Disclaimer: J.K. Rowling
Malam Halloween.
Semua murid Hogwarts—termasuk murid dari Beauxbatons dan Durmstrang juga—berkumpul bersama seperti biasa di Aula Besar untuk makan malam. Akhir-akhir ini, murid-murid Beauxbatons dan Durmstrang kelihatannya berhasil membaur dengan lingkungan sekitar—yah tak sepenuhnya membaur sih, mengingat seluruh murid Durmstrang selalu duduk di meja Slytherin. Apakah itu termasuk kategori berbaur? Kurasa tidak.
Suasana malam ini berbeda dari malam biasanya. Bukan. Bukan karena malam ini adalah malam Halloween. karena, pengumuman peserta Turnamen Triwizard akan diumumkan setelah makan malam. Ya, setelah ini.
Terlihat gurat wajah tegang dan khawatir dari beberapa murid yang mencantumkan namanya ke Piala Api beberapa hari yang lalu. Semuanya murid tahun ketujuh—yah tidak semua sih, ada beberapa murid yang masih berada di tahun keenam. Merlin, untung aku masih di tahun keempat, sehingga aku tak perlu berpartisipasi.
Bukan karena aku takut, bukan. Hanya saja... aku sedang tak ingin melibatkan diri pada hal yang membahayakan.
Tunggu—bukan karena aku bilang 'sedang tak ingin', itu berarti aku suka melibatkan diri pada hal yang membahayakan, bukan. Justru hal yang membahayakan itu yang kelihatannya selalu ingin melibatkan aku, Harry, dan Ron. Lagipula, siapa sih yang ingin dirundungi masalah?
Kebanyakan murid sudah menyelesaikan makan malamnya. Menghabiskan sisa waktu makan malam dengan bersenda gurau dengan teman masing-masing. Bahkan terlihat beberapa anak-anak Hogwarts yang mengobrol dengan murid-murid dari Beauxbatons dan Durmstrang.
"Hei, kau bisa menebak siapa yang akan menjadi kandidat dari Hogwarts?" tanya Ron disebelahku—seketika membuyarkan lamunanku.
"Entahlah, mungkin Angelina Jhonson?" usul Harry.
"Yah, bisa jadi. Angelina kan cukup pintar," sahutku.
"Yah semoga ia yang terpilih, agar bisa membanggakan Gryffindor," ujar Ron.
"Bagaimana dengan Cedric Diggory? Setahuku dia juga brillian," kataku.
"Cedric Diggory itu? Kapten Tim Quidditch Hufflepuff?" tanya Ron dengan nada mengejek.
Aku mendelikkan mataku tajam ke arah Ron, "Jangan berkata tentangnya dengan nada mengejek begitu Ron. Kau tak ada apa-apanya dibanding dia,"—Ron mendengus mendengar perkataanku barusan—"Lagipula aku setuju saja jika dia yang terpilih jadi kandidat Hogwarts."
"Kukira Ron masih jengkel karena kekalahan Gryffindor dengan Hufflepuff ditahun ketiga yang lalu?" sahut Harry sambil terkekeh, yang dijawab dengusan yang lebih keras oleh Ron.
"Oh ayolah. Bahkan Fred dan George kesal dengan Diggory."
"Kau berlebihan, Ron. Setahuku mereka berdua hanya terbawa emosi sesaat. Aku bahkan melihat Diggory menyapa Fred dan George tadi siang di koridor. Lagipula yang seharusnya kesal kan Harry, bukan kau," cercaku.
"Lagipula, yang kudengar Cedric Diggory memang brillian," sahut Harry yang dijawab anggukan olehku.
"Dia benar-benar Hufflepuff sejati, setahuku. Pekerja keras, baik hati, jujur, dan aku sering mendengar anak-anak perempuan membicarakan ketampanannya..." kataku.
"Hermione Granger mulai bergosip, eh?" goda Harry.
Aku memukul lengannya kencang, yang dijawab ringisan olehnya. "Hei, hei! Aku bercanda, Mione." Harry hanya memberikan cengiran tak berdosa andalannya.
Belum sempat aku membalas, Ron memotongku, "Hei, bagaimana dengan Beauxbatons?" tanyanya antusias.
