Disclaimer:
Masashi Kishimoto
Genre:
Romance / General
Main Charas:
Kakashi x Iruka
Warning:
BOY'S LOVE EVERYWHERE! Typo, cerita ga kayak aslinya(?), OOC (terutama Iruka), Bad Romance(?)
So this is it, Anonymous Hyuuga presents:
.
.
.
.
.
"Kisah Klise yang Tak Biasa"
Kira-kira sudah enam bulan Iruka mengajar di kelas itu. Dan sesuai dengan nasihat Kakashi tentang bagaimana Naruto tidak pernah mengetahui apa pun soal peristiwa yang menimpa kedua orang tuanya, Iruka tidak pernah lagi merasa dendam pada anak bodoh yang kini menjadi muridnya di akademi ninja. Ia justru menyukai anak itu, dan menjadikannya murid kesayangan.
Terbukti dari seringnya Iruka menraktir anak itu makan di kedai ramen Ichiraku, dari seringnya ia mengajak Naruto berbicara untuk menenangkan anak itu yang kerap kali merasa sedih dan kesepian karena tak memiliki seorang teman pun; Iruka menyayangi anak itu. Iruka tersentak pada suatu momen ia menyadari saat ia berhadapan dengan Naruto, ia merasa seperti sedang bercermin. Naruto memiliki banyak kesamaan dengan dirinya. Dan kenyataan bahwa mereka sama-sama besar tanpa orangtua-lah salah satu sebab mereka menjadi sedekat ini.
Meski pun sempat Iruka merasa membenci Naruto, ia tak pernah satu kali pun menyebut-nyebut tentang monster berekor yang bersarang di tubuh anak itu.
"Bagaimana dengan anak itu, Iruka-kun?" tanya Kakashi suatu sore saat ia dan Iruka tengah menghabiskan waktu berkeliling desa Konoha. Kakashi baru saja pulang dari misi tingkat A yang diberikan Sandaime Hokage beberapa minggu yang lalu; dan hal itulah yang membuat Iruka merasa rindu sehingga ia mendesak Kakashi untuk berjalan-jalan dengannya segera setelah Kakashi memberikan laporan misi pada sang Hokage.
"Yah, ia masih sebodoh enam bulan yang lalu. Tak ada perkembangan, selalu membuat onar di kelas, dan membuat lelucon tidak lucu seperti merubah diri menjadi Hiruzen-sama versi cebol," jelas Iruka geli seraya menghela napas dan menendang sebuah kerikil yang berada tak jauh dari ujung kaki kanannya.
Kakashi terdiam. Ia tidak menyahut dan hanya mengangguk-angguk mengerti. Entah mengapa cara Iruka bercerita tentang Jinchuuriki ekor sembilan itu membuat Kakashi merasakan hal aneh yang menggebu-gebu di dalam hatinya. Terutama saat ia melihat pandangan mata Iruka yang terlihat melembut jika sedang membicarakan Naruto. Apalagi sejak ia tahu Iruka seringkali didapati tengah berduaan dengan anak itu. Ia jadi menyesal mengungkit soal anak itu.
"Lalu bagaimana dengan misimu, Kakashi-kun?" tanya Iruka sambil menoleh ke arah kiri, tempat Kakashi berjalan tak jauh darinya.
Pria berambut keperakan itu tersentak dari lamunannya, dan segera memperbaiki ekspresinya, lalu menjawab, "Aa. Tidak terlalu mudah. Shinobi-shinobi Amegakure yang menjadi mata-mata desa kita sangatlah tangguh dan cukup sulit dikalahkan, apalagi ada seorang yang memiliki kekkei genkai sehingga aku tidak bisa meniru jutsu mereka."
"Kau pasti lelah," ujar Iruka dengan wajah polos.
Kakashi mendesah keras. Sudah tahu begitu, mengapa kau mengajakku berjalan-jalan? Pikir Kakashi sembari mendengus geli. Ia menatap lembut ke arah partner berjalannya, dan tak bisa lagi menahan tangan kanannya untuk merangkul pundak Iruka sehingga laki-laki muda berambut coklat itu agak tersentak, namun segera menyamankan posisinya dalam rangkulan Kakashi.
"Merasa nyaman, eh?" goda Kakashi.
Wajah Iruka memerah mendengar itu. Namun tanpa ragu ia mengangguk.
Mereka berdua berjalan di tengah keramaian desa tanpa memedulikan tatapan-tatapan horror yang dikeluarkan para penduduk desa saat melihat mereka berjalan dengan salah satu merangkul yang lainnya.
"Dua hari lagi tes bagi para calon shinobi, ya?" tanya Kakashi sambil menoleh untuk menatap Iruka.
"A-ha," jawab Iruka dengan santai. Tangan kanannya terangkat untuk menyentuh pergelangan tangan kanan Kakashi yang menggantung di pundaknya. Kemudian Iruka memiringkan kepala ke arah kanan, menjepit tangan Kakashi di antara pipi dan pundaknya.
