Preview Chapter:
.
"Saya ingin belajar dari Anda."
.
"Tidak perlu minta maaf, ini sudah takdir ... dan semuanya sudah lewat 'kan? Tidak ada yang bisa disesali lagi sekarang,"
.
"BUKAN! Aku tidak memintamu untuk memainkan shamisen, aku ingin kau menyanyi."
.
"Hah?"
.
.
.
"Heart Melody"
.
Pair: LenRin (Pastinya, yang lainnya tebak sendiri yah~)#hajared
.
Disclaimer: Sampai dunia kiamat pun Utauloid, Vocaloid 1, 2, 3, ampe seratus pun nggak akan pernah jadi milik saia. TAT#pundung
.
Warning(s): Music life, rada ngga nyambung, typo(s), OOC(?), banyak Crack pair?, minim pendiskripsian, Lennya jadi agak gimana gitu.. =w="#ditampol dwwl!
Don't Like? Saya sarankan untuk MENEKAN TOMBOL 'BACK' SEGERA. Oke?~~ ^w^
.
Ngga bermaksud ngusir~ hanya warning saja kok~~
.
.
"blablablabla," = Percakapan di telepon, suara-suara.
.
.
.
.
Rin masih menatap tidak percaya kepada Kiyoteru, mulutnya masih terbuka separuh dan matanya masih tidak berkedip. Setelah beberapa detik kemudian, Rin mulai menguasai dirinya kembali. Ia berkedip dua kali dan membasahi tenggorokannya yang kering karena kemasukan terlalu banyak udara. Yahh, siapa suruh mangap mulu dari tadi, ya 'kan?
"Apa maksud Anda?" tanya Rin, ia mencoba mengkonfirmasi apa yang tadi didengarnya. Tentu saja, menyuruhnya untuk sesuatu selain bermain shamisen adalah sebuah hal langka. Kecuali kalau ia dalam mode perjanjian seperti dengan Kagamine, itu masalah lain lagi.
"Aku ingin memintamu bernyanyi," ucap Kiyoteru tegas, ia sepertinya sudah menekan kembali rasa gugupnya.
"Maaf, tapi saya—"
"Aku sudah melihat penampilanmu di Owner café kemarin," ucap Kiyoteru, ia mencoba memotong alasan Rin untuk melarikan diri.
"Lagipula kau belum pasti menjadi tokoh utama dan bernyanyi kok, kami akan melakukan audisi karena itu yang diminta oleh semua staff." jelas Kiyoteru.
'CTAK,' Uh-oh, rasanya urat nadi kepala Rin ada yang baru saja terputus.
"Lalu apa maksud Anda, meminta saya harus bernyanyi? Sedangkan sekarang Anda malah mengatakan kalau Anda akan mengadakan audisi pemeran utamanya!?" ucap Rin tajam, satu karena ucapannya tadi dipotong dan dua karena ketidakjelasan orang yang ada di depannya saat ini.
"Tenanglah, maksudku aku ingin kau mengikuti audisi itu dan memenangkannya." jelas Kiyoteru, Rin memutar badannya membelakangi Kiyoteru dan mulai berjalan.
"Maaf, saya tidak tertarik." ucap Rin dingin, kesabarannya sudah mencapai batas sekarang. Kiyoteru panik dan mencoba menghentikan Rin.
"E-eh, tung‒Ah, dia sudah pergi...," keluh Kiyoteru saat Rin tidak mengubris panggilannya dan menghilang di tikungan.
.
~xXx~
.
"Untuk hari ini, terima kasih ya, Lily." ucap Miriam saat Lily berpamitan akan pulang, Lily mengangguk dan tersenyum kecil.
"Yah, aku juga bersenang-senang hari ini," ucap Lily halus, ia kemudian mendekati tempat tidur Al dan berpamitan.
"Semoga cepat sembuh ya," ucap Lily, nada suaranya menjadi sedikit serak dan lebih pelan. Dan hal itu mengundang rasa heran Len yang berada di seberang ranjang yang berlawanan dengan berdirinya Lily.
