Preview Chapter:
.
"Permintaannya adalah…,"
.
"Ah, masa lalu…,"
.
"Aku mau kau…,"
..
"Karena… Aku bertemu dengannya lagi,"
.
.
"Heart Melody"
.
Pair: LenRin (Pastinya, yang lainnya tebak sendiri yah~)#hajared
.
Disclaimer: Sampai dunia kiamat pun Utauloid, Vocaloid 1, 2, 3, ampe seratus pun nggak akan pernah jadi milik saia. TAT#pundung
.
Warning(s): Music life, rada ngga nyambung, typo(s), OOC(?), banyak Crack pair?, minim pendiskripsian, Lennya jadi agak gimana gitu.. =w="#ditampol dwwl!
Don't Like? Saya sarankan untuk MENEKAN TOMBOL 'BACK' SEGERA. Oke?~~ ^w^
.
Ngga bermaksud ngusir~ hanya warning saja kok~~
.
.
"blablablabla," = Percakapan di telepon, suara-suara.
.
.
"A-apa maksudmu, Ka-kagamine?" tanya Rin, napasnya terasa makin berat karena dadanya seperti meluap-luap entah kenapa, membuat dadanya sesak namun nyaman disaat bersamaan.
Len menyeringai, "Sudah kubilang bukan?"
Len mendekatkan wajahnya dan menghembuskan napasnya pelan pada wajah Rin.
"Aku mau kau," ucap Len, ia mendekatkan bibirnya pada bibir Rin.
Rin menutup matanya erat-erat, ia tidak tau harus berbuat apa sekarang. Ia benar-benar ingin menghajar Len sekarang juga, tapi disisi lain ia juga senang merasakan perasaan ini, yang entah kenapa membuat dadanya berdegup kencang tapi menyenangkan.
Len terus bergerak mendekatkan bibirnya pada Rin…
.
.
5 senti…
.
.
3 senti…
.
.
.
1 senti dan…
.
.
.
.
.
Len tertawa… Loh?
Eh? Kenapa dia tertawa? Itulah yang dipikirkan Rin sekarang, ia memasang raut muka yang sungguh bingung dengan keadaan saat ini.
Len menjauhkan dirinya dari Rin sedikit dan menyeringai, "Pikiranmu harus dibersihkan~"
"Apa?" ucap Rin dengan lolanya.
"Kau pikir aku mau ngapain, hah?" tanya Len pada Rin, muka Rin memerah.
"A-aku tidak-"
"Ya, kau memikirkannya," potong Len sambil tersenyum jahil.
"Sudahlah! Aku capek berurusan denganmu," ucap Rin sambil mendorong dada Len untuk menjauh darinya.
Len kembali tersenyum licik, "Tidak semudah itu,"
Dan yah, akhirnya first kiss Rin sudah melayang ke surga sana…
~xXx~
"Hmph," Rin mendengus, ia membanting dirinya ke kursi Grand piano yang tadi dimainkannya.
Ia mendelik pada sesosok pirang yang sedang ada di pojok ruangan, ya, dia adalah Len. Len yang sedang duduk bersila dan mengusap kepalanya yang terkena jitakan 'sayang' dari Rin.
"Jitakanmu itu kuat juga ya?" Len memejamkan salah satu matanya dan mencoba menahan sakit dari kepalanya yang cukup membuatnya pusing.
"Makanya, seharusnya kau jangan macam-macam denganku," ucap Rin, ia memalingkan wajahnya dari Len dan mendengus kesal.
"Hei, aku kan hanya menci-"
/BRAK/
Oh, sayang sekali, Rin keburu melempari Len dengan sebuah terompet yang entah ia ambil darimana dan kapan itu sebelum Len selesai bicara.
"Aww…," rintih Len, sakitnya kini bertambah dua kali lipat.
"Jangan mengungkit-ungkit hal itu lagi! Anggap saja hal itu tidak pernah terjadi!" sentak Rin, kini wajahnya sudah sama seperti udang rebus saus tiram(?).
Rin mulai berjalan meninggalkan Len dan mendekati pintu keluar dari ruang musik umum.
"Kau mau kemana?" tanya Len, sesaat sebelum Rin menyentuh knop pintu itu.
