Remember Me Forever

Disclaimer: Naruto belongs to Mashashi-san

Pair: SasuFemNaru

Genre: Romance, Drama

Rate: T

WARNING: OOC, abal, typoS, plothole, dan lainnnnnnya... XD

Summary: Ketika semua kenangannya yang lain memudar, hanya ada satu nama yang tak akan pernah terlupakan... Naruto

Ch 2: Begin

"Kapan itu semua di mulai?" tanya salah satu pemuda di ruangan bercat merah kelam itu sambil menatap seorang pemuda berambut emo spike raven yang nampak sibuk dengan ipad di tangannya. Beberapa pemuda lain nampak ikut mengalihkan pandangan pada pemuda raven itu, menunggu jawaban.

"Akhir musim dingin." jawab pemuda raven datar.

"Akan sulit di akhir nanti, masa depan itu bercabang, ingat?" sahut salah satu pemuda, nampaknya sedikit tidak setuju dengan pemikiran awal.

"Itulah kenapa kau juga ikut, di sana lah kau harus andil." ungkap pemuda lain yang duduk di samping si raven. Iris malamnya menatap keluar jendela, di mana bulan sabit nampak menggantung di langit musim panas yang bertaburan bintang.

"Aku tidak menjamin, jika saatnya tiba... lebih baik kau sudah membuatku yakin Sasuke" ujarnya sambil menguap dan berlalu keluar ruangan.

"Baiklah, lebih baik kalian... " semua orang di ruangan itu tercekat, kecuali Sasuke dan pemuda di sampingnya. "... Terutama kau-" pemuda itu menunjuk Sasuke. "-Jangan sampai mengecewaknku." Lanjutnya datar namun menusuk.

"Hn" jawab Sasuke datar tanpa mengalihkan pandangannya dari ipadnya, membuat pemuda yang duduk di sebelahnya menghela nafas.

» Kyuura

Neji menguap untuk yang ke sekian kalinya sore itu, iris lavendernya beberapa kali melirik Sasuke yang duduk di kursi kemudi, tepat di sebelahnya. Hanya untuk mendapati Sasuke menatap intens seorang gadis blonde di sebuah cafe sederhana di seberang jalan.

"Kapan ini selesai Sasuke? Aku tau kau tidak bosan tapi aku sangat bosan, kau tau?!" ujar Neji dalam satu tarikan nafas.

"Hn"

"Bahkan aku sudah menguap lebih banyak dari Shikamaru." Lanjut Neji kesal. Siapa yang tidak kesal jika di hari minggu yang bersalju, yang harusnya di habiskan dengan hal-hal menyenangkan dan hangat mungkin, malah di habiskan dengan duduk di dalam mobil tanpa aktifitas berarti dan dengan seorang zombie sebagai temanmu. Yeah, bukan Neji pastinya.

Namun Sasuke masih diam, tidak bergeming, tidak terganggu dengan gerutuan Neji. Meski ekspresinya tetap beku, namun tentu hatinya hangat. Cukup hangat hingga membuatnya menghabiskan 4 jam akhir pekannya untuk duduk di kursi kemudi salah satu mobil keluarganya hanya di temani penghangat dari mobil dan seorang teman yang jadi semakin OOC dengan terus mengeluh. Iris onyxnya tak pernah lepas dari salah seorang waitress cafe di seberang jalan yang nampak sibuk.

"Bagaimana kalau kita ke sana dan mencoba apa yang mereka tawarkan? Aku butuh air hangat." tawar -rengek- Neji penuh harap. Sasuke melirik Neji sesaat.

"Tanggal berapa sekarang?" tanya Sasuke datar.

"Baru tanggal 2, kau masih punya 19 hari." Neji tersenyum tipis.

"Hn"

"Jadi?" sahut Neji meminta penjelasan atau konfirmasi?
Sasuke mengangguk singkat dan langsung beranjak menyeberang jalan yang lenggang diikuti Neji di belakangnya.