Kakashi tersenyum geli menatap 'teman'nya.
"Kakashi-kun," panggil Iruka. Ia menegakkan posisi berdirinya, dan kini kepalanya menghadap Kakashi.
"Aa?" sahut Kakashi sembari menaikkan alisnya.
"A-ano, menurutmu, Jinchuuriki Kyuubi itu pantas mendapatkan pelindung dahi atau tidak?" tanya Iruka sambil menatap kosong jalanan di depannya.
Kembali Kakashi terdiam. Anak itu lagi, pikir Kakashi lelah.
"Hey?" tegur Iruka sembari melambai-lambaikan tangan di depan wajah Kakashi yang mendadak terlihat kosong.
"O-oh, ya, itu semua terserah padamu," sahut Kakashi sembari mengangkat kedua bahunya, "Toh aku tidak mengetahui kemampuan muridmu itu."
Iruka terdiam saat mendengar bagaimana Kakashi menyebutkan kata 'murid' dengan penuh penekanan. Mengapa Kakashi melakukan itu? Hal itu membuatnya merasa sedikit menyesal karena menyadari selama ini ia terlalu dekat dengan Naruto. Pikiran-pikiran bodoh tentang Kakashi yang cemburu pada Naruto-lah yang membuatnya menyesal. Namun segera pemikiran itu ia enyahkan sembari mendengus geli. Tidak mungkin, bisik Iruka di dalam hatinya, Ia hanya menganggapku teman sekaligus chuunin payah yang harus dilindungi. Tidak lebih.
"Sekarang kau yang diam," ujar Kakashi, membawa Iruka kembali ke alam nyata.
Iruka tertawa canggung, lalu berkata pada Kakashi, "Ya sudah, Kakashi-kun kembali saja ke apartemen-mu. Maaf membuatmu semakin lelah."
"Iie," tukas Kakashi sambil mengibas-ngibaskan tangannya, "Aku tidak menyesal berjalan-jalan denganmu."
"Tapi kau tetap harus beristirahat," ujar Iruka sembari tersenyum penuh pengertian.
Kakashi menepuk keras kepala Iruka menggunakan tangan kanannya yang semula merangkul tubuh Iruka. Ia tersenyum menatap 'teman'nya, lalu berkata, "Ah, baiklah jika kau memaksa."
Seperti biasa, Kakashi mengakhiri pertemuan mereka dengan kecupan singkat di dahi Iruka yang polos tanpa pelindung dahi, dan melesat pergi secepat angin.
-xxx-
Ujian bagi para calon shinobi untuk memperebutkan pelindung dahi berlambang Konoha, yang akan membuktikan pada dunia bahwa mereka adalah shinobi kelas genin yang berasal dari Konoha Gakure, baru dimulai.
Hal yang harus dilakukan para calon shinobi untuk mendapatkan gelar genin adalah mengerjakan ujian tertulis dan ujian praktik. Hampir semua peserta didik melakukan semuanya dengan baik, dan yang terbaik dari semuanya adalah Nara Shikamaru, Hyuuga Neji, dan Uchiha Sasuke yang merupakan murid terjenius di kelas Iruka. Sedangkan yang mendapatkan hasil terburuk sudah dapat ditentukan hanya dengan satu tarikan napas; Naruto.
Anak berambut kuning itu menurut Iruka terlalu banyak bicara dan tanpa aksi. Ia tidak menunjukkan perkembangan sedikit pun sejak semula memasuki akademi ninja. Berkali-kali ia diminta melakukan perubahan wujud, ia melakukannya dengan konyol; seperti menjadi sosok lucu hokage, atau menjadi seorang gadis telanjang yang sukses membuat para laki-laki—guru atau murid—mimisan. Dan juga saat diminta melakukan kage-bunshin, chakra bayangan yang dibuat anak itu jauh lebih lemah daripada chakra milik anak itu sendiri, sehingga bayangan yang dihasilkan sangatlah lemah dan payah.
Inilah hari penentuan yang mendebarkan bagi semua peserta didik akademi ninja. Seluruh siswa merasa antusias saat datang ke sekolah khusus para ninja ini. Mereka tak sabar menerima pelindung dahi berlambang Konoha itu, yang merupakan bukti keberhasilan mereka dalam belajar selama kira-kira enam bulan.
Dan semua siswa akadami ninja tahun ini berhasil mendapatkan pelindung dahi, kecuali satu orang. Sekali lagi, semua orang sudah barang tentu mengetahui siapa yang gagal dalam ujian tahun ini. Seorang anak berambut kuning yang terlahir untuk menjadi Jinchuuriki ekor sembilan.
Iruka dengan berat hati memutuskan itu. Sesungguhnya ia ingin meluluskan anak itu, tetapi kemampuannya sama sekali tidak memadai untuk menjadi seorang genin sekali pun. Jika dipaksakan, Naruto sendirilah yang akan merasa tersiksa karena harus terlunta-lunta mengejar ketinggalannya. Ia merasa miris saat melihat Naruto duduk dalam diam di sebuah ayunan gantung, memperhatikan teman-teman seangkatannya yang tertawa bahagia sembari memamerkan pelindung dahi mereka kepada orang tuanya masing-masing.
