasa sebuah katana baru saja menusuk ulu hatinya, apa-apaan orang ini! Seenaknya masuk dan makan di rumahnya bahkan memberi komentar pedas serta melawan tuan rumahnya sendiri!
Memang pernah ada perumpamaan 'Tamu adalah RAJA' namun kelihatannya kiasan itu sudah tidak berlaku lagi bagi kondisi Byakuya saat ini. Kedua tangannya terkepal kuat, urat nadi kepalanya mengeras dan tatapannya pada Ichigo memiliki arti seolah-olah ia ingin membunuh sang pemuda dan membuatnya terlihat seperti kecelakaan.
Hisana dan Rukia yang sudah lebuh dulu menyadari akan adanya Perang Dunia III di dapur kecil mereka segera angkat kaki dari sana dan kelihatannya mereka mengambil keputusan yang tepat…
…sebab beberapa saat setelah mereka pergi, bunyi piring yang pecah serta beberapa teriakan amukan tidak jelas terdengar dari dalam dapur.
***# CHERRY #***
Rukia mengeratkan pegangannya pada Ichigo, kelopak matanya ditutupnya erat agar debu yang berterbangan akibat hembusan angin di sekitarnya tidak masuk ke mata.
Saat ini, ia sedang menaiki motor Ichigo bersama dengan sang pemuda, menerobos jalanan dengan kecepatan –sangat- tinggi setelah Ichigo dengan ajaibnya keluar dari dapur rumahnya tanpa luka sedikitpun dan langsung membawanya kabur dari rumahnya selang sepersekian detik kemudian.
Rukia tidak tahu bagaimana caranya hingga pemuda itu bisa selamat dari -amukan- kakaknya namun ia tidak berani bertanya, terlebih setelah melihat ekspresi Byakuya yang keluar dari rumah setelah melihat kepergian mereka. Oh, Rukia berjanji tidak akan bisa melupakan wajah kakaknya saat itu. Kelihatannya nanti ia harus membantu Hisana untuk membereskan kekacauan di dapurnya.
Membuka perlahan kedua matanya, Rukia menoleh ke belakang dan terkejut saat melihat stasiun kereta api sudah berada jauh di belakangnya. Sebuah pertanyaan melintas di kepalanya 'Apa mereka berdua tidak akan naik kereta api?'
Melihat kenyataan kalau jarak antara Karakura dan Tokyo cukup jauh rasanya tidak mungkin jika mereka hanya menaiki motor ke sana. Menggunakan shinkasen saja memakan waktu 2 setengah jam, tentu saja jika memakai motor akan memakan waktu kira-kira setengah hari.
Menatap punggung Ichigo yang masih mengendarai motornya, Rukia memberanikan diri bertanya. "Ichigo, kita tidak pergi dengan kereta api?"
Ichigo menoleh sebentar pada Rukia sebelum kembali mengalihkan perhatian pada jalan raya, "Tidak," jawabnya singkat.
Kening Rukia mengerut, jika mereka tidak naik kereta api lalu bagaimana mereka bisa sampai ke Tokyo?
"Lalu kita pergi ke Tokyo dengan apa?" tanyanya lagi.
"Sepeda motor," ujar Ichigo.
"Ooh, begitu," Rukia menanggapi.
Hening sejenak, tidak ada yang berbicara baik Rukia maupun Ichigo. Rukia merasa ada yang mengganjal dan berpikir ulang maksud dari jawaban Ichigo ke dalam otaknya, berbagai pertimbangan kemudian muncul dalam pemikirannya.
Pertama, jarak antara Karakura dan Tokyo cukup jauh jika menaiki shinkasen akan masuk ke dalam bawah tanah melewati laut sedangkan kalau lewat jalur transportasi darat biasa harus memutar melewati beberapa kota kecil dekat perbukitan.
Rukia mulai menimbang-nimbang, jika menggunakan shinkasen memakan waktu 2 setengah jam berarti jika memakai sepeda motor. Kini Rukia berusaha menghitung dalam pikirannya, membayangkan sederet angka dan beberapa rumus matematika untuk mendapatkan hasilnya.
Tak lama kedua bola mata Rukia membulat sempurna, ia berhasil jawabannya. Menggunakan sepeda motor akan memakan waktu kira-kira 6 setengah jam!
"ICHIGO!"
Dan pekikan keras dari Rukia, berhasil membuat seluruh pengguna jalan saat itu menoleh pada mereka berdua.
"Apa kau bodoh! Mengendarai sepeda motor ke Tokyo memakan waktu setengah hari!" pekik Rukia.
"Hah? Apa maksudmu, Rukia?" tanya Ichigo balik, sebelas alisnya terangkat heran mendengar ucapan Rukia.
"Maksudku, kita seharusnya berhenti di stasiun dan naik kereta selanjutnya untuk pergi ke Tokyo!" jawab Rukia.
"Aku tidak suka naik kereta," ujar Ichigo.
"Tapi kita tidak mungkin pergi ke sana dengan motor!" emosi Rukia mulai tersulut, apa pemuda berambut orenji ini tidak mengerti betapa jauhnya ibu kota negara jepang itu?
"Kita bisa sampai lebih cepat dari itu tahu. Kau cukup diam dan pegangan erat-erat!" balas Ichigo.
"Mana mungkin aku bisa diam begitu saja! Kau pikir aku akan terima begitu saja menaiki motor selama 6 jam denganmu!"
Rukia kembali melawan, tidak mau kalah dalam perang mulut antara ia dan Ichigo. Meskipun ia perempuan dan lawannya adalah seorang Kurosaki Ichigo ia pantang mengalah. Tidak ada kata 'mengalah' dalam kamus hidup seorang Kuchiki Rukia.
Dan karena pemikiran Rukia inilah, perdebatan yang terjadi antara dua orang yang sama-sama keras kepala ini terus terjadi meski kini mereka masih berada di atas motor mereka, melintasi jalan raya yang saat itu sedang ramai dengan kecepatan tinggi diselingi perdebatan tak berguna yang tidak tahu kapan mempunyai jalan penyelesaian. Berikan tepuk tangan meriah pada pasangan pengendara motor nekat kita ini.
