Srak. Srak. Srak.
Tidak ada suara lain. Hanya ada suara buku yang terus dibalik. Sesaat hening dan kemudian suara buku lagi. Hanya sesekali suara helaan napas dan erangan frustrasi. Hanya sesekali suara-suara yang menggoda jahil dan tanggapan singkat yang khas—mendokuse.
'Serius amat, sih? Kau tidak capek, ya? Padahal kau kan baru sembuh? Bagaimana kalau kaumakan dulu? Nanti kau malah jatuh sakit, lho? Memang kau tidak lapar, ya?' Rentetan pertanyaan itu terus meluncur dari sebuah suara tak berwujud—terasa dekat dan bergaung di kepala sang pemuda yang sudah kembali mengikat rambutnya. 'Hei, Shikamaru! Dengarkan aku!'
"Aku dengar, aku dengar," jawab Shikamaru sambil menguap. "Tidak kausuruh pun, aku tidak bisa tidak mendengar suaramu."
'Jangan cuma didengar, Tuan Jenius! Lakukan apa yang kukatakan padamu!'
Shikamaru tak juga beranjak. Ia masih terus berkutat dengan buku di hadapannya. Beberapa gulungan lain di atas meja perpustakaan Konoha pun masih mengantri untuk segera mendapat perhatiannya.
'Shika! Kau sudah di perpustakaan ini selama nyaris tiga jam! Dan kau bahkan belum makan apa pun setelah melarikan diri begitu saja dari rumah sakit!'
Dengan alis yang mengernyit dan mulut yang melengkung ke bawah, Shikamaru menyentuh pelipisnya. Satu gumaman 'mendokuse' keluar tanpa bisa ia cegah sebelum ia memberi jawaban yang lebih panjang,
"Jangan berteriak-teriak seperti itu, Ino. Kautahu? Suaramu yang cempreng itu terasa berkali-kali lipat lebih cempreng dibanding biasanya. Seakan-akan kau langsung berteriak tepat di sebelah telingaku."
'Huh!' gerutu Ino. 'Dengan suara sekeras itu saja kau masih tidak mau menuruti kata-kataku? Apalagi dengan suara yang pelan?'
"Tsk!"
'Oh, aku tahu! Bagaimana kalau aku bernyanyi saja sekarang?'
"Arrgh! Baik, baik! Aku makan sekarang! Puas kau?" ujar Shikamaru galak sambil menutup buku di hadapannya—setengah menggebrak meja.
Lagi—suara cekikikan yang hanya bisa didengar Shikamaru terdengar. Shikamaru merasa suatu ketenangan yang aneh saat mendengarnya. Ia bahkan tidak peduli dengan beberapa pasang mata yang tampak memandangnya dengan sorot menyelidik. Bukan berarti selama ini Shikamaru selalu memedulikan pandangan orang—ia sangat cuek kepada orang-orang yang tidak begitu dikenalnya.
Namun, sekali ini Shikamaru benar-benar tidak ingin peduli dengan hal-hal yang dianggapnya sepele.
Ada hal yang lebih penting untuk dipikirkan: Bagaimana cara agar ia bisa sekali lagi—atau jika memungkinkan, berkali-kali lagi—melihat senyum terkembang di wajah seorang Yamanaka Ino.
YOUR SOUL
Disclaimer : I do not own Naruto. Naruto © Masashi Kishimoto
I don't gain any commercial advantage by publishing this fanfic. This exactly is just for fun.
Story © Sukie 'Suu' foxie.
Shika/Ino.
Warning: AR-canon setting with modification. Probably rush-on-attack.
ShikaIno fanfic for ShikaIno Fanday; September 22th-23th.
If you love ShikaIno, please join:
ShikaIno FB Group (Purple Haze), twitter phazesanctuary, fansite : www. phaze-ina. co. nr (without the space)
Happy ShikaIno Fanday~! Spread the love of ShikaIno~!
Long live ShikaIno!
Chapter 2.
Happy Birthday!
'Yakiniku-Q?' tanya Ino saat Shikamaru melintas di daerah sekitar tempat makan yang sering menjadi tempat berkumpul tim 10.
