Chapter 3 updated!
Gomen lama update-"
Buat yang selanjutnya bakal saya usahain cepet update deh'-')b
Yak, langsung saja ke disclaimer!
DISCLAIMER
Vocaloid bukan punya saya, karena kalo Vocaloid punya saya, pasti Vocaloid udah bangkrut(?)
WARNING : Gaje, aneh, Typonya dahsyat, abal, dsb.
Koko ni Iruyo! © KagamineRikka
All in Lenka POV
Aku terus menangis di sofa. Entah kenapa, rasanya sakit sekali melihat Rin dan Rinto... ehem... berciuman di depan mataku. Kenapa? Kenapa harus Rin? Dia kan... jahat! Aku yakin dia sedang memanfaatkan Rinto untuk kepentingannya sendiri. Tapi, kenapa? Ah... aku benar-benar berharap aku tidak pernah melihat kejadian tadi.
Untuk menenangkan diri, aku mengambil iPod-ku dan mendengar beberapa lagu yang terdengar bersemangat. Pada saat mendengarkan lagu, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu rumahku.
Tok...Tok...Tok...
Aku langsung membuka pintu rumah dan ternyata yang mengetuk pintu rumahku adalah Rinto. Aku mempersilakannya masuk kedalam.
"Hei Lenka, ini, ibuku membuat kue, dan kebetulan kuenya kebanyakan, jadi ini untukmu..." kata Rinto. Aku mengangguk dan menjawab "Terima kasih".
Rinto terus memperhatikan wajahku. Aku yang diperhatikan malah salah tingkah. Aku bertanya "Apa ada yang aneh dengan wajahku?".
"Kau habis menangis? Kenapa?" tanya Rinto terlihat khawatir. Aku baru sadar bahwa aku belum mengelap sisa-sisa tangisan dari wajahku. Aku benar-benar lupa. Aku langsung berlari ke toilet dan mencuci muka untuk menghilangkan bekas-bekas tangisanku. Tapi apa daya, Rinto sudah terlanjur melihatnya. Aku harus bilang apa padanya?
Setelah selesai mencuci muka, aku kembali ke ruang tamu dan duduk di sebelah Rinto. Pertanyaan itu kembali terucap dari mulut Rinto. "Kau kenapa? Siapa yang membuatmu menangis?" tanya Rinto lagi. Ingin sekali aku berkata 'Yang membuatku menangis itu kau bodoh!' tapi yang kuucapkan hanyalah "Aku tidak apa-apa" yang jelas sekali merupakan sebuah kebohongan besar.
"Bohong! Aku sudah lama sekali mengenalmu, dan setiap kali kau punya masalah, kau pasti selalu berkata 'tidak apa-apa'. Jujurlah, Lenka.." kata Rinto. Ekspresinya melembut. Oh, kumohon, jangan tunjukkan ekspresi itu padaku... kau hanya akan membuatku menangis lagi.
Aku hanya diam. Masa aku harus jujur pada orang yang membuatku menangis? Bisa-bisa persahabatan yang sudah kami jalin sejak lama rusak begitu saja. Aku tidak tau harus bilang apa padanya. Jadi, aku berkata "Aku benar-benar tidak apa-apa kok... tadi aku sedang mendengarkan lagu yang sedih, dan aku terlalu terbawa suasana, akhirnya aku menangis deh... hehe..." sambil tertawa garing dan ber-piece-ria. Great, satu lagi kebohongan besar di hari tersial. Sudah berapa total kebohonganku hari ini?
"Kau serius?" tanya Rinto, terlihat ragu. Aku mengangguk sambil tersenyum sebagai jawaban. Setelah itu, aku pergi ke dapur untuk mengambil minuman.
"Kau mau minum apa?" tanyaku.
"Teh dingin saja" jawab Rinto. Aku mengambil 2 gelas dan mengisinya dengan teh dingin. Lalu, aku kembali ke ruang tamu dan memberikan salah satu gelas berisi teh dingin pada Rinto. Ia bergumam "Terima kasih". Aku mengangguk kecil.
Setelah itu, ruangan ini hening seketika. Tidak ada yang mau membuka mulut untuk berbicara. Rinto terlihat sibuk dengan minumannya dan aku sendiri menyibukkan diri dengan mencorat-coret kertas yang kebetulan ada di meja di depan sofa. Lama-kelamaan, aku mulai bosan. Akhirnya, aku membuka mulut untuk bicara. "Hei Rinto..." kataku.
"Hm?"
"Etto... bagaimana hubunganmu dengan Rin?" Oh great! Sepertinya aku menanyakan hal yang justru membuat hatiku semakin sakit. Sepertinya aku mengambil tindakan yang salah untuk berbicara dengan Rinto.
