The 48th Grave (End)
Disclaimer:
Yasushi Akimoto, Satelight
.
.
"..."
"Kita harus lari dari sini sebelum mereka yang memakan kita.."bisik Kanata.
Di hadapan mereka sudah ada skeleton-skeleton seperti yang ada di terowongan dan waktu perang yang waktu itu.
"1, 2, 3..."
"LARI!"
Mereka pun berlari, disertai dengan skeleton yang menjijikkan yang sedang mengejar mereka.
Mereka terus berlari sampai ke depan sebuah bangunan. "Hhh.. Kita masuk saja ke sana...!"ajak Takamina.
"Tidak ada pilihan lain.. Ayo! Mereka tidak terlihat, tapi mungkin mereka akan menyusul kita secepatnya.."ujar Yuuko.
Akhirnya mereka masuk ke bangunan tersebut, dan mengunci rapat-rapat pintunya.
"Hah..hah..hah..hah.."mereka ngos-ngosan dan mencoba untuk mencari nafas.
"Oniichan.. Aku takut.."ucap Sonata sambil memeluk kakaknya, Kanata.
"Tenanglah Sonata.. Kita pasti bisa melawan mereka.."hibur Kanata.
"Kita tidak bisa keluar dari sini.. Mereka pasti berjaga di sana..! Kita harus bertahan di sini sementara..."kata Chieri.
"Ya.."
Nagisa masih saja murung. Merasa ajalnya akan menjemputnya secepatnya, dan akan terjadi sesuatu jika nisan ke-48 terbentuk.
"Apa yang akan terjadi..?"tanya Nagisa dalam hatinya. Ia pun menatap satu per satu temannya yang berada di ruangan itu bersamanya, ia anggap ini adalah kenangan terakhir (once, maybe she's wrong).
"Tapi, bagaimana cara kita melawan mereka? Kita tidak punya senjata apapun! Kecuali Mayu, dia sudah punya senjata sendiri..."ucap Kanata.
Mendengar ucapan Kanata, Yukirin tiba-tiba tertawa kecil sendiri.
"Ngeh? Kenapa kau tertawa Yukirin?"tanya Yuuko heran.
"Hei Yukirin-san, apa yang ada dalam tas itu?"pertanyaan Chieri membuat Yukirin semakin tertawa.
"HEI!"
Dengan secepat kilat Yuuko menutup mulut Yukirin sehingga ia berhenti tertawa. Nagisa, Chieri, Kanata, dan Takamina baffled sambil menganga menatap Yuuko dan Yukirin. Mayu tetap memasang wajah tidak peduli-nya.
"Kalau kau tertawa, kita akan mati!"kecam Yuuko di telinga Yukirin sambil setengah berbisik.
"Iya iya, maaf.."ucap Yukirin sambil mengambil tasnya.
"Hei Yukirin-san, apa yang ada dalam tas itu?"Chieri bertanya lagi, dengan kata-kata yang sama seperti sebelumnya.
"Ini isinya.. Aku selalu berjaga-jaga dengan ini sejak kalian mengatakan bahwa sesuatu akan terjadi jika target nisan ke-48 telah ditemukan.."jawab Yukirin sambil membuka tasnya.
"Wow.. Ini sudah sangat cukup untuk kita.."ucap Kanata.
"Ngomong-ngomong, darimana Yukirin-san mendapatkan seperangkat alat perang ini?"tanya Nagisa.
"..."
Tidak ada jawaban. MISS.
"Jangan-jangan kau mencurinya.."
"..T..tidak kok..! Aku sudah minta izin dari Tsubasa-san!"bantah Yukirin.
"Hng, kalau begitu oke. Tapi sepertinya kita harus menetap di sini sementara, sampai situasi aman.."kata Takamina.
"Oke!"
.
.
.
AKB Dorm..
.
"Perasaanku tidak enak.."ujar Sayaka.