"Fleur Delacour, kalau kutebak," sahut Harry enteng. "Tapi hanya perkiraan. Tapi bisa saja sih yang terpilih temannya Fleur Delacour yang biasanya berjalan bersama dengannya itu. Kelihatannya ia penyihir brillian."
"Kurasa gadis yang sering berjalan bersamanya bukan murid tahun ketujuh, mungkin ia seumuran dengan kita, atau dibawah kita satu tahun," timpalku.
Harry menaikkan alisnya, "Bagaimana kau bisa tahu?"
aku memutar bola mata ku, "Siapapun bisa tahu setelah melihat badannya yang kecil itu, Harry. Maksudku—oh lihat lah dari tampangnya yang masih sangat muda itu. Sepertinya ia murid kedua yang hadir dari Beauxbatons yang masih berumur di bawah tujuh belas tahun, setelah adiknya Delacour," Harry pun mengangguk dan menggumamkan sesuatu dengan pelan sehingga aku tak bisa mendengar.
"Fleur Delacour ya... bisa saja sih..." celetuk Ron tiba-tiba. Eurgh melihat Ron benar-benar tergila-gila dengan kecantikkan si Fleur-Veela-Delacour benar-benar membuatku muak. Bukan, cemburu, bukan. Hanya menggelikan.
Maksudku, lihat saja seberapa arogannya dia. Laki-laki hanya melihat dari kecantikan Veela-nya saja.
"Bagaimana dengan Durmstrang?" tanya Harry.
Oh, come on. Jangan membicarakan Durmstrang.
Sudah beberapa hari ini aku sengaja tidak melaksanakan ritual pagi ku—bangun pagi-pagi dan duduk di bawah pohon di tepian Danau Hitam sambil membaca buku. Hanya untuk menghindari orang itu. Karena sebelum aku pergi kesana keesokan harinya setelah pembicaraan terakhir kami kemarin yang menyisakan tanda tanya dan kekecewaan, aku melihatnya jogging bersama Viktor dan beberapa murid Durmstrang lainnya.
Meskipun kesal ritual pagiku jadi terganggu, tapi aku tidak ingin bertemu dengannya ataupun bertatapan muka lagi dengannya.
Bahkan ketika aku bertemu dengannya di koridor, aku selalu mempercepat langkahku. Menganggapnya sebagai pajangan koridor berjalan. Aku selalu mengambil rute lain jika kembali dari perpustakaan. Dan ketika secara tak sengaja matanya menatap mataku di Aula Besar, dengan cepat aku membuang muka. Intinya, aku menghindar darinya.
Lagipula, ia sama sekali terlihat tak terganggu dengan itu. Bahkan ia terlihat santai-santai saja, seolah tak ada yang terjadi. Seolah ia tak pernah berbicara padaku.
Belum lagi pertanyaan nya yang menggantung itu. Dan jawaban aneh itu. Salah orang? Salah orang apanya? Mungkin ini bukan urusanku, tapi aku tidak bisa menahan rasa keingintahuan-ku. Dan hal yang sebenarnya tak terlalu penting untuk dipikirkan ini menyita pikiranku. Urgh, Aku lebih memilih mengerjakan essay Arithmancy sepanjang sepuluh meter ketimbang memikirkan hal yang sangat pointless ini.
Dan setiap saat aku mengingat-ingat rasa kecewaku karena dia tidak ingin berteman denganku, selalu ada satu pertanyaan yang terngiang dikepalaku.
Kenapa aku peduli?
Ya, kenapa aku peduli?
Merlin, dia Malfoy dan kau tahu seberapa rasisnya mereka, Hermione Granger!
Urgh, Merlin. kenapa hal yang tak penting ini menjadi sangat menjengkelkan?
"Aku tak bisa menilai. Orang-orang Durmstrang kelihatannya sangat tak terduga," kata Ron sok berargumen—membuyarkan lamunanku untuk kedua kalinya. "Bagaimana Viktor Krum? Bloody Hell... dia sangat hebat! Iya kan?"
"Entahlah Ron. Tapi mengingat ia terlihat dianak emas-kan oleh Igor Karkaroff, bisa saja."
