Proclamation!

Part 2. Remember to...

Author : Ayane_Chan

Cast : Park Chanyeol

Genre : YAOI, Romance

Rating : PG-15

Length : Twoshoot

Talk2kan : Saya seneng banget ternyata fanfic absurd ini ada yang review... *nangismanjadipelukanThehun. Ok ini dia part duanya! Oh ya... buat FF yang lain updatenya mungkin next week aja yah... soalnya seminggu ini... saya FULL ulangan dari senin-sabtu... *nasib udah kelas 3! Tolong berikan kekutatan Sastra Arab Melayu pada saya(?)

.

..

.

"Eum... Sehun-ah... kenapa tadi pagi berangkat dengan Luhan?"tanya Chanyeol penasaran. Sehun yang tadinya terfokus pada jalanan setapan kini melirik ke arah Chanyeol, sedikit shock.

"Eum... sebenarnya..."Sehun nampak ragu untuk menjawab.

"Apa kalian berdua berpacaran?"dan pertanyaan spontan dari Chanyeol berhasil membuat keduanya mematung di tempat.

"Kami..."

.

..

...

'DEG... DEG... DEG...'

...

..

.

"Kami bertetangga hyung,"jawab Sehun dengan senyum di wajah polosnya. Chanyeol menghela nafasnya panjang. Ternyata memang 'belum' terjadi apa-apa.

"Eh hyung, bis nya sudah datang. Ayo cepat..."entah karena refleks atau sengaja, tanpa ragu Sehun menarik tangan kanan Chanyeol dan menariknya menuju ke arah halte yang sudah tinggal lima meter saja dari tempat mereka berdiri.

.

..

.

Satu minggu kemudian...

"Jadi... Sehunnie belum pernah berpacaran sebelumnya?"tanya Chanyeol pada namja manis di sebelahnya, Sehun. Mereka berdua kini duduk di halte untuk menunggu bus yang akan mereka berdua tumpangi.

"Anio... aku selalu percaya untuk mencintai satu kali dalam hidupku. Jadi, aku hanya akan jatuh cinta pada satu orang untuk selama-lamanya,"jawab Sehun jelas. Chanyeol melongo dibuatnya, kenapa ada anak sepolos Sehun sih? Uh... sudah polos, imut, manis, thekti pula, jadi ingin menodai(?) Eh... singkirkan pikiran busukmu itu Park Chanyeol!

"Selama-lama-lamanya?"Chanyeol berusaha meyakinkan. Sehun menengokan kepalanya ke arah kanan sehingga dia bisa melihat Chanyeol lebih jelas.-namun tetap saja tidak jelas semenjak jam telah menunjukan sepuluh P.M dan lampu halte disitu ternyata mati.

"Eum..."Sehun mengangguk-anggukan kepalanya seperti seekor puppy yang sedang dimanja oleh tuannya. Chanyeol diam sejenak, namun beberapa saat kemudian wajahnya sangat cerah, seperti seorang atheis yang baru saja mendapatkan pencerahan dari Tuhan.(?)

'Tidak papa juga sih hanya mencintai satu orang untuk seumur hidupnya. Orang itu kan pasti aku... wah beruntungnya...'dan kini bayangan dirinya yang baru saja pulang dari tempatnya bekerja di masa depan mulai membuat dirinya terbuai, dengan wajah lelah yang kemudian segera bersinar saat dia mengetahui bahwa yang mengucapkan, 'selamat datang' kepadanya saat itu adalah sosok Oh Sehun dengan perutnya yang sedang mengandung anak kedua mereka. Sementara anak pertama mereka berusaha naik kegendongan Chanyeol.

"Hyung... hyung!"saat itu dunia Chanyeol kembali terbalik. Jadi itu hanya hayalan? Tapi tidak apa-apa... namja manis di depannya tetap nyata kan?

"Ne?"tanya Chanyeol kebingungan.-Sebenarnya Sehun ingin sekali tertawa saat ini, melihat wajah bodoh Chanyeol yang sangat amat menggemaskan sehingga membuatnya ingin segera mencubutinya.

"Bisnya sudah datang,"jawab Sehun singkat lalu menarik tangan Chanyeol agar keduanya bisa mendapat tempat yang baik di dalam bis.

.

..

.

"Sehunnie tinggal di blok ini?"tanya Chanyeol begitu dirinya dan Sehun kini berdiri di sebuah rumah minimalis bernomor 23B dengan banyak pohon cherry di halamannya. Mereka berdua baru kembali dari latihan pagi yang biasa dilakukan di lapangan di sekitar area sekolah, dan Sehun meminta Chanyeol untuk datang ke rumahnya. Sehun bilang dia ingin minta diajari beberapa PR fisika yang tidak dia mengerti. -semenjak dua hari yang lalu Chanyeol mengatakan padanya bahwa Chanyeol bersedia untuk menjadi tutornya, jadi Sehun berani meminta.