"Kenapa suara ibu serak begitu? Apa ibu sedang sakit?" tanya Len, Lily tersenyum kecil dan menggeleng pelan.
"Ibu tidak apa-apa. Sudah sana cepat pamitan, kita akan segera pulang," ucap Lily, ia kemudian dengan cepat melangkahkan kakinya ke luar ruangan.
Len mengangkat alisnya heran, tapi ia mengacuhkan rasa heran itu dan mulai berpamitan. "Paman Al, terima kasih telah mengajariku hari ini. Aku pamit dulu,"
Al tersenyum tipis dan mengangguk, "Kalau mau kau bisa datang ke sini kapan saja,"
Len mengangguk antusias dan berjalan keluar.
"Dia benar-benar anak yang bersemangat," ucap Miriam, Al tertawa dan itu membuat Miriam tersenyum lega.
.
~xXx~
.
"Memangnya siapa orang tua itu? Menyuruhku untuk ikut audisi dan menang? Memangnya gampang untuk menang!" gerutu Rin sepanjang perjalanannya.
Rin kini sedang berjalan entah kemana arah tujuannya, yang penting cepat menjauh dari orang aneh itu, pikir Rin. Ia terus berjalan sampai ke bukit belakang kampusnya.
"Hah? Kenapa aku bisa sampai di sini?" keluh Rin ketika ia menyadari sekitarnya. Ia menghela napas besar dan berjalan pelan.
"Ini semua salah guru gila itu. Seenaknya aja maksa orang buat kesenengan dia sendiri," gerutu Rin. Ia kemudian duduk di sebuah bangku taman yang ada di sana dan mulai memikirkan berbagai hal (yang sebenarnya tidak penting sih).
"Yahoo!" teriakan bebarengan dengan tepukan keras pada pundak Rin itu mengembalikannya ke kenyataan dengan paksa.
"ELAHBUSETDAHANIMEGUEKETELENKEBOIJO!" teriak Rin refleks karena kaget. Itu tadi latah apaan coba? Astaga.
Rin segera menolehkan kepalanya ke belakang dengan tatapan garang dan menemukan seorang alien berwarna kuning dari Mars yang merupakan orang yang paling tidak ingin ditemuinya untuk saat ini. Rin, kau terlalu over-reacting...
"Mau apa kau?" tanya Rin sinis, ia kembali memutar kepalanya dengan kesal. Sang 'Alien' yang ternyata adalah Len Kagamine tokoh utama kita tercinta pun menjawab dengan nada riang.
"Hanya mampir, lagian aku juga nggak tega dong, melihat seorang gadis manis dengan aura suram di tempat kesayanganku~" ucapan bernada main-main itu membuat empat siku-siku di kepala Rin bermunculan.
"Kalau nggak ikhlas ke sininya ya nggak usah ke sini." ucap Rin tegas, atau mungkin bisa disebut kasar?
"Kejem banget sih, padahal udah untung ditengokin." keluh Len dengan wajah kecewa, walaupun terlihat sekali kalau itu hanya dibuat-buat. Rin melirik Len dengan tajam.
"Nggak butuh, lagian sejak kapan kau jadi kayak gitu ngomongnya ke aku? Udah kayak kita temen lama aja," celoteh Rin, Len mengangkat kedua alisnya heran.
"Jadi aku harus bicara formal dengan pelayanku sendiri?" balas Len.
CTAK! Oh, urat marah Rin putus satu lagi rupanya.
"Tau' ah, bicara sama kamu itu sama kayak bicara dengan jangkrik, berisik!" cerca Rin yang sudah mulai muak melihat wajah dan tingkah laku Len. Len hanya terkikik, sepertinya ia sengaja menggoda Rin.
"Kau tidak bisa menyangkalnya 'kan? Kau memang pelayanku~" goda Len, ia mendekatkan wajahnya ke telinga Rin tanpa sepengetahuan sang empunya. Rin yang sudah geregetan menolehkan kepalanya dengan cepat untuk menghadap Len tanpa menyadari Len yang sedang mendekatkan bibirnya ke telinga Rin.