Shikamaru tidak langsung menjawab. Yakiniku-Q benar-benar bagaikan tempat kenangan. Dahulu, ia, Chouji, Ino, dan Asuma sering menghabiskan waktu mereka di sana. Semenjak kepergian Asuma, ketiganya jadi jarang mengunjungi Yakiniku-Q. Sekarang, jika Ino juga ….
Shikamaru meneguk ludah pahit. Ia tidak ingin mengingat kemungkinan terburuk tersebut. Ingin ia kembali ke perpustakaan secepatnya dan segera menemukan cara untuk mengembalikan jiwa Ino ke tubuhnya. Atau, jika memang di perpustakaan tidak membantu, ingin ia mengunjungi Inoichi dan membantu kepala Klan Yamanaka tersebut memeriksa arsip-arsip lama yang dimiliki klan pengendali jiwa dan pikiran tersebut.
'Eits, kau tidak akan ke mana-mana selain ke restoran, Shikamaru~!'
Sekejap saja, kaki Shikamaru melangkah lebih cepat di luar kehendaknya. Segala pemikirannya tentang kembali ke perpustakaan segera menguap saat tubuhnya mulai bergerak di luar kendali.
"Sebentar! Apa yang—"
'Wow! Ternyata aku masih bisa mengendalikan tubuhmu! Kukira aku hanya bisa memperdengarkan suaraku!'
"Ino! Berhenti!"
'Ssst! Diam saja dan biarkan aku mengambil alih tubuhmu! Hm … apa aku juga bisa menggunakan suaramu, ya?'
"Tunggu! Aku tidak mau ke Yakiniku-Q!"
'Tapi aku mau! Sudah! Ikuti aku!'
Shikamaru kembali mengerang karena ulah Ino di dalam tubuhnya. Ternyata, walau tinggal jiwanya pun, Ino tetap saja merepotkan!
Tapi … kenapa senyum justru tidak mau pudar dari wajah Shikamaru? Bahkan, meski pikirannya menyerukan kata merepotkan berulang kali, tetap saja pemuda itu tidak memiliki keinginan sebegitu besar untuk menolak kendali Ino. Ia menikmatinya.
Ia pun mengalah dan menyerah saat Ino juga mengendalikan mulutnya, membuatnya memesan makanan-makanan di luar keinginannya. Shikamaru hanya bisa memperingatkan gadis itu bahwa saat ini tidak ada Chouji yang bisa menghabiskan semua makanan jika ia memesan terlalu banyak. Namun, Ino pun membantah dengan mengatakan jika makanannya tidak habis, Shikamaru tinggal membungkusnya untuk dibawa pulang.
Sungguh, mungkin kata merepotkan sudah benar-benar melekat dengan sosok seorang Yamanaka Ino.
'Ne, ne, Shikamaru, baru kali ini, ya, kita berdua saja ke Yakiniku-Q?' ujar Ino saat pelayan yang baru saja mencatat pesanan Shikamaru—atau Ino—pergi.
Berdua.
"Hm …."
'Seperti kencan, ya?'
Mata Shikamaru sedikit membelalak saat Ino mengatakan hal tersebut. Dan belum sempat Shikamaru membantah, kedua tangannya kembali bergerak di luar kendali untuk menyangga wajahnya dengan siku yang menempel di meja—bergaya begitu feminin.
'Biasanya kita ke sini dengan Chouji dan Asuma-sensei.'
Secepat yang ia bisa, Shikamaru kembali menggerakkan tangannya dan mendesis pelan, "Jangan membuatku berpose aneh-aneh, Ino!"
'Ups!' Dan suara tawa kembali bergema di kepala Shikamaru. 'Yah, setidaknya di sini sedang tidak banyak orang. Tidak akan ada yang terlalu memperhatikanmu, bahkan kalau-kalau kau berbicara sendiri ….'
"Aku tidak sendiri," sanggah Shikamaru spontan, "kau sendiri yang bilang … kita berdua, 'kan?"
Ino tidak menjawab.
"Entah kencan atau apa pun namanya, yang jelas, aku tidak sendirian saat ini."
o-o-o-o-o
Selesai makan di Yakiniku-Q, Shikamaru sudah hendak melangkah kembali ke perpustakaan saat mendadak Ino kembali mengendalikan tubuhnya. Bergerak ke sana kemari; membuat Shikamaru tampak memalukan di depan umum dengan gaya-gaya yang tidak biasanya. Sempat Shikamaru dipaksa masuk ke toko pakaian wanita dan membuat penjaga toko di sana mengerutkan kening sementara Shikamaru hanya bisa panik dengan wajah yang memerah.