Lain halnya dengan Iruka yang dengan berat hati menggagalkan usaha Naruto, Kakashi merasa kesal dengan Iruka yang tidak meluluskan Naruto, karena menurutnya hal itu hanyalah akal-akalan Iruka saja untuk semakin dekat dengan Naruto.
"Kakashi-kun?" gumam Iruka saat Kakashi berdiri di depan pintu kelas kosong tempat ia tengah berdiri di depan sembari menatap pelindung dahi—yang seharusnya menjadi milik Naruto—di genggamannya.
"Aku ingin bicara sebentar," ujar Kakashi—tak biasanya nada bicara Kakashi terdengar tajam dan dingin.
"Aku mendengarkan," kata Iruka sambil merapikan barang-barang di atas mejanya, dan memasukkannya ke dalam lemari buku di sudut ruang kelas.
"Tidak di sini," tukas Kakashi sambil berjalan mendekati Iruka, dan menggenggam tangan kiri Iruka dengan tangan kanannya, "Ikut aku."
Iruka hanya mengangkat bahu dan berjalan mengikuti Kakashi entah ke mana ia membawanya pergi. Ternyata ia membawa Iruka ke belakang akademi ninja, tempat mereka beberapa bulan lalu bertemu. Kakashi mendorong tubuh Iruka sehingga duduk di atas dinding semen pendek yang mengitari pohon di tengahnya.
"He, apa-apaan ini?" tanya Iruka tidak terima karena merasakan sakit di bokongnya yang terbentur permukaan dinding itu.
Yang ditanya tidak menjawab, tetapi justru menyipitkan matanya untuk memandang Iruka dengan kesal.
"Kakashi-kun!" seru Iruka sembari berdiri dari tempatnya duduk, namun Kakashi segera mendorongnya lagi sehingga Iruka kembali terduduk. Laki-laki berambut coklat itu meringis kesakitan sambil mengusap-usap bokongnya yang ia miringkan.
"Mengapa kau tidak meluluskan Naruto?" tanya Kakashi tidak sabar.
"Apa?" tanya Iruka yang masih belum jelas dengan pertanyaan Kakashi.
"Mengapa kau tidak meluluskan Naruto?" ulang Kakashi dengan penekanan pada tiap katanya.
Kening Iruka berekerut samar, tak mengerti dengan maksud pertanyaan Kakashi. Ia pun bertanya dengan suara melengking, "Apa maksudmu?"
"Seperti kedengarannya, Iruka-kun. Aku bertanya 'mengapa kau tidak meluluskan Naruto?', dan kau bisa menjawabnya dengan mudah," jelas Kakashi yang hampir naik pitam.
"Itu karena ia masih terlalu bodoh untuk bisa menjadi genin, Kakashi-kun!" jawab Iruka dengan emosi yang meletup-letup, karena hal ini tidak penting untuk dibicarakan.
"Omong kosong," tukas Kakashi lagi. Kini ia tersenyum meremehkan sambil bertanya, "Kau ingin berlama-lama dengan bocah itu, 'kan?
"Tch. Apa yang kau bicarakan?" tanya Iruka dengan suara meninggi. Ia selalu merasakan kedutan samar di keningnya saat emosinya mulai meletup, dan ia merasakannya kini.
Kakashi tidak menjawab dan ia justru mencengkeram kuat kedua lengan Iruka.
"Ah, aku tahu," desis Iruka akhirnya sambil meringis kesakitan, "Kau ingin ia diluluskan agar kau bisa menjadi mentornya, lalu dekat dengannya, 'kan? Tch. Tidak sulit ditebak."
"Bukan begitu!" sambar Kakashi sambil mengguncang tubuh Iruka dengan kuat seakan ingin merontokkan semua gigi Iruka.
Iruka mendengus kesal, lalu mengalihkan pandangannya ke sebelah kanan sambil menggerutu, "Tak usah mengelak."
"Menyusahkan!" seru Kakashi yang tak dapat lagi menahan emosinya.
"Kalau kau menyukai anak itu, tinggal bilang saja, dan aku akan memaklumimu," kata Iruka. Ia menggigit bibirnya. Sebenarnya tak mungkin semudah itu ia merelakan Kakashi menyukai laki-laki lain, karena ia begitu mencintai Kakashi, dan akan melakukan apa pun untuk membuat Kakashi mencintainya juga.
"Tidak seperti yang kau pikirkan, Iruka-kun. Aku—"
"Lalu apa lagi alasanmu marah padaku, selain kau cemburu padaku?" sambar Iruka dengan mata berkaca-kaca.
Kakashi tersentak saat melihat mata hitam itu menatapnya dengan sedih. Ia merasakan hatinya mencelos mendapatkan pemandangan semenyakitkan itu.
