Disclaimer: Harry Potter always belong to J.K. Rowling.


Hari ini berjalan seperti biasanya.

Aku mengikuti pelajaran dengan semangat seperti biasa. Menjawab pertanyaan dan mendapatkan poin seperti biasa. Semuanya normal.

Namun satu yang tak normal. Bola mata abu-abu itu... masih berseliweran di kepalaku. Aku masih penasaran apa arti dibalik tatapannya kemarin. Bahkan seharian ini aku tak melihatnya. Padahal aku melihat beberapa murid Durmstrang dan Beauxbatons berjalan-jalan di sekitar Hogwarts.

Merlin, orang itu membuatku penasaran saja.

Aku menginjakkan kakiku di ambang pintu perpustakaan. Menghirup bau kayu manis dan lembaran buku-buku lama. Aku pun masuk ke perpustakaan dan berjalan menuju rak Transfigurasi.

Jemari-jemariku menelusuri deretan buku yang ditata rapih sedemikian rupa. Mencari buku referensi yang mungkin berguna untuk mengerjakan essay tentang mengubah benda menjadi miniatur naga kecil. Untungnya Prof. Mcgonagall hanya mengulang materi kelas tiga akhir-akhir ini, sehingga aku tak perlu terlalu memeras otak.

Aku mengambil beberapa buku transfigurasi kelas tiga dan beberapa referensi lainnya. Lalu membawa semua buku itu ke meja terdekat. Mengambil perkamen, pena bulu, dan tinta dari dalam tas. Aku membuka buku pertama, mulai mencari keterangan yang berguna untuk essay, lalu merangkum semuanya dengan rapih. dan begitu seterusnya.

Entah berapa lama aku disini, sampai hanya tinggal beberapa kelas lima, tujuh, dan beberapa anak Ravenclaw yang tersisa. Aku segera menyelesaikan paragraf terakhir. Mengecek keseluruhan isi essay, dan menggulungnya dengan rapih.

Aku pun bersandar ke sandaran kursi dan meregangkan badanku yang kaku. Sejenak aku melirik jam tanganku. Jam sembilan kurang tiga puluh menit. Great. aku harus segera kembali ke asrama sebelum jam malam dimulai.

Aku pun menjentikkan tongkatku kearah perkamen, menyulap pita dan mengikatnya dengan rapih ke gulungan perkamen. Kujentikkan lagi tongkatku ke arah essay dan peralatan tulis yang kubawa, dan satu persatu barang-barang di hadapanku masuk ke dalam tasku dengan rapih. akupun mengantungi tongkat sihirku, mengembalikkan beberapa buku—sebagian ada yang kubawa ke asrama—dan bergegas keluar dari perpustakaan.

Aku melewati koridor dan lorong-lorong gelap lantai tiga. Berjalan dengan cepat supaya segera sampai ke asrama. Sebenarnya, kalau berjalan sendirian di lorong gelap seperti ini membuatku sedikit bergidik ngeri. Apalagi gelap. hanya ada beberapa obor di tengah-tengah lorong. Yah, tak begitu membantu.

Aku mengeratkan pelukanku ke buku-buku yang kubawa. Merlin! aku tidak takut hanya karena sendirian di lorong gelap begini kan? Aku kan Gryffindor. Bahkan aku bilang pada Harry kalau aku tak percaya hantu.

Sudah cukup aku melantur terlalu jauh.

Aku harap aku segera sampai ke asrama secepat mungkin. Aku sudah membayangkan hangatnya Ruang Rekreasi, membayangkan kamarku dan tempat tidurku yang empuk dan nyaman...

Lamunan ku buyar ketika aku melewati belokan menuju koridor, seseorang menabrak bahuku dengan kencang dari arah berlawanan. Aku jatuh terduduk dan semua buku-buku yang kubawa terjatuh ke lantai. Merlin! ini karena aku terlalu banyak melamun!

Aku mengaduh kesakitan sambil mengalihkan pandanganku ke orang yang menabrakku tadi. Terlalu gelap. aku tak bisa melihat wajahnya dengan jelas. Yang kulihat orang itu tidak menggunakan jubah Hogwarts. Melainkan... seragam Durmstrang?

"Maafkan aku, kau tak apa? hell, aku bahkan tak menyadari keberadaanmu," kata suara di depanku.

"Tak apa, salahku juga, aku melamun," jawabku seraya berdiri.

Sepertinya ia tengah memunguti buku-bukuku yang tadi terjatuh, sontak aku berkata, "Ah, aku bisa memungutinya sendiri, tak perlu repot-repot."

"Tak apa. ini bukumu." Ia menyodorkan tumpukan buku-ku.

"Terimakasih, maaf sebelumnya. Eh, kau murid Durmstrang? Mengapa jam segini kau masih berkeliaran disini? kau—"

Aku tercengang. Kata-kata ku terpotong saat aku menangkap manik abu-abu yang menatapku balik. Rambut pirang platinanya tertimpa cahaya temaram obor di tengah koridor. ia juga menahan napasnya sejenak seolah-olah kaget saat mengetahui bahwa yang berada didepannya adalah aku.