"Bagaimana... ya?" Rinto tersenyum lembut. Kurasa ia sangat senang ketika memikirkan Rin. Aku yang melihatnya tentu saja merasa sakit hati. Bagaimana tidak? Rinto terlihat sangat menyukai Rin.
Aku terdiam sebentar. Bingung mau menjawab apa. Tapi, tak lama kemudian, aku mendapat ide untuk menjawab pertanyaan Rinto. "Hei! Jangan begitu dong... aku kan sahabat masa kecilmu... jadi kau harus memberitauku..." kataku sambil tertawa kecil. Tentu saja tawaku adalah tawa palsu. Aku tertawa untuk menyemangati diriku sendiri agar aku menjadi tegar ketika mendengar jawaban Rinto.
"Yah... pokoknya aku menyukainya dan dia menyukaiku. Seperti itulah. Susah juga menjelaskannya..." kata Rinto sambil tertawa kecil. Aku tersenyum palsu padanya dan berkata "Longlast ya..." dan dia menjawab "Thanks".
Setelah itu, aku langsung bangkit dari sofa dan berkata "Ne Rinto, gomen, aku tidak bermaksud mengusirmu... tapi... sebentar lagi aku mau pergi... jadi—" "Aku mengerti... terima kasih minumannya, jaa ne" potong Rinto sebelum aku selesai berbicara. Dia pun bangkit dari sofa. Aku berjalan menuju pintu dan membukakan pintu itu untuknya. Dia pun pulang setelah menepuk puncak kepalaku.
Aku menunggu sampai punggung Rinto tidak terlihat lagi olehku. Lalu, aku menutup pintu, menguncinya, dan berlari ke kamar untuk menangis lagi. Aku menangis terlalu lama, hingga akhirnya aku tertidur karena lelah menangis.
—Skip time—
—At 19.00—
Aku terbangun dari tidurku yang lelap. Aku benar-benar tidak menyangka aku akan tertidur lama sekali. Dan... hei, aku belum mandi sore! Aku langsung bangkit dari tempat tidurku, mengambil pakaian dan handuk, lalu ke toilet untuk mandi.
Setelah selesai mandi, aku pergi ke dapur untuk menyiapkan makan malam. Makan malamnya sederhana saja, hanya mie instan dan segelas air putih, makanan yang sangat standar. Aku hanya makan mie instan karena aku memang sedang tidak lapar. Malam ini, aku makan sendiri, lagi. Orang tuaku terlalu sibuk bekerja, jadi makan malam sendiri di rumah sudah merupakan hal yang biasa buatku.
Setelah selesai makan, aku mengambil bantal, guling dan selimut dari kamar dan menaruhnya di sofa. Entah kenapa, aku malas tidur di kamar, jadi kuputuskan untuk tidur di sofa saja. Aku berbaring di atas sofa, dengan ponsel di tanganku. Aku melihat-lihat foto yang ada di ponselku, sampai akhirnya aku menemukan fotoku dan Rinto 2 tahun yang lalu. Kami berdua terlihat bahagia sekali di foto itu, dan hal itu membuatku kembali menangis sampai aku tertidur.
—Keesokan Harinya—
Aku terbangun pada pukul 05.15 pagi. Pada saat terbangun, aku merasa mataku terasa berat sekali. Aku pergi ke toilet untuk mencuci muka agar kantukku hilang. Di toilet, aku melihat diriku di kaca, dan mengetahui bahwa mataku bengkak. Ini pasti gara-gara kebanyakan menangis kemarin.
Aku menggosok-gosok mataku untuk menghilangkan bengkaknya, tapi itu sama sekali tidak berpengaruh. Aku jadi ingin bolos sekolah, tapi masa ketua OSIS bolos sekolah hanya karena matanya bengkak gara-gara kebanyakan menangis? Reputasiku bisa rusak kalau ada orang yang mengetahuinya. Lagipula, aku akan ketinggalan pelajaran jika tidak masuk hari ini.
Kuputuskan aku akan tetap sekolah, walaupun dengan mata yang bengkak ini. Aku mengambil handuk dan pakaianku, lalu mandi. Setelah selesai, aku membuat sarapan—yang sangat sederhana, yaitu sandwich— dan bekal untuk sekolah. Lalu aku menyiapkan tasku, menyisir rambut, memakai bandana—karena rambutku kubiarkan tergerai—dan berjalan menuju teras untuk memakai sepatu, tidak lupa dengan tas sekolah, ponsel dan kunci rumah di tangan.