Ulah Ino tentu saja menuai protesdari Shikamaru. Berulang kali. Namun, tak satu kali pun Ino menggubrisnya. Ia malah tertawa-tawa dengan nada yang terdengar puas—sangat puas.
'Hahahaha! Pasti nilaimu akan jatuh sekarang! Rasakan!'
"Aaarghh! Sudah! Berhenti bermain-main, Ino! Biarkan aku kembali ke perpustakaan!"
'Tidak mau!' Shikamaru memang tidak bisa melihat, tapi dalam bayangannya, saat ini Ino tengah menjulurkan lidah dengan gaya mengejek. 'Aku masih mau jalan-jalan!'
"Kau bisa melakukannya setelah kembali ke tubuhmu sendiri nanti! Ayolah! Hari sudah semakin sore!" bujuk Shikamaru sementara ia dengan susah payah mengambil kendali atas tubuhnya sendiri.
Entah karena keinginan kuat Shikamaru atau karena memang Ino membiarkannya, akhirnya Shikamaru berhasil mengambil alih tubuhnya sendiri dan ia pun bergegas ke perpustakaan. Selama perjalanan itu, tak hentinya Ino mengoceh. Ia bercerita panjang lebar, tentang hal remeh sampai pada membahas kenangan mereka dengan Asuma-sensei.
Saat itu, Shikamaru sudah tidak begitu mendengarkan. Karena mulai terbiasa dengan suara Ino yang begitu dekat—bergaung dalam kepalanya—alhasil ia pun berhasil mengabaikan ocehan Ino dan lebih fokus pada pencariannya.
'Ah, tidak seru! Kau tidak mendengarkan ceritaku, ya, Shika?' gerutu Ino sambil kembali menggerakkan tangan Shikamaru untuk menepuk dahi lelaki tersebut.
"Akan kudengarkan ulang nanti! Tolong biarkan aku berkonsentrasi," pinta Shikamaru sembari menarik kembali tangan kanannya yang baru saja dikendalikan Ino. Tangan itu kini membuka sebuah gulungan dan ia merapikan gulungan tersebut di atas meja hingga tiap-tiap tulisannya bisa terlihat jelas.
'Hei, kenapa kau tidak mencari di ruang arsip rahasia gedung Hokage?'
"Akan kulakukan setelah aku mempelajari beberapa data dasar mengenai shintenshin," jawab Shikamaru singkat. "Selain itu, Godaime bilang padaku tadi, dia harus mengurus beberapa perizinan sebelum aku bisa melihatnya. Mungkin sebentar lagi aku bisa ke sana."
'Oh. Tapi ngomong-ngomong, kalau teori-teori tentang shintenshin, sih, kau bisa bertanya padaku, 'kan?'
"Ya. Kurasa begitu. Tapi aku tidak puas kalau tidak membacanya langsung dari literatur yang sudah ada. Kurasa kau juga pasti baru mengetahui beberapa fakta yang tertulis di sini."
'Ya, ya, ya. Terserah kau, deh, Tuan Jenius,' jawab Ino dengan nada mengejek, 'ngomong-ngomong, dari tadi aku lupa tanya, bagaimana dengan Chouji? Kau belum ke tempatnya lagi?'
Shikamaru terdiam.
'Aku mau bertemu Chouji, Shika! Antarkan aku, ya?'
"Ino," ujar Shikamaru dengan penekanan yang membuat Ino urung sesaat untuk membuat tubuh Shikamaru bangkit, "kenapa kau … terkesan tidak ingin membiarkanku menemukan cara untuk mengembalikan jiwamu ke tubuhmu semula? Kenapa kau terus menggangguku?"
Tidak ada jawaban.
"Jelaskan," tuntut Shikamaru dengan suara lebih rendah.
'Karena … semua akan sia-sia saja, 'kan? Tidak akan ada caranya. Aku sudah—'
"—Pasti ada!" potong Shikamaru cepat. "Jangan kau berani berkata bahwa semua akan sia-sia saja! Aku tidak akan membiarkanmu … aku tidak akan membiarkanmu pergi semudah itu!"