Tapi dengan cepat ia menutupi ekspresinya dengan tampang flat-nya.

Pandangan kami bersibobrok. Abu-abu bertemu coklat hangat. Kejadian di Aula Besar kemarin mengalir di pikiranku. Bagaimana ia menatapku dengan mata abu-abu berkilaunya itu, tatapan nya sangat intens dan dalam.

Bahkan sekarang ia melakukannya lagi.

Sejenak tak ada yang berbicara. Meninggalkan keheningan yang luar biasa canggung. Yang terdengar hembusan nafas masing-masing. bahkan aku dapat mendengar detak jantungku sendiri saking heningnya.

Jantungku berdetak lebih cepat seperti biasanya. Kenapa denganku?

Dan rasa penasaran kembali merayapi pikiranku. Rasa penasaran tentang tatapannya kemarin. Ataukah... aku perlu menanyakan hal itu kepadanya?

"Ini masih setengah sembilan dan tak ada yang melarangku untuk pergi ke perpustakaan, kurasa," ujarnya dengan santai dengan logat inggris yang kental. Yah, kalau dilihat-lihat wajahnya benar-benar bukan wajah Rusia, melainkan Inggris.

"Eh—ehm—ya, kurasa itu tidak salah. Maafkan aku kalau begitu," jawabku salah tingkah.

"Maaf untuk?" tanyanya bingung sambil mengangkat alisnya.

"Well—karena menabrakmu?"

"Sudah lupakan. Aku juga minta maaf," ujarnya pendek sambil menampilkan senyum setengahnya.

"Err—okay." Dan ia pun tak membalas apapun.

Dan kami pun terdiam agak lama. dan—sangat canggung.

"Um, siapa nama mu kalau boleh tau?" tanyaku pelan.

"Draco Malfoy. Kau?" tanyanya balik.

Tunggu—Malfoy? Keluarga berdarah murni yang sangat mengaggung-agungkan status darah mereka itu? Keluarga yang terkenal sangat kaya raya itu? Merlin.

"Malfoy? kau—kau Draco Malfoy?" tanyaku tak percaya.

Dia hanya terkekeh geli, "Memangnya ada berapa orang lagi yang bernama Draco Malfoy? Kurasa namaku cukup jarang."

Aku hanya tersenyum salah tingkah. lalu ia bertanya, "Siapa namamu?"

"Namaku Hermione. Hermione Granger."

Ia terlihat diam sejenak, seolah berpikir tentang sesuatu. Ia hanya menatapku dalam diam. Aku menatap bingung ke arahnya. "ada apa?" tanyaku.

Ia hanya menggeleng. Kami diam beberapa saat. Lalu aku berkata, "Boleh aku bertanya sesuatu?"

Ia pun mengangkat sebelah alisnya bingung, "Tentu."

Aku mengambil nafas dalam-dalam lalu bertanya dengan ragu, "Apakah kau mengetahui sesuatu yang tidak kuketahui?"

Ia mengernyitkan dahinya bingung dan terdiam sejenak, "Bagaimana kau bisa bertanya seperti itu?"

"Dari bagaimana kau menatapku kemarin di aula—kau terlihat seperti mengetahui... sesuatu?"

Ia terdiam sejenak lalu menjawab, "Tidak. Kurasa tidak. Bahkan kita baru saja berkenalan, bukan?"

"Err—ya, kurasa. aku hanya ingin tahu—yah lupakan saja," jawabku gugup.

Dan setelah itu keheningan kembali menyelimuti kami. Oh lihat, ini memalukan. Aku jadi merasa seperti terlalu berlebihan menanggapi tatapannya kemarin. Kenapa aku terlalu cepat menyimpulkan? Mengapa aku bisa bertanya secara gamblang seperti itu? Oh, Merlin. memalukan.

"Baiklah, a—aku akan kembali ke Asrama," ujarku.

Ia hanya mengangguk dan berkata, "Ya, hati-hati. Ini sudah malam."

Aku pun memberikan senyuman terakhir padanya dan berjalan pergi, meninggalkan seorang Draco Malfoy di belakangku tanpa menoleh.


Aku melewati lorong lantai tiga dengan sedikit tergesa-gesa. Membenarkan posisi tasku yang hampir terjatuh dan semakin mempererat pelukanku pada buku-buku yang kubawa. Dalam hati aku mengutuk guru ramuanku.

Merlin, bagaimana bisa Snape memberikan essay sepanjang satu meter tentang Ramuan Penawar Racun tadi sore dan harus dikumpulkan besok? Sebenarnya kalau hanya sepanjang satu meter aku masih bisa mengerjakannya lebih cepat, tapi aku merasa kurang lengkap. Dan lihat lah sekarang. Jam sepuluh tepat.

Jam malam sudah mulai dari satu jam yang lalu. Bahkan Perpustakaan sangat sepi tadi. Oh Merlin, semoga aku tidak bertemu prefek.

Aku mengeratkan jubahku dengan tangan kiri-ku. Aku tidak menyangka akan sedingin ini malam ini. Dan bodohnya aku hanya menggunakan t-shirt dan celana panjang kain—dan jubah. Kurasa jubah yang kukenakan tak banyak membantu.

