Preview Chapter:

.

"Lihat saja kau nanti, akan kubalas."

.

"Mama… Aku rindu Mama…,"

.

"Ka-Kagamine… kenapa kau ada di sini?"

.

Mati aku!

.


.

"Heart Melody"

.

Pair: LenRin (Pastinya, yang lainnya tebak sendiri yah~)#hajared

.

Disclaimer: Sampai dunia kiamat pun Utauloid, Vocaloid 1, 2, 3, ampe seratus pun nggak akan pernah jadi milik saia. TAT#pundung

.

Warning(s): Music life, rada ngga nyambung, typo(s), OOC(?), banyak Crack pair?, minim pendiskripsian, Lennya jadi agak gimana gitu.. =w="#ditampol dwwl!

Don't Like? Saya sarankan untuk MENEKAN TOMBOL 'BACK' SEGERA. Oke?~~ ^w^

.


.

"Akhirnya kau datang, Lily…," ucap seorang wanita setengah baya kepada Lily.

"Sudahlah, Miriam. Cepat katakan apa yang membuatmu begitu ingin memintaku kemari?" ucap Lily dingin.

"Kau jahat sekali, begini-begini aku masih sahabatmu loh…," ucap Miriam sambil mengerucutkan bibirnya.

Lily tersenyum tipis, "Yah, ingat umur juga kali Miriam. Udah nggak cocok tuh," sindir Lily.

Miriam tertawa kecil, "Iya, iya,"

Lily tersenyum, ini seperti kembali ke masa kuliahnya. Dimana ia, Leon, Miriam, Ann, dan 'orang itu' menjadi sahabat dan bercanda bersama.

"Sudahlah, bercandanya nanti saja, sekarang apa yang membuatmu memanggilku kemari," ucap Lily, wajah Miriam berubah sendu.

"Sekarang, Al sedang berada di rumah sakit… ia sudah ada di penghujung hidupnya, Lily," jelas Miriam, wajah Lily berubah masam.

"Kenapa kau sebut-sebut pria kurang ajar itu di hadapanku lagi, Miriam?" ucap Lily sarkastis.

Ya, Lily memang paling tidak senang mengingat 'orang itu'. Orang yang telah merebut apa yang paling berharga untuknya.

"Dia hanya punya satu permintaan, Lily." ucap Miriam, Lily mendengus.

"Apa yang berhubungan dengannya sudah tidak ada urusannya lagi denganku." Mata Miriam tiba-tiba mulai berkaca-kaca.

"Ini permintaan terakhirnya Lily… Aku mohon…," pinta Miriam, Lily terdiam.

Lily sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak menyangkut pautkan diri sendiri dengan masalah Al, tapi jika sahabatnya meminta dengan sangat begini? Apakah ia tega?

"Apa permintaan terakhirnya?" tanya Lily setelah ia lama terdiam.

Miriam tersenyum, "Permintaannya adalah…,"

.

.

.


.

.

.

"Hai, Luka… Sendirian saja?" sapa Luna, Luka yang sedari tadi tengah santai-santai meminum coklat panasnya itupun tersentak kaget.

"Luna! Jangan mengagetkanku!" sentak Luka.

Luna nyengir, "Maaf, maaf… Habis tumben kau jam segini disini? Sendirian lagi, ada apa memangnya?"

"Tidak apa-apa, hanya ingin saja..," ucap Luka sambil melihat sekeliling kafetaria kampus.

"Kau masih mengingat kenangan kita semua ya?" tanya Luna, Luka tersenyum kecil.

"Aku masih ingat, di sini… aku pertama kali bertemu denganmu, bukan? Tempat yang paling utama untuk kita kunjungi, dan juga tempat di mana kau menyatakan perasaanmu pada Ritsu. Benarkan?" kenang Luka, wajah Luna memerah.

"K-kau masih mengingat hal memalukan itu?" ucap Luna, ia melihat ke samping agar Luka tidak menyadari ronaan di pipinya.

