Preview Chapter:

.

"Tapi dia benar-benar gadis yang menarik,"

.

"Kau harus pergi ke Owner café dan gantikan aku menyanyi."

.

"APA?"

.

"Aku harus membuatnya menjadi tokoh utama dramaku."

.

.

.


"Heart Melody"

.

Pair: LenRin (Pastinya, yang lainnya tebak sendiri yah~)#hajared

.

Disclaimer: Sampai dunia kiamat pun Utauloid, Vocaloid 1, 2, 3, ampe seratus pun nggak akan pernah jadi milik saia. TAT#pundung

.

Warning(s): Music life, rada ngga nyambung, typo(s), OOC(?), banyak Crack pair?, minim pendiskripsian, Lennya jadi agak gimana gitu.. =w="#ditampol dwwl!

Don't Like? Saya sarankan untuk MENEKAN TOMBOL 'BACK' SEGERA. Oke?~~ ^w^

.

Ngga bermaksud ngusir~ hanya warning saja kok~~

.

.

"blablablabla," = Percakapan di telepon, suara-suara.


.

.

.

"Hooammmn," Rin menguap lebar, setitik air mata terbentuk di ujung matanya.

"Kau kenapa Rin?" tanya Rui, Rin menoleh pelan ke arah Rui dengan mata setengah terpejam.

"Hah?" Rin mengerjapkan matanya seakan ia baru bangun tidur.

"Seharusnya aku tidak bertanya …," keluh Rui, Rin mengacuhkan Rui dan segera meletakkan kepalanya di atas meja kefetaria. Yahh, itu memang sudah kebiasaan Rin, ketika ia mengantuk atau masih capek. Kalau ditanya pasti diabaikan atau kalaupun dijawab, nanti jawabannya pasti ngelantur semua.

"Rin kemarin diminta-" Meiko yang tadi berniat menjelaskan itu dipotong oleh Miki.

"Lebih tepatnya dipaksa oleh Kagamine Len-san untuk bernyanyi di café menggantikannya." sambar Miki, dahi Rui berkerut.

"Loh? Kok bisa?" tanya Rui heran. Maklum saja, kemarin ia memang tidak ikut ke Owner café karena ada acara bersama keluarganya. Yah, bisa dibilang dari semua personil Wind Flower, Rui-lah yang terkaya.

Miki mengaduk jus cherry-nya dan meminumnya sedikit, mengacuhkan pertanyaan Rui. Rui cemberut.

Meiko menjauhkan ujung kaleng cola yang tadi sempat diminumnya dan menyahut, "Kau tahu 'kan, Rin itu siapanya Kagamine-san?"

Rui meletakkan ujung telunjuknya di dagu, mencoba memikirkan maksud Meiko.

"Ah! Pel-" "Sssst," sebelum Rui selesai berkata, Meiko menempelkan telunjuknya ke bibir Rui.

"Kalau kau mengatakannya keras-keras, Rin bisa membunuh kita." bisik Meiko.

Rui tersentak sedikit, "Oh iya ya, maaf. Aku lupa,"

Meiko mengangguk, Rui lalu betanya lagi, "Lalu … Bagaimana dengan … Umm, penggemar-penggemar Kagamine-san ?"

Meiko mengangkat bahu dan berucap, "Aku tak mengerti, yang jelas kemarin mereka hanya diam layaknya batu mendengarkan Rin bernyanyi."

"Hah?" hanya itu kata yang keluar dari mulut kecil Rui. Tiba-tiba, Miki yang baru saja meletakkan gelas jusnya yang isinya sudah tinggal separuh itu menyahut.

"Atau mungkin sebentar lagi mereka akan datang kemari." sahut Miki datar. Sebelah alis milik Rui dan Meiko mengangkat.

Dengan serempak mereka mengangkat kepala mereka untuk menghadap ke arah pintu masuk. Ya, Rui dan Meiko memang duduk di bangku yang tepat menghadap pintu masuk. Sedangkan karena Miki dan Rin berada di depan mereka, jadi tempat duduk Rin dan Miki membelakangi pintu masuk.

"Apa maksudmu?" tanya Rui dan Meiko serempak, mereka mengembalikan pandangan mereka dari pintu masuk ke arah Miki.

Miki kembali menggapai gelas jusnya dan meminum isinya sampai habis, "Lihat saja tiga detik lagi," ucap Miki datar.

