Yahoo minna-san! Chapter dua update! Semoga kalian semua terhibur dengan fic ini, ya? Oke, minna-san! Happy reading and please review! ^-^
Trick of Fate
[Ketika takdir mempermainkanmu]
Disclaimer : 07-Ghost © Amemiya Yuki & Ichihara Yukino
Rated : T
Genre : Friendship/Angst
Main Characters : Ea-Landkarte
Note : Canon (based on Kapitel 68: Land of Seele-Kapitel 88: Landkarte), typo(s), maybe OOC, Ea's Centric. Not Shounen-ai!
Summary : Kenapa jadi begini? Bukankah kau yang pertama kali mengajarkan padaku, bahwa seharusnya aku menikmati hidupku yang sekarang? Kau juga orang pertama yang mengajarkanku arti "Sahabat". Tapi, kenapa kau berubah, Landkarte?
Bagian Dua
#
#
Tahun pun berganti, dan akupun sudah bisa melaksakan tugasku sebagai pengelola Kitab Hades dengan baik. Aku juga kadang-kadang keluar gereja bersama Profe dan Fest—yang menurutku lebih mirip sepasang kekasih dibandingkan rekan sejawat—untuk berbelanja atau sekedar jalan-jalan. Yah, kupikir lumayan lah daripada harus menemani Landkarte bermain dengan permainan konyolnya yang kadang membuatku harus tarik urat dan terkadang berakhir dengan aku mengalah padanya serta ikut dalam permainannya.
Aku jadi teringat lagi saat aku sedang meminum teh herbal buatan Profe sambil membaca buku yang diberikan Fiatlark padaku. Si Landkarte berisik itu muncul secara tiba-tiba di depanku dan kembali memintaku untuk menunjukkan Kitab Hades...
Flashback..
"Eeeaaaaaa~" serunya riang seraya muncul tiba-tiba di belakangku dan langsung memeluk pinggangku erat.
Reflek, aku segera menghindar dan membuat pria berambut terang itu terjerembab karena elakanku dari 'pelukan akrab'-nya.
"Hieeeee, Ea jahaaaatttt!" isaknya seraya mengusap-usap dahinya yang baru saja mencium lantai.
Aku tersenyum sinis seraya berujar padanya, "Siapa suruh kau muncul tiba-tiba dan memelukku, Sialan?! Rasakan!"
"Ea, aku ingin kau menunjukkan padaku Kitab Hades lagi~" pinta landkarte dengan suara manja padaku.
Aku berdecak kesal dan berkata, "Bisakah kau tak menggangguku sekarang? Aku sedang sibuk dan tak mau diganggu olehmu, tahu!"
"EEEEHHH? kalau kau tak menunjukkannya padaku, aku juga nggak bisa melaksakan tugasku, lho!" tukasnya dibarengi dengan wajah (sok) innocent.
"Grrrhh, Baiklah! Akan kutunjukkan! kau puas, hah?!" sergahku marah seraya menyiapkan sabitku untuk membuka gerbang teritoriku—Kitab Hades.
"Horeeeee~" seru Landkarte kegirangan seperti anak kecil baru dibelikan permen. Oh, aku lupa kalau dia memang anak kecil. Sialan!
End of Flashback...
"Ea, kau kenapa? Kok merengut? Gara-gara aku, ya?" tanya Profe cemas. Aku baru sadar kalau aku tengah diperhatikan oleh Fest dan Profe. Aduh, mereka pasti bakalan salah paham deh dengan ekspresi wajahku barusan. "Maaf, ya. Aku memaksamu untuk menemani kami belanja, ya?" ucap Profe penuh rasa sesal. (Tuh, kan!)
Aku memejamkan mata amethyst-ku perlahan dan menukas ucapan Profe, "Jangan khawatir, Profe! Aku baik-baik saja, kok! Lagipula kau sama sekali tidak salah, kenapa meminta maaf padaku?"
"Tapi, tadi kau nampak marah dan tidak senang..." ucap Fest sangsi.
"Aku hanya teringat hal menyebalkan beberapa waktu yang lalu saja, kok! Kau tak perlu secemas itu, Fest!" tukasku sebal. "Lagipula aku lebih senang jalan-jalan bersama kalian seperti ini daripada memainkan permainan konyol bersama si Bocah Berisik."
"Bocah Berisik? Maksudmu Landkarte?" tanya Profe.
"Memangnya siapa lagi?"
Kedua sejoli yang ada di depanku nampak berpikir keras. Aku pun tak paham dengan apa yang mereka rencanakan untukku atau apalah itu, karena aku tak pernah mencurigai mereka. Fest menghampiriku dan berkata, "Ea, kau mau ikut kami minum teh?" ajaknya dengan senyum tipikal menghiasi wajahnya.
"Boleh saja, toh aku sedang senggang," jawabku pelan. "Ah, tapi jangan ajak-ajak Landkarte, ya! Dia sangat berisik sampai-sampai membuat kepalaku serasa pecah karenanya!" seruku seraya menudingkan jari ke arah Fest.
Fest hanya menyunggingkan senyum manisnya padaku dan berkata, "Iya, iya, kami tak akan mengajak Landkarte, kok!"
Aku mempercayai apa yang dikatakan Fest, dan menerima ajakan mereka untuk ikut acara minum teh bersama...
Tadinya kupikir begitu, tapi ternyata nggak ada Landkarte... malah ada si Pembuat Onar Zehel! Khhhh, mana Ghost yang satu itu gemar sekali menyindir dan mengerjaiku! Aduh, Fest! Kenapa kau malah ajak dia, sih?! Kalau begini sih, sama saja dong jadinya! Dasar!