"Ne... dan di sebelah adalah kediaman Luhan sunbae,"jawab Sehun sambil menunjuk sebuah rumah dengan model yang sama dengan rumahnya yang terletak persis di kanan rumahnya. Chanyeol mengangguk-angguk paham kemudian mengikuti langkah Sehun yang sudah mulai memasuki gerbang.

"Aku pulang..."ucap Sehun nyaring. Dia melepaskan sepatu sekolahnya dan menggantinya dengan sandal rumahnya. –yang membuat Chanyeol ternganga karena motifnya Dora the explorer!

"Kajja hyung..."Chanyeol nampak tertegun saat itu. Rumah Sehun benar-benar berbeda dengan rumahnya. Lantainya terbuat dari kayu sedangkan lantai rumahnya dari marmer, Sehun harus menukar sepatunya dengan sandal sedangkan dia akan langsung naik ke lantai dua dan meletakan sepatunya di kamarnya. Rumah Sehun dilapisi kertas dinding bertemakan bunga sakura sedangkan rumahnya hanya di cat putih, abu-abu, dan hitam. Dan yang terpenting, rumah Sehun terasa lebih hangat dan hidup dari rumahnya. Mungkin jika nanti mereka menikah dan mempunyai rumah sendiri, Sehun juga akan membuat rumah mereka menjadi hangat?

"Sehun-ah... sudah pulang?"seorang namja manis datang dari dalam. Dia memakai celemek berwarna baby blue dan kedua tangannya nampak basah. Wajahnya manis, kulitnya putih, dan matanya sipit. Mirip Sehun, hanya saja perawakannya lebih kecil. "Eh kau mengajak teman?"namja itu mulai mendekat.

"Eum... Hyung, ini eommaku. Eomma, ini Park Chanyeol sunbae, anggota tim basket sekolah,"jelas Sehun. Namja yang dipanggilnya eomma itu tersenyum ramah pada Chanyeol. Chanyeol sendiri malah bingung harus berbuat apa.

'Aduh... calon mertua!'

"A... Anyeong haseo. Park Chanyeol imnida... Bangapseumnida,"Chanyeol membungkuk sembilan puluh derajat lalu tersenyum. –dan senyumannya nampak seperti paman-paman yang hobinya mabuk dan memperkosa anak orang.

"Aish... kau anak yang tampan. Ayo masuk dulu... sebelum bermain ikutlah makan siang terlebih dahulu,"tawarnya ramah. Chanyeol sekarang terkejut. 'Makan siang bersama keluarga masa depan?'

"Ah... maaf merepotkan,"kata Chanyeol sungkan. Eomma Sehun hanya tersenyum untuk menanggapinya lalu merangkul bahu Chanyeol untuk mengikutinya ke arah meja makan.

"Aku ganti baju dulu eomma..."Sehun mengambil alih tas Chanyeol lalu segera naik ke lantai dua menuju kamarnya.

"Ajhumma... benar tidak apa-apa?"tanya Chanyeol sekali lagi. Dia harus menunjukan sikap yang sangat sopan di depan calon mertuanya kan?

"Iya tidak apa-apa. Tunggu di meja makan dulu, ajhumma akan mengambil supnya."

.

..

.

"Aku senang bisa makan siang bertiga,"Sehun tiba-tiba membuka mulutnya saat mereka sedang belajar. Mereka sudah belajar sekitar satu jam lamanya dan Chanyeol ternyata tidak bisa mengajari Fisika sama sekali! – well, dia kan selalu mencontek pada Jong Dae – Oleh karena itu untuk menutupi rasa bersalah dan Ehemmm... malunya, maka dia menelepon Jong Dae untuk menanyakan cara untuk mengerjakan soal yang Sehun ajukan.

"Memangnya kenapa?"tanya Chanyeol. Sehun memandang Chanyeol, dan Chanyeol sangat gugup kali ini. Jarak mereka terlalu dekat!

"Biasanya aku hanya makan berdua dengan eomma,"jawab Sehun murung. Itu pertama kalinya Chanyeol melihat Sehun bersedih dan Chanyeol tak suka itu!

"Dimana appamu?"tanya Chanyeol berusaha menggali lebih dalam.

"Appa bekerja di Jepang. Dua atau tiga bulan sekali pulang. Dan itupun appa hanya akan tinggal untuk dua sampai empat malam."

"Begitu... kenapa eommamu dan kau tidak ikut pindah kesana?"Euh... Chanyeol bahkan benci untuk memikirkan hal itu. Lalu kenapa dia bertanya? Kan Chanyeol mencintai Sehun!

