Miracle of Moon

Crossover HM FoMT X Detective Conan

Disclaimer: I don't own Detective Conan and Harvest Moon.

Hope you enjoy!

Chapter 5: Mineral Town (II)

"Sekarang kita mau ke mana?" tanya Ran saat mereka sudah keluar dari rumah Gotz. Ann sudah membawa Ran memutari kota. Yang tertinggal adalah Mother's Hill dan farm milik Jack.

"Kita akan ke Mo-" perkataan Ann terhenti begitu pun gerakannya.

"Ann, ada apa? Apa ada sesuatu yang salah?" tanya Ran yang juga terpaksa menghentikan langkahnya.

Ann menatap Ran dengan pandangan panik. "Aku baru ingat kalau aku sudah berjanji pada Ayah untuk menjaga bar karena hari ini dia punya janji bertemu dengan Mayor," jelasnya.

"Kalau begitu, kita kembali sekarang!" kata Ran.

"T-tapi aku 'kan sudah bilang padamu kalau aku akan membawamu melihat semua yang ada di sini hari ini," ucap Ann lemah. "Bagaimana ini?"

Ran memberinya senyum lembut. "Kau bisa membawaku lain waktu. Sekarang kita harus cepat pulang," kata Ran.

Ann masih diam. Dia masih berpikir bagaimana caranya agar Ran tetap bisa pergi ke Mother's Hill, pun dirinya tetap bisa menjaga bar. Saat dia berpaling ke jalan menuju farm, senyumnya mengembang melihat Jack. Dia pun langsung memanggil Jack. "Jack!"

Mendengar namanya dipanggil, Jack berlari menghampiri Ann dan Ran. "Oh, hai Ann, Ran. Kalian sedang apa di sini?"

"Jack, aku boleh minta tolong, tidak?" Ann tidak memperdulikan pertanyaan Jack dan malah bertanya balik.

Jack menaikkan sebelah alisnya. "Minta tolong apa?"

"Aku harus segera kembali ke penginapan. Tapi, trip mengelilingi Mineral Town untuk Ran masih belum selesai. Kau mau menggantikanku sebagai tour guide-nya?" jelas Ann.

"Eh?" Ran terkejut.

"Boleh. Aku sudah tidak punya pekerjaan sisa hari ini," Jack menerima permintaan Ann. "Memangnya Ran belum ke mana saja?"

"Tinggal Mother's Hill dan farm milikmu," jawab Ann. "Ya sudah. Aku balik duluan. Makasih, Jack. Sampai jumpa, Ran!"

Ran ingin menahan Ann tapi Ann sudah terlanjur berlari meninggalkan mereka. Menghela napas, dia berbalik menatap Jack. "Benar tidak apa-apa?" tanya Ran.

"Tentu. Ayo, kita jalan sekarang!" ajak Jack. Mereka pun berjalan menuju Mother's Hill.

Ran memperhatikan sekelilingnya. Semua yang ada di situ ditutupi kapas putih lembut. Ran melangkah ke tepi danau yang sudah membeku. Jack melangkah mengikutinya. "Sekarang semuanya sudah tertutupi salju. Tapi, jika spring tiba, kau bisa melihat banyak bunga yang tumbuh di sini," ucap Jack saat dia sudah berdiri di samping Ran.

"Aku bisa membayangkannya. Tapi, tempat ini membuatku merasa lebih dingin. Mungkin itu karena aku ditemukan pingsan di kawasan ini," kata Ran. Dia mengetatkan jaketnya.

"Sudah seminggu lebih kau ada di Mineral Town, ya?" ucap Jack lebih seperti pernyataan daripada pertanyaan. Ran mengangguk dalam diam. Jack melemparkan pandangannya ke sekeliling danau. "Ran, kau mau ke sana, tidak?" tanya Jack sambil menunjuk sebuah gua kecil di tengah danau.

"Tempat apa itu?"

"Itu adalah Lake Mine. Kita hanya bisa ke sana selama winter karena danau akan membeku, membuat kita bisa berjalan ke sana," jawab Jack.

"Tapi permukaan danau ini 'kan licin. Aku hanya memakai boot biasa," ujar Ran.

Jack berjongkok di depan Ran. "Aku tinggal menggendongmu," mata Ran membesar dan semburat merah kecil muncul di pipinya. Ran agak ragu-ragu, tapi senyum Jack yang lembut akhirnya membuatnya naik ke punggung Jack. Jack pun berdiri dan mulai berjalan ke Lake Mine.

Di punggung Jack, Ran diam. Detak jantungnya berdegub lebih kencang dari biasanya. Punggung Jack hangat, pikirnya.

Jack menurunkan Ran saat mereka sudah di dalam mine. "Jadi, bagaimana caranya mendapatkan bebatuan berharga dari tempat ini?" tanya Ran sambil mengedarkan pandangannya.

"Kita menghancurkan batunya," jawab Jack sambil menunjukkan sebuah hammer.

"Kau membawa barang seperti itu?" tanya Ran kaget.

Jack mengayunkan hammer-nya dan menghancurkan sebuah batu yang ada di depannya. "Aku harus selalu siap untuk segala sesuatunya," jawab Jack. Dia memungut sesuatu yang bersinar di antara pecahan batu-batu.

