Preview Chapter:

.

"Permainanmu indah, jika senarmu tak putus mungkin kau bisa mengalahkanku."

.

"Hah? AYAH!"

.


.

"Heart Melody"

.

Pair: LenRin (Pastinya, yang lainnya tebak sendiri yah~)#hajared

.

Disclaimer: Sampai dunia kiamat pun Utauloid, Vocaloid 1, 2, 3, ampe seratus pun nggak akan pernah jadi milik saia. TAT#pundung

.

Warning(s): Music life, rada ngga nyambung, typo(s), OOC(?), banyak Crack pair?, minim pendiskripsian, Lennya jadi agak gimana gitu.. =w="#ditampol dwwl!

Don't Like? Saya sarankan untuk MENEKAN TOMBOL 'BACK' SEGERA. Oke?~~ ^w^

.


.

.

Pagi yang cerah.. burung-burung berkicau dengan riangnya memanggil sang matahari…

Ahh, damainya~~ sayang keadaan ini tidak berlaku untuk salah satu teman kita..

.

Ya, entah kenapa hari ini Rin terlihat suram sekali padahal cuaca di luar sangat cerah?

.

.

Oh, yah… aku lupa bahkan kalau mulai hari ini Rin akan menjalani hari-hari bak di nerakanya.

"Hei, Rin… kau kenapa lagi sih?" tanya Meiko yang bergidik ngeri saat merasakan aura Rin.

Rin menoleh ke arah Meiko dengan tatapan yang… yahh… seperti campuran antara ngantuk, kesal, sedih, atau apalah itu yang sedang dirasakannya sekarang..

Dan dengan suara lemas(yang lebih dianggap horror oleh Meiko) Rin berkata, "Tidak ada apa-apa,"

Meiko menghela napas pelan dan lebih memilih untuk menyiapkan secangkir teh untuk mereka berdua.

.

Ah, aku lupa bilang.. saat ini Rin sedang ada di rumah Meiko untuk mengerjakan tugas presentasi mereka.

.

Rin duduk di kursi meja belajar Meiko dengan menopang dagu, ia merasa bosan untuk ke kampus. Bukan…, bukan karena jadwalnya atau teman-temannya, tapi karena mulai hari ini ia akan menjadi pesuruh orang yang paling menjengkelkan untuknya.

.

Tak lama kemudian, Meiko masuk dan memberikan secangkir teh lemon pada Rin, setidaknya untuk membuat sahabatnya itu lebih tenang. Kemudian ia sendiri duduk di atas kasur dan meminum tehnya.

"Hei, Mei.., apa menurutmu permainanku kemarin terlalu kasar?" tanya Rin tiba-tiba.

Meiko meletakkan cangkirnya di meja kecil samping tempat tidurnya dan menolehkan kepalanya ke arah gadis berpita putih itu.

"Kenapa kau tiba-tiba bertanya begitu?" tanya Meiko, Rin menghela napas.

"Hanya bertanya saja," suara Rin terdengar seperti orang yang putus asa bagi Meiko.

"Tidak juga, gimana yah? Kau hanya terlalu terburu-buru kemarin," ucap Meiko.

"Begitu…, ya?" Rin kembali menopang dagunya.

Meiko menautkan alisnya, geregetan melihat sikap Rin ini.

"Hauff, daripada kau lemes-lemesan, renung-renungan, galau-galauan di sini, lebih baik kau berangkat sekarang." Ucap Meiko.

"Malas," tanggap Rin cepat.

"Uwooo, tumben Miss tepat waktu kita malas untuk berangkat~~" goda Meiko, sedangkan Rin mengirimkan deathglare terbaiknya pada Meiko.

"Sudahlah, lebih baik sekarang kau berangkat ke kampus karena mata kuliahmu akan dimulai dua jam lagi. Lebih baik curhat pada Miki atau Rui saja, mereka pasti bisa membantumu!" ucap Meiko saat ia telah mendorong Rin keluar dari rumahnya, sedangkan yang didorong hanya mengumpat dalam hati.