"T-tidak, Iruka-kun," tukas Kakashi dengan nada melunak. Ia memperlonggar cengkeramannya, lalu berkata, "Aku tidak cemburu padamu, Iruka-kun."
"Lalu ap—"
"Aku cemburu pada Naruto," sambar Kakashi dengan kedua pipi memanas. Ia berjongkok di hadapan Iruka. Tangannya yang semula menyentuh lengannya kini berpindah pada kedua pipi Iruka yang sudah memerah sempurna. Kemudian satu tangannya menyentuh ujung atas maskernya, menariknya perlahan.
Iruka menahan napas saat mendengar penuturan Kakashi, merasakan sentuhan Kakashi, dan ditambah lagi melihat Kakashi hendak menurunkan maskernya.
"Aku—" bisik Kakashi yang setengah maskernya sudah terbuka, memperlihatkan hidung mancungnya yang putih. Setelah seluruh maskernya terbuka, Iruka merasa takjub akan pandangan yang ada di hadapannya. Pemuda tampan tanpa cela yang terlihat berkilauan. Kakashi melanjutkan ucapannya, "—mencintaimu." Setelahnya, ia mencondongkan tubuhnya dan mengunci bibir Iruka dengan bibirnya sendiri.
Iruka merasakan air matanya meleleh saat dirasanya bibir hangat itu menyentuh bibirnya sendiri. Ia yang semula hampir limbung akhirnya mengangkat dua tangan untuk menyentuh pundak Kakashi, lalu ia memejamkan kedua matanya. Entah apa yang ia rasakan saat ini. Rasa bersalah dan rasa bahagia melebur menjadi satu, menghasilkan sensasi mengerikan sekaligus menyenangkan. Rasa bersalah tentu karena kini ia berciuman dengan seorang laki-laki, sementara ia sendiri laki-laki. Dan rasa bahagia sudah tentu berasal dari pernyataan cinta orang yang selama tujuh tahun ini dicintainya.
Akhirnya Kakashi melepaskan ciumannya, dan hendak kembali menutup maskernya sebelum Iruka menahan kedua tangannya.
"J-jangan ditutup dulu!" ujar Iruka. Ia menyentuh wajah putih itu dengan tangannya yang kecoklatan. Jari jemarinya mulai menelusuri tiap inci wajah pemuda di hadapannya. Ia merasa terpesona akan ketampanan dan karakter wajah yang ada di depannya—tegas tetapi juga memancarkan kelembutan—belum lagi bibirnya yang tipis dan kemerahan. Jarinya mulai menyentuh bibir yang beberapa saat lalu baru menciumnya. Hangat. Hal itulah yang dirasakan jemari Iruka saat menyentuh bibir Kakashi. Kini tangannya bergerak ke arah dagu Kakashi. Dagu itu cukup runcing dengan rahangnya yang kokoh.
Mau tak mau wajah Iruka memerah melihat pemandangan indah di hadapannya. Dengan segera ditariknya kembali tangannya.
"Sekarang boleh aku memakainya kembali? Aku tak mau ada orang lain selain dirimu yang mengetahui wajahku," ujar Kakashi.
"Ya, tentu," sahut Iruka, dan diikuti gerakan menutup masker oleh Kakashi.
"Aku minta maaf soal tadi," kata Kakashi sambil menggaruk pipinya.
Minta maaf soal apa?
"Soal ciuman tadi? A-ah, Kakashi-kun, itu tidak masalah," timpal Iruka sambil tertawa dengan kedua pipi merona.
"Siapa yang bilang tentang ciuman tadi? Aa, aku tahu kau menyukainya," goda Kakashi sambil tertawa, dan dibalas oleh pukulan pelan di lengan kirinya oleh Iruka. "Maksudku masalah un, kecemburuan tadi. Aku baru sadar itu tidak beralasan."
"Ie, tidak apa-apa, Kakashi-kun," timpal Iruka sambil tersenyum manis, membuat jantung Kakashi berdebar hebat.
Akhirnya Kakashi berdiri. Ia mengulurkan tangan kanannya untuk membantu Iruka juga berdiri. Mereka berdiri berhadapan dalam diam cukup lama. Semilir angin bertiup menerpa wajah kedua insan yang tengah dilanda cinta tak normal itu. Iruka merasakan tubuhnya agak menggigil karena angin itu, namun saat ia kembali menyadari keberadaan Kakashi di hadapannya, suhu di sekitarnya seperti kembali normal.
Hari sudah menjelang senja. Langit sudah berubah oranye dengan semburat merah di mana-mana. Burung-burung yang hendak kembali ke sarangnya berkicauan hebat, seakan menceritakan pengalaman yang baru saja mereka alami. Kakashi menyukai saat-saat seperti ini, terlebih saat ini ia sedang berdua saja dengan Iruka. Tangannya terangkat untuk menyentuh kedua bahu Iruka yang terkesan rapuh baginya. Ia menarik tubuh yang sedikit lebih kecil darinya itu, dan memasukkannya ke dalam pelukan hangat yang ia miliki dan ia khususkan hanya untuk orang yang dicintainya.
