Sachinn si author abal balik lagii, kangen gak? *ngarep*
Lanjutannya udah nih, maaf yaa kalo tidak sesuai ekspektasi, soalnya idenya udah ga dari mimpi lagi (udah campur-campur), dan ini dibuatnya sambil nguap-nguap...ehee...jadiii...
Ummm.. begitulah hehehehe maaf terlebih dahulu yaa XD
Disclaimer: Vocaloid bukan punya author abal ini, kalo enggak Kaito dan Luka juga bakal jadi abal... LOL
-Luka POV-
"Heii tunggu, tunggu!"
Aku berteriak untuk menghentikan lari pemuda ini karena aku mengingat ada hal yang kulupakan, tapi ia tetap saja berlari.
"Anuu... siapa namamu lagi ya?"
.
.
.
.
.
.
.
BRUKK!
"Aww! Kau tidak perlu menjatuhkanku dengan sengaja dong!"
"Sengaja?! Maaf ketidak sopanan hamba nona, namun itu refleks"
"Kenapa refleksmu buruk sekali?"
"Sekali lagi nama hamba Kaito Shion, Luka-sama. Tolong jangan dilupakan, karena saya akan berfleks buruk seperti barusan kalau kau tanyakan hal semacam itu disaat saya sedang berlari"
"Ah. Baiklah Kaito-san, aku ingin ke sana" Ucapku sambil menunjuk ke arah belakang, arah jalan kembali ke penjara.
"Hah? Apa saya tidak salah dengar nona?"
"Iya aku ingin ke sana, aku baru ingat melupakan sesuatu"
"Melupakan sesuatu? Tapi tadi hamba telah mengecek seisi ruangan tempat nona dikurung dan tidak melihat barang apapun nona"
"Bukan barang! Pokonya ikuti aku!" aku berlari kearah penjara kembali
"Hei nona! Kalau tidak cepat nanti kita tidak bisa keluar!"
"Hanya sebentar Kaito-san! Ayolah" kutarik Kaito yang akhirnya terpaksa mengikutiku
-Normal POV-
Di saat itu, dikerajaan Megurine
"Luki-nii... Apakah Luki-nii tahu bahwa nii-chan sudah hampir 3 jam berjalan bolak-balik seperti itu sehabis santapan makan malam tadi.." ucap Rin yang melihat Luki bolak balik di ruang televisi.
"Rin-chan, bisakah kamu tidak berkomentar apa-apa, sebab nii-chan sedang mengkhawatirkan Luka-nee, mengerti?" jawab Luki dengan tidak ramahnya.
"Kalau Luki-nii khawatir segitunya, kenapa gak pergi sama Kaito-san?" tanya SeeU yang juga capek melihat Luki bolak balik yang menurutnya menggangu pemandangan.
"Itu karena ayah gak setuju! Cih... padahal Kaito siapalah itu orang baru, kenapa ayah bisa mempercayai orang baru! Siapa tau dia juga bukan orang baik-baik!" kata Luki dengan kesalnya
"Ya ya...Kupikir Kaito-san itu orang yang cukup baik" balas SeeU
"APA? Belum juga kau melihat orangnya kok kamu bisa menilai dia seperti itu SeeU?" balas Luki lagi
"Nii-chan sendiri, belum juga lihat personalitas orangnya udah menilai jelek seperti itu... Kan dia sudah berniat menolong Luka-nee, tanpa bayaran apapun lagi. Jadi kupikir dia orang yang baik?" jawab SeeU yang sendirinya juga tidak yakin.