"O-oh, begitu?" tanggap Ran, tersenyum kering. Pikiran Ran teralih melihat batu kecil warna oranye mirip telur di tangan Jack. "Apa itu?"

"Ini permata agate," jawab Jack.

"Wah, cantik. Apa ada permata lain di sini?"

"Banyak jenis permata dan batu-batuan tersebar di mine ini. Tapi, beberapa jenis hanya terdapat di lantai tertentu," jelas Jack.

"Lantai tertentu? Memangnya mine ini punya berapa lantai?"

"Aku tidak terlalu tahu karena aku belum pernah menggali lebih dari 50 lantai," jawab Jack.

"Hah?! 50? Sebanyak itu?" mata Ran membesar karena kaget.

Jack tertawa. Dia menatap Ran sambil tersenyum riang. "Kau tahu, aku senang kau berada di sini," ucap Jack.

"Eh…?" Ran terpana. Ran ingin membalas perkataan Jack tapi tidak tahu harus berkata apa. Akhirnya dia hanya mengangguk dan terdiam.

Angin kencang bertiup masuk ke dalam gua, membuat Ran semakin mengetatkan jaketnya. Jack yang menyadarinya, memutuskan kalau mereka harus melanjutkan trip mereka sebelum hari gelap. "Ran, ayo kita ke farm," ajaknya. Ran mengangguk dan mereka keluar dari mine menuju Miracle Farm.

.

"Selamat datang di Miracle Farm!" kata Jack. Ran melihat sekelilingnya. "Yah, farm ini tidak terlihat hidup memang di musim ini karena tidak ada tanaman yang ditanam. Dan hewan-hewan juga semuanya berada di dalam kandang," jelas Jack.

Saat Ran ingin membalas perkataan Jack, terdengar suara gonggongan anjing, membuatnya tidak jadi bicara dan memalingkan kepala mencari sumber suara itu. "Oh, seekor anjing?"

"Ini anjing peliharaanku, namanya Rusty," kata Jack seraya menghampiri Rusty diikuti oleh Ran.

"Dia manis sekali," Ran mencoba membelai Rusty dan dibalas gonggongan riang oleh Rusty.

Jack tertawa. "Sepertinya dia menyukaimu,"

"Benarkah? Hai Rusty, aku Ran. Kita berteman, ya?" ucap Ran sambil mengelus-elus Rusty dan dijawab dengan gonggongan riang dari anjing kecil itu.

"Ayo, Ran! Aku akan menunjukkan apa saja yang ada di sini," ajak Jack. Ran mengangguk pun mengangguk dengan antusias.

.

"Apa kau tidak kesulitan mengurus semua yang ada di sini?" tanya Ran saat mereka selesai mengitari dan mengunjungi setiap bangunan di farm. Mereka mengakhiri tur singkat itu dengan duduk di dekat perapian di rumah Jack. Ran duduk sementara Jack membuat hot milk untuk mereka berdua.

"Tentu saja aku sering kesulitan mengurus semuanya," jawab Jack sambil membawa minuman dan meletakkannya di meja. "Tapi, aku tidak sendiri, kok. Aku sering dibantu oleh para Harvest Sprites."

"Apa semua orang mengetahui tentang mereka?" tanya Ran kemudian meminum hot milk-nya.

"Orang-orang mengetahui tentang Harvest Goddess dan Harvest Sprites. Tapi, mereka tidak pernah bertemu dan hanya menganggapnya sebagai mitos saja," jelas Jack.

"Jadi…" Ran menatap Jack. "Apa kau orang yang istimewa sehingga mereka menunjukkan diri padamu?"

Jack terdiam sebentar sebelum tersenyum kecil dan menggaruk kepalanya. "Entahlah, aku tidak tahu."

Ran tidak mengubah ekspresinya yang serius dan terus menatap Jack. "Jack, aku sudah menemukan satu moonstone," katanya membuat Jack terkejut.

"Apa?! Kau menemukannya di mana?"

Ran kembali meneguk minumannya. "Aku menemukannya saat aku membongkar isi laci tempat Ann menyimpan pakaian untukku," kata Ran sambil mengeluarkan sesuatu dari saku jaketnya. "Ini dia, moonstone itu," Ran menunjukkan batu itu pada Jack.

Jack memperhatikan setiap detil batu itu. "Jika kau menemukannya di sana, itu berarti Ann tahu tentang batu ini?"

Ran menggeleng. "Aku sudah bertanya apa dia tahu tentang batu ini, tapi dia bilang dia tidak pernah melihat batu ini. Dia memang menaruh pakaianku di laci itu, tapi dia tidak melihat ada batu di dalam situ."

"Jadi, bagaimana batu ini bisa berada di tempat itu?" Ran hanya bisa menggelengkan kepalanya. Jack menghela napas. "Kau tidak punya kegiatan apa-apa, kan, besok?"

"Eh? Kenapa tiba-tiba kau bertanya seperti itu?"

"Kita mungkin bisa menanyakan lebih lanjut tentang moonstone pada Harvest Sprites," jawab Jack. "Bagaimana?"

"Baiklah. Kita akan menanyakannya besok," ucap Ran lalu meneguk tegukan terakhir hot milk-nya.

.

.

.