Lalu, aku berangkat ke sekolah—dengan mata yang kukompres dengan es—setelah mengunci pintu rumah. Aku sengaja berjalan berlama-lama. Aku sampai di jembatan yang menghubungkan kompleks perumahanku dengan jalan raya. Di sana, aku diam sebentar sambil memperhatikan sungai di bawah jembatan yang sangat jernih. Tiba-tiba aku menggumam "Aku malas ke sekolah" sambil melempar es yang tadi kugunakan untuk mengompres mata.
Aku bersandar pada pagar jembatan yang kokoh dan membiarkan angin meniup rambutku. Aku terus bengong di sana sampai ada seseorang yang memanggilku.
"Hei Lenka, kalau tidak buru-buru nanti kau terlambat lho..." kata seseorang itu, yang ternyata adalah Rinto.
"Apa pedulimu?" kataku dengan ketus. Moodku memang sedang tidak baik hari ini, jadi wajar saja aku bersikap ketus pada Rinto.
"Kebetulan kita bertemu, bagaimana kalau kita berangkat bareng pakai sepedaku? Biar lebih cepat" katanya lagi.
"Bohong, kau datang dari arah yang berbeda, jadi tidak mungkin kita kebetulan bertemu" kataku masih dengan ketus. Rinto berjalan mendekat sambil mendorong sepedanya. Ia berdiri di sebelahku dan meletakkan sepedanya disampingnya.
"Iya aku bohong, kau lama jadi aku menjemputmu" kata Rinto. Dia ikut-ikutan bersandar pada pagar jembatan. Aku diam, tidak menjawabnya. Kami terus diam sampai 15 menit berlalu.
"Ngomong-ngomong..." kata Rinto padaku, yang langsung kujawab dengan "Apa?"
"Kita sudah telat sekarang..." kata Rinto lagi. Aku langsung ber-eh-ria. "Apa mau sekalian bolos saja?" lanjutnya. Aku mengangguk sebagai jawaban. Lagipula aku memang sedang malas sekolah hari ini.
"Ayo naik, kita ke supermarket untuk beli makanan dulu" kata Rinto yang sudah duduk di atas sepedanya. Aku naik ke atas sepedanya dan memegang bahu Rinto. "Hei, pegangan yang erat dong! Bahaya..." kata Rinto lagi. Aku langsung mengeratkan peganganku pada bahu Rinto. Ternyata bahu laki-laki itu begitu tegap ya...
Setelah itu, Rinto mengayuh sepedanya menunu supermarket terdekat. Di sana, aku membeli 2 buah yogurt, sebotol air putih dan 2 buah gantungan kunci bertuliskan 'Left & Right'. Sedangkan Rinto, aku tidak tau dia membeli apa. Setelah membayar barang-barang yang kubeli tadi, aku dan Rinto kembali menaiki sepeda Rinto.
"Sekarang kita mau kemana?" tanyaku.
"Hmm... kemana... ya? Pokoknya nanti kau tau" kata Rinto sambil semirek-semirek(?).
Aku diam saja melihat tingkah usilnya itu. Tapi diam-diam aku tersenyum. Bukan senyum palsu, tapi senyum tulus.
Akhirnya kami berdua sampai di suatu taman yang sepi. Kurasa itu bukan taman, melainkan lapangan sepak bola, karena ada dua gawang dan sebuah bola sepak di sana. Aku menaruh belanjaanku tadi di rumput.
"Hei, mau main? Tapi bolanya kotor" kata Rinto, mengajakku bermain bola.
"Tidak apa-apa, ayo main" kataku dengan semangat. Dan kami pun bermain bola hingga lelah.
Setelah bermain bola, kami istirahat sambil memakan makanan dari belanjaan masing-masing. Aku memakan yogurt dan Rinto memakan Roti keju.
"Kau hanya makan yogurt?" tanya Rinto.
"Ahaha... aku tidak lapar" balasku.
KRUYUUUUKKK...
Ups, perutku memberontak bung. Oh perut, kau memang tidak bisa diajak kompromi!
Rinto yang mendengar suara perutku langsung tertawa. Dan ia menawarkan 1 roti keju padaku. "Nih" katanya. Aku mengambilnya dan bergumam "Terima kasih". Ia menjawab "Sama-sama" sambil tertawa lagi.
Setelah selesai makan, aku minum air putih dan mengambil kantong belanjaanku tadi, mencari gantungan kunci yang tadi kubeli. Setelah menemukannya, aku mengambil salah satu dari dua gantungan kunci itu.
"Nih, untukmu" kataku sambil memberikan gantungan kunci itu pada Rinto.