"Belum tentu," potongku. "Piala Api tidak menilai seperti itu. Piala Api menilai secara adil, sesuai kemampuan penyihir yang memang layak dijadikan kandidat."
"Iya sih... bagaimana dengan Draco Malfoy? Kurasa ia satu-satunya yang tidak mendaftarkan diri di antara murid Durmstrang lainnya, tapi yang kudengar dia jenius," tukas Harry.
Oh please jangan bicarakan orang itu.
"Setahuku Malfoy itu berada di tahun yang sama seperti kita. Tapi entahlah, mungkin karena ia termasuk murid berprestasi, sehingga ia juga ikut dikirim kesini? Aku kaget melihat seorang Malfoy datang kesini dari pihak Durmstrang," sambung Ron.
Aku mengernyitkan dahiku, "Ma—maksudmu?"
"Oh, ayolah. Semua orang tau. Bahkan ayahnya, si Lucius Malfoy adalah Slytherin. Semua keluarganya Slytherin. Aku kira akan bertemu dengannya di Hogwarts saat pertama kali aku menginjakkan kakiku di sini. Tapi Merlin mendengar doaku sepertinya," jawab Ron.
Harry pun tertawa mendengar kata-kata terakhir Ron, sedangkan aku hanya diam tidak merespon apa-apa. Tak bisa merespon apa-apa, tepatnya.
"Oh sepertinya sudah saatnya..." ujar Ron pelan seraya menegakkan tubuhnya menghadap ke depan aula. Aku pun juga iku menghadap Dumbledore yang tengah berdiri disebelah Piala Api.
"Attention please,"—seluruh penghuni Aula Besar pun mulai diam dan menaruh perhatin mereka ke Dumbledore—"Seperti yang kita ketahui bersama, bahwa pada malam ini, Piala Api akan mengumumkan siapa saja yang akan mengikuti Turnamen Triwizard. Sekali lagi aku ingatkan, bahwa setiap kandidat yang terpilih, akan melaksanakan tiga tugas yang sangat sulit. Setiap tugas memiliki tingkat kesulitan yang tinggi.
Diperlukan ketangkasan, kerja keras, kecerdasan, dan kepercayadirian yang tinggi. Piala Api tentunya telah menyeleksi siapa saja yang mampu menempuh turnamen ini. Dan perlu aku ingatkan lagi. Orang yang telah terpilih tidak dapat mengundurkan diri. Dan sekalinya kau terpilih, kau akan sendirian," jelas Dumbledore.
"Dan selanjutnya, kita akan melihat siapa saja kandidat peserta Turnamen Triwizard," kata Dumbledore melanjutkan. Piala Api yang sedari tadi berada di sebelah Dumbledore, yang awalnya apinya berwarna biru, berubah menjadi merah. Lalu seketika terlihat sobekan perkamen kecil yang masih berasap keluar dari api merah tadi—yang langsung ditangkap oleh Dumbledore.
"Untuk peserta dari Durmstrang... Viktor Krum!" kata Dumbledore. Sontak semua murid bertepuk tangan, terlebih dari pihak Durmstrang.
Aku pun ikut bertepuk tangan, dan melihat ke arah Viktor. Kulihat dia sedang tersenyum penuh kemenangan sambil menjabati teman-temannya yang memberikan selamat—termasuk Malfoy. Viktor pun maju untuk berjabat tangan dengan Dumbledore. Ia menggerling ke arahku lalu tersenyum—yang kujawab dengan senyuman pula. Ia pun berjalan memasuki ruangan di sebelah meja makan guru.
"Bloody hell... kepada siapa Viktor Krum tersenyum tadi?" tanya Ron tak percaya.
Aku hanya menatap Piala Api yang sekarang mengobarkan api berwarna biru lagi—berpura-pura tak mendengar. "Entahlah... mungkin temannya? Atau seorang gadis?" timpal Harry.
"Gadis beruntung, kurasa..." gumam Ron sambil mendengus.
"Jangan cemburu begitu, Ron..." kata Harry sambil terkekeh, yang dijawab delikan tajam dari Ron. Aku tetap berpura-pura tak mendengar.
