Title : Happy End ga Matteiru
Chapter: 2/3
Disclaimer : Story belong to me, cast belong to God
Author: DaisyDaisuki
Cast : All ViViD's member
Rating: T
Genre: Romance, Hurt/Comfort, Gend-Bend (Iv as girl), M-Preg
Previously on Happy End ga Matteiru
Pemuda tampan dengan marga Kuriyama itu mengangguk dan beranjak dari duduknya. Mereka berjalan beriringan menuju ruangan tempat Reno berada. Pemuda itu tampan. Dengan garis wajah yang lembut dan tatapan sendu seolah tidak ingin berada di tempat ini. Rambutnya yang cokelat muda ditata sedemikian rupa hingga membuatnya terlihat rapi.
"Silahkan…." Ujar Rin mempersilahkan orang itu masuk. Ia membuka pintu dan mendapati Reno mendongak menatapnya dan Yukino yang duduk membelakanginya.
"R, Reno?!"
"K, kau?..."
.
.
.
.
Manik bronze Reno terpaku pada sosok Shin yang berdiri di ambang pintu. Sementara Yukino tanpa memandang pun ia juga tahu siapa yang baru saja tiba.
"Apa… Maksudnya?.." Tanya Shin menuntut penjelasan dari wanita tua itu.
"Tidak sopan sekali. Duduklah dulu." Cibirnya. Shin menghela nafas berat. Ia menggeser pintu yang ada di belakangnya dan duduk bersimpuh di hadapan Reno.
"Seperti yang sudah kau lihat, ini calon istrimu, Reno Yuuji." Lanjut wanita itu dengan nada datar.
"Chotto… Kupikir Yukino-sama akan menikahkanku dengan wanita." Protes Shin halus.
"Tidak ada yang berkata kalau kau akan menikah dengan wanita tulen. Tidak masalah bukan, selama Reno bisa menghasilkan keturunan. Ayahmu juga sudah setuju" Tepis Yukino santai.
Shin melirik ke arah Reno yang tampak bingung. Semua ini begitu tiba-tiba untuknya. Pemberitahuan tentang kematian Ayah-nya, lalu saat ini ia dituntut untuk menikahi sahabatnya sendiri. Ia tidak bisa membayangkan jika Iv tahu bahwa dialah yang akan menjadi pendamping hidup Shin.
"Aku tak menyangka bahwa kalian berdua ternyata saling kenal. Atau malah sudah dekat?" lanjut Yukino menyeruput teh-nya.
"Dia.. Adalah sahabatku sejak kelas 3 SMP." Jelas Shin menunduk.
"Nah, kalau begitu sudah tidak perlu ditangguhkan lagi. Karena kalian sudah saling mengenal dekat satu sama lain, aku putuskan pernikahan kalian akan dilaksanakn dua minggu dari sekarang."
Merasa bahwa urusannya dengan kedua pemuda itu sudah selesai, Yukino beranjak pergi. Meninggalkan keduanya berlarut dalam kebingunan dan kepanikan yang harus mereka bicarakan bersama.
"Apa yang sebenarnya terjadi?..." Tanya Reno entah pada siapa.
"Aku… Terpaksa menerima permintaan Ayah untuk menikahi anak temannya yang meninggal. Aku tidak tahu kalau yang Ayah maksud adalah kamu." jawab Shin memijit kepala.
Reno hanya diam. Mencoba mencerna semua yang baru saja diterima oleh otaknya sambil menstabilkan perasaanya yang amburadul. Pemuda cantik itu meremas ujung kemejanya, tampak bingung. Manik itu kini berpaling pada Shin seolah meminta belas kasihan.
"Reno.. Gomenasai… Aku sungguh tidak tahu apa-apa… Aku sendiri juga… Bingung…"
"Bagaimana dengan Iv?... Apa yang harus kita katakan padanya?.."
"Apa boleh buat, kita tidak punya solusi lain… Kita terpaksa berikatan menjadi sepasang suami-istri… Meski hanya sebatas status."
"Mudah untuk bicara, Shin… Pikirkan bagaimana Iv nantinya.. Aku benar-benar tidak tega.." balas Reno mulai menangis.
"…" Shin tampak berpikir keras, mencoba mencari jalan keluar.
"Begini saja… Kita buat komitmen." Usul Shin.
"Komiten.. Apa?.."
"Kau adalah sahabatku yang masih mencintai Ryoga yang juga sahabatku. Aku bersumpah tidak akan menyentuhmu seujung jari pun hingga anakmu lahir dan siap menerima kenyataan. Setelah itu, kita lepas. Menjalani kehidupan sendiri-sendiri bagaimana?" jelas Shin.