"K-Kakashi-kun?" bisik Iruka lirih sembari menyandarkan dagunya di pundak Kakashi yang kokoh.
Kakashi melingkarkan satu tangannya di pinggang Iruka, dan satu tangannya lagi ia gunakan untuk mengusap lembut rambut Iruka dari belakang. Ini baru saatnya, Kakashi, bisik Kakashi dalam hatinya. Ia sudah merasa pantas membelai rambut Iruka—yang merupakan godaan terbesar bagi tangannya, karena kepala dengan rambut panjang hitam kecoklatan itu menurutnya sangat touchable, dan menggoda.
"Iruka-kun," panggil Kakashi sembari melepaskan pelukannya secara perlahan-lahan.
Iruka mendongak untuk menatap Kakashi yang hanya beberapa senti di atasnya.
"Aa?" sahut Iruka sembari memandang kedua mata itu lekat-lekat.
Diam sejenak. Kakashi menunduk untuk menetralisir perasaannya. Ia seakan tak berani menatap kedua manik hitam milik Iruka. Kemudian, setelah menghembuskan napas kuat-kuat, Kakashi berkata dengan suara bergetar, "I-Iruka-kun… a-ano. Kau… apakah kau mau menjadi uke-ku?"
Deg.
Jantung Iruka seakan berhenti berdetak selama beberapa menit. Sebuah perasaan yang begitu besar terasa hendak membuncah dari dalam dadanya. Ia merasakan perutnya seperti dipenuhi kupu-kupu. Butiran-butiran besar keringat mulai muncul dari pori-porinya, dan dirasanya tubuhnya gemetar saat ia mendengar permintaan Kakashi yang menurutnya sangat tiba-tiba. Tak dapat dipungkiri lagi olehnya, ia merasa sangat bahagia.
"Un, kau dengar, 'kan?" tanya Kakashi sambil menggaruk-garuk leher bagian bawah telinga kanannya.
Iruka tersenyum jahil, namun segera menyembunyikannya agar tak terlihat Kakashi. Ia senang melihat ekspresi gugup milik Kakashi, karena menurutnya sangat manis. Ia pun menyahut dengan wajah polos, "K-kau bicara apa barusan?"
"Kh," dengus Kakashi sambil menjambak sebagian rambutnya dengan tangan kanannya. Ia merasa kesal karena harus mengulang kembali pertanyaannya tadi. Akhirnya, setelah kembali berhasil mengumpulkan keberanian, Kakashi bertanya lagi—kali ini lebih perlahan, "Apakah kau mau menjadi uke-ku?"
Iruka pura-pura santai, padahal jantungnya kembali berdebar-debar dengan hebatnya saat itu. Ia mengangguk pelan, menggaruk dagunya dengan telunjuk dan jari tengah kanannya, lalu berkata, "Un, bagaimana, ya?"
"Tch. Lagamu seperti seme. Aku seme-mu!" kata Kakashi dengan wajah memanas. Ia membuang pandangnya ke sebelah kanan.
"He, siapa yang menerimamu, Kakashi-kun?" tanya Iruka dengan kening berkerut—menahan tawa.
Mendengar itu Kakashi terbelalak. Ia yang semula menghadap ke sebelah kanan akhirnya kembali menatap Iruka, lalu ia bertanya dengan nada serius, "K-kau tidak menerimaku?"
"Tentu," jawab Iruka dengan santai. Ia mencondongkan tubuhnya ke belakang dengan kedua tangan—yang menahan di belakang—menopang tubuhnya.
Kakashi mengerang frustasi. Wajahnya kusut saat mendengar itu. Ia merasa bodoh saat mengira Iruka akan menerimanya. Mau diletakkan di mana wajahnya sekarang? Begitu percaya diri, seakan Iruka sudah barang tentu menerimanya, tetapi justru ditolak mentah-mentah dengan gaya santai yang membuatnya semakin malu. Kakashi mengacak-acak rambut keperakannya lalu menghela napas.
"Aa, baiklah. Aku sebaiknya pulang saja. Jaa mata ne!" ujar Kakashi dengan nada menyerah sembari mengangkat satu tangannya dan melengos, bersiap untuk berjalan menjauhi Iruka yang sudah membuatnya patah semangat dan sakit hati.
Namun sebelum Kakashi sempat melarikan diri, Iruka menahan pergelangan tangan Kakashi, dan menarik pemuda itu kembali ke depannya. Dengan kedua pipi merona, Iruka memberanikan diri menatap mata hitam Kakashi yang baginya sangat indah—padahal menurut sebagian besar orang, mata itu terlihat menyebalkan dan tak ada pancaran kehidupan.