Dumbledore berjalan mendekati piala api lagi, dan sekejap Apinya berubah warna menjadi merah lagi, dan mengeluarkan sobekan perkamen kedua berwarna biru muda yang masih berasap. "Peserta kedua, dari Beauxbatons... Fleur Delacour!"
Murid-murid pun kembali bertepuk tangan. Didominasi oleh murid-murid Beauxbatons. Fleur Delacour pun maju ke depan dengan senyum percaya diri yang tinggi, menjabat tangan Dumbledore, lalu pergi menyusul Viktor ke ruangan di sebelah meja guru.
Lalu, untuk yang ketiga kalinya, Piala Api mengeluarkan sobekan perkamen kecil lagi. "Dan untuk peserta dari Hogwarts... Cedric Diggory!"
Semua murid Hogwarts bertepuk tangan dengan riuh. Terlebih lagi murid-murid Hufflepuff, yang tengah bertepuk tangan dengan penuh kebanggaan kepada Cedric Diggory. Terdengar beberapa siulan dari murid-murid lain. Ia pun maju, berjabatan tangan dengan Dumbledore—yang menepuk pundaknya menyemangati—lalu menyusul kedua peserta lainnya.
Semua murid Hufflepuff kelihatannya sangat senang—sekaligus bangga. Merlin, bukankah itu suatu kebanggaan yang sangat besar untuk Asrama Hufflepuff?
"Tebakan kita benar semua, kurasa," kata Harry sambil menyengir.
"Sebenarnya mudah saja, mereka semua hebat-hebat kok," sahutku sambil mengangkat bahuku.
"Benar juga sih, tapi—"
Aku menghiraukan kata-kata Ron barusan, dan memandang bingung ke arah Piala Api—yang kemudian memancarkan api merah lagi.
Semua penghuni Aula Besar juga memandang tak percaya ke Piala Api—yang sekarang sedang mengeluarkan sobekan perkamen untuk keempat kalinya. Dumbledore menangkap sobekan perkamen itu dan memandangnya tak percaya.
Terjadi keheningan yang yang menegangkan untuk beberapa lama. Bahkan, tak ada yang mengalihkan kepala dari Dumbledore.
"Harry Potter?"
Aku membelalakan mataku tak percaya ke arah Dumbledore. Bahkan mataku serasa ingin keluar dari tempatnya. Harry?! Aku salah dengar kan?
"HARRY POTTER!" panggil Dumbledore untuk kedua kalinya. Kali ini dengan penuh emosi.
Aku pun menolehkan kepalaku dengan cepat ke arah Harry—yang masih membelalakan matanya tak percaya seperti yang aku lakukan barusan. Harry tampak pucat. Aku bahkan merasakan ia berjengit di tempatnya barusan.
"Harry, lebih baik kau maju dulu. Baru penjelasan," kataku pada Harry.
Harry hanya mengangguk tak berdaya, seraya berdiri dari duduknya, dan melangkahkan kakinya ke depan aula. Dumbledore terlihat murka. Aku masih menatap Harry tak percaya. Bahkan semua penghuni Aula menatap Harry tak percaya.
Kemudian Aula Besar mulai bising karena bisikkan-bisikan dari seluruh penghuni Aula Besar. Bahkan para profesor pun masih tampak tak percaya, dan mendiskusikannya bersama dengan profesor di sebelahnya. Aku masih menatap Piala Api yang sekarang tengah mengobarkan api biru.
Bagaimana bisa?
Aturan mainnya selalu tiga peserta kan? Lagi pula, Piala Api kan benda yang benar-benar memiliki sihir yang kuat, tak semudah itu untuk dikelabui. Aku bahkan tak mengindahkan pikiranku tentang kemungkinan Harry yang menaruh namanya di Piala Api.
Lagipula, tidak mungkin kan Harry begitu? Perlu sihir yang kuat juga kalau kau ingin mengelabui Piala Api, dan setahuku, hanya penyihir-penyihir yang menyandang nama hebat, penyihir hitam, atau bahkan mungkin hanya pembuatnya saja yang bisa. Lagipula aku tak percaya jika Harry sampai melakukan hal ini.
