Preview Chapter:

.

"Sudah siap kalah nona?"

.

"Kita tidak akan tau sebelum kita memulainya,"

.

"Luka…,"

.

"Kiyo…?"

.


.

"Heart Melody"

.

Pair: LenRin (Pastinya, yang lainnya tebak sendiri yah~)#hajared

.

Disclaimer: Sampai dunia kiamat pun Utauloid, Vocaloid 1, 2, 3, ampe seratus pun nggak akan pernah jadi milik saia. TAT#pundung

.

Warning(s): Music life, rada ngga nyambung, typo(s), OOC(?), banyak Crack pair?, minim pendiskripsian, Lennya jadi agak gimana gitu.. =w="#ditampol dwwl!

Don't Like? Tombol back'na belom minggat kok~~ ^w^

.


.

.

.

Rin sedang berjalan menuruni panggung, sementara Len sedang bersiap untuk memulai permainannya. Tepat saat Rin telah sampai di belakang panggung untuk menemui teman-temannya, tepat saat itu jugalah terdengar suara deheman Len dari speaker yang ada di dekat Rin.

"Ehm,.." suara deheman itu sukses menarik berpuluh-tidak, maksudku beratus-ratus pasang mata yang ada di aula Vocamusic, culture and art academy ini.

"Nah, Minna-san. Kali ini kami akan menampilkan sebuah lagu berjudul 'Fire Flower'! ini adalah lagu baruku, semoga kalian menyukainya." ucap Len dari atas panggung disertai senyum lebarnya, yahh.. mungkin kalian berpikir Len tersenyum karena ia senang, 'kan?

Sayangnya tidak, Len tersenyum hanya untuk memanasi Rin, dan tentu saja untuk menarik hati para penonton di aula.

Rin yang sadar akan maksud sang saingan atau orang yang disebutnya 'Shota Narsis Jelek nan Menjengkelkan' itu, langsung menekuk wajahnya dan mengeluarkan aura yang membuat orang di sekitarnya menjaga jarak darinya.

Di atas panggung, Len mulai menyanyikan sebait lagunya diikuti dentingan keyboard dari Piko, lalu dilanjutkan dengan berbunyinya alat musik lainnya.


Disisi lain, Luka dan Kiyoteru yang masih tidak bergeming dari tempatnya itu masih saling berpandangan dan menggenggam tangan satu sama lain.

Sampai akhirnya, Kiyoteru mengerjapkan matanya dan cepat-cepat melepaskan tangannya yang menggenggam tangan Luka.

Luka yang juga baru sadar bahwa yang di depannya itu benar-benar adalah cinta pertamanya yang gagal, langsung menunduk.

"Err, sepertinya tidak enak bila reunian disini, bagaimana kalau kita ke kafetaria saja?" ajak Kiyoteru, wajahnya memerah. Karena sajujurnya ia masih sangat mencintai Luka.

"Baiklah..," tanggap Luka.

.

.

.

.

.

(Di kafetaria…)

.

.

Luka dan Kiyoteru telah duduk di salah satu tempat duduk kafetaria, tempat duduk yang berada di barisan kedua dari pintu masuk dan mengarah langsung pada panggung yang ada disana. Tempat kesukaan mereka saat mereka masih berstatus murid di sana dulu.

Luka dan Kiyoteru masih sama-sama membisu, dengan Kiyoteru yang masih berlagak memasukan gula ke dalam kopinya padahal matanya sedang curi-curi pandang ke Luka. Dan dengan Luka tetap anteng menggenggam erat cangkir cappuchino-nya sambil menunduk.

"Jadi…,"

Mereka sama-sama terkejut, ternyata walaupun sudah 10 tahun berlalu. Kebiasaan mereka yang sering berbicara dengan timing yang sama itupun belum kunjung terhapuskan.

"Err, kau duluan saja…," kata Kiyoteru, Luka menggeleng cepat dan berkata,

"Tidak, kau saja..," Kiyoteru menggeleng.

