Kelopak mata itu mengerjap memamerkan iris hijau cemerlang. Sakura merasa tubuhnya lemas dan melayang, keringat dingin menyelimuti sekujur tubuhnya—seolah ia sehabis bepergian jauh tiada henti.

"Sakura!" Sakura tersadar, ia terkejut ketika tubuh mungilnya berada dalam dekapan manusia bermata gelap yang kini menggendongnya. "Kau baik-baik saja?"

.

.

Forest Cage

Naruto milik Masashi Kishimoto.

Warning: AU. Fantasy Unlogic!

SakuHina with SasuSaku & NaruHina

Don't Like? Don't Read!

-Chapter III-

.

.

Sakura mengerjap dan menatap Sasuke tak mengerti dengan nafas yang sedikit memburu.

"Kau nyaris pingsan nona—err peri maksudku, Sasuke segera menangkapmu tadi. Sebegitukah kau terpesona dengannya?" goda manusia berambut pirang itu disusul dengan cengiran khasnya.

Mengapa aku bisa berada dalam gendongan manusia ini? Tanya Sakura dalam hati sambil menatap kedua iris gelap di hadapannya. Tunggu… aku digendong?!

"Waaa!" dalam seketika Sakura menggerakan kaki-kakinya untuk memberontak

Sementara itu, di belahan forest cage lain …

"Well, jadi ini forest cage, eh?" ucap manusia tampan berambut pirang, mata birunya menyapu pandang ke sekitar. Pepohonan rimbun yang menjulang teramat tinggi nyaris membuatnya merasa seperti liliput di tengah hutan.

Cahaya matahari seakan terpantul berkelap-kelip pada setiap dahan dan ranting maupun dedaunan yang basah dan tersinari. Cahaya kekuningan itu terasa hangat tiap kali Naruto sengaja menyentuhkannya pada wajah tannya, membuat semburat kemerahan hangat tercetak samar di kedua pipi berkumis rubahnya. Tanpa sadar, membuat kedua pipi pucat nan tembam Hinata pun memerah.

"Kau manis juga." Komentar manusia pirang itu membenahi sedikit letak jubahnya dengan sebelah tangan mengibas kebelakang, agar peri berambut indigo di sebelahnya tidak merasa kepanasan terkena sinar matahari.

Peri bermata amethyst itu makin memerah dengan wajah tertunduk.

"Ah, Naruto … tidak pe-perlu seperti itu. Bagi kami, para peri, cahaya matahari merupakan sumber kekuatan kami… ka-kami tidak akan terganggu seberapa panasnya pun."

"Benarkah?" iris biru Naruto menatap penuh antusias pada sosok kecil di sebelahnya, "ceritakan padaku!" lanjutnya antusias namun belum melepas rangkulan jubahnya pada pundak kecil Hinata.

"Ya-yah…"

Suara lembut dan gagap Hinata bersahutan dengan suara khas penuh antusias Naruto sepenjang jalan. Mereka berdua berjalan beriringan dengan kedua tangan Hinata terkatup ke depan, dan sebelah tangan Naruto tetap merangkul dengan jubah pada pundak Hinata sedangkan sebelahnya lagi tak pernah berhenti bergerak di udara setiap kali bertanya atau mengatakan sesuatu.

"Aaah, jadi begitu ya? Peri tidak akan kepanasan hanya karena matahari?" tanya Naruto lagi yang disahut dengan anggukan pelan dan senyum malu-malu Hinata. Peri berambut indigo sepunggung itu masih enggan menatap lawan bicaranya yang tampan. Wajahnya sudah benar-benar merah karena merasa nyaman dengan hawa hangat tubuh manusia yang merangkulnya—sayang sekali Hinata tak menyadari seperti apa warna wajahnya saat ini. Yang ia tahu hanya hangat…

"Hm…" manusia pirang itu menarik tangannya membuat sang peri mendesah bernapas lega secara diam-diam sekaligus kecewa. "Lalu kenapa wajahmu memerah, peri?"

