Preview Chapter:

.

"Jadi kita akan melawan 'Stupid Band' yang terkenal itu?"

.

"Hah?"

.

"Aku akan membuat sesuatu yang menarik,"

.

"Ah, sudah lama sekali aku tidak berkunjung kemari,"

.

"Tapi ini sudah jalan yang kupilih, aku tidak mungkin memutar waktu kembali,"

.


"Heart Melody"

.

Pair: LenRin (Pastinya, yang lainnya tebak sendiri yah~)#hajared

.

Disclaimer: Sampai dunia kiamat pun Utauloid, Vocaloid 1, 2, 3, ampe seratus pun nggak akan pernah jadi milik saia. TAT#pundung

.

Warning(s): Music life, rada ngga nyambung, OOC(?), banyak Crack pair?, minim pendiskripsian, Lennya jadi agak gimana gitu.. =w="#ditampol dwwl!

Don't Like? Tombol back masih setia ditempatnya, oke? ^w^

.

.

NOTE: "blablabla," = Flashback.


"Hufft…,"

"Kenapa Rin?" tanya sang kakek, Kaganemi Gakupo. Rin menggeleng pelan.

"Tidak ada apa-apa kek," balas Rin.

"Baiklah, tapi jika ada apa-apa bilang pada kakek, kakek tidak mau permainan shamisenmu kacau hanya karena hal sepele," ucap Gakupo, Rin mengangguk singkat.

"Baiklah kek, aku mau istirahat dulu," pamit Rin.

"Jangan lupa besok kau kuliah pagi," pesan Gakupo, Rin mengangguk dan mulai melangkah keluar dari ruang keluarga.

.

.

.


.

.

Len baru saja pulang dari Owner Café, dibukanya pagar bercat putih bertinggi sedang itu. Ia memarkirkan sepedanya di garasi dan langsung menuju ruang tengah.

"Ahh, mama!" seru seorang gadis.

"Lhoh, inikan es krim mama,"

"Tapi tadi mama sudah makan banyak! Ini bagianku!" rajuk gadis itu.

Len yang baru saja pulang itupun langsung berdiri mematung di depan pintu dengan wajah terheran-heran.

"Hei, hei, ada apa sih, ma? Lenka?" tanya Len.

"Kakak! Mama menghabiskan jatah es krimku!" adu Lenka, adik dari Len.

"Jangan makan es krim terlalu banyak, ingat pesan dokter Lenka." nasehat Len. Lenka menggembungkan pipinya, sedangkan ibu mereka pun tertawa pelan.

"Hihihi, sudahlah, ini bagian Lenka." ucap Lily, ibu mereka sambil menyerahkan satu cup es krim.

"Yeay!" seru Lenka.

Lily tersenyum, "Oh iya, kalau kau mau, di kulkas masih ada beberapa Len."

Len mengangguk, "Iya, nanti kalau aku ingin juga aku ambil sendiri, ma."

"Baiklah," tanggap Lily. "Oh ya, mama mau ke minimarket sebentar. Kau jaga Lenka ya Len?"

"Iya," balas Len.

"Hati-hati, ma." pesan Lenka, Lily mengangguk.

'Cklek,' dan pintu pun kembali tertutup.

"Ah iya, kakak. Bisa ajari aku matematika? Aku bingung di soal ini," ucap Lenka sambil menunjukkan buku matematikanya.

"Fungsi f ditentukan dengan rumus f(x) = ax + b. Bila f(2) = 1 dan f(4) = 7, maka nilai a + 2b adalah?" gumam Len saat membaca soal Lenka.

"Ohh, ini begini, yang ini dijadikan ini dulu. Nah, kalau sudah ini digabung sama ini..," jelas Len, Lenka hanya mengangguk-angguk saja.

.

.


.

.

Kembali ke Rin, kini Rin sudah memakai piyamanya dan bersiap untuk tidur. Ia menjatuhkan dirinya ke kasur.

"Besok…, akan seperti apa ya?" gumam Rin, dia mulai merasa agak menyesal menantang Len.

"Habis dia sombong banget sih! Muak tau liatnya...," keluh Rin pada dirinya sendiri.

Rin mengambil sebuah boneka taddy bear yang ada di dalam lemari kecil sebelah tempat tidurnya. Taddy itu berukuran cukup besar dengan warna oranye yang mendominasi tubuhnya, bahkan boneka itu juga membawa jeruk di tangannya.

Rin memandanginya dan kemudian berkata, "Hei Mikan…, apakah keputusanku ini salah?"

Boneka itu tetap diam sambil tersenyum, tentu saja seumur-umur juga boneka tidak akan pernah bisa bicara…

"Ahh, tau deh, itu urusan besok." ujar Rin, ia lalu menatap lekat kedua bola mata Mikan, bonekanya.

Ia seakan melihat kembali masa lalunya, masa-masa indahnya bersama ibunya.

~x~x~x~

"Mama, mama, boneka ini boleh Rin beri nama tidak?"