"Tidak, kau lupa prinsipku? Ladiest first," ucap Kiyoteru, Luka menghela napas dan menyerah. Karena ia sudah tau menyangkal Kiyoteru itu sama dengan mengikat air dengan tali, mustahil 100%.

"Errrr, baiklah… umm, bagaimana kau bisa di sini Kiyo?" tanya Luka. Kiyoteru menghela napas sejenak dan mengaduk kopinya.

"Aku ikut berpartisipasi dalam pesta perayaan 100 tahun sekolah." jawab Kiyoteru.

"Ohh,"

Hanya itu yang keluar dari bibir kecil sang koreografer, ia belum menyiapkan bahan pembicaraan selanjutnya.

"Bagaimana kabarmu Luka?" pertanyaan bodoh, ya itu benar.

"Ehh, seperti yang kau lihat kan? Aku baik-baik saja." ungkap Luka.

"Ohh, kupikir kau sedang tertekan atau apa.., habis raut wajahmu kelihatan sedang gelisah." ucap Kiyoteru, ia sedikit salah tingkah dengan pertanyaan bodohnya tadi.

Luka meminum cappuchinonya seteguk dan berkata,

"Tidak apa-apa, aku senang dengan kehidupanku yang sekarang,"

"Lalu bagaimana suamimu?" tanya Kiyoteru ketus, Luka tersenyum pahit.

'Ternyata dia masih mengingatnya.' batin Luka.

"Dia-" "Bruuuush,"

Buru-buru Kiyoteru mengelap mejanya yang tenodai oleh kopi yang baru saja ia semburkan. Kelihatannya ia memasukan terlalu banyak gula dan menjadikan kopinya terlalu manis.

"E-eh, maaf. Kau bilang apa?" tanya Kiyoteru, Luka menggeleng dan tersenyum kecil.

"Tidak bilang apa-apa," ucap Luka. "Baiklah, kurasa aku sudah harus kembali untuk menyiapkan bahan rapat." lanjutnya.

Kemudian Luka mulai berjalan menjauh.

"Kurasa aku juga…," ucap Kiyoteru.


Len menyeringai sambil melirik ke arah dimana Rin berada, seolah-olah ia mengejek Rin. Rin hanya mendengus kesal, ia ingin marah tapi permainan band Len juga telah memukau hatinya.

Rin mulai bingung… apakah ia bisa mengalahkan Len?

Len begitu prima dalam membawakan lagunya, apalagi semua teman Len dalam band terlihat senang. 'Apakah… aku bisa?' itulah hal yang dipikirkan Rin saat ini.

"Hei! Ayo Rin, sampai kapan kau mau terus disana?" desis Meiko, ia juga tak ingin mengganggu penampilan 'Stupid Band' di sana.

"A-ah, iya…," balas Rin pelan.

"Kau kenapa Rin?" tanya Rui. Ia mulai menghampiri Rin, diikuti oleh Meiko dan Miki.

Rin mengeleng, "Tidak apa-apa kok, Rui."

Meiko menyernyit, "Dari pagi kau aneh deh, Rin. Ada apa sebenarnya?"

Rin menunduk, kemudian ia menceritakan apa yang menjadi pikirannya dari kemarin.

"Jadi itu yang membuatmu seperti orang gila dari pagi?" celetuk Miki saat Rin sudah selesai bercerita.

"Miki!" bentak Rui pelan seraya menjitak puncak kepala Miki.

"Kenapa kau gelisah Rin? Kau lupa?" perkataan Meiko itu membuat Rin terheran.

"Kau masih punya kami, ingat? Kami akan selalu ada buatmu! Susah atau senang kita akan hadapi bersama! Kita sudah berjanji bukan?" Meiko tersenyum.

"Mei benar, kami akan selalu ada untukmu Rin," ucap Rui.

"Asal kau tidak curhat di tengah malam seperti Rui, aku siap untukmu!" celetuk Miki lagi, yang sukses membentuk gunung kembar di atas kepalanya.