Sayaka pun tidak sengaja melihat foto Sae. Ia langsung mengambil foto itu dan memerhatikannya.
"... Sae..."
Tiba-tiba, Sayaka melihat bahwa di latar belakang foto itu ada bayangan Nagisa dan Kanata, dan ditengah-tengah mereka ada sosok sesuatu.
"Hah..?"Sayaka keheranan. Ia mengusap matanya, dan melihat lagi. Tetap ada bayangannya.
"Aneh.. Padahal waktu pertama dilihat, bayangan ini tidak ada.."kata Sayaka.
.
*JDUAR!*
Petir menyambar langit planet Akibastar. Langit yang tadinya cerah, tiba-tiba menjadi mendung. Gelap hampir meliputi seluruh planet. Dan sebuah cahaya merah tampak dari sebuah pilar yang berada di tengah-tengah Pekuburan para Idola itu.
"Huh? Aku harus laporkan ini pada yang lainnya."ucap Sayaka.
Sayaka melirik sekali lagi foto Sae. "Waak!"
Alangkah terkejutnya Sae, karena gambarnya sudah berubah menjadi gambar waktu Sae mati, dan ada sosok seperti malaikat pencabut nyawa. Sedangkan bayangan Kanata dan Nagisa yang tadinya agak kabur sekarang menjadi sangat jelas.
"Hhh.. I..ini sangat aneh..!"Sayaka langsung pergi dengan membawa foto tersebut, tentunya.
"Teman-teman!"teriak Sayaka ketika melihat teman-temannya sedang berkumpul di ruang makan.
"Ada apa?"tanya Tomochin.
"L..lihat jendela.."jawab Sayaka sambil menunjuk ke arah jendela. Mereka semua langsung berebutan untuk melihat ke jendela.
"A..a..a.."
Mereka sudah melihat fenomena pertama.
"Sekarang lihat foto ini..."usul Sayaka sambil menyodorkan pada mereka lembaran foto tersebut.
"..."
Mereka nampaknya seperti ketakutan ketika melihat foto tersebut.
"Eh, ini seperti bayangan Kanata dan Nagisa... Dan, Sae, bersama sesosok setan.."kata Yuuka.
"Hhh.. Ini menyeramkan..."Makoto dan Orine mulai ketakutan.
"Eh, Sonachi, Yukirin-san, dan Mayuyu-san di mana?"tanya Suzuko (dia baru dapat line :D ).
"Tadi mereka bilang mau menunggu Kanata, Yuuko, Takamina, Nagisa, dan Chieri.."jawab Mariko polos.
"Eh, mereka..! Siapa tahu ada yang terjadi pada mereka...! Terutama... Kanata dan Nagisa...!"kata Sayaka.
"Benar, Nyan."susul Kojiharu.
"Kita harus pergi ke rumah sakit.. Kita harus melihat mereka.."ucap Suzuko.
Mereka akhirnya memutuskan untuk pergi.
.
.
Nagisa and the Friend's place..
.
.
"Huh? Ada lobang di sini.."kata Sonata.
"Hah? Apa? Lubang? Di tempat ini?"tanya Yuuko berulang-ulang ( -_- )
"Iya.."jawab Sonata singkat.
"Kira-kira, arah lobang itu ke mana ya?"gumam Chieri.
"Maksudmu kita akan menelusuri lubang itu?"goda Nagisa.
"Kalau kalian sanggup, kita lakukan sekarang.."jawab Nagisa.
.
Hening sejenak..
.
.
"Ya sudah.. Ayo kita segera bersiap-siap dan pergi.."
.
.
In Hospital..
.
"Ayo masuk!"ajak Sayaka.
Mereka masuk ke rumah sakit itu, dan alangkah terkejutnya mereka ketika melihat fenomena ini.
"..."
Bisa ditebak, SKELETON.
"Hhh.. Aku akan pingsan.."gumam Makoto sambil merinding ketakutan.