"Tentu boleh sayang, memangnya Rin mau beri nama apa?"

"Umm, karena bonekanya bawa jeruk, Rin kasih nama Mikan ya, ma?"

"Waah, nama yang bagus sayang,"

"Yeay! Nah, boneka…, sekarang namamu Mikan ya!"

~x~x~x~

"Mama… Sekarang…. Mama sedang apa di surga sana?" gumam Rin, air mata perlahan mulai mengintip di sudut matanya.

Keesokan paginya…

.

.


.

.

"Pagi Rin," sapa Meiko yang sudah ada di ruang latihan musik tradisional.

"Pagi Mei…," sapa Rin lesu, Meiko menyernyit heran

"Kau kenapa? Keliatannya nggak semangat gitu?" ucap Meiko, Rin menggeleng.

"Nggak ada apa-apa, ngomong-ngomong yang lain mana?" balas Rin.

"Rui sama Miki lagi beli senar dan bachi(*)," jelas Meiko sambil sedikit mengencangkan tali taiko(*)nya, Rin mengangguk-angguk saja.

"Ohh, tapi mereka nggak lupa kan kalau hari ini kita ada tanding?" tanya Rin.

"Tenang saja, mereka nggak akan lupa," Rin menghela napas lega.

.

.


.

.

"Hei, nglamun aja nih!" seru Kaito pada Len yang dari tadi bengong dengan memegang gitarnya.

"Aduh Kaito, dateng-dateng jangan main ngagetin orang dong, kalau aku kena serangan jantung gimana!" keluh Len sambil menepuk dahinya, Kaito hanya tersenyum innocent dan mengambil stik drumnya.

"Udahlah, daripada kamu nglamun terus mending main. Ayo," Kaito langsung memainkan drumnya, Len tersenyum tipis, sangaaaaaaaaaat tipis dan mulai memainkan gitarnya.

.

.


.

.

"Hiyama, jangan lupa hari ini ada rapat untuk pertunjukan." ucap seseorang.

Orang yang dipanggil Hiyama itu menoleh, dan didapatinya sang rektor berambut hijau ada di depan pintu ruang kerjanya.

"Pak, bukankah saya sudah bilang untuk memanggil saya Kiyoteru saja. Kenapa bapak masih saja memanggil saya Hiyama?" keluh Kiyoteru, seorang sutradara Hollywood yang turut berpartisipasi dalam pesta perayaan 100 tahun Vocamusic, culture and art academy ini.

"Baik, baik, Kiyo. Terserah kau saja," ujar sang Rektor, atau yang akrab kita sebut Retsu, Hatsune Retsu.

Kiyoteru tersenyum lalu berkata, "Lalu untuk apa bapak kemari?"

"Aku hanya mengingatkan tentang rapat nanti, dan juga ini adalah nama-nama dosen yang juga turut berpartisipasi dalam perayaan ini." ucap Retsu seraya memberikan beberapa carik kertas pada Kiyoteru.

"Baiklah,"

"Yah, baiklah. Kurasa aku harus pergi sekarang, semoga berhasil." Dan dengan itu Retsu pun meninggalkan ruangan Kiyoteru.

Di dalam, Kiyoteru melihat-lihat kertas pemberian Retsu tadi. Dibacanya satu persatu nama yang tertera di sana, yang nantinya akan bekerja sama juga dengannya.

Namun ia terlihat terkejut saat matanya menemukan sebuah nama, nama orang yang telah melumpuhkan dan sekaligus membekukan hatinya.

Kiyoteru tersenyum pahit, "Sudah tidak ada gunanya lagi aku mengingatnya, dia bahkan telah mencampakkanku semudah itu."

Ia meletakkan kertas-kertas itu dan keluar dari ruangannya untuk mencari udara segar.

Kertas itu masih menampakkan sebuah deretan tulisan yang membentuk sebuah nama, nama yang membuat Kiyoteru mengulang kembali ingatan pahitnya. Dan yang tertulis di sana adalah…

[Megurine Luka, Koreografer]

.

.


.

.

"Luka-san, nanti kita ada rapat dengan sutradara baru itu." ucap salah satu dosen kepada Luka.

"A-ah, iya…," Luka yang sedari tadi melamun pun tersadar akibat ucapan Luna, dosen yang memberi taunya tadi.

"Ini masih pagi Luka-san, kesambet baru tau rasa kau..," pesan Luna, Luka hanya tersenyum miring.

"Sudahlah Luna, panggil saja aku Luka. Kurasa kau juga kurang nyaman memanggilku dengan embel-embel –san seperti itu," ucap Luka, Luna menghela napas.

"Sejujurnya, aku memang tidak suka memanggilmu seakan kita baru kenal seperti itu Luka," ucap Luna.

"Yah, begitulah, padahal kita sudah berteman sejak SMA." tanggap Luka.

