Oo iya. Ad yang tanya. Kok bisa tiba-tiba stadium akhir? Author udah cari inpo seputr penyakit kanker. Dan memang penyakit kanker ini, khususnya leukimia akan menunjukkan gejala pada stadium akhir. Hehe. Jadi jangan shock ya~~

Balesan repiuw kemariinn~~

dian deer : Luhannya jangan cepet mati dong cingu.. endingnya kan belom nyampe!#lah?

sofianingsih : diatas udah dijelasin ttg stadium yaa~

lisnana1 : jangan nangis dong cingu~~` ikutan mewek nantii nih~~

0312luLuEXOticS : udah mau baca terus author udah makasih banyak cingu ^^. Hehe makasih ya udah mau kebawa emosinya kedalam cerita.. author terharu pake banget! Hehe.

Back to Story~

Cast : HunHan and the other couple~~~.

Warning : OOC, YAOI, BL, Kependekan ., and Typo(s)

Dislaimer : Sehun milik Luhan, dan Luhan milik saya seorang#DisantetSehun.

Happy reading^^

Pagi menyapa tubuh Luhan yang masih menggeliat lucu di ranjangnya. Tubuhnya sungguh lelah entah mengapa. Cahaya matahari menusuk tubuhnya dan mendesaknya untuk bangun. Minggu, hari ini hari minggu. Ia akan membuka tokonya hari ini. Ia menyambar handuknya dan bergegas ke kamar mandi dekat dapur. Karena kamar mandinya sedang bermasalah.

Baru saja Luhan membuka pintu kamarnya. Ia hampir saja meloncat karena terkejut meluhat Sehun yang memamerkan senyum indahnya.

"Apa yang kau lakukan disini Hun?" Luhan bertanya.

"Mau jemput kamu Hyung. Sekarang kan minggu. Jadi aku gak ke kampus. Lagian ini udah siang Hyung. Kok bangunnya telat banget sih?" Sehun merangkul Luhan.

Semburat merah timbul di pipi Luhan.

"Eumm. Aku mau mandi dulu Hun" Luhan melepaskan dirinya pelan.

"Kau tunggu disini saja Sehun." Kris menyahut dari sofa ruang tamu dengan dua cangkir teh ditangannya.

Sehun pun mengecup kening Luhan sekilas. Setelah itu ia menghampiri Kris yang berada di sofa sana.

Beberapa menit ia berbincang banyak hal dengan Kris. Tiba-tiba handpone Kris berdering. Sehingga Kris pamit untuk mengangkat panggilan dari atasannya itu. Sehun sendiri di ruang tengah itu. Ia berkeliling di sekitar sana. Tiba-tiba ia melihat sebuah album foto di salah satu rak. Sehun pun mengambilnya. Ia berniat ingin melihat isi album tersebut.

Namun setelah ia berhasil menariknya. Secarik amplop ikut tertarik dan jatuh tepat di kaki Sehun.

"Eo?" Sehun mengambil amplop tersebut.

Tangannya bergetar tiba-tiba. Di amplop tersebut tertera alamat dan nama rumah sakit tempat Luhan dirawat.

"Tidak mungkin." Sehun bergumam dengan mata sedikit berkaca-kaca dan dengan gemetar membuka amplop tersebut.

"Positif?" Sehun bergumam serak. Seperti tenggorokannya telah tercekat sesuatu yang tumpul.

Ia dengan sekuat tenaga menahan tangisnya. Ia kembali memasukkan kertas itu dan mengembalikannya ke dalam amplop. Merapikannya ketempat semula. Dan duduk kembali di sofa.

Sehun termenung disana. Ia terdiam. Tubuhnya gemetar. Keringat dingin mengucur. Ia menyeruput tehnya dengan kasar dan gemetar.

Taklama terdengar suara derapa kaki dari arah dapur. Sehun berusaha menstabilkan dirinya karena ia tau Luhanlah yang akan datang.

Luhan datang dengan handuk melilit di pinggangnya. Tubuhnya sedikit basah. Ia hanya melirik kearah Sehun dan tersenyum.

"Lu~" Sehun hampir saja menangis jika Kris tak datang menepuk pundaknya.

Kris menghela nafas berat dan duduk di sebelah Sehun. "Kau sudah tau?" kris menyeruput tehnya.

"Itu lebih baik. Karena aku bisa mempercayaimu untuk membahagiakannya sampai saat terakhitnya nanti." Kris meletakkan cangkir teh miliknya.

"Bagaimana bisa? Ini bukan bercanda eoh?" Sehun menatap kearah Kris.