'Hei, hei, pelankan suaramu. Kau dipelototi orang, tuh?' gumam Ino memperingatkan.
"Aku tidak peduli. Kenapa aku harus peduli sekarang? Setelah kau membuatku melakukan hal-hal yang lebih memalukan sebelumnya," jawab Shikamaru sambil bangkit dari kursinya dengan membawa serta beberapa gulungan bersamanya. Ia kemudian meninggalkan perpustakaan untuk kemudian bergerak ke arah gedung Hokage.
Sekali ini, Ino tidak lagi berceloteh. Ia terdiam sepanjang perjalanan. Dibiarkannya Shikamaru melakukan apa yang ingin ia lakukan. Hal ini justru membuat Shikamaru waspada.
"Ino?" tanyanya memastikan.
'Hm?'
Hanya jawaban singkat, tapi kelegaan memenuhi relung dadanya. Syukurlah, Ino masih di sana. Ino masih ada dalam dirinya.
Mungkin—ini hanya mungkin—jika memang ia tidak menemukan cara untuk mengembalikan jiwa Ino ke tubuhnya, ia bisa bertahan dengan jiwa Ino yang berada bersamanya. Ino memang berisik, tapi setidaknya, keberadaan gadis itu jauh lebih penting dibanding sakit kepala yang mungkin akan mendera Shikamaru jika ia tiap hari benar-benar harus mendengar celotehan Ino di dalam kepalanya. Ia bahkan tidak keberatan jika Ino akan menggunakan tubuhnya untuk melakukan hal-hal konyol.
Selama Ino tetap ada. Selama Ino tetap hidup dalam dirinya.
"Kenapa diam?"
'Karena kupikir kau akan semakin marah jika aku berisik sekarang.'
Mau tidak mau, Shikamaru mengulum senyum mendengar jawaban jujur dari Ino.
"Maaf, aku tidak bermaksud marah padamu. Aku hanya—"
'Sudah, sudah. Tidak apa-apa, kok. Aku memang salah, saat kau sedang berjuang untukku, aku malah merecokimu,' jawab Ino cepat, 'tidak apa. Aku bisa menunggu.'
"Ino," panggil Shikamaru lagi. Lembut—nada yang jarang diperdengarkan Shikamaru sebelumnya.
'… Ya?'
"Berjanjilah padaku, bahwa kau masih akan tetap di dalam diriku sampai—'
'—Sampai kau menemukan cara untuk mengembalikan jiwaku ke dalam tubuhku—ya, Shika. Aku masih akan tetap di sini,' ujar Ino cepat, 'sampai tiba saatnya.'
Dengan satu jawaban Ino, Shikamaru pun kemudian menginjakkan kakinya di gedung Hokage dan kemudian langsung tenggelam dalam penelitiannya di gudang arsip rahasia.
o-o-o-o-o
Malam menjelang, tidak banyak yang Shikamaru dapatkan dari arsip di gedung Hokage. Demikian ia kemudian melangkah ke rumah Ino untuk menemui Inoichi yang mulai terlihat kusut dan frustasi karena kepala Klan Yamanaka itu belum juga menemukan apa yang mereka ingin ketahui. Di saat seperti itu, Ino justru berbisik,
'Aduh, kasihan Tousan. Aku ingin memeluknya dan mengatakan semua akan baik-baik saja.'
Shikamaru menyahut, "Jangan macam-macam dengan tubuhku, Ino!"
Suara Shikamaru yang sebenarnya nyaris berbisik tentu tidak lepas dari indra pendengaran Inoichi. Bagaimanapun, saat itu di sekeliling mereka hanya ada keheningan. Ruang arsip bawah tanah keluarga Yamanaka tidak lebih dari satu gudang sunyi yang sanggup memantulkan suara sekecil apa pun.
"Apa ... kau sedang berbicara dengan Ino, Shikamaru?" tanya Inoichi akhirnya.
"Ah, ya, aku …." Shikamaru menoleh dan menatap Inoichi yang kini tengah memandangnya.
"Apa yang ia katakan?"