"Iya, sampai kau pndah ke Inggris dan tidak pernah memberiku kabar. 'Orang itu' sampai depresi kau tinggal ke Inggris," ceplos Luna, Luka yang sedari tadi tersenyum secara alami merubah raut wajahnya menjadi sedih dan sedikit tersirat penyesalan di sana.

Luna yang menyadari keanehan Luka itu segera menutup mulutnya.

"A-ah, Luka… maafkan aku…," ucapnya.

Luka menggeleng pelan dan berkata, "Tidak apa-apa Luna, itu memang salahku. Dan aku pantas menerima akibatnya,"

Luna mendekat pada Luka dan mengelus punggungnya pelan.

"Kecelakaan itu bukan karma Luka, semua itu secara alami terjadi. Dan itu semua juga bukan kesalahanmu," nasehat Luna.

Luka terdiam, Luna merasa canggung pada Luka dan merutuki kebodohanya dalam hati.

"Sudahlah Luka…, kau membuatku benar-benar merasa bersalah…," keluh Luna, Luka menghela napas pelan dan mencoba tersenyum.

"Baiklah, Luna. Aku keluar dulu untuk mencari udara segar, nanti rapat aku juga pasti datang," pamit Luka yang langsung berjalan menjauh.

.

.


.

.

Sekarang sudah pukul 9 dan sesuai kesepakatan Rin dan Len akan bertanding di aula sekolah. Peraturannya gampang, mereka akan memainkan musik mereka dan penilaian akan bergantung pada banyaknya tepuk tangan.

Rin dan Len berdiri berhadapan di atas panggung dengan Len yang tersenyum mengejek dan Rin yang memasang wajah tidak suka.

"Sudah siap kalah nona?" ejek Len, Rin menggeram sedikit.

"Kita tidak akan tau sebelum memulainya," balas Rin, ia kemudian turun dari panggung, tak lupa juga dengan tatapan tajamnya pada Len sebelum turun.

Disisi lain, Kiyoteru sedang berjalan-jalan di sekitar taman sambil merenung.

'Jadi, Luka juga ada di sini…, seperti apa ya dia sekarang?' itulah salah satu ungkapan di pikiran Kiyoteru.

Kiyoteru terus tenggelam dalam pikirannya, yang menyebabkan ia tidak menyadari ada orang di depannya.

/Bruk/

"Aww…," rintih mereka, ya, mereka.

Sadar akan kebodohannya yang berjalan sambil melamun itu, Kiyoteru langsung berdiri dan meminta maaf seraya mengulurkan tangannya untuk membantu orang itu.

"Ti-tidak apa-apa, aku yang salah," ucap orang itu seraya meraih tangan Kiyoteru untuk membantu tubuhnya berdiri.

Kiyoteru mematung. Suara lembutnya, mata sedalam lautnya, tubuhnya bahkan surai merah mudanya yang indah itu pun masih sama seperti yang terakhir kali dia ingat.

Kiyoteru membelalak sedikit, suaranya terasa tercekat di tenggorokannya. Dan sepertinya keadaan orang di hadapannya pun tak jauh berbeda.

Entah berapa lama waktu terbuang yang mereka gunakan untuk saling tatap, sampai akhirnya sepatah kata, bukan, maksudku seutas nama terucap dari bibir mereka.

"Luka…,"

"Kiyo..,"


GBA a.k.a Gudang Bacodh Author:

Selese juga dah nih chap… =="

Errr, sih mo nulis lebih panjang buat chap ini, ( sih mo ampe RinLen) tapi ngga jadi..*nyengir*#damprated

Yah, mungkin chap *inosen fes*

Oke, bales ripiw dulu buat Miki Abaddonia Lucifen-chan

Yep, itu emang foto LukaKiyo~~

Ahh, ngga kok. jurusan Luka itu tari ngga mungkin dia ngajar musik, ^^"

Ehh, tapi bisa juga kubuat begitu kalau aku mampet ide.. *v*

Maap, belum bisa panjang… T^T

Tapi tenang chap 4 panjang kok~~

Oke, ma'achii Miki-chan~~

Ah, ada lagi… buat Lynnenma-chan!

Waa, author baru ya? Baru liat…#digaplok

Kupanggil Enma-chan aja ya? Biar ngga panjang"~~#disate

Hwaaaa, makachiii~~ seneng saia klo kmu suka~~

Ini lanjutannya~~ Ripiu lagi?

Ehh, ada Shiney Moon-chan juga ternyata!

Okaeri, Shiney-chan~~

Tanding'na dichap besok.. ^^"

Asli'na mau di chap ini tapi ngga jadi… *nyengir kuda*

Makasi, makasi, uda mau di fave! *sujud"*

Oke, dilanjut~~ ternyata Shiney-chan emang bener" 4l4y3rS sejati! ( ._.)a#digoreng

Nah, mind to ripiw lagi?

Yep, itu balesan ripiu'na~~ maap klo ngga memuaskan*nunduk*

Kritik, saran, flame, pujian(ngarep?) selalu diterima~~ klik aja tombol Review dibawah~~

I

I

I

I

V