"Kakashi-kun belum mendengar kelanjutan perkataanku," kata Iruka dengan nada merajuk. Ia melepaskan cengkeramannya pada tangan Kakashi, dan mengalihkan tangan itu kepada baju tipis berbahan katun di dalam rompi pelindungnya. Dipelintirnya ujung kain biru itu dengan jari-jari tangannya, menandakan dirinya sedang merasa gugup.
"Aa? Apa maksudmu, Iruka-kun?" tanya Kakashi sembari mengerutkan keningnya.
"M-maksudku tadi, 'Tentu aku menerimamu', Kakashi-kun," jawab Iruka, lalu ia menggigit bibir bawahnya dan memejamkan kedua mata, merasakan debaran hebat pada alat pemompa darahnya yang terpacu sangat kuat.
Kakashi membelalakkan mata selama sedetik, dan tersenyum lebar pada detik berikutnya. Dijulurkannya kedua tangannya untuk meraih pundak Iruka, dan direbutnya sekali lagi tubuh rapuh itu ke dalam pelukannya. Entah apa yang hendak dikatakan Kakashi saat itu, Iruka tahu bahwa Seme-nya berkali-kali tidak jadi mengatakan sesuatu yang tidak ia ketahui.
Dengan perasaan senang, Kakashi melepaskan pelukannya pada Iruka, dan menatap dalam mata hitam Iruka. "Aku tidak tahu ingin mengatakan apa," bisik Kakashi dengan kedua pipi memanas.
Iruka tertawa sembari mengatupkan kedua matanya. Perasaan bahagia di dalam hatinya membuncah, hingga air mata melelehi kedua pipi tirusnya. Akhirnya impiannya selama ini dapat dicapainya. Namun masih ada satu lagi pertanyaan di dalam benaknya. Apakah mereka harus menyembunyikan hubungan mereka, atau membiarkan semua orang tahu akan hubungan terlarang ini?
Tibat-tiba, di tengah keheningan panjang di antara mereka, suara burung pembawa pesan yang terdengar tepat di atas kepala mereka membuat kedua insan itu spontan mendongak menatap langit sore yang sudah mulai gelap. Tak lama, burung pembawa pesan itu hinggap di pundak Iruka, yang cukup membuat Iruka mengerti bahwa itu adalah panggilan untuknya agar segera menghadap Hokage.
"Tch. Panggilan, Kakashi-kun. Aku harus pergi," kata Iruka sembari memainkan sebelah kakinya dan dengan wajah memberenggut.
Kakashi tersenyum, lalu mengusap lembut kepala Iruka. Ia berkata seraya menyeringai jahil di balik maskernya, "Besok masih ada hari untuk kita, Iruka-kun. Pergilah. Siapa tahu kau diangkat menjadi jounin."
"Baka Seme!" tukas Iruka sembari menampar lengan Kakashi dengan punggung tangannya, "Ya sudah, aku pergi dulu. Itte kimasu!"
"Hm," gumam Kakashi.
-xxx-
"Ada apa, Hokage-sama?" tanya Iruka sesaat setelah ia menutup pintu ruang Hokage, dan berdiri di depan meja kerja sang Sandaime Hokage.
"Anak bodoh itu." Sandaime Hokage mengawali dengan embusan napas panjang, "Ia mencuri sebuah gulungan terlarang dari ruangan ini saat aku sedang tidak di sini."
Iruka meneguk ludah. Ia tahu persis siapa yang disebut 'anak bodoh' oleh Sarutobi Hiruzen. Sudahlah pasti ia adalah anak didikannya. Naruto.
"Itu gulungan yang sangat penting, Iruka. Orang akan menjadi seperti setengah dewa jika memiliki itu, dan akan sangat berbahaya jika disentuh orang yang tidak tepat. Aku menugaskanmu untuk merebut kembali gulungan itu," jelas Sandaime Hokage lagi, dan Iruka mengangguk-angguk mengerti. "Kau boleh pergi sekarang."
"Wakarimashita," timpal Iruka tegas sambil mengangguk mantap. Sesudahnya, ia keluar dari pintu ruang Hokage, dan melesat pergi secepat angin untuk mencari anak itu.
-xxx-
Iruka mencari-cari ke seluruh penjuru Konoha dan sudah berpuluh-puluh atap rumah ataupun pohon ia lompati, namun ia tak juga menemui anak bernama Naruto itu. Ia hampir saja memutuskan untuk kembali ke tempat Hokage, lalu mengatakan bahwa ia gagal menjalankan misi, jika saja ia tidak segera melihat hutan lebat yang menarik perhatiannya.
Disusurinya hutan itu. Ia melompat dengan lincahnya dari satu dahan pohon, ke dahan yang lain. Beberapa lama kemudian, sampailah ia di jantung hutan tersebut. Hari sudah mulai malam sehingga pandangannya agak memudar. Namun dengan segera ia tajamkan indera shinobi-nya untuk melihat keadaan di sekitar jantung tersebut. Tak lama, ia melihat dua bulatan berwarna biru pucat dan kuning. Ia dengan cepat mengetahui bahwa itu adalah Naruto dan—tunggu. Biru pucat? Pastilah itu… Mizuki.
