Sakura teratawa melihat manusia berambut kelam itu tersedak.
"Li-lima belas ribu tahun?" beo Sasuke menatap tidak percaya. Dengan alis kelam yang mengkerut dan wajah bingung begitu tak pelak membuat Sakura mendengus menahan tawa.
"Dasar anak muda," Peri berambut merah muda itu bangkit, "Kau masih terlalu muda hidup di bumi yang semakin tua ini." mata hijau sang peri memandang lembut hamparan danau yang masih membiaskan warna pelangi dari dasar.
"Hari sudah gelap," gumam Sakura, ia tak sadar semilir angin menerbangkan rambut panjang sepinggangnya. Membuat Sasuke yang sedang dipunggunginya itu terpaku sejenak.
Pemuda dengan baju bangsawannya yang mulai lusuh itu masih terpekur mencerna kenyataan yang baru saja didengarnya.
Gadis bertubuh mungil yang sedang memunggunginya itu sudah berumur lima belas ribu tahun? Sedangkan dirinya sendiri hanya pemuda delapan belas tahun?
Lalu?
"Sudah," Sakura membalikkan badan dan berjalan melewati Sasuke yang masih duduk di atas rumput. "Hari sudah gelap, lebih baik kau temui temanmu guna membuat api unggun untuk menghangatkan diri."
.
.
Forest Cage
All chara Naruto milik Masashi Kishimoto
Warning: AU-set. SakuHina. With SasuSaku NaruHina.
Fantasy; Unlogic.
-Chapter IV-
.
.
Hinata masih tertawa cekikan entah karena apa saat naga oranye yang disebut Kyuubi itu mendarat, rona merah pada kedua pipinya tidak dapat pudar sedikit pun dan justru bertambah.
Suara tawa si manusia pirang itu pun masih mengiringi kikikan anggun Hinata.
"Terima kasih, Naruto…" Hinata menunduk memainkan jari ketika Kyuubi sudah menjauh untuk minum air di tepi sungai. "Aku sudah lama tidak terbang setinggi itu," ujar Hinata lagi tanpa sadar kedua telapak kakinya bermain dengan rerumputan di atas tanah.
"Aa," Naruto mengangguk, "Kapan pun kau mau, aku dan Kyuubi senang membawamu." Sahutnya tulus, lalu bersiul untuk melarang Kyuubi menyelam ke dalam sungai.
"Jangan mandi dulu!" larang Naruto sedikit berteriak, "Kita harus bertemu Sasuke!"
Naga oranye itu pun merengek kecewa dan memutuskan untuk merapatkan dagu di atas tanah guna beristirahat sejenak.
"Oh, kau mencari temanmu?" Hinata mengangkat wajahnya, lalu menggerakan kuping runcingnya selagi menorehkan pandangan kesekitar. Tak lama kemudian, ia tersenyum memberitahu, "Dia bersama Sakura menuju ke tempat ini, kok!"
Naruto mengerjapkan mata, lantas cepat tahu kalau Hinata itu punya kemampuan melacak sebagai peri. Ia mengangguk dan melihat sebuah gua setinggi lehernya tak jauh di sana.
"Ja-jadi, itu tempat tinggalmu?" tanyanya ragu, Naruto tak bisa bayangkan. Meski Hinata peri, tapi Hinata tetap terlihat sebagai gadis berperawakan mungil yang terlihat anggun dan butuh dilindungi di mata Naruto.
Hinata melirik ke gua, gua yang terlihat amat gelap dan sesekali kelelawar berterbangan keluar dari sana. Ia sadar tatapan ngeri yang terpancar dari kedua mata biru Naruto. Seulas senyum terlukis, "Kau mau mampir?"
Beberapa detik tak ada jawaban membuat Hinata menarik kedua sudut bibir lebih, "Kau bisa bermalam bersama temanmu di dalam. Akan lebih hangat ketimbang harus tidur di luar."
"Errr—" Naruto sebenarnya ragu, ia bukanlah penakut atau si tuan muda manja. Dia hanya sibuk berpikir bagaimana caranya si peri mungil itu hidup ratusan tahun di sini beratapkan dinding gua sempit ketika tidur?
Bayangan sesak napas pun melintasi kepalanya, ia sendiri ragu untuk mau menundukkan kepala nanti jika memasuki mulut gua. "Sepertinya tidak, terima kasih." Akhirnya Naruto memutuskan. "Aku tidak mau memenuhi tempatmu. Aku akan buat api unggun di depannya saja. Bergabunglah, kalau kau mau."
Hinata mengangguk, lantas melangkahkan telapak kakinya yang telanjang masuk ke dalam gua. Bayangan tubuhnya menghilang ditelan kegelapan.
Naruto terdiam. Ada rasa ngeri, bagaimana seorang berperawakan mungil dan berwajah imut seperti gadis kecil itu bisa masuk begitu saja ke dalam gua yang bahkan tidak ada cahaya sedikit pun tanpa ragu? Tanpa takut tersandung?