"Ah, maaf ya, Ea! Sepertinya kami malah membuatmu marah lagi, habis Zehel bilang dia ingin ikut evening tea juga, sih~!" kata Profe dengan nada menyesal yang membuatku jadi merasa bersalah dengan sikapku barusan.
Ah, sudahlah! Toh sekali-kali ikut minum teh bersama si Pembuat Onar juga tak apa-apa. Tak akan membuatku rugi ini... Asalkan jangan si Bocah Berisik itu saja! Sambil menyesap tehku dengan keanggunan seperti seorang aristokrat, aku menghirup aroma harum dari tehku yang membuatku serasa berada di taman bunga yang luas. Membuatku senang dan serasa ingin berlarian sepuasnya. Eh? Kenapa aku jadi berpikiran sama dengan Landkarte? Dan kenapa aku jadi keingetan sama dia lagi, sih?
"... Ea..." Samar-samar suara itu terngiang di telingaku. Ah! Mungkin aku hanya berhalusinasi karena kelelahan. Lagipula Fest sudah bilang bahwa dia sama sekali tidak mengajak Bocah Berisik itu ke acara minum teh ini.
"Ea..." Suara panggilan itu lagi! Hhh, sepertinya stresku menumpuk sampai-sampai aku delusi dengar suaranya Bocah Sialan itu. Cuekin! Cuekin!
"Ea..." Lho? Kalau aku sedang berhalusinasi... kok, suaranya terdengar begitu dekat?
"EA! KOK KAMU TEGA BANGET MINUM TEH SORE SENDIRIAN TANPA AKU~?! JAHAAAAATTT!" Eh, ternyata dia memang ada di sini, toh? Dan begitu datang langsung memarahiku dengan suara manjanya? My God! Aku langsung melayangkan death glare ke arah Fest yang mengatakan bahwa ia tak mengajak Landkarte sialan ini.
"Seriusan, Ea! Aku memang nggak ngajak Landkarte! Kan kamu tahu sendiri kalau dia bisa melacakmu lewat nomor roh-mu! Jadi dia bisa tahu di mana kamu berada!" Fest berusaha membela diri. Kulihat matanya itu memang tidak berbohong, jadi itu artinya Fest dan Profe memang tidak mengajak Landkarte.
"Biarkan aku istirahat sebentar, Sialan! Kau pikir aku tidak capek menemanimu terus, hah?!" hardikku marah.
"EEEHHH? Tapi aku kan mau berbagi kue denganmu, Ea!" tukasnya sok imut sambil menyodorkanku kantong kertas berisi berbagai macam kue dan kembang gula.
"Nggak butuh! Pergi sana, Pengganggu!" sergahku tak peduli dan menudingkan jariku ke sebuah arah.
"Uwaaaa, Zehel! Ea kok jahat banget sih, sama aku? Memangnya aku sebegitu menyebalkannya, ya?" Landkarte merajuk sambil menarik-narik baju Zehel.
"Memang!" jawab Zehel dengan amat sangat jujur. Tentu saja jawaban itu membuat Landkarte merasa dapat serangan beruntun, dan dia pun meninggalkan kami dengan sebelumnya berseru.
"Huwaaaa! Ea! Zehel! kalian jahat banget, siiih~!"
Mendengar hal itu aku hanya mendengus kesal, "Biar saja! Dasar menyebalkan!"
Suatu hari, kami dikumpulkan oleh Fest dan membicarakan mengenai 'wadah' Verloren yang baru dari hasil penyelidikan Relikt. Aku mengernyitkan alis. Berpikir keras. Apa ini semua ada hubungannya dengan keanehan pada Kitab Hades, ya? Dan biar kutebak! Ini semua bermula dari perbuatan rendah Sang Ratu Raggs yang cemburu pada anak kecil sang pewaris tahta yang lahir dari rahim selir Raja Raggs! Ck, ck, ck, dasar manusia... Selalu saja dipenuhi iri dan dengki.
Ahh, gara-gara itu... aku jadi teringat kembali akan masa laluku yang menyebalkan. Sabar, Ea! Sabar! Tenangkanlah dirimu, jangan terhanyut akan emosi dan dendam di masa lalu! Aku menasihati diriku sendiri, mencoba untuk meredam kebencian dan kemarahanku akan masa laluku yang menyebalkan.
Aku tidak seharusnya mengingat-ingat lagi kenangan-kenangan kecil yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir, dan saya tidak dalam posisi untuk merencanakan sesuatu untuk pembalasan 'dendam' untuk 'kematian'-ku. Tapi kadang-kadang, saya bisa merasakan gejolak dalam diriku... bahwa pembalasan dari 'Kal' yang 'mati' sebelum waktunya. Aku sudah menyelesaikannya waktu itu, kebencian ini, sudah sejak lama... dan sekarang, tidak ada alasan untuk membawanya kembali ke kehidupanku yang sekarang. Meskipun demikian, aku masih dalam proses meredam kemarahan yang datang dari masa lalu itu sekarang.
Aku tersentak dari lamunanku saat mendengar Profe berkata.
"Seseorang... mengejar mereka," kata Profe, mata lebarnya kini menyipit dan menunjukkan mimiknya yang sedang serius. Aku menduga dia sedang mendapatkan suatu 'penglihatan' dan aku tahu pasti bahwa semua yang 'dilihat' oleh Profe itu adalah sebuah kepastian yang tak terelakkan. "Hampir... dia bergerak mendekat, dan sangat cepat! Musuh kali ini tak bisa dianggap enteng! Fiatlark dan Sang Kotak dalam masalah besar!"
