The 48th Grave
.
Disclaimer:
Yasushi Akimoto, Satelight.
.
Mereka semua sedang bersiap-siap untuk menghadiri upacara pemakaman Sae.
"Jadi, kita akan pergi ke sana?"tanya Makoto polos.
"Ya iyalah, bodoh! Kalau kita tidak pergi ke sana, Sae mau dikubur di mana?!"bentak Yuuko dengan sadis.
"Tidak.. Aku takut..."ucap Makoto dengan pasrah.
"Hei Makoto! Bisakah kau menjadi sedikit memberanikan diri saat ini?! Kalau kau tidak mau pergi ke sana, itu berarti kau tidak menghormati seniormu! Dan itu berarti kau tidak setia pada 00!"bentak Yuuko lagi dengan sangat.. (isi sendiri)
"Huuh... Okelah, Yuuko-san.. Tapi... untuk kali ini saja..."jawab Makoto dengan pelan sambil merinding.
"Kalau upacaranya sudah selesai, aku ingin meneliti sesuatu.."ucap Chieri.
"Meneliti? Meneliti apa?"tanya Nagisa keheranan.
"Nanti kau juga akan tahu sendiri..."jawab Chieri.
"Hoi, Chieri! Jika kau ingin meneliti, sebaiknya ajak kami!"usul Yuuko.
Chieri berpikir sejenak, lalu ia mengangguk.
"Ah, aku takut.."gumam Makoto.
Yuuko dengan secepat kilat, menghardik Makoto dan membuatnya bergidik.
".. Okelah Yuuko-san..."bisik Makoto pelan.
"Sudah siap semua?"teriak Tsubasa-san tiba-tiba.
"Sudah, Tsubasa-san!"
"Baiklah. Ayo pergi!"
.
.
In the Cemetery...
"Semoga, Youko Asamiya, atau Sae Miyazawa 10th bisa tenang di alam sana.."ucap seorang yang sudah ditugaskan untuk memimpin acara pemakaman itu.
"Sae..."Sayaka masih saja berduka.
Chieri, Nagisa, Kanata, Takamina, dan Yuuko menatap sekeliling pekuburan itu.
"Hebat.. Semua model nisannya sama... Tidak ada bedanya, dan, diatasnya ada nomor.."kata Chieri pelan.
"Mungkinkah itu, nomor nisannya?"tanya Nagisa.
"Aku tidak tahu, tapi mungkin itu benar. Nisan-nisan ini berjajar lurus dari ujung sana, dan, nomornya berurut. Mungkin saja itu benar.."jawab Chieri.
"Oke, Tsubasa-san, kami minta izin dulu sebentar untuk mengelilingi pekuburan ini, boleh?"
"Tentu boleh, tapi hati-hati. Aku akan menunggu kalian."jawab Tsubasa-san.
"Ayo, kita pergi!"ajak Kanata.
.
.
Mereka melakukan perjalanan. Pekuburan itu lumayan luas. Chieri, Yuuko, Kanata, dan Nagisa memimpin para member dan kenkyusei waktu berkeliling.
"Hhh... Aku takut..."gumam Makoto dari tadi.
"BERANI SEDIKIT, BISA TIDAK?! HAH?!"amarah Yuuko mulai membara.
Makoto pun menunduk dan membisu. Ia takut jika Yuuko marah sekali lagi, bisa-bisa cepat tua Yuuko-nya.
Hening sejenak.
.
"Hei, Nagisa, kenapa tiba-tiba ada kabut di sini? Padahal tadi kan hari masih cerah..."ucap Chieri.
"Aku tidak tahu.."jawab Nagisa.
.
Di sisi lain, Yuuko merasa kalau Makoto sudah berani untuk bersama dengan mereka selama meneliti ini. Jadi, Yuuko berniat untuk minta maaf karena amarahnya tadi.
Yuuko pun membalikkan badannya, tetapi..
"Eh.. Makoto, aku mau minta ma—"
Semuanya sunyi senyap, tidak ada orang di belakang mereka. Di sana hanya tersisa Chieri, Kanata, Nagisa, dan dirinya sendiri.
"Eh? Nagisa! Kanata! Chieri! Lihat! Mereka semua menghilang!"sahut Yuuko panik.
Mendengar sahutan Yuuko, Nagisa, Chieri, dan Kanata serentak menoleh ke belakang.
"HAH?! Di mana mereka semua?!"Kanata mulai panik juga.
"A..aku tidak tahu...!"
"Takamina! Kojiharu! Yuuka!"teriak Kanata.