Lebih baik aku mencari kemungkinan lain daripada berburuk sangka pada Harry. Hey, aku mengenal Harry sejak aku menginjakkan kaki disini—oh bahkan sebelum. Dan yang kutahu dia adalah penyihir baik. Lagipula apa yang Harry inginkan jika ia terpilih mengikuti Turnamen? 1000 Galleon? Omong kosong! Setahuku Harry bukanlah penyihir yang materialistis.
Sangat amat tidak rasional.
Dan, lihat. hal yang membahayakan tengah melibatkan Harry sekarang.
Kulihat sudah ada beberapa murid yang meninggalkan Aula Besar. Ron bahkan sudah pergi, tanpa mengatakan apa-apa. Kemana Ron? Ah, masa bodoh lah.
Aku berjalan cepat ke arah pintu Aula Besar. Aku harus segera mencari tahu tentang hal ini. Harus.
Lagipula, kenapa Harry? Kenapa jika hal buruk terjadi, kenapa Harry selalu terlibat?
Satu tempat langsung terngiang di kepalaku.
Perpustakaan.
Aku sudah menggeledah perpustakaan mencari buku yang mungkin dapat disangkut pautkan dengan kejadian barusan. Dan hasilnya nihil. Dan sekarang sudah mendekati jam malam. oh, Merlin. Aku terlalu penasaran, bahkan mungkin aku akan susah tidur nanti.
Aku masih meneliti buku yang tengah kubaca. Buku mantra-mantra kuno. Mungkin saja aku dapat menemukan mantra untuk mengelabui sebuah Piala Api. Tapi aku pesimis akan hal ini.
Aku sudah membaca semua sejarah mengenai Turnamen Triwizard dari tahun ke tahun. Bahkan aku meneliti buku tentang penangkal sihir kuno dan buku tentang kejadian-kejadian sihir tak terduga dari masa ke masa. Tapi intinya cuma satu. Nihil.
Dan karena hasil yang negatif ini, aku jadi mulai ragu dengan Harry.
Tidak! Tidak boleh aku berpikiran jahat seperti ini. Harry sahabat terbaikku dan aku tau bagaimana sifatnya. Ia tak mungkin melakukan hal yang malah mengancam jiwanya kan? Lagipula ada mantra batasan umur di sekeliling Piala, jadi Harry tak mungkin bisa melakukannya. Dan lagipula sudah ada korban yang nekat mencoba melewati lingkaran batasan umur dengan Ramuan Penambah Umur—ya, si Kembar Weasley, tentu saja.
Aku membaca buku di hadapanku lagi dengan teliti. Mencoba mencari celah tertentu yang dapat memberikanku petunjuk—sekecil apapun itu. Tapi, aku tak dapat bekonsentrasi. Kepalaku terlalu penuh dengan pertanyaan yang tak bisa terjawab sekarang.
Mungkin kah seseorang menyihir Piala Api?
Kalau iya, bagaimana bisa?
Semudah itukah Piala Api dikecohkan?
Aku mempertimbangkan jika seseorang meng-Imperio Piala Api. Tapi aku ragu karena tak menemukan penjelasan apapun jika benda mati—ralat, benda sihir bisa terpengaruh. Lalu satu lagi mantra Confundus. Tapi aku tetap ragu dengan semua perkiraanku.
Aku mengerang frustasi seraya menutup buku di hadapanku dengan keras. Kenapa tiba-tiba begini sih? Kenapa Harry?
Masalah yang melibatkan Harry, bukan Harry yang melibatkan diri dengan masalah. Dimana letak adilnya itu?
Aku mengembalikan buku-buku yang kuambil ke tempat semula. Lalu memeluk satu buku yang akan kupinjam untuk kubaca kembali di kamar, siapa tau aku mendapat petunjuk. Aku pun bangkit dari duduk-ku dan berjalan ke arah pintu keluar.
Kepalaku dipenuhi pikiran-pikiran tak berujung. Merlin, ini membuatku pusing, padahal bukan aku yang akan menghadapi. Tapi tetap saja, bagaimanapun Harry yang akan menghadapinya dan dia sahabatku. Aku peduli. Sangat peduli.
Tapi kalau kupikir-pikir, percuma juga aku mencari tau penyebab dari semua ini. Meskipun aku membaca semua buku sampai rambutku rontok semua. Bagaimana pun Harry harus tetap menghadapi turnamen ini kan?
