Pertama-tama. Author bilangin chap ini bener-bener nguras air mata. Author nulisnya aja sambil mewek sumpah. Dan kalo mau lebih dapet feelsnya putar lagu Sunny Hill-Pray atau Super Junior-Coagulation sebagai backsoundnya. Tapi lebih ngena sih lagu Sunny Hill ^^
.
..
"Mereka akan memulai hidup baru berdua"
.
"Cinta mereka sangat mengharukan"
.
"Itu adalah takdir untuk mereka."
.
"Lu. . . Aku akan menggenggam tanganmu sampai esok menjelang"
.
"Bagaimana kalau pantai?"
.
.
Cast : HunHan and the other couple~~~.
Warning : OOC, YAOI, BL, Kependekan ., and Typo(s)
Dislaimer : Sehun milik Luhan, dan Luhan milik saya seorang#DisantetSehun.
Happy reading^^
.
.
.
Sudah sebulan setelah kejadian itu. Kejadian dimana eomma Sehun datang kerumah sakit. Keadaan Luhan semakin memburuk saja. Diagnosa tentang umurnya yang mencapai 4 bulan saja akan susah untuk ia gapai. Terlebih lagi. Sehun akan menikah 2 minggu lebih cepat dari perkiraan sebelumnya.
Lebih tepatnya sekitar 3 Hari lagi.
Sehun tak bisa melakukan apa-apa. Ia sempat memberontak terhadap keputusan orang tuanya yang secara sepihak memutuskannya. Namun apa daya. Sehun tak didengar.
.
.
.
"Hanya 3 hari ini kau boleh kerumah sakit Oh Sehun!" Eomma Sehun berkata saat Sehun hendak meninggalkan rumah.
Sehun menghentikan langkahnya. Dan berbalik menghadap kedua orang tuanya yang sedang duduk di sofa ruang tamu.
"AKU BERSUMPAH! KALIAN AKAN MENDAPAT BALASANNYA!" Sehun berbicara penuh emosi.
"Bicara apa kau ini?" Ayah Sehun memandang Sehun remeh.
"Tuhan akan membalas kalian. Kalian terlalu kejam! Kalian selalu saja bertindak seenaknya! Tuhan juga bisa melakukan hal yang tidak kalian kira!" Sehun berkata lirih dan ia beranjak meninggalkan rumah.
"Memangnya Tuhan bisa menyembuhkan pacarmu itu? HAHAHA jangan mengada-ngada Oh Sehun!" Sehun menggenggam tangannya geram. Ia benar-benar membenci Ayahnya. Ditambah lagi dengan perkataan ayahnya barusan.
.
.
.
Sesampainya dirumah sakit. Ternyata Luhan belum bangun dari tidurnya. Sehun duduk di sisi samping ranjang. Ia memandangi wajah Luhan yang sedang beristirahat. Polos. Wajahnya polos. Sehun mengulurkan tangannya untuk mengusap wajah Luhan.
Kening.
Pelipis.
Pipi.
Mata.
Hidung.
Dan Sehun berhenti di bibir Luhan.
Setetes air mata mengalir dari pelupuk mata Sehun. ia menarik tangannya dan beralih menggenggam tangan Luhan erat. Ia menenggelamkan tangannya disana. Sehun menangis disana. Karena Sehun menangis cukup keras. Luhan pun terbangun dari tidurnya.
Wajah Luhan tak lagi cerah. Wajah pucat telah menggantikan wajah cerahnya. Rambut yang rontok dalam jumlah yang banyak sudah menjadi suatu hal yang biasa. Dan tubuh Luhan yang semakin menciut.
"Sehun-ah. Kau kenapa?" Luhan bertanya serak.
Sehun mengangkat wajahnya. Ia semakin menangis saat melihat Luhan yang tengah tersenyum padanya.
Sehun benci dirinya. Dimana ialah yang seharusnya menguatkan Luhan. Namun ialah yang menangis saat ini. Tapi emosi tidak bisa dikontrol bukan? Sehun menangis sesuai dengan keadaan hatinya.
Melihat Sehun yang tidak berhenti menangis dan tidak menjawab pertanyaan yang ia ajukan. Luhan pun hanya mengusap punggung Sehun. sementara Sehun terus menangis disana.
"Keluarkan saja semuanya" Luhan berkata lirih. Sedangkan Sehun menangis semakin kencang.
#Author mewek nih scene ini!# #Abaikan!#
.
.
.
"Aku bosan disini Hun" Luhan berucap lirih di samping Sehun.
Mereka sedang berada di taman Rumah Sakit. Hanya sekedar berkeliling di sore hari.
"Kau mau kemana Hyung?" Sehun berjongkok dihadapan Luhan yang duduk di kursi roda.