Aku melewati lorong terakhir dan hendak berbelok ke koridor, dan tiba-tiba, seseorang memblokir jalanku dari arah yang berlawanan. Bahkan kami hampir bertabrakan. Aku pun memekik kaget melangkahkan kaki-ku ke belakang secara reflek. orang di depanku juga kelihatannya sama kagetnya denganku.

Oh, astaga... lagi?

"Hell, Granger. Haruskah kita selalu bertemu ditempat yang sama, dan dengan cara yang hampir sama?" kata Malfoy sambil menghela napasnya.

Merlin, mengapa dari sekian banyak orang yang bisa aku temui disini, mengapa harus Draco Malfoy? Godric, aku sebenarnya masih malu jika mengingat pertanyaan bodohku lusa kemarin...

Aku memutar bola mataku, "Kau gila, Malfoy! Kau hampir membuatku jantungan! Untuk apa kau masih berkeliaran disini?" tanyaku.

"Kurasa bukan urusanmu, Granger," jawabnya sambil mendengus.

"Well—jika kau ingin ke perpustakaan, kurasa kau terlambat. Perpustakaan tutup jam sepuluh."

"Benarkah?" tanyanya sambil mendengus kesal. Aku hanya memutar bola mataku lagi saat mendengar ia mengumpat pelan.

"Sepertinya kau tidak begitu mengerti aturan di sini ya?"

"Aku kan hanya tamu. aku takkan tinggal selamanya di sini," jawabnya tak peduli sambil memasukan tangan kanannya ke saku celana-nya. Aku hanya balas mendengus jengkel.

Sejenak kami diam, tak ada yang berbicara. lalu Malfoy berkata, "Gra—Granger. Aku ingin menanyakan sesuatu."

Aku menaikan sebelah alisku, memandangnya penuh tanya, "Apa?"

Ia terdiam sejenak memandang buku yang ia genggam dengan satu tangan, lalu ia melanjutkan, "Granger. Apakah kau—"

Belum sempat ia menyelesaikan kata-katanya, tanpa kusadari seseorang tengah berjalan menghampiriku dari belakang, "Well, well. Mudblood-Granger. Apa yang kau lakukan disini? 30 poin dari Gryffindor karena berkeliaran saat jam malam."

Merlin.

Bisakah manusia satu ini datang saat—setidaknya saat Malfoy selesai memberikan pertanyaanya?

Aku pun membalikkan tubuhku menghadapi seseorang di belakangku tadi. Terence Higgs. Prefek Slytherin. "Higgs. Aku baru saja ingin kembali ke asramaku. Okay?" sahutku ketus.

Ia berjalan ke arahku dan berhenti, meninggalkan jarak sekitar lima langkah dariku. Ia pun sedikit tersentak saat melihat ke arah Malfoy yang berdiri di depanku, tetapi ia kembali mengalihkan pandangannya kepadaku, "Well, Mudblood. Tak usah terburu-buru seperti itu. Setidaknya aku beruntung bisa bertemu denganmu. Aku bisa memotong poin dari para Gryffindorks." katanya sambil menyeringai.

Aku pun mencoba menghiraukan hinaannya dan bermaksud berjalan kembali ke asrama. tapi sebelum itu, aku kembali menghadap ke Malfoy—yang sekarang tengah terpaku melihatku. Aku hanya menatapnya bingung. Ia tak bergerak sama sekali. Aku mulai cemas. Ada apasih?

"Malfoy?" tanyaku ragu-ragu. Ia tetap tak bergeming.

"Kau tak apa, Malfoy? Hey?" tanyaku sambil mengibaskan tanganku di depan wajahnya. Ia masih tak bergeming.

"Yang ia katakan itu benar?" tanya nya dingin.

Aku—yang kaget dengan perubahan sikapnya yang drastis—mulai sedikit panik. "A—apa?"

ia tetap tak bergeming. Tatapannya bukan lagi intens atau tajam. Tatapan nya dingin. Menusuk.

Aku mulai panik karena tidak mengerti apa yang ia maksud, "Apasih maksudmu?" tanyaku sambil memegang lengannya reflek.

Dengan cepat ia menepis tanganku dengan kasar, membuatku berjengit ngeri ditempat. Apasih yang membuatnya mengerikan begini?

"Jangan sentuh aku, Mudblood," katanya dingin.

Ia pun langsung pergi meninggalkanku yang tengah terpaku di tempat tanpa berkata apa-apa. meninggalkanku yang masih diam di sini—masih kaget dengan perkataannya barusan. sontak aku pun memanggilnya, "Hey! Tunggu!"

Ia pun menghiraukanku, dan tetap berjalan meninggalkanku. Tanpa menoleh sedikit pun. Meninggalkan ku bersama Higgs.

Aku masih kaget dengan perubahan sikapnya yang sedrastis itu. Se-anti itukah ia dengan Mudblood?

Aku pikir ia orang baik. Mengingat awal kami bertemu kemarin dia bersikap baik. Yah, walaupun ia agak menjengkelkan. Tapi aku tau dia baik. Atau mungkin... aku salah?