.
Mereka akhirnya diserang.
"Ehk, LARI!"sahut Yuuka.
"Tidak bisa! Mereka sudah mengepung kita..!"bentak Sayaka.
"Bagaimana ini..?"Orine mulai pasrah.
"Hhh.. Oh, Yuuka, Makoto, ambil ini.. Kebetulan aku bawa ini! Kita akan menyerang mereka. Yuuka, kau bagian belakang, Makoto, kau di samping..."perintah Sayaka sambil memberi micsaber pada mereka.
"Hah..? Aku..?"Makoto cemas.
"Beranilah mulai dari sekarang!"tukas Sayaka sambil tersenyum dan menepuk pundak Makoto.
Makoto berpikir sejenak, lalu mengangguk. "Hai!"
"SERANG!"
Peperangan yang pernah dialami oleh Nagisa, Takamina, Yuuko, Chieri, dan Kanata, sekarang sedang mereka alami.
.
.
Nagisa dkk (Hole)..
.
"Huh, jangan-jangan terowongan ini tidak ada ujungnya!"keluh Yuuko (lagi dan lagi).
"Semua terowongan pasti ada ujungnya.."ujar Nagisa.
*RRRR*
Mereka mendengar suara air yang bergelombang dari atas kepala mereka.
"Hah?"
Mereka melihat ke atas.
"Di sana seperti ada penutup lubang.. Mayu, kau bisa menembak ke sana?"ucap Takamina.
"Ya."Mayu segera mengunci target, dan..
*DUAR!*
Pertama, mereka berhasil membuka penutup itu, kedua, sialnya air (masih menjadi darah) itu nampaknya akan segera menyembur ke arah mereka.
"Eh... Kita harus bergantung! Air itu akan segera menyembur!"perintah Kanata.
Mereka segera bergelantungan di atas terowongan itu yang kebetulan mempunyai penyangga.
*BRUASSS!*
Akhirnya air itu keluar sampai tetes terakhir. Mereka pun turun.
"Huft! Bau amis!"gerutu Yuuko.
"Hei Yuuko kau dari tadi mengeluh, menggerutu, itu saja kerjamu!"sekarang Takamina jadi marah karena tingkah laku Yuuko.
"Eh, Takamina, jangan marah.. Aku minta maaf ya!"ucap Yuuko sambil menggaruk belakang kepalanya.
"Sudah. Ayo kita ke atas sana, itu adalah jalan keluarnya.."lerai Chieri.
Takamina dan Yuuko mengangguk, dan memanjat ke atas.
"EH?! INI KAN..."
TERNYATA mereka telah menjebolkan air kolam di AKB Dorm.
"Jadi terowongan itu mengarah ke sini? Untung saja.."kata Chieri lega.
Mereka segera naik ke daratan. Secara tidak sengaja Nagisa melihat jendela di sana.
"A..a.. Teman-teman..! Lihat ini!"sahut Nagisa.
"Hah.. Sangat mengherankan.."komentar Chieri. Mereka sudah melihat semua fenomena yang telah terjadi di luar sana.
"Kita harus cari teman-teman yang lainnya! Kita harus berdiskusi tentang ini!"usul Yukirin.
"Ok!"
.
.
Mereka pun mencari ke ruang makan, tetapi tidak ada.
"Hah? Mereka ke mana?"tanya Sonata.
Kebetulan Chef Papa sedang berada di sana.
"Chef Papa, tahu tidak di mana yang lainnya?"tanya Chieri.
"Eh? Nagisa-chan? Takamina-chan? Yuuko-chan? Chieri-chan? Kanata-chan? Sonata-chan? Yukirin-chan? Mayuyu-chan? Kenapa kalian ada di sini?"Chef Papa sepertinya terkejut.
"Yang lain di mana?"tanya Yukirin sekali lagi.