Krincingkring!

Gemerincing lonceng dari pintu cafe, menandakan pintu di buka mengalihkan perhatian Naruto yang tengah mengantarkan pesanan ke salah satu meja. Naruto memicingkan matanya mendapati dua pangeran sekolahnya lah yang menyebabkan lonceng pintu tadi berbunyi ringan, namun ia tidak berhenti, tidak terhenyak, tidak tertegun, tidak terpaku apalagi berteriak seperti kebanyakan gadis sekolahnya jika bertemu mereka di mana saja.

Ia tidak punya alasan untuk begitu, hubungan di antara mereka yang seharmonis kucing dan tikus sangat mendukungnya untuk sebisa mungkin menarik diri sejauh mungkin dari dua pangeran es batu yang kini mengambil tempat di sudut cafe itu, jika ia tidak ingin di pecat karna memaki pelanggan tentunya.

Neji tersenyum tipis ketika akhirnya dapat membawa dirinya ke tempat yang lebih hangat dan nyaman dari jok mobil Sasuke yang di dudukinya sejak 4 jam terakhir tadi. Bukannya jok mobil Aston Martin 77 milik keluarga Sasuke tadi tidak nyaman atau bagaimana, karna ia yakin meski dengan mobil ferrari, sport, atau limo sekalipun, ia pasti akan tetap bosan dan lebih tertarik pada kursi kayu berdesain sederhana tapi indah yang ada di dalam cafe ini.

"Kau atau aku yang memanggilnya?" goda Neji setengah berbisik pada Sasuke yang duduk tepat di hadapannya. Sasuke mendengus dan mengangkat setengah tangannya guna memanggil waitress cafe, menuai kekeh pelan dari pemuda bersurai panjang itu.

Tidak lama seorang waitress bersurai hitam panjang menghampiri keduanya dengan senyum ramah.

"Apa anda sudah siap memesan Tuan?" tanya waitress itu dengan nada bersahabat dan sopan.
Sasuke hanya melirik sekilas sementara Neji balas tersenyum ramah.

"Satu caramel latte." jawab Neji. Waitress itu mengangguk sambil mencatat pesanan tersebut lalu ia menggerling ke arah Sasuke, menunggu pesanan si raven yang nampak melamun.

"Satu mochachino untuknya." Tukas Neji saat waitress itu akan memanggil Sasuke.

"Dan aku ingin si honey blonde itu yang mengantar pesanan kami." pinta Neji sambil menatap Naruto yang tengah tertawa dengan waitress lain di dekat counter. Waitress tadi mengikuti pandangan Neji yang tertuju pada Naruto lalu kembali tersenyum ramah.

"Baiklah." ujarnya sambil berlalu.
Naruto berhenti tertawa saat seniornya menyuruhnya mengantar pesanan ke meja duo-prince-ice.

"Haruskah aku Haku-nee?" tanya Naruto dengan panik. Ia tidak yakin apakah ia bias menahan diri agar tidak memaki Uchiha bungsu nanti.

"Mereka yang meminta Naru, jadi ya... harus kau." balas waitress bersurai hitam yang bernama Haku itu ramah.

"Apa?!" Naruto menaikkan kedua alisnya, jika merek yang minta maka itu berarti tanda bahaya untuknya.

"Kau pasti bisa" sahut Haku sambil menepuk pelan kepala bersurai honey blonde Naruto lembut dan berlalu.

"Damn... " desis Naruto. Ia menghela nafas sambil berjalan pelan mengantar pesanan The Ice Prince.

Sesampainya di meja 'beku' Naruto segera menaruh pesanan mereka tanpa menatap kedua penghuni meja yang diyakininya tengah menatapnya dengan seringai terukir di wajah mereka, membuatnya jadi sangat ingin memukul wajah tampan mereka sekuat tenaga.

"Terbalik Dobe." ucap Sasuke memecah keheningan di antara ketiganya dengan suara dalam bernada datar. Neji menatap Sasuke penuh tanya dan Naruto menatap Sasuke sengit menuai kekeh pelan dari Sasuke.