Mereka pun mulai mencari teman-teman mereka yang lain.
"Ahk.."
Mereka berempat mulai merasakan sesuatu.
"Kenapa ini..? Kenapa aku merasa m..mengantuk..?"tanya Nagisa lemas.
"Ah... aku.. juga..."jawab Yuuko lesu.
"Tidak.. Jangan mengantuk! Kita.. harus.. menem..ukan.. mereka...dahulu..."sahut Chieri.
Mereka semua mulai lemas, oyong, dan akhirnya..
BRUK!
Mereka berempat jatuh di tempat.
.
.
"Hhh.."
Nagisa dan Chieri mencoba untuk membuka mata mereka.
"Nagisa! Chieri..!"teriak seseorang.
Mereka berdua akhirnya membuka mata dengan total. Tapi, apa ini? Semuanya tampak putih! Mereka berdua melayang-layang di sebuah ruangan, sekelilingnya putih.
"C..Chieri.. Kau lihat pemandangan ini..?"tanya Nagisa gugup.
"A..Nagisa... Aku melihatnya.."jawab Chieri.
"Nagisa! Chieri..!"
"Ah, ada yang memanggil nama kita.."kata Chieri.
"Aku mendengarnya. Tapi siapa? Tidak ada orang di sini selain kita!"balas Nagisa.
"Nagisa..! Chieri..! Aku Sae..!"
"Wha... Apa?! Sae?!"Chieri dan Nagisa terkejut.
"Ya, aku Sae..! Aku ingin memberitahu sesuatu pada kalian berdua...! Yang akan menempati nisan ke-48 berada di antara kalian... kenkyusei.."
"A..apa itu..benar?! Katakan siapa yang akan jadi korban selanjutnya!"teriak Chieri.
"Aku tidak bisa...! Waktuku sudah habis..! Aku harus pergi sekarang... Aku mengingatkan kalian agar selalu berjaga-jaga..!"
"Sae! Tunggu! Sae...!"teriak Nagisa dan Chieri bersamaan.
.
.
"Hhh... Sae...! Tunggu Sae...! Katakan pada kami siapa yang menjadi korban selanjutnya..."Nagisa dan Chieri tidak henti-henti meneriakkan kata-kata yang sama.
"Ah, Chieri! Nagisa! Sadarlah..!"ucap Yuuka sambil menepuk-nepuk pipi mereka berdua.
"AHK!"
Nagisa dan Chieri terbangun dari mimpi buruk mereka. "Huh... Ternyata Cuma mimpi.."ucap Chieri lega.
"Tapi kami sangat khawatir karena kalian berteriak-teriak dari tadi..! Kami khawatir, tahu!"balas Orine.
"Tunggu sebentar. Kalian lama sekali sadar... Apa yang kalian lihat di mimpi itu?"tanya Kanata.
"Hh.. Kami melihat Sae, dan dia memberi suatu pesan pada kita semua.."
"Sae?! Pesan?!"sahut Yuuko.
"Katakan apa itu!"ucap Sayaka.
"Sae mengatakan bahwa.."
"Bahwa apa?!"
"Bahwa korban selanjutnya, alias yang akan menempati nisan ke-48 berasal dari.."
"Dari apa?!"
"Kenkyusei.."jawab Nagisa pelan.
"APA?!"
"Ya.. Dia hanya mengatakan itu, lalu dia menghilang.. Dan kami sadar.."balas Chieri.
"Para kenkyusei, berhati-hatilah..!"kata Takamina.
"Oke!"
"Nah sekarang aku mau tanya. Kenapa kalian bisa menghilang sewaktu kita tadi meneliti ke Pekuburan?"tanya Nagisa.
"Ah, aku baru mau bilang itu tadi! Aku jelaskan.. Waktu itu kan berkabut, jadi, pada saat yang sama, mata kami serasa kemasukan sesuatu seperti debu. Ya jadi kami menutup dan mengusap mata kami. Tau-tau setelah buka mata, kami sudah di ruang kamar masing-masing.."jawab Yuuka panjang lebar.
"Hah.. Itu sangat aneh.."gumam Chieri.
"Ya benar..!"susul Orine.
"Sudah. Yang penting kita harus menjaga diri baik-baik! Baik member maupun kenkyusei! Walaupun kenkyusei yang ditargetkan, para member juga harus menjaga diri! Kita harus siap menghadapi segala rintangan yang ada di hadapan kita! Setuju?"tutur Takamina.
"SETUJU!"