"Tidak bisa. Appa akan selalu berpindah-pindah tugas setiap satu tahun,"jelas Sehun.

"Oh... kalau begitu appamu pasti lebih sedih daripada kau,"Sehun membulatkan matanya begitu mendengar pernyataan Chanyeol. "Kenapa begitu?"tanyanya antusias.

"Karena dia akan memakan makan siangnya sendirian sedangkan kau memakan makan siangmu bersama eommamu kan? Sehrusnya kau tidak boleh bersedih karena kau bahkan ada yang menemani."

"Hyung benar. Gomawo ne..."dan senyum innocent itulah yang selalu Chanyeol harapkan terpasangan dalam guratan wajah tercantik di hadapannya.

.

..

.

Seoul sedang diguyur hujan lebat hari ini. Banyak orang berlarian di sekitar jalan setapak, baju mereka mulai basah karena intensitas hujan yang sangat tinggi. Bulan ini memang cuaca sangat membingungkan, tadi pagi matahari bersinar dengan terang. Langit biru dengan gumpalan awan putih berperan sebagai mantel Seoul saat itu, namun keadaan tersebut hanya bertahan selama enam jam, karena di jam dua belas ini langit nampak sangat gelap dan petir sesekali terdengar menjelegar.

Sehun dan Chanyeol sedang duduk di bench penonton saat ini. Kaki Chanyeol mengalami cidera saat bertanding melawan tim SMA tetangga – saat dia akan melakukan slam dunk dia melirik ke arah Sehun yang berada di bench penonton. Niatnya sih ingin tebar pesona, tapi ternyata dia malah keseleo sehingga rencananya gagal total - sehingga untuk dua hari kedepan dia hanya bisa berpartisipasi dalam latihan sebagai penonton. Sehun duduk di sampingnya. Kulitnya yang putih itu kini sedikit membiru, bibir merah mudanya nampak sedikit menggigil dan kedua tangannya terus digosok-gosokan satu sama lain. Menciptakan rasa hangat untuk membantu menghilangkan dinginnya hari ini.

Chanyeol menoleh ke arah Sehun saat didengarnya bunyi gemertak gigi yang tak lain datang dari namja manis itu. Dengan cepat dilepaskannya hoodie yang sedang dipakaianya lalu meletakannya di pundak Sehun. Sehun tersipu saat mengetahui aksi Chanyeol.

"Gomawo..."ucapnya lirih sambil mengeratkan hoodie merah maroon dipundaknya agar semakin merapat. Tidak dapat dipungkiri, semenjak Chanyeol berkunjung ke rumahnya dua minggu yang lalu, mereka berdua menjadi semakin akrab. Bahkan beberapa diantara teman-teman satu sekolah mengira mereka telah menjalin hubungan semenjak keduanya yang terlihat selalu bersama-sama sepanjang waktu. – bahkan beberapa fanboy Sehun mengancam akan bunuh diri jika mereka berdua jadian, well... tidak tahu saja mereka kalau Sehun tak pernah membaca surat-surat itu -

"Hem gwenchanna,"terjadi keheningan untuk beberapa saat, kini yang terdengar hanya suara tawa dari arah lapangan saat Jongin dengan jahilnya menarik celana Jong Hoon sehingga boxer spongebobnya terlihat sangat jelas. Chanyeol dan Sehun hanya tersenyum saat melihatnya.

"Sehunnie..."Sehun menoleh saat mendengar suara berat Chanyeol. "Sabtu ini kau tidak sibuk?"Chanyeol memandang wajah Sehun yang kini memerah.

"Annio. Wae?"tanya Sehun pelan. Chanyeol nampak gugup kemudian sedikit berdehem untuk menghilangkan gugupnya.

"Mau pergi bersama untuk malam minggu, seperti... kencan mungkin?"Sehun tersentak. Chanyeol mengajaknya berkencan?

"Eh... bu... bukan berkencan. Maksudku... mungkin semacam menghabiskan malam, aduh... bagaimana ya, mungkin..."

"Aku mau."

"Hyung..."

Dan inilah pertama kalinya seorang Oh Sehun menerima ajakan kencan dari seseorang setelah enam belas usianya, dan 99 kali ajakan kencan yang telah ditolaknya. Biasanya dia akan menolak ajakan itu, tapi untuk kali ini... rasanya bahkan ingin mengajak Chanyeol duluan. Chanyeol memang berbeda, dia itu... memberikan kenyamanan yang membuatnya merasa terlindungi dan bahagia.

.

..

.