Blush, "eh?"

Iris biru itu gencar untuk terjun pada hamparan ungu pucat di hadapannya, menyeringai, "apa dulu pernah ada kisah cinta antara peri dan seorang manusia?"

.

==00==00==

.

"Tidak ada."

"Bohong." Tuduhan meluncur manis dari bibir tipis peri berambut merah muda itu, kaki-kakinya mendarat mulus di atas tanah sehabis menjatuhkan diri dari atas dahan yang cukup tinggi. Iris hijau sang peri menatap penuh intimidasi pada manusia berambut kelam yang sedang memunggunginya. "Tidak mungkin kau tidak punya tujuan untuk menembus hutan terlarang ini."

Sakura melangkah berkacak pinggang di hadapan Sasuke yang sedang sibuk memandangi danau dengan air biru bening berkilau. Dari sini, Sasuke bisa melihat kehidupan ikan-ikan yang jauh lebih indah dari pada di luar hutan terlarang ini.

"Cepat mengaku! Pasti kau manusia pendosa hingga di buang ke mari, iya kan?" tuduh Sakura lagi dengan tatapan menantang dan dagu terangkat untuk menatap manusia jangkung di hadapannya. Iris kelam Sasuke beralih untuk memandang kedua iris hijau peri cerewet nan menyebalkan di hadapannya—menatap datar sedatar-datarnya.

"Apa wajahku terlihat seperti pendosa?"

Peri cantik berambut merah muda pucat itu mendengus, menatap Sasuke dari bawah sampai ke atas dengan pandangan mencela—super duper mencela.

Kedua kaki manusia itu terbalut boots dari kulit buaya berwarna cokelat tua kehijauan yang nampak sedikit kotor akan tanah dan lumpur, dilihat dari modelnya sih itu bukan sepatu murahan. Memakai celana hitam yang dimasukan ke dalam boots dan sedikit jahitan dari benang emas. Tubuh tegapnya terbungkus kain halus yang terlihat menyamankan berwarna hitam dengan lapisan mathyrile keperakan. Jubah sewarna dengan rambut si manusia itu sendiri pun tersemat di sekitar pundak. Dilihat-lihat, Sasuke persis seperti pangeran dari dunia kegelapan. Suram, gelap, misterius namun elegant.

Tidak mungkin pangeran dari dunia kegelapan, suhu tubuhnya sangat panas, unh… tanpa sadar Sakura melenguh merasa hawa hangat manusia terasa nyaman baginya.

Seringai miring tergores di wajah tampan Sasuke saat melihat kedua iris hijau sang peri berhenti tepat di dadanya. Pangeran manusia itu dapat melihat sangat jelas bagaimana cara sang peri menjilat bibir sendiri tanpa sadar, sorot tatapan tajam pun berubah datar.

"Menikmati sesuatu?"

Kepala berhelai merah muda dan kedua alis merah muda itu terangkat.

"Unh?"

.

==00==00==00==

.

"Sugoi…" gumaman tipis terdengar manis di telinga Naruto yang sedang menyeringai, ia menoleh ke arah sumber suara. Di sebelahnya terdapat peri cantik dengan iris amethystterpaku pada makhluk berkepala rubah di pinggir danau, makhluk berbulu orannye itu memiliki sayap naga dan sembilan ekor yang tak bisa diam. Mata merah sang naga yang sedari tadi tajam kini perlahan berubah menjadi sorot mata lucu yang menggemaskan dengan dagu menempel di tanah dan sembilan ekor yang masih belum bisa diam.

"Kawaii." Gumam Hinata sekali lagi, menoleh ke manusia di sebelahnya, "dia tidak semenyeramkan yang kau ceritakan, Naruto-san."