~xxx~

"Hei, Len." panggil Rei saat pemuda honey blonde yang dipanggilnya itu telah selesai menyetel gitarnya.

"Apa?" jawab Len asal, ia terus memetik gitarnya, mencoba menemukan nada yang pas.

"Swebenearnywa, kwau adha ahpha dengahn Kaghanehmwi-san?" (Baca: Sebenarnya kau ada masalah apa dengan Kaganemi-san?) ucap Kaito dengan mulut penuh es krim.

Len mendongak menatap teman-temannya dengan tatapan bingung.

"Hah? Apa maksud kalian?" tanya Len, teman-temannya saling berpandangan satu sama lain sampai Piko membuka suaranya.

"Karena sepertinya Kaganemi-san kesal sekali padamu, kali aja kau ada masalah dengannya?" ucap Piko.

"Ohh, tidak, aku tidak ada masalah apa-apa dengannya. Aku dan dia hanya punya suatu taruhan dan dia kalah, itu saja." tanggap Len.

"Apa soal pertandingan kemarin?" tanya Rei.

Len mengangkat bahunya seraya berkata, "Kalian tebak saja sendiri,"

Setelah itu Len membuka pintu dan pergi meninggalkan ruang musik modern.

~xxx~

"Apa maksudmu menolak semua rencana yang kususun, hah?" sambar seseorang lelaki berambut coklat pada lelaki berambut hitam berkaca mata di depannya.

Lelaki berambut coklat itu membanting kertas-kertas yang dibawanya ke meja pria hitam itu dengan keras, namun reaksi pria berambut hitam itu hanya memandang sang pria coklat dengan pandangan datar.

"Rencana yang kau susun itu pasaran, aku akan merombaknya lagi." ucap pria hitam alias Kiyoteru.

Sang pria coklat alias Suiga Sora, atau Sora lebih singkatnya, menggeram kesal. Ia menatap Kiyoteru tajam.

"Setidaknya kau harus meminta pendapatku dulu sebelum melakukan ini, kau lupa aku itu penanggung jawab acara ini. Kau harus meminta persetujuanku dulu," kata Sora.

Kiyoteru mengangkat sebelah alisnya berlagak seperti anak kecil yang polos, tapi tatapan itu justru membuat Sora naik darah karena Kiyoteru seperti mengejeknya.

"Aku sudah meminta ijin pada Retsu-san kok, dia bilang aku boleh melakukan apapun yang kumau. Kalau kau ragu, tanyakan saja padanya." ucap Kiyoteru.

Sora menghela napas kasar, ia terlihat sangat kesal kepada Kiyoteru.

"Baiklah, sudah tidak ada lagi yang ingin kau bicarakan, bukan? Kalau begitu aku akan keluar sebentar," ucap Kiyoteru, setelah itu terdengar suara pintu yang tertutup.

"Sigh, dia benar-benar merepotkan… Lihat saja kau nanti, akan kubalas." kata Sora pelan.

~xxx~

"Huwaaaaaaa! Meiko gila ah! Aku kan malas…." keluh Rin saat ia telah sampai di kampusnya.

"Sekarang mencari Rui ataupun Miki pun percuma, mereka pasti ada kelas sekarang..," karena bingung mau ngapain, Rin akhirnya memilih untuk singgah di kafetaria sebentar.

Ia membeli satu gelas orange jus dan satu toples kecil kue kering, karena ia tahu bahwa hari ini akan jadi hari paling lama untuknya.

"Lebih baik aku ke ruang musik saja, daripada harus berputar-putar sekolah layaknya anak terlantar," ucap Rin pada dirinya sendiri, Ia pun segera bergegas menuju ruang musik umum.

Ya, kampus Rin memiliki tiga buah ruang musik. Ruang musik untuk departemen tradisional, modern, dan umum.