"Dia yang pesan mochachino." ungkap Sasuke sambil melipat tangan di meja dan tersenyum manis pada Naruto.

Andai situasinya lebih mendukung pasti Naruto sudah bersemu mendapat senyum manis Sasuke. Tapi di sini Naruto terdiam sesaat, bukan karna tertegun atau lainnya tapi karna ia tengah menahan diri agar tidak memukul wajah tampan kebanggaan Sasuke itu. Ia memang masih cukup normal untuk mengakui betapa tampannya Uchiha bungsu itu.

Oh damn.. Look at his sable hair framed a handsome face with high cheekbones and dark eyes, flawless features showing an air of nobility emphasized by an aristocratic nose and pink, almost feminine lips. *author di rajam*

Naruto ingin membentur-benturkan kepalanya ke benda keras terdekat agar pikirannya kembali jalur aman. Naruto kemudian menukar kedua cangkir itu dengan senyum kaku dan rahang mengeras. Sasuke masih saja tersenyum manis pada Naruto. Neji menyeringai kecil mengetahui Sasuke hanya berbohong, semua ini ia yang pesan tentu saja ia tau jelas maksud Sasuke.

"Sebenarnya tadi sudah benar kok Naru-chan." ungkap Neji pada Naruto yang hendak beranjak. Sebelah mata Naruto berkedut kesal. Sasuke langsung mengalihkan pandangannya keluar jendela, pura-pura tidak dengar. Namun Naruto tetap beranjak, memilih mengabaikan mereka sebelum semuanya bertambah buruk.

» Kyuura

Bel pulang sekolah sudah berbunyi 15 menit lalu, sehingga kelas-kelas mulai kehilangan penghuninya. Terlebih di cuaca dingin bersalju seperti ini, murid sekolah selalu ingin cepat pulang dan mencari kehangatan. Hanya beberapa saja yang masih belum meninggalkan kelas entah karna apa. Salah satunya adalah Naruto, ia masih duduk termenung di bangkunya dengan bertopang dagu dan menatap jendela yang nampak buram.

Ia memang tidak begitu bersemangat hari ini, bukan karna hari ini Sasuke tidak berangkat. Hell!? Ia bersyukur malah, melihat 'realisasi mimpi buruk' nya setiap hari membuatnya kadang berpikir untuk berhenti sekolah. Lagipula hari ini hari sabtu, ia tidak bekerja di hari jum'at dan sabtu, jadi tidak perlu terburu-buru pulang. Salju yang terus turun juga andil dalam kurangnya semangat Naruto.

Bukannya ia tidak suka salju... bahkan menurutnya salju itu keajaiban. Well, tidak banyak benda yang per kubiknya menyimpan keping keindahan yang tidak pernah sama kan? Hanya salju. Sebenarnya ia tidak begitu suka karna ini mengingatkannya akan kesendiriannya. Di musim dingin orang-orang ingin pulang untuk berbagi kehangatan dengan keluarga, tapi Naruto tak lagi memiliki keluarga, tidak ada yang menantinya di apartemen kecilnya. Naruto menghela nafas, melirik kelasnya yang sudah kosong.

'Mungkin aku memang harus punya pacar.' batin Naruto sambil mengemasi buku dan beberapa alat tulisnya dengan asal. Ia bukannya tidak laku, banyak teman sekolahnya yang mendekatinya. Hanya saja ia selalu menghindari mereka, karna tidak punya waktu mengurus yang seperti itu. Ia bekerja paruh waktu setiap hari, kecuali jum'at dan sabtu meski kadang juga ia gunakan untuk bekerja. Dan ia yakin tidak ada kekasih yang rela di abaikan pasangannya setiap hari.

Naruto berjalan menyusuri koridor sekolah yang sudah sepi dengan gontai. Beberapa kali ia mengeratkan syal orange yang di pakainya. Dalam perjalanan ia sempat mampir ke supermarket untuk membeli makanan, mengingat persediaan makanannya di rumah yang sudah menipis.