Sekali itu, justru Ino terdiam. Semula Shikamaru berpikir bahwa Ino akan kembali menggunakan mulutnya untuk menyampaikan langsung pesannya pada Inoichi. Shikamaru menunggu sesaat dan setelah yakin bahwa Ino memang tidak mengatakannya langsung, Shikamaru pun mengambil alih.
"Ino bilang, semua akan baik-baik saja. Karena itu, Inoichi-jisan tidak perlu khawatir."
Senyum terkembang di wajah letih Inoichi. Tanpa memberikan jawaban, keduanya kembali terlarut dalam usaha mereka untuk menemukan cara mengembalikan jiwa Ino ke tubuhnya. Tanpa istirahat.
Malam pun melarut.
o-o-o-o-o
"Kau menemukan sesuatu, Shikamaru?" tanya Inoichi sambil meletakkan buku yang baru selesai ia baca di atas meja di hadapannya.
Gelengan menjadi jawaban Shikamaru. Tapi kemudian alisnya mengerut.
"Jisan, sebetulnya, teknik kerja shintenshin itu adalah menekan kesadaran lawan hingga kesadaran sendiri bisa menguasai tubuh lawan, bukan?"
"Betul," jawab Inoichi sambil mengangguk.
"Jadi seharusnya, dalam satu tubuh tetap hanya satu jiwa yang mengendalikan?"
"Ya, itu konsepnya," jawab Inoichi lagi. "Karena itu, shintenshin tidak bisa bekerja terlalu lama. Memang tergantung kekuatan pengendali shintenshin, tapi tetap saja, kesadaran yang ditekan akan bisa bangkit sewaktu-waktu. Dan saat itu, kesadaran yang ditekan akan bisa melihat sosok pengguna shintenshin di dalam kesadarannya. Memang rumit, tapi kurasa kau mengerti, 'kan, Shikamaru?"
Mendadak, wajah Shikamaru memucat. Ia pun berdiri dari tempatnya duduk dengan gerakan yang kasar. Secepat yang ia bisa, ia pun meninggalkan Inoichi yang kemudian hanya bisa memasang wajah bingung.
o-o-o-o-o
'Kau mau ke mana, Shika? Kenapa kok tiba-tiba ….'
Shikamaru tidak menjawab. Dalam sekejap, ia begitu saja meninggalkan kediaman Yamanaka. Kakinya melangkah terburu meski tidak dapat dikatakan berlari.
'Shikamaru …," panggil Ino dengan lembut.
Shikamaru masih tidak mengacuhkannya. Pemuda terdiam seribu bahasa. Hanya langkah kakinya yang terdengar di malam yang siap mengganti harinya.
Sekejap saja, Ino pun menyadari ke mana Shikamaru akan melangkah. Tempat favorit pemuda itu. Tak lain tak bukan adalah bukit yang bersinggungan langsung dengan keluarga Nara.
Shikamaru memang tidak mengatakan apa-apa, tapi Ino sudah cukup mengerti apa yang dipikirkan pemuda itu. Tidak perlu kata-kata. Sejak dulu selalu begitu—mereka sudah terhubungkan oleh suatu tali tak kasatmata hingga tanpa bicara pun, keduanya sudah dapat saling memahami satu sama lain.
Begitu sampai, Shikamaru langsung merebahkan dirinya di rerumputan yang empuk. Kedua tangannya menjadi bantalan bagi kepalanya sementara matanya langsung menatap nanar pada langit kelam—bukan langit biru yang menjadi preferensinya.
'Shikamaru ….'
Seringai sinis terlihat di wajah Shikamaru. "Kau sudah tahu …."
Tidak ada respons dari Ino. Shikamaru melanjutkan,
"Sejak awal kau sudah tahu, tidak akan ada jalan."
'Yah ….'
"Karena itulah, kau merecokiku yang tengah mati-matian berjuang untuk mengembalikan jiwamu ke tubuh asalmu."
'Sudah kukatakan sebelumnya, semua akan sia—'
"Ya, sia-sia. Dan aku terlalu keras kepala untuk mengakui. Hingga kau harus berbohong seperti itu …."
'Berbohong?'
"Kaubilang semua akan baik-baik saja. Kaubilang kau akan tetap ada di sini sampai aku menemukan cara untuk mengembalikanmu," jawab Shikamaru sambil meringis, "itu hanya harapan palsu."
