GomenLama Update orz, buat yang review kemarin, sankyuu! NagisaGou juga OTP saya!
Disclaimer : Beneran, Free bukan punya saya!
Normal POV
"Gou-chan? Gou-chan? Daijoubu?!" Pria berambut blonde itu mengguncang-guncang tubuh gadis yang mulai tak sadarkan diri. Di kejauhan, terlihat sosok misterius bersembunyi di balik dinding. Terlihat seringai di wajahnya. "Perfect plan.. Next target, Nagisa."
Gou POV'S
Gelap... Hanya itu yang kuingat. Semua menjadi gelap. Perlahan kubuka mataku. Terlihat cahaya lampu, dan langit langit sebuah ruangan.
Dimana?
Aku mencoba mengumpulkan kesadaranku, mencoba untuk memahami apa yang sedang terjadi padaku.
"Dimana aku? Bukankah tadi aku baru saja bertemu dengan Nii-chan?" Gumamku.
Terlihat ada beberapa orang di sekitarku. Siapa mereka?
"Ah, kau sudah sadar?" Seseorang berambut kebiruan terlihat berbicara ke arahku.
"Gou-chaaan~" teriak salah seorang dari mereka. "Daijoubu? Aaaaa, aku benar-benar khawatir! Gou-chaaan~"
"Kenapa aku di sini?" Dengan wajah kebingungan, aku menatap ke arah mereka. Mencari tahu apa yang terjadi sebenarnya.
"Kau tadi pingsan, Nagisa yang membawamu ke sini." Jawab salah seorang dari mereka. "Kau baik-baik saja?"
"Haruka-senpai? Umh.. Sedikit pusing." Perlahan aku mulai memahami apa yang telah terjadi. Aku ingat ada seseorang yang meneleponku dan mengatakan kalau Nii-chan mengalami kecelakaan.
"Nii-chan? Apa dia baik-baik saja?" Aku sangat khawatir. Selama ini hanya Nii-chan yang menjagaku, kedua orang tuaku selalu sibuk dengan urusan mereka.
"Sebaiknya kau istirahat dulu, aku akan menjenguk Rin." Haruka-senpai mencoba menenangkanku. Kemudian ia langsung pergi keluar ruangan. Sepertinya Haruka-senpai juga khawatir dengan Nii-chan. Ia adalah orang yang menurutku, paling dekat dengan Nii-chan. Bahkan lebih dekat dariku.
Aku terduduk, di atas tempat tidur. Kesadaranku telah pulih seutuhnya. Aku ingat setiap detik kejadian yang baru saja ku alami. Sungguh sesak rasanya.
...
"Gou-chan Gou-chan! Kau sudah membaik?" Nagisa-senpai tersenyum lebar ke arahku.
"KOU! Jeezz." Entah kenapa aku merasa agak baik setelah Nagisa-senpai tersenyum ke arahku. "Um... Terimakasih sudah menolongku." Aku tertunduk, berusaha menyembunyikan wajahku yang sedikit memerah. Aku tidak mau ia melihatnya. Ia pasti akan menertawakanku. Dasar bodoh.
"Aaa, aaa, daijoubu! Eheheh, aku senang kau baik-baik saja!" Entah kenapa, senyum lebarnya yang biasanya menggangguku, sekarang justru sangat menenangkanku. Celotehnya yang sangat mengganggu, sekarang justru sangat menghiburku.
"Syukurlah kalau kau baik-baik saja, Kou. Baiklah, aku akan pergi menyusul Haruka." Makoto-senpai terlihat pergi meninggalkan ruangan. Setelah sampai di dekat pintu, ia menoleh ke arahku. "Jaga dia baik-baik, Nagisa!" Ia tersenyum ke arahku dan Nagisa-senpai.
"Roger! Jangan khawatir! Kheheh." Tangannya membentuk posisi hormat.
...
"Um.. Maaf, aku sering marah-marah kepadamu, Nagisa-senpai."
"Ee? Jangan dipikirkan! Lagipula aku senang melihatmu seperti itu, kau terlihat sangat manis!" Nagisa-senpai tersenyum ke arahku, kali ini senyumnya tidak selebar biasanya, justru sangat... Uhm.. Menawan.
Wajahku memerah. Aku berusaha menutupi wajahku dengan tanganku, namun sepertinya sia-sia. Nagisa-senpai terlihat menahan tawanya saat melihat ke arahku. "B-baka!" Spontan aku melempar bantal ke arahnya. Geeezz, kenapa ia bisa menjadi menyebalkan dan memikat di saat bersamaan?
"Kheheh, maaf, aku tidak bermaksud menertawakanmu kok, Gou-chan." Wajah cengengesannya yang menyebalkan itu terlihat lagi.
"KOU! Aku harus bilang berapa kali?! KOU! K-O-U! Bukan GOU!" Nagisa-senpai selalu saja membuatku kesal.
"Gou."
"KOU!"
"Gou."
"KOU!"
"Kou."
"GOU! Eh?! B-bakaaaa!" Aku langsung memukulinya. Ia justru tertawa karena tingkahku ini. "Stupidiot Nagisa-senpai!"
...
Normal POV
"Bagaimana rencananya? Berjalan dengan lancar bukan? Haruka?" Sesosok pria misterius terlihat sedang berbicara dengan Haruka.
"Bagaimana rencana terhadap Nagisa? Apa kau sudah mempersiapkannya?" Pria berambut kebiruan itu berbalik bertanya kepada pria misterius itu. Raut wajahnya seperti biasa, tidak terlalu menampakkan ekspresi.
"Sudah dipersiapkan." Seringai licik menghiasi wajah sosok pria misterius itu. "Kau pancing saja ia keluar, dan bang! Khukhukhu..."
"Ya, terserah kau saja."
