"Jadi, semudah ini untuk menembus Forest Cage, eh? Yang konon katanya mengerikan itu? Hahaha, bahkan perbatasan kegelapan itu dapat Kyuubi dan Nafurry lewatkan."

"Ck, kau tidak ingat? Kita sudah dua hari tidak bisa keluar dari perbatasan kegelapan yang berada di sana."

"Hei, kelopak ini terlihat aneh dari kelopak biasa."

"Rivenleaf, daun yang tidak akan pernah kering meski ribuan tahun."

"Ma-maksudmu? Ini…"

"Ya, ternyata ada peri yang tinggal di tempat ini."

"Ga-gawat, Sakura…"

"Rivenleaf kita terbawa angin… Tapi, kau kan bisa meminta bantuan angin Forest Cage untuk mengembalikan Rivenleaf ke tangan kita, Hinata…"

"Ini kehendak angin suci itu sendiri, angin Forest Cage tidak mendengarkan bisikanku. Angin Forest Cage telah berkehendak."

"Itu berarti… mereka—"

"Ya,"

"Tidak, tidak lagi, Hinata. Biarkan aku membunuh mereka…"

.

.

.

==00==00==00==

Forest Cage

Disclaimer: Kisimoto-sesei is owner Naruto.

Warn: AU / OC: Sakashi & Rahina (half-elf) / OOC / SakuHina, No Yuri! / SasuSaku NaruHina / Mengarang Bebas / Fantasy-unlogic.

Soundtrack yang mungkin bisa kamu dengarkan untuk fic ini:
Muse – Blackout
Muse - Exogenesis Symphony Part III (Redemption)

-chapter II-

==00==00==00==

.

.

.

"Biarkan aku membunuh mereka…"

"Tidak! Jangan gegabah, Sakura!" cegah Hinata menautkan genggaman pada pergelangan halus seputih susu milik temannya. Sakura mengalihkan pandangan untuk menatap Hinata kembali dengan kerutan alis.

"Rivenleaf kita hanya akan terjatuh pada makhluk pilihan, yang kemudian harus kita dampingi hidupnya!" Sakura mengingatkan. "Dan kini jatuh ke tangan manusia. Kita akan mendampingi manusia lagi? Jangan bercanda!"

Hinata tertunduk sejenak menatap kaki-kaki mulusnya sendiri. Sakura menghela napas. "Manusia adalah godaan terbesar untuk bangsa kita."

Kini Hinata dapat merasakan tangan halus temannya sedikit mengguncang bahunya. Hinata masih tetap saja tertunduk. "Manusia memiliki lidah semanis madu." Sakura terus berucap tanpa peduli sahabatnya yang cantik ini tak mau mendengar. "Jatuh di tangan manusia adalah masalah rumit. Ingat, manusia dapat selalu menjadi perayu ulung jika mereka mau!"

"Kalau begitu jangan biarkan diri kita jatuh ke tangan manusia—lagi." sergah Hinata melepaskan kedua tangan Sakura dengan halus. Senyum setegar mungkin ia gores di wajah anggunnya. Kedua iris cemerlang hijau Sakura kini menatap bergantian kedua bola mata ungu pucat Hinata.

"Kau yakin? Kau yang paling terluka, di masalalu." Sakura menatap penuh khawatir pada peri cantik berambut indigo di hadapannya. "Apa kau yakin akan menyerahkan abdimu pada manusia—lagi?"

Sesaat iris ungu pucat itu bergerak tak tenang. Namun dihirupnya udara dalam-dalam, Hinata tersenyum dan menggeleng. Menatap kedua bola mata cemerlang Sakura, mencoba meyakinkan.

Peri berambut merah muda lembut itu mengerutkan alisnya kembali, mengeratkan cengkraman pada kedua bahu Hinata. "Dengarkan aku, kita sudah tidak terikat pada pengabdian apa pun selain tempat ini. Kita bisa melakukan penolakan jika tidak bersedia."

"Kita harus kembali normal, Sakura!" kilah Hinata sebelum Sakura bersiap meluncurkan kata-kata lagi. Ia merasakan pegangan pada pundaknya mengendur dan terlepas. Ditatapnya penuh-penuh sosok peri langsing ber-signature bunga sakura di hadapannya. "Kita dibuang, kita terkurung di dalam sini. Karena sebuah kesalahan." Ucapnya tenang dengan suara yang halus.

"Kalau saja kita manusia, yang memiliki periode hidup normal—seabad paling tidak, pasti kita akan nikmati surga dunia ini dengan tenang hingga batas umur menggapai kita." Kini kedua tangan halusnya meraih bahu Sakura.

"Tapi kita sudah berumur… um… seribu tujuh ratus tahun—setidaknya. Dan kita tidak tahu kapan hidup di dalam sini akan berakhir. Tidak kah kau kesepian terkurung dalam sarang hutan ini? Sejak ratusan tahun lalu, hingga entah kapan kita bertahan."

Iris cemerlang hijau itu menangkap kilatan air bening menggenangi hamparan ungu pucat di hadapannya. "Kumohon, Sakura… aku ingin normal seperti bangsa kita. Berkumpul bersama mereka… lagi."

"Membawa Sakashi dan Rahina keluar dari tempat ini." Lanjut Hinata dengan suara bergetar, "meski kuakui di sini indah…"

Sakura menatap sahabat peri satu-satunya di hutan ini. Lama seperti itu hingga berakhir dengan helaan napas berat. Tangannya terulur untuk merengkuh tubuh sintal di hadapannya. "Baik, karena aku menyayangimu bagai saudariku, apapun untukmu, Hinata." Ucapnya lembut mengelus punggung Hinata.

"A-arigatou…"

Sakura tersenyum lembut.