"Jadi, dengarkan aku dulu!" ucap Ichigo akhirnya, ia mulai lelah melakukan dua pekerjaan secara bersamaan sejak tadi, antara mengendarai motornya dan menyelesaikan perdebatannya dengan Rukia.
Ketika ia tidak mendengar suara Rukia lagi, Ichigo melanjutkan ucapannya. "Kau pikir aku akan membawau ke Tokyo tanpa berpikir panjang? Aku sudah sering pergi ke Tokyo lewat sini dan tahu jalan pintas yang lain. Aku tidak mungkin membiarkan seorang gadis sepertimu berjemur di bawah matahari seharian lebih," jelas Ichigo. Ia harap penjelasannya barusan bisa di mengerti Rukia dengan mudah sehingga ia bisa kembali berkonsentrasi pada jalanan di hadapannya.
Namun kelihatannya, penjelasan yang di berikan Ichigo sedikit berlebihan. Buktinya, kini akibat ucapan Ichigo wajah Rukia kini sudah bewarna merah padam.
Sebenarnya ini pertama kalinya bagi Rukia di panggil 'seorang gadis' oleh laki-laki lain selain anggota keluarganya, sebab di antara teman-temannya Rukia termasuk gadis yang cukup tomboy. Dan mengingat Ichigo sebagai orang yang petama, wajar membuat pipinya bersemu merah layaknya kepiting rebus.
Sayang sekali, pemuda orenji ini tidak menyadarinya.
***# CHERRY #***
"Kelihatannya kita harus istirahat sebentar."
Suara Ichigo yang ditangkap oleh indra pendengaran Rukia membuat sang gadis membuka kedua matanya yang terpejam. Sinar matahari terik yang menyambutnya kemudian membuat mata Rukia terasa silau karena kelebihan intensitas cahaya, untunglah beberapa saat kemudian matanya bisa menyesuaikan sehingga ia bisa melihat dengan jelas.
Ketika melihat sekelilingnya Rukia sadar kalau kini mereka berada di Rest Area, salah satu tempat yang digunakan pengguna kendaraan bermotor untuk beristirahat sejenak di tengah perjalanannya, tempat seperti ini sering berada di tepi jalan.
"Kau mau minum, Rukia?"
Menoleh ketika mendengar namanya di panggil, Rukia melihat Ichigo yang sedang berdiri di depan mesin penjual minuman otomatis dengan uang recehan di tangannya, menunggu jawaban Rukia sebelum menekan beberapa tombol di hadapannya. Dan langsung ia lakukan begitu Rukia memberi respon dengan menganggukkan kepalanya pelan.
"Kita sudah sampai di mana?" tanya Rukia begitu ia mendekati Ichigo untuk mengambil minuman dingin yang di sodorkan sang pemuda padanya.
"Tidak tahu," jawab Ichigo ketus.
UHUK!
Memegangi dadanya yang terasa sesak karena tersedak minuman yang baru saja di minumnya, Rukia memandang Ichigo dengan tatapan tidak percaya. "Tidak tahu? Jangan bilang padaku kalau kita tersesat!"
"Huh? Aku tidak ingat mengatakan kita tersesat," ucap Ichigo.
"Tapi tadi kau bilang tidak tahu!" balas Rukia dengan jari telunjuk yang teracung pada Ichigo.
"Aku hanya tidak tahu nama daerahnya, bukan arahnya. Dari sini kira-kira kurang dari 30 menit lagi untuk sampai di Tokyo," kata Ichigo dengan penekanan pada kata 'hanya' dan berhasil membuat Rukia membeku di tempat.
Rukia tidak habis berpikir, apa perasaannya saja atau Ichigo memang tipe orang yang suka membuat kejutan? Orang ini nyaris membuatnya jantungan! Bayangkan saja kalau kau harus tersesat di tempat asing hanya berdua dengan seorang cowok!
"Tu-tunggu dulu!" gumam Rukia, ditatapnya Ichigo yang sedang meminum kopi kalengannya dengan pandangan bertanya. "Jika Tokyo memang sudah dekat dari sini, lalu kenapa kita berhenti?"
Rukia bersumpah saat ia bertanya tadi ia bisa melihat Ichigo yang menyeringai tipis di antara kegiatan minumnya dan ia tahu jika ada 'sesuatu' yang disembunyikan remaja ini.
"Sudah kuduga kalau kau tidak menyadarinya, eh? Seharusnya kukatakan padamu dari awal," ucap Ichigo.
Rukia yang tidak bisa menangkap makna dari ucapan Ichigo hanya bisa terdiam, menunggu penjelasan berikutnya dari sang pemuda.
"Lihat sekelilingmu, Rukia," perintah Ichigo.
"Eh? Aku sudah melihatnya tadi, bukankah kita ada di Rest Area?" tanya Rukia polos.
Ichigo menatap Rukia dengan pandangan malas, ia menghembuskan nafas panjang lalu tanpa aba-aba menarik tangan Rukia dan berjalan cepat hingga membuat Rukia secara otomatis mengikuti langkahnya.
"Ichigo? Kita mau kemana?"
Ichigo hanya diam tidak menjawab membuat alis Rukia berkerut semakin dalam, meski begitu entah kenapa perasaan Rukia menyuruhnya untuk mengikuti Ichigo. Dan karena Rukia terpasuk tipe orang yang lebih mempercayai instuisinya sendiri di banding logika, maka ia memutuskan patuh dan mengikuti Ichigo saja.
Setelah berjalan beberapa saat, Ichigo menghentikan langkahnya tiba-tiba. Rukia yang berada di belakangnya otomatis menabrak punggung kokoh Ichigo yang ternyata cukup keras untuk membuat hidungnya memerah.
"Kurasa di sini sudah cukup," ujar Ichigo pelan.
Rukia yang saat itu sedang menggosok hidungnya yang memerah –karena benturan tadi- refleks menoleh dari belakang punggung Ichigo, penasaran dengan apa yang sedang dibicarakan sang pemuda. Dan di detik itu juga kedua iris violetnya membulat sempurna, hal yang dilihatnya kini sungguh luar biasa.