"Lepas?" tanya Reno reflek mengelus perutnya.
"Iya, kita juga akan tinggal ber-empat. Bersama dengan Iv dan Ko-ki. Nenek-mu tidak tahu bahwa Iv adalah kekasihku. Yah, jangan sampai tahu. Bagaimana?" balas Shin menepuk kepala Reno lembut.
"Baiklah.. Deal."
==X==
"U, uso… Kau harus menikah dengan Reno-chan?.." ulang Iv menutup mulutnya.
"Iya.. Gomen ne, Ivu.. Kami tidak punya pilihan lain.." jawab Reno menundukkan kepala.
"Kupikir pernikahan ini juga bisa menyembunyikan kehamilan Reno dengan dalih Shin-lah Ayah dari anak ini. Benar 'kan?"
"King… Tumben otakmu cepat menangkap.." Ejek Shin.
"A, apa?! Sialan…" umpat Ko-ki melempar boneka Mameshiba yang daritadi ia peluk.
"Ah… Itu punyaku!" seru Iv menjitak kepala Ko-ki.
Reno menatap sosok Iv yang berusaha menguatkan hati dengan beralih menjahili Ko-ki. Perempuan itu kuat. Begitulah batinnya bicara. Mereka akan selalu menyembunyikan perasaan mereka hanya demi membuat sekitarnya tersenyum.
"Ara, Reno? Kenapa senyum-senyum sendiri?" tanya Iv masih dengan posisi siap menghajar Ko-ki.
"Uhm, tidak apa-apa. Ivu wa tsuyoi desu!*" jawab Reno tersenyum lebar.
'K, KAWAIIIII~~~'batin ketiganya.
"Karena sekarang aku sudah mengerti situasinya, aku juga akan berusaha menjagamu! Dan bayi yang ada di kandunganmu tentunya." Ucap Iv ikut tersenyum.
'Yappari~ Aku tidak salah memilihmu sebagai pendamping hidupku yang sesungguhnya..'
.
.
.
Minggu pertama..
.
.
.
Seperti biasa, rutinitas Reno berlanjut. Bagun pagi, mandi, sarapan, memuntahkan isi perutnya, kemudian makan lagi. Namun apato yang sepi itu kini lebih hidup dengan kehadiran Iv dan Ko-ki yang datang menginap bersama. Singkat cerita, mereka saat ini tengah beberes untuk kepindahan Reno ke rumah yang sudah disiapkan oleh Yukino. Rumah itu terletak di pinggir kota yang sedikit lebih tenang daripada di tengah kota.
"Kuharap rumah yang nenek siapkan bisa membuatku nyaman." Ujar Reno memasukkan sebagian koleksi-nya ke dalam dus.
"Tetapi… Aku tidak mengira nenekmu akan semudah itu setuju dengan permintaan Shin untuk membawa kami tinggal bersama." Balas Ko-ki.
"Ng.. Sebenarnya Shin meminta tolong pada Gackt-san untuk mengatakannya. Berhubung Gackt-san orang yang berpengaruh dalam bisnis nenek, jadi mana bisa beliau menolaknya."
Sambil sedikit mengobrol, mereka mulai mengeluarkan isi lemari pakaian Reno dan memindahkannya ke dalam koper besar. Beruntung apato Reno tidak memiliki banyak barang. Semua barang-barang Ayah Reno sudah dipindahkan ke Korea, kecuali beberapa pakaian. Sisanya hanya koleksi benda-benda imut milik Reno yang sudah mereka masukkan ke dalam kardus.
.
.
.
Minggu kedua…
.
.
.
Reno memasuki rumah barunya. Rumah itu bergaya Jepang modern yang cukup luas. Dengan taman yang ditumbuhi pohon rindang dan beberapa tanaman lain yang menambah nilai estetika. Lima kamar tidur yang luas, satu kamar mandi lengkap dengan ofuro, dapur yang nyaman, juga ruang keluarga yang pas. Semua itu sudah bisa membuat keempat orang itu berdecak puas.
"Sasuga… Yukino-sama memang hebat." Komentar Shin meletakkan tasnya.
"Um… Perabotan sudah ditata.. Dan semua kardus sudah datang. Kerja mereka cepat." Balas Iv.
"Nee, Shin-kun~ Apa nenek-sama benar-benar tidak mempermasalahkan soal kita tinggal berempat?" Tanya Ko-ki memakan Pocky-nya.