Sederet gigi putih bersih Naruto pamerkan dengan mata menyipit ketika mendengar suara Hinata. Ah… sepertinya Hinata sangat menyukai cengiran khas manusia pirang yang satu itu. Naruto melangkah dengan sebelah tangan di pinggang dan sebelahnya lagi terangkat menjulur ke arah Hinata.

"Kau mau mencoba menungganginya?"

Di langit …

"Hmm…" tanpa sadar, iris kelam Sasuke tersembunyi dibalik kelopak mata, angin berhembus kencang menerpa wajahnya, tak ia hiraukan. Kedua tangannya sibuk merengkuh tubuh mungil yang sedang memunggunginya sekaligus memegang tali kendali naga yang ia tunggangi. Aroma segar bunga musim semi tercium dan membuatnya tanpa sadar memajukan wajahnya untuk menghirup lebih banyak lagi.

Duk!

"Aw!" suara protes terdengar.

Blush.

Semburat kemerahan tergores manis di kedua pipi peri berambut merah muda panjang itu ketika ia menoleh dan mendapati wajah manusia sangat teramat dekat dengannya. Mata beriris kelam Sasuke pun terbuka lebih lebar ketika menyadari apa yang telah dilakukannya.

"Maaf."

Sakura tak menjawab, ia menundukkan wajahnya ke depan membiarkan Sasuke terpaku di belakangnya. Kedua tangan pucat lentik nan mungil Sakura saling meremas di atas punggung leher sang naga yang sedang ia tunggangi berdua.

Rasa sejuk akibat angin sore yang menerpa dan membuat rambutnya dan rambut Sasuke berkibar kebelakang tak ia hiraukan. Ada perasaan aneh dalam dirinya, ia setengah merutuki kesediaannya untuk dibawa jalan-jalan mencoba tunggangan yang sudah ratusan tahun tak ia rasakan.

.

==00==00==00==

.

Hinata mengerutkan alis merasakan sesuatu yang geli menyentuh ubun-ubunnya. Wajahnya perlahan merona hebat ketika tahu bahwa manusia di belakangnya telah mencoba mengendus rambut indigonya.

"Wanginya segar." Komentar manusia pirang itu dengan tangan masih memegang tali kendali naga oranye yang ia tunggangi. "Kau pasti rajin mengenakan sari lavender untuk menghaluskan rambutmu, ya?" tanya Naruto lagi tanpa berniat menjauhkan hidung mancungnya dari rambut sang peri.

"Uhm…" ingin sekali Hinata menjawab, tapi pikirannya sedang tidak fokus sehingga tidak tahu harus berkata apa. Tubuhnya tak mampu bergerak membungkuk untuk menghindari sentuhan hidung mancung sang manusia pada helaian indigonya. Yang ia bisa lakukan hanya meremas jemarinya sendiri di atas bulu oranye sang naga yang ia tunggangi terasa hangat, sama seperti tubuh tegap dibelakangnya yang berhawa hangat. Perasaan nyaman pun tak terelakkan meski ada degupan hebat dalam dirinya yang membuatnya sulit berkonsentrasi.

Perlahan, kelopak yang semula terpejam kuat-kuat itu melemah digantikan pejaman damai. Peri berkulit putih mulus itu membiarkan dirinya untuk mencoba menikmati semilir angin sore yang menerbangkan rambutnya dan jubah si manusia pirang di belakangnya. Ia biarkan tangan hangat manusia melingkar di pinggangnya untuk meraih tali pengendali naga.

Keduanya masih memejamkan mata menikmati angin dengan semburat kemerahan tipis di pipi keduanya, sampai Kyuubi—sang naga bergumam seolah meminta petunjuk kemana ia harus terbang. Iris biru laut itu terlihat ketika Naruto membuka matanya dan menarik sebelah pengendali untuk memberi isyarat mereka harus berbelok.

"Kalau begini rasanya, aku tidak mau keluar dari hutan ini." Gumam si pirang menatap langit yang kini berubah menjadi gelap kebiruan. Hinata tidak begitu mengerti apa maksud kalimat barusan, mungkin karena suasana nyaman di daerah hutan yang selalu di sebut terlarang ini.