Tepat tiga detik setelah ucapan Miki berakhir, terlihatlah segerombolan mahasiswa perempuan yang sedang membawa spanduk, baliho(?) dan berbagai macam peralatan untuk berdemo. Mereka menerjang pintu kafetaria hingga pintu itu terlempar jauh entah kemana, malang sekali nasib pintu itu.

"MANA DARI KALIAN YANG BERNAMA KAGANEMI RIN!?"

'Glek' Meiko dan Rui meneguk ludah tegang, sedangkan Miki masih stay cool dengan sepotong kue lemon yang tersisa separuh di piringnya.

"Ngggh," Rin mulai terusik dengan kebisingan di sekitarnya, karena para mahasiswi demo(?) itu masih saja berteriak-teriak.

"CEPAT MENGAKU SIAPA DARI KALIAN YANG BERNAMA KAGANEMI RIN!?" teriak para kawanan(?) itu lagi, yang sebenarnya sudah cukup untuk memberikan efek ketulian sementara(selamanya?) bagi orang lain.

"Grrrr," Rin yang tidak suka acara santai, ehm, atau bisa dibilang acara tidurnya diganggu itupun mengeluarkan aura pembunuh yang sangat pekat dan membuat Meiko dan Rui tiarap di kolong meja.

"SUDAH KAMI BILANG-!"

"AKU YANG BERNAMA KAGANEMI RIN DI SINI!" teriak Rin, tak kalah keras dengan para pendemo itu.

Semua pendemo itu langsung menoleh ke sumber suara dan melihat seorang gadis berkepala pirang(?) sedang menatap mereka semua dengan mata mengkilat dan aura yang mengatakan 'jika-kalian-menggangguku-hanya-untuk-hal-tak-pent ing-enyahlah-dari-dunia.

Semua yang ada di kafetaria itu merinding, takut akan nasib mereka jikalau monster di depan mereka itu marah. Tapi, tiba-tiba dengan beraninya seseorang berambut kuning emas maju.

"Jadi kau yang bernama Kaganemi Rin? Jelek sekali, papan irisan lagi, apa mungkin yang seperti kau itu selera Kagamine-sama? Mustahil," cerca pigtails itu, Rin memasang tampang datarnya seperti biasa dan menyilangkan kedua tangannya di depan dada, walaupun sebenarnya ia sudah terpanggang dari dalam.

"So? Memangnya kenapa kalau selera Kagamine itu seperti aku, hah?" ucap Rin sinis, perempatan sendiri telah terbentuk di kepalanya, ia menatap tajam si pigtails.

Si pigtails itu terpaku, ia tak menyangka bahwa Kaganemi itu semenakutkan ini. Ia merinding, tapi tentu saja untuk menjaga image-nya agar tetap baik. Ia menyilangkan tangannya dan berkata, "Aku tidak akan pernah memberikan Kagamine-sama padamu, pendek."

Mata Rin memicing, si pigtails menciut. "Sekali lagi kau mengatakan hal itu padaku, jangan harap kau bisa melihat matahari terbit. Lagipula, kau siapanya Kagamine? Kalau kau mau protes, protes saja ke dia." ujar Rin tajam, ia memutar kepalanya kasar dan meninggalkan kafetaria.

"RIN!" teriak ketiga temannya.

.

~xXx~

.

Len kini sedang berdiri di depan sebuah rumah sakit di perfektur Kanagawa, ia menatap heran pada bangunan bernuansa putih dan kaya akan obat-obatan itu sejenak. Setelah merasa pertanyaannya tak terjawab dengan hanya melihat bangunan tersebut, Len memutar kepalanya, menatap sosok sang ibu.

"Kita ke sini mau apa, Ibu?" tanya Len, Lily tersenyum pahit dan menjawab pertanyaan Len,

"Ada teman Ibu yang ingin bertemu denganmu, kau pasti akan menyukainya." jawab Lily, ia mulai melangkah masuk ke dalam Rumah Sakit tersebut. Len hanya bisa mengangkat alisnya dan mengikuti Lily yang telah berjalan duluan di depannya.

"Memangnya dia siapa, Bu?" tanya Len lagi, pandangan Lily berubah menerawang.

"Dia orang yang menyukai gitar lebih dari siapapun, sepertimu." ucap Lily, ia tersenyum miris dan memepercepat langkahnya.