» Kyuura

Langkah tegas yang di ambilnya tidak biasa, ia melangkah dengan menghentakkan kakinya cukup kuat pada lantai marmer Rumah Sakit, seakan menahan dirinya untuk tidak berlari. Seperti biasa wajah tegasnya tetap stoic khas Uchiha, dan tatapannya tetap datar namun menerawang. Beberapa kali ia menabrak bahu seseorang namun ia tidak berhenti.

Orang kepercayaannya nampak terus berbicara di belakangnya, mengikuti langkahnya. Baru 1 jam yang lalu ia masih duduk memimpin rapat di Uchiha Corp, masih dengan suasana hati tenang dan baik mungkin. Lalu sebuah berita seakan menghancurkan dunianya, menusuk hatinya yang masih berdarah. Sasuke... putra bungsunya sejak 4 tahun lalu, mengalami kecelakaan dalam perjalanan menuju bandara, untuk menghadiri peresmian perusahaan cabang Uchiha Corp yang baru di Hokkaido, menggantikan dirinya.

Baru 4 tahun lalu keluarganya kehilangan satu putra karna kegagalannya, dilengkapi istrinya yang jatuh sakit. Kini giliran Sasuke... Andai saja ia tidak meminta Sasuke menggantikannya, maka sekarang putranya pasti baru pulang sekolah dengan baik-baik saja.

Langkahnya melambat saat iris onyxnya mendapati putra sulungnya yang duduk di salah satu kursi tunggu, di depan ruang UGD. Ia menghentikan langkahnya tepat di depan Itachi. Itachi menyambut kedatangan ayahnya dengan wajah datar dan tatapan datar namun menyalahkan. Fugaku hanya diam, meski sesungguhnya ia sangat terluka, tatapan Itachi sama persis seperti 4 tahun lalu.

Tidak lama pintu ruang UGD terbuka, diikuti keluarnya seorang dokter wanita berambut blonde. Tsunade Senju. Ia juga dokter pribadi keluarga Uchiha.

"Ia baik-baik saja... tangan kanannya terkilir, kepalanya sepertinya terbentur cukup keras, selebihnya ia tidak apa-apa, hanya luka luar yang jumlahnya juga tidak banyak, tapi kami belum bisa memastikan, selanjutnya kita akan tau saat ia sadar nanti." jelas Tsunade menatap kedua Uchiha.

Setelahnya Sasuke di pindahkan ke ruang ICU. Itachi tetap duduk menunggu di luar bersama Kakashi yang merupakan orang kepercayaan ayahnya. Sementara Uchiha senior menunggui Sasuke yang masih tak sadarkan diri di dalam, ia duduk di samping ranjang Sasuke, di kursi yang di sediakan.

Kedua tangannya menggenggam lembut sebelah tangan Sasuke, iris malamnya tak pernah lepas dari wajah tidur Sasuke yang nampak sangat damai, yang saat pertama tadi membuatnya tenang dan takut di waktu yang bersamaan. Tenang mendapati Sasuke tidak kesakitan. Takut karna wajah damai itu membuatnya berpikir Sasuke sudah pergi.

Raut wajah Uchiha senior tidak lagi datar dan tegas namun khawatir dan senang. Seperti yang di katakan Tsunade, Sasuke terlihat baik-baik saja, yang nampak serius hanya gips di tangan kanannya, selebihnya ia nampak seperti tengah tertidur saja.

Perlahan kelopak mata Sasuke bergerak-gerak, membuat Fugaku tercekat. Hingga dengan perlahan terbuka, lalu mengerjap sesaat. Fugaku tersenyum lembut pada Sasuke yang tengah menatapnya.

"Sasuke?" tanya Fugaku lembut. Sasuke tidak langsung menjawab, ia mengernyitkan dahi.

"Siapa Sasuke?" balas Sasuke parau.