CUP!
Dan itulah yang terjadi saudara-saudara, bibir pink Rin yang lembut tidak sengaja menyentuh bibir Len yang sedang berada tepat di dekat telinganya. Mereka membatu sesaat, tidak ada yang bergerak ataupun berniat melepaskan ciuman—kecelakaan—mereka.
Rin yang kemudian diseret kembali ke kenyataan lebih dahulu dari Len pun segera mendorong Len sekuat tenaga agar menjauh darinya, yang menyebabkan pemuda itu tidak hanya mencium Rin tapi juga mencium tanah.
"Bodoh! Ecchi! Hentai!" teriak Rin, ia terus-terusan memukuli Len sampai pemuda tersebut kewalahan menanganinya.
"He-hei! Sakit! Oi!" protes Len, sayangnya Rin tidak mau mendengar protesan pemuda kuning tersebut.
.
~xXx~
.
"Hari ini Len nggak masuk ya?" tanya Kaito kepada Piko dan Rei yang sedang latihan bersama di ujung ruangan.
Piko yang menyadari suara Kaito itu segera menjawab, "Katanya dia absen hari ini,"
Kaito memutar kepalanya bosan, "Nggak ada Len nggak seru deh,"
"Jangan bertingkah kayak kamu baru aja ditinggal pacarmu gitulah, makin meningkatkan kesan maho-mu loh," ucap Rei yang menghentikan latihannya sejenak.
"Sial, aku masih normal." protes Kaito, Piko dan Rei mengangkat bahu dan melanjutkan latihan mereka tanpa membalas Kaito.
CKREK!
Suara pintu terbuka itu menarik perhatian Kaito, Piko, dan Rei. Mereka menoleh dengan serempak ke arah pintu dan menemukan Len yang berdiri di sana dengan memegangi lengan kirinya.
"Aduh, dasar perempuan bar-bar...," gerutu Len pelan, ia berjalan memasuki ruang musik modern itu dan duduk di salah satu kursi yang ada di sana.
Kaito, Piko, dan Rei yang dari tadi di ruangan itupun menatap Len heran. Tentu saja, siapa yang tidak heran kalau orang yang sedang absen tiba-tiba masuk dan duduk seakan di rumah sendiri sambil mengusap lengannya dan menggerutu tidak jelas?
"Ano, Len?" Rei membuka mulutnya. Len mengarahkan pandangannya ke pojok ruangan dan menemukan Piko dan Rei di sana.
"Ah? Ada apa?" tanya Len heran.
"Kupikir kamu absen hari ini," sahut Kaito dari belakang Len. Len menghela napas dan merenggangkan lengan krinya.
"Tadinya. Tapi aku ingat kalau ada keperluan sebentar, jadi aku ke sini." ucap Len. Ketiga temannya itu memiringkan kepala mereka heran.
"Keperluan?" ucap mereka bertiga bersamaan. Len mengangguk singkat dan bertanya, "Kalian mau latihan?"
"Oh iya!" seru Piko yang sepertinya baru mengingat tujuan awal mereka ada di ruangan ini.
.
~xXx~
.
"Ah, kemalaman 'kan..." keluh Rin, ia baru saja selesai mengerjakan hukuman dari dosennya karena tidak masuk kelas hari ini, dengan alasan yang tidak jelas pula.
"Yosh, sekarang tinggal ke ruang guru dan menaruh ini." ucap Rin pada dirinya sendiri. Ia melirik jam dinding yang ada di ruangan itu sekilas, dan tulisan 10.13 p.m telah terpampang di sana. Jam dinding ada yang digital ya?
Rin kemudian mengangkat kertas-kertas berisi penyesalannya itu dan mengambil tasnya, ia kemudian berjalan dan menutup pintu ruangan tersebut. Rin melihat sekelilingnya dan hanya menemukan kegelapan sejauh mata memandang. Tentu saja, siapa juga yang mau ada di kampus sampai larut seperti ini? Kecuali penjaga kampus kali ya.