Tapi sia-sia saja, Luka sudah tahu bahwa Luna blushing. Ah, dia jadi ingin menggoda sahabatnya itu…

"Tapi sayang, Ritsu melamarmu bukan di tempat ini ya?" goda Luka, ia mengedipkan matanya jahil ke arah Luna.

Luna yang kesalpun mengambil sekotak tisu yang berada di dekatnya dan melemparkannya ke arah Luka.

"Aduh..," rintih Luka saat kotak tisu itu tepat mengenai kepalanya.

"Itu salahmu," kesal Luna, ia melipat kedua tangannya di depan dada.

"Tapi tempat ini 'kan, tempat di mana Kiyo menyatakan perasaannya padamu. Juga… tempat ia mengambil ciuman pertamamu 'kan?" ucap Luna kesal, Luka menundukkan kepalanya.

Oh, Luna…. Kelihatannya kau mengulangi kesalahanmu lagi…

"Ya…, Dan tempat pertama kali dia bertemu denganku… Menyapaku… Ah, masa lalu…," ucap Luka seraya tersenyum miris.

.

.

.


.

.

Len POV

.

Mati akuuuuuuuu! Len. Kau. Bodoh. Sekaliiiiiiiiiiiiiiiiii!

Sekarang Kaganemi itu memandangku seakan aku menguntitnya… Huwaaaaaaaa!

"Kenapa kau di sini, Kagamine?" tanya Kaganei lagi, kini wajah kagetnya sudah kembali kesemula.

Aku terdiam, entah sekarang sudah sepucat apa wajahku…

"A-aku..,"

Tunggu, kenapa aku jadi gugup begini? Oh ayooolahh Leeen? Kau bukan penakut…

"A-aku hanya…," Kaganemi memiringkan kepalanya, kelihatannya dia heran.

"Hanya apa?"

Aku kemudian berdehem, mencoba menormalkan keadaan batinku sekarang.

"Aku hanya sedang berjalan menuju ke atap tadi," ucapku, Kaganemi memandangku curiga.

Aduh…, jangan bilang dia mau menuduhku aneh-aneh…

"Kau tidak menguntitku 'kan?" tanyanya curiga.

JLEDEEER

"A-apa maksudmu! Tentu saja tidak!" bantahku.

Kaganemi masih saja menatapku curiga.

Oh, Tuhan..

"Aku ingin ke atap tadi, tapi saat aku menyusuri lorong ini menuju tangga, aku mendengar sebuah melodi. Jadi kuputuskan untuk melihat siapa yang menggunakan ruangan tidak terpakai ini, ternyata kau." sanggahku, tapi itukan kenyataan!

Kaganemi menghela napas, "Baiklah, tapi di sini cuma kau 'kan yang ada?"

Aku mengangguk, ia menghela napas lega.

"Memangnya kenapa?" tanyaku, jujur aku heran dengan sikap anak ini.

"Tidak ada apa-apa," ucapnya dingin.

Lah? Ini anak kenapa lagi?

"Katakan padaku, ada apa?" desakku.

"Sudah kubilang tidak ada apa-apa ya tidak ada apa-apa," bantahnya.

Bisa kurasakan sepertinya sudah ada perempatan yang terbentuk di kepalaku.

Bagaimana cara membuat anak ini bicara ya? Hmmm…

Oh! Aku ingat.

"Katakan padaku ada apa. Ini perintah." aku menekan setiap kata dalam ucapanku ini, dia mengerutkan keningnya.

Tapi sebelum dia sempat membuka mulutnya, aku buru-buru menyanggahnya,

"Taruhan kemarin, ingat? Aku ini Tuanmu~"

Dia menepuk dahinya keras, seperti frustasi mengingat taruhannya ini.

Hahahaha, dia harus terima resikonya, dia duluan yang menantangku bukan?

Oke, karena aku sudah ingat, aku akan membuatmu 'cukup' menderita hari ini Kaganemi… Khekhekhe

.

.

.


.

.

Rin POV

.

Ya Kami-samaaaaaaa, belum cukup kah Engkau membuatku menderita kemarin?

Apakah sekarang kau akan membuatku lebih menderita lagi? Huwaaaaaaa, Rui, Miki…

DI MANA KALIAN SAAT SAHABAT KALIAN INI BERTEMU DENGAN IBLIS SEPERTI INI!