"Nampaknya, ini bukan waktunya kita bersantai-santai di sini," Fest memejamkan mata coklatnya sebelum melanjutkan ucapannya. "Kita harus bergegas untuk menolong Sang Kotak dan Fiatlark!"
"Aku setuju!" ucap Relikt dibarengi anggukkan kepalanya yang meyakinkan. "Kita harus menentukan 'hukuman' yang tepat di lokasi yang benar. Tentu saja, kita juga harus menyelamatkan Fiatlark."
"Hoi, Landkarte!" suara Zehel mendominasi. Selain Fiatlark, hanya dia yang bisa begitu. "Kau harus mengirimkan kami dalam waktu semenit atau lebih cepat dari itu! Kalau tidak... jangan harap kau bisa makan kue dengan puas di pesta nanti!"
Landkarte menggembungkan pipinya, dan menukas sebal, "Seperti aku ini tukang makan saja, Zehel! Dan tolong jangan sesadis itulah dalam memberiku tugas! Satu menit itu terlalu cepat, tahu!"
Aku terkikik geli mendengar keluh-kesah yang dilontarkan oleh pemuda bertudung itu. Rasakan kau, Landkarte! Siapa suruh sering malas-malasan? Sekarang kau kena deh dikerjain sama Zehel!
"Ini semua Ea yang merencanakan, kok!"
"... E-Ea?" Mata bulatnya melebar, dan langsung menoleh ke arahku dengan tatapan yang sulit kuartikan. Aku menduga bahwa Fest sengaja mengatakan hal seperti itu agar bocah ini tidak merepotkan kami. Aku menghela napas dan berujar.
"Aku tidak terkesan dengan caramu berbohong dengan menggunakan namaku, Fest..."
"O-ke~! Kita akan segera ke tempatnya Fiatlark dan wadahnya Verloren dengan segera!" Landkarte bersorak dengan riangnya, benar-benar mengabaikan raut marah yang tergurat di wajahku. Orang ini benar-benar menyebalkan! Kadang-kadang, aku bertanya-tanya bagaimana bisa kami menghabiskan waktu bersama Ghost yang menyebalkan macam dia. Aku melirik Zehel yang benar-benar menikmati ini. Dia benar-benar manipulatif, dan ia benar-benar ahli dalam melakukan hal itu. Biasanya dia itu cuek dengan keadaan sekitarnya dan enggan memberikan solusi, tapi sepertinya kali ini dia jadi pemberi saran yang bagus. Berbeda denganku.
Setelah beberapa detik berkonsentrasi pada kekuatannya untuk mencari Sang Uskup dan apa yang telah 'dicurinya', lelaki berpakaian putih panjang itu menghilang, asap yang tertinggal setelah dia melakukan teleportasi adalah buktinya.
Ha ha ha! Ha ha! Ha ... Tidak, aku tidak benar-benar memiliki selera yang sama dengan Landkarte tentang humor.
Zehel lah yang pertama kali berbicara, dengan senyum nakal dan seringaian jahil terpampang di wajahnya. "Mengapa kita tidak mengadakan upacara penyambutan khusus untuk Fiatlark? Sejujurnya, pria itu suka yang namanya 'kejutan'."
Kami berkumpul dan menunggu, menunggu waktunya tiba untuk menghampiri yang kami cari ... dan-
"Father, apakah ini... surga ...?" Suara seorang anak kecil yang polos bertanya pada Father-nya.
Zehel maju duluan—diikuti oleh kami—berjalan beriringan membentuk lingkaran, dengan Landkarte yang mengikuti dari belakang. Si Roh Pemotong itu yang pertama kali memberikan tanda bahwa ia berterima kasih karena kami tetap diam, mengamati 'Si Pendosa' menebusnya sebelum kami, dengan anak yang berumur di bawah sepuluh tahun dalam pelukannya. Matanya melebar saat melihat kami berdiri di hadapannya, raut wajahnya dipenuhi kekhawatiran akan datangnya 'bahaya'—sementara anak bermata zamrud itu menatap ke arah kami dengan ekpresi bingung dan ingin tahu.
Betapa menyedihkan, adegan ini—
"Kami akan mengambil kembali Kotak Pandora, Fiatlark."
Nada dingin yang dilontarkan oleh Zehel dan juga Fest sontak membuat Ghost yang tengah berlutut di hadapan kami itu terkejut, mata pria berambut kuning pucat itu tiba-tiba memancarkan keseriusan yang amat sangat. Dan sebelum kami berkata apa-apa lagi pada Fiatlark, pria itu telah memunculkan sabit hitam di tangan kanannya, sementara tangannya yang lain mendekap erat apa yang disebut 'Wadah', sepertinya dia berusaha untuk menghindari pertarungan serius yang berarti akan melibatkan anak kecil itu dalam bahaya.
"Aku menolak," dia berkata dengan tegas, meskipun ia jelas kalah jumlah dan kalah kekuatan pada saat yang sama. Sang Uskup berdiri kuat, matanya menampilkan tatapan pembunuh, siap untuk pertumpahan darah, hanya untuk kepentingan anak itu. Benar-benar sosok guru yang teguh pada prisip kebenaran sejati, aku benar-benar salut padanya. Fiatlark benar-benar orang yang memegang teguh kata-katanya dan selalu yakin dengan apa yang ia lakukan.
Dia bahkan menambahkan sebuah ancaman tanpa ragu-ragu. "Jika kalian berniat untuk melawanku, aku akan melawan, dengan semua kekuatanku."
