The 48th Grave

Disclaimer:

Yasushi Akimoto, Satelight


Reply for Review:

Momoka Mayuyu : ahaha iya, maaf ya, karena waktu nulis fanfic ini pikiran lagi kacau ._. lagipula aku masih beginner :v . Terima kasih untuk review-nya! ^^


.

Sampailah mereka di Pekuburan itu.

"Ayo Chieri.. Tunjukkan jalannya."ucap Nagisa.

Chieri mengangguk, dan berusaha untuk mengingat mimpinya tadi.

"Kita harus berpencar.. Pergi ke sudut-sudut tempat ini. Dan, salah satu sudutnya akan jebol.."kata Chieri.

Mereka berpencar seperti yang dikatakan Chieri. Nagisa ke sudut barat daya, Kanata ke sudut barat laut, Yuuko ke arah timur laut, dan Takamina di arah tenggara.

Chieri masih saja berkonsentrasi untuk mengingat semuanya. Dan tiba-tiba..

"Ah, Tenggara!"teriakan Chieri dapat didengar oleh semua temannya yang sudah berada di sudut masing-masing.

"TENGGARA?!"sahut yang lainnya.

"AAH!"suara jeritan muncul dari arah tenggara.

"Eh, itu pasti Takamina!"ucap Yuuko panik.

"TAKAMINA –SAN!"teriak Nagisa, Chieri, dan Kanata.

"Kita susul dia!"ajak Chieri.

Mereka menurut dan berlari. Sampai di sudut tenggara..

"WAAK!"

Mereka jatuh ke dalam sebuah lubang yang sangat dalam.

.

In Dorm...

.

"Huh, mereka kenapa lama sekali..?"ucap Mariko khawatir.

"Mungkin mereka sudah dimakan...oleh hantu..?"Makoto mulai berpikiran negatif.

"Ei Makoto, jangan bicara seenaknya!"tegur Yuuka.

"Tidak mungkin.."Sonata mulai nangis (?) karena mendengar perkataan Makoto.

"Lihat tuh, Sonata jadi nangis kan!"kata Yuuka.

"Sudahlah Sonata, mereka pasti akan kembali..!"hibur Orine.

.

Back to the Cemetery (wrong, at the Mysterious Hole -_- )

.

*BRAK!*

"Auh..! Pinggangku.."keluh Chieri.

"Bukan hanya pinggangmu! Pinggang kita semua (?) !"sahut Yuuko sedikit merintih.

"Hhh.. Ayo, kita susuri terowongan ini.."ajak Kanata.

Mereka berusaha berdiri meskipun dengan keadaan yang memprihatinkan.

30 menit kemudian..

.

"Huah.. Jauh sekali ujungnya ini!"keluh Yuuko.

"Sabar Yuuko-san.."kata Nagisa. Yuuko dan Nagisa pun mulai bercakap-cakap tentang apa saja, IDC :v .

"..."Takamina hanya bisa diam saja mendengar percakapan dari Yuuko dan Nagisa yang menurutnya sangat membosankan(?). Tiba-tiba, kaki Takamina seperti menekan sesuatu.

"Eh?"

"Ada apa Takamina-san?"tanya Kanata.

*RRRRRRRRRR*

Ada suara gemuruh.

"Kenapa ini? Suara apa itu?!"Yuuko panic mode : on.

"Tak tahu.."jawab Chieri.

Suara itu semakin keras dan dekat.

Mereka pun menoleh ke belakang, dan..

"HWAHAHAHAHA!"

"AAAA!"

Ada sebuah sesuatu yang sangat-sangat mengejutkan mereka sehingga mereka lari. Baik. Sesuatu itu sering disangkut pautkan dengan horror dan dianggap mempunyai tampang yang sangat menyeramkan. Sesuatu itu sedang mengejar Takamina dkk. Sudah tahu sesuatu itu apa? (now, look. Sesuatu itu sedang ada di belakang kalian yang membaca fanfic ini.)

Mereka berlari, berlari, dan berlari sampai mereka masuk lagi ke sebuah lubang.

Jatuh lagi..

*BRAK!*

"AKU AKAN MATI JIKA PINGGANGKU HARUS DIGINIKAN!"bentak Yuuko sekeras-kerasnya.

"Kau kira pinggangmu saja?! PINGGANG KAMI JUGA!"sekarang Chieri membalas perkataan Yuuko sebelumnya.

"Huh sudah. Yang penting kita bisa selamat dari sesuatu itu."Kanata sang pelerai memulai aksinya.

"Apa ini?"Takamina melihat tangannya sudah dilumuri sesuatu.

Hijau, dan bercampur darah. "Yiks!"Takamina kejijikan dengan benda itu ditangannya.

"Takamina-san, ayo kita pergi.. Kita lanjutkan perjalanan.."ajak Kanata sambil mengulurkan tangannya.