Hening sejenak. 'Aku tidak bermaksud demikian. Aku hanya … melihat kalian yang begitu mati-matian, mau tidak mau aku sendiri berharap bahwa memang akan ada jalan bagiku untuk kembali.'
"… Bagaimana …," Shikamaru menelan ludah, "bagaimana caranya kau bisa merasuki tubuhku? Ini … bukan jutsu-mu, 'kan? Ini bukan kinerja shintenshin."
'... Aku sendiri tidak paham mekanismenya. Begitu tersadar, aku bisa mengetahui bahwa aku sudah ada dalam tubuhmu—memandang dunia melalui kedua matamu. Bahkan aku … aku bisa melihat tubuhku sendiri yang terbaring kaku di rumah sakit.' Ino tertawa pahit. 'Tidak menyenangkan rasanya.'
Samar-samar, Shikamaru seakan bisa merasa bahwa Ino tengah menghela napas.
'Mungkin, ini kesempatan yang Kami-sama berikan padaku.' Ino tidak memberi kesempatan bagi Shikamaru untuk menjawab. Ia langsung melanjutkan, 'Hei, Shikamaru.'
Awalnya, Shikamaru enggan menjawab. Tapi toh akhirnya ia tergelitik untuk menjawab sekenanya.
"Apa?"
'Selamat ulang tahun.'
Bibir Shikamaru bungkam. Dibiarkannya Ino kembali mengambil alih pembicaraan. Seperti biasanya.
'Maaf tidak bisa memberimu apa-apa selain kenangan yang buruk,' Ino terdiam sejenak, 'dan sebuah doa bahwa kau tidak akan terus dilanda perasaan bersalah serta bisa segera bangkit selepas … kepergianku. Jangan menjadi cowok yang cengeng, ya!' Kata-kata Ino ditutup dengan sebuah tawa terpaksa.
Namun, Shikamaru tidak ingin menjawab apa-apa. Pun dia tidak tersenyum sedikit pun. Ino paham dan sadar situasinya, tak sepatah kata pun lagi meluncur dari mulut gadis itu. Kini, keduanya hanya memandang langit hitam yang kelam—seolah jawaban yang mereka cari ada di sana. Dan jawaban itu adalah suatu kegelapan belaka. Bahkan bulan dan bintang tak membantu; bagaikan sebuah harapan semu.
Desau angin yang kasar seakan memaksa Shikamaru untuk segera beranjak. Tetapi pemuda itu tetap bertahan di posisinya.
"Ino," panggil Shikamaru akhirnya. Ia tidak benar-benar tahu, ia hanya berbicara mengikuti intuisi belaka.
Ia hanya merasa, ini saat yang tepat. Setidaknya, sebelum ia terlambat.
'Ya?'
"Selamat ulang tahun."
Entah mengapa, Shikamaru bisa merasa bahwa Ino terkejut mendengar ucapannya. Itulah yang kemudian memancing senyum Shikamaru untuk keluar dari persembunyiannya.
"Maaf, tidak bisa memberimu apa-apa—maaf aku tidak bisa menemukan cara untuk mengembalikanmu ke tubuhmu semula." Bersamaan dengan tiap-tiap kata yang meluncur dari mulutnya, dari kedua netranya pun mengalir tiap-tiap investasi kesedihan. "Maaf, karena aku—"
'Ssst. Kau sudah memberiku hari yang menyenangkan, kautahu?' Ino tertawa ringan. 'Bisa mempermalukanmu di depan umum, kapan lagi aku punya kesempatan seperti itu?'
Shikamaru tidak menjawab. Dibiarkannya kepingan-kepingan memorinya membawanya kembali ke saat-saat bahagia ketika Ino masih tertangkap kedua netranya. Bagaimana gadis itu bersikap bossy, bagaimana gadis itu selalu merecokinya dan Chouji, bagaimana gadis itu kerap menopangnya ... Ah! Kenangan tentang saat-saat kebersamaan mereka memang tidak bisa selesai hanya dalam hitungan detik.
"Sampai kapan …," susah payah Shikamaru mengatur suaranya agar bisa terdengar jelas, "sampai kapan kau bisa bertahan seperti ini? Tidak bisakah … kau tetap seperti ini?"