"Aduh! Rui, sakiit!" rintih Miki sambil memegangi kepalanya.

Rui mendengus, "Itu salahmu!"

Rin dan Meiko tertawa melihat tingkah lucu Rui dan Miki itu.

"Ahem..," suara deheman itu sukses membuyarkan suasana menyenangkan Rin dkk.

"Maaf mengganggu kesenangan kalian nona-nona, tapi sekarang sudah waktunya kalian." lanjut suara itu, yang ternyata adalah suara Rei sang bassist dari 'Stupid Band'.

Rin, Meiko, Miki dan Rui saling berpadangan dan tersenyum lalu mulai naik ke panggung.

"Saa, Minna-san! Kami dari departemen musik tradisional akan mempersembahkan sebuah aransement buatan kami. Mungkin jurusan kami memang tidak telalu diminati, namun aku hanya ingin kalian merasakan betapa indahnya musik tradisional itu. Semoga kalian menyukainya!" ucap Rin, ia tersenyum lebar, senyum tulus yang dari tadi tidak bisa ia pancarkan.

Rin menutup matanya dan memulai permainanya, petikan shamisen itu begitu halus bahkan sampai membuat Len terpana.

Saat ini Rin bagaikan seorang malaikat yang sedang memainkan harpa di mata semua orang. Rin memulai permainan bait keduanya, petikannya mulai lebih cepat dari sebelumnya, lalu diikuti oleh permainan Koto(*) milik Rui dan Shakuhachi(*) Miki.

Pada pertengahan bait ketiga, Meiko mulai bergabung memainkan Taiko(*) miliknya seirama dengan Rin, Miki, dan Rui.

Semua itu berjalan lancar, para penonton tak luput para personil Stupid Band itu dibuat terkagum-kagum dengan permainan mereka.

Tapi sebelum ada keberhasilan, pasti ada yang namanya kegagalan bukan?

Dan itulah yang terjadi, pada pertengahan bait kedelapan, tiba-tiba…

/Ctak/

Dawai shamisen Rin tiba-tiba terputus tanpa sebab, hal ini menyebabkan Wind Flower yang adalah nama band Rin itu tidak bisa melanjutkan permainan mereka dan otomatis kalah.


"Maafkan aku…," ucap Rin saat mereka telah berada di luar aula sekolah.

"Jika saja aku tidak-" "Sudahlah, Rin. Ini semua tidak sepenuhnya kesalahanmu kok," potong Rui.

"Tapi-" "Tidak ada yang perlu disalahkan, itu berarti kita harus lebih berhati-hati lain kali..," kali ini Miki-lah yang memotong ucapan Rin.

"Miki dan Rui benar~~" ucap Meiko dengan riangnya, Rin yang awalnya menunduk langsung mengangkat wajahnya dan memeluk ketiga temannya sekaligus.

"Terima kasih teman-teman!" sahut Rin, ia tidak sadar bahwa ia sudah melakukan pencekikan pada teman-temannya.

"Ehem, " deheman itu langsung membuat Rin berwajah kecut dan melepaskan pelukannya, serta menghasilkan helaan napas lega dari Meiko, Miki dan Rui karena tidak harus bertemu malaikat pencabut nyawa saat itu juga.

Ya, jika kalian tebak, maka tebakan pasti benar.. itu adalah suara dari seorang Kagamine Len.

"Apa?" tanya Rin ketus, Len memutar bola matanya.

"Aku hanya mengingatkanmu," Rin terdiam, ya.. ia ingat dengan jelas apa yang dimaksudkan Len.

"Aku mengerti, tidak perlu mengingatkanku." balas Rin acuh.

"Terserah apa katamulah," ucap Len, ia berjalan ke arah Rin dan berhenti sejenak.

"Permainanmu indah, jika senarmu tak putus mungkin kau bisa mengalahkanku." bisik Len di telinga kanan Rin, Len kemudian berjalan lagi melewati Rin.