"Heh? Apaan nih?" tanya Rinto dengan wajah idiotnya.
"Hadiah... hari ini kau ulang tahun kan? Masa kau lupa pada hari ulang tahunmu sendiri sih?" kataku.
"Haha... maaf Lenka, tapi aku benar-benar lupa... terima kasih ya" katanya dengan senyum idiotnya itu. Aku yang melihatnya tidak tahan untuk tidak tersenyum. Aku memang memberikan satu gantungan kunci padanya, tapi gantungan kunci yang satu lagi tidak akan kuberitahukan pada siapapun.
"Hei Rinto, kau mau main air tidak?" kataku. Kebetulan di depan lapangan sepak bola ini ada sungai kecil dengan air yang tidak terlalu deras.
"Ayo!" jawabnya. Aku langsung berdiri, melepas kaus kaki dan sepatuku, lalu berlari ke sungai. Rinto mengikuti di belakangku.
Kami bermain air sampai puas. Sekarang aku sedang menertawakan Rinto yang terpeleset dan jatuh terduduk sehinggak seragamnya basah kuyup. Tapi tiba-tiba, kakiku terpeleset dan aku pun ikutan jatuh. Rinto menertawakanku sambil berkata "Kualat... hahahaha". Setelah itu Rinto bangun dan mengangkat tubuhku.
"Cepat bangun, nanti kau masuk angin" katanya sambil membantuku berdiri. Setelah alu berdiri, kami berdua berjalan ke tempat kami meninggalkan kantong belanjaan kami dan berbaring di sana untuk mengeringkan tubuh.
Kami berbaring dalam diam. Tidak ada yang berbicara. Tapi, akhirnya aku bicara "Hei Rinto... apa gara-gara main air ya... kamu ngantuk gak?" tanyaku sambil mengubah posisi berbaringku menjadi menghadap ke kanan, menghadap Rinto. Ternyata Rinti sudah tidur. Telapak tangan kirinya terbuka.
DEG
Aku ingin menggenggam tangan itu. Sekali saja. Bolehkah? Aku meraih tangannya, dan menggenggam tangannya. Dia membalas gengamanku, lalu tersenyum. Kira-kira dia sedang bermimpi apa ya?
Aku memperhatikan wajah Rinto sebentar, lalu ikut tertidur bersamanya.
—Skip time—
Aku terbangun pada sore hari. Kulihat Rinto masih tertidur dan masih menggenggam tanganku. Aku langsung blushing mengingat apa yang kulakukan tadi. Tapi tak lama kemudian Rinto terbangun dan melepaskan genggaman tangannya. Aku langsung memalingkan wajah agar ia tidak tau bahwa aku sedang blushing.
Setelah itu, kami bangkit dan membereskan barang masing-masing dan berjalan pulang sambil bercanda ria. Tak terasa, kami sudah sampai di pertigaan yang memisahkan kami berdua.
"Kau yakin mau sampai sini saja? Aku mau kok mengantarmu sampai rumah" kata Rinto. Aku menggeleng sambil tersenyum dan berkata "Tidak usah"
"Ya sudahlah... kalau begitu sampai besok... oh iya, ingat... soal hari ini, ini rahasia kita berdua ya!" kata Rinto. Aku tersenyum dan melambaikan tangan padanya sambil berkata "Sampai besok!".
Setelah itu aku berdiam sebentar di pertigaan itu. Aku bersandar pada salah satu tembok rumah sambil bergumam "Rahasia ya?".
Aku mengambil gantungan kunci yang serupa dengan milik Rinto dan bergumam "Tapi kalau ini, ini rahasiaku seorang..."
"Sepertinya... tetap menjadi sahabat juga tidak apa-apa... ya kan... Rinto?" gumamku sambil tersenyum.
—Di tempat lain di waktu yang sama—
Rinto baru saja menaruh sepedanya dan berniat ke supermarket untuk membeli jeruk. Tiba-tiba ada orang yang menepuk bahunya. Spontan Rinto menoleh ke belakang dan orang itu langsung menonjok Rinto hingga ia pingsan.
TO BE CONTINUED
Yosh... chapter 3 selesai!
Gomen updatenya lama.
Mudah-mudahan chapter ini gak mengecewakan kalian-kalian yang udah nunggu updatenya ya-"
Oke, bales review!
From : Onpu-chan
Ini udah update ne~
Keep reading!
From : Chang Mui Lie
Rin : Kenapa saya yg rebut first kiss rinto? Karena si author yang menyuruh saya begitu.-.
Dah update ne!
Keep reading!
Yak, segitu aja dari Rikka.
Hope you like it!
Mind to review?