"Kata mereka, mereka akan menjenguk Nagisa dan yang lainnya di rumah sakit, tapi ternyata kalian sudah di sini.."jawab Chef Papa.
"HAH?! MEREKA KE RUMAH SAKIT?!"sahut mereka yang ada di ruang makan.
"Iya.. Memang kenapa?"tanya Chef Papa.
"Eh, kami harus pergi dulu.. Ja nee!"ucap mereka sambil tergesa-gesa.
"Huh?"Chef Papa asih saja bingung.
.
.
Di luar..
"Kita harus cepat..!"ucap Chieri.
"Kalau begitu kita pergi sekarang! Tunggu apa lagi?"kata Takamina.
.
.
Back in the Hospital...
"GRAKH!"
Sayaka, Makoto, dan Yuuka sedang berusaha untuk melindungi teman-temannya sambil mengarahkan jalan, sementara yang dilindungi kerjanya cuma bisa teriak-teriak(?).
Mereka akhirnya sampai di tangga untuk ke lantai dua (kamar Nagisa dkk ketika dirawat berada di lantai dua).
"Ayo! Hampir sampai! Tapi hati-hati karena kita bisa terpeleset!"Sayaka mengingatkan mereka.
"Hai!"
.
.
In the way to the Hospital..
"Huh.. huh.. Sebentar lagi..!"kata Nagisa.
Bangunan rumah sakit yang dulunya bersih sekarang terlihat sudah berlumuran oleh darah busuk.
"Hhh.. Apa yang terjadi..?! Semuanya telah berubah.."ucap Yukirin dengan sedikit cemas.
"Ini mungkin adalah pengorbanan terakhirku untuk teman-temanku, atau bahkan demi dunia.. Aku harus melakukan yang terbaik!"tekad Nagisa dalam hatinya.
Mereka pun sampai ke pintu depan rumah sakit yang sekarang menjadi angker itu.
"Siapkan senjata kalian, kita akan menerobos."perintah Takamina.
"Oneechan.."ucap Sonata khawatir.
"Serahkan saja padaku! Aku akan melindungimu, Sonata!"hibur Kanata sambil mengaktifkan micsabernya.
Nagisa, Chieri, dan Takamina berada di depan untuk memimpin, Mayu berada di belakang bersama Kanata. Yuuko dan Yukirin berada di samping kanan dan kiri. Sedangkan Sonata? Dia berada di tengah.
.
.
"Bersiap.."
.
.
"MAJU!"
Mereka akhirnya maju dan masuk ke rumah sakit itu. Dengan cepat skeleton yang berada di sana menyerang mereka.
Mereka pun masih bertahan sampai 30 menit.
.
.
2nd Floor...
.
.
"Sebentar lagi kita akan menemukan mereka..!"sahut Sayaka.
"Hngh.. grr..!"Yuuka masih konsen untuk melindungi teman-temannya.
Tak lama kemudian mereka sampai di depan kamar Nagisa dkk dirawat.
*BAM!* *BRAK!*
Sayaka mendobrak pintu kamar itu. Alhasil..
.
.
"APA?! MEREKA TIDAK ADA?!"teriak Sayaka panik.
"Jangan-jangan mereka sudah... tiada...!"ucap Orine cemas dan sepertinya ingin menangis.
"Tidak! Mereka pasti masih hidup! Percayalah!"bantah Sayaka.
"Ungh..! Sayaka! Kami tidak sanggup lagi...!"keluh Makoto dan Yuuka.
"Heh? Ayo masuk!"ajak Sayaka.
Setelah semuanya masuk dengan cepat, Sayaka menutup pintu itu rapat-rapat dengan sekuat tenaga.
"Hhh... Mereka ke mana...?"gumam Yuuka.
"Aku tidak tahu..."balas Sayaka.
.
.
1st floor...
"HYAHK!"
Skeleton mulai berkurang di area itu. "Tinggal sedikit lagi..!"seru Kanata.