"Bagaimana kalau pantai?" Luhan tersenyum dengan bibir pucatnya.
"Baiklah. Aku akan meminta izin dari Kris dulu." Sehun menggenggam tangan Luhan erat.
Luhan menundukkaan wajahnya dan tersenyum. "setidaknya kau akan mengingatku setelah kau menikah nanti." Luhan berkata dengan suara parau yang menyakitkan.
Sehun tak menjawab. Ia hanya terdiam dengan senyum pahit disana.
.
.
.
Setelah Sehun mengantar Luhan kembali ke ruangannya. Sehun pergi menemui Kris untuk meminta izin membawa Luhan pergi besok. Awalnya Kris sangat terkejut dan menentangnya dengan keras. Namun, dengan alasan bahwa umur Luhan tidak lama lagi. Kris pun mengizinkan Sehun membawa Luhan besok. Sebenarnya itu bukanlah alasan. Melainkan fakta yang harus Sehun hadapi saat ini.
.
Setelah Sehun memberi tau Luhan bahwa ia akan membawanya pergi, Sehun pun pulang. Ia segera mengepak beberapa hal yang ia kira perlu untuk ia bawa besok. Setelah ia mengepaknya. Ia pun beranjak untuk pergi mandi dan tidur.
.
.
.
Keesokan harinya. Sehun pergi menjemput Luhan agak pagi. Sehingga ia sampai di Pantai dengan matahari yang belum meninggi. Terlebih. Jarak pantai tersebut tidak terlalu jauh.
Luhan tak berhenti tersenyum sejak ia turun dari mobil dan dibawa oleh Sehun mengelilingi pantai menggunakan kursi rodanya. Ia mengatakan pada Sehun bahwa ia belum pernah sekalipun pergi ke pantai. Karena ia tak pernah mau jika diajak oleh Kris. Ia beranggapan bahwa dunia itu sama saja.
Namun sekarang Luhan menyadari betapa sayangnya ia tak pernah mengunjungi tempat seperti ini seblemnya. Sedangkan Sehun sangat senang melihat Luhan yang nampak puas terhadap tempat ini.
"Kau senang?"
Luhan mengangguk-anggukkan kepalanya saat Sehun bertanya padanya.
Sehun mengelus surai tipis milik Luhan. Dan helai-an rambut Luhan pun ikut rontok bersamaan dengan gerakan turun dari tangan Sehun. Sehun hanya bisa tersenyum pahit melihat itu. Ia berusaha menahan tangisnya saat ini. Karena ia berpikir Luhan sangat senang.
.
.
.
"Kau tidak akan melupakanku kan? Walaupun kau akan menikah?"
"tidak akan pernah Hyung."
"..."
"..."
"Aku ingin tau bagaimana perasaan saat kita akan menikah." Luhan tersenyum menghadap kearah pantai.
Sehun memutar Luhan untuk menghadap kearahnya yang berada disebelah kanan Luhan. Setelah itu, Sehun pun berjongkok dihadapan Luhan.
"Bagaimana kalau aku menikahimu Tuan Xi Luhan? Agar kau tau bagaimana perasaanya."
Luhan terdiam sesaat. Ia sudah hampir menangis saat ini. "apakah bisa?" Luhan bertanya parau.
"Tentu! Lautan dan pasir putih disini yang akan menjadi saksi untuk kita berdua Hyung"
Sehun merapikan kemeja miliknya. Dan ia berdeham agak keras.
"Eheem. Hem hem... Kau siap?"
Luhan hanya menahan tangisnya agar tidak pecah keluar.
.
.
"Tuan Xi Luhan. Bersediakah kau mencintai Oh Sehun dalam keadaan apapun? Kaya atau miskin, Sehat atupun sakit. Hingga maut memisahkan?"
.
Luhan sudah menangis. Dan ia pun mengangguk disela tangisannya.
.
" Dan kau Oh Sehun. Bersediakah kau mencinta Xi Luhan dalam keadaan apapun? Kaya atau Miskin, Sehat ataupun sakit. Hingga maut memisahkan?"
.
"SAYA BERSEDIA!" Sehun menjawab lantang.
Sehun menangkup wajah Luhan yang sudah basah oleh air mata. Sehun menatap manik mata Luhan lekat lekat. Sehun tersenyum.
"Sekarang kau sudah resmi menjadi milikku Tuan Xi Luhan" Sehun mengecup kening Luhan.
Sehun menurunkan wajahnya hingga bersejajar dengan Luhan.
"Saranghaeyo Lu.. Forever" Sehun berbisik pelan.
"Nado Sehun-ah" Luhan bersuara disela isakannya.
Perlahan Sehun mendekatkan bibirnya kepada bibir Luhan. Hingga bibirnya bertemu dengan bibir milik Luhan.