"Eh, Kanata.. Nanti tanganmu kotor.. Tidak usah bantu aku.."Takamina menolak uluran tangan Kanata.

"Ayolah, Takamina-san!"Kanata tetap bersikeras untuk menolong kapten kesayangannya itu.

Takamina tidak bisa menolak lagi, takut hati Kanata sedih. Jadi ia menerima uluran tangan Kanata, dengan tangan yang berlumuran benda yang menjijikan.

Mereka melanjutkan perjalanan.

Terdengar suara dari kejauhan. "Hhh... Apa itu? Jangan-jangan... Hantu lagi...?"kata Yuuko.

"Kita harus telusuri..."jawab Nagisa dengan lantang.

Mereka pun berjalan terus, terus, dan terus. Sampai..

"WAKK!"

Di depan mereka ada beberapa makhluk. Tampangnya buruk, tidak mempunyai kaki, dan memegang sebuah ranting kayu yang kecil. Dan makhluk-makhluk itu (sebut saja Skeleton) menatap keempat orang tersebut.

"JHBSDJSDS !"

Salah satu Skeleton yang paling besar berteriak dengan bahasa aneh, dan Skeleton-skeleton lainnya berlari menuju Nagisa, Kanata, Takamina, Yuuko, dan Chieri.

"MENGHINDAR!"teriak Takamina.

Mereka diserang oleh skeleton itu. Mereka hanya bisa menghindar saja. Mereka tidak tahu bagaimana cara untuk menyerang mereka.

Seketika, Nagisa tidak sengaja melihat beberapa pedang yang dipajang di dinding terowongan itu.

Nagisa segera bertindak, tetapi secara tiba-tiba dia diserang oleh banyak kawanan skeleton.

"Ungh.. KANATA! AMBIL PEDANG ITU!"teriak Nagisa sambil menunjuk ke arah pedang itu.

Kanata segera berusaha untuk meraih pedang itu.

"Yes! Dapat 5! Cukup untuk kita! Takamina-san! Tangkap!"sahut Kanata.

"Yuuko-san! Ambil ini!"

"Nagisa!"

"Chieri!"

Yap, mereka sudah bersenjata sekarang.

*SING!*

Peperangan sengit terjadi. Lima lawan seratus. Mereka masih terus berperang.

.

.

"AHK..!"

Chieri ditikam oleh salah satu skeleton.

"CHIERI!"

Chieri tergeletak di lantai itu. Lemah, tak berdaya.

Nagisa segera menyerang semua rintangan yang menghalanginya. Dan ia pun menemui tubuh Chieri dan memeluknya.

"C..Chieri.. Jangan tinggalkan kami..."Nagisa menitikkan air matanya.

Tidak ada jawaban, yang ada hanya suara ricuh dari peperangan yang terjadi.

"CHIERII!"

Teriakan itu membuat suasana di sana menjadi hening.

Nagisa berdiri, dengan muka tertunduk, dan mengangkat pedangnya.

"AKAN KUBUNUH KALIAN SEMUA!"Nagisa mulai ganas.

Suara ricuh kembali muncul. Suara pedang bersentuhan di mana-mana.

"Chieri adalah nisan ke-48..."itu perkataan yang ada di benak Nagisa. (Tapi mungkin dia salah..)

"Ah!"

Yak, teriakan itu dari Yuuko. Yuuko menjadi korban selanjutnya.

"Yuuko-san!"teriak Kanata dan Nagisa.

"Agh!"

Takamina pun gugur.

"Tidak.. TAKAMINA-SAN!"sekarang giliran Kanata yang menjerit.

"Nagisa..! Kita harus membunuh mereka semua demi dendam mereka bertiga!"ucap Kanata tersendat-sendat sambil menahan tangis.

Nagisa mengangguk.

.

.

5 menit kemudian..

"Ah.. Hhh.."

Kanata ditusuk oleh ranting skeleton itu.

"Kanata..! Tidak!"

*ZLEB*

Nagisa, akhirnya, dia gugur dari pertempuran.

.

.

.

"Hhh.."

Nagisa membuka matanya. Kali ini pemandangannya sangat beda dengan arena pertempuran tadi. Di sampingnya berderet tubuh teman-temannya yang ikut perang tadi, yaitu Kanata, Takamina, Yuuko, dan Chieri.

"Kalian sudah sadar?"tanya seseorang yang bermuka tidak jelas, karena penglihatan Nagisa masih rabun, belum total.

"Hhh.. Di mana ini...?"tanya Nagisa pelan dan lemas.

"Kalian akan mengetahuinya sendiri.."

Tiba-tiba, Nagisa merasa oyong, dan, ia pingsan lagi.

.

.

.


To Be the Next Chapter..!

Mohon kritik & saran!