—Jika saja itu memang terjadi.
Sebuah seringai jahil terpampang di bibir Zehel, kami semua pun bersikap santai. Fiatlark lah satu-satunya yang nampak tegang dan juga anak dalam dekapannya itu, Roh Perjanjian itu sama sekali belum menurunkan sikap waspadanya dan tetap bersiaga dengan senjatanya.
"Kau tidak perlu khawatir," kata Roh Pemotong itu dengan senyum santai, mengeluarkan rokok dari mulutnya. "Kami tahu bahwa kau ada di pihak yang benar."
Profe yang lembut menyunggingkan senyum hangat yang menenangkan di bibir tipisnya. "Aku percaya bahwa kau, satu-satunya yang tersisa dari semua pelindung kerajaan, dapat melindungi anak itu sampai akhir."
Fest yang berikutnya berkata, "Kami telah diperintahkan oleh Jio-sama untuk menyelidiki Sri Paus, yang membuat kau dicap sebagai orang jahat."
Kemudian, tiba giliranku untuk meyakinkannya, "Kita harus melenyapkan semua—"
"—Yang berniat untuk menghidupkan kembali Verloren dengan semua kekuatan kami," Landkarte melanjutkan ucapanku.
Lalu Relikt menjelaskan hal sebenarnya di balik tuduhan keji yang ditimpakan pada Fiatlark. Aku setuju dengan pendapat Relikt, karena aku tak percaya Fiatlark melakukan hal yang membuat anak ini menderita sebagai wadah bagi tubuh Verloren. Bahwa keberadaannya di sini sebagai alasan hilangnya banyak nyawa manusia dalam perang antara Raggs dan Balsburg.
Aku tahu dengan jelas kalau itu adalah akal-akalan yang dibuat oleh Sri Paus. Dia yang melakukan melakukan semua ini demi kekuasaan dan kehormatan, dari semua orang, yang mungkin bisa melakukan hal seperti itu. Benar-benar tidak bisa dimaafkan! Apa yang sebenarnya dia pikirkan saat itu sampai-sampai melakukan tindakan bodoh dan egois seperti itu?! Aku menyipitkan mata, dan melihat Fiatlark menghela napas lega, dan mengukir senyum lelah penuh syukur di wajahnya. Ia bahagia memiliki teman-teman Ghost seperti kami, terutama Fest dan Relikt, yang telah mengatakan kepadanya kebenaran bahwa kita semuanya sudah tahu apapun yang berada di balik semua peristiwa aneh ini. Landkarte berdiri mendekat, ekspresinya melembut, dan—
"EA!" Relikt memperingatkanku, namun terlambat. Sebelum aku menyadarinya, sebuah benda tumpul menghantam kepalaku dengan kuat ke tanah, dan saat aku hendak berdiri... beberapa bintang dan burung beterbangan mengitari kepalaku.
"Berhenti bersikap sok akrab dengan Tuanku, kau XXXXX!" Suara lain berkata, berbeda dari kami, entah dari mana asalnya.
Aku mencoba berdiri dengan sedikit terhuyung dan megusap kepalaku—yang terkena hajaran yang luar biasa dari seorang anak kecil polos yang belum mengerti apa-apa itu dan aku membelalakkan mata saat Relikt menjelaskan kepadaku bahwa bukan Pangeran Tiashe yang memukulku, melainkan 'Mikhail-sama'. Ini semua gara-gara si Zehel bodoh itu! Khh, aku menggerutu pelan saat tahu bahwa ia adalah salah satu dari para malaikat yang bertanggung jawab memisahkan tubuh dan jiwa Verloren—dalam kasusnya sekarang, ia ada untuk menjaga jiwa anak itu—yang saat ini berperan sebagai induk semangnya— karena Raja Raggs mengalihkan 'Eye of Mikhail' untuk melindungi jiwa Sang Pangeran dari dimangsa oleh Verloren. (Kalau yang ini, menurut penjelasan dari Landkarte.)
"Tapi, apakah tubuh manusia yang mampu menahannya?" Aku bertanya acuh tak acuh, mengabaikan rasa sakit yang masih bernyut-nyut ria di kepala... yang berasal dari serangan Mikhail-sama yang meleset gara-gara Zehel yang menjadi targetnya itu mengelak dengan cepat. Aku hanya mengangkat bahu.
Mikhail-sama, yang mengambil kesadaran tubuh Pangeran Raggs itu, menjawab semua rasa penasaranku dengan nada bangga bahwa ia mampu merperkirakan sampai kapan dia bisa mempertahankan jiwa anak itu dari kekuatan Verloren yang kapan saja siap memangsa tubuh dan jiwanya. Dan saat ini, Dia berkata bahwa ia bisa mempertahankan status Tuannya itu sebagai Kotak Pandora. Dan seperti biasa, Zehel membuat pernyataan lain yang mengesankan bahwa seberapa superiornya Mikhail-sama—yang masih menguasai kesadaran Pangeran Tiashe—dia tetaplah seorang anak kecil. Kelancangan mulut Zehel itu membuat Mikhail-sama kembali murka dan menghajar lelaki bertampang preman itu tanpa ampun.
Kami terus membahas masalah ini lebih lanjut, dengan topik tentang Seele dan apa pun yang berkaitan dengan Verloren, dan yang membuatku sedikit penasaran, karena anak ini... memiliki potensi untuk menjadi seperti diriku yang sebelumnya, dan bisa menjadi alasan untuk kehancuran dunia yang akan datang sesuai dengan ramalan kuno itu...