"Target : DITEMUKAN. Target : TERKUNCI."
*DUAR!*
Ledakan yang lumayan besar muncul dan menghancurkan semua skeleton di area tempat mereka berada.
"Hebat Mayuyu!"puji Yuuko sambil mengacungkan jempolnya.
"Mayuyu telah menghabisi mereka semua!"seru Mayu dengan polosnya.
"Oke, sekarang kita ke lantai dua. Pasti mereka ada di sana."ajak Takamina.
.
.
2nd Floor.. (Both)
.
.
"Sampai juga! Sekarang kita cari mereka!"ucap Chieri.
"Sayaka! Tomochin! Kojiharu!"sahut Yuuko dan Takamina.
.
Other Side..
"Hah, seseorang memanggil kita!"kata Tomochin.
"Itu pasti mereka. Takamina-san! Yuuko-san! Nagisa! Kanata! Chierii! Kami di sini!"seru Yuuka sambil memukul-mukul pintu.
.
Nagisa and the Friends Side..
.
"Mereka.. di sana! Di kamar rawat kita!"ucap Nagisa sambil menunjuk ke arah kamar yang bertuliskan はちdi atasnya.
"Kami segera ke sana!"
Yuuko, Kanata, dan Takamina pun mengetuk pintu itu, maka Sayaka membukanya, dan akhirnya mereka berkumpul bersama lagi di sana.
"Akhirnya...!"sahut Takamina.
Mereka pun berpelukan dan bersyukur karena mereka semua masih dalam keadaan utuh.
"Teman-teman, tujuan kita selanjutnya adalah Pekuburan para Idola, di sana, kita akan berperang! Bersiap-siaplah, dan di sana, kita akan mengetahui, siapa yang akan menempati nisan ke-48."jelas Nagisa. Sebenarnya, perasaan yang dirasakannya sekarang adalah gelisah, dan teriris. Tetapi, karena tidak mau membuat air mata sahabat-sahabatnya menetes, ia tidak mau menunjukkan perasaan yang sudah lama dipendamnya itu.
"Pekuburan para Idola, kami datang!"
.
.
.
Sesampainya mereka di tujuan mereka, The Idol Cemetery..
.
"Inilah finalnya..."kata Kanata sambil melihat langit yang sudah hitam, mendung.
"Hah..."
.
[Sudden Flash, not including Nagisa and Kanata]
.
"Kalian yang tidak terpilih menjadi Nisan ke-48 tidak akan mati..."terdengar suara seseorang tiba-tiba.
"Hah? Apa maksudmu..!"sahut Chieri.
"Walaupun kalian terkena senjata oleh monster itu, kalian tidak akan mati..."jawab sosok yang misterius itu.
"Kecuali Target Nisan ke-48.. Dia akan mati ketika terkena serangan oleh mereka..."
"Akan.. mati..?"
.
.
[end of Flash]
.
"Hah.. Itu aneh sekali..!"ucap Yuuko.
"Kau mengerti apa yang mereka maksud?"tanya Takamina.
"Mengerti.. Misalnya, jika kita terkena serangan, kita semua tidak akan mati.. Jadi nanti, siapa di antara kita yang mati jika terkena serangan, maka dia adalah nisan ke-48..."jawab Chieri.
"Ayo, kita maju..!"sahut Kanata dari depan.
Sekarang perang sengit terjadi, 16 orang lawan 100 lebih skeleton. Siapakah yang akan bertahan?
*DUAR!*
Mayuyu mulai menembakkan meriamnya ke mana-mana, membuat skeleton berguguran, tetapi, jumlahnya makin bertambah banyak.
"Ahk!"
Sayaka terkena tikaman dari skeleton itu, tapi nyatanya, lukanya seketika sembuh dalam sekejap.
"Hah... Jadi ini maksud perkataan tadi..?"gumam Sayaka dalam hati.