"Menurutmu ini candaan? Hanya kau yang bisa membuatnya bahagia Sehun-ah!" Kris bangkit dan menepuk pundak Sehun.

Namun Kris kembali berbicara saat hendak meninggalkan Sehun.

"Ia tak ingin kau tau tentang itu" Kris pun pergi ke luar.

Sehun terdiam. Ia tergamam. Ia bingung. Ia Sedih. Ia benci. Apakah Tuhan setega itu pada Luhan?

'Aku bahkan lebih rela jika aku yang mengalaminya Tuhan' Sehun bergumam dalam hati seraya menundukkan wajahnya.

"Hun~ Ayo berangkat sekarang" Suara Luhan menyadarkan Sehun.

Sehun pun mengantarkan Luhan ketokonya. Menemani Luhan melayani para pembeli. Menemani Luhan disana dengan pikiran yang masih berkecamuk. Sampai malam hari tiba. Tak ada percakapan berarti dari Sehun ataupun Luhan. Hanya pertanyaan dan jawaban seputar toko bunga.

Luhan masih sibuk membersihkan toko yang akan ia tutup sebentar lagi. Sehun menunggunya diluar. Setelah selesai Luhan menghampiri Sehun.

"Hun. Ada yang ingin kubicarakan denganmu. Apa kau mau ke taman bermain?" Luhan menawarkan.

Sehun tak menjawab. Ia hanya menganggukkan kepalanya tanda setuju. Sementara pikirannya masih mengira-ngira apa yang akan Luhan katakan padanya.

Sesampainya di taman bermain yang tak jauh dari sana. Luhan langsung memilih ayunan dan menduduki tubuhnya disana.

Sementara Shun duduk di kursi kayu yang berada di hadapan Luhan.

Hening. Sudah 10 menit mereka disana. Namun mereka enggan membuat awal dari sebuah percakapan. Namun tiba-tiba Sehun membuka mulutnya.

"Apa yang ingin Hyung bicarakan?" Sehun bertanya dengan tatapan yang tertuju pada sepatunya sendiri.

"Hun." Luhan lirih.

"Kurasa kita berhenti saja sampai disini." Luhan melanjutkan. Ia hanya memainkan kaki-kakinya dan pasir yang berada di bawahnya.

"Apa maksudmu Lu?" Sehun menatap Luhan.

"Aku-aku sudah menyukai orang lain Hun" Luhan berkata agak sedikit terbata dan bergetar.

"Kau bohong!" Sehun sedikit berteriak dan bangkit dari duduknya.

"Aku tidak bohong Hun. Aku mohon tinggalkan aku. Itu akan lebih baik" Luhan menatap sehun. Kemudian menundukkan kepalanya.

"Aku tau Lu~ aku tau SEMUANYA!" Sehun masih dengan nada bicara yang tinggi.

"Ap-apa maksudmu Hun?" Luhan menatap Sehun.

"Kau-KAU!" Sehun terdiam kemudian berlari menuju Luhan dan mendekap tubuh Luhan yang berada diatas ayunan dengan sangat erat. Sangat teramat erat. Seakan Sehun tak akn pernah melepaskannya.

Luhan terkejut. Namun ia membalas pelukan Sehun dan bergumam pelan disana. "Ada apa?"

Sehun hanya mempererat pelukannya. Membuat Luhan sedikit merasa sesak. Dengan sekuat tenaga Luhan mendorong Sehun.

Sehun menatap Luhan dengan lekat.

"Aku tau keadaanmu Lu~" setetes air mata menuruni pipinya.

"..." luhan terdiam. Ia tak bisa menjawab. Ia menundukkan wajahnya.

"Aku tak akan meninggalkanmu Lu~" Sehun meraup dagu Luhan dan membuat mereka saling menatap. Luhan tak sanggup menahan emosinya. Semua bebannya telah terkuras oleh pandangan Sehun. Air mata tak bisa ia bendung lagi.

Sehun pun memeluk Luhan yang sedang menangis sejadi-jadinya. Malam itu pun menjadi malam yang panjang untuk Sehun maupun Luhan. Setelah mengeluarkan semua yang ada dihati mereka. Akhirnya mereka pun pulang. Sehun mengantarkan Luhan untuk pulang. Dan ia pun pulang kerumahnya.

Setibanya disana. Ia langsung dicegat oleh ibunya karena baru pulang selarut ini.

"Dari mana kau?" Eomma Sehun menyeruput secangkir teh mungkin.