"Ruang guru tuh dimana sih? Nggak ketemu-ketemu dari tadi," gerutu Rin, padahal ia baru melangkah beberapa kali. Kakinya mulai gemetaran dan bulu kuduknya meremang. Ia sebenarnya takut gelap, tapi kelihatannya dia berusaha menekan rasa takutnya dan terus melangkah.
"Kalau gini aku kayak uji nyali deh," gerutunya lagi, ia terus-terusan menggerutu sampai dia mendengar suara musik.
"Eh? Kok ada musik? Masa setan dengerin musik?" gumam Rin, tubuhnya mulai menjadi kaku. Ia bahkan mulai meremas kertas-kertas yang seharusnya akan dikumpulkannya itu. Rin mengambil napas dan menghembuskannya berulangkali, mencoba menenangkan jantungnya yang berdetak sepuluhribu kali lebih cepat dari biasanya, karena ketakutan sayangnya.
Rin mulai melangkah lagi, mencoba mengacuhkan musik-musik tersebut. Ia kembali menyusuri papan nama demi papan nama yang terpampang di atas pintu untuk menemukan sebuah papan nama dengan tulisan 'Ruang Guru'.
"Ah! Ketemu!" seru Rin saat menemukan sebuah pintu dengan papan nama bertuliskan 'Ruang Guru'. Rin segera membuka pintu ruangan tersebut dan meletakkan kertas-kertasnya di atas meja dosennya.
Segera saja Rin keluar dari ruangan gelap itu dan menutupnya rapat. Punggung Rin tiba-tiba mendingin, karena ia mendengar lagi musik-musik yang tadi sempat ia dengar. Ia menarik napas dalam dan membuangnya, tentu ia juga tidak ingin mati ketakutan di sini.
Rin menoleh ke kana dan ke kiri, berniat mengambil jalan yang sebaliknya agar tidak mendengar musik-musik aneh itu lagi. Rin mulai berpikir...
Jika ia mengambil jalan yang kanan, ia akan melewati sanggar tari, yang kemungkinan menjadi keberadaan musik-musik aneh itu. Dan jika ia memilih jalan yang kiri, ia tidak akan mendengar musik-musik aneh itu lagi. Sayangnya jalan yang paling dekat dengan pintu masuk adalah yang kanan, dan jika ia memilih jalan yang kiri, maka ia akan membuang-buang tenaga dan waktunya untuk memutar.
Jadi yang manakah yang harus ia pilih?
Rin kembali melihat ke kanan dan ke kiri, jika ia tidak cepat memutuskan, kakeknya bisa menghukumnya karena pulang kemalaman. Rin memejamkan kedua matanya dan menghembuskan napas kasar. Ia akhirnya memutuskan untuk memilih jalan yang kanan, setidaknya ia akan lebih menghemat waktu dan ia akan segera terbebas dari kegelapan kampusnya itu.
Rin berjalan dengan gemetar dan memegangi kedua bahunya. Hari sudah semakin malam, jadi wajar saja kalau suhunya semakin dingin. Bulu kuduk Rin kembali berdiri, suara musiknya semakin jelas. Semakin ia berjalan, semakin jelas pula musik yang didengarnya.
Rin semakin menegang ketika ia sudah mendekati sanggar tari, lampu di sana masih menyala. Berarti seharusnya masih ada orang di sana, tapi siapa juga yang betah di sini sampai malam begini?
Dengan takut-takut, akhirnya Rin mendekati pintu sanggar tersebut dan mengintip ke dalam. Dan terlihatlah sesosok bidadari berambut pink yang sedang menari ballet di sana. Ya, seorang Megurine Luka sedang menari ballet di sana.
"Uwaah, Megurine-sensei cantik banget waktu nari..." gumam Rin pelan, ia tentu saja tidak ingin mengagetkan salah satu dosen termudanya itu. Di samping rasa kagum, Rin juga sedikit merasakan ada sesuatu yang mengganjal di hatinya ... mungkin iri?