Merlin... Harry hanya berusia empat belas tahun!
Ini sungguh tak adil.
Aku berjalan keluar Perpustakaan—dan baru menyadari bahwa tinggal aku sendiri disini. Bahkan aku heran, kemana perginya Madam Pince? Oh, tak penting yang penting harus kembali ke asrama sebelum jam malam berlangsung dan seorang prefek akan memotong poin asramaku. Oh, lihatlah. Ini sudah jam setengah sepuluh, jam malam sudah berlangsung daritadi.
Aku berjalan dengan cepat, bahkan aku merasa aku sedikit berlari. Lorong demi lorong kulewati. Aku menaiki undakan menuju lantai empat—dengan masih setengah berlari. Bahkan aku hampir tersandung barusan jika aku tidak segera memegangi pegangan tangga.
Ya, aku melewati jalan memutar seperti biasa. Masih menghindari Malfoy jika saja aku bertemu dengannya di jalan. Dan untungnya, Merlin mendengar doaku.
Aku berjalan cepat melalui sebuah koridor kosong. Hanya ditemani suara derik api obor dan suara langkah kaki-ku yang menggema di koridor. Hening. Benar-benar hening. Keheningan yang tak wajar. Tidak seperti biasanya, rasanya hening menusuk. Aku bahkan merasa bulu kuduk-ku berdiri.
Semakin lama, semakin kupercepat langkahku. Semakin kupercepat langkahku, semakin aku merasa tak nyaman. Aku mengeratkan pelukanku pada buku-ku, menenangkan pikiran dari pikiran-pikiran buruk.
Aku ini Gryffindor! Apa yang kutakutkan? Lagipula ini bukan pertama kalinya aku lewat sini kan? Bahkan aku sudah bertahun-tahun disini.
Tapi kali ini rasanya berbeda.
Oh, mungkin saja karena otakku yang tengah overload, aku jadi merasakan hal yang tidak-tidak. Ya, ya. Itu masuk akal.
Aku makin mempercepat langkahku—bahkan setengah berlari. Oh tidak jangan panik! Apa sih yang kutakutkan? Aku Gryffindor! Oh, Hell, aku penyihir! Aku punya tongkat sihir! Apa yang kutakutkan?
Aku sampai di perempatan koridor dan bermaksud membelokkan diriku ke kanan. Tetapi aku menangkap sesuatu dari ujung mataku. Sesuatu yang bergerak dari koridor yang berlawanan dengan koridor yang akan kulewati.
Saat aku menolehkan kepalaku, aku dapat melihat siluet hitam sedang berjalan menuju arah yang berlawanan denganku. Seketika aku menutup mulutku yang hampir memekik kaget.
Dengan reflek aku mengambil tongkatku dari saku dan memegangnya erat-erat. Sambil mempererat pelukanku pada buku yang kubawa. Perlahan berjalan mundur menuju koridor sebelah kananku sambil tetap mengawasi siluet hitam itu. Aku mengarahkan tongkatku pada makhluk tersebut.
Merlin! siapa itu? Apa itu... Malfoy?
Jenggot Merlin. untuk apa Malfoy naik ke lantai empat?
Kalau bukan Malfoy... siapa itu? Atau.. makhluk apa itu? Aku tak begitu bisa melihat dengan jelas karena kurangnya pencahayaan di sini, yang jelas orang itu menggunakan jubah hitam panjang. Bahkan jubah itu sampai terseret-seret di belakang orang itu saking panjangnya. Yang jelas—makhluk itu mengedarkan hawa menakutkan.
Oh, aku ragu kalau dia—makhluk berjubah hitam disana adalah manusia. Aku mendengar suara desisan pelan dari arahnya. Seperti desisan ular.
Basilisk...?
Tentu bukan, bodoh. Basilisk telah mati. Dan Basilisk itu besar. Bahkan aku masih bisa mengingat seberapa besar Basilisk itu. Ataukah... ia adalah Parselmouth? Sama seperti Harry?
Kalau pun iya, itu berarti juga bukanlah hal yang bagus.
Ataukah... hantu?
Urgh, jangan mulai lagi.