Setelah berapa lama berjalan, mereka akhirnya sampai pada sebuah pintu putih yang berdiri tegak sebagai pembatas mereka dengan ruangan yang ada di depan mereka. Lily menghela napas sebentar dan membuka pintu tersebut, sedangkan Len hanya menatap ibunya dengan perasaan bercampur antara heran, ingin tahu, bingung, dan penasaran.

"Selamat pagi," salam Lily ketika mereka memasuki ruangan tersebut, di dalam ruangan itu ada seorang pria paruh baya berambut coklat dan wanita yang kira-kira berumur sama seperti ibunya.

"Lily, kau datang!?" ucap sang wanita, Lily tersenyum kecil dan memasuki ruangan tersebut. Len yang tidak tahu apapun itu hanya berjalan mengikuti ibunya dari belakang.

"Bagaimana kabarmu?" tanya Lily kaku, lelaki yang berbaring di atas tempat tidur itu menatap Lily sendu.

"Aku baik-baik saja, terimakasih sudah repot-repot datang." ucap sang lelaki, Lily menghela napas sebentar dan menatap Miriam–wanita tadi–dengan tatapan pasrah. Miriam yang mengerti tatapan Lily tersebut segera mengambil tindakan.

"Al, anak laki-laki Lily ingin belajar gitar darimu, apa kamu mau mengajarinya?" ucap Miriam, ia menggenggam tangan Al–sang lelaki–dengan lembut. Mata Kagami Al membulat, ia kemudian menoleh ke belakang Lily dan menemukan seorang anak laki-laki berambut pirang sedang menatapnya heran.

"Yah, baiklah, aku akan meninggalkan kalian agar kalian bisa lebih akrab. Tolong ajari anakku dengan baik ya ... Al." ucap Lily, ia kemudian menarik Miriam bersamanya dan keluar dari ruangan itu.

Len masih terdiam, di satu sisi ia senang karena ibunya sudah berbaik hati mencarikan guru gitar untuknya. Tapi di sisi lain, ia bingung harus berdsikap bagaimana ... apalagi ia baru pertama kali ini bertemu dengan orang ini. Lagipula, entah kenapa Len merasa ada yang aneh di hatinya saat menatap pria paruh baya itu.

"Hei," panggil Al, Len yang merasa terpanggil–karena saat ini hanya ada mereka berdua di sana–menoleh. Al memberi isyarat pada Len untuk mendekat dan ia menurutinya. Setelah jarak Len cukup dekat, Al berkata,

"Apa kau benar-benar ingin belajar gitar dariku?" tanya Al, Len terdiam sejenak. Sejujurnya, ia masih tidak mengerti kenapa ibunya membawanya kemari. Tetapi jika ia mempercayai ibunya, pasti semua akan baik-baik saja. Hal itulah yang terus ditanamkan oleh Len semenjak kecil, karena itulah ia menghormati ibunya lebih dari siapapun, dan ia memutuskan untuk tetap berpegang pada hal itu.

"Ya, saya ingin belajar dari Anda." ucap Len mantap, Al tersenyum.

.

~xXx~

.

"RIN!" teriak Meiko, Rui, dan Miki. Mereka sudah kecapekan mengejar Rin yang berjalan super cepat jauh di depan mereka, Rin yang–akhirnya–mendengar teriakan ketiga temannya itu menoleh ke belakang.

"Hm, ada apa?" tanya Rin innocent, Meiko, Rui, dan Miki berhenti berlari dan cepat-cepat mengambil nafas, menyeimbangkan asupan(?) oksigen untuk paru-paru mereka.

"Jangan lari-larian dong...," protes Meiko, ia merosot dan terduduk di lantai diikuti oleh Miki dan Rui.

"Ara, maaf." ucap Rin singkat, padat, jelas, dan datar. Rui yang sudah berhasil mendapatkan napasnya kembali itupun bertanya pada Rin, dengan posisi masih duduk di lantai tentunya.

"Rin, kenapa kamu lari-lari sih tadi? Apa mereka sangat mengganggumu?" tanyanya, Rin menghela napas sejenak dan memutar tubuhnya.

"Aku sendiri tidak tahu, yang jelas aku sedang tidak ingin diganggu sekarang. Maaf, aku pergi dulu ya." Balas Rin, ia kemudian berjalan menjauh dari ketiga teman baiknya itu.