"Sebenarnya, anak ini baru saja melewati neraka beberapa menit yang lalu sebelum datang kemari."
Profe, aku, dan Zehel menatap bocah bermata hijau bundar itu. Setelah berpikir beberapa saat, sang Roh Perjanjian itu akhirnya berkata, "Aku percaya akan menjadi hal yang bijak kalau kita menghapus memorinya tentang perang... Hal itu terlalu berat untuknya. Kalau dia terlanjur terperangkap dalam kebencian, anak ini mungkin akan melepas segel dengan sendirinya dan membangkitkan Verloren."
Aku menyadari kehadiran sepasang tangan kecil yang menggenggam jubahku, maka amethyst-ku melihat ke bawah—sosok Wahrheit Tiashe Raggs yang masih kecil tampak sedang menundukkan kepala. "Aku... masih bisa menanggungnya. Aku berjanji pada Ayah... Mar-kun... Ka-kun... dan Ak-kun juga..." Ketika ia menengadahkan kepala untuk menatapku, aku bisa melihat bahwa dia memiliki hati yang setegar batu karang. Aku bisa melihatnya dari sinar bola mata hijaunya yang cemerlang itu. "...kalau aku tidak akan melepaskan tongkat kehidupan, untuk kepentingan semuanya. Aku tidak akan menyerah sampai akhir!" ucapnya polos dengan nada kanak-kanak yang serius.
Aku memberinya senyum tipis untuk menenangkannya, karena aku tidak bisa meyakinkan diriku sendiri walau pun anak itu berjanji dengan taruhan nyawanya untuk menjalani hidupnya yang berat itu...
Kami telah mengutus Landkarte untuk mengantarkan Fiatlark dan Tiashe—anak kecil yang berkemauan keras itu—jauh dari tempat kami, untuk Fiatlark dan dia demi mencapai tujuan mulianya agar keseimbangan dunia ini tetap terjaga. Seseuatu hal yang sudah digariskan untuk anak itu. Untuk sesuatu yang berada dalam dirinya, dan untuk masa depan dunia, itu akan terjadi beberapa tahun lagi, seperti yang dijabarkan oleh Profe dalam 'penglihatan'-nya, meskipun tidak jelas. Karena menurutnya, itu tidak baik untuk mengintip masa depan terlalu jauh, atau dia tidak akan bisa kembali ke masa kini.
Aku menghela napas panjang. Dalam hatiku sebenarnya terbersit rasa gelisah yang aneh, seperti semacam ketakutan pada sesuatu yang belum pasti terjadi. Dan siapa yang menyangka kalau rasa gelisahku itu suatu saat akan menjadi mimpi buruk paling mengerikan dalam hidupku sebagai seorang Ghost?
"Zehel tidak ada di sini. Dia sudah kembali?" tanya Relikt yang memaksaku untuk memikirkannya juga. Om-om itu pergi ke mana, sih? gerutuku dalam hati jengkel. Saat ini, kami berempat... Aku, Fest, Relikt dan Profe—sudah kembali ke Gereja dari tempat kami menyambut Fiatlark sebelumnya untuk memberitahukan sesuatu, kemudian hal yang menjadi 'hukuman' bagi Zehel, dan saat ini waktu sudah malam. Ketika aku mendongak ke langit, aku agak kecewa saat tahu malam ini bulan tidak penuh.
"Sepertinya, ia tidak kembali ke mari ketika Landkarte mengantarkan Fiatlark dan Pangeran Tiashe," jawab Fest, yang kemudian ditambahkan oleh Relikt yang mengatakan bahwa betapa sibuknya Landkarte. Aku tak habis pikir saat melihat ekspresi Fest yang nampak terpuruk, dan nampak cemas berlebihan pada Zehel. Seharusnya dia tahu kalau Zehel bukanlah anak kecil yang seharusnya dikhawatiri.
Aku juga paham kalau tugas lelaki yang bertampang preman itu lebih berat dariku karena dialah yang berperan sebagai 'Dewa Kematian' yang sesungguhnya. Meski kuakui kadang aku sebal dengan gayanya yang sok dan kadang berlaku seolah dia yang paling senior dan kami harus selalu mengikuti apa pun yang dia mau. Orang yang sama merepotkannya dengan Landkarte.
"Ea!" Aku menoleh ke arah orang yang memangggilku, ternyata Profe melambaikan tangannya padaku. Memberikan isyarat agar aku mendekatinya, "Apakah kau punya waktu?"
Meski pun hanya mengurus Kitab Hades yang ada di dalam pikiranku, namun aku harus paham kalau tugasku bukan hanya itu saja, mengingat bahwa masih ada perang yang akan pecah—yang saat ini sedang dicoba untuk dihentikan oleh Fiatlark—dan ada jiwa yang menunggu di atur olehku, karena itu aku mempersilakan Roh Nurbuat itu untuk mengatakan apa yang ingin ia sampaikan, dan menyiapkan diri untuk mendengarkannya.
"Insiden ini berawal saat Paus mencoba untuk membuka Kotak Pandora yang menyebabkan perang ..." Profe memulai, matanya meredup dengan iris nampak kosong. Tangannya ditempatkan di sisi wajahnya, dan dia berbicara lagi, "Ini mungkin menjadi tugas tersulit untukmu."
Aku menghela napas. Ya Tuhan, tepat dugaanku! Aku sudah mengira bahwa semua persoalan ini akan berbuntut panjang dan butuh penyelesaian yang cukup lama. Aku memang mampu merunut suatu peristiwa dengan tepat dan cepat, tapi kalau melihat dari cara dia menyampaikan hal itu secara serius... maka aku bisa tahu kalau apa yang akan kulakukan mungkin tidak semaksimal yang dia harapkan.