Aku tetap berjalan mundur, berjalan dengan pelan sekali, sehingga tak menghasilkan suara sama sekali. Aku berkeringat dingin, saking takutnya. Bahkan kaki-ku melemas. Tidak! Aku harus segera pergi dari sini! Aku harus tetap bergerak. Sebelum terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
Aku tetap mengawasinya—yang makin lama makin menjauh. Aku tetap mengacungkan tongkatku ke arahnya. Meskipun terlalu gelap di sini, aku tetap menolak menyalakan tongkatku. Aku takut keberadaanku diketahui oleh makhluk itu.
Well, setidaknya ada untungnya koridor ini sangat gelap. aku jadi tak terlihat.
Tiba-tiba, makhluk itu berhenti di tempatnya. Aku pun sontak menahan napasku, dan diam di tempatku berdiri, berusaha tidak menimbulkan suara sedikit pun. Rasa takut menjalari tubuhku dengan cepat. Aku merasakan keringat dingin membanjiri tubuhku.
Merlin, Merlin, Merlin! jangan panik, Hermione... jangan panik...
Tapi, Hell! Aku tak bisa!
Merlin, Hermione Granger! Kemana jiwa Gryffindor mu?
Makhluk itu pun bergerak kembali—membuatku menahan napas kembali. Tetapi yang kulihat bukanlah seperti yang aku pikirkan. Ternyata makhluk itu berjalan kembali dan berbelok ke tikungan koridor.
Aku pun menghembuskan napas yang sedaritadi aku tahan. Tetap mempertahankan posisiku. Menunggu beberapa detik untuk memastikan bahwa makhluk itu pergi—dan kelihatannya memang sudah pergi. Aku menghembuskan napasku lega.
Aku membalikkan badanku lalu berjalan dengan sangat cepat menuju tikungan koridor di ujung sana. Tongkat sihir masih di tangan—aku bahkan tetap mengacungkannya ke depan. Sambil meredakan rasa panik-ku yang berangsur hilang sedikit demi sedikit. Ya, sedikit.
Merlin, apa-apaan tadi?!
Aku tiba diujung koridor dan membelokkan diriku. Tetapi sedetik kemudian aku terpaku tak bergerak.
Makhluk itu berjubah hitam itu sekarang tengah berdiri tepat di depanku. Menghadangku. Sontak aku menjerit dan mundur beberapa langkah. Aku bahkan jatuh terduduk saking kagetnya.
Merlin, bisakah aku panik sekarang?!
Rasa takut dengan cepat menjalari tubuhku. Bahkan aku berani taruhan, wajahku pasti luar biasa pucat. Mataku terbelalak kaget menatap makhluk di depanku. Aku menggapai-gapai tongkat sihirku yang terjatuh tak jauh dariku. Lalu mengacungkan tinggi-tinggi ke arah makhluk itu.
Perasaan takut dan panik-ku berangsur-angsur meningkat ketika aku melihatnya mendekatiku. Aku mundur dengan tersengal-sengal. Aku bahkan tak bisa berdiri saking paniknya. Lututku melemas. Benar-benar lemas.
Dan seketika aku merasakan tembok koridor yang dingin di punggungku. Crap, aku terjebak. Aku tak bisa bergerak saking paniknya. Tanganku bergetar hebat.
Meskipun jarakku dengan makhluk ini sudah begitu dekat—hanya terpaut beberapa langkah, aku tetap tak bisa melihat rupa dari makhluk di depanku. Rasa penasaran perlahan menggerogotiku. Aku penasaran dengan wajah makhluk ini. Bahkan aku dapat mengalihkan rasa takutku untuk sementara. Ya, selalu saja rasa penasaranku bisa mengalahkan semuanya. dan kali ini diwaktu yang tidak tepat. Setidaknya aku harus memastikan dulu, kan?
Entah kebodohan dari mana, bukannya aku merapalkan mantra yang dapat menjauhkan diriku dari makhluk ini, aku malah merapalkan mantra lain. "Lumos!"
Sedetik itu juga makhluk itu mundur, dan menghilang dari hadapanku. Disusul dengan cahaya biru yang cukup terang dari tongkat ku. Aku hanya tersentak kaget, melihat lenyapnya makhluk asing tadi dengan sangat tiba-tiba.