Sedang apa Naruto bersama Mizuki? tanya Iruka dalam hatinya. Namun sedetik kemudian ia mengerti, dan menganggukkan kepalanya dengan kesal. Pasti Mizuki yang memperalat Naruto.
Ia melihat Naruto melakukan sebuah gerakan membuka gulungan. Ditahannya napasnya sejenak sebelum ia dengan cepat turun dari dahan pohon yang ia injak, untuk mencegah Naruto membuka gulungan itu.
"Naruto! Jangan buka gulungan itu!" seru Iruka saat sudah berdiri di depan Naruto dengan kunai dalam genggamannya.
"Tch. Pengganggu," desis Mizuki gusar saat melihat Iruka datang.
"Jangan kau jerumuskan anak tidak bersalah ini, Mizuki. Aku tak mau ada generasi muda yang akhirnya tumbuh menjadi sosok monster sepertimu," timpal Iruka cepat.
Amarah Mizuki sudah sampai pada puncaknya. Diraihnya shuriken raksasa yang ada di punggungnya, dan ia lempar kepada Iruka. Iruka jatuh terduduk—entah karena apa—dan menahan napasnya sembari menutup kedua matanya—menanti ajalnya dengan rela. Namun setelah beberapa detik, tak dirasanya shuriken itu menyentuh tubuhnya sedikit pun. Kemudian Iruka membuka kedua matanya, dan mendapati kepala berambut kuning berada tepat di depan wajahnya. Ia mendengar napas sang pemilik kepala yang putus-putus. Tak lama, pemilik kepala yang sudah pasti adalah Naruto itu mendongak dan menatap Iruka sembari tersenyum. Baru Iruka sadari, shuriken tadi tertancap tak dalam di punggung Naruto.
"I-Iruka-sensei," panggil anak itu dengan suara parau.
"Hey bocah rubah! Untuk apa kau melindungi orang itu? Asal kau tahu, Iruka sangatlah membencimu karena monster berekor sembilan yang ada di dalam tubuhmu itu sudah membunuh kedua orang tuanya!" seru Mizuki untuk memanas-manasi Naruto.
Sejenak Naruto tertegun. Ia menatap Iruka tidak percaya sekaligus terkejut. Ia merasa heran akan perkataan Mizuki barusan. Apa maksud 'monster berekor di dalam tubuhnya' yang disebut-sebut Mizuki? Dan apa maksudnya ia mengatakan bahwa Iruka membencinya? Darah di punggungnya menetes sedikit demi sedikit, namun tak dirasanya lagi rasa sakit yang tadi sempat menusuk-nusuk punggungnya.
"Naruto, percayalah padaku. Aku tidak membencimu!" tegas Iruka sembari menggeleng dengan mantap.
Naruto memandang ke bawah dengan pandangan redup. Ia berdiri dan mencabut shuriken besar itu dari punggungnya. Digenggamnya bagian tengah shuriken itu yang berlubang. Ia memandang senjata itu dengan rasa bimbang dan terpukul.
Anak laki-laki berambut kuning itu menoleh menatap Iruka. Yang ditatap meneguk ludah karena ia sempat mengira anak itu hendak menyerangnya balik karena termakan kata-kata Mizuki. Namun ia salah. Naruto melemparkan senjata di tangannya ke tanah, lalu mendongak untuk menatap tajam ke arah Mizuki.
"Jangan pernah kau sakiti Iruka-sensei!" seru Naruto dengan berang. Diangkatnya tangan kanannya dengan jari tengah dan telunjuk mengacung secara vertikal, dan tangan kirinya—dengan posisi jari yang sama—secara horizontal. Ia tempelkan kedua pasang jari itu, lalu berteriak sekuat tenagah, "Kage bunshin no jutsu!"
Dan seketika, ribuan 'Naruto' sudah memenuhi jantung hutan itu.
Iruka sukses dibuat terperangah olehnya. Tak lama, seluruh bayangan Naruto itu menyerang Mizuki secara membabi buta. Sudah jelas di sini siapa pemenangnya, dan siapa yang terkapar tak berdaya di tanah.
Setelah pertarungan tak adil itu berakhir, seluruh bayangan Naruto pergi, dan menyisakan Mizuki—yang semula berada di tengah-tengah mereka—terkapar tak berdaya di tanah lembab itu.
Naruto menghampiri Iruka dengan senyuman lebar mengembang di bibirnya. Ia menggaruk kepala dan terkekeh senang. Kemudian Naruto berjongkok di depan gurunya dan mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya. "Bagaimana aksiku tadi?" tanya Naruto masih sumringah.
Iruka tidak menjawab pertanyaan itu. Ia hanya tersenyum dan menepuk kepala Naruto dengan sayang. Ditatapnya murid bodohnya itu dengan lembut. Lalu ia angkat bicara, "Pejamkan matamu!"
"Aa? Mengapa harus?" tanya Naruto dengan suara khasnya.