Ujian sudah di depan mata, dan Chanyeol harus mengikuti bimbingan belajar. Setiap senin sampai jumat dia baru tiba dirumah sekitar pukul satu A.M. –dan bangun pukul 7 A.M, setelah tidur selama tiga atau empat jam karena dia harus mengerjakan tugas terlebih dahulu- Di hari sabtu sekolahnya memberikan kelonggaran sehingga dia bisa sampai di rumah pukul 2 P.M. Untuk hari minggu, dia terkadang akan sibuk di depan komputernya atau pergi ke perpustakaan kota untuk mencari bahan referensi tugasnya. Namun disela-sela jadwal padatnya itu, akhirnya sabtu ini Chanyeol bisa meluangkan sedikit waktunya untuk pergi bersama orang yang disukainya.

Chanyeol sudah siap dengan motor merahnya yang jarang sekali dipakai. Dia memakai jaket berwarna hitam – yang tidak diketahuinya bahwa ternyata jaket itu mempunyai lubang kecil di daerang punggungnya - dan celana jeans yang tidak terlalu ketat. Di atas jok motornya sudah ada dua helm. Satu untuknya dan satu untuk 'Princess'nya yang tidak kunjung keluar setelah tiga puluh menit dia menunggu disana.

Chanyeol masih saja terus tersenyum tidak jelas. Tidak papa jika harus menunggu berjam-jam, jika untuk Sehun, pikirnya. Namun senyuman itu lenyap saat di dapatinya gerbang rumah Sehun terbuka dan yang sangat mengejutkan Luhan lah orang yang membuka gerbang itu. Dengan santainya namja yang tidak lebih tinggi darinya itu melewatinya dan masuk ke dalam gerbang rumahnya. Tak lama sesudah itu, Sehun keluar dari dalam rumahnya. Chanyeol hanya bisa melototkan matanya saat melihat penampilan Sehun saat ini. Dia memakai hoddie berwarna putih, celana jeans panjang yang sangat ketat sehingga lekukan tubuhnya terlihat sangat jelas. Ditambah dengan sneakers lucu berwarna hitam dia nampak semakin sempurna. – dan thekti, kalau boleh jujur!

"Ah... mianhe. Apa aku terlalu lama? Seharusnya hyung masuk saja terlebih dahulu,"jawab Sehun lalu mengambil helm yang diulurkan Chanyeol padanya.

"Gwenchanna... kajja, ini sudah jam lima,"kata Chanyeol cepat.

Hanya butuh waktu sekitar tiga puluh menit untuk sampai di kawasan pertokoan Gangnam. Mereka berdua kini nampak berjalan beriringan melewati etalase berbagai toko yang mulai menyalakan lampu-lampunya. Semenjak tadi mereka berdua terus tersipu saat tak sengaja tangan mereka saling bersentuhan atau tak sengaja tertangkap basah sedang mencuri pandang satu sama lain.

"Ini sudah sore. Ayo kita mampir ke caffe dulu. Sebaiknya kita makan terlebih dulu,"usul Chanyeol yang hanya dijawab dengan anggukan imut oleh Sehun.

Mereka tiba di caffe yang dimaksud Chanyeol. Sebuah caffe yang bertemakan Jepang, dan menjual makanan jepang pula. Nampaknya Chanyeol sudah sering mampir kesana terbukti dari banyaknya kepala yang akan menyapanya saat melihat sosok tinggi itu duduk di salah satu pojok caffe. Sapaannya pun bermacam-macam pula seperti... –"Yeol, kembalikan hutangmu!", "Yo bro... mau beli Blue Film lagi? Aku punya stock banyak!", "Channie... aw... masih ingat padaku kan? Byun Baekhyun!", dan saat sapaan terakhir itulah Chanyeol hampir saja menarik Sehun untuk keluar dari caffe karena melihat penampakan Baekhyun. Namun, untung saja seorang namja yang sepertinya kekasih Baekhyun segera menyeret uke cerewet itu keluar dari Caffe. Cukup Kyungsoo mantan pacarnya yang ternyata juga sepupu Sehun itu yang menggaggu rencananya, tidak Baekhyun juga!

"Hyung sering kesini yah?"tanya Sehun. Suasana caffe yang sangat tenang membuatnya merasa sedikit rileks dan kegugupannya sedikit berkurang.

"Eum... waktu kelas sebelas. Sekarang sudah jarang, karena waktuku sudah kuhabiskan untuk belajar,"jawab Chanyeol lalu kembali memakan sebuah sushi di piringnya. "Sehunnie suka makanan jepang kan?"tanya Chanyeol kemudian.

"Sangat suka. Apalagi sushi..."jawab Sehun lalu tersenyum.

"Kalau begitu, lain kali kita harus datang lagi kesini,"usul Chanyeol.

