The 48th Grave
Disclaimer:
Yasushi Akimoto, Satelight
.
.
"..."
.
Nagisa's POV
.
.
Aku berusaha untuk membuka mataku, tapi aku tidak bisa melakukannya. Apa yang telah terjadi..?
Semuanya hitam. Aku merasa bahwa aku sebenarnya sudah sadar, tetapi aku tidak bisa membuka mataku..
*TAP* *TAP* *TAP* *TAP*
Aku mendengar suara langkah kaki seseorang. Suara itu lama kelamaan semakin mendekat, dan mendekat.
Aku akhirnya melihat sosok seseorang di gelap gulita itu.
"Motomiya Nagisa..."orang itu memanggil namaku!
"Hhh... S..siapa kau?! Kenapa kau tahu namaku?"tanyaku pada orang misterius itu.
"Aku hanya ingin memberitahu sesuatu.. Kalian akan menghadapi perang yang besar. Kalian harus bersiap-siap.."
"Hah..? P..perang..? Uhn... Aku ingin menanyakan sesuatu padamu.."
"Apa itu?"
"Siapa yang akan menempati nisan ke-48..?"aku bertanya kembali padanya.
"Nisan ke-48, adalah.."
Hatiku berdegup keras. Aku sangat-sangat penasaran siapa yang akan menjadi korban selanjutnya. Nama Chieri terlintas di pikiranku.
"Motomiya Nagisa."
"..."
Aku sangat terkejut. Aku tidak mengerti.. Jangan-jangan..
"... Apakah aku yang akan menempati..nisan..ke-48...?"
"Ya."
Jawaban singkatnya sangat membuatku sedih, lega, terkejut, gelisah, semuanya bercampur aduk dalam suatu perasaan yang sulit diungkapkan.
"Tapi.."orang itu membalas lagi.
"Tapi apa?"
Sebelum dia menjawabnya, aku sudah tidak melihatnya lagi...
[end of POV]
.
.
.
"Nagisa..! Nagisa...!"
"Hhh.."
Nagisa sudah membuka matanya. Ia melihat Orine didepannya, beserta dengan kenkyusei dan member.
"I..ini di mana..?"tanya Nagisa terbata-bata.
"Kalian ada di rumah sakit. Kalian tadi ada di pinggir jalan dengan keadaan luka yang cukup parah. Tapi ajaib, luka itu sekarang sudah mulai membaik dengan waktu yang cepat."jawab seorang perawat yang ada di sana.
"Luka..? Oh.. Peperangan yang tadi.."gumam Nagisa.
Nagisa terdiam sejenak. Lalu ia melirik ke samping kanannya.
"K..Kanata? Takamina-san? Yuuko-san? Chieri?!"
"Hei Nagisa.. Kami sudah sadar dari tadi! Kenapa kau lama sekali siuman?"tanya Yuuko.
"Nanti aku ceritakan. Ngomong-ngomong, Chieri, apakah kau masih hidup?"tanya Nagisa kembali.
"Ya aku masih hidup.. Tapi masih agak nyeri di bagian yang terkena tikaman itu.."jawab Chieri sambil mengacungkan jempolnya.
"Syukurlah kalian semua baik-baik saja.."ucap Nagisa lega.
"Sebenarnya apa yang terjadi dengan kalian semua?"tanya Sayaka keheranan.
"Kami menemukan beberapa monster di bawah tanah.. Dan kami melawan mereka. Tetapi kami gugur, dan tiba-tiba kami sudah di sini ketika kami sadar..."jelas Kanata.
"Tapi tunggu. Arenanya kan di bawah tanah.. Kenapa suster itu bilang kita ditemukan di pinggir jalan?"Takamina keheranan.
"Iya ya.."balas Chieri, Nagisa, Yuuko, dan Kanata.
"Jadi untuk dua hari ini kalian harus menginap di sini. Agar kalian bisa cepat pulih."kata Tsubasa-san.
"Baiklah.."
"Oke. Kami pergi dulu ya! Da!"mereka yang menjenguk Nagisa dkk melambaikan tangan dan pergi.
Nagisa, Chieri, Kanata, Yuuko, dan Takamina pun melambaikan tangan mereka kembali.
.
.
"Nagisa, apa yang nampak di mimpimu itu?"tanya Kanata.
"Aku melihat seseorang.. dan dia memberitahuku, bahwa kita akan menghadapi perang yang besar.. Dan, dia juga memberitahuku, siapa yang akan menempati nisan ke-48.."jawab Nagisa lemas.
"Hah?! Nisan ke-48?! Kau sudah tahu?!"sahut Takamina.
"Ya.. Tapi, maaf.. Aku tidak bisa mengatakannya pada kalian..."balas Nagisa.
"..."
"K..kenapa..?"Chieri bertanya.
"Sudahlah.. Nanti kalian juga akan tahu sendiri.. Peperangan itu mungkin akan sangat berbahaya untuk kita.. Jadi kita harus bersiap-siap.."kata Nagisa mengalihkan pembicaraan.