'Nenek-sama?...' batin ketiganya sweatdrop.
"Yah.. Dari yang aku tebak, beliau tidak akan mempermasalahkan hal ini karena Ayahku yang meminta." Jawab Shin mengangkat bahu.
"Sejak kapan Gackt-san jadi pengertian? Kupikir selama ini kalian selalu bertengkar seperti anjing dan kucing." Balas Reno heran.
"Aku bercerita pada Ayah bahwa Reno sudah hamil satu bulan. Entah sejak saat itu beliau mengabulkan semua yang aku inginkan. Mungkin beliau merasa bersalah pada Iv."
"Eh? Padaku? Kenapa?"
"Itulah yang masih kucari alasannya. Padahal sebelumnya Ayah sangat menentang hubungan kita." jelas Shin mencium kening Iv lembut, membuat gadis dengan wajah babyface itu sukses blushing.
Reno menghela nafas memperhatikan sekelilingnya. Hanya dalam dua hari ia akan menjadi istri seseorang. Iv menepuk bahunya dan tanpa berkata apapun keempatnya mulai membereskan barang-barang.
.
.
.
== Ceremonial Day ==
.
.
.
"Reno-kun…" panggil seorang wanita paruh baya berambut hitam sepinggang.
"Ah.. Chiaki-san.." balas Reno membalikkan badan. Chiaki tersenyum melihat pantulan sosok Hizaki yang ada dalam diri Reno. Perempuan itu berjalan mendekat dan menyuruh Reno tetap duduk di tempatnya.
"Bagaimana, pakaiannya? Apa pas di tubuhmu?" Tanyanya lembut sambil menepuk bahu Reno yang tidak tertutup apapun.
"Kalau boleh saya bilang.. Saya terlihat aneh memakai gaun ini." jawab Reno menatap bayangannya yang memakai wedding dress putih di depan cermin.
"Gomenasai, Reno-kun… Gaun ini Yukino-san sendiri yang memilihkan. Andaikan tante boleh memilih tante akan memilihkanmu jas putih yang elegan. Tetapi.. Reno-kun juga cantik, cocok memakai gaun ini. Mirip Hizaki-san.." Balas Chiaki tersenyum sumingrah.
"Hontou? Arigato, Chiaki-san."
Tangan berhiaskan gelang perak itu lalu mengambil hairpin berbentuk ornamen salju dengan mutiara dan permata yang menghiasinya. Chiaki memasangkan hairpin itu di atas telinga kanan Reno, di dekat pelipisnya. Sekarang rambut cokelat lembut itu tak lagi sepi. Chiaki memandangnya puas.
.
.
.
==x==
.
.
.
Iv menggigit bibir saat Reno dan Shin diharuskan untuk berciuman. Ia tahu semua itu hanya akting. Toh Reno juga laki-laki sama seperti Shin. Dan Iv yakin bahwa Shin hanya mencintai dirinya seorang. Setelah upacara sakral yang hanya dihadiri oleh keluarga terdekat itu selesai, keduanya pun kembali ke rumah. Tentu saja bersama dengan Iv dan Ko-ki.
"Nyaaa~ panas sekali!" seru Ko-ki membuka dua kancing teratas kemeja hitamnya.
"Mau kubuatkan sesuatu?" tawar Reno yang sudah mengganti bajunya dengan T-shirt putih polos.
"Kalau boleh es kopi.." balas Shin lemas.
"Aku juga akan membantu~" seru Iv menyusul Reno.
.
.
.
Several month later
.
.
.
"A, APA?! A, anaknya Reno kembar?!" pekik Iv senang.
Ko-ki yang asyik membaca koran menoleh, mendapati Iv sedang bertelepon-ria entah dengan siapa. Begitu Iv menutup panggilan di ponselnya, sontak Ko-ki berlari menerjang gadis yang menjadi mahasiswi semester 7 di universitas terkenal di Tokyo itu.
"Kenapa? Kenapa? Tadi telepon dari siapa? Apanya yang kembar? Reno kenapa?" tanya Ko-ki bertubi-tubi.
"King~ Umurmu berapa sih masih seperti anak kecil." Balas Iv menyentil dahi Ko-ki.
"Apanya yang anak kecil?! Ivu juga lebih muda tiga tahun dibanding Shin." Protes Ko-ki mengelus dahinya.
"Tidak usah dibahas!"
"By the way, kau belum menjawab pertanyaanku…"
"E, eh yah.. Tadi itu telepon dari Shin. Karena usia kandungan Reno sudah 7 bulan jadi mereka memeriksakannya. Dan baru saja mereka diberitahu bahwa anak di kandungan Reno kembar~" jelas Iv tersenyum lebar.