"E... Eum."

Setelah menyelesaikan makan malam, mereka memutuskan untuk mampir di salah satu game center. Dan satu hal yang baru saja Chanyeol temukan tentang Sehun adalah... dia hanya bisa main arcade, dan itupun level satu! Uh... jadi merasa tidak enak juga sih mengajak Sehun mampir. Lalu mereka mau main apa?

"Benar kau tidak bisa main yang lain?"tanya Chanyeol sekali lagi. – dia sudah menanyakan hal itu sebanyak lima kali dan Sehun tetap menagnggukan kepalanya.

"Cara mainnya mudah kok, nanti hyung ajari..."bujuk Chanyeol. Sehun hanya tersenyum malu kemudian mengangguk pelan.

"Tapi hyung..."ucapnya lirih, Chanyeol mengernyitkan alisnya.

"Aku sebenarnya ingin coba mainan yang itu,"kata Sehun sambil menunjuk sebuah kotak kaca yang berisi banyak boneka panda dan beruang di dalamnya.

"Kau menginginkan bonekanya yah?"tanya Chanyeol.

"Eum..."

Mereka sudah berdiri disana selama tigapuluh menit. Chanyeol telah menukarkan puluhan ribu won untuk ditukarkan dengan koin untuk mengisi mesin, tapi hingga saat itu juga mereka belum juga mendapat satu bonekapun. Eum... lebih tepatnya Chanyeol, karena Sehun hanya bermain satu kali dan kemudian Chanyeol menggantikannya. – bahkan lima menit yang lalu ada seorang anak kecil yang menangis karena ingin mencoba, namun Chanyeol mempelototinya karena dia belum juga berhasil.

"Uwah! Akhirnya berhasil!"ucap Sehun girang setelah Chanyeol berhasil memperoleh sebuah boneka seukuran kepalan tangan menyangkut di kaitnya.

"Ini untuk Sehunnie..."kata Chanyeol lalu menyerahkan boneka beruang berwarna putih yang didapatnya kepada Sehun.

"Go... gomawo hyung..."

.

..

.

Jadi Chanyeol mengantar Sehun ke rumahnya setelah dia membawanya ke caffe favoritenya, game center, toko buku, dan juga toko ice cream. Sekarang Sehun sudah turun dari motor Chanyeol dan sibuk menggumamkan beberapa kata untuk menasihati Chanyeol agar tidak mengebut, untuk hati-hati dan lain sebagaiannya.

"Kau senang hari ini?"tanya Chanyeol sambil tersenyum. Sehun menganggukan kepalanya.

"Aku punya sesuatu untukmu,"ucap Chanyeol pelan, namun masih terdengar di telinga Sehun karena kini suasananya benar-benar hening.

"Nde?"

"Kemarilah..."dengan itu Sehun mendekat. Chanyeol menyelipkan tangan kanannya pada pinggang ramping Sehun. Memenjarakkan tubuh kecil itu dalam dekapan hangatnya. Diamatinya guratan wajah sempurna di depannya itu, dan kini jantungnya berdetak tak karuan. Kenapa dia sangat indah?

"CHU~"dan ciuman pertama itu terjadi pada tanggal satu November. Di bawah salju putih yang terjatuh dari nilanya langit. Diantara keheningan malam yang kini terasa sangat hangat dan damai.

"Aku mencintaimu..."

"G... Gomawo..."

"Aku mencintaimu Oh Sehun..."bisik Chanyeol sebelum akhirnya dia melesatkan sepeda motornya begitu kencang. Meninggalkan seorang Oh Sehun yang masih berdiri di tempat semula dengan keadaan mematung.

'Ini...?'

.

..

.

Seminggu semenjak kejadian ciuman itu, mereka berdua menjadi semakin dekat. Mereka sering menghabiskan waktu berdua saat jam istirahat. Bahkan sudah dua kali Chanyeol menjemput Sehun untuk berangkat sekolah bersama. Memberinya beberapa hadiah seperti boneka ataupun bunga mawar putih yang ternyata adalah bunga favorite Sehun. – Chanyeol mendapat bunga itu dari taman ibunya. Dan untuk stangkai bunga yang dicurinya, dia harus merelakan jatah uang sakunya selama satu minggu.

"Sehun-ah... besok minggu, kau mau pergi ke taman bermain bersama hyung?"tanya Chanyeol pada Sehun. Saat ini mereka sedang duduk berdua di pojok kantin. Berduaan dengan pacar sendiri tidak papa kan?

"Mianhe... aku sudah ada janji hyung,"jawab Sehun, menyesal. Chanyeol mendesah kecewa, tapi hey... dia tidak mau dicap kekasih yang possesif kan kalau niatnya untuk menyuruh Sehun membatalkan janjinya dengan orang lain itu dia untarakan?