"Aku mau pergi," ucap Rin dingin, aura suramnya jadi dua kali lipat bertambah pekat.
"Aku bahkan belum meminta apapun darimu untuk tugas hari ini," ucap Len dengan nada sebal, yang tentu saja dibuat-buat.
"Aku sedang tidak mood hari ini." ucap Rin cuek, ia membuka pintu dan keluar dari ruang musik umum.
/BRAK/
"Ah, dia marah~~" ucap Len yang masih ada dalam ruang musik umum ini.
"Tapi dia benar-benar gadis yang menarik," lanjut Len.
.
.
.
Disisi lain…
.
.
.
Di luar, Rin masih berdiri di balik pintu. Ia memegang bibirnya, wajahnya memerah.
"Kagamine bodoh…," desisnya.
Air mata mulai merembes kembali dari ujung matanya.
"Kau pikir aku apa, hah?" desis Rin lagi.
~xXx~
"RIN!" teriak dua orang gadis, ya… Mereka adalah Rui dan Miki.
Rin menoleh dan mendapati dua sahabatnya itu tengah ngos-ngosan habis berlari mengitari sekolah.
"Apa?" ucap Rin dengan polosnya.
"Kau membuat kami khawatir tau!" bentak Rui, Miki mengangguk.
"Lain kali kalau mau pergi-pergi hubungi kami dulu dong, masa dicari dimana-mana nggak ketemu, handphone juga nggak aktif. Kau ini…," ucap Miki.
Rin tersenyum kaku, "Ma-maaf…,"
Rui dan Miki tersenyum lega.
"Setidaknya kau baik-baik saja," ucap mereka bersamaan.
Rin tersenyum senang, "Makasih,"
~xXx~
"Ini sketsa drama yang saya buat, bagaimana pendapat anda-anda sekalian?" ucap Kiyoteru pada rapat kali ini.
Ya, sekarang ini sedang diadakan rapat untuk melihat drama mana yang patut untuk dipakai. Kiyoteru menggunakan naskah drama baru dengan judul 'Cinta Ksatria yang Tak Akan Pernah Pudar' dan Sora yang menggunakan naskah lamanya 'Cinta tak Berbalas'.
Sebenarnya rencana dan ide mereka sama saja, sebuah cinta yang tak akan pernah terwujud dan berakhir tragis. Tapi sepertinya naskah Kiyoteru lebih diminati oleh sebagian besar anggota rapat… atau tidak?
"Baiklah kita buat voting, yang banyak dipilih akan kita pakai untuk acara ini." ucap Retsu.
Semua mengangguk dan mulai menulis di secarik kertas.
Setelah kira-kira lima menit, semuanya mengumpulkan kertas mereka kepada Retsu.
"Baik kita mulai voting ini,"
Retsu mengambil secarik kertas dari kumpulan kertas-kertas itu dan membukanya.
"Sora,"
Luka yang bertugas menulis di papan rapat itupun mencoret angka satu disamping nama Sora.
"Kiyoteru,"
"Kiyoteru,"
"Sora,"
"Sora,"
"Kiyoteru,"
"Sora,"
"Kiyoteru,"
"Kiyoteru,"
"Kiyoteru,"
"Sora,"
"Sora,"
"Baik, ini carik kertas terakhir. Siapapun nama yang tertera disini adalah yang menang, tidak ada yang boleh protes." ucap Retsu, ia mulai membuka kertas tersebut dan menghela napas.
"Kiyoteru,"
~xXx~
"Selamat ya," ucap Luka kepada Kiyoteru saat mereka sudah selesai rapat hari ini.
"Hn, iya..," balas Kiyoteru dingin, ia memalingkan mukanya dari Luka dan mulai berjalan pergi.
"Hei," panggil Luka saat Kiyoteru sudah agak jauh dengannya.
"Apa… Kau masih sakit hati?" ucap Luka pelan, ia menundukkan wajahnya.
Kiyoteru mematung, ia sama sekali tidak tau apa yang ada dipikiran sahabat sekaligus mantan kekasihnya itu.
"Tidak,"
Dan dengan itupun Kiyoteru melangkah pergi meninggalkan Luka yang sedang meratap.
~xXx~
"Len?" ucap Piko, Rei dan Kaito secara bersamaan saat pemuda blonde yang tadi meninggalkan latihan ditengah-tengah itu kembali lagi.