Dan Higgs datang dan menghancurkan semuanya. Great.

Tapi kurasa aku tak perlu terlalu menyalahkan Higgs, kan? Bukannya mereka—para Malfoy memang sangat rasis?

Aku merasa... sedih.

Sedih? Tunggu... bukannya aku harusnya marah atau tersinggung?

Aku memijat pelipisku dengan frustasi, lalu menghela nafas. "Opera sabun gratis, hm? Tadi itu Draco Malfoy kan?" tanya Higgs sinis.

"its none of your business, Higgs." Aku menjawab tak kalah sinis.

Ia pun mendecih sinis, "Mana mungkin seorang Malfoy mau berteman dengan mu? Jangan berharap terlalu tinggi, filthy Mudblood," ejek Higgs sambil menyeringai.

Aku hanya mendelik tajam padanya sebelum meninggalkannya di lorong. Aku bergegas kembali ke asrama secepat mungkin. Melewati lorong dan koridor dengan setengah berlari, menaiki tangga dengan terburu-buru. Yang penting sampai di asrama dengan cepat.

Saat perjalanan menuju asrama, aku kembali mengingat-ingat semua percakapan tadi, yang berujung pada rasa kecewa. ya, kecewa. kecewa karena dengan mudahnya Malfoy pergi begitu saja tadi.

Pergi begitu saja setelah tahu kalau aku Darah Lumpur.

Begitu aku sampai di depan lukisan Nyonya Gemuk, tanpa basa-basi aku langsung mengucapkan kata sandi dan menghabur ke Ruang Rekreasi yang sudah sepi.

Seketika hawa hangat merambati tubuhku saat aku memasuki Ruang Rekreasi. Aku pun langsung menghabur ke sofa di depan perapian.

Aku menaruh buku dan tasku di meja dan menghempaskan diriku ke sofa. Nafasku masih tersengal-sengal, akibat berlari-lari kecil dari lantai tiga menuju kemari. Aku pun menghela nafas.

"Aku tebak kau barusan dari perpustakaan, hm?"

Suara di sebelahku berhasil membuatku hampir melompat karena kaget. tidak—aku tidak lompat—hanya terlonjak. Sontak aku pun langsung menolehkan kepalaku ke sumber suara.

"Harry! Kau mau membuatku mati karena jantungan? Berhenti bertingkah seperti hantu!" semburku marah.

Harry hanya menyengir tak bersalah sambil mengacak-acak rambutnya, "Dari sebelum kau datang, aku sudah duduk di sini, Mione. Kau lah yang mengaggetkan ku. Menghancurkan waktu tenang dan damai ku dengan datang ke asrama sambil bernafas tersengal-sengal seperti habis dikejar Troll."

Aku hanya menghiraukannya, lalu menyenderkan kepalaku ke sandaran sofa lagi, mencoba rileks.

Kami terdiam lama. Harry terlihat sengaja tak berbicara, seolah memberikanku waktu untuk santai sejenak.

"Jadi? Kenapa kau kembali dengan napas tersengal seperti itu? Kau habis berlari?" tanya Harry memecahkan keheningan.

"Mungkin," jawabku pendek.

"Mungkin?" tanya Harry sambil mengangkat sebelah alisnya.

"Oh, come on, Harry. Jangan sekarang. Aku lelah. Ingin tidur." Aku pun kembali menegakkan badanku bermaksud ingin berdiri, tetapi Harry menahan lenganku.

"Jawab dulu, Mione. Please?" pinta Harry.

Aku hanya menghela napas, "Aku baru dari Perpustakaan seperti yang kau bilang tadi, dan aku bertemu dengan Terence Higgs si prefek Slytherin dan dia memotong poin dari Gryffindor. Maafkan aku—tapi bisakah aku pergi sekarang? Aku ingin tidur."

Aku menjawab sekenanya tanpa memberitahukan pertemuanku dengan Draco Malfoy. Kurasa Harry tak perlu mengetahui hal itu kan?

"Tunggu—tapi kau tak perlu berlari kesini hanya karena itu kan?" tanyanya ingin tau.

Kalau boleh jujur, alasanku setengah berlari tadi itu karena... Malfoy. aku terlalu muak berlama-lama disana—apalagi karena kehadiran Higgs, merasa kecewa dan tak ingin orang lain melihatnya. bukan dia. bukan juga Higgs yang tadi berada disana. bukan Harry. dan juga bukan orang lain. aku lebih suka menyimpannya sendiri.

Aku kembali menghela napas sambil menatap mata hijau cemerlangnya, "Please, Harry. Kurasa ini tak begitu penting untuk dibahas. Maafkan aku—tapi aku benar-benar lelah, ingin tidur. Okay, Harry?" ujarku lelah.

Ia menatapku sebentar lalu melepaskan tangannya dari lenganku. Aku pun bangkit dari dudukku lalu meraih tas dan buku-bukuku di meja sebelah sofa.

"Kau tau, Mione? Kalau ada apa-apa kau bisa cerita padaku," kata Harry.