"Dengan siapa?"tanya Chanyeol basa-basi.

"Luhan hyung..."jawab Sehun singkat. Luhan? Oh Tuhan... kenapa sekarang dia jadi deg-degan? Kenapa Luhan sering sekali berhubungan dengan namjachingunya yang imut ini sih?

"Mau pergi kemana?"lanjut Chayeol kini dengan sedikit nada possesif.

"Eum... Luhan hyung bilang itu rahasia!"jawab Sehun lalu tersenyum manis. Sebenarnya Chanyeol cukup kecewa juga dengan Sehun. Mereka sudah pacaran kan? Kenapa sekarang rahasia-rahasiaan? Kenapa Sehun tidak jujur saja? Tapi, dengan melihat senyuman manisnya itu, rasanya kini Chanyeol sudah melupakan semua pikiran negatifnya.

"Kalau minggu depan, Sehun mau?"tanyanya lagi.

"Kita lihat saja nanti,"Chanyeol terngangah disana. Tepat setelah Sehun mengucapkan kalimat singkat itu, namja manisnya itu segera pergi begitu saja dari hadapannya. Apa karena sekarang mereka sudah berpacaran jadi hubungan mereka tidak sedekat waktu masih pendekatan dulu?

.

..

.

Seminggu berikutnya... bukannya hal-hal manis dan bermesra-mesraan yang mereka lakukan. Justru hubungan mereka semakin menjauh. Chanyeol tidak tau pasti apa sebabnya, namun setiap kali Chanyeol berusaha mengajak Sehun untuk berkencan, namja manis itu menolaknya. Setiap Chanyeol menelepon, dia malah akan mengalihkan topik pembicaraan ke hal-hal lain selain percintaan, atau bahkan saat dia mengirimkan pesan singkat selamat malam, Sehun akan mengacuhkannya.

Chanyeol semakin frustasi saja rasanya. Apa pengalamannya yang dulu-dulu akan terulang lagi? Apa dia dan Sehun akan putus? Tapi... oh hay... ini baru dua minggu! Dan... usia hubungan mereka masih sangat muda untuk diputuskan – meski dia hanya jadian dengan Yixing selama lima menit di masa lalu – masalahnya sekarang adalah...

Chanyeol itu sangat...

Amat...

Menyukai OH SEHUN!

Jadi, senadainya saja mereka sampai putus... Chanyeol tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi padanya. Mencari kekasih lain? Sudah tidak ada waktu! Bahkan yang ini saja, dia sudah rela membagi waktu luangnya yang seharusnya dia gunakan untuk lebih fokus belajar untuk mengejar Sehun, dan seandainya mereka benar-benar putus pun... rasanya tidak bisa mencari yang lebih imut dari Sehun, lebih manis dari senyumannya, dan lebih thekti dari pantatnya!

"Kau kenapa sih?"tanya Jong Dae. Saat ini mereka tengah berada dalam kelas Fisika. Jong Dae tidak mau lagi mendengarkan penuturan gurunya karena dia sudah bisa semua materi Fisika yang disampaikan, sedangkan Chanyeol tidak mau mendengarkan, karena hari-hari sebelumnya di mata pelajaran yang sama dia memang tidak pernah mendengarkan. – meski gurunya yang bernama Yoon Bomi itu cantiiiik sekali, namun sayang Chanyeol memang antis Fisika(?)

"Aku bingung..."jawab Chanyeol singkat. Dan berteman selama lima tahun dengan Chanyeol, membuat Jong Dae cukup mengerti bahwa sekarang sahabatnya ini sedang ada masalah.

"Tentang Sehun?"tanya Jong Dae pelan.

"Iya."

"Memangnya kenapa lagi?"

"Sekarang dia menjauhiku..."jawab Chanyeol cepat.

"Mungkin dia sadar bahwa setelah berpacaran denganmu ternyata kau orang yang membosankan,"Chanyeol menegakkan badannya, kemudian meatap Jong Dae seksama. "Mungkin dia hanya ingin bermain-main denganmu?"

"Tidak mungkin!"bantah Chayeol cepat.

"Kau yakin sekali,"Jong Dae meremehkan.

"Tentu saja. Sehun pernah berkata padaku bahwa dia hanya akan mencintai satu kali dalam hidupnya, dan pastinya dia tidak akan main-main dengan itu!"jelas Chanyeol buru-buru.

"Memangnya Sehun pernah mengatakan kalau dia mencintaimu?"tanya Jong Dae lagi. Kenapa Fisikawan ini selalu memberikan pertanyaan yang terlalu rasional sih?