"Maksudmu ... itu tidak dapat diselesaikan dengan segera ...?" Aku bertanya perlahan, mencoba untuk mencari tahu. Kalau memang itu yang ia maksudkan, maka malam itu aku tidak akan tidur dan akan menuntaskan semua pekerjaan ini secepatnya.
Profe kini tampak lebih serius dan tidak biasa-biasanya dia seperti itu, namun kasus berat macam ini memang harus ditanggapi dengan serius. Profe meminta Relikt untuk membawa kami semua ke waktu dua tahun lalu sebelum Paus melakukan semua hal yang tidak manusiawi itu. Relikt mengiyakan dan ia bertanya bagaimana itu bisa terjadi pada Paus.
"Sebetulnya aku tak terlalu yakin, mungkin ada seseorang yang telah menghasut dia secara terus-menerus. Akhirnya, itu membuatnya percaya bahwa itu semua adalah kata hatinya sendiri..." dia terdiam, jari-jarinya saling menaut satu sama lain, bahunya menegang. "Ada sesuatu yang berbisik di belakangnya... sosoknya seperti bayangan... Entah bagaimana, rasanya bayangan itu sangat familiar..."
Suasana berubah, saat itulah kami tahu bahwa kami tak boleh membuang waktu lagi.
Tanpa ragu, Relikt memunculkan sabitnya, dan dengan diiringi tiupan angin yang kuat yang berasal dari kelebatan kenangan, waktu, dan masa lalu... ia membawa kami semua ke masa dua tahun yang lalu, sebelum semuanya terjadi. Relikt berkali-kali memperingatkan kami agar tidak ada yang menjauh darinya selagi dia memutar waktu dan semua yang kami lihat saat ini adalah masa yang damai sebelum perang antara Balsburg dan Raggs berkecamuk. Aku berusaha untuk memperhatikan gambaran-gambaran masa lalu yang terus berubah, hingga akhirnya gerakan itu berhenti dan nampaklah di hadapan kami semua sosok Paus, yang tengah duduk di takhta, dalam keadaan bingung, frustrasi, takut.
Selain Paus, ada sosok lain, suara yang lain, dan Profe benar bahwa sosok itu tengah berbisik, menggumamkan sesuatu yang harus dilakukan oleh Paus di kemudian hari.
"Bayangan hitam?" Relikt bertanya, saat ia mencoba menyipitkan matanya untuk melihat lebih jelas bayangan dari masa lalu Paus, dan ia menyimpulkan dengan gegabahnya bahwa itu adalah, "Wars ...?"
Tapi, aku tahu lebih baik. Itu bukanlah Wars, dan karena aku memfokuskan pandanganku pada siluet itu, aku menjadi hafal dengan bentuknya. Anehnya, sosok menakutkan itu terlalu jelas bagiku dan membentuk bayangan seseorang yang sangat familiar denganku. Aku mencoba menyangkal, menolak kebenaran yang di depanku. Ini tidak mungkin... itu...
"...Landkarte...?" gumamku tidak percaya. Tenggorokanku terasa tercekat, dan aku memicingkan mataku... memastikan bahwa aku memang tidak salah lihat. Orang itu... tidak mungkin!
"Ini buruk!" Suara Relikt membahana ke seluruh penjuru ruangan, menyerukan kecemasan dan kekhawatiran. "Kami harus memberitahu pada Fiatlark segera mengenai hal ini...!"
Aku menatap mereka semua dengan tatapan yang yang sulit diartikan, dan beberapa saat kemudian... mataku membulat saat melihat kematian cepat mendekati kami. Dengan gerakan kilat, aku mencoba untuk menghindari serangan mendadak dari sosok yang tidak terlihat. Aku mengira bahwa teman-temanku yang lain—Profe, Fest, dan Relikt—juga menghindar, namun sepertinya mereka gagal. Ujung benda tajam itu masih menngarah padaku begitu dekat, semakin dekat, dan pada detik berikutnya, semuanya tiba-tiba menggelap.
Tanganku reflek menutupi mata amethyst-ku yang kini telah hancur terkena hujaman benda tajam itu, cairan dingin berbau amis mengalir keluar dari tempat lukaku, yaitu kedua mataku. Aku hampir terjerembab ketika bergerak mundur, dan saat aku menyentuh tanah untuk membantuku menahan berat badanku saat terjatuh barusan, aku tahu... dia bergerak mendekat. Aku mengatupkan rahangku keras, menggertakkan gigiku kesal. Aku terpukul melihat kenyataan mengerikan yang terjadi di depan mataku beberapa saat lalu sebelum aku kehilangan penglihatanku. Sedetik kemudian, aku sadar. Tak ada gunanya kau berdiam diri dan bersedih di sini selagi bahaya tengah mengintaiku seperti sekarang ini. Dengan sisa tenaga yang ada, aku berusaha menyeret kakiku untuk melarikan diri darinya.
"Oh, Ea?" suara rendahnya kembali terdengar, nada serak berbeda dari biasanya, masih terdengar kekanak-kanakan namun aku menangkap adanya aura ganjil darinya. Kalau aku boleh jujur, dia saat ini seperti anak kecil dengan pikiran polos yang gila dan penuh dengan ide-ide kejam yang mungkin baginya tampak menyenangkan, sayangnya telingaku terlalu sensitif untuk mendengar semua itu. Tch. "Sepertinya kau adalah satu-satunya yang gagal kubunuh."