"Ah, kau sudah datang? Cepat sekali Kiyo, masih ada 10 menit lagi untuk memulai rapat..," ucap Retsu, sang rektor yang telah duduk manis di ujung meja rapat.

"Yah, sebagai pendatang baru aku harus disiplin, 'kan?" jawab Kiyoteru, Retsu tertawa renyah sambil memuji ketepatan waktu Kiyoteru.

Waktu terus berlalu, para dosen juga sudah mulai berdatangan, kecuali satu orang.

'Tok, tok, tok,'

"Maaf saya terlambat..," ucap seorang wanita berambut merah muda panjang, Megurine Luka.

"Tidak apa-apa, sekarang duduk dan kita akan segera memulai rapat ini." aba-aba Retsu.

Luka mengangguk dan duduk di antara Luna dan Honne Dell, dosen dari departemen musik tradisional.

Kiyoteru yang duduk di hadapan Luka itu pun berusaha mengatur wajahnya agar menjadi sedatar mungkin, agar Luka tidak tau bahwa ia masih mencintainya dan menjaganya untuk tidak salah tingkah.

"Ahem, baiklah.., kita semua disini untuk membahas persiapan Pesta Perayaan 100 Tahun Vocamusic, culture and art academy ini." ucap Retsu yang mengawali rapat ini.

"Nah, seperti yang anda semua tahu. Untuk perayaan kali ini kita mengundang salah satu alumni sekolah ini yang telah berhasil di Hollywood, dia adalah Hiyama Kiyoteru-san. Dia akan menjadi sutradara sekaligus penulis naskah untuk drama musikal yang akan ditampilkan. Kiyoteru-san, silahkan perkenalkan diri anda." jelas Retsu.

Kiyoteru berdiri dan sedikit membungkukkan badannya.

"Salam kenal, saya Hiyama Kiyoteru, mohon bantuannya..," ucap Kiyoteru singkat, ia lalu duduk kembali dan Retsu pun memulai kembali perkataannya.

"Lalu, Kiyoteru-san, ini adalah Suiga Sora. Dia adalah penanggung jawab dari perayaan ini, jadi kau harus mewndapatkan persetujuan darinya dulu sebelum melakukan sesuatu." kata Retsu, Kiyoteru mengangguk.

Lelaki berambut coklat itu berdiri dan memperkenalkan dirinya.

"Suiga Sora, mohon bantuannya." ucap laki-laki itu singkat, ia menatap tajam Kiyoteru tapi diabaikan oleh yang ditatap.


"Bye, Len!" teriak Kaito dari kejauhan sambil melambaikan tangannya.

"Bye, Kai!" balas Len. Len tersenyum tipis, ia baru selesai bekerja di Owner café atau yang sering disebut Chataris oleh para anak muda disana. Sekarang ia ingin melakukan apa yang biasanya ia lakukan tiap malam.

Melihat orang yang disukainya…

"Kau kenapa lagi Rin?" tanya Gakupo, kakeknya.

Rin menggeleng, "Tidak apa-apa, kek. Aku hanya sedikit kecapaian,"

Gakupo menggeleng pasrah, "Terserah kau saja, asal jangan sampai permainan shamisenmu terganggu. Ingat, shamisen itu bergantung pada ketajaman indramu. Kalau kau tidak sering latihan, kau tidak akan bisa bermain dengan baik." jelas Gakupo.

Rin mengangguk mengerti, ia sudah puluan-bahkan ribuan kali diceramahi hal seperti itu oleh Gakupo.

Ia kemudian berjalan menuju kamarnya.

.

.

.

Di kamarnya, tiba-tiba handphone Rin berbunyi.

Rin yang saat itu baru saja selesai mengganti pakaiannya dengan piyama tidurnya itu langsung mengangkat telepon itu.

"Halo?" sapa Rin tanpa melihat siapa yang memanggilnya.

"Hai, Rin. Apa kabar, sayang?" balas seseorang di seberang telepon Rin, Rin terdiam sebentar untuk mengingat-ingat suara siapakah yang ia dengar sekarang.