Akhirnya aku mendapat kekuatanku kembali untuk berdiri. Badanku masih gemetar. Badanku masih lemas. Rasa panik ku masih bergerumul menjadi satu dipikiranku.
Aku memungut buku-ku yang terjatuh tak jauh dariku, lalu memeluknya erat. Sambil tetap mengedarkan pandangan ke sekitarku dengan was-was. Cahaya terang berwarna biru masih terpancar dari tongkatku.
Merlin, boleh aku tenang sekarang?
Aku berjalan cepat menuju tangga beberapa meter di depanku. Kali ini aku tak ragu untuk berlari. Tetap menggenggam erat tongkatku.
Demi Godric, ini pertama kalinya aku melihat makhluk seperti itu. Apa itu benar-benar... hantu? Blah! Jangan konyol. Aku tak percaya dengan hantu.
Lalu itu tadi apa?
Hell, bahkan aku takut tadi. Sangat takut.
Bahkan aku melupakan fakta bahwa beberapa menit yang lalu aku hampir stress saking bingungnya karena masalah Harry. Tapi sekejap, semuanya hilang. Hanya rasa takut dan panik yang mengusai pikiranku.
Merlin, untung Harry tak disini. Kalau iya, mungkin sudah tertawa terpingkal-pingkal melihatku memakan omongan sendiri. Takut pada sebuah makhluk yang mungkin saja... hantu.
Aku mengerang frustasi. Kemarin Malfoy, tadi Harry, sekarang makhluk ini!
Dan kali ini masalah yang melibatkanku. Oh tidak, kurasa dari kemarin, sejak aku bertemu Malfoy.
Aku ingin merutuki diriku atas semua yang terjadi akhir-akhir ini sebelum berpapasan dengan seorang Prefek Ravenclaw dan memotong poin dari asramaku.
TBC
BAM! gak kok. gak bakal berubah genre -_-v tenang saja, lagian makhluk itu nanti akan berperan penting (bisa dibilang gitu) entar kedepannya (kalo ni cerita lanjut doakan saja-_-)
dan yap. maaf updatenya lama bgt ya? internet abis *malah curhat* jadinya gitu dehh. terus dah mulai sekolah juga sibuk nih abis mos minggu lalu :$ *soksibukpadahalmoskagangapa2in* -_-
dan sekali lagi mohon maaf kalo masih banyak kurang2nya ya, dan tetep review! review kalian tu penyemangat bgt dehhh ;)
balasan review:
herianiyulia : ini lanjut kokk lanjut huhehe tetep review yah makasi! ;)
senjadistria : wkwkkw pokoknya gitu dehhh hihi liat kedepannya aja tetep review yakk makasih!:D
Nyanmaru desu : yah pokoknya gitu dehh hihi emg dia kece bat ya jadi anak durmstrang wkwk turnamen sih dimasukkin kok, tapi gak semua, maksudnya gimana ya-_- ya gitu deh ga diceritain full lah orang pasti dah pada tau, trs kan ini Hermione's pov jadinya dari pov nya dia aja sih, dan mungkin sedikit draco's entar. ah yaa makasih dah ngingetin disini aku dah berusaha ngerubah taudeh masih ada yg salah apa engga-_- makasih banyak tetep review ya!:D
asdfghjkl: aku juga envy kok ama mione, gak kamu doang *sobs* weehehehhe muucih eaaaa insyaallah kalo ada mood *gaplok*gak, gak, insyaallah kalo ada waktu thanks! ;)
Dramionequen : asik nih puasa eyy sama dong :3 tau ya jahat tampol aja *gaplok* iyaa dulu kan ampe debat gitu yaa nge pronounce Hermione yang bener tuh gimana- oke thanks ya tetep review! :D
cca : ni dah next yaaacc ampunn jan blame saya ;_; thanks btw ya!:D
Htaria: hehehe arigatou! :d
esposa malfoy : aku juga penasaran kok draconya kenapa *loh* iya heheh-v ini masih banyak kurangnya kamuuuu- tapi btw makasih yahuehueh insyaallah! :D
bye! btw, happy fasting!
Octans.