Sebuah kecupan manis dan lembut. Tanpa disertai nafsu didalamnya.
.
.
.
Eternal Love
.
"Istriku... apa kau senang sekarang?" Sehun menggoda Luhan yang sedang berada di kursi roda. Sehun sedang mendorong Luhan mengelilingi pantai.
Luhan tak menjawab. Ia hanya merona manis di kursi roda miliknya.
Beberapa menit berlalu. Luhan meminta Sehun mengambilkan air minum untuknya. Ia merasa sedikit haus. Karena air minum tersebut ada di mobil. Sehun pun meninggalkan Luhan di tepi pantai untuk sejenak.
Luhan hanya tersenyum memandangi matahari senja di ujung pantai. Matahari yang siap di telan oleh lautan.
"uhuk.. uhhuuk" Luhan mulai batuk. Luhan menutup mulutnya saat batuk.
Semakin lama dadanya terasa panas. Batuknya pun semakin keras.
Sehun yang baru saja datang dari kejauhan segera berlari menghampiri Luhan yang masih batuk.
Sehun semakin panik saat ia menarik tangan Luhan dari mulutnya. Tangan tersebut malah bersimbah darah. Sehun mengambil sapu tangan miliknya. Ia mengelap tangan Luhan dan bibir Luhan. Sehun menggigit bibir bawahnya menahan tangis.
Luhan berhenti batuk namun Luhan malah tidak sadarkan diri. Sehun langsung menggendong Luhan untuk dibawa kerumah sakit dengan menggunakan mobil miliknya.
.
.
.
Sehun berada di ruang tunggu. Ia menunggu Dokter keluar dari ruang UGD. Luhan sedang berada disana. Tak lama Kris dan Tao datang dari kejauhan.
"Dimana Luhan?" Kris bertanya dengan nafas yang masih tersengal-sengal.
"Di dalam." Sehun menunjuk ruang UGD. Namun tatapannya lurus dan kosong.
Tao duduk tepat disebelah Sehun. "Tenanglah. Tuhan pasti akan melakukan sesuatu."
Sehun berdecih. Tatapannya masih kosong. "Tuhan?"
"PERSETAN DENGAN SEMUA INI! LEBIH BAIK AKU MATI SAJA SEKARANG DARIPADA AKU MELIHAT LUHAN MENDERITA SEPERTI INI!" Sehun berteriak histeris. Ia sudah menangis sekarang.
"Sehun... sudahlah!" Kris mencoba menenangkan Sehun.
"BAGAIMANA AKU BISA TENANG? BAHKAN AKU TIDAK PERNAH MEMBAYANGKAN BAGAIMANA AKU BISA BERTAHAN SETELAH LUHAN PERGI! KALIAN... TIDAK AKAN MENGERTI KEADAANKU SEKARANG!" Sehun terduduk di lantai rumah sakit.
Kris dan Tao hanya terdiam mendengar ucapan Sehun barusan. Ya. . . . memang benar bahwa mereka tidak mengerti keadaan Sehun saat ini. Bagaimana menderitanya Sehun saat ini.
.
.
.
Cklek.
Suara pintu terbuka membuat Kris, Sehun dan Tao terlonjak dan berdiri dari posisi duduknya. Disana sudah berdiri seorang dokter dengan raut wajah yang tak bisa diartikan. Ia menghampiri Kris.
"Kau keluarganya?" Dokter itu bersuara.
Kris mengangguk dengan mantap. "Bagaimana keadaanya?" giliran Kris yang bertanya sekarang.
Doter tersebut menarik nafas panjang dan menghembuskannya kasar. Sehun dan Tao masih setia menunggu jawaban dari dokter tersebut.
"...Jika ia beruntung... 24 jam akan sangat berarti saat ini" Doter tersebut bersuara.
Kris membelalakkan matanya sedangkan Tao menutup mulutnya karena terkejut.
Sehun? Ia terkekeh. Namun ia terkekeh dengan kristal bening yang turun dari pelupuk matanya. Sehun terduduk disana. Ia masih menangis dan terkekeh seperti layaknya orang gila.
Tao menghampiri Sehun dan mengelus pundaknya yang bergetar hebat. Agar Sehun sedikit tenang.
Doter yang melihat apa yang terjadi pada Sehun hanya memijit pelipisnya pelan dan mengalihkan pandangannya pada Kris.
"Leukosit pada tubuh Luhan jumlahnya sudah sangat besar. Batuk darah tadi menunjukkan bahwa Jumlah leukosit yang ada dapat memecahkan pembuluh darah miliknya... Aku minta maaf karena tidak bisa berbuat lebih banyak lagi" Dokter tersebut menepuk pundak Kris sebelum mengangsur hilang dari lorong tersebut.