Ruang musik umum ini merupakan salah satu dari sekian banyak ruangan yang tidak terpakai di akademi ini, karena kita semua juga tahu bahwa setiap departemen sudah mempunyai ruangan sendiri-sendiri.

Tak lama, Rin telah sampai di ruang musik, ia berjalan mendekat ke arah Grand Piano yang ada di tengah ruangan tersebut dan duduk di kursi yang sepasang dengan Grand Piano tersebut.

"Piano ini masih sama seperti yang dulu," ucap Rin seraya mengelus tuts demi tuts Grand Piano itu.

"Padahal aku sudah dua semester tidak menyentuh piano ini lagi," lanjutnya.

Rin mulai menekan-nekan tuts piano tersebut dengan lembut, ia memainkan sebuah lagu. Lagu yang diciptakan ibunya dan dimainkan ibunya, hanya untuknya, Lycieratia.

Lagu itu mengalun lembut, Rin memainkan lagu itu dengan penuh perasaan. Ia menutup matanya dan mencoba mengingat kenangan-kenangannya.

~x~x~x~

"Rin mau tidak Mama memainkan piano ini?"

"Mau~ Rin mau sekali, Ma!"

"Kalau begitu, sini duduk di pangkuan Mama, Mama akan memainkan lagu ini untuk Rin,"

"Lagunya indah sekali, Ma!"

"Hei, lagu ini belum selesai,"

"Tapi ini memang indah sekali,"

~x~X~x~

"Mama…," gumam Rin, air matanya mulai mengintip lagi di sudut matanya, bersiap kapan saja untuk meluncurkan diri.

~x~X~x~

"Rin mau Mama ajarkan lagu ini?"

"Mau! Mau sekali! Apa boleh?"

"Tentu saja, sayang."

~x~x~x~

"Mama…," Rin mulai menitikan air matanya, mengingat Mamanya benar-benar membuat Rin selalu menangis.

Ia begitu menyayangi Mamanya hingga ia dulu bahkan hampir berkeinginan untuk menyusul Mamanya.

Tapi tentu saja ia tak sebodoh itu, bukan?

Jika ia menyusul Mamanya, pasti Mamanya akan sedih. Dan Rin tidak mau melihat Mamanya sedih.

"Mama… Aku rindu Mama…," gumam Rin lagi.

~xxx~

Len POV

Sigh, mereka semua kenapa sih?

Menatapku seakan aku penjahat kelas dunia saja..

Aku berjalan keluar ruang musik modern, aku ingin menyegarkan pikiran sejenak.

Aku pergi ke kafetaria sebentar, membeli segelas Banana split ukuran jumbo dan setoples kecil cookies. Aku membelinya untuk cemilan nanti, karena aku malas untuk ikut kelas selanjutnya.

Aku berjalan menuju atap, tempat favoritku selain di bukit belakang sekolah. Hari ini aku memilih atap untuk tempat kabur, karena jika aku pergi ke bukit aku pasti akan ditemukan oleh para fansku yang berisik itu.

Aku berjalan menyusuri lorong menuju tangga yang mengarah ke atap, untuk sampai di tangga itu aku harus melewati beberapa ruangan yang tak terpakai namun sangat luas itu. Contoh saja ruang musik umum, klub catur, dan ruang teater Paradise.

Aku bahkan tidak mengerti kenapa ruangan itu disebut teater surga padahal ruangan itu tidak pernah terpakai. Untuk ruangan musik umum sih, kalian tau sendiri bukan kalau setiap jurusan di akademi ini memiliki ruangan masing-masing? Jadi deh ruangan itu termasuk dalam kategori jarang terpakai, tapi aku kagum, setiap aku lewat di sana alat musik di sana sangatlah lengkap dan bersih.

Eh? Kenapa jadi ngomongin ruang musik umum? Tapi ngomong-ngomong soal ruang musik umum… kenapa aku mendengar sebuah melodi dari sana ya?