Aku hanya tersenyum memandangnya, "Terimakasih Harry. Kau seharusnya cepat tidur. selamat malam."

"Aku akan tidur sebentar lagi. selamat malam, Mione." Kata Harry balas tersenyum.

Aku pun langsung menaiki tangga ke kamar anak perempuan. Memasuki kamarku dengan pelan—agar tak membangunkan yang lain. Akupun menaruh tas dan buku-bukuku ke dalam koper, mengganti pakaian, lalu merebahkan diri di kasur dengan nyaman.

Aku pun menyelimuti diriku lalu memejamkan mata. Sambil melepas lelah seharian.

Kejadian-kejadian barusan kembali melintas di pikiranku. Bagaimana aku bertemu seorang Draco Malfoy—yang kemarin menatapku tajam di Aula Besar, lalu tak sengaja menabrakku dan berkenalan dengannya lusa kemarin, bertemu dengannya lagi barusan, lalu dia pergi dengan memberikan kata-kata manis terakhir.

Aku sebenarnya sedih mendengar kata-kata terakhirnya tadi. Rasanya sedih kan ketika kau bertemu dengan seseorang, awalnya kau kira orang itu baik, dan baru bertemu dengannya beberapa hari ia malah menghinamu?

Tidak. Tidak. Seharusnya aku marah kan? Aku tak boleh membiarkan diriku diintimidasi seenaknya oleh orang lain yang belum mengenalku dengan baik, kan?

Tiba-tiba perkataan Terence Higgs terngiang di kepalaku.

"Mana mungkin seorang Malfoy mau berteman dengan mu? Jangan berharap terlalu tinggi, filthy Mudblood,"

Iya. Mana mau seorang Malfoy yang notabene-nya keluarga berdarah murni yang rasis, mau berteman denganku yang notabenenya hanya seorang Darah Lumpur?

Dan jangan lupakan fakta bahwa ia bersekolah di Durmstrang, yang notabene-nya sekolah yang hanya mengakui penyihir berdarah murni.

Hell, aku benci perbedaan status darah.

Aku mendengus tak perduli. Aku benar-benar harus melupakan hal ini besok pagi.

Orang aneh dan menyebalkan, Draco Malfoy itu.

Dan tiba-tiba aku mengingat sesuatu yang penting. Oh, Merlin. aku baru ingat kalau tadi Malfoy ingin menanyakan sesuatu padaku. Dan Terence Higgs datang. Uh, Hell. Aku benar-benar ingin mengutuk orang itu dua kali. Pertama karena memotong poin dari Gryffindor, kedua, karena memotong pembicaraan orang.

Kenapa seorang Draco Malfoy selalu membuatku penasaran dari kemarin?

Dan aku kembali teringat dengan pertanyaan-nya yang terpotong oleh Terence Higgs.

"Granger. Apakah kau—"

Apakah aku apa?


Pagi yang tenang.

Ya, disini lah aku. Duduk sendirian di bawah pohon Beech, di tepian Danau Hitam, memakan biskuit favorit dan membaca buku. betapa rindunya aku pada tempat ini. Sudah beberapa hari aku tidak ke sini.

Aku menyenderkan kepalaku ke batang pohon di belakangku. Aku menghela napas seraya menutup buku di pangkuanku. Mengambil sebuah biskuit dan mengunyahnya pelan.

Angin musim gugur menerpa wajahku dengan lembut. Mempermainkan rambut semakku menjadi berantakan—yang memang awalnya sudah berantakan. Aku pun menyelipkan rambut di sisi wajahku ke belakang telinga. Uh, aku menyesal tidak mengikatnya dahulu sebelum ke sini.

Sejenak aku diam, tidak melakukan apapun. Hanya memejamkan mata, menghirup udara sejuk sebanyak-banyaknya, mendengarkan suara-suara hewan di sekitarku, membiarkan angin mempermainkan rambutku kembali. Meresapi segala hal yang terjadi di sekitarku.

Semuanya terasa... tenang.

Angin musim gugur kembali menerpaku. Kali ini lebih kencang dari sebelumnya. ranting-ranting pohon di atasku bergerak liar karena terpaan angin. Bahkan rumput-rumput liar di sekitarku ikut menari menyambut datangnya angin. Aku mengeratkan syal dan jubahku.

Aku membuka mataku dan mengedarkan pandanganku ke sekitar. Semuanya masih sama. Danau Hitam, pegunungan, Hutan terlarang. oh—kecuali satu.

Bahkan aku baru menyadarinya. Bagaimana bisa aku tidak melihat kapal yang cukup besar terparkir di depan Danau tak jauh dariku? Aku dapat melihat bendera besar berlogo Durmstrang berkibar disana.

Durmstrang... aku jadi ingat pada Draco Malfoy.

Aku pun mengangkat bahu tak peduli dan mengambil biskuit lagi lalu memakannya perlahan.

Tiba-tiba aku melihat seseorang dari kejauhan. ia seorang laki-laki, terlihat dari potongan rambut Buzzcut nya dan badannya yang tegap. ia sepertinya sedang jogging. Dan aku bisa menebak orang itu bukanlah murid Hogwarts, mengingat selama aku ke sini, aku tak pernah melihat murid Hogwarts yang rela bangun pagi hanya untuk jogging.