Di depan Rukia terlihat hamparan laut lepas bewarna biru, air laut terlihat berkilau karena pantulan dari sinar matahari, langit biru dengan sedikit awan serta beberapa burung camar yang berterbangan menjadi latar belakang yang indah untuk laut itu. Pada bagian kanan Rukia juga terlihat gedung-gedung tinggi yang berasal dari kota Tokyo, menandakan kalau kota itu sudah dekat dengan mereka berdua.
"Setiap pulang ke Tokyo, aku selalu mampir ke sini. Pemandangan di sini selalu membuat rasa lelahku hilang," komentar Ichigo.
"Karena itu kau tidak suka naik kereta?" tanya Rukia.
"Begitulah, jika naik kereta kau akan lewat jalur bawah tanah di bawah laut sehingga tidak bisa melihat ini," jelas Ichigo.
"Jadi kau sudah lama tahu tempat seindah ini? Ya ampun, kenapa kau tidak mengatakannya padaku lebih cepat! Tempat ini luar biasa!" puji Rukia, bola matanya terlihat berbinar senang.
Ichigo yang mendengarnya tersenyum tipis, "Kau orang pertama yang melihatnya."
Menoleh ke arah Ichigo, Rukia dapat melihat senyum pemuda itu berganti dengan pandangan kosong pada laut lepas di hadapannya. "Meski ingin mengajak seseorang kemari tapi aku tidak punya teman," lanjutnya.
Rukia terpana, ia tidak tahu kalau Ichigo tidak punya teman. Ia memang tahu kalau Ichigo termasuk siswa bermasalah di sekolah, tapi ia tidak tahu kalau Ichigo tidak punya teman. Entah kenapa, mendengar Ichigo mengatakan hal itu ada bagian dari hatinya yang terasa sakit.
Apa benar Ichigo tidak punya teman?
Pertanyaan itu muncul di otak Rukia, gadis itu memandang laut di depannya sama dengan yang di lakukan oleh Ichigo. Suasana akrab yang tadi sempat muncul tiba-tiba menghilang ketika keduanya terdiam, sibuk dengan pikirannya masing-masing.
Rukia tidak tahu apa yang sedang dipikirkan oleh Ichigo, ia masih memikirkan pertanyaan yang menganggu pikirannya tadi hingga ia akhirnya menyadari satu hal yang tidak benar. Ada yang salah dari ucapan Ichigo!
"Jangan bilang begitu!" Tanpa sadar, Rukia berteriak. "Kalau kau bilang begitu, nanti kau benar-benar tidak mempunyai teman! Bukankah kau kapten dari tim basket yang terkenal? Orang-orang di tim mempercayaimu dan kau bilang mereka bukan temanmu? Aku tidak tahu ada orang yang tidak begitu peka sepertimu, strawberry!"
Kelihatannya sikap asli Rukia kembali terbebaskan, ia membentak seorang Kurosaki Ichigo karena emosinya yang kembali tersulut. Dan Rukia masih belum sadar hingga beberapa detik kemudian disaat ia menutup mulutnya dengan kedua tangannya dengan wajah yang memerah malu.
Kedua iris cinnamon milik Ichigo membulat lebar, kata-kata Rukia barusan terasa menancap di hatinya. Biasanya jika ada seseorang yang menasehatinya seperti sekarang, ia lebih memilih tidak menanggapinya dan menganggapnya hanya sebagai angin lalu. Namun kali ini berbeda, ucapan Rukia begitu masuk ke dalam hatinya seolah gadis itu benar-benar mengerti tentang dirinya.
Hanya Rukia yang bisa.
"Arigatou, Rukia," ujar Ichigo pelan, sangat pelan hingga hampir kalah oleh suara angin yang berhembus di sekitar mereka namun masih dapat didengar oleh Rukia.
Pemuda itu menoleh pada gadis di sampingnya, tangannya yang besar dan hangat menyingkirkan tangan Rukia yang sedang menutupi mulutnya.
"Terima Kasih," ucapnya lagi. "Aku senang karena kau sudah menjadi orang pertama yang melihat pemandangan ini bersamaku," Senyuman tulus terpatri di wajahnya yang tampan, membuat Rukia bisa merasakan rasa panas yang amat sangat menjalari wajahnya.
***# CHERRY #***
"Menunduklah."
"Hah?"
Beberapa menit yang lalu, Rukia dan Ichigo baru saja sampai di depan sebuah rumah sederhana dengan papan nama besar bertuliskan 'Klinik Kurosaki' di depannya. Rukia baru saja akan masuk mengikuti Ichigo ke dalam rumah jika Ichigo tiba-tiba menghalangi jalannya dengan tangan kanannya dan tiba-tiba menyuruhnya untuk menunduk tanpa alasan yang jelas.
"Aku bilang kau harus menunduk, Rukia,"
"Kenapa? Apa terjadi sesuatu di dalam sana?"
Rukia mencoba membuka ganggang pintu dan mengintip sedikit ke dalam jika saja tangan Ichigo tidak menutupi matanya sebelum ia sempat melihat apapun di dalam sana dan menariknya kembali ke luar.
"Aku tidak bisa menjelaskannya padamu tapi sekarang kau harus menunduk kalau ingin selamat!" kata Ichigo dengan raut wajah cemas, tangannya yang masih mengenggam lengan Rukia mencekram tangan gadis itu cukup keras hingga membuat Rukia sedikit meringis.
"Aku tidak mengerti maksudmu, Ichigo. Kalau kau memang tidak bisa menjelaskan setidaknya beri aku alasannya," Rukia benar-benar tidak mengerti dengan sikap Ichigo, kau tahu? Ichigo bersikap seolah-olah sebuah roket akan meluncur tiba-tiba ketika ia membuka pintu dan memaksa Rukia harus menunduk jika ingin selamat.
"Kalau ingin penjelasanku, kau harus menunduk sekarang juga!" perintah Ichigo dengan suara yang lebih tinggi dari biasanya.
CTAK!
Urat kekesalan muncul di kening Rukia, tanpa sadar dengan sekali hentakan ia melepaskan tangan Ichigo dari lengannya dan balik mencengkram kerah kemeja yang sedang dipakai Ichigo kuat. Iris cinnamon milik Ichigo membulat sempurna, terkejut karena tindakan Rukia.