"Ah, itu temanmu."
Naruto menoleh mendengar sebuah suara. Didapatinya, Sasuke sedang memanggul beberapa ranting besar kayu bersama Sakura.
Terlihat peri perempuan itu melangkah tanpa alas kaki. Naruto tersadar hawa dingin malam hari hutan yang kurang bersahabat, ia sedikit mengusap kedua lengannya sendiri.
Rasanya saat terbang bersama Kyuubi dan membawa Hinata, Naruto sempat lupa dengan udara dingin. Ia menyeringai mengingatnya.
"Hinata sudah masuk?" tanya Sakura, di tangannya sudah terdapat kantung air yang entah didapatnya dari mana. Tanpa menunggu jawaban Naruto, peri merah muda itu menggayung air untuk memenuhi kantung airnya.
"Ya," jawab Naruto singkat.
"Masuk ke mana?" Sasuke baru saja menurunkan belasan ranting dari pundaknya. Dan itu sungguh terasa meringankan. Bagaimana pun, isi hutan ini terlihat dan terasa tak biasa. Salah satunya, ranting yang lebih berat ketimbang ranting biasa yang tumbuh di luar hutan.
"Jangan bilang ke gua di sana," tebaknya setelah melihat Naruto melirik gua gelap itu dengan ragu. Mendapat anggukan hopeless dari Naruto, Sasuke cepat menoleh ke Sakura.
Benar saja, peri itu berjalan dengan santai menjebloskan diri dalam kegelapan gua. Tanpa pamit atau berkata apa pun pada Sasuke dan Naruto yang masih bertahan beberapa meter dari gua.
.
==00==00==00==
.
Api sudah menyala, membakar bahan kayu-kayuan itu menjadi abu dan menyelimuti sekitar dengan hawa hangat.
"Aku merasa aneh," aku Naruto yang duduk di atas batu berukuran sedang, dekat api unggun. Ia tak sedikit pun memutuskan pandangan pada kobaran api di hadapannya.
Bayangan api itu menarik-nari membuat pola tak kunjung berhenti di wajah Sasuke yang sama terpekurnya menatap api.
"Semua yang ada di dalam sini memang diluar dugaan," Sasuke menyahut. Kedua tangannya masih tertumpu pada kedua lutut yang sedang berjongkok.
"Tidak kah kau merasa," mata kelam Sasuke menyorot pada Naruto, "kalau rumput yang kau pijaki dua kali lebih panjang dan lebar dari pada rumput pada umumnya?"
Naruto memastikan, dan ternyata memang benar. Bodoh, ia merasa bodoh baru sadar detik ini.
"Juga jika kau tahu bagaimana rasanya memanggul ranting ini, kau pasti akan kelelahan."
"Tak mungkin. Ranting yang kau bawa ruasnya kurus seperti ini," elak Naruto sedikit menyelipkan nada gurau. Ia lupa bahwa Sasuke selalu serius menyampaikan pendapat.
"Kalau memang begitu, harusnya ranting ini sudah habis sejam yang lalu."
Naruto memerhatikan, matanya memicing melihat kobaran api pada ranting-ranting kurus yang dibakar. Ia bahkan baru sadar kalau ranting-ranting itu tak seharusnya bertahan.
"Pembakaran ranting ini melamban," Sasuke kembali bersuara menggerakan satu ranting paling kurus di genggamannya untuk menyodok tumpukan unggun yang ia buat, menjaga kestabilan api.
"Dan kalau kau tak bodoh, hawa panasnya lebih luas menjangkau."
"Itu … aku sudah tahu." Potong Naruto sebelum Sasuke kembali berucap. "Kukira udara di sini harusnya lebih menusuk pori-pori. Mengingat besarnya pohon yang membuat kita terlihat seperti liliput."
Sasuke memandang ke sekitar, dan mendengus kecil. "Kukira juga, kadar air yang tinggi membuat ranting ini tak cepat dihajar api. Tapi lihatlah, api ini besar—dan mengherankan karena ranting tak juga habis."
"Ya, aku tahu…" Naruto menyela, "Aku sadar pembakaran ranting berhenti di tengah, api itu tetap menyala, namun ranting tak terbakar. Pembakarannya berhenti di tengah-tengah."
"Harusnya ini bisa untuk menjadi obor," Sasuke mengangkat satu ranting berukuran sedang yang sudah separuh terbakar. Nyala apinya besar seperti balon, tapi pembakarannya sudah berhenti secara magis dan tak dapat dimengerti otak manusianya.
"Bodohnya, sudah tiga hari tiga malam kita terjebak di sini dan baru sekarang kita membuat api unggun." Naruto bergumam, "Aku tak ingat kalau kemarin kedinginan."