Karena penasaran, aku mencoba mengintip ke dalam ruang musik umum itu…

Eh? Bukannya itu si Kaganemi?

Aku mencoba membuka pintu ruang ini dengan pelan, tentu saja agar Kaganemi itu tidak menyadari kehadiranku.

Melodi ini indah sekali… aku tidak percaya ia bisa memainkan piano dengan seindah ini.

"Mama…," Eh? Dia menggumamkan sesuatu?

"Mama… Aku rindu Mama…," ia bergumam lagi…, memangnya ada apa dengan Mamanya?

Setelah gumaman itu, Kaganemi berhenti memainkan pianonya dan mengelap apapun itu yang ada di matanya.

Eh? Selesaikah?

Setelah itu ia berbalik dan menatapku dengan tatapan terkejut.

"Ka-Kagamine… kenapa kau ada di sini?"

Mati aku!


GBA~~:

HOREEEEE~~

Akhir'na chap 5 ini selese juga~~

Maap lama Minna-san… m(_ _)m

Yahh, karena sepertinya di chap ini tidak ada yang perlu di jelaskan…

Langsung balas ripiu aja yah~ saia lagi malas nulis nama lengkapnya jadi panggilan aja ya~ *nyengir*#dilempar


Pertama buat… Toki-chan~~

Emang kudu gitu biar alurnya bisa jalan… ^^"

LenxLuka…? Ada ya? *muka-bloon*#dilemparin sandal

Tunggu aja chap selanjut'na biar lebih jelas! Oke~

Ini dah APDET~~


Kedua buat Kuro-pyon~~ Mikan-chi'na ilang mulu sii.. =="

EAAAAAAA! NGAKU DONG KALO BERJIWA COWO!#dihajar ampe sekarat

Oke abaikan, ah, iya nanti di chap depan kalo ada lagi bakal kuperbaikin. ._.

Tunggu tanggal maen'na entar juga tau sendiri~~

Oiko'na bentaran yak? Masi In-progress~~

INI DAH APDETT~~


Hmm, ini buat anon-san… ._.

Anda liat GBA chap satu ngga? Kalo ngga saia sarankan buat liat dulu…

Di sana saia uda bilang kan kalo "fict ini didasarkan pada salah satu drama korea yang…"

Syukurlah kalo anon-san tau, di sana juga uda saya bilang "Dan pastinya drama itu juga bukan milikku,"

Itu juga sebagai pengganti Disclaimer, maaf kalo anon-san tersinggung ato apa..

Kalo anda ngga mau baca juga ngga papa kok, saia kan ngga maksa anda oke? =w=

Kalo anda menganggap saia plagiat juga apa boleh buat, itu terserah anda…

Karena ini baru AWAL, belum chap terakhir…


Ah, ini buat Miki-chan~~

Belom tentu loch~~

Liat aja chap selanjutnya oke?

Ini dah APDET~


Ehh? Ada Rani-chan~

Telat juga ngga papa, cerita'na kan ngga minggat kemana-mana~~ ^^

Ini dah lanjut~~

Oke, Makasii ripiu'na~~


Ah, ada reviewers baru ya? Kupanggil Aika-chan aja ya?

Ini uda lanjut kok, ^^

Makasii review'na~~


Ahh? Ini buat Kyon Kuroblack, kupanggil Kyon-san aja ya?

Makasii ini dah apdet kok ^^


Mm, ada lagi? buat Vines-san...

iyaa, ini emang berdasarkan drama korea itu... ^^

tapi jalan cerita'na akan kubuat 'agak' berbeda kok, ^^"


yang terakhir buat anon-san lagi...

anono-san kedua ya? ini dah lanjut kok, ^^


Oke, kurasa ngga ada yang perlu kusampaikan lagi, arigachuu Minna~~ bole minta ripiu lagi?