Rukia kembali kehilangan akal sehatnya setelah melihat sikap tidak jelas Ichigo, sejak awal orang ini yang memaksanya pergi ke rumah keluarganya namun ketika akan masuk ke dalam rumah ia dihalangi dan di suruh menunduk. Orang ini juga yang mencengkram tangannya dan membentaknya begitu saja tanpa alasa yang jelas.
Sudah cukup! Apa Ichigo tidak bisa mengerti perasaan wanita?
Dengan pemikiran itulah, Rukia bergerak untuk meminta kronologi kejadian sebenarnya dari Ichigo dengan cara kasar dengan mencengkram kerah baju sang pemuda dan menatapnya tajam.
"Dengar mikan, aku ingin meminta penjelasan dan kau harus mengatakannya sekara-"
TAP! TAP! TAP! TAP!
Suara langkah kaki yang terdengar dari balik pintu membuat wajah Ichigo berubah pucat pasi dengan keringat dingin mengalir di dahinya. Perubahan ini langsung menarik perhatian Rukia, ia menghentikan ucapannya dan melonggarkan cengkramannya. Ketika ia mendengar bunyi kunci ganggang pintu yang sudah terbuka ia menoleh dan bergumam pelan.
"Ah, kelihatannya ada yang datang menyambutmu."
BRAK! "ICHIGOOOO~"
Suara pintu yang terhempas keras muncul bersamaan dengan suara melengking beserta seorang laki-laki dewasa berambut hitam dengan jas putih yang melompat dengan kaki yang terarah ke depan, tepat di depan wajah Rukia yang berada di depan pintu rumah.
Rukia yang saat itu masih berada dalam kekagetannya tidak cepat merespon untuk menghindar, sehingga membuat Ichigo harus bertindak. Seperti adegan di dalam film yang ditonton dengan gerakan slow motion dengan cepat dalam hitungan sepersekian detik Ichigo melepaskan cengkaraman Rukia di bajunya, melingkarkan tangan kirinya di pinggang ramping Rukia, sementara tangan yang lain membawa kepala Rukia ke dada bidangnya lalu kakinya secara refleks menendang balik pria berjas putih yang sedang menerjang mereka hingga terpental kembali ke dalam rumah dan menabrak dinding rumah hingga menimbulkan retakan dan kumpulan asap di sana.
"Bakka, Oyaji! Apa yang sedang kau lakukan!"
Ichigo berteriak kesal sambil menunjuk laki-laki yang terpental menabrak dinding dan sedang berada dalam pose yang cukup eksotis dengan pinggul yang terangkat ke atas, kepala yang berdarah, hidung yang mimisan serta bekas tapak sepatu Ichigo di wajahnya.
Dengan gerakan tertatih-tatih ia berdiri dan secara ajaib mengacungkan jempolnya sambil tersenyum lebar pada Ichigo sambil mengatakan, "Good Job, Ichigo! Kau bisa menghindari 'tendangan cintaku' lagi! Putraku memang hebat! Tapi lain kali aku tidak akan membiarkan kau menang lagi! Bwa ha ha ha ha!"
Rukia yang baru saja melihat adegan 17 tahun ke atas dengan mata kepalanya sendiri terdiam kaget dalam pelukan Ichigo, kekesalannya tadi hilang entah kemana begitu melihat bapak-bapak tua berjenggot yang tiba-tiba menerobos pintu dengan tendangan dan menyerang Ichigo. Terlebih setelah melihat bapak itu berdiri dengan segarnya padahal darah masih mengucur dari kepala dan hidungnya.
"Otou-san! Apa yang kau lakukan! Ichi-nii baru saja datang ke rumah!"
Suara anak perempuan yang terdengar berikutnya menarik perhatian Rukia, gadis itu menoleh ke samping dan menyadari kedatangan seorang anak perempuan berambut coklat sebahu, memakai celemek dan memegang sendok sayur di tangannya.
"Biarkan saja mereka, Yuzu. Sebanyak apapun kau memperingatinya mereka tidak akan berhenti."
Suara lainnya terdengar, kali ini terdengar lebih tenang, dewasa dan sedikit dingin. Kini di sebelah anak yang di panggil Yuzu tadi berdiri anak perempuan lain dengan rambut hitam panjang diikat satu, terlihat sedikit tomboy sedang memegang minuman kalengan.
"Tapi Karin-chan, aku tidak suka memanggil tukang untuk memperbaiki dinding rumah setiap kali kakak pu-lang?"
Kalimat Yuzu terdengar menggantung begitu ia beradu pandang dengan Rukia yang masih berada dalam pelukan Ichigo, kedua iris caramel miliknya membula lebar bersamaan dengan pipinya bersemu merah. Reaksi yang sama juga diberikan Karin, minus pipi yang memerah dan terlihat manis itu.
Ichigo yang menyadari kalau keadaan mendadak hening dan perhatian seluruh keluarganya tertuju padanya membuka suara.
"Tadaima."
***# CHERRY #***
Yuzu tersenyum ramah pada Rukia yang sedang duduk di sofa kediaman Kurosaki."Rukia-nee, kau mau minum apa?"
"Uhmm…kurasa teh lebih baik," jawab Rukia gugup.
Yuzu mengangguk kecil kemudian melenggang ke dapur setelah berujar "Baiklah," dan meninggalkan Rukia di ruang tengah.
Iris violet Rukia memandang ruangan di sekitarnya, ruangan itu tidak terlalu besar dan tidak terlihat mewah tapi terkesan rapi, memperlihatkan kalau tuan rumah sering membersihkan dan menata semua barang yang ada di sana.
Kedua mata Rukia kemudian berhenti pada gadis kecil berambut hitam panjang yang sedang menatapnya di sofa yang lain, tanpa berkedip sekalipun seolah Rukia akan menghilang jika ia tidak menghiraukannya sedetik saja.
"A-ada apa, Karin?" tanya Rukia gugup, entah kenapa pandangan yang ditujukan adik Ichigo itu padanya terasa berbeda dengan pandangan Yuzu. Kalau tidak salah, tadi Ichigo mengatakan kalau Karin dan Yuzu adalah saudara kembar. Tapi menurut Rukia, kedua gadis itu malah terlihat berbeda. Yuzu terlihat feminim dan Karin sedikit tomboy.