"Bertemu dengan Luhan." Sehun menjawab singkat dan meninggalkan Eommanya yang sedang menahan amarahnya.

"Luhan ya? Seberapa hebat dia?" Eomma Sehun bergumam sembari meletakkan cangkirnya.

Eternal Love

Luhan sedang duduk santai dikamarnya. Hari ini ia memutuskan untuk tidak membuka tokonya. Ia bru saja selesai mandi. Rambutnya masih basah. Dan masih ia keringkan dengan handuk yang berada ditangannya. Kris sudah pergi barusan. Ia pergi agak pagi karena ada rapat.

Luhan meraih sisir yang berada di meja kakas di sebelah ranjangnya. Ia menyisir rambutnya yang masih sedikit basah. Rontok. Rontok parah. Luhan hanya menghela nafas berat.

Gejala dari penyakit mengerikan ini sudah bermunculan, batin Luhan.

Baru saja ia ingin membaringkan tubuhnya diranjang saat bel rumahnya berbunyi. Ia pun bangkit dan pergi keluar kamar.

Ting Tong. Ting Tong.

Setelah membuka pintu tersebut, Luhan menemukan wanita paruh baya disana. Dengan pakaian yang cukup elegan.

"Maaf. Anda cari siapa?" Luhan bertanya dengan nada yang dicoba untuk terlihat halus.

"Aku mencari Luhan" Ahjumma tersebut menyahut.

"Saya sendiri." Luhan mengerjapkan matanya bingung. Ia tak pernah merasa pernah bertemu dengan ahjumma ini.

"Boleh saya masuk?" Ahjumma tadi masuk seenaknya dan melihat seisi apartemen Luhan dan Kris.

"Boleh juga." Ahjumma tadi duduk dan melepas syal miliknya dengan tidak sopannya.

"Jadi. Ada apa anda mencari saya?" Luhan mencoba bertanya.

"Langsung ke inti permassalahannya saja. Saya adalah Eommanya Sehun. Dan ini ada sesuatu yang ingin kuberikan padamu. Kau mengerti maksudku kan?" Eomma Sehun menyerahkan sebuah amplop yang cukup tebal.

Luhan yang bingung hanya meraih amplop tersebut dan membukanya. Betapa terkejutnya saat melihat isi amplop itu adalah sejumlah uang yang sangat banyak.

Luhan bangkit dan menghempaskan amplop tersebut.

"Apa maksud anda? Kau kira perbuatanmu saat ini apa?" Luhan mulai emosi.

"Apakah itu belum cukup?" Eomma Sehun bangkit dan merogoh tasnya.

Luhan mencegat tangan tersebut. "Lebih baik anda pulang saja. Tidak ada gunanya anda disini. Dan satu hal lagi..." Luhan melepas tangannya.

"Bukankah nyonya adalah kalangan atas? Bagaimana bisa anda melakukan hal seperti ini? Apa anda tidak malu?" Luhan menatap lekat wajah Eomma Sehun yang memerah karena marah.

"Lihat saja! Aku tidak akan membiarkan anakku berada disekitarmu!" Eomma Sehun meraih amplop tadi dengan kasar dan beranjak keluar dari apartemen tersebut. Luhan memalingkan wajahnya. Ia menyembunyikan tangisannya.

Ia menangis karena ia tak sanggup menahan kesedihannya. Sungguh saat ini Sehunlah nyawanya. Bagaimana bisa Eommanya melakukan hal yang seperti tadi? Apakah ia serendah itu? Luhan meringkuk di lantai dan menangis sejadi-jadinya.

"LU!"

Sebuah pekikan dengan suara yang sangat Luhan kenal. Dan sebuah tubuh hangat merangkul tubuhnya. Luhan menangis semakin keras akibat kedatangan Sehun. Ia memeluk tubuh Sehun dan menangis disna.

"Kau kenapa Lu?" Sehun bertanya sembari memeluk Luhan.

Setelah Luhan menyelesaikan tangisannya dan ia sudah sedikit tenang akibat teh yang Sehun buat beberapa waktu lalu.

"Mau bercerita padaku?" Sehun memiringkan kepalanya untuk menatap wajah Luhan yang sedikit menunduk.

"Aku tidap apa-apa." Luhan mencoba tersenyum.

Sehun menghela nafas berat. Ia tau Luhan berbohong. Ia pun menyandarkan tubuhnya ke sofa. Namun ia mendapatkan sebuah syal hitam dengan corak putih tepaat disampinya.

Ia meraih syal tersebut. Detik kemudian ia menggenggam syal itu dengan kuat dan berdiri.