"Eung... dia memang belum pernah mengatakannya secara langsung, tapi aku yakin dia memiliki perasaan yang sama dengan diriku!"

"Begitu... kalau semua itu benar, seharusnya kau tidak perlu bingung."

Ya... bingung, Chanyeol sekarang memang sedang kebingungan! Apa berarti sebenarnya dia masih meragukan perasaan Sehun kepadanya?

.

..

.

Hari ini hari minggu, minggu yang cukup cerah di musim dingin, Cuacanya tidak terlalu dingin, sehingga Chanyeol tidak perlu memakai jaket tebalnya saat bepergian keluar rumah. Hari ini, dia berdiri di depan daun pintu rumah Sehun untuk memastikan! Untuk memastikan perasaan Sehun padanya! Dia sudah siap sekarang, dan rasa percaya dirinya pun tinggi.

"Chanyeol? Silahkan masuk, ingin bertemu dengan Sehun?"tanya eomma Sehun saat mendapati Chanyeolah yang memencet bel kediamannya.

"Ne, Sehun ada di rumah ajhumma?"tanya Chanyeol sesopan mungkin. Eomma Sehun menganggukan kepalanya lalu mempersilahkan Chanyeol masuk.

"Dia ada di kamarnya. Mau ajhumma panggilkan?"

"Eum... tidak usah. Boleh saya langsung menemuinya di kamarnya?"tanya Chanyeol ragu, eomma Sehun hanya tersenyum singkat lalu mempersilahkan Chanyeol menaiki tangga menuju lantai dua.

'Tap...'

"Akha... kha... kha.."

'Tap...'

"Hyuuuung!~"

'Tap... Tap... Tap...'

'Ceklek...'

"Se... Sehunnie?"

"Chanyeol hyung?"Shock! itulah satu kata yang tepat untuk menggambarkan keadaan Chanyeol saat ini. Tangannya mengepal dengan kuat dan nafasnya memburu. Jadi ini alasan mengapa Sehun menjauhinya? Jadi ini alasannya? Karena seorang XI LUHAN?

Tepat saat Chanyeol membuka knop pintu kamar sehun, disana dia mendapati pemandangan yang sangat menyesakkan. Sehun, Sehunnienya yang sangat dicintainya itu tengah dicumbu oleh namja lain? Oh.. dunia memang benar-benar gila!

"Mi... mian... ada urusan apa hyung datang sepagi ini?"dan pertanyaan Sehun yang terdengar sangat pelan itu berhasil menyadarkan keterkejutan Chanyeol. Bukannya menjawab pertanyaan dari Sehun. Kini Chanyeol justru menghampiri Sehun dan menarik tangan namja itu kasar, membuatnya mendapat sebuah bentakkan dari Luhan.

"Kau... kau berselingkuh dariku?"tanya Chanyeol kasar.

"Ne?"Sehun nampak sangat terkejut begitu juga dengan Luhan.

"Maksud hyung?"tanya Sehun polos.

"Kau berselingkuh dariku, dan itu sangat jelas Oh Sehun!"

"Kenapa begitu? Aku kan kekasih Luhan hyung!"

Haaaaaaaaaaaaaaaaaaaah? Kekasih?

"Tunggu dulu, apa maksudmu?"

"Ne, aku kekasihnya,"jawab Sehun sambil menunjuk sosok Luhan yang masih berada di atas bednya.

"Aku tidak mengerti!"kali ini Chanyeol yang kebingungan.

"Luhan hyung menembakku minggu lalu, dan aku menerimanya,"jelas sehun dengan penuh keyakinan.

"Tapi kita jadian dua minggu yang lalu, itu berarti kau berselingkuh!"elak Chanyeol.

"NDEEEEEEE? Kapan hyung menembakku?"tanya Sehun. Horor.

"Saat kita pulang dari kencan, dan... setelah aku menciummu,"jawab Chanyeol. Luhan yang sedari tadi hanya menjadi penonton kini nampak kesal saat mendengar kata 'cium'.

"Hyung tidak mengatakan 'maukah kau jadi kekasihku', ataupun 'Ayo menjadi sepasang kekasih' kepadaku. Jadi kita belum jadian!"jelas Sehun pada Chanyeol. Kini Chanyeol merutuki kebodohannya sendiri.

Sehun itu baru pertama kali merasakan pengalaman seperti itu! Pantas saja dia tidak menangkap maksud dari Chanyeol mengatakan, "AKU MENCINTAIMU!"

"Tapi... kau berterimakasih saat aku mengucapkan aku mencintaimu!"

"Tentu saja. Memangnya siapa yang tidak mau dicintai. Dan eomma mengatakan bahwa aku harus berterimakasih saat orang lain mengucapkan saranghae padaku!"jelas Sehun polos. Apah? Jadi isi pikirannya masih sedangkal itu?