"Apa?" ucap Len datar.
"Tidak, tumben-tumbenan aja kau kembali lagi setelah kabur ditengah latihan…," ucap Rei, Piko dan Kaito mengangguk.
"Oh, tidak… Cuma lagi malas kemana-mana, jadi daripada luntang-lantung muter-muter nggak ada tujuan mending balik lagi aja." ucap Len santai, ia berjalan ke arah gitarnya
"Eh, iya! Piko…," ucap Len tiba-tiba, Piko yang dipanggil menoleh kepada Len.
"Apaan?" ucapnya.
"Kau tau ibunya si Kaganemi nggak?" tanya Len.
.
.
.
.
Siiiing… Hening…
.
.
.
Len memasang tampang bingung, "Kanapa memangnya?"
Teman-temannya yang dari tadi membatu itu segera menggelengkan kepala mereka cepat.
"Tidak!" jawab mereka bersamaan.
"Oh, ada koor baru ya?" kata Len sarkas. "Jadi kau tau tidak Piko?"
"Hah?" Piko masih sedikit terkejut sahabatnya ini, pertama kalinya mau mengetahui apa yang bukan urusannya. Len menatap Piko tajam.
"E-eh, I-iya… Namanya, Kaganemi Ann. Dia adalah pianis kelas dunia saat masanya, permainannya sangat indah dan seperti dentingan para dewi. Karena itulah ia disebut Venus, si cantik bertalenta Dewi." jelas Piko.
"Ohh," tanggap Len.
'Pantas permainan si Kaganemi itu juga sangat indah,'batin Len.
"Sayangnya, saat Kaganemi Rin-san berumur delapan tahun, ibunya mengalami kecelakaan mobil saat perjalanan pulang untuk merayakan ulang tahunnya. Karena itulah, ia terus berlatih musik sejak kecil agar ia bisa meneruskan impian ibunya." tambah Rei.
"Kau tau juga Rei?" Len menganga, tumben sahabat stoicnya ini mengetahui urusan pribadi orang.
"Aku pernah mendengar cerita ini dari ayahku, dia dulu juga pianis semasa ibunya Kaganemi-san dan mereka cukup akrab," jelas Rei.
"Oh, Kaganemi Ann yang pernah memainkan piano untuk Ratu Inggris itu ya?" Kaito menimpali.
Piko mengangguk, "Tumben kau pintar Kai?"
"Aku pernah membacanya sekilas dibuku yang ada di perpus," sanggah Kaito.
'Perpus?" ucap mereka semua -minus Kaito- heran.
"Iya, itu sudah lama sekali, aku tidak ingat kapan…," ucap Kaito sambil memasang pose berpikirnya.
"Kau doyan ke perpus juga ya? Kupikir kau mau selamanya jadi BaKaito." sindir Len.
"Jadi BaKaito juga tak apa, kan itu panggilan sayang kalian untukyu~~" ucap Kaito narsis, oke, sisi gay miliknya mulai kumat.
Bulu kuduk Piko, Rei, dan Len seketika meremang, mereka akhirnya memutuskan untuk cepat-cepat latihan daripada menyaksikan ke-gay -an(?) Kaito lebih lama.
~xXx~
"Huh, capeknyaaa…," keluh Rin, ia membanting dirinya ke tempat tidur.
Setetelah cukup lama, Rin mulai bangun dan duduk di kasur berseprai oranyenya itu. Ia mengambil Mikan dan menatap dalam kedua bola mata hitam Mikan.
"Huh! Aku sebaaaaaaaaal!" teriak Rin pelan, ia tidak mau juga teriakannya didengar oleh kakeknya dan berakhir dirinya berada di depan kakeknya dengan pose aneh-aneh.
" A-aku kan mempertahankan ciumanku untuk orang yang akan menjadi pendamping hidupku…Tapi kenapa…?" gumam Rin, Mikan pun hanya bisa menatap Rin, tanpa bergerak semilimeter pun.
Tentu saja, sudah kubilang dari chapter-chapter kemarin kan? Kalau boneka bisa bergerak itu tandanya kiamat.
Rin kembali membaringkan dirinya di kasur, dengan memeluk Mikan tentunya.