Oke, sepertinya meraung-raung seperti ini juga tidak penting sekarang.

Aku memandang Kagamine yang sedang tersenyum licik ke arahku.

Ahh, dia pasti sedang merencanakan sesuatu untuk membuatku menderita.

Hiks, hiks, seseorang… tolong aku dari iblis neraka satu ini… hiks, hiks…

"A-apa?" ucapku, aku melangkah mundur ke belakang.

Kagamine yang masih tersenyum seram itu pun juga ikut berjalan maju ke arahku.

Kami-sama… DIA mau apa lagi dariku!

"Aku ingin…," ucap Kagamine dengan nada yang terdengar… errr… seductive?

Di-dia mau ngapain sih? Dapat kurasakan wajahku terasa sangat panas mendengar nada Kagamine itu.

Aku terus berjalan ke belakang, selangkah demi selangkah… Tapi Kagamine juga sama, ia berjalan maju selangkah demi selangkah, memojokkanku.

Tapi… kenapa punggungku dingin ya? Seperti… menabrak sesuatu?

Aku melirik ke belakang…

SIIIIIIALAAAAAAAAAAAAANNNNNN!

Kenapa disini ada tembok segala sih?

"Kenapa Rinny?" tanya Kagamine, masih dengan nada yang sama dan smirk yang sama.

Wajahku terasa sangat panas, Kagamine menaruh kedua tangannya di samping kiri dan kananku dan mendekatkan wajahnya padaku.

Oh, dan tak lupa juga ia menaruh salah satu lututnya diantara kedua kakiku.

Kami-sama… DIA mau apa dengankuuuuuu?

"M-mau apa kau?" sentakku, ia mengunci semua ruang gerakku, jadi bagaimana aku bisa kabur?

Aku mengarahkan kepalaku kesamping, aku tidak mau wajahku kebakaran hanya karena iblis ini… Eh, tapi? Kenapa wajahku panas saat aku bersama Kagamine ya?

AKU. TIDAK. MUNGKIN. MENYUKAI. SHOTA. IBLIS. INI. KAN?

Kagamine makin mendekatkan wajahnya padaku, kini napasnya sudah sangat terasa di pipiku. Aku kemudian menutup mataku erat-erat, Kagamine menggunakan satu tangannya untuk meraih daguku dan membuatku mengarah pada wajahnya yang sudah-sangat-amat dekat dengan wajahku.

"Aku mau kau…,"

.

.

.


.

.

Normal POV

.

.

"Wow, sebenarnya sudah berapa lama aku tidak kesini? Banyak sekali yang berubah," ucap seorang pria paruh baya berambut pirang pucat setibanya ia di lobby bandara.

Tiba-tiba, seorang pria berambut biru agak panjang berpakaian buttler berwarna hitam dengan dasi hitam itu menyapa sang pria.

"Selamat siang, saya sudah menantikan anda, Tuan." ucap pelayan itu.

"Terima kasih, Taya. Sudah lama ya?" ucap sang pria seraya berjalan mendekati sang pelayan.

"Saya baru saja datang Tuan, apakah tuan ingin pulang sekarang?" tanya Taya, sang pelayan.

"Aku ingin mengunjungi putriku dulu," ucap sang pria, Taya mengangguk dan menuntun sang Tuan ke mobil yang sudah dipersiapkan.

Setelah sampai, Taya membukakan pintu mobil dan mempersilahkan Tuannya masuk. Sang pria tersenyum.

"Terima kasih," ucapnya.

Taya membungkuk sopan, "Itu sudah kewajiban saya, Tuan."

Sang pria memutar kepalanya, "Setidaknya panggil saja namaku, kenapa tuan-tuan terus dari tadi?"

"Maafkan saya," ungkap Taya, pria itu mengangguk dan Taya mulai memasuki mobil.

"Kemana, Tuan?" tanya Taya, pria itu mendengus.

"Vocamusic, culture, and art academy," ucap pria itu kesal, sang pelayan tertawa kecil.