"Boleh aku bertanya?" kata Karin dengan suara datarnya.
Salah satu alis Rukia terangkat, ada perasaan waspada muncul di pikirannya begitu mendengar perkataan Karin. Padahal ia hanya mengatakannya dengan intonasi biasa layaknya orang lain yang bertanya tapi ada yang lain dengan Karin, seolah anak itu memiliki rencana tersembunyi.
Menggelengkan kepalanya kuat-kuat untuk menghilangkan pemikirannya barusan, Rukia mengangguk pelan. Dasar bodoh, untuk apa dia berpikiran buruk seperti ini pada anak perempuan kelas 1 SMP?
"Jadi, Kak Rukia adalah kekasih, Ichi-nii?" tanya Karin dengan penekanan pada kata 'kekasih'.
BLUSH!
Wajah Rukia memerah seketika, ia menundukkan kepalanya dalam dan mengangguk kecil. Rukia sama sekali tidak menyangka jika pertanyaan itu yang terlontar oleh Karin, Rukia awalnya berpikir kalau Karin akan bertanya seperti 'Kakak kelas berapa?' atau 'Hobi kakak apa?' tapi kelihatannya Karin bukan tipe orang yang berbasa-basi dan langsung to the point.
"Sudah berapa lama?" tanya Karin lagi.
"Kira-kira 3 hari," jawab Rukia singkat.
Hening
Selama beberapa menit keadaan tiba-tiba berubah hening, tidak ada yang bersuara di antara mereka berdua. Rukia menengadahkan kepalanya dan melihat Karin yang terdiam melihatnya dengan pandangan kosong. "Kalian jadian baru 3 hari?" hanya itu yang di keluarkan Karin setelah sempat terdiam.
Rukia mengangguk dan langsung menyesal perbuatannya begitu Karin mengeluarkan sebuah senyum lebar yang tidak bisa di tebak maknanya sehingga terlihat aneh di mata Rukia, senyuman yang seharusnya tidak muncul untuk anak yang baru saja duduk di tahun pertama sekolah menengah.
Diam-diam Rukia merasa senyuman itu sangat mirip dengan seringai Ichigo begitu remaja itu mendapatkan sesuatu yang diinginkannya, benar-benar kakak-adik yang mirip. Kelihatannya firasat buruknya beberapa saat yang lalu tidaklah salah.
"Karin-chan sedang bersemangat sekarang."
Rukia menoleh ke belakang begitu mendengar suara Yuzu di sampingnya, dilihatnya adik Ichigo yang paling feminim itu meletakkan segelas teh hijau panas di depannya. "Jika sedang bersemangat Karin akan tersenyum seperti itu, kurasa dia sedang merencanakan sesuatu untuk Rukia-nee," lanjutnya.
GLEK!
Rukia menelan ludah paksa, merencanakan sesuatu akan memiliki artian yang sangat-sangat berbeda jika diucapkan oleh salah satu anggota keluarga Kurosaki. Semoga saja apapun yang ada di pikiran Karin saat ini tidak seburuk apa yang dibayangkannya kini.
Meminum teh yang sudah disediakan Yuzu untuknya, Rukia bisa merasakan ketenangan menyertainya begitu cairan panas itu melewati kerongkongannya. Setidaknya, meminum teh hijau bisa sedikit menenangkan pikirannya.
"Ah, itu Otou-san dan Ichi-nii!" teriak Yuzu girang sambil menunjuk ke arah telivisi.
Rukia lalu mengikuti pandangan Yuzu pada televisi dan ia tercengang begitu melihat sesosok remaja berambut orange mencolok dengan kantong plastik besar di kedua tangannya sedang menatap bosan pada seorang laki-laki dewasa berjanggut tipis yang sedang diwawancarai oleh seorang wartawan.
"Kelihatannya Oyaji sedang di wawancarai terkait pakaiannya yang norak," gumam Karin angkat suara.
Mendengar ucapan Karin membuat Rukia menatap lebih detail ayah Ichigo yang sedang di wawancarai sang reporter perempuan dan ia langsung speechless saat melihat pakaian itu.
Bayangkan saja, kau hanya pergi belanja bahan makanan dengan putramu ke pusat perbelanjaan dengan mobil yang jaraknya hanya 30 menit tapi ayah Ichigo memakai pakaian seolah ia seorang turis asing yang sedang berbelanja!
Dengan kacamata hitam besar yang menutupi mata, tas ransel besar yang penuh namun tidak di ketahui isinya, celana selutut dan kemeja beraneka warna bercorak bunga-bunga cukup untuk membuat orang melihat dia sebagai turis Hawai yang tersesat di Jepang!
Dan dilihat dari cara sang reporter mewawancarainya terlihat jelas kalau reporter itu hampir saja tidak bisa menahan tawanya melihat reaksi ayah Ichigo yang sangat bersemangat bercerita tentang toko dimana ia membeli seluruh baju dan aksesorisnya.
"Hmm, lalu pemuda di sana putra anda?" tanya reporter wanita itu ketika melihat Ichigo.
"Begitulah! He's my beloved SON!" jawab Isshin bersemangat sambil melompat ke arah Ichigo untuk memberikan pelukannya namun sang anak langsung menghindar hingga membuat Isshin menerjang kaca etalese sebuah toko hingga pecah.
Kemudian layar tv memperlihatkan Ichigo yang mengambil nafas panjang karena lelah dengan tingkah ayahnya berkata dengan tegas pada sang reporter, "Aku bukan anaknya, aku hanya orang malang yang terjebak untuk membantunya belanja. Kalau bisa aku minta tolong bawa saja orang ini ke rumah sakit," ujar Ichigo padat-singkat dan jelas sebelum kemudian pergi dari sana setelah mengambil belanjaan di tangan Isshin yang runtuh.
Baik Rukia maupun reporter itu terdiam melihat Ichigo, terlebih setelah Isshin tiba-tiba bangkit dan meratapi nasibnya pada sebuah foto pada bingkai kecil –yang Rukia yakini adalah ibu Ichigo- sambil berujar, "Masaki, kenapa anak kita tumbuh menjadi dingin seperti ini? Apa aku sudah salah merawatnya~"
CLIK!
