Preview chapter:
.
"Ayo kita bertanding! Yang kalah akan menjadi pesuruh yang menang, bagaimana?"
.
"Oke, kuterima tantanganmu,"
.
.
"Heart Melody"
.
Pair: LenRin (Pastinya, yang lainnya tebak sendiri yah~)#hajared
.
Disclaimer: Sampai dunia kiamat pun Utauloid, Vocaloid 1, 2, 3, ampe seratus pun nggak akan pernah jadi milik saia. TAT#pundung
.
Warning(s): Music life, rada ngga nyambung, OOC(?), banyak Crack pair?, Lennya jadi agak gimana gitu.. =="#ditampol
Don't Like? Belum terlambat untuk menekan tombol back kok, ^w^
.
Full Sumarry:
Kaganemi Rin, seorang bintang musik klasik & tradisional di sekolahnya harus bertemu dengan Kagamine Len yang juga adalah seorang bintang musik modern di sekolah itu. Perbedaan sifat yang mencolok dan aliran musik yang cukup jauh berbeda menyebabkan Rin menantang Len untuk uji kemampuan. Akankah Rin berhasil menang? Ataukah Len yang akan menang? Bagaimana kelanjutannya? kita lihat berikut ini.
Happy reading and enjoy~~
"RIIIIIIIIIN!" teriak beberapa orang, ada yang berambut coklat, hitam, dan merah cherry.
"Hei Rin, kau benar-benar menantang Kagamine Len untuk bertanding musik?" tanya salah satu teman Rin yang berambut coklat sebahu, Sakine Meiko.
"Tentu saja Mei, masa aku bohong?" jawab Rin.
"Jadi kita akan melawan 'Stupid Band' yang terkenal itu?" tanya Rui, gadis yang berambut hitam. Rin melongo.
"Hah?"
"Iya, 'Stupid Band'. Band yang waktu itu kau lihat di Owner café, ingat?" sahut teman Rin yang satu lagi, Furukawa Miki.
Rin mulai termenung, mencoba mengaduk-aduk ingatannya.
.
FLASHBACK
.
"Tidak mauuuuuuuuuu!" elak seorang gadis berambut honey blonde kepada temannya yang berambut coklat.
"Tenang saja Rin, aku sudah ijin pada kakekmu~~" ucap gadis coklat sembari terus menyeret Rin memasuki sebuah café berpapan nama 'Owner Café'.
.
.
Di dalam kafe…
.
Sekelompok anak laki-laki sedang bersiap-siap di atas panggung, ya… itulah grup musik yang sekarang sedang hangat diperbincangkan, 'Stupid Band'. Mereka sedang bersiap untuk membawakan lagu berjudul Can't Forget yang menjadi andalan mereka.
"Hey, kenapa aku lihat setiap malamnya orang-orang yang datang ke kafe ini semakin bertambah saja ya?" tanya lelaki berambut biru yang juga Drummer band ini.
"Dan pastinya perempuan yang banyak datang," ucap sang Bassist, Kagene Rei.
"Tentu saja, itu berarti kita semakin populer. Dasar bodoh kalian, Kaito, Rei…" ucap gitaris kedua band ini, Utatane Piko.
"Sudahlah Piko, ayo mulai. Aku sudah bising mendengar teriakan mereka," ungkap sang vocalist sekaligus gitaris utama band ini, Kagamine Len.
"Oke," sahut Piko, "Kalian berdua ayo mulai," lanjutnya.
"Oke!" balas Kaito dan Rei.
.
.
Disisi lain…
.
"Hei, Rin! Meiko!" teriak seseorang, yang ternyata adalah Miki, saat Rin dan Meiko masuk ke dalam kafe.
"Ah, di sana rupanya! Ayo Rin!" kata Meiko sembari terus menyeret Rin. Rin pun hanya pasrah diseret-seret Meiko.
"Eh, kalian sudah sampai ya?" tanya Rui yang baru saja menyadari kedatangan Meiko dan Rin, Meiko mengangguk semangat.
"Maaf lama menunggu, kami akan segera memulai pertunjukan ini," ucap Len dari atas panggung.
Semua yang ada di sana pun langsung bersorak meneriakan nama sang vocalist, walaupun tak digubrisnya sama lama, Stupid Band memulai aksinya. Dimulai dari gebrakan penuh semangat drum Kaito, sampai pada suara lembut tapi bertenaga milik Len, semua itu menyatu menjadi sebuah paduan yang sempurna.
Dari bawah panggung, tepatnya dijejeran kursi café, Rin yang awalnya merasa bising oleh keadaan sekitar. Kini mulai menikmatinya, semua yang dilihatnya begitu menenangkan. Walaupun toh, awalnya ia sedikit tidak nyaman dengan musik yang dibawakan oleh Stupid Band itu, tapi sekarang ia menikmatinya. Ia merasa, dengan mendengarkan musik itu, semangatnya bisa kembali penuh… Benar-benar ajaib…
"Helllooooooow, Rinny~ kau sudah ada di bumi atau masih di angkasa raya sana?" ucapan Miki itu sukses membuat Rin hampir saja lompat dari duduknya.
"Ah, ya? Ada apa?" tanya Rin. Teman-temannya pun hanya menghela napas pasrah.