"Hei, Rin? Kau masih di sana sayang?" kata orang itu, Rin masih terdiam.

"Kejam sekali kau melupakan ayahmu tercinta ini…," keluh orang di seberang telepon Rin, Rin menganga.

"Hah? AYAH!"


'pip,'

"Halo?" Lily mengangkat handphonenya.

"Apa kabar Lily?" tanya orang di sebrang telepon Lily, suara seorang wanita. Wanita yang adalah istri dari orang yang paling dibencinya.

"Ada apa, Miriam?" tanya Lily dingin.

"Tidak.., aku hanya ingin berbicara denganmu," ucap Miriam.

"Tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi," balas Lily.

"Aku mohon, sekali ini saja Lily. Ini terakhir kalinya aku menghubungimu..," jawab Miriam, suaranya terdengar agak parau seperti akan menangis.

Mendengar suara Miriam itu, Lily menjadi sedikit kasihan. Miriam yang semasanya selalu tegar dalam menghadapi apapun itu… menangis?

Setelah lama terdiam akhirnya Lily kembali berbicara, "Baiklah..,"


Sekarang, di sinilah Len. Di sanggar tari sekolahnya, untuk apa ia kemari?

Tentu saja untuk melihat orang yang disukainya.

Di dalam, terlihat sesosok wanita bersurai merah muda yang sedang berusaha menarikan tari ballet. Cahaya sanggar yang remang-remang itupun tak jua menghilangkan pesona yang dipancarkan olehnya.

Tapi sebanyak apapun ia mencoba, tariannya selalu kaku dan tidak indah. Itulah pendapat Megurine Luka, sang penari.

Len tersenyum melihat orang yang disukainya masih ada disana, dia senang ketika melihat Luka menari. Rasanya dadanya menjadi hangat.

Tiba-tiba Luka terjatuh dan kakinya terkilir.

"Aduh..," erangnya.

Len yang kaget bercampur khawatir itupun langsung menghampiri Luka dan melihat kakinya yang terkilir.

"Kau pasti terjatuh karena pencahayaan disini kurang," kata Len kalem, Luka sedikit gusar.

"Kenapa kau disini? Tinggalkan aku sendiri," ujar Luka sedikit kasar, Len tidak mendengarkan Luka dan terus mengobati kakinya. Sebenarnya Luka merasa risih tapi Len sama sekali tidak mau mendengarkan apa yang ia katakan.


GBA:

Okeeeeey, kali ini chap 4 sampe sini saja yaa~~

Kurang panjang kah? Ato kepanjangan? Hweeee, maaap…. T^T

Oh iya lupa! Maaf ya buat Chaos seth-san, balasan reviewmu ngga ada di chap kemarin karena aku juga baru liat reviewmu setelah aku publish chap.. jadi maaf ini balasannya…

Saya? Saya nulis cerita kok, bukan fanfict.. ._.#hah?

Tapi ma,avhii … anda suka kan? ^^"

Kalo anda mau tenar, ngga gini caranya.. ==" bikin fict aja… nanti saya liat, pasti saya puji ko kalo karya anda itu bagus…

Oke kukira itu saja, terima kasih reviewnya. Dan juga lain kali kalo review jangan cuma bilang fict ini sampah doang, ya? Kasih tau saya salah saya di mana, siapa tau saya bisa memperbaikinya, oke? Ini balasan pertama dan terakhir saia, jadi silahkan anda flame lagi juga gpp, percuma juga nge-flame saia.. =_="


Weeh, cepet ya ripiu kali ini… 5 orang dalem semalam… keren… *.*

Kubales~~ yang pertama buat Miki Abaddonia Lucifen-chan lagi~~

Ehh? Penasaran? Hwaaa, kupikir bakal membosankan~~*loncat" girang*

Itu ada di atas~~ hubungan? Apaaaa yaaaa? Sudah dapat hint kah dari chap ini?