"Sudah cepat lakukan!" desak Iruka yang segera disambut anggukan dan gerutuan malas dari Naruto sebelum anak kecil itu menurutinya. Iruka melepaskan pelindung dahinya dan mengikatkannya pada dahi Naruto. "Sekarang bukalah."
Naruto membuka mata dan mengerjap-ngerjapkannya sejenak. Yang pertama kali ia lihat adalah Iruka yang tersenyum padanya tanpa pelindung dahi di dahinya. Ia merasakan sesuatu yang asing melingkari kepalanya, dan perlahan jari-jarinya terangkat untuk menyentuh benda dari logam itu. Ia merasakan logam dingin itu tersentuh permukaan kulit jarinya dan ia tersenyum lebar.
"Untukmu," ucap Iruka sambil tersenyum penuh pengertian pada Naruto.
"Benarkah? Ini? Ini… pelindung dahi ini untukku?" tanya Naruto tidak percaya dan anggukan Iruka membuatnya menangis bahagia sembari memeluk Iruka yang nyaris terjatuh akibat bobot tubuhnya. "Arigatou ne, Iruka-sensei! Arigatou gozaimasu!"
Iruka tertawa. Ia melepaskan pelukan Naruto dan menatap anak itu dengan penuh kasih sayang. Diacaknya rambut kuning Naruto—yang notabene sangat amat mirip dengan mendiang Yondaime Hokage—dan dikecupnya pelan puncak kepala anak itu. Sungguh ciuman itu bukan dalam maksud tertentu, melainkan ucapan selamat akan keberhasilan Naruto di akademi ninja.
"Ayo kita pulang!" kata Iruka sembari bangkit berdiri. Ia berjalan untuk mengambil gulungan besar yang tergeletak di tanah, dan merangkul Naruto untuk pergi kembali ke desa.
"Lalu, Mizuki-sensei?" tanya Naruto sambil menoleh menatap Mizuki.
"Biar yang lain saja yang menjebloskannya ke penjara," jawab Iruka santai, dan mereka pun melompat pergi.
-xxx-
Iruka pulang kembali ke apartemennya setelah melaporkan hasil misinya dan menyerahkan kembali gulungan besar, yang tadi sempat dicuri Naruto, kepada sang Hokage. Ia membuka pintu apartemennya yang jarang terkunci itu dengan tubuh letih. Laki-laki berusia dua puluh dua tahun itu merasa sangat lelah sehingga sangat membutuhkan istirahat malam ini.
Setelah masuk ke dalam ruangan apartemennya yang gelap dan menutup pintunya, ia menyalakan lampu ruangan itu, dan merasa terkejut dengan kehadiran orang selain dirinya di dalam sana. Orang itu duduk di atas peti penyimpanan senjata Iruka dengan sebelah kaki terangkat dan dengan satu tangan memegang sebuah buku berwarna oranye.
Orang itu tampaknya menyadari kehadiran Iruka karena ia segera menutup buku yang sedang ia baca, dan beranjak menghampiri Iruka.
"Kakashi-kun?" panggil Iruka sambil tersenyum, "Tumben kau datang ke ma—"
"Tak usah berbasa-basi!" tukas Kakashi sambil menatapnya dengan tajam.
Iruka tersentak mendengar nada bicara Kakashi dan ditambah lagi pandangan membunuhnya yang menyeramkan dan sanggup membuatnya mengkerut.
"Kakashi-kun, ap—"
Lagi-lagi Iruka tidak dapat melanjutkan perkataanya, karena Kakashi segera memotong, "Aku melihat semuanya."
Iruka memandangnya dengan kening berkerut. Heran. Tak mengerti apa yang diucapkan Kakashi.
"Aksi pelindungan, pemberian pelindung dahi, dan kecupan di puncak kepala," lanjut Kakashi dengan nada tajam dan penekanan berlebihan pada sebuah kata, "Aku melihat se-mu-a-nya, Umino Iruka."
Detik berikutnya, Iruka merasakan hatinya mencelos. Kakashi cemburu. Hal yang sangat tidak ingin dibayangkan Iruka sekalipun dalam mimpi terburuknya.
To be continued.
Yosshaaa~ Gomennasaaaii telat banget update-nya xD Statusku memang sedang Hiatus :"
Okeh, berikut balasan ripiunya xD cekidot!
-Toples Kaca: xD Sudah dilanjut inii~ Arigatou for review!
-Hatakari Hitaraku: Hontooou? xD Akakakak ini pertama kalinya aku bikin fiction Boy's love m(_ _)m WUAATT?! DUA PULUH?! *digampar* Akakakak kuusahakan yah! xD Salam juga~ Sankyuu neeee xD
-7D: Buset, biawak :v Eaaa longlast akakakak xD Pasti lanjut ke depan kok /eh. Keh, terimakasih sudah meripiu!
Yosh, sekian ripiuannya! Ditunggu lagi yaah~ Jaa mata!