Angin pun terasa lebih dingin dan menusuk dan Naruto berinisiatif merengkuh lebih dalam tubuh mungil di depannya dengan kedua tangannya yang terbalut baju panjang yang sedikit tebal, "jangan bilang kalau peri tak mempan dengan angin malam."

Hinata tersenyum mau-tak-mau meski ia akui sedikit kaget dengan aksi mendadak si manusia.

"Aku tak kan berbuat kurang ajar, nona peri. Hanya ingin melindungimu, kau tetap wanita meski kau seorang peri."

Diam dan terpaku. Sudah berapa lamanya ia tak mendengar kalimat seindah itu? Ratusan tahun? Lebih. Hinata mengigit bibir tipisnya sendiri, ia tahu lambat laun ia akan terjatuh di jurang yang sama, tapi hati dan fikirannya tak bisa menolak. Hanya ini satu-satunya cara ia keluar dari sini dan bertemu keluarganya. Mungkin caranya sedikit licik tapi ia berusaha untuk tidak menyakiti satu orang pun kalau memang jalan menuju jurang ini yang akan ia lalui.

"Hey, apa itu?" suara berat Naruto membuyarkan segala lamunan Hinata, iris ungu pucat Hinata pun mengikuti direksi jari telunjuk Naruto yang ternyata mengarah ke danau pelangi. Cahaya warna-warni terlihat menyembul di permukaan air. Indah sekali. Senyum Hinata makin mengembang kala mendapati teman perinya baru saja mendarat di sana dengan seekor naga cantik hitam dan manusia tampan berambut kelam.

"Itu namanya danau pelangi, hei lihat di sana ada Sakura ju—kyaa!" Peri berambut indigo itu memekik tertahan ketika naga yang di tumpanginya berputar arah. Alis indigonya terpaut heran, bukankah tadi Naruto tertarik dengan danau tersebut?

"Kita cari 'tempat kencan' lain saja, nona peri." Gurau Naruto ketika tahu ekspresi sahabat berambut kelamnya di bawah sana. Kini Hinata tersenyum maklum dengan guratan merah lagi-lagi tercetak di kedua pipi tembamnya.

Sementara Naruto tersenyum simpul dan bernar-benar berniat menjauhi tempati itu. Pasalnya, ia dapat melihat dengan jelas seorang Uchiha Sasuke di bawah sana telah bertingkah kikuk. Sepanjang hidupnya kenal dengan pangeran Konohamour itu, Naruto tak pernah melihat satu orang pun yang mampu melunturkan image stoic seorang Uchiha Sasuke, kecuali ayahnya sendiri—dan peri berambut merah muda di bawah sana, tentu saja.

"Jadi… dimana tempat kencan yang tidak kalah indahnya di sini, nona peri?"

.

==00==00==00==

.

Semburat oranya telah tergantikan oleh biru gelap yang menyelimuti langit. Sakura masih duduk terdiam di atas rerumputan pinggir danau dengan kedua tangan memeluk lutut kakinya sendiri. Sasuke yang duduk bersila di sebelahnya pun tak mengeluarkan sepatah katapun. Keduanya sibuk menatap danau jernih yang memperlihatkan kehidupan makhluk air yang nampaknya tak pernah berhenti beraktifitas.

Danau itu terlihat aneh di mata Sasuke, karena diluar hutan ini, tidak ada danau sejernih ini. Di tempat tinggalnya dahulu, danau jernih sekalipun tidak akan dapat memperlihatkan apa yang berada di dasar danau karena tertutup warna air yang semakin dalam semakin memekat. Tapi tidak di sini, kemilau warna-warni bersinar dari dasar danau memantulkan cahaya rembulan—menciptakan pemandangan indah di sana seolah-olah terdapat lampu warna-warni yang mengarah ke permukaan danau.