Chapter selanjutnya datang~~ itu soalku try out dari sekolah yang diprediksi keluar, karena bingung mo kasi soal apa jadinya kumasukin kesini deh~~*curcol


Lalu ada Yuu-Zai Baka, hai Yuuki-chi~~

Habis Gakupo kan yang paling Japannese banget, jadi ya gitu deh(?)… ( .-.)

Ehh? Iya kah? Aku ngga sadar… lagipula aku nulis sesuai mood.. klo baik pasti baik, klo ngga ya…

Mungkin bener kata guruku b.i.. 'kematangan usia dan pikiran seseorang itu pasti mempengaruhi tulisannya…'

Tapi keliatan'na iru ngga berlaku buat saia.. =3=

Ma'achii uda di fave! *sujud"*


Nah, ada lagi dari Kuro 'Kumi' Mikan nga login.

Ngga papa~ yang penting ini sempet ripiu~~ wlopun cuma ripiu biasa(?)~~

Ehh? Iya kah? Ahh, biarin deh… lagi males cek typo.. =3=

Ma'achii~~ met jadi feminine(?)~~


Ah! Ada Rani Konako-chan~~

Ma'achii~ ini uda lanjut~~

Ahh, uda kubaca.. *innocent face*

Udahlah biarin aja Rani-chan… ngga penting juga dibahas.. ^^"


Nah, untuk Ordinary reader~~~

Iya, punya akun ato ngga, ngga masalah kok, ^^

Tenang, cerita ini akan terus berlanjuuut~~

Udahlah ngga usah dipikirin.. capek" sndri nanti klo dipikirin.. ^^


Ehhh? Ada Shiney Moon-chan lagi~~

Kali ini ngga login yah? .-.

Et dah, tak masalah~

Mereka memang mantan~~

Wkwkwkwk, aku mala seneng Shiney-chan $l4y~#apaan-she?

Ini apdet~ jadi tetep alay yach~~ XP*dough*

Hmm, ku kira itu saja..


Ah iya! Ini penjelasan untuk chapter ini~~

NOTE:

(*) Koto: Koto adalah alat musik mirip kecapi, biasanya dimainkan pada peranyaan musik istana. Badan koto terbuat dari kayu paulownia yang dilubangi bagian dalamnya dan memiliki 13 dawai. Antara bagian badan dan dawai ada 'JI' sebagai penyangga dawai, jika 'JI' ini digeser maka hasil suaranya pun akan ikut berubah.

(*) Sakuhachi: Sakuhachi adalah alat musik tiup tradisional Jepang yang terbuat dari bambu, bentuk sakuhachi ini hampir sama seperti seruling hanya saja sakuhachi cuma punya empat lubang dan satu lubang dibagian belakangnya. Cara mainnya mirip seruling kok, cuma kalo seruling biasanya menyamping kalau sakuhachi ini kedepan.

(*) Taiko: Taiko adalah sebutan untuk drum Jepang, dahulu taiko ini digunakan dalam perang untuk menjaga daerah kekuasaan dari musuh dan menyampaikan perintah pada pejuang. Taiko memiliki banyak jenis, contohnya: Nagado-daiko(taiko yang badannya panjang), Tsukeshime-daiko(taiko yang terbuat dari kulit sapi yang dibentangkan diatas cincin" besi dan dijepit disekitar badan yang lebih kecil) selain itu juga ada Okedo-daiko, Uchiwa-daiko, Hira-daiko dan juga O-daiko. Biasanya alat musik ini dimainkan dalam ansambel tradisional Jepang Noh, Gagaku, dan Kabuki.

(*) Bachi(sebenarnya ada di chap kemarin, tapi lupa*nyengir*): Bachi adalah alat petik yang digunakan untuk memetik shamisen(seperti fungsi pick pada gitar). Biasa'na terbuat dari gading gajah atau tanduk hewan.(Cuma untuk Rin, dia pakai Shinnai Shamisen jadi metiknya pake kuku jari)


Hmmm, kurasa itu aja..

Tata minna~~ sampe jumpa chap depan~~