*SHING!*
Yuuko menyabet skeleton-skeleton dengan micsaber-nya. Tapi masih saja belum berkurang.
"Hhh...!"
Takamina, kadang ia hanya bisa menghindar, karena musuh yang menyerangnya lumayan banyak.
"Takamina-san! Aku datang menolongmu!"ucap Kanata sambil berlari menuju ke arah Takamina.
"T..terima kasih, Kanata.."kata Takamina.
"Waa..!"
Sonata dan Makoto, Makoto berusaha melindungi Sonata dan dirinya sendiri.
"Hyah!"
Nagisa dan Chieri, mereka juga sedang berusaha, seperti yang lainnya.
.
Peperangan itu berlangsung kurang lebih setengah jam, sampai..
"AHK!"
Ya, itu suara dari Kanata. Kanata tertikam oleh skeleton itu, Kanata pun langsung jatuh dan pingsan.
"Kana.. AHK!"
Takdir tak bisa dielak lagi, Nagisa tertikam dan jatuh pingsan di tempatnya.
Setelah Nagisa tertikam, semua skeleton itu berhenti menyerang mereka, termasuk juga Takamina dan yang lainnya. Chieri, Takamina, dan Yukirin langsung menghampiri tubuh Kanata dan Nagisa yang tergeletak di tanah yang basah itu.
"Kanata.."ucap Takamina sambil meneteskan air matanya.
"Nagisa.."Chieri menahan tangisnya.
2 menit kemudian, mereka belum sadar juga. Di sini mungkin mereka akan mengetahui siapakah nisan ke-48 tersebut.
Tak lama kemudian, Kanata mengedipkan matanya, dan berusaha untuk duduk. Takamina sangat senang karena Kanata ternyata masih hidup.
"A.. Nagisa..! Bangun..!"sahut Chieri panik ketika melihat bahwa Kanata masih hidup.
"NAGISA!"
Tidak ada suara yang keluar dari mulutnya, semuanya diam.
Yukirin segera memeriksa nadi Nagisa. Setelah memeriksa, Yukirin terkejut, sepertinya dia tidak menerima kenyataan. Denyut nadi tidak terasa lagi.
Yukirin menggeleng-gelengkan kepala, sambil mengeluarkan air mata. Chieri yang melihat kejadian itu langsung shock menerima kenyataan yang sebenarnya.
"Dia... N..Nagisa.. adalah... Nisan..ke..48..."Yukirin menangis. Chieri tidak bisa menahan tangisnya lagi, air mata segera mengalir dari matanya itu.
"Tidak... tidak..mung..kin.. NAGISAA!"
.
.
Skeleton bersorak-sorai. Sementara Takamina dan yang lain meratap karena kepergian Nagisa.
Tubuh Nagisa seketika berubah menjadi butiran debu, dan tiba-tiba, Nisan ke-48 sudah ada di sana, di samping kuburan Sae. Debu-debu itu lalu terbang ke arah nisan ke-48 tersebut, dan seketika juga, di nisan itu terukir nama Nagisa.
Chieri berdiri, sambil menunduk. Ia masih meratap atas kepergian.. sahabatnya.
Chieri kemudian mengepalkan tangannya, dan berteriak, "AKAN KUBALAS DENDAM NAGISA PADA KALIAN!"
Tiba-tiba, keluarlah sosok-sosok dari semua nisan yang ada di Pekuburan itu.
"Ah, itu mirip Sae!"ujar Sayaka ketika melihat sosok yang keluar dari nisan ke-47.
"Eh, itu seperti Nagisa..!"sahut Orine karena melihat sosok yang keluar dari nisan ke-48.
Sosok itu memakai baju hitam, melayang di atas udara, bermuka suram, dan mempunyai sebuah tombak.
"Hhh.. Inilah yang terjadi jika Nisan ke-48 sudah terbentuk..."ucap Chieri.
"I..itu pasti Roh Jahat..."kata Sonata ketakutan.