"Kira-kira… Apa yang akan dilakukan Kagamine itu padaku, besok ya?" ucap Rin pada Mikan.
"Semoga bukan hal aneh-aneh… Kenapa dulu aku menantangnya sih!" gerutu Rin, ia jadi sebal dengan dirinya yang dulu seenak jidat menantang shota itu tanpa tau latar belakangnya.
Rin kembali menatap mata Mikan, pandangan Rin melembut. Ia memejamkan matanya dan bergumam,
"Selamat malam, Mikan… Mama…,"
Keesokan harinya…
.
.
.
.
"SIAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAL!" teriak Rin. Moodnya sedang tidak cukup baik hari ini.
"Kau itu sebenarnya kenapa sih Rin? Jadi pesuruh Kagamine-kun tidak akan seburuk itu kok," semangat Meiko.
"Kau belum tau sifat dia sih…," keluh Rin. Kini mereka tengah berjalan-jalan mengelilingi kampus, yah, karena kelas mereka baru saja selesai.
"Hee? Memangnya kau tau?" tanya Meiko dengan nada seinnocent mungkin.
Rin yang kesal itupun memukul pelan bahu Meiko dan menncibir sedangkan meiko hanya tertawa.
"KYAAAAAA!" suara teriakan itu bergemuruh membuat telinga siapa saja yang mendengarnya akan ikut berdengung.
Rin dan Meiko yang penasaran itu menoleh ke asal teriakan dan menemukan seseorang berparas seperti Rin sedang berjalan ke arah mereka dengan santainya.
'Oh, tidak. Oh, tidak. Oh, tidak…,' batin Rin.
"Mei, pergi yuk…," Rin buru-buru menarik lengan Meiko dan mengajaknya pergi.
Ah, tapi ia kalah cepat. Tangannya lebih dahulu di genggam erat oleh tangan seseorang, seseorang yang paling tidak ingin ditemuinya saat ini sekaligus orang yang dibencinya.
Rin berbalik dan menatap sinis pemilik tangan yang telah menunda acara kaburnya.
"Apa?" tanya Rin sinis. Oh, moodnya benar-benar buruk sekarang…
"Berikan handphonemu." ucap Len santai, Rin menyernyit heran.
"Len-sama! Kenapa meminta handphone cunguk itu!"
"Apa yang sudah dilakukannya padamu Len-sama!"
"Len-sama, pakai handphoneku saja. Kenapa harus handphone cecunguk itu?"
"Len-sama-!"
"Diam kalian! berisik." bentak Len.
Rin masih terbengong-bengong, ia benar-benar tidak mengerti dengan keadaan sekarang. Aura-aura panas dan pekat mulai terasa disekitarnya, Rin tersenyum kaku.
"Me-memangnya buat apa?" tanya Rin dengan semanis mungkin.
"Cepatlah," ucap Len cuek.
'Grrr, kubunuh kau suatu saat Kagamine.' batin Rin, ia merogoh sakunya dan mengambil sang handphone.
"Nih," ucapnya seraya menyerahkan handphone itu kepada Len, meski dengan setengah hati.
Len dengan cepat mengambil handphone berwarna oranye itu dari tangan Rin dan mengetik sesuatu dengan cepat di sana.
Rin, Meiko, dan semua penggemar Len itu menganga.
"Nih kukembalikan," ucap Len, ia lalu melenggang pergi, meninggalkan Rin yang masih menganga.
"Awas ya kamu kalau sampai merebut Len-sama dari kami." Para fans itu mendeathglare Rin, huff… Aku jadi kasian dengan Rin.
~xXx~
"Huft, aku benar-benar nggak mengerti dengan cara berpikir para penggemar Kagamine itu deh," ucap Rin sambil merenggangkan tangannya.
"Yahh, namanya juga penggemar gila…," tanggap Miki, ia menyeruput sedikit jus cherrynya.
"Tapi tidak seharusnya juga mereka berbuat seperti itu pada Rin," bela Rui, ia mengepalkan tanganya tanda kesal.
"Tapi bagaimanapun juga kita kan tidak ada urusannya dengan mereka, nanti saja kalau mereka mulai cari gara-gara baru kita bergerak," usul Meiko sambil mengaduk kopi susunya.