'… Kau itu jenius, Shikamaru. Dari sekian literatur yang kaubaca, kau pasti sudah paham. Dalam satu tubuh, hanya diperkenankan bagi satu jiwa untuk tetap bertahan dalam jangka waktu yang panjang.'
"Aku tahu! Tapi—"
Bersamaan dengan Shikamaru yang mendadak bangkit dari posisi tempat duduknya, Ino bersuara,
'Pejamkan matamu.'
Saat itu, Shikamaru sudah bertumpu di atas kedua kakinya. Ia mengerjap bingung beberapa saat, tapi kemudian, suara Ino yang memintanya untuk memejamkan mata kembali terdengar. Itulah yang kemudian dilakukan Shikamaru.
Berdiri di bukit Nara, memejamkan mata—membiarkan lecutan-lecutan angin menyentuh permukaan kulitnya. Dingin. Tapi Shikamaru seakan sudah mati rasa.
o-o-o-o-o
Mata Shikamaru perlahan terbuka. Awalnya, ia terpaksa menutupnya kembali sebelum mengerjap-ngerjap untuk menyesuaikan dengan lingkungan sekitarnya yang begitu benderang. Begitu matanya sudah beradaptasi, hal pertama yang dilihatnya adalah hal pertama yang memang paling ingin dilihatnya—
—senyum Ino.
"I—no." Napas Shikamaru terasa tercekat. Tubuhnya terasa berat. Ia ingin melangkah maju, tapi kakinya justru seolah terpaku.
Sebagai gantinya, sosok gadis yang rupanya masih sama dengan kala terakhir Shikamaru melihatnya—dengan baju ungu dan rambut yang diikat ponytail—melangkah maju mendekat ke arah Shikamaru.
Gadis itu tidak berkata apa-apa dan hanya mengulurkan tangannya. Bagaikan bercermin, tangan Shikamaru pun terulur. Masing-masing jemari dari tangan yang berbeda itu kini saling berkaitan. Shikamaru bisa merasakannya; hangat.
Lalu, tangan Ino yang lain terangkat. Dibelainya pipi Shikamaru dan setelah itu, satu kecupan didaratkan di pipi pemuda itu. Shikamaru tersentak tapi ia tidak hendak mengelak.
'Hadiah ulang tahunmu,' ucap Ino sambil berbisik lembut di samping telinga Shikamaru. 'Kuharap hadiah ini bisa sedikit membuatmu menghapus kenangan buruk di hari ulang tahunmu.'
Setelah itu, Ino pun melepaskan kaitan jemarinya dengan jemari Shikamaru. Gadis itu kembali melangkah mundur.
Perlahan, sosok di hadapannya memudar. Demikian pula cahaya terang di sekeliling mereka mulai diwarnai kegelapan.
Panik—Shikamaru tidak bisa tidak merasakan hal tersebut.
"Tunggu! Ino!"
Ino hanya tersenyum. Dengan kedua tangannya yang ia sembunyikan di belakang punggung dan kepala yang sedikit ia miringkan, Ino tetap mempertahankan senyumnya di depan sahabat sejak kecilnya tersebut.
"I—"
Segala kata-kata yang hendak Shikamaru lontarkan kini seakan tersangkut di tenggorokan. Ia tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun. Ia hanya bisa menjadi saksi bisu saat-saat sosok di hadapannya seakan mengurai menjadi partikel-partikel yang tak dapat lagi tertangkap oleh kedua indra penglihatannya.
Tetes kesedihan itu kembali melesak keluar.
'Ne, Shikamaru ….'
Sungguh, Shikamaru ingin waktu berhenti. Namun, ia tidak tahu, ia tidak bisa melawan kekuatan takdir.
Ini saatnya. Seperti kata Ino, mereka bisa bersama hanya sampai tiba saatnya.
Saat-saat perpisahan abadi.
Lalu …
'Sayonara.'
… ucapan selamat tinggal menjadi hal terakhir yang ia dengar.
.
.
.
Kedua mata sang pemuda Nara terbuka saat dirasakannya sesuatu yang dingin dan basah menyentuh dahinya. Begitu ia menyadari bahwa seekor rusa dari hutan Nara baru saja menjilati dahinya, Shikamaru tidak bisa tidak terlonjak. Diaturnya napasnya yang sempat memburu karena terkejut.