"Oke.. Ngomong-ngomong, aku ingin istirahat dulu.."ucap Kanata.
"Ya.. Aku juga..."susul Takamina, Yuuko, dan Chieri.
"Okelah, selamat beristirahat.."
.
.
.
.
4 jam kemudian..
.
Nagisa, Chieri, Kanata, Takamina, dan Yuuko sudah bangun dari tidur mereka.
"Huam.. Istirahat yang menyenangkan.. Bukan begitu?"tanya Yuuko sambil menguap ketika bangun dari tidurnya.
"Ya, lumayan..."jawab Nagisa.
Hening sejenak...
Tiba-tiba..
"Hhh..?"
"A..a..akh..!"
"Eh? Nagisa?! Kau kenapa?!"tanya Chieri panik.
"Ahk..H..h..h..A..ada..!"Nagisa menjawab, tetapi tidak jelas dan tersendat-sendat.
"Nagisa!"sahut Takamina.
"Takamina-san! Panggil dokter..! Teriakanmu masih bisa digunakan, kan?!"kata Kanata.
"Ya bisa... DOKTEEER!"
Tidak ada jawaban.. Hening..
"DOOKTEEEER!"
...
Sekali lagi, tidak ada jawaban.
"Bagaimana ini?!"tanya Yuuko.
Nagisa seperti tercekik sesuatu, tetapi tidak ada sesuatu yang ada di depannya.
"T..tolong aku..!"sepertinya Nagisa tidak kuat lagi menerima serangan itu.
"Nagisa..."
Chieri berpikir sebentar, lalu ia memutuskan untuk menolong Nagisa. Ia akhirnya melepaskan jarum infus dari tangannya dan segera pergi ke ranjang Nagisa.
"Nagisa..! Nagisa..! Apa yang terjadi..?!"Chieri bertanya sambil menggoyang-goyangkan tubuh Nagisa.
Nagisa ingin menjawab tetapi tidak bisa, lehernya serasa semakin di cekik dengan keras.
Seketika, Nagisa melihat sesosok arwah hitam sedang berada di depannya, dan ternyata, hantu itu yang telah mencekik Nagisa.
Setelah kejadian itu, Nagisa berhenti dicekik. Nagisa pun mulai mencari nafasnya kembali.
"Nagisa..? Kau sudah baikan?!"tanya Chieri sekali lagi.
"S...sudah.."jawab Nagisa.
Chieri sangat senang sehingga ia memeluk tubuh Nagisa erat-erat.
Takamina, Yuuko, dan Kanata pun serentak beranjak dari ranjang mereka dan berkumpul bersama Nagisa dan Chieri.
"Apa yang terjadi, Nagisa?"tanya Takamina.
"Sesosok hantu telah mencekikku!"
Mendengar jawaban Nagisa, mereka semua kaget.
"HANTU?!"
...
"Ya.."jawab Nagisa.
Belum sempat menjelaskan semuanya, ia melihat hantu itu kembali bergerak ke arah Chieri.
"A..CHIERI! AWAS!"teriak Nagisa.
"Huh?"Chieri malah kebingungan.
Tetapi..
" !"
Giliran Chieri yang dicekik sekarang.
"Chieri!"
"K..k..aahk!"
"Ini gawat..! Gawat..!"Takamina mulai panik.
Yuuko pun mengambil air yang kebetulan ada di meja di sampingnya, dan menyiramkannya ke arah Chieri.
*SSRRRR*
"HAH?"
Sosok itu akhirnya tampak di hadapan mereka.
*PANG!*
Nagisa segera memukulnya dengan sesuatu (tebak aja, apa yang berbentuk tangkai dan ada di ruangan rumah sakit. Hint : berada di dekat ranjang pasien).
Makhluk itu segera pingsan di tempat. Chieri segera beranjak. "Persetan!"umpat Chieri.
Kanata segera memandang dan memerhatikan wajah orang itu.
"Eh? Bukannya dia ini dokter di sini?"tanya Kanata.
"Hah? Bagaimana mungkin dia menjadi sebuah monster yang menyeramkan, dan mencelakai kita?"balas Takamina.
"Mungkin—"
Belum sempat Chieri melanjutkan penjelasannya, mereka mendengar suara teriakan dari luar ruangan mereka.
"Aaa!"
"Hah.. Itu seperti suara.."
Mereka pun segera keluar dari ruangan itu dan mereka melihat..
"Sonata? Mayuyu? Yukirin?"
"O..Oniichan.. L..lihat..."kata Sonata dengan gugup sambil menunjuk ke arah koridor.
"... T..tidak mungkin..."
.
.
To be the Next Chapter...!
.
.
.
Many thanks to : Adelia Watson Syan Sterwart (for help me to publish this fanfic to Facebook), Momoka Mayuyu (for making an idea cames to my brain xD ), and other.