"Hoo.. Pantas saja baru umur 4 bulan kandungannya sudah besar sekali, ternyata isinya dua, Shishishi~" balas Ko-ki tertawa kecil.
"Katanya anaknya laki-laki semua.. Aku tidak sabar."
"Kalau sudah lahir, kamu bakal jadi tante mereka loh… TANTE IVU~~~" Ejek Ko-ki.
'CTIK'
"KIIINGGG!"
"WUAAAA!"
==x==
Kandungan Reno saat ini memasuki bulan ke delapan. Bisa dibilang kedua bayinya sudah hampir siap bertemu dengan dunia dan berkenalan dengan Ibu mereka. Aktifitas di perut buncit itu pun meningkat. Sesekali Reno tertawa geli, bahkan tidak jarang merintih kesakitan karena si kembar begitu aktif.
Kalau biasanya ibu hamil pada umumnya mengalami masa-masa ngidam alias selalu menginginkan sesuatu, lain halnya dengan Reno. Reno hampir tidak pernah meminta aneh-aneh. Sejauh ini hal unik yang pernah ia minta hanya di ajak ke kebun binatang hanya untuk mengelus jerapah dan kuda poni. Di luar itu nafsu makannya justru bertambah. Mungkin karena Reno bukan wanita sepenuhnya.
"Senang ya.. Bisa punya anak." Ujar Iv mengelus perut Reno.
"Ivu.. Maaf.." balas Reno tidak enak.
"Un~! Daijobu, Reno-chan! Pokoknya kalau sudah lahir nanti aku juga mau mengasuh mereka. Boleh? Hanya sampai mereka mengerti tentang keadaan Ayah dan Ibunya…"
Reno memandangi calon bayinya lekat-lekat. Dalam hati kecilnya ia merasa bersalah harus melibatkan kedua putranya dalam masalah. Reno bertekad, jika Ryoga sama sekali tidak menyadari bahwa kedua anak ini adalah darah dagingnya, Reno sendirilah yang akan merawat mereka. Dengan atau tanpa bantuan Shin.
"Apa.. Ada sesuatu yang kau pikirkan?" tanya Iv khawatir.
"Ah, tidak ada Ivu~ Aku baik-baik saja." Jawab Reno tersenyum sekilas.
"Reno-chan.. Setelah kau dan Shin berpisah.. Siapa yang akan merawatmu dan kedua anak-mu?" tanya Iv.
"Soal itu… Aku akan melepas marga Yuuji maupun Kuriyama. Aku akan mengambil nama gadis ibuku dan hidup bebas. Masalah siapa yang merawat si kembar, tentu saja aku yang merawat mereka." Jawab Reno mantap.
"Reno-chan.. Maafkan aku.. Hanya karena keegoisanku−"
"Ivu tidak salah kok.. Akulah yang merasa bersalah sudah mengambil Shin darimu.." potong Reno. Tanpa bisa membalas apapun lagi, Iv memeluk Reno hangat. Cukup membuat pemuda cantik itu nyaman.
'Tok tok tok'
"Ah, itu pasti Ko-ki dan Shin. Aku lupa tadi tidak sengaja mengunci pintu depan." Ujar Reno sambil berdiri dari duduknya.
"Biar aku yang membuka pintu, Reno-chan duduk saja."
Reno akhirnya menurut dan tetap duduk di sofa, membiarkan Iv menjemput Shin dan Ko-ki. Ia bisa mendengar suara kunci terbuka dan langkah kaki mendekat, bersamaan dengan suara orang bercakap-cakap. Sepertinya obrolan mereka seru, karena Ko-ki terdengar menggebu-gebu.
"Ngh… Ittai.." Keluh Reno memegangi perutnya yang cukup besar.
"B, basah?.." bisik Reno menyadari sekitar selangkangannya menjadi basah.
"Tadai− RENO! A, AIR KETUBANMU PECAH!" pekik Ko-ki menunjuk-nunjuk cairan keruh yang turun membasahi paha Reno.
"Cepat bawa ke rumah sakit!" panik Iv.
Shin yang baru saja pulang kerja langsung berlari keluar untuk menyalakan mobil, sementara Ko-ki dan Iv membantu Reno berdiri dan memapahnya masuk kendaran beroda empat itu. Reno berusaha tidak panik dan menahan rasa sakit yang luar biasa.