Setelah ia bisa mengendalikan diri, ia kemudian tersenyum kecil dan membelai kepala rusa tersebut.
Ia pun mendongak ke arah langit.
Langit biru.
Langit sudah berganti—tidak lagi kelam.
Hari sudah berganti dan suara-suaranya tidak lagi bergaung dalam diri. Ia benar-benar telah pergi. Jiwanya tak lagi di sini. Tak ada lagi jiwa Ino yang mendampingi.
Shikamaru benar-benar sendiri kali ini.
Helaan napas meluncur lirih. Sang pemuda Nara itu kemudian menggaruk bagian belakang kepalanya. Matanya terpejam dan dibiarkannya sesaat pemikiran tentang rekan setimnya kembali mendominasi.
Meski luka batinnya tidak akan bisa dihilangkan, kehidupannya masih akan tetap berjalan. Ulang tahunnya akan kembali lagi tahun depan.
Kepahitan mungkin akan kembali ia rasakan, tetapi—
Perlahan, Shikamaru mengangkat tangan dan menyentuh pipinya.
—tetapi satu doa yang sudah dilontarkan baginya, tak akan pernah ia sia-siakan.
Dan kesempatan terakhir yang telah diberikan padanya, akan senantiasa tersimpan sebagai kenangan yang sewaktu-waktu akan membuncah menjadi sebentuk harapan.
Kini, yang ia harus lakukan adalah berjalan ke depan lalu memberi kabar yang tidak menyenangkan ini bagi mereka-mereka yang telah ditinggalkan.
***終わり***
Selesai di detik-detik akhir sebelum hari berganti! Pulang kerja langsung ngetik ini, dari jam setengah sepuluh sampai setengah dua belas, sepuluh halaman! *tepar* /curcol/
Aku belum cek ulang, soalnya … keburu pusing dan mata ngejerit minta dipejamkan. Jadi, jadi, mohon maaf kalau-kalau ada kesalahan penulisan, feel yang kurang berasa, alur yang rush, dkk. Still, aku berharap banget fanfict ini bisa … err … menghibur … meskipun genre-nya angst. /dor/
However, I enjoyed making this fanfic. Kurang enjoy apalagi kalau pada akhirnya aku berhasil nyelesein fanfict ini tepat waktu? HAHAHAHAHA! *ketawa gila* Ampir lupa: Otanjoubi omedetou, Ino-chan! Happy SIFD, minna-chan! X"D
Terus, balesan-balesan review di sini aja, yah? Sebelumnya, thanks untuk semua review yang udah masuk!
Reako Mizuumi: Really? Syukurlah kalau alurnya ketebak. Moga-moga chapter duanya nggak mengecewakan, ya? :"")
l. samudraputra: huwaah! Tersanjung dapat pujian kalau fanfict-nya keren *blush* iya dong, kan untuk menyambut ultah mereka. Hehe.
zielavenaz96: sorry, Dear, but I can't make it a real happy ending. The idea I have in my mind forced me to end this story this way
pratiwirahim: yoai; satu tubuh dua jiwa! Yup! Ini udah dilanjutin :D
keroamalia: Shika kan manusia biasa yang juga bisa lengah Sip, ini lanjutannya! Happy reading and happy SIFD! :"3
Natsuyakiko32: hai juga~! Aww, aww, aww! Glad you think the story's cool! Silakan lanjutannya~! :heart:
Anniiee: eeeh~! Ada Ann-chaaan! X""D Yup, yup, rencana Shika sih gitu awalnya … tapi … *mendadak hening*
VeeA: yes, Dear. Ini two-shots story, kok ;)
Fauzanna: wohooo! O / / / O Don't call me senpai lah! Panggil Suu aja, ya! ;)
Tsurugi De Lelouch: nyahahha, gakpapa, Wulan-chan! Next time ikutan, yak! ;))
Yosh! Done! Terus, thanks sebanyak-banyaknya juga untuk yang udah baca, yang udah fave, dan yang udah follow!
Sekarang … sila beritahukan kesan, pesan, saran, kritikan minna-san tentang fic ini via review. Arigatou sebelumnya~
I'll be waiting.
Regards,
Sukie 'Suu' Foxie
~Thanks for reading~