Layar televisi berubah menghitam, pandangan Rukia beralih pada Karin yang kini mengambil alih remote tv. "Kalau melihatnya lebih lama lagi, aku bisa saja menendang Oyaji ketika ia pulang nanti," ucap Karin begitu menyadari pandangan Rukia yang tertuju padanya.
Dalam hati Rukia mengangguk setuju dengan pernyataan Karin, ia juga bisa malu kalau anggota keluarganya bersikap seperti itu di siaran televisi, untung saja Byakuya dan Hisana bukan tipe orang yang suka membuah heboh tapi lebih suka ketenangan.
"Kak Rukia sekarang sedang senggang bukan? Bagaimana kalau ngobrol denganku sebentar? Banyak hal yang ingin kubicarakan denganmu," ucap Karin.
Rukia bersumpah jika sekilas tadi ia bisa melihat kilatan cahaya aneh dari pandangan Karin seperti merencanakan sesuatu tapi ia tidak ahu apa itu. Rukia tentu saja ingin menolak, tapi ia tidak punya alasan yang bagus untuk menyangkal. Ooh, ia jadi menyesal karena tidak terbiasa berbohong sebelumnya karena ia tidak perlu dilanda kebingungan seperti sekarang.
"Karin tadi sudah ngobrol dengan Rukia-nee, sekarang giliranku! Aku juga ingin bicara dengan Rukia-nee!" ucap Yuzu.
Karin terlihat kesal, ia baru saja ingin berbicara sebelum Rukia sudah ditarik oleh Yuzu. "Hei, Rukia-nee. Daripada berdiam diri sambil menunggu Ichi-nii dan Otou-san yang pergi belanja bahan untuk makan siang nanti, bagaimana kalau Rukia-nee ke kamarku sebentar?" saran Yuzu.
Rukia langsung menangguk cepat, menyetujui apapun permintaan Yuzu yang berarti meninggalkan ruangan ini karena Karin kini terlihat mengintainya untuk menanyakan sesuatu yang entah apa itu tapi pastilah buruk.
"Ke kamarmu? Untuk apa, Yuzu. Bukankah bicara di sini juga bisa?" tanya Karin sambil berdiri dari duduknya ketika Rukia dan Yuzu baru saja akan melangkah dari sana.
Yuzu menoleh ke belakang Rukia untuk melihat Karin, sementara itu Rukia berdoa dalam hati agar jawaban Yuzu nanti berhasil mengurung niat Karin yang kelihatannya ingin ikut dengan mereka. Kelihatannya 'sang pemburu' tidak berniat melepaskan 'incarannya'
"Melihat buku memori, aku ingin tahu reaksi Rukia-nee saat melihatnya," jawab Yuzu. "Karin-chan juga ingin ikut?" lanjutnya kemudian.
Dengan gerakan sedikit kaku Rukia melihat Karin dan bernafas lega ketika gadis itu mengalihkan pandangannya dengan wajah yang terlihat antara malu, kesal dan sedikit bersemu. "Tidak akan," kata Karin.
'Syukurlah,' bantin Rukia lega. Tapi ia sedikit heran dengan buku memori yang dikatakan Yuzu, buku apa itu sampai membuat Karin tidak mau melihatnya?
***# CHERRY #***
"Kawaii~"
Rukia bergumam sambil memandangi sebuah gambar di depannya, matanya berbinar senang dan pada kedua pipi plumnya terdapat rona merah muda. Ia mengerti sekarang dengan buku memori yang dikatakan Yuzu, itu adalah nama lain dari album foto. Dikatakan Buku Memori karena di ana terdapat foto keluarga Kurosaki beberapa tahun yang lalu dan yang paling menarik perhatian Rukia adalah foto-foto Ichigo saat masih kecil.
Di salah satu foto terlihat Ichigo kecil yang sedang berada di gendongan seorang wanita cantik dengan rambut bewarna coklat panjang tersenyum dengan rona merah di pipinya sedangkan di sebelah wanita itu terlihat Isshin yang sedang menggendong anak laki-laki lain mirip Ichigo tapi dengan rambut bewarna hitam dan mata bewarna biru langit, sepertinya itu Kaien.
"Ini di ambil ketika Ichi-nii dan Kaien-nii pertama kali pergi ke Taman Bermain dengan Ayah dan Ibu," jelas Yuzu yang ada di samping Rukia sambil menunjuk foto itu. "Saat itu aku dan Karin belum lahir."
Rukia memandang foto itu kagum, Ichigo terlihat polos sekali waktu itu. Tidak ada kerutan di alisnya yang membuatnya terlihat galak, wajah polos itu membuat Rukia ingin sekali mencubit pipinya jika seandainya sosok itu ada di sampingnya saat ini.
"Dan yang ini ketika aku dan Karin baru saja lahir, kakak mengunjungi kami di rumah sakit sepulang sekolah," terang Yuzu.
Wajah Rukia langsung memanas, sekarang ia mengerti kenapa Karin tidak mau melihat foto itu. Di sana terlihat Ichigo yang sedang menggendong Yuzu dan Kaien yang menggendong Karin, di belakang mereka Masaki berserta Isshin dengan senyum yang sangat lebar memeluk Ichigo dan Kaien di bawah tangannya. Karin pasti tidak mau melihat foto itu karena ia yang terlihat begitu manis seperti boneka dengan iris hitamnya yang besar dan terlihat berbinar menatap kamera. Sedangkan Yuzu tidak terlihat jauh berbeda dengan sekarang, gadis itu begitu mirip dengan ibunya.
Tunggu dulu…
Rukia terdiam sejenak, rasanya saat ia melihat foto Karin dan Yuzu ia mengingat sesuatu. Ichigo mengatakannya kemarin saat mereka berkencan di taman bermain. Berpikir sebentar, kedua alis Rukia terangkat tinggi ketika menyadarinya. Di sudut kanan foto dimana Yuzu dan Karin lahir tercantum sebuah tanggal bewarna kubing, ukurannya sedikit kecil hingga ia tidak menyadarinya.