» Kyuura

Naruto menyisir rambut panjangnya yang masih basah dengan perlahan, ia baru saja selesai mandi. Sempat terpikir olehnya untuk memotong rambut panjangnya menjadi pendek saja, mengingat rambut panjang cukup merepotkan. Dari jendela kamarnya ia dapat melihat salju masih terus berjatuhan meski hari sudah semakin gelap.

Setelahnya ia berjalan ke dapur, ia biarkan rambut panjangnya yang masih setengah basah tergerai. Ia mulai mengeluarkan apa yang ia beli dari supermarket tadi dari dalam plastiknya, yang sebenarnya hanya terdiri dari sekotak susu, sekeranjang telur, sebungkus keju, roti, selada, tomat, dan beberapa cup ramen instan.

Naruto sempat bimbang akan apa makan malamnya hari ini. Apakah memasak atau keluar? Setelah menimbang-nimbang akhirnya ia memilih makan di luar, ramen miso paman Teuchi yang hangat -panas- mengalahkan niatnya untuk berhemat. Segera saja ia mengganti bajunya dengan baju yang lebih hangat.

Tok tok tok tok!

Naruto tengah melilitkan syal di lehernya ketika pintu depan apartementnya di ketuk dengan tidak sabar.

Cklek!

Naruto membuka pintunya perlahan, mengernyit sesaat mendapati seorang pria tampan yang mengingatkannya pada Sasuke berdiri di depan pintu apartemennya.

"Perkenalkan, aku Itachi.. Uchiha, ak-"

"Kakak Sasuke?" potong Naruto cepat. Itachi mengangguk. Naruto menggigit bibir bawahnya, dari kabar yang ia dengar Itachi Uchiha adalah orang yang sangat cerdas dan err berbahaya.

Itachi tersenyum. "Sepertinya kau mau pergi,

" Naruto mengangguk. Itachi menarik Naruto lalu menutup pintu apartement Naruto dan langsung menyeret Naruto ke dalam mobilnya.

"Tu-tunggu Itachi-san, apa yang kau lakukan? Lepaskan aku!?" Naruto menyentak tangannya hingga lepas dari genggaman Itachi. Itachi berbalik dan menghela nafas melihat Naruto melipat tangan di dada menatapnya tajam.

"Dengar... " Itachi mendekati Naruto. Naruto mundur. "Sasuke kecelakaan, detailnya nanti di perjalanan." Lanjut Itachi kembali menyeret Naruto.

"Kecelakaan? Lalu apa hubungannya denganku?"

"Dia hanya ingat kau." balas Itachi datar.

#Flashback

Fugaku, Itachi, Kakashi dan Tsunade nampak berdiri mengelilingi Sasuke yang setengah berbaring bersandarkan bantal di ranjangnya. Tsunade baru saja selesai memeriksa Sasuke. Fugaku memang langsung memanggil Tsunade saat mendapati ada yang salah dengan putra bungsunya. Sasuke hanya diam dan menatap lurus ke depan.

"Sasuke?" tanya Tsunade lembut. Sasuke melirik Tsunade.

"Sasuke... Itukah namaku?" balas Sasuke parau. Tsunade terdiam, nampak berpikir. Itachi memicingkan mata pada Sasuke. Kakashi melirik Fugaku yang hanya diam.

"Dan siapa kalian?" tanya Sasuke datar sambil menatap orang-orang yang mengelilinginya dengan tatapan tajam.
Tsunade melirik Fugaku dan Itachi sebelum menjawab... "Mereka keluargamu, ayah dan kakakmu Sasuke."

Fugaku mencoba tersenyum saat Sasuke menatapnya.

"Apa saja hal yang kau ingat Sasuke?" Sasuke kembali mengalihkan irisnya pada Tsunade yang angkat bicara. Ia terdiam sesaat, lalu sebelah tangannya memegang pelipisnya dan merintih pelan membuat semua yang ada di sana panik.