Aku tak mengenal siapa orang itu. Aku tak bisa melihat mukanya dengan jelas. Tetapi, ketika orang itu semakin mendekat, aku dapat melihatnya dengan jelas.

Viktor Krum.

Aku jamin kalau Ron berada di sebelahku sekarang, mungkin ia sudah berlari ke arahnya dan meminta tanda tangan eksklusif darinya. Memang terdengar seperti murid-murid perempuan centil yang hobinya menguntit cowok-cowok tampan, tapi kalau memang Ron disini, pasti yang dia akan begitu.

Tapi tidak untukku.

Aku bermaksud untuk mengalihkan pandanganku dari Viktor Krum. Belum sempat aku menoleh, aku melihatnya melambaikan tangannya ke arahku.

Merlin, Viktor Krum melambaikan tangannya ke arahku!

Tetapi aku tak merespon apapun. Aku bahkan mengambil biskuit di sebelahku dengan kikuk dan memakannya perlahan. Bahkan sekarang aku melemparkan pandanganku ke danau didepan ku. Merlin, bisa saja kan Viktor Krum itu melambaikan tangannya bukan ke arahku, melainkan ke seseorang yang mungkin sedang berada di sekitarku?

Tapi aku ragu. Mengingat aku selalu sendirian saat datang kesini.

Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki dari arah depanku. Sontak aku menangadahkan kepalaku dan melihat siapa yang tengah menghampiriku.

Merlin, Viktor Krum menghampiriku.

Apakah aku bermimpi?

Tidak, aku berpikir seperti itu bukan karena terlalu senang—bukan. Hanya... kaget.

"Hei, aku melambai ke arahmu tadi, kau tidak melihatku?" tanyanya dengan logat Rusia yang sangat kental.

Aku pun langsung berdiri saat ia tengah berada tepat di depanku, "Ah—eh—iya? Aku pikir kau melambai kepada—orang lain?"jawabku gugup.

Ia yang menyadari kegugupanku, langsung terkekeh, "Kau pikir kau merasa ada orang lain di belakangmu?"

Aku hanya mengangkat bahu, "Um, well—kalau memang iya, itu hal yang menyeramkan mengingat aku tidak merasakan hawa kehadirannya sama sekali."

Ia pun terkekeh dan aku hanya tersenyum salah tingkah. Aku bingung harus merespon apa. Sejenak tak ada yang bicara, membuat suasana jadi sangat canggung.

"Um, jadi siapa namamu?" tanyanya memecahkan keheningan.

"Hermione. Hermione Granger. Dan namamu?" tanyaku. Pertanyaan bodoh sebenarnya, mengingat lelaki di depanku ini adalah Seeker Bulgaria yang terkenal. Merlin, siapa yang tidak mengenalnya?

Ia hanya tersenyum ramah seraya menjawab, "Viktor. Namaku Viktor Krum. Kau bisa memanggilku Viktor."

Aku balas tersenyum, "Senang bertemu denganmu, Viktor."

"Senang bertemu denganmu juga. Kau tau? Namamu terlalu sulit."

Aku hanya terkekeh mendengarnya, "Benarkah? Kau tak bisa mengejanya?"

"Biar aku coba. Her-mi-ow-ninny?" tanya Viktor. Memang sih terdengar dari intonasinya kalau dia sedikit—bukan sedikit—sangat susah mengeja namaku.

Aku tertawa mendengar Viktor mengeja namaku dengan logat Rusianya yang kental. Segitu sulitnya kah namaku di mulut orang Rusia?

"Hermione," Koreksiku.

"Her-mi-ow-nie?" tanyanya.

"coba ini, Her-my-own-knee," kataku sambil mendengus geli.

"Hermy-own-ninny?"

"Her-my-own-knee."

"Her-my-own-knee?"

Aku terkekeh lagi, "Nah itu kau bisa."

Ia hanya tersenyum gugup. Dan jujur, tampangnya sangat lucu ketika dia tersenyum gugup begitu. Aku bahkan tak bisa menutupi senyumku.

Ia menaikkan alisnya bingung, "Apa?"

Aku menggelengkan kepalaku, "Tak apa, tadi tampangmu lucu," jawabku jujur. Ia hanya terkekeh dan terlihat semburat merah kecil di wajahnya.

Aku salah lihat kan? Bilang kalau aku salah.

Ia terlihat membuka mulutnya ingin mengatakan sesuatu, tapi terinterupsi oleh panggilan seseorang dari belakangnya.

"Viktor, Hell, bukan kah aku bilang untuk menunggu sebentar? Dan kau berbicara dengan sia—oh—" perkataan orang itu terhenti ketika menatapku.

Merlin, please, untuk kali ini saja bilang bahwa aku benar-benar salah lihat.

Wajahnya yang awalnya santai menjadi menegang saat menatapku. Dan sekarang berubah menjadi dingin. Seperti tatapan terakhirnya kemarin.