"Dan, kita akan berperang dengan mereka..."susul Kanata.
Tak lama kemudian, mereka melihat sosok-sosok yang lain lagi dari langit. Mereka memakai baju putih, bermuka ceria, dan mempunyai sebuah pedang.
"Wah, lihat itu!"sahut Takamina sambil menunjuk ke atas langit.
Mereka pun melihat ke langit.
"A..a.. Itu kan Nagisa!"seru Chieri senang.
"Semuanya, kami datang untuk membantu kalian!"sahut salah satu sosok yang mirip seperti Sae.
"Sae..."
"Ya! Perang sudah di depan mata..! Ayo kita lanjutkan perang kita!"teriak Yuuko dengan penuh semangat.
Peperangan yang sangat sengit kembali meledak. Di atas langit, dan di atas tanah. Ada peperangan.
"Yume wa reincarnation
Nando de mo
Deja byu no you na
Tooi kioku
Marude reincarnation
Ima mo mata
Muishiki no uchi ni
Dokoka e hashiteru.."
Mereka yang di atas langit bernyanyi sambil berperang.
"Hah..?"
"Mereka sedang berusaha menghancurkan kegelapan dengan dua cara, yaitu bernyanyi dan berperang... Aku mengerti.."kata Chieri.
Tak lama setelah nyanyian itu disenandungkan, semua mahkluk jahat yang ada di kuburan itu seketika tersungkur, dan menghilang seperti debu. Termasuk roh-roh jahat yang ada di atas langit itu, mereka semua menghilang dan berterbangan seperti debu.
"Kemenangan telah berada di pihak kita!"sorak Takamina.
"Ye!"
Mereka semua bersorak-sorak karena kemenangan yang indah itu.
Langit pun mulai cerah kembali, matahari mulai bersinar di Akibastar. Kota yang dulunya sangat angker, sekarang menjadi kembali seperti semula.
Mereka pun berpelukan karena senang.
"Nagisa.. Terima kasih karena sudah membantu kami.."ucap Chieri sambil menangis bahagia.
"Chieri, Takamina-san, dan semuanya, kita sudah menang. Sekarang kalian bisa melanjutkan aktivitas kalian seperti biasanya. Tapi, maaf, aku dan Sae tidak bisa bersama kalian lagi, karena kita sudah beda alam.."seru Nagisa.
"Hhh... Tidak apa-apa.. Kami mengerti.."jawab Takamina.
"Tenanglah, jangan khawatir.. Suatu saat kita pasti akan berkumpul bersama lagi..."kata Sae.
"Ya.. Sae.. Sampai jumpa.. Dan terima kasih.."seru Sayaka sambil menangis karena bahagia.
"Nagisa.. Terima kasih karena sudah menolong kami.. Aku tidak akan melupakan kenangan kita..! Selamat tinggal, Nagisa...! Kami tidak akan melupakanmu!"ucap Chieri sambil tersenyum dan menangis.
Nagisa dan Sae mengangguk, dan tampaknya mereka menangis juga. Hujan rintik-rintik pun turun dari langit yang sangat cerah itu untuk sebentar waktu. Tiba-tiba, ada suatu cahaya yang menutupi penglihatan mereka semua. Dan seketika, semua roh-roh yang tadinya ada di atas langit, sudah tidak tampak lagi.
"..."
"Mereka sudah pergi ke alam mereka.."kata Yuuko.
Mereka pun menghampiri nisan Nagisa dan nisan Sae.
"Nagisa, Sae, kami yakin kita pasti bertemu...!"
Kemudian hening sejenak.
"Terima kasih... Dan... sampai jumpa..."
.
.
THE END
.
.
Ini adalah end dari The 48th Grave. Terima kasih untuk semuanya yang sudah membaca FF ini sampai akhir.
Special Thanks to :
Momoka Mayuyu
Adelia Watson Syan Sterwart
And...
All of the Readers ^^