"Kita tidur dekat Kyuubi dan Nafurry," Sasuke menyahut, sambil memainkan ranting berapi di tangannya, ia berdiri dan terlihat kesulitan memegang ranting berukuran sedang itu dengan kedua tangan, "Kita direngkuh Kyuubi dan Nafurry seperti bayi, kalau kau tak ingat."
Melihat Sasuke sudah terbiasa membawa satu ranting cokelat tua itu dengan satu tangan, Naruto mendekat ke api unggun. Ia mengambil satu balok yang dirasa cukup lebih besar dari yang dipegang Sasuke.
Manusia berambut pirang itu tersenyum angkuh, "Lihat," gumamnya pamer karena tidak kesulitan sedikit pun membawa ranting. "Kurasa kau semakin lemah, ya, Sasuke. Membawa satu ranting kurus saja kesulitan."
Sasuke mendengus, tatapan matanya mengheran menyadari Naruto membawa ranting besar dengan satu tangan tanpa kesulitan.
Naruto mengibaskan jubahnya dengan tangannya yang lain, ia berjalan mendekati gua gelap yang baru saja mengeluarkan beberapa kelelawar berkecepatan tinggi.
"Hey, Sasuke." Katanya memicingkan mata pada kegelapan, "Jika pinggiran hutan Forest Cage yang tandus dan suram bisa kita lalui, mengapa kegelapan ini membuat kita gentar?"
Sasuke tahu, kegelapan yang Naruto maksud adalah mulut gua yang tadi dimasuki Sakura. Peri itu tak kembali dan tak ada suara sedikit pun yang keluar setelahnya.
Dilihat dari tingginya yang sempit, dan tubuh gua yang pendek ke belakang. Sepertinya benar-benar sempit.
Harusnya Sakura dan Hinata bisa mendengar percakapan Sasuke dan Naruto.
Kedua peri itu mesti tidaklah terlalu jauh karena Sasuke yakin, gua itu sempit. Sangat sempit. Hanya setinggi lehernya dan lebarnya tak bisa dimasuki dirinya dan Naruto sekaligus. Harus satu persatu.
Naruto melangkah masuk, Sasuke menelan ludahnya.
Nyala api pada ranting yang Naruto pegang lenyap begitu saja dari pandangan matanya. Hilang ditelan kegelapan bersama tubuh Naruto tadi.
Sasuke menggelengkan kepala, terkadang Naruto lebih nekat dari dirinya. Temannya yang satu itu sering ceroboh dan mecelakakan diri sendiri. Lebih sering lagi menyeret Sasuke celaka bersama.
Seperti membawa Sasuke bersama terjebak ke dalam Forest Cage ini.
Dan contoh lainnya sedang Sasuke lakukan.
Ia memutuskan untuk melangkah masuk bersama api rantingnya ke dalam kegelapan, setelah menghirup napas dalam-dalam dan mengukuhkan keberanian.
Langkahnya sempat tersendat, karena sungguh sepertinya cahaya api yang dibawanya tak memberi efek penerangan sedikit pun di depan mulut gua. Sontak Sasuke mundur dengan cepat beberapa langkah.
"Naruto! Naruto! Kau dengar aku?" teriaknya memastikan. Tak ada jawaban sedikit pun. Siur angin mendesau ke telinganya. Di luar sini sangat sepi.
Sekelebat kengerian menghinggapi mentalnya, Sasuke menggeleng. Ia pernah membunuh kakak kandungnya sendiri, ia ingat jelas itu. Salah satu dosa terbesarnya yang ditutup rapat oleh ia sendiri.
Sejak saat itu ia putuskan untuk mengunci emosi.
Tak boleh ada ekspresi. Marah, senyum, kecewa, sedih dan tawa tak pernah ia tunjukan pada raut wajah tampannya. Ia tinggal dirinya sendiri, dibebankan tanggung jawab untuk memimpin Konohamour yang kini sedang ia tinggal karena terjebak di sini.
Sasuke menatap lagi hitam pekat yang seperti memelototinya dari mulut gua itu.
"Aku tak pernah takut dengan kematian. Lantas untuk apa aku takut dengan ini?" dengan selesainya kalimat itu, jubah Sasuke sedikit terhempas ke belakang karena langkahnya cepat menerobos kegelapan—yang serta merta menelan cahaya api membuatnya buta tak bisa melihat apa-apa…
.
.
.
Bersambung.
Yey, update! Ya, memang pendek. Kan sudah kukasih tahu dari awal fict ini hanya akan pendek-pendek saja. minimal 1k, maks 2k+ :) ihihi.
Thanks to:
Kiana Cerry's, nakato-san, Guest (3x), poetry-chan, lhylia. kiryu, Kirara Yuukansa, annonymous99, Kies, Api Hitam AMETERASU, Michelle I. Xe, HachimitsuOukan, Trancy Anafeloz, Rei Jo, Kiriko Mahaera, Watermellon Seo, Namikaze Miharu.
Makasih juga untuk KAMU, mind to review? :)