"Haah," Rin menghela napas dan melihat keluar jendela kafetaria.
~xXx~
Len kini sedang ada di atap, tidak jauh jaraknya dari kafetaria tempat Rin berada sekarang. Ia lalu merogoh sakunya dan mengambil handphone miliknya. Dicarinya sebuah nama yang akan ia suruh-suruh hari ini, ya, nama Rin.
"Halo? Ini siapa?" jawab suara manis dari seberang telepon Len.
"Ini aku," ucap Len.
~xXx~
'Oh. Bagus. Sekali… Jadi ini alasannya dia meminta handphoneku tadi?' batin Rin.
"Mau apa kau?" ucap Rin ketus.
"Ayolah, jangan ketus-ketus begitu… Aku ini masih Tuanmu loh~"
"Apa maumu sekarang? Cepat atau kututup telepon ini."
"Baik, baik, cepat bawakan aku segelas Banana Split dalam sepuluh menit. Aku tidak menerima penolakan dan kata terlambat. Aku ada di arah barat, lihatlah ke langit maka kau akan menemukanku,"
"Tapi-" 'pip'
"Grrrr," Rin menggeram, ia meremas handphonenya. Tapi ia tentu masih sayang dengan alat komunikasinya itu, sehingga ia menahan diri untuk tidak mematahkan benda kecil itu.
Rin melihat lagi layar handphonenya dan segera merename nomor tadi dengan nama 'Si Shota Menyebalkan'.
"Siapa Rin?" tanya Meiko, Rin menoleh dan kemudian berdiri.
"Tuanku yang sangaaaaaaaat tampan, Mei." ucap Rin dengan nada manis, ah, tak lupa juga bumbu aura membunuh berwarna hitam pekat yang mengelilingi tubuhnya.
Meiko, Rui dan Miki bergidik, baru pertama kali mereka melihat Rin yang seperti ini.
"Aku pergi dulu ya…," ucap Rin. Mereka semua mengangguk pelan, masih ketakutan.
~xXx~
"Oh, kau menemukanku ya?" salam Len, ketika Rin membuka pintu atap ini.
"Tentu saja, kau memberi petunjuk yang terlalu mudah untukku," sanggah Rin.
"Ahh, pelayanku pintar ya, ternyata~" ledek Len, Rin mendengus.
"Sudah diamlah, aku ingin cepat ke kelas," Rin beralasan, ia benar-benar sedang tidak mood untuk berdebat dengan Len.
"Kalau masih ada kelas ngapain keluyuran?" ucap Len dengan nada mengejek.
"Aku masih jam istirahat," alasan Rin, Len menyeringai.
"Jam istirahat untuk kelas musik tradisional sudah selesai lima menit yang lalu," ucap Len, ia mengambil Banana split yang dibawakan Rin tadi.
Rin diam, ia mendengus kesal.
"Sudah diam," ucapnya.
Len terkekeh sebentar, "Ahh, untuk tugasmu hari ini. Kau harus pergi ke Owner café dan gantikan aku menyanyi."
Rin membelalakkan matanya, "APA?"
~xXx~
RIN POV
Kami-sama… hiks, hiks…
Tolong aku… huweeeee…
"Kaganemi-san?" ucap Utatane-san, Kagene-san, dan Shion-san bersamaan ketika melihatku.
"Ya?" aku memasang senyumku, mencoba serileks mungkin walaupun aku sebenarnya sedang meraung-raung dalam hati.
"Aku sebenarnya tidak pernah menduga Len meminta Kagamine-san untuk menyanyi disini…," Kagene-san menatapku bingung, aku tersenyum gugup.
"Yah, sedikit aneh memang… katanya dia hari ini ada urusan penting makanya menyuruhku untuk menggantikannya." jelasku, sepertinya mereka percaya saja dengan penjelasanku yang agak ngelantur itu.
"Baiklah, yang penting sekarang kita mulai saja~" ajak Shion-san, aku mengangguk.
"Ngomong-ngomong, Kagamine-san minta diiringi lagu apa?" tanya Utatane-san.
Ahh, aku lupa… aku kan tidak mengerti musik modern… huaaaaa…
Oh iya!
"Mmmmn, kalian tau lagu berjudul Chain dalam drama apa itu aku lupa?" ucapku, aku sedikit gugup, apalagi kalau mereka tidak tau drama apa yang aku maksud.