"Aku pulang dulu!" Sehun dengan tergesa-gesa pergi dan tidak menghiraukan Luhan yang terlihat bingung. Sehun mengendarai mobilnya dengan penuh emosi. Setelah ia sampai dirumahnya ia keluar dan membanting pintu mobil dengan sangat keras.

Ia pergi menuju kekamar ibunya. Dan benar saja ibunya berada disana.

"Ada apa?" Eommanya terkejut saat Sehun membuka pintu kamarnya dengan sedikit kasar.

Sehun mengangkat syal yang ia genggam ditangan kirinya. Dan hal itu membuat Eomma Sehun membelalakkan matanya dengan sangat sempurna. Ia mengingat syal tersebut. Syal yang ia gunakan saat pergi mengunjungi Luhan.

"APA YANG TELAH EOMMA LAKUKAN PADA LUHAN!" Sehun memekik.

Eomma Sehun semakin shock melihat putranya berteriak untuk pertama kalinya.

"APA APAAN KAU INI? KENAPA KAU BERTERIAK PADA IBUMU EOH?" Eomma Sehun juga berteriak tak terima.

Sehun menyeringai. "Apa perlu aku jelaskan eomma?" Sehun menaikkan nada bicaranya yang sempat turun.

"Aku hanya memberikan tawaran padanya!" Eomma Sehun memalingkan wajahnya.

"Aku benci Eomma!" Sehun berkata pelan.

"Kau berubah semenjak mengenal anak itu Sehun! Eomma tidak akan membiarkan kalian!" Eomma Sehun melipat kedua tangannya di dada.

"apa Eomma tidak sadar?" Sehun berkata lirih.

"AKU SELALU MENURUTIMU! UNTUK SEKALI SAJA AKU INGIN KAU TIDAK MENGATURKU!" Sehun meninggalkan kamar tersebut dengan kasar. Membuat Eommanya hanya berdecih meremehkan.

Sehun masuk kekamarnya dan langsung meraih sebuah koper besar di atas lemari. Ia memasukkan baju dengan kasar kesana. Ia pun menyeret koper tersebut dengan kasar. Ia berniat untuk kabur dari rumah. Sesampainya di ruang tamu ia berhenti oleh sebuah suara.

"Kau mau kemana?" Suara berat dari seorang pria yang berdiri di ambang pintu dan juga koper-koper disekitarnya.

Sehun membelalakkan matanya saat ia melihat Ayahnya. Sehun menunduk.

"Aku ingin pergi." Sehun berkata lirih. Dan bisa ia dengar bahwa Ayahnya mendekatinya. Dan pekikan Eommanya yang baru saja keluar. Namun Eommanya segera berhenti saat melihat hawa menyeramkan dari keadaan ini.

"Kenapa?" Ayah Sehun berkata singkat namun menyeramkan.

Hening sejenak namun Sehun segera memantapkan dirinya untuk menjawab.

"AKU TIDAK INGIN SEPERTI INI TERUS! AKU TIDAK INGIN MENIKAH DENGAN JUNIEL! AKU MENCINTAI LUHAN! JADI JANGAN PAKS—" pekikan Sehun terhenti oleh sebuah tamparan keras yang mendarat di pipinya. Sehun memegang pipinya dan melihat kearah Ayahnya yang telah menampar wajahnya barusan.

"Jangan macam-macam kau! Sebaikknya kau kembali kekamarmu. Dan pernikahanmu akan tetap berlangsung!" Ayahnya berkata dengan nada berat dan datar.

Sehun sudah hampir menangis mendengar perkataan ayahnya. Ia merasa bahwa mereka bukanlah orang tuanya.

"Dan kau bebas untuk bertemu dengan orang yang kau sukai sebelum aku menikah" Ayahnya melanjutkan perkataanya.

"Tapi Pa!" Eomma Sehun menyahut. Dan dibalas dengan sebuah gelengan dari Ayah Sehun.

"Baik! Aku akan mengikuti perkataan kalian! Tapi aku yakin! Kalian pasti akan mendapat balasannya nanti! Aku benci kalian berdua!" Sehun melangkah meninggalkan kedua orang tuanya.

"ANAK ITUU!" Omma Sehun hendak berteriak namun dicegah oleh Suaminya.

"Biarkan saja dia"

-TBC-

Gimana? Makin gaje kah? Oo iya ngasi bocoran aja. Kemungkinan 2 atau 3 chapter lagi bakalan end loooh! Hehe.. mind to repiuw?