Dengan mengandalkan indera perabaku dan juga pendengaranku, aku berusaha mencari tempat yang aman untuk bersembunyi. Kususuri lorong-lorong dan gang-gang sempit untuk mencari tempat persembunyian dan menghela napas lega sesaat setelah memastikan semuanya aman terkendali. Aku berharap dia tak menemukanku di sini, meski ia berusaha menyusuri ruangan demi ruangan untuk mencariku. Aku mampu mendengar jelas suara langkah kakinya mendekat dan berusaha untuk membujukku agar keluar dari tempat bersembunyi. Seolah aku dan dia saat ini tengah bermain petak umpet seperti yang biasa kami lakukan saat masih kanak-kanak dulu.
Ini tidak masuk akal! Kenapa bisa dia berubah drastis seperti ini? Kenapa?! Pertama kali aku bertemu dengannya, dia nampak biasa saja, bahkan dia seperti anak kecil yang nampak idiot! Dia selalu tersenyum dan selalu membuat lelucon. Kadang dia membuat onar hanya untuk mendapatkan perhatian semua orang dan teman-temannya! Dia kikuk, sedikit... kekanak-kanakkan dan naif, seperti bawaan dari lingkungannya! Dia bahkan tidak akan bereaksi jika tidak diingatkan, dan sikapnya sangat egois, mementingkan diri sendiri dan entah bagaimana caranya, ia selalu bisa membuatku menurutinya setiap kali dia meminta bantuanku! Aku memang kadang suka marah dengan sikapnya yang seperti itu. Tapi...
Kenapa jadi begini? Bukankah kau yang pertama kali mengajarkan padaku, bahwa seharusnya aku menikmati hidupku yang sekarang? Kau juga orang pertama yang mengajarkanku arti "Sahabat". Tapi, kenapa kau berubah? Beritahu aku alasannya, Landkarte... Apakah karena kau bertugas sebagai Roh Penghapus, yang bertanggung jawab untuk menghapus 'perasaan negatif' manusia yang ia sebut sebagai 'Kotoran'. Jiwa yang kotor, telah mengubahnya hitam! Aku tak mau mempercayainya! Aku gemetaran hebat seperti rasanya mau mati, gemetar karena lututku mendadak terasa lemas, dan tubuhku merosot di dinding yang menjadi sandaranku. Kalau saja bisa, mungkin saat ini aku akan menumpahkan air mata kekecewaaan, namun itu tidak mungkin karena Landkarte sudah mengambil penglihatanku...
"Landkarte... Kau..." ucapku terbata-bata, berusaha menahan perih yang tak terkira. Sebenarnya perih itu kurasakan bukan dari luka di lubang mataku, melainkan rasa sakit yang tibul karena dikecewakan dan dikhianati oleh orang yang sebelumnya sudah kuanggap sebagai saudara sendiri. Semua rasa itu membuatku berani menghardiknya, berani mempertanyakan kembali semua yang penah ia ucapkan padaku dulu. Aku tak tahu apa penyebabnya dia bisa seperti sekarang ini, pasti ada pemicunya! Samar-samar, aku teringat kembali akan ucapannya di mercusuar waktu itu...
"Bukankah kau sangat mengharapkan terjadinya perdamaian?!"
"Ya... tadinya aku berharap rencana ini akan berjalan lancar," nada kesal dan gelisah dari suaranya membuatku teringat kembali akan raut sedihnya saat di mercusuar dulu, dengan kata-kata mengungkapkan kebenaran yang berubah menjadi kebohongan. "Aku ingin menyingkirkan semua Kotoran dari dunia ini, pada awalnya, aku ingin membuat dunia yang penuh dengan cinta."
"Namun," nada suara Landkarte mendadak berubah menjadi berat dan ada nada mengancam di dalamnya. "Aku tidak bisa melakukannya."
Kemudian, Si Idiot itu kembali mengoceh tentang bagaimana dia tidak bisa melakukannya—dengan cinta dan benci bergumul dengan serunya di hati manusia, ia bahkan menyatakan bagaimana Verloren tidak bisa melakukan sesuatu tentang hal itu ... dan itu membuatku murka.
"Jadi, akhirnya aku memutuskan... Jika aku tidak bisa menghapus benci dan mengubahnya menjadi cinta, maka aku akan menghapus keduanya."
Oh, sial! Landkarte... apakah menurutmu semua yang kau lakukan itu sesuai dengan idealismemu yang terdahulu? Kupikir itu hanyalah keinginan egoismu saja, dan tak seharusnya para manusia itu yang menanggung akibatnya. Aku pun mengambil kesimpulan bahwa kau terlah terkotori oleh jiwa-jiwa negatif manusia itu.
"Sungguh idealisme yang konyol," celaku sarkastik dan meludahkan darah yang sempat tertelan ke mulutku. Sebelah tanganku mengepal erat, dan aku menggeram marah. Tak setuju dengan pendapat yang ia kemukakan padaku.
"Tidak juga," Landkarte sialan itu menyanggah. "Mungkin seharusnya hal inilah yang aku lakukan dengan kekuatan Verloren ini... karena tidak seperti Verloren, aku tidak memiliki cinta atau benci dalam diriku, aku bisa memenuhi dunia ini dengan kegelapan murni."
Seketika ingatanku akan bocah berambut coklat bermanik hijau itu berkelebat dan aku teringat akan semangat serta tekadnya untuk melindungi semua yang ia sayangi dengan kekuatannya. Aku menegakkan tubuhku perlahan, dan membulatkan hati untuk bisa melawannya. Ia sudah termakan oleh kegelapan dan sisi manusia dalam dirinya sudah tidak tersedia lagi saat ini.