Benar, hari ini adalah Hari Ulang Tahun Yuzu dan Karin.
Rukia segera menoleh menatap Yuzu yang masih melihat foto dirinya ketika masih bayi dengan senyum kecil di parasnya, mungkin baik Yuzu dan Karin belum sadar jika hari ini adalah hari ulang tahun mereka berdua.
Sebab jika mereka sadar dan hanya berpura-pura karena berharap akan kejutan dari Ichigo, tentu mereka masih mempunyai bahan makan siang karena sudah tahu jika Ichigo tidak datang hingga sang pemuda tidak perlu repot pergi belanja. Dan lagi, sejak Rukia datang kemari ia tidak melihat adanya kue, kado dan hal-hal khas ulang tahun lainnya. Sepertinya Ichigo belum memberitahu mereka dan sebaiknya untuk saat Rukia melakukan hal yang sama.
TING TONG!
Suara bel rumah yang berbunyi membuat Rukia dan Yuzu menghentikan aktifitas mereka dan bertatapan satu sama lain. Tidak perlu menunggu lama setelah Karin membuka pintu dan suara yang familiar dari telinga Rukia terdengar dari lantai bawah.
Yuzu yang juga mengenal suara itu segera bangkit dari duduknya di sebelah Rukia dan berlari keluar kamar dengan tidak sabar. Rukia sendiri yang cukup terkejut dengan kehadiran pemilik suara tersebut dan memutuskan untuk melihat.
Barulah ketika kaki mungilnya melangkah di Ruang Tengah ia melihat seorang pemuda berambut raven dan beriris aqua sedang memeluk Yuzu sebelum menoleh ke arahnya.
'Kaien-senpai ada disini,' batin Rukia.
"Oh, Kuchiki. Ternyata kau juga ada di sini?" tanya Kaien spontan begitu melihat Rukia yang baru keluar dari pintu kamar.
Rukia mengangguk kecil, meski awalnya ia cukup kaget dengan kedatangan Kaien tapi ia mengerti dengan kedatangan seniornya itu, tentu saja untuk merayakan ulang tahun kedua adik perempuannya.
"Hei, Kaien! Kalau kau ingin bertemu Yuzu dan Karin setidaknya bantu aku membawa barang-barang ini!"
Gerutuan kesal terdengar dari balik pintu, ketika Rukia menoleh di sana terlihat Ichigo yang sedang mengangkat banyak kantong yang berisi penuh ditangannya. Saking banyaknya kantong yang dibawanya bahkan tangan Ichigo tidak terlihat lagi, bahkan kini remaja itu membawa sekantong lagi plastik berbentuk petak di atas kepalanya.
"Ichigo? Dari mana kau mendapat kantong sebanyak itu?" tanya Rukia heran.
"Saat berjalan-jalan di pusat perbelanjaan Tokyo aku kebetulan bertemu dengannya, karena aku ingin kemari sekalian kuminta Ichigo membawa barang belanjaanku," ujar Kaien saat ia melewati Rukia untuk membantu adiknya yang 'manis' membawa beberapa kantong lainnya.
Rukia yang melihat Kaien cukup kesulitan refleks menolongnya membawa beberapa kantong yang di luar dugaan ternyata begitu berat hingga ia sempat terdorong mundur ketika membawanya, beruntung Ichigo berhasil menangkap tubuh mungil Rukia sebelum menabrak vas bunga di belakangnya.
Ichigo mengambil kantong yang dipegang Rukia dan memberikannya kantong lain berbentuk persegi empat padanya, alis Rukia mengerut bingung ketika menerimanya. "Kalau ingin membantu lebih baik kau membawa ini, kantong yang ini terlalu berat untuk gadis mungil sepertimu," ujar Ichigo menjawab kebingungan Rukia.
CTAK!
Kesal dengan ucapan Ichigo membuat Rukia menginjak kaki remaja itu hingga yang bersangkutan meringis sambil mengangkat kakinya yang terinjak, melihat reaksi itu membuat Rukia tersenyum puas. Ia mendengus kesal sebelum meninggalkan Ichigo dan mengambil kantong berbentuk kotak itu lalu meletakkannya di atas meja.
Karin yang awalnya tidak tertarik dengan kedatangan Kaien atau Ichigo dan memilih menonton TV akhirnya bergerak dari duduknya begitu melihat Rukia yang membuka kantong yang di bawanya ternyata berisi sebuah kotak. Yuzu yang penasaran juga mendekat ke arah Rukia, ketika menoleh untuk bertanya apakah ia boleh membuka kotak ini atau tidak Rukia melihat Kaien dan Ichigi –yang saat itu sedang berdebat entah karena apa- mengangguk ke arahnya.
Dan tanpa menunggu lagi ia membuka kotak itu dan langsung berdecak kagum dengan apa yang ada di dalam sana, sebuah kue coklat berbentuk bulat dengan taburan gula putih berhiaskan coklat putih berbentuk papan yang memiliki tulisan hiragana 'Otanjoubi Omedetou' lengkap dengan dekorasi 2 buah patung yang mirip dengan sosok Yuzu dan Karin, tidak lupa sebuah lilin yang kemudian menyala saat Kaien menyalakan korek api miliknya. Baik Rukia, Yuzu dan Karin menoleh bersamaan dan mereka bertiga langsung tersenyum lebar begitu Kaien tersenyum dan Ichigo mengucapkan, "Happy Birthday, Yuzu, Karin."
***# CHERRY #***
Rukia menghempaskan tubuhnya yang lelah di sofa empuk keluarga Kurosaki, wajahnya penuh dengan coretan spidol dan bajunya berlepotan krim kue. Pesta ulang tahun yang terjadi barusan benar-benar menguras tenaganya, siapa sangka jika setengah dari kantong plastik berukuran besar dan berat itu adalah bermacam-macam permainan terbaru! Mulai dari permainan kartu, game consule, balok susun dan banyak lainnya!
Ketika Ia, Ichigo, Kaien, Yuzu dan Karin memainkan kartu ia sempat kalah beberapa kali hingga dihadiahi coreta di wajahnya, bukan hanya dia saja yang mendapat coretan tapi juga Ichigo, Kaien dan Yuzu. Tidak termasuk dengan Karin, wajahnya masih putih bersih dari coretan karena gadis itu berulang kali memenangkan permainan kartu tanpa kalah sekalipun.