"Rin...," gumam Meiko, Rui, dan Miki. Tidak biasanya Rin diam sampai tidak berbicara dengan mereka bertiga, atau setidaknya satu dari mereka. Dan hal itu membuat mereka semua cukup khawatir.

.

~xXx~

.

"Soal Al dan Len ... aku sangat berterima kasih Lily," ucap Miriam, sekarang Lily dan dia sedang duduk di kursi taman rumah sakit.

"Tenang saja, aku tak akan pernah mengingkari janji ... tapi jangan harap aku akan memaafkannya." ucap Lily, Miriam tersenyum.

"Ya ... aku tahu kesalahannya duu memang sangat tidak termaafkan." balas Miriam, ia kemudian meminum capuchino-nya. Lily menunduk menatap cangkir kopi susunya yang tinggal separuh berisi.

"Aku tidak mengerti kenapa kau masih mau menghabiskan hidupmu untuk orang seperti dia," Lily menggenggam erat cangkirnya, hatinya seperti sedang tersayat sekarang. Apalagi kepalanya terus memaksanya untuk mengingat sebuah ingatan yang ingin ia buang jauh-jauh, dan itu membuat air mata mulai menumpuk di matanya.

"Kenapa ya? Aku sendiri juga ingin tahu," ucap Miriam, ia tertawa kecil. Lily masih diam, menunduk, dan menggenggam erat cangkir kopinya. Miriam yang melihat hal itu meletakkan cangkirnya dan menggenggam kedua tangan Lily.

"Tapi satu hal yang aku tahu, aku sudah yakin untuk memutuskan hal ini. Jadi aku tidak akan pernah berhenti, walaupun aku tahu ... yang diinginkannya bukanlah aku," ucap Miriam, ia tersenyum miris. Lily kembali mendongak untuk menatap Miriam, ia meneteskan air matanya perlahan.

"Maaf...," ucap Lily, Miriam tersenyum lembut dan megistirahatkan kepala Lily pada bahunya.

"Tidak perlu minta maaf, ini sudah takdir ... dan semuanya sudah lewat 'kan? Tidak ada yang bisa disesali lagi sekarang," tanggap Miriam, ia jadi ingat saat dulu ia juga selalu menenangkan Lily dengan cara seperti ini. Saat kuliah dulu ... ah, bahkan sebelum itu. Ia selalu menenangkan Lily seperti ini, sejak mereka masih kecil. Setidaknya sampai hal yang paling dibenci Lily itu terjadi.

.

~xXx~

.

"Pada akhirnya aku tetap berakhir di ruangan ini lagi," gumam Rin, ia kini sedang ada di ruang musik umum. Dia sedang berjalan tanpa arah dan tujuan tadi, tetapi ia malah berakhir lagi di ruangan ini. Rin berjalan memasuki ruangan tersebut dan duduk lagi di kursi piano yang ada di sana, persis seperti kemarin. Ia membuka penutup tuts piano itu dan menekan tuts-tuts tersebut dengan acak.

Kemarin, ia memainkan lagu kesukaan ibunya di sini, yang berakhir dengan bertemunya ia dengan si mesum paling menyebalkan sedunia bernama Kagamine Len. Tempat di mana juga first kiss-nya dimakamkan(?). Mengingat hal itu, muka Rin kembali memanas.

"Aku ini kenapa sih!?" gerutunya pada dirinya sendiri, ia mencoba mengambil napas sekuat tenaga untuk menormalkan suhu wajahnya. Yang mungkin bisa dibilang itu percuma saja.

Rin mulai menekan tuts piano itu lagi dan memainkannya. Ia selalu senang ketika bermain piano, berbeda dengan bermain shamisen. Ia merasa senang saat bermain shamisen, tetapi ia juga merasa senang saat bermain piano. Hanya saja, entah kenapa, rasa senang saat ia memainkan piano itu terasa lebih natural daripada saat ia bermain shamisen. Mungkin karena itu ia sekarang lebih sering berakhir di ruangan ini daripada pergi ke ruang musik tradisional di departemennya.

"Ah, ternyata ada orang ya di sini." ucap sebuah suara dari arah pintu masuk. Rin refleks menghentikan permainannya dan menoleh dengan cepat ke arah pintu. Ia menemukan seorang pria berumur kira-kira duapuluh tahunan, mungkin saja ia juga salah satu dosen kampusnya tetapi ia tidak tahu, berambut hitam dan berkacamata.