"Tidak Sasuke, jangan di paksakan." Tsunade berkata penuh pengertian.

"Naruto... " lirih Sasuke.

"Naruto?" beo Tsunade. Sasuke mengangkat pelan wajahnya yang tertunduk, kembali mempertemukan iris onyxnya dengan iris hazel Tsunade.

"Di mana Naruto?" Sasuke kembali bertanya dengan nada yang lebih tinggi.

#End Flashback

Naruto mengikuti Itachi yang berjalan di depannya dengan gusar. Kini mereka sudah sampai di Rumah Sakit Konoha dan sedang menuju kamar Sasuke. Itachi sudah menceritakan mengenai keadaan Sasuke yang mungkin amnesia sementara pada juga tentang Sasuke yang hanya ingat Naruto seorang.

Ia mendesah lagi, Itachi bilang pihak Rumah Sakit sudah memeriksanya berulang kali, juga sudah mengatasi darah beku di otaknya, juga mengatasi luka kecil di pelipis kanannya. Tapi tetap saja... Sasuke tetap amnesia. Terlebih mengenai kondisinya yang hanya ingat dirinya seorang. Yang benar saja... Ia bahkan masih meragukan hal itu.

Naruto merasakan nafasnya tercekat dan wajahnya mulai memucat mendapati mereka sudah sampai di depan kamar Sasuke. Itachi membuka pintu, mempersilahkan Naruto masuk dengan tangannya sambil tersenyum meyakinkan. Naruto menelan ludah, perlahan ia melangkah masuk.

Seperti dugaannya ruang kamar Sasuke nampak luas dan terlampau mewah untuk ukuran kamar ICU rumah sakit. Ia harus mengingat betapa kayanya keluarga Uchiha sebelum berkomentar.

Di dalam kamar itu nampak dua orang pria duduk di sofa dan Sasuke yang setengah berbaring di ranjangnya. Iris onyx Sasuke menatapnya, hanya fokus padanya, ada yang berbeda dari tatapan Sasuke padanya... dan itu membuatnya berhenti melangkah, lututnya lemas dan ia ingin pergi dari sana. Itachi menepuk pelan pundak Naruto dan menatapnya heran.

"Ada apa?" tanya Itachi pelan. Naruto menggeleng pelan.

Fugaku mencoba tersenyum saat Naruto tersenyum menyapa padanya dibimbing Itachi, ia tidak pernah balas tersenyum saat seseorang menyapanya dengan senyuman sebelumnya. Keadaan Sasuke membuatnya harus menanam kesan baik pada gadis blonde bernama Naruto itu. Ia kembali fokus pada Sasuke saat Itachi angkat bicara... "Apa kau mengenal gadis ini Sasuke?"

Naruto menahan nafas, dan salah tingkah. Sasuke menatapnya lagi dengan senyum manis terukir di wajahnya, membuat detak jantung Naruto menjadi random. Antara takut dan senang dan benci dan lainnya. Entahlah... Pikiran Naruto tidak fokus. Sasuke mengalihkan pandangannya pada Itachi, ia menatap Uchiha sulung tidak percaya, seakan Itachi menanyakan hal yang tabu padanya.

"Kau bercanda? Aku tidak mungkin melupakannya... Dia Namikaze Naruto... " Sasuke kembali menatap Naruto... tidak tajam, jenaka dan lainnya. Tatapannya lebih ke lembut, dan penuh cinta? Naruto merasa jantungnya ikut berhenti, tenggorokannya kering, nafasnya berhenti seakan tidak ada lagi oksigen di sana saat Sasuke mengembangkan senyum hangat padanya, bukan seringai seperti biasanya.

"-kekasihku... " Lanjut Sasuke.

TBC

Sepertinya beberapa salah paham.. Sasuke tidak mengejar Naruto karna suatu alasan di Ch 1 kemarin.. ^^

n Trima kasih untuk yang sudah baca, mereview dan lainnya... ^^

RnR please… ^^