Makhluk-makhluk dalam danau itu pun terlihat semakin indah dan tak terganggu dengan cahaya warna-warni yang agak silau. Sasuke menghela napas melirik peri di sebelahnya masih menyembunyikan hidung dibalik lutut yang dipeluk sendiri. Seringai miring dengan tatapan sedikit melemah terlihat begitu tampan di wajah Sasuke yang kali ini tetap memandangi peri di sebelahnya. Iris kelam Sasuke menangkap sesuatu: rambut merah muda panjang sepunggung itu terbelah dua dibagian atasnya, memperlihatkan dahi yang ternyata lumayan lebar yang sedang terlihat berubah-ubah warna akibat cahaya danau ajaib di hadapan mereka.

Harusnya sih, suasana yang luar biasa indah ditambah kelap-kelip bintang di langit dapat dijadikan malam kencan sang pangeran penguasa daratan Konohariven dengan wanita cantik pilihan yang memiliki darah bangsawan. Sayang sekali, Sasuke melewatinya dengan peri menyebalkan yang sangat judes namun cantik di sebelahnya. Sasuke mendengus, "jidatmu lebar juga."

Sakura kekeuh memeluk lututnya tapi sedikit menoleh, hidung dan mulutnya masih tersembunyi dibalik lutut yang kali ini sedikit miring senada dengan kepalanya yang menoleh ke Sasuke. Alis merah mudanya terpaut dengan tatapan tak suka. Sasuke mengangkat alisnya sedikit, bukan maksud menghina… yang tadi sebenarnya adalah pujian menurutnya, tapi ia tidak tahu apa akibatnya jika berkata seperti itu.

"Kulitmu seperti susu." Kata Sasuke lagi, detik berikutnya ia menyesali kata-katanya karena mengapa dirinya menjadi keluar dari karakter aslinya, seperti ini? Memuji bukanlah kegemarannya, bahkan dirinya cenderung menghina dan berakhir dengan kebencian beberapa rakyat yang masih belum mengerti ia hanyalah seorang remaja manusia biasa.

"Berapa umurmu, bocah?" tanya Sakura masih menautkan alis dan kini melipat kaki di tanah dan kedua telapak tangan menumpu di tanah untuk condong menatap intes ke arah manusia yang ia anggap menyebalkan itu. Sasuke mengangkat sebelah alis, "bocah? Heh, umurku sembilan belas, gadis kecil!"

Sakura mendengus kemudian tertawa lepas dengan sebelah tangan menumpu kebelakang. Helaian merah muda panjangnya berkibar ke samping membuatnya terlihat begitu cantik karena jauh dari ekspresi tak bersahabat sebelumnya.

"Aku ini peri… Aku lima belas—"

"Sudah kuduga," Sasuke menyeringai, "dasar peri kecil tak tahu diri."

"—lima belas ribu tahun."

"Uhuk!"

Sakura kembali tertawa mendapati ekspresi lucu sang manusia tampan di sebelahnya yang baru saja tersedak ludah sendiri.

"Kau serius?"

.

.

To be continue.

Yahhh! Akhirnya apdet juaa, lebih panjang kan? Maaf kalau naruhinanya kurang dapet, soalnya kuromi sempet gak dapet feel nulis karakter Hinata. Sempat bingung karena blank—sebenarnya sih karena ada masalah pribadi. Tapi sudah diusahakan untuk kembali normal seperti semula, walau kutahu nggak mungkin. *ini semakin nggak jelas kemana arahnya*

thanks to:
hidan cantik, sienna30, Hiromi Toshiko, Kembang Cherry, Lavender's Violin, 3 Guest, afi3, chisa, namikaze nakato, Api Hitam AMETERASU, Cerry Hishikawa, Kiriko mahaera, Rei Jo, Scy Momo Cherry, Michelle I. Xe, lhylia kiryu, Anka-Chan, namikaze yakonahisa.

Terimakasih juga buat KAMU yang udah baca sampe sini :) mind to ripiiu?