"Ah, maaf, apa aku menganggu?" tanya orang itu lagi, Rin yang masih terdiam itupun mengerjapkan matanya lagi dan menjawab,

"O-oh, tidak, saya hanya sedang ada waktu senggang jadi saya ke sini."

Pria itu tersenyum dan mendekati Rin, "Senang bertemu denganmu, aku Hiyama Kiyoteru, penanggung jawab pesta pagelaran 100 tahun sekolah ini."

"Oh, Anda sutradara terkenal itu?" tanggap Rin, Kiyoteru tertawa garing.

"Tidak juga kok, siapa bilang?" balas Kiyoteru, Rin mengalihkan pandangannya kembali pada piano di depannya dan menutup tutsnya.

"Seluruh sekolah sudah menyebarkan hal itu kok Hiyama-san," ucap Rin, ia berdiri dan berjalan menuju pintu.

"Eh? Sudah selesai?" tanya Kiyoteru, Rin mengangguk singkat dan berjalan melewati Kiyoteru yang masih berdiri di ambang pintu.

"E-eh, tunggu!" cegah Kiyoteru, ia meraih pergelangan tangan Rin dan menggenggamnya, menyebabkan Rin berhenti sejenak.

"Aku punya permintaan padamu!" ucap Kiyoteru, Rin yang terpaksa berhenti, berbalik menghadap Kiyoteru dan menatapnya datar.

"Maaf Hiyama-san, saya tidak mengerti maksud Anda." balas Rin. Kiyoteru tersenyum getir, ia merasa sedikit gugup.

Oh, Kiyoteru seperti mau menyatakan cinta pada gadis pujaannya saja. Kiyoteru menelan ludahnya dan berucap dengan suara sedikit bergetar.

"Aku ingin kamu berpartisipasi dalam pagelaran itu," ucap Kiyoteru, Rin mengangkat alisnya heran.

"Saya sedang tidak ingin memainkan shamisen saya-" namun sebelum Rin menyelesaikan ucapannya, ia keburu dipotong oleh Kiyoteru.

"BUKAN! Aku tidak memintamu untuk memainkan shamisen, aku ingin kau menyanyi."

Ah, dan ucapan itu sukses membuat Rin menganga sempurna.


GBA!~

Yahoooo, minna-san!~

Ohisashiburi dechu wa~

Hehehe, maap atas keterlambatan yang sempurna ini dechu~

Yah, dengan apdetan yang ngga wajar ini semoga masih ada yang mau baca ya... *pundung*

Yosh! bales ripiu dulu yuk~


Pertama buat Kyon Kuroblack:

Hahaha, mungkin kebiasaan aja kok, Kyon-chan pasti juga nanti bisa buat yang lebih bagus kok~

Ini uda apdet~

uda hampir setahun ya? *dor*


Trus buat lovelessxxx:

Iya saia tau kok banyak typo~

Makasi uda di beritau dechu~


Buat rani konaki ga login:

Ngga papa kok, saia sendiri juga telat apdet(?)...

Oke, oke, mungkin nanti Rin bisa lebih menderita kok~


Trus buat Shiney Moon ga login abal:

Yahoo, Shiney-chan, hisashiburi~

Makasih, saia sendiri juga pengen tau bakal gimana cerita ini~

(luauthornyabego)*dihajar*

Oh, makasii dechu, saia aja bahkan ngga ngebayangin Owner cafe itu gimana*dor*

Okee, ini juga apdetannya~


Trus buat KonekoMii-Chan:

Ini bener ripiu chap satu kan ya?

Makasii pujiannya dechu, ini dah apdet~


Lagi, buat Harada Ayumi-chan:

Uda lanjut kok, jadi turunin goloknya ya~


Terakhir, buat billa neko:

Ah, iya sih, bahkan saya juga sering kelupaan kalo mereka tokoh utama*jderr*

Iya, saia usahakan ya dechu~


Iya maap atas apdet yang naujubilah setahun lamanya ini~

Yah, habis inikan cerita tanpa skrip jadi alurnya tergantung apa yang saia pikirin waktu ngetik jadi maap ya~\

trus buat masalah typo, saia ngga tau dan ngga ngecek... jadi maklumin ya~*dihajar*

Yosh, masih berkenan buat review lagi dechu?~