Aku kan tidak tau lagu lain selain lagu itu… hiks, hiks..
"Oh, lagu itu!" Shion-san berteriak kegirangan.
Eh? Dia kenapa?
"Kau tau?" sergah Utatane-san.
"Tentu! Ayo mulai!" ajak Shion-san.
Setelah itu, kami semua mulai naik ke atas panggung. Pandangan setiap orang kini beralih padaku.
'Glek' aku menegak ludah sebentar dan mulai berbicara.
"Maaf, hari ini Kagamine-san tidak dapat datang untuk menghibur kalian. Jadi hari ini saya yang akan menggantikannya, semoga kalian menyukai penampilan kami." ucapku, aku menghela napas dan mulai meminta Shion-san untuk mulai memainkan drumnya.
~xXx~
NORMAL POV
"Aku tidak pernah melihatnya Rion, dia siapa?" tanya Kiyoteru yang sedang meminum anggurnya.
Rion berhenti sejenak dan menoleh ke arah pandang Kiyoteru.
"Oh, dia Kaganemi Rin. Dia pengganti Len untuk seminggu ini, karena dia ada urusan." ucap Rion.
"Hmm, suaranya lumayan…," puji Kiyoteru.
"Tentu saja, dia kan anak Venus belahan barat..," ucap Rion sambil mengelap beberapa gelas yang baru saja ia cuci.
"Venus belahan barat?" Kiyoteru menyernyit, ia seperti pernah mendengar nama itu sebelumnya… tapi dimana?
"Iya, Kaganemi Ann," jawab Rion, Kiyoteru membelalak.
"Kaganemi Ann yang 'itu'?" ucapnya tak percaya.
"Iya, memangnya ada Venus lain selain dia?" ucap Rion, Kiyoteru mengepalkan tangannya erat.
"Aku harus membuatnya menjadi tokoh utama dramaku." ucap Kiyoteru berapi-api.
'Lihat saja nanti,' batin Kiyoteru.
GBA~~
Oke, chap ini selese… T^T
Saia tau, saia tau kalo cerita ini makin gaje…
Udah, dari sini ceritanya mulai keliatan perbedaannya jadi untuk yang menganggap ini apa tu terserah, ingat ini baru awal~~ *ngilang*
Lily: Eh? Apa ini? *ngeliat tumpukan kertas di meja*
Miriam: Ini kan balasan review, dasar author sedeng. Belum bales malah dah ngilang aja. =="
Lily: Ya udahlah, daripada nggak kebales. Bacain yuk!
Miriam: Oke deh, sekalian gantiin jatah peran dalem cerita yang cuma seuprit..
Lily: oke, ini buat Kuro 'Kumi' Mikan~
Miriam: Masih bingung ya? Emang belum keliatan sih… tapi pelan-pelan juga bakal ngerti
Lily: Itu RinLen banyak… bagian kami malah ngga ada… T.T *tunjuk-tunjuk atas*
Miriam: Diem kau ibu-ibu! Oh, makasih udah nyempetin Chiao girang banget itu… =="
Lily: Kau juga ibu-ibu dingding…, =3=" Makasih reviewnya…
Miriam: kedua dari Kyon Kuroblack!
Lily: Ini lagi… itu RinLen uda banyakkkkk…#pundung
Miriam: *facepalm* iya ini udah lanjut kok, pelan-pelan… nanti seiring apdetan juga ngerti sendiri kok.
Lily: Terakhir buat Miki Abaddonia Lucifen.
Miriam: Makasih, reviewnya…
Liy: Iya? Kelihatannya begitu… *tampang bingung, ngelirik Miriam*
Miriam: Mana kutau, aku bukan yang buat.. ==" Ini udah apdet…
Lily: Makasih, Chiao seneng banget ngga dipanggil senpai lagi. *liat kertas* nulisnya disini sih… "Saia masih newcomer author disini jadi jangan dipanggil senpai karena karya saya sesat semua ini~"
Miriam: Oke, karena cuman itu aja jadi tutup aja laman ini dan klik tombol Review dibawah~~
Lily: Yep, kritik, saran, flame, terserah aja~ yang penting jangan nyepam oke?