"Lalu bagaimana dengan mencintai seumur hidup?"tanya Chanyeol masih belum terima.

"Oh itu... sekarang aku mulai belajar untuk mencintai Luhan hyung!"jawab Sehun.

"Bagaimana denganku?"ucap Chanyeol lirih.

"Sebenarnya dulu aku mulai suka pada hyung... setelah ciuman itu, aku pikir hyung akan memintaku menjadi kekasihmu tapi ternyata tidak! Jadi setelahnya aku menerima Luhan hyung."

"Hah? Bagaimana bisa... tunggu dulu Sehunnie ini salah paham!"

"Tapi hyung..."

"Sekarang kau mau jadi kekasih hyung kan?"

"Ehhhh? Aku kan sudah berpacaran dengan Luhan hyung!"

"Tapi..."

"AKHAHAHAHA..."Luhan yang tadinya hanya berdiri mematung disebelah dua orang yang sedang beradu mulut itu kini meledakkan tawanya secara tiba-tiba, membuat Chanyeol dan Sehun terlonjak kaget karena tawanya yang sangat keras.

"Hyung kenapa?"

"Kenapa kau mentertawakanku? Ini tidak lucu!"

"Mianhe... akhahaha... Chanyeol-ah..."

'Puk...'Luhan menepuk bahu kiri Chanyeol pelan, lalu menatap Chanyeol dengan serius. Sungguh meskipun mereka adalah mantan, tapi tidak ada rasa apapun yang tertinggal.

"Kau tahu... meski ini adalah sebuah salah paham atau apapun itu... kau pikir aku mau melepaskan Sehun untuk perbuatan bodohmu?"

"Tapi aku hanya belum mengungkapkannya secara real!"

"Itulah masalahnya... kau pikir jika hanya dirasakan dan diwujudkan dengan perbuatan itu akan membuat Sehun mengerti bahwa kau ingin menjadikannya sebagai kekasihnya?"Luhan berhenti sejenak. "Justru saat kau mengungkapkan keinginanmulah, akhirnya Sehun akan mengerti!"

"Well, jadikan saja ini sebagai pelajaran hidupmu... kalau kau ingin menandai seseorang sebagai milikmu kau harus mengungkapkannya, kalau perlu proklamasikan kemauanmu itu!"

"Proklamasi... Saya... Park Chanyeol yang bertanda tangan di bawah ini... Menyatakan bahwa..."

"Sudah cukup! Maaf telah mengganggu hari minggu kalian, selamat tinggal!"

'BLAM!'

.

..

.

Epilog...

5 years later...

"Proklamasi... saya yang bertanda tangan di bawah ini, Park Chanyeol! Menginginkan seorang Juniel untuk menjadi kekasihnya!"

"Chanyeol-ah..."

"Dan hal-hal yang menyangkut pertanggungjawaban dan kesetiaan..."

"Stooop!"

"Dia gila yah?"

"Wah... sayang sekali. Tampan tapi gila..."

.

..

.

"Kenapa kau melakukan hal itu hah?"protes seorang yeoja manis pada namja berambut keriting di sampingnya, Chanyeol.

"Juniel-ah... kan aku mencintaimu!"jawab Chanyeol dengan sedikit aegyo.

"Tapi tidak usah seperti itu juga!"protes Juniel kesal. Hilang sudah harga dirinya saat namanya disebut-sebut dalam aksi gila Chanyeol di hadapan seluruh mahasiswa Seoul National University pagi ini. Namja tinggi itu dengan bodohnya membacakan sebuah teks proklamasi – cinta – absurd di halaman Universitas!

"Ada seseorang yang mengatakan padaku, bahwa... Jika kau ingin menandai seseorang sebagai milikmu, kau harus mengungkapkannya secara terang-terangan."

"Eh?"dan kini Juniel mungkin sudah melupakan rasa malunya, terbukti dari rona merah padam di pipinya yang kini menjadi warna pink yang mempesona.

"Jadi... mau jadi kekasihku tidak?"

"Eum... tentu saja."

END.

AKHAHAHAH... KETAWA NISTA#adakah yang mengira endingnya bakalan seperti ini?

Saya tau ini absurd dan... tapi ini sudah saya rencanakan dari awal akan berakhir seperti ini. Unexpected banget kan yah? Saya mohon undur diri dulu, harus belajar buat ulangan Sastra Arab Melayu besok... Mataaa nee...

P.S : terimakasih banyak untuk yang sudah mereview dan maaf jika endingnya tidak sesuai harapan anda. Silahkan kirim protes ke SM entertaiment(?) Lho*plaked.