Aku hanya balas menatapnya tajam, tak berkata apa-apa. bagaimanapun, aku takkan membiarkan diriku terintimidasi dengan tatapannya kan? Dia pikir dia siapa?

Well, dia seorang Malfoy.

Viktor yang kelihatannya menyadari perubahan atmosfer yang terjadi sejak kehadiran Malfoy, langsung angkat bicara sambil memandang kami berdua secara bergantian, "Well, kelihatannya kalian berdua sudah saling mengenal?"

Malfoy pun mengalihkan pandangannya dariku ke Viktor, mencoba mengacuhkanku. "Itu tak penting. Ayo Viktor, aku ingin segera kembali ke kapal setelah jogging."

"Tidakkah kau ingin menyapa Hermy-own-ninny dahulu, Draco? setidaknya—"

"Ayolah, Viktor. Atau aku kembali ke kapal sekarang."

Viktor hanya bergumam mengiyakan sambil menghela nafas, lalu menoleh ke arahku, "Aku harus pergi. Mungkin kita bisa bertemu lagi lain waktu?"

"Mungkin," balasku.

"Oke, sampai ketemu nanti, Hermy-own-ninny," katanya sambil beranjak dari tempatnya.

Aku hanya tersenyum, "Sampai jumpa, Viktor."

Aku menoleh kearah Malfoy dan mendapati ia tengah mantapku. Tatapan itu lagi. tatapan yang tak bisa ditafsirkan. Unreadable.

Tiba-tiba rasa penasaran merayapi pikiranku. Ya rasa penasaran. Mengapa Malfoy berubah sikap sedrastis itu kemarin? Mengapa ia tak ingin berteman denganku? hanya karena perihal status darah kah?

Jelas.

Dan aku masih penasaran dengan pertanyaan-nya yang terpotong kemarin. Sangat penasaran.

"Granger. Apakah kau—"

Apakah aku apa, Malfoy?

Ia dan Viktor mulai berjalan menjauhiku.

"Malfoy!"

Yang dipanggil pun menoleh—dengan pandangan kaget. Oh—jangan kan dia, aku bahkan kaget dengan diriku sendiri.

"Apa?" jawabnya kaku sambil mengubah ekspresi dinginnya. Kurasa ia sangat lihai bergonta-ganti ekspresi dengan cepat.

"Um—bisa bicara sebentar?" tanyaku ragu.

Ia balas mendengus, "Bukankah kau sudah mendengarku dengan jelas kalau aku ingin langsung kembali ke kapal setelah ini?"

Aku menggigit bibir bagian bawahku dengan gugup, "Hanya sebentar, apakah kau keberatan?"

"Sangat," jawabnya singkat.

Aku memutar bola mataku dan sedikit terkejut dengan satu kata yang meluncur dari mulutku setelahnya, "Please?"

Apakah aku salah mendengar perkataanku sendiri?

Aku memohon padanya, demi Godric! Aku benar-benar terdengar... pathetic.

Aku benar-benar sudah gila. Ingatkan aku ini adalah untuk yang pertama dan terakhir.

Ia menatapku sejenak, seperti sedang mempertimbangkan. Ia menoleh ke Viktor—seolah meminta bantuan. Tapi selanjutnya Viktor berkata, "Tak apa. kau bisa menyusulku nanti." Ia menepuk pundak Malfoy sekali, melambaikan tangannya padaku, lalu melanjutkan joggingnya.

Entahlah, aku bingung antara harus berterimakasih atau tidak ke Viktor.

Aku menatap punggung Viktor yang semakin lama semakin menjauh, lalu menatap Malfoy.

"Jadi?" tanyanya.

"Um—well. aku ingin menanyakan sesuatu."

"Apa?"

Aku menggigit bibir bawah ku lagi dengan gugup, "Err—"

"Ayolah bicara yang cepat."

Aku memutar bola mataku, "Aku baru mau bicara saat kau menginterupsiku."

"Kau menghabiskan waktuku."

"Mengapa sikapmu berubah drastis kemarin?"

Satu pertanyaan yang mengalir dari mulutku berhasil membungkamnya. Ia menatapku sejenak, lalu mengalihkan pandangannya ke arah danau seraya memasukkan tangannya ke saku celana trainingnya.

"Bukan urusanmu, kurasa."

"Jelas itu urusanku!" jawabku frustasi.

Ia menatapku dengan pandangan tak terbaca andalannya, "Bukan kah jelas?"

Aku mengangkat satu alisku, "Apanya?"

"Sudah jelas kalau aku tak mau berteman denganmu."

Satu perkataan itu berhasil menohokku. Giliranku yang bungkam sekarang. Aku bahkan tak merespon perkataannya. Tak bisa lebih tepatnya. Ia masih menatapku, lalu mendengus tak sabar.

"Jadi kau menghabiskan waktu ku dengan ini? Aku pergi sekarang." Ia membalikkan badannya dan beranjak dari tempatnya. Aku menatap miris ke arahnya.

"Karena status darah, kau tak ingin berteman denganku? Karena aku hanya seorang Mudblood?" tanyaku.