"Haah apapunlah itu, kalau Luka kembali dengan luka setitikpun awas saja..." gerutu Luki
"Jadi benar Luka-nee pergi ya?" tanya Len yang baru saja masuk ke ruang televisi
"Len, kau telat banget sih..." jawab Rin
"Kau yang tidak memberitahuku" balas Len yang memberikan tatapan kesal pada Rin
"Itu sih tanya Luki-nii, jangan aku!" bantah Rin
"Len, Ayah gak mau membiarkan kita tahu Luka-nee dikurung, soalnya dia yakin kita pasti cemas, kaya Luki-nii yang bolak balik tuh" jawab SeeU menjelaskan sambil meunjuk ke arah Luki
"Tapi akhirnya ketauan gara-gara Luki-nii kaya orang aneh gitu, SeeU-nee langsung ngerti deh, lalu kebetulan aku sama Oliver lewat, jadi tau deh." jawab Rin melanjutkan penjelasan SeeU
"Hah? Jadi Luka-nee dikurung? Kok bisa? Dimana?" tanya Len yang jadi ikutan cemas
"Iya dia dikurung di Kerajaan Hatsune, kok bisa? aku juga gak tau" jawab Luki
"Luka-nee..." ucap Len yang juga kepikiran
"Luka-sama, sebenarnya anda mau kemana? Ini bukan jalan ke arah sel tadi" tanya Kaito yang bingung saat Luka mengambil jalan lain
"Diam saja dan ikuti aku, oke?" jawab Luka yang berusaha mengingat jalan
"Haiaaa... Baiklah..." jawab Kaito terpaksa
"Sepertinya yang ini..." jawab Luka yang berhenti didepan pintu kamar besar
"Nona, ada apakah disini?"
"Aduh Kaito-san kamu terlalu banyak bertanya"
"Perasaanku buruk..."
"Pastilah perasaanmu buruk, ini ruangan Ratu Mayu, Kaito-san. Beberapa helai rambut Teto ada bersamanya, aku yakin dia sudah tertidur, jadi kalau boleh tolong kau ambilkan rambut itu..."
"Tidak nona..."
GREPPP!
"Apa-ap...uphhh..." ucap Luka yang terputus
"Sstt...nona diamlah, ada yang datang.." jawab Kaito yang menarik Luka untuk bersembunyi dibalik pilar dan menutup mulutnya
"Yang Mulia, ada apakah engkau memanggil hamba?" tanya seorang pengawal yang mengetuk pintu kamar Ratu Mayu
"Masuklah" perintah Ratu Mayu
Sang pengawal membuka pintu kamar Ratu Mayu dan masuk kedalamnya dan menutup kembali pintu kamar itu. Kaito melepaskan tangannya dari mulut Luka. Luka yang memanas pipinya mencubit tangan Kaito dengan keras.
"Ouch, anda tidak perlu sekejam itu nona"
"Jangan pegang-pegang aku sesuka hatimu!" kata Luka kesal, pipinya masih memerah
"Maafkan hamba, tapi kalau tidak, nanti ketahuan sama pengawal tadi kan, nona?" jawab Kaito sambil memberikan evil smirk miliknya
"Uugh! Pokoknya jangan melakukan hal yang tidak senonoh!" bentak Luka
"Kupikir itu biasa-biasa saja..." batin Kaito yang capek hati
Luka mengendap-endap mendekat ke pintu kamar milik Ratu Mayu, menguping.
"Sebenarnya mengapa kita harus mengambil rambut milik Teto-san? Hanya beberapa helai pula.." tanya Kaito yang tidak mengerti keinginan Luka
"Itu sejenggut Kaito-san, SEJENGGUT! Banyak helai" kata Luka tegas dengan suara yang masih pelan
"Iya, baiklah... Mengapa anda ingin mengambil rambut Teto-san yang sejenggut itu dari Ratu Mayu?"
"Kau tanya kenapa?! Nyawa Teto-san ada pada tangan Ratu Mayu, karena sejenggut rambut itu, mengerti?!" jelas Luka
"Oh... baiklah..."
Kaito dan Luka berusaha mendengar pembicaraan Ratu Mayu dan pengawal barusan. Saat pembicaraannya selesai, Luka dan Kaito kembali menggendap-endap bersembunyi dibalik pilar kembali.