"Jadi dari tadi kau tidak mendengarkan kami?"
Rin tersenyum kaku seraya berkata, "Ma-maaf…"
"Baiklah, kupersingkat saja. Intinya, untuk tanding nanti apa yang harus kita tampilkan?" jelas Rui singkat.
"Tenang saja, kita tampilkan saja penampilan kita yang terbaik. Seperti biasanya, oke?" ucap Rin, teman-temannya tersenyum kecil dan mengangguk.
"Ah, ini semua membuatku lapar… ke kantin yuk!" ajak Meiko. Rin, Rui, dan Miki mengangguk lalu bergegas mengikuti Meiko ke kantin.
.
.
"Hey Len, kau benar-benar mau bertanding dengan anak jurusan musik tradisional itu?" tanya Piko, sang gitaris kedua band. Len mengangguk singkat.
"Memangnya kalian ada masalah apa sih? Tumben kau mau menerima tantangan, langsung seperti ini tanpa pikir panjang dulu?" sahut Rei.
"Sudahlah, kalian ikuti saja permainanku, aku akan membuat sesuatu yang menarik." ucap Len.
"Haah, apa katamu deh…,"
"Ngomong-ngomong, dimana Kaito?"
"Nggak tau, paling juga ngeliat Miku lagi." jawab Rei.
"Kadang aku kasihan deh sama Kaito," kata Len.
"Kenapa memangnya?" tanya Piko.
"Cintanya bertepuk sebelah tangan kayak gitu,"
"Yah, itu soalnya kau belum pernah jatuh cinta Len, nanti juga kau bakal tau rasanya saat kau mulai jatuh cinta sama seseorang," jelas Rei.
"Yep, Rei benar." kata Piko.
"Kau udah kayak psikolog cinta aja deh Rei," tanggap Len.
"Itu kan karena aku sudah sering nanganin hal beginian…," jawab Rei, Len terdiam.
"Dari pada kau, jatuh cinta aja belum pernah," ejek Rei sambil menjulurkan lidahnya.
"Apa kau bilang!" geram Len.
"Huwaaaaaa, ada bocah shota kuning ngamuuuuuuuuk!" jerit Rei seraya kabur dari kejaran Len.
"Hoi! Kembali kau Rei!" teriak Len.
.
.
"Ah, sudah lama ya aku tidak berkunjung kemari…," ucap seorang laki-laki jangkung berambut coklat tua.
"Tentu saja, kau kan sudah lama berjaya di Hollywood, pasti jarang pulang ke Jepang, hahaha….," gurau seorang lelaki paruh baya yang bersama orang tersebut.
"Hahaha, itu tidak benar. Setiap tahun baru dan hari besar lainnya aku pulang kok," sanggah lelaki jangkung tersebut.
"Baiklah, baiklah, aku percaya… oh iya, bagaimana soal tawaranku kemarin?" tanya lelaki paruh baya.
"Aku terima, pak Rektor." jawab lelaki jangkung.
"Baiklah, aku mengharapkan yang terbaik untuk pesta pagelaran 100 tahun sekolah ini, Hiyama."
"Tentu, aku juga alumni sekolah ini, mana mungkin aku tidak melakukan yang terbaik?" gurau orang yang bernama Hiyama itu.
"Hahahaha, kau ini bisa saja, mau kuajak berkeliling?" ajak Rektor sekolah itu.
"Tentu saja, mungkin saja sekarang sekolah ini lebih bagus dari yang dulu… bisa-bisa aku tersesat nanti,"
"Baiklah, ayo…,"
.
.
Tok, tok, tok
"Permisi, Luka-sensei…," sang pemilik ruangan yang diketahui bernama Megurine Luka itu pun segera menghentikan aktifitasnya sejenak.
"Ya? Ada apa ya?" sapanya.
"Etto, hari ini apakah anda ada kelas? Saya ingin mempelajari tari ballet sensei…," ucap gadis itu.
"Baiklah, sekarang kau ke sanggar, aku akan mengajarimu." jawab Luka.
"Iya! Terima kasih Luka-sensei!" gadis tadi pun segera berlari dengan senang menuju sanggar.
Luka yang masih ada diruangannya pun tersenyum pahit, "Benar-benar anak yang bersemangat," ucapnya.
Diliriknya sebuah pigura di atas meja kerjanya, di sana ada foto seorang laki-laki berambut coklat tua berusia 18 tahunan sedang merangkul seorang wanita berambut pink sebayanya yang sedang membawa piagam bertuliskan 'Winner of Dance Champion Tokyo 58'. Mereka berdua terlihat sangat senang difoto tersebut.
Luka tersenyum miris. "Tapi ini sudah jalan yang kupilih, aku tidak mungkin memutar waktu kembali,"
Dan dengan itu, Luka berjalan keluar dari ruangannya. Menuju sanggar, tempat muridnya menunggu tadi.
Yeay, selesai~~~
Nah, untuk chap ini segini dulu ya?
Nah, bole minta ripiu lagi minna?
Arigato yang uda nyempetin ripiw ato skedar baca aja, saia bersyukur banget... *mata bling"*
Ini masi pendek yah? mo gmn lg... +3+
Uda de3h, dari pada saia ngebacod terus mending ripiw oke?