Ia pun sontak berhenti di tempatnya. Hanya diam, tak menjawab apapun. Menoleh pun tidak. Pertanyaanku barusan membuatnya benar-benar bungkam. Bahkan diriku pun dibuat bungkam dengan pertanyaanku sendiri.

"Ya."

Jawaban singkatnya barusan berhasil menohok hatiku lebih dalam dari pernyataannya yang sebelumnya. Aku sudah menebak, pasti ia akan berkata iya. Tapi tetap saja, aku tak bisa menutupi rasa... kecewaku.

Sedih rasanya mengetahui jika seseorang tak ingin berteman denganmu hanya karena... kau seorang Mudblood.

Lain cerita dengan sikap anak-anak Slytherin yang memang sudah menghina status darahku dari awal. Toh, aku tak mengindahkan perkataan mereka. Aku bahkan tak peduli dengan perkataan mereka. meskipun awalnya sulit, tapi aku telah terbiasa.

Tapi kali ini berbeda, karena aku memang ingin berteman dengannya saat pertama kali aku menatap manik abu-abu indahnya. aku ingin tahu tentangnya. ingin tahu apa yang ada di pikirannya.

Ia pun beranjak lagi dari tempatnya. Tapi ada satu hal penting yang belum kutanyakan. Satu hal yang masih membuatku penasaran...

"Satu lagi, Malfoy. Aku ingin menanyakan tentang pertanyaanmu yang sempat menggantung kemarin."

Dan kali ini ia benar-benar membeku di tempatnya. pertanyaanku barusan berhasil membekukannya lebih dari pertanyaan-pertanyaanku yang sebelumnya. Bahkan terlihat ia agak berjengit di tempatnya. Tapi, ia tetap tidak menoleh. Hanya menatap lurus ke depan, dan berdiri membeku disana.

"jawab aku, Malfoy."

Ia menundukkan kepalanya, lalu menjawab, "lupakan saja. Anggap aku tak pernah bertanya. Aku pikir aku salah orang, maaf."

Dan kali ini ia beranjak lagi dari tempatnya, dan pergi. Meninggalkan sejuta tanda tanya di pikiran ku—entah untuk yang keberapa kali. dua? tiga?

Kali ini aku tidak memanggilnya lagi. tidak. Aku membiarkannya pergi.

Rasa kecewaku kali ini terkalah kan dengan rasa bingung dan penasaran yang luar biasa. Apa maksudnya? Salah orang?

Orang ini benar-benar berbakat membuatku penasaran. bahkan hanya dalam kurun waktu beberapa hari.

Rasa kecewa, penasaran, bingung, dan beberapa emosi yang tak bisa kudeskripsikan tercampur aduk di pikiranku. Rasa kecewa karena ia tak ingin berteman denganku. Hanya karena status darah? Ia benar-benar berhasil menohok hatiku. Sangat berhasil.

Toh, kalau memang dia tidak ingin berteman denganku, mau bagaimana lagi?

Aku tak bisa memaksanya untuk berteman denganku, kan?

Dan juga rasa penasaran luar biasa karena selalu bertingkah tak wajar—ya, aku menyebutnya tak wajar. Mengatakan sesuatu secara tidak komplit, seolah hanya memberikan tiga potong puzzle dan tak memberikan sisanya.

Yang kulihat, ia mengetahui sesuatu yang tak kuketahui. Entah apa itu, aku mencoba tak peduli.

Dan ia benar-benar meninggalkanku, tak lagi menoleh ataupun mengucapkan sepatah kata. Meninggalkanku dengan perasaan-perasaan yang berkecamuk di hatiku. aku hanya menatap punggungnya dari jauh.

TBC


oh hai! maaf jika chapter ini tak memuaskan hehehehhe, dan aku lupa ngomong, kalo di fict ini ceritanya Durmstrang itu sekolah khusus cowok, sedangkan Beauxbatons itu sekolah khusus cewek. aku ngikutin yang difilm biar gampang aja ._.v

maaf jika ff ini banyak kurangnya yahh._. aku hanya orang yang memang benar2 krisis percaya diri.

oh iya ini balasan review:

herianiyulia: halooo! hehehhe makasih banyak ya reviewnya! tetep review:D

senjadistria: haii! iya ini settingan nya tahun ke empat, aku bayangin draco jadi anak Durmstrang juga langsung melting lho-_-v makasih banyak! tetep review yachhh:D

BlueDiamond13: haloooo!makasih banyak reviewnya! makasih udah diingetin ya! ;) tetep review ya!

Dramionequen: haloo dan terimakasih :D pastinya itu draco hihihi ;)

caca: ini udh next hihihi maaf kalo banyak yg kurang2 ya hihi :D

Selena Hallucigenia: AKU MASIH NEWBIE. BUKTINYA INI FF PERTAMA. AKU DAH NGAKU YA. HIHI. :3

Ms. Loony Lovegood: salam kenal juga Ms. loony '-'/ ahh makasih banyakkkkk reviewnya! ini disini aku udh nyoba ngerubah ya .-. semoga gada salah2 gitu lagi maklum masi baru-,- tetep review ya :D

okay thankiss untuk kalian semua! tetep review ya :3

Octans.