"Kau dengar itu Kaito? Lakukan tugasmu dengan baik." Ucap Luka yang lebih tepatnya memberi perintah
"Baiklah, sesuai dengan keinginanmu nona."
"Aku akan pergi keruangan yang diseberang itu" balas Luka sambil menunjuk satu pintu ruangan yang tidak terlalu jauh di seberang kamar Ratu Mayu
"Ada apalagi disana nona?" Tanya Kaito yang semakin pusing dengan keinginan Luka
"Disana ruangan yang aman, aku akan berada disana sampai engkau datang. Lakukan tugasmu dengan cepat, setelah kau selesai barulah kita keluar. Simpan pertanyaan lainnya untuk nanti!" perintah Luka lagi.
-Kaito POV-
Walah walah, nona satu ini kok sok kuat sekali. Ckckck... harus sabar. Memang ada apa dengan ruangan sebrang itu? Memang sih aku tidak merasakan perasaan buruk lagi, tapi aku harus cepat mengerjakan tugas ini! Bisa bahaya jika berlama-lama di kerajaan Hatsune ini.
"Hmm... baiklah Luka-sama. Tarik ini jika kau mendapat masalah" ucapku sambil memberikan mini-alarm kepadanya.
"Tidak akan dipakai..." ucapnya malas
"Ya..ya.. apapun itu, aku hanya memberi saran saja"
Baiklah, saatnya merebut rambut dari tangan pengawal itu.
Cih, mudahnya...
-Luka POV-
Setelah melihat Kaito-san pergi membuntuti pengawal yang baru saja keluar dari ruangan Ratu Mayu, aku kembali berjalan menuju ruangan sebrang. Setelah kupastikan tidak ada yang melihatku dari luar, aku masuk ke dalam kamar itu. Kamar anak Ratu Mayu.
Wah disini sangat terang...
Kuhampiri anak perempuan yang tadi kusembuhkan. Aku kasihan padanya. Rambut toskanya bertebaran diatas kasur yang ia tiduri. Kuharap wajahnya masih bisa kusembuhkan.
"Hai... Aku akan mencoba sebisa mungkin menyembuhkanmu..."
Kekuatan hangat mulai mengalir dari tanganku. Kudekatkan tangan ini pada wajah anak yang kalau tidak salah bernama Miku ini.
Terus mengalir, tanpa terasa sudah dua puluh menit kekuatan itu mengalir terus.
Huff...huff...
"Aahh ternyata kekuatan ini memang tidak bisa dipakai lebih dari sehari ya..."
Huff...huff...huuuff...
"Tinggal sedikit lagi, wajahmu akan sembuh total, Miku-san"
Aku mencoba terus, mengalirkan kekuatan ini pada wajah Miku.
Huff...hufff...
Aku harus berjuang!
"Terimakasih..."
"Huh?" Sesaat aku mendengar ada yang berbicara di dalam kepalaku...
"Miku-san?"
"Iya, nona... Apakah anda bisa mendengar suaraku?" ucap Miku lagi dalam pikiran Luka
"Ah ya, aku bisa mendengar suaramu Miku-san..."
"Ternyata memang benar, hanya keluarga Megurine yang dapat mendengar isi hatiku..." kata Miku dalam pikiran Luka lagi...
"Apa maksudmu?"
"Tolong aku, Megurine-sama..."
"Huh? Apa maksudmu Miku-san?"
BRAKKK!
Aku refleks menengok ke arah pintu kamar ini yang dibanting keras, ternyata...
Akhirnyaa terlanjutkan ceritanya, maaf yaa kalo banyak typo, kurang tanda baca yang benar, bahasa yang bleberan dan segalanya yang tidak mengenakan hati boleh dikomentar di review corner *ngarep berlebih*
Yeheeyy segitu dulu yaa, pegel punggung huehehehe
Kalau ada usul, silakan ditulis yaa
jaa~