"Halo," suara baritone itu mengejutkan kedua peri cantik yang sedang berpelukan. Sepasang iris lavender dan emerald itu menoleh, mereka mendapati dua manusia tampan sedang berdiri tepat beberapa langkah di dekat mereka.

"Nona—err peri…?" sapa manusia berambut pirang yang kini nampaknya berhasil menarik hamparan ungu pucat di sebelah sana hanya dengan sepasang iris biru lautnya.

Untuk sesaat, waktu seakan berhenti bagi Hinata, peri ber-signature lavender. Mata perinya memang dapat melihat jelas dari jauh—lebih jauh dari kemampuan manusia. Tapi bila melihat manusia pirang itu dengan jarak yang lebih dekat dari sebelumnya, tentu tak pernah ia duga akan sejelas dan se—tampan ini?

"Siapa kalian!" hardik Sakura tanpa ragu, menyadarkan Hinata dari lamunannya. Meski Sakura sudah mengetahui kehadiran mereka di Forest Cage ini, Sakura belum tahu identitas dua manusia yang memakai setelan bangsawan tersebut.

Berbeda dengan Hinata, Sakura adalah peri yang condong akan kemampuan telinganya—meski itu membutuhkan konsentrasi. Sakura adalah peri yang terbilang cukup cacat untuk beberapa keahlian bangsa peri yang tidak ia miliki, seperti penglihatan yang lebih tajam, atau bisikkan pada angin. Tidak seperti yang Hinata mampu.

Manusia berambut raven itu mengambil langkah mendekat ke arah Sakura, ketika dilihatnya Sakura malah mundur beberapa langkah, manusia itu pun berhenti. "Jangan takut," gumam Sasuke ketika menyadari tatapan waspada Sakura.

Sakura memicing mendengar suara manusia terbalut setelan bangsawan dan memiliki mata gelap memukau itu.

"Uchiha Sasuke," suara berat si manusia tampan terdengar. Sakura tak bergeming, hanya iris kemilau hijaunya yang beralih menuju tangan manusia yang terulur itu. Alisnya bertaut, matanya memicing. "Ng?"

Perlahan, tawa kecil pun terdengar halus dari teman perinya. Sakura menoleh.

"Ia ingin berkenalan denganmu, Sakura." Ujar Hinata halus menatap Sakura dengan anggukan. "Ayo, ulurkan tanganmu."

Kerutan alis makin terlihat jelas di wajah cantik peri berambut merah muda itu. Sakura mengulurkan tangannya, manusia di hadapannya bertanya… "Hn, namamu Sakura?" dan ketika tangan kecilnya terjabat tangan besar itu, waktu seakan berhenti.

Irisnya berhenti bergerak terpaku menatap telapak tangannya sendiri. Dalam sekejab, bulu romanya merinding, ia menoleh kesana-kemari. Didapatinya, Hinata beku, dua manusia di hadapannya beku. Hanya dirinya sendiri yang seolah masih dapat berkedip dan melihat sekeliling.

Serta-merta, sekelilingnya berputar membentuk garis-garis warna yang terbias. Dilihatnya kilasan pandangan-pandangan asing. Seakan tubuhnya dibawa jauh melambung ke atas langit, menyaksikan sendiri hamparan hijau bak surga—Forest Cage.

Batasan daerah kegelapan yang mengitari hamparan hijau itu terlihat mengamuk dengan kilatan petir di atasnya. Dua manusia menunggangi naga, naga hitam cantik dan naga oranye berekor sembilan, seolah tengah berperang melawan amukan perbatasan.

Entah bagaimana, air matanya menggenang menyaksikan dua manusia penunggang naga itu terjatuh—kalah dengan keriuhan perbatasan kegelapanForest Cage. Namun perbatasan itu memudar, kegelapan disana tergantikan oleh kemilau hijau yang tak kalah cantik dari bagian dalamForest Cageitu sendiri.

Sakura tersenyum, tersenyum hambar… tiba-tiba ia menemukan dirinya sendiri tengah berdiri di depan sebuah peti terbuka, menampilkan sosok manusia beruban yang rasanya tak asing…Sasuke? Bagaimana Sakura bisa yakin kalau manusia yang rambutnya sudah putih seluruhnya itu bernama Sasuke?

Sakura menjerit, entah karena apa, jeritan kepedihannya seolah menggema di dalam kepalanya sendiri. Membuat kepalanya terasa di tusuk ribuan duri, sakit…

"—ra."

"—kura."

"Sakura!"

Kelopak mata itu mengerjap memamerkan iris hijau cemerlang. Sakura merasa tubuhnya lemas dan melayang, keringat dingin menyelimuti sekujur tubuhnya—seolah ia sehabis bepergian jauh tiada henti.

"Sakura!" Sakura tersadar, ia terkejut ketika tubuh mungilnya berada dalam dekapan manusia bermata gelap yang kini menggendongnya. "Kau baik-baik saja?"

.

.

.

.

.

-tbc-

Maaf kalau pendeknya yang ini keterlaluan. Memang niatnya ini hanya untuk selingan dan penyegar. Tapi tetap punya konflik dan plot seperti cerita normal kok :)

Thanks to: Chappy Siegrain Fernandes 09, Isabella Sunday, Jorydane Sugiyama, WinterCerry, Chocolate, hime hime chan, Li-chan SasuSaku alias Aprilia Ameterasu bluepink, hidan cantik, nnapyon, Quinza'TomatoCherry, cebong, Tsubaki-chan,Ishikawa Cherry Blossom, Darksketch, Hiromi Toshiko, love love lover, ponitail,anggraini, Ice Cream Blueberry.

Makasih juga untuk KAMU, yang telah bersedia membaca Forest Cage ini :) bersediakah tinggalkan jejakmu di kolom repiu?