"Jangan main-main denganku..." Aku mengancamnya, dengan suaraku serak dan berat.
Aku tak peduli lagi, apa pun akan kulakukan demi anak itu. Aku pun tak peduli lagi dengan semua yang pernah Landkarte ucapkan padaku mengenai perasaan benci dan cinta, aku tak peduli lagi akan semua itu jika itu bisa membuat Landkarte sialan itu kembali lagi seperti dulu...
"Ea, sejujurnya aku tertarik padamu bahkan kekuatanmu untuk menguasai Kitab Hades cukup menarik..."
Cih.
"Jadi, bagaimana menurutmu? Jika kau mau ikut bekerja sama denganku, aku akan dengan senang hati..."
Aku mencibir dengan sarkasme untuk diriku sendiri. Dia bermaksud menipuku lagi dengan mulut manisnya, dan aku tak akan mau termakan lagi bujuk rayunya.
Dengan tanganku yang masih berlumuran darah, gemetaran, dan kehilangan penglihatan... aku memegang sabit di satu tangan—aku berpikir ulang, apakah ini semua sudah direncanakan oleh Tuhan untukku? Mengingat semua kejadian-kejadian buruk yang pernah menimpaku semasa hidup bahkan setelah aku mati dan menjadi Ghost. Aku mencoba untuk melakukan apa yang masih bisa kulakukan. Di tempat suci-ku, Kitab Hades, dengan senang hati menanggapi perintahku, dan mengubah segala hal yang berhubungan denganku dalam sekejap. Walau pun aku tidak bisa melihat lagi, aku bisa merasakan, dan aku masih bisa berpikir, aku masih bisa bernapas. Meski pun aku kehilangan salah satu dari inderaku, biarlah Kitab ini mengetahui dan menghormati pemiliknya, melakukan perubahan di bawah kendaliku, dan tetap mematuhi semua perintahku.
Atas dasar itu semua, aku mengerahkan kemampuanku untuk mengganti nomor jiwaku dengan yang lainnya agar Si Sialan itu tak dapat melacakku. Sebab Landkarte memiliki kekuatan teleportasi, dan sekarang, ia mungkin akan memburuku kemana pun aku pergi, karena aku adalah satu-satunya saksi hidup yang tahu kebenaran dari semua peristiwa ini, dan karena 'ia terobsesi denganku'. Hah, peduli setan dengan apa yang akan dia lakukan padaku saat dia berhasil menemukanku! Aku tidak butuh kasih sayang, perhatian atau apa pun yang dia tawarkan! Saya hanya ingin 'dia' kembali! Aku ingin membawa kembali 'Landkarte' yang kukenal!
"KEPARAT KAU... EA!"
Hanya kalimat umpatan itulah yang terakhir kudengar meluncur dari mulut Landkarte.
Sudah berapa lama waktu berlalu sejak itu? Apakah aku sudah terlambat? Tidak! Pasti ada jalan untuk menyelamatkan Landkarte dari kegelapan. Walau pun aku sudah kehilangan kedua amethyst-ku, namun aku tak pernah kehilangan harapan. Aku pasti bisa menyelamatkannya, walau nyawaku jadi taruhannya.
Kini tugasku sebagai Kal Ien, dan juga Ea, aku harus melindungi Tiashe—bukan, sekarang dia dikenal sebagai Teito Klein, anak asuh Miroku di akademi militer Balsburg. Melatihnya secara fisik dan mental, agar dia bisa bertahan hidup dan memahami 'misi'-nya di dunia. Dan aku... Akan berusaha untuk menyelamatkan seseorang yang pernah menjadi sahabatku, seseorang yang memahami diriku, dan juga seseorang yang pernah kuanggap seperti saudaraku sendiri... Landkarte.
#$%Fin%$#
A/N : (speechless) Oke, ini bagian terakhir dari Trick of Fate, rasanya saya kurang menjiwai Ea, ya? Haduuh, padahal saya sudah mencoba untuk se-IC mungkin... (pundung di pojokkan) Gomennasai, minna!
Balesan Review :
Koizumi Nanaho : Hai, Zumi-han! Akhirnya kau datang juga ke fic 07-Ghost nee. Walau sudah lama nee tidak menulis, bukan berarti nee menghilangkan ciri khas nee, kan? *senyum jahil, dilempar baskom sama Zumi-han* Iya, nggak tahu deh si Landkarte kesurupan setan apa sampai tega sama Ea begitu. Tapi, semuanya akan terjawab di fic ini *mungkin* #plak
Mi, mirip sama UlquiHime? (lah?) Tapi, emang bener juga, sih! #Dilempar sabit sama Ea
Oke silakan menikmati saja fic ini. Hehehehe
Teika Vertrag : Err, emang sih di wikia tertulis Karu. Tapi, berhubung di manganya tertulis 'Kal' jadi saya pakai nama 'Kal' saja. Maaf kalau senpai tidak sependapat... *nunduk-nunduk minta maaf*
Dwi93Jun Takahashi Chan : Terima kasih review-nya, ini sudah dilanjut kok! Maaf kelamaan menunggu
Shinku Tsuu-ki : Thank's a lot. Saya sangat menyukai Ea, meski saya bukan Fujoshi. Ini sudah di update, maaf kalau penokohannya kurang sempurna. Review lagi, ya! ^_^
Oke minna-san! Terima kasih sudah membaca fic ini, bolehkan saya meminta sepucuk review? Please review if don't mind karena review dari minna sangat penting bagi saya...