"Baik, Kaganemi Leon-sama." ucapnya, sebelum mengendarai mobil itu keluar area bandara.

.

.

.


.

.

"Ahh, Kiyoteru. Lama tak berjumpa?" sapa Rion, Tone Rion sang pemilik 'Owner Café'.

Kiyoteru tertawa, "Rion, aku kan kemarin sudah kemari."

Rion tertawa kecil, "Ah iya, aku memang sudah agak pikun."

Kiyoteru duduk di hadapan Rion dan memesan sebuah sherry, setidaknya sedikit sherry bisa menenangkan pikirannya.

Rion mengangguk dan tak lama kemudian ia memberikan pesanan Kiyoteru.

"Pesananmu," ucap Rion.

Kiyoteru menerima pesanannya dan meminumnya seteguk.

"Apa kau sedang ada masalah? Tidak biasanya kau meminum minuman berkadar alkohol tinggi seperti sherry?" tanya Rion khawatir.

Yah, bagi Rion, Kiyoteru sudah seperti adiknya sendiri.

"Tidak ada apa-apa, Rion. Hanya teringat masa lalu," ucap Kiyoteru pelan.

Rion tersenyum miris.

Ya, dia tahu… Sangat tahu penderitaan yang dialami adiknya itu.

Sebuah masa lalu indah yang disusun adiknya bersama pujaan hatinya, tetapi tiba-tiba harus hancur berkeping-keping karena sang pujaan hati.

Itu pasti sangat menyakitkan…

"Kenapa kau harus mengingat masa lalumu itu lagi, Kiyo?" tanya Rion pelan, ia sedih jika melihat adiknya itu kehilangan semangat seperti ini.

"Karena… Aku bertemu dengannya lagi,"


.

.

GBA~~

Eap, segini aja dulu untuk chapter ini~

Pendek yah? Saia emang ngga pandai bikin chapter panjang", pasti nanti di tengah" keputus… =3=

Jadi saia lebih milih pendek" tapi cepet…

Saia pingin cepet" nyelesein fic ini , biar cepet apdet multichap baru~~

Oke, bales ripiu yea?~~


Pertama buat Kuro-pyon~

Jangan santet saia dong! Saia pan cuma candaaaaa…*ngumpet*

Ahh, iya.. biar deh, saia pan paling males replace chapter~~

Kasian klo dibuang, mubazir loh…*plak

*cengar-cengir*

INI DAH APDEEEEEEET~~


Ah. Ada Miki-chan lagi~

Ini sambungannya udah ada kok~~

Udah apdet~ udah apdet~~ *tebar-tebar bunga*

Panggil aja aku Chiao-chan, ngga usah pakai senpai… =3=


Shiney-chaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaan!

Okaeri~~~

Iya, ibunya Rin udah meninggal… kasian ya? *ngelap pake sapu(?)*

Iya, saia ngga bisa bikin chapter panjang" … ToT

Yeay, 4l4y lagi~~ *nari hula-hula*

Karena udah 4l4y bisa apdet fict juga dong~? *nagih*#digoreng

INI UDA APDEEEEEEET~~


Buat Ichi-chaaaan~~ *digaplok kerana ganti" nama orang sembarangan*

Welcome to My Gajeness and Abalness Fict~~ *dihajar*

Ini uda disambung lagi kok~ *nyengir*


Selanjutnya Kyon-chan~

Sa-saia jahat… *beku*

I-itu biar ceritanya bisa tetep lanjut… T.T

Ma'achiii~ ini dah lanjut~~


Terakhir buat Rani-chan~

Hayooo, Rani-chan lagi males ya~ *dibakar*

Just kidding~

Iya, Rani-chan masi suka nonoton hachi? (._. ?)

Apa yang dilakukan Sora? belum ada deh, tunggu aja~

Ini dah lanjut~~


Nah minna, uda ngga perlu banyak bacot lagi?

Maap nee, ngga bisa bales ngeripiu cerita kalian atu-atu... T.T

Juga! Ganbatte ya! buat yang uda mau UKK~ eh? ato mala uda selese?

oke, Saia tutup dulu GBA kali ini, dan…

Mind to ripiu?