Lima belas menit berkendara, mereka sampai di rumah sakit terdekat. Reno langsung dilarikan ke ruang persalinan. Dokter pribadi mereka, Aoi-sensei langsung datang untuk menangani Reno. Kinerja Aoi sedikit terhambat mengingat Reno memiliki genital ganda.
"B,bagaimana dok?" tanya Shin tampak cemas.
"Tidak terlalu mengkhawatirkan. Hanya saja lingkar panggul Kuriyama-san terlalu sempit untuk menjadi jalan keluar kedua bayi ini. Terpaksa kami melakukan tindak operasi. Saya hanya perlu meminta persetujuan dari pihak keluarga. Bagaimana?" Jelas Aoi sambil membetulkan letak kacamata tipisnya.
"Baiklah, saya mohon tolonglah Istri dan anak saya." Balas Shin membungkukan badan.
"Akan kami usahakan yang terbaik."
Akhirnya malam itu Ko-ki, Shin, dan Iv tidak pulang ke rumah. Mereka menunggui Reno yang sedang berjuang di alam bawah sadarnya. Selama sekitar 45 menit menunggu, suara tangis bayi pertama Reno terdengar, lima menit berikutnya menyusul bayi kedua.
"Selamat, Kuriyama-san! Dua-duanya laki-laki sehat." Ucap seorang perawat yang memanggil Shin.
"Heee~ yokattaaaa!" balas Ko-ki sumingrah.
"Reno-san akan dipindahkan ke ruang perawatan di lantai dua, silahkan ikut dengan saya untuk mengurus administrasi." Ucap perawat itu tersenyum.
"Baiklah. Aku titip 'mereka' sebentar ya, Iv, King." Pamit Shin melambaikan tangan.
"Um! Serahkan pada kami~"
"Hm~ Shin kelihatan senang sekali.." komentar Iv.
"Ivu-chan.. Iri ya?" balas Ko-ki.
"E, eh.. Yah.. Sedikit sih.."
"Bersabarlah sedikit lagi, Ivu-chan. Ganbatte ne!"
.
.
.
"Sudah menemukan nama untuk mereka?" Tanya Shin mengupas apel.
"Sebenarnya aku sudah terpikir dua nama.. Tetapi aku tidak tahu kau akan menyukainya atau tidak." Jawab Reno menatap langit cerah musim dingin.
"Kenapa harus memikirkanku, Reno. Mereka anakmu dan Ryoga. Pikirkan saja nama yang terbaik." Balas Shin tersenyum lembut.
"Benarkah?.. Aku ingin menamai mereka Hiro dan Yoshi. Kawaii dayo ne?"
'GREK'
"Ohayo~ Kalian sedang membicarakan apa?" sapa Iv riang.
"Nama, Reno sudah memberi nama anak kembarnya." Jawab Shin mencium pipi Iv sekilas.
"Oh ya? Siapa, siapa?" timpal Ko-ki sambil meletakkan buntalan selimut berwarna biru di atas kursi kamar inap Reno.
"Hiro dan Yoshi."
"Hiro Kuriyama dan Yoshi Kuriyama. Not bad."
"Not bad apanya! Itu nama yang bagus tahu.." balas Iv.
"Kalau begitu, mana si kembar? Kita belum bertemu dengannya sejak Reno membawa mereka ke dunia." Tanya Ko-ki.
"Mereka masih dirawat intensif. Reno tidak bisa menghasilkan ASI, karena itu mereka masih butuh dirawat oleh tim dokter." Jelas Shin meletakkan sepiring apel di meja.
"Sou ka.. Pokoknya, selamat ya, Reno-chan!" ucap Iv memeluk Reno hangat.
"Arigato, minna." Balas pemuda cantik itu tersenyum tulus.
.
.
.
TBC
A/N : Hanya penjelasan kecil, di sini yang paling tua Shin, Ryoga, dan Reno. Masing-masing umurnya 24 tahun, sedangkan Iv dan Ko-ki lebih muda tiga tahun dari mereka =]
*Ivu kuat ya!
Balesan review :
Kazamatsu : Sankyu sudah mau mampir baca apalagi di review ='] ini sudah lanjut xD Ayo baca lagi xD *persuasif*
Kumiko29 : Sepertinya aku selalu ditunggu oleh dikau mwahahah ='] terima kasih sekali sudah baca fanfic-ku x') wkwkwk aku juga sebenernya agak susah bikin Iv berotot jadi cute gitu wkwkwk =Dv
Terima kasih buat yang sudah membaca, baik yang silent readers maupun sudah review aku senang sekalii x'D You're my spirit guys =']