Tentu saja, siapa sih yang tidak iri jika melihat ada seseorang yang lebih dari dirimu? Sesabar-sabarnya, setabah-tabahnya, seikhlas-ikhlasnya kamu ... pasti kamu juga akan merasa sedikit tidak enak. Walaupun hanya sedikit.
"Aduh..." rintihan itu menglihkan perhatian Rin, ia kembali menemukan Luka sedang terbaring di lantai dan memegangi kakinya. Rin ingin sekali ke sana, tapi sebelum kakinya bergerak untuk maju, ada sebuah bayangan di sana yang menyebabkan Rin mundur lagi ke belakang.
"Kau tidak apa-apa?" tanya bayangan itu, atau mungkin bisa kita sebut dia Len. Ya, Len sedang ada di sana, dan sedang mengobati kaki Luka.
"Sudah kubilang 'kan? Aku tidak butuh perhatianmu." Ucap Luka ketus, ia menarik kakinya dari pegangan Len, dan mencoba untuk berdiri. Tapi sayang, sebelum Luka sempat berdiri, ia kembali terjatuh. Untung saja Len sudah terlebih dahulu menyangganya, jadi Luka belum sampai membentur lantai.
"Aku tahu, tapi aku mohon ... kali ini saja," pinta Len, Luka pun hanya terdian dan menuruti perkataan pemuda itu.
"Kagamine ... dan Megurine-sensei? Apa Kagamine menyukai Megurine-sensei?" gumam Rin, ia tidak bisa berkedip satu kalipun semenjak melihat kejadian tadi. Dan ia pun merasakan ada sesuatu yang mengusik hatinya, ia tak tahu apa itu, tapi yang jelas ... hal itu sangat menyakitkan.
GBA!~
Minnacchama~
Konnichi wa desu~~
APDET desu yo~~
setelah dua bulan berlalu...#dor
BTW, ini chapter tanpa cek ulang lho~
Jadi maap kalo ada typo desu, m(_ _)m
Yahh, ngga banyak yang bisa saia katain sih...
Jadi ea udahlah~
Bales review dulu desu wa~
Pertama dari Haccha May-chan!
Yahh, itu kenyataan na desu... ^^"
Salam kenal juga May-chan~
Panggil saia Chiao aja juga ngga papa, ngga usah sungkan~
Makasii desu, ini udah apdet~
Kedua dari Shiroi Karen!
Hahaha, mesum ... ya? *ngelirik Len*
Uda apdet desu~
Terus dari Alfianonymous22...
Iya, hiatus na lama... ^^"
Ada banyak faktor desu~
Ini uda apdet~~
Lagi buat billa neko
A-ahahaa, iya... maap apdet na lama desu...
Ini uda apdet kok tapi... w
Terus buat Reichan Hiyukeitashi
Untuk sekarang belum bisa kea na...
Tapi akan saia usahakan desu!~ ^w^
Buat djo...
Makasii desu, iya ini uda apdet~
Buat Harmione Rin...
Maap desu, saia emang ngga pernah terlepas dari typo... TAT#pundung
Makasii uda nyempetin review desu, ini uda apdet~
Terus buat BerlianaDeceiver0607...
Uda apdet~~
Buat Mikan chanX3!
Maap ya ampe karatan nunggunya, ini saia kasi kit biar karat na ketutupan#dor(lungomongapaseh)
Oke, ini uda apdet kok!
Terakhir buat Yuzumi Suzu'o!
Makasii desu, iya pendek-pendek... nggak tau harus nulis apa lagi #dor
Ini cerita tanpa skrip, tanpa ada gambaran gimana proses na, tapi entah kenapa saia uda tau gimana nanti endingnya#dor
Eah, pokok na ikutin terus aja yaw, ini dah apdet~
Oke, Minnacchama, ngga ada yang bisa saia ucapin lagi...
Sebener na sih, uda siap dari kemaren ini chapter...
Sayang kok SSL ffn saia error, jadi deh bari apdet hari ini... = =
Okeh, kalo gitu...
CU in next chap desu~ #dor