Dan kondisi berbeda diperlihatkan Kaien yang wajahnya sudah tidak terlihat lagi karena banyaknya coretan yang ada, di luar dugaan orang itu sangat buruk dalam permainan kartu –yang ia beli sendiri tadi-. Mereka juga memainkan beberapa game yang umumnya dimenangkan bergiliran antara Ia dan Ichigo.
Iris violet Rukia menatap Kaien yang sedang menantang Karin dimana mereka di haruskan menyentuh salah satu lingkaran warna sesuai roda yang di putar oleh Yuzu. Rukia tertawa geli ketika melihat bentuk tubuh Kaien yang berpose aneh karena sangat bersemangat mengalahkan Karin yang belum kalah.
Melihat di sudut ruangan lain, Rukia menatap Ichigo dan Ayahnya yang terfokus pada permainan mahjong mereka. Rukia yakin kalau mereka sama sekali tidak bergerak dari tempat mereka duduk kecuali untuk memindahkan beberapa pion.
Meskipun sebenarnya ayah Ichigo baru pulang setengah jam yang lalu untuk bergabung dengan mereka, tapi ketika ia membawa chirashizushi yang kabarnya pemberian redaksi tv yang mewawancarainya maka segera mereka makan dan hanya tersisa sepiring lagi ketika ia dan Ichigo berebut dan kepemilikan sushi itu ditentukan oleh pemenang permainan mahjong.
Jujur saja, Rukia menikmati bagaimana keluarga Ichigo menikmati pesta mereka dengan berbagai permainan konyol namun mampu memacu semangatnya. Menutup kedua matanya karena rasa kantuk yang menyerang, Rukia mengistirahatkan badannya. Tidak butuh waktu lama baginya untuk terlelap ke alam bawah sadarnya.
TAK! "Skak mat!"
Meletakkan satu pion terakhir kemudain Ichigo mengangkat tangannya tinggi-tinggi, ia berhasil memenangkan pertandingan catur itu setelah 10 menit lebih untuk berpikir. Isshin tertunduk lesu dengan aura suram di sekitarnya, Ichigo sendiri langsung mengambil sushi jatahnya di atas meja.
Ichigo baru akan memakan sushi itu sebelum mendengar dengkuran halus pada pendengarannya, menundukkan kepalanya ke bawah ia melihat Rukia yang sudah tertidur meringkung di atas sofanya. Meski penuh coretan spidol namun wajah Rukia yang terlihat damai dan tenang menghentikan niatan Ichigo untuk memakan sushi tadi, di gendongnya Rukia dengan gaya bridal style dan membawanya ke lantai dua.
Kaien yang melihat Ichigo membawa Rukia menghentikan permainannya dengan Karin. "Kuchiki mau kau bawa kemana, Ichigo?" tanya Kaien.
Ichigo tidak menjawab, ia terus berjalan dengan senyum tipis di wajahnya. Mengangkat alisnya karena heran dengan tindakan adiknya, Kaien hanya menangkat bahu dan melanjutkan pertandingannya yang tertunda.
Tentu saja Kaien tahu maksud dibalik senyum Ichigo, tapi ia memilih diam daripada menganggu Ichigo. Rasanya kita cukup berharap semoga saja tidak terjadi hal yang buruk pada Rukia.
***# To be Continued #***
Chapter kali ini terpaksa Mira potong karena tanpa sepengetahuan Mira fic ini sudah menghabiskan 20 halaman word! (O.o) Jadi Mira kira akan lebih baik jika dilanjutkan di chapter berikutnya.
Ano,,, gomennasai karena Mira belum bisa membalas review readers saat ini. Namun pasti akan Mira balas di waktu senggang Mira. Ah, lalu jika ada beberapa hal yang tidak readers pahami akan Mira terangkan sedikit di sini. (n_n)
Penampilan Yuzu dan Karin. Di sini Mira menggambarkan penampilan mereka seperti di Bleach yang full bringer karena lebih terkesan dewasa. Karena itulah Mira menggunakan setting saat mereka berdua menginjak kelas 1 SMP.
Rencana Karin untuk Rukia. Saat Rukia merasa tidak enak saat di pandang oleh Karin sebenarnya di benak Karin terdapat beribu pertanyaan pada Rukia tentang hubungannya dengan Ichigo. Soalnya Ichigo termasuk orang yang sangat JARANG membawa temannya terutama perempuan ke rumahnya, intinya Rukia yang pertama kali. Readers bisa bayangkan saja pemikiran Karin saat itu.
Otanjoubi Omedetou, artinya selamat ulang tahun dalam bahasa jepang.
Chirashizushi, termasuk ke dalam sushi -makanan khas jepang- namun chirashizushi lebih sering dihidangkan saat ulang tahun atau perayaan anak perempuan (hinamatsuri). Bentuknya berbeda seperti sushi biasa, kalau sushi biasa berbentuk bulat tapi chirashizushi dihidangkan ke dalam piring atau mangkok kayu. Chirashizushi dimakan bersama makanan laut (neta) dan sayuran yang dipotong kecil-kecil.
Mahjong, permaian khas jepang yang cara bermainnya sekilas mirip dengan catur. Jika readers ada yang mengikuti anime Naruto maka salah satu tokohnya yang bernama Shikamaru Nara sering memainkannya. Untuk Mahjoung harus berpikir sangat keras.
Kalau readers masih memiliki pertanyaan lain silahkan bertanya lewat R-E-V-I-E-W. Mira sangat mengharapkan review dari kalian.
Arigatou Gozaimasu! Sudah membaca fic Mira sampai selesai! *nunduk hormat*
Untuk chapter besok adalah chapter final yang akan update secepat yang Mira bisa. Sekali lagi terima kasih sudah membaca fic ini. Jangan lupa berikan kritik dan saran, keludan, komentar dan pendapat kalian melalui review kalian.
Kita bertemu di chapter selanjutnya. Sayounara~ (^U^)
I am NOTHING without my readers, my friend, my family, and you…
So, thank you….thank you so much !
.
MiRai MiNe