.
.
.
Kris, Tao dan Sehun memutuskan untuk menginap dirumah sakit malam itu. Luhan sempat sadar tadi. Dan setelah Kris menyuruhnya untuk tidur. Luhan pun mulai mencoba untuk tidur dan beristirahat.
02.47 KST
Sekarang Kris dan Tao sudah tertidur berdampingan di sofa yang ada di ruangan Luhan. Luhan masih tidur sejak tadi. Dan Sehun? ia tidak tidur. Ia masih menangis sekarang. Mungkin sudah sejak 2 jam yang lalu Sehun tak berhenti menangis. Memang tangisannya tidak disertai isakan. Hanya butiran bening yang terus jatuh dari manik matanya.
Sehun memandangi wajah Luhan dan tersenyum. Sehun memandanginya. Mencoba merekam semua ini agar ia bisa mengingatnya sepanjang hidupnya. Bahkan ia sudah melupakan perkara bahwa ia akan menikah besok. Ia tidak peduli jika esok matanya akan membengkak saat pernikahannya nanti.
Sehun menyentuh kulit wajah Luhan. Masih hangat. Tangan Sehun bergetar saat tangannya menelusuri wajah cantik milik Luhan. Tiba-tiba Luhan melenguh hingga kedua kelopak mata miliknya membuka perlahan.
"Sehun..? Kau... Kau tidak tidur? Kenapa... kau menangis?" Luhan berbicara dengan susah payah. Air mata Sehun semakin lancar mengalir dari sudut matanya.
Sehun hanya menggeleng. "Aku hanya ingin melihatmu lebih lama istriku" Sehun berbicara dengan nada yang bergetar. Dan mengecup kening Luhan setelahnya.
"Sehun... jika aku bertemu denganmu lagi... aku yakin aku akan mencintaimu untuk yang kedua kalinya." Luhan berbicara seraya menggenggam tangan Sehun.
"Tapi aku takut... entah mengapa saat ini aku sangat takut berpisah denganmu. Kau tidak akan meninggalkanku kan?" Luhan berbicara lagi.
"Kau Ingat Perkataanku? Tuhan akan menyatukan kita Lu... bahkan untuk sedetik pun ia tidak akan memisahkan kita mulai sekarang. Apalagi kau sudah menjadi istriku" Sehun berkata dengan diakhiri seulas senyum.
Tiba-tiba Luhan menggeser posisinya menjauh dari Sehun. lalu ia menepuk bagian yang agak lenggang disampingnya. Seakan mengerti, Sehun pun menaiki ranjang tersebuut dan berbaring tepat disebelah Luhan dan wajahnya yang menghadap dengan wajah Luhan.
Luhan memutuskan jarak mereka dengan cara memeluk tubuh Sehun erat, seakan ia tidak ingin ditinggalkan setelah ini.
"Tetaplah disini" Luhan bergumam.
"Agar kau tau aku berada disini..."
Sehun menarik tangan luhan dan menggenggamnya erat.
"Aku akan menggenggam tanganmu sampai esok menjelang" Sehun mengecup tangan Luhan yang ia genggam.
Luhan tersenyum senang dan kembali memeluknya.
.
.
.
Tuhan... terimakasih telah memberikan malam yang begitu indah untukku. Jika kau ingin bertemu denganku sekarang. Mungkin aku akan menemuimu dengan perasaan senang.
.
.
Tuhan... haruskah ia yang pergi menemuimu? Takbisakah kau menukarkan keadaanya denganku? Apa kau begitu tega padaku?
.
.
Eternal Love
.
sebuah ruangan yang penuh dengan isak tangis disana. Semua berpakaian serba hitam dan sopan. Satu persatu mereka bergantian memberikan penghormatan terakhir kepada kedua jasad yang ada diruangan itu.
Dua jasad? Ya... bisa dilihat dari foto yang terpampang disana. Dua orang namja yang memiliki wajah yang identik.
Kris hanya berdiri disana. Nampak sekali bahwa ia sedang menahan tangis disana. Ia sebagai wali dari Xi Luhan. Salah satu dari Jasad yang di sembahyangkan disana.
Dan disisi lain terdapan seorang wanita paruh baya yang masih menangis dengan sangat histeris beserta suaminya yang juga tak kalah menyedihkan dari istrinya. Tak jauh dari sana terdapat seorang yeoja muda yang terduduk dengan pandangan kosong memandangi foto yang menampilkan wajah calon suami yang seharusnya menikah dengannya hari ini juga. Foto Oh Sehun.
Melihat beberapa teman Sehun datang. Kris pun menghampiri mereka.
Baekhyun sudah menangis di dekapan Chanyeol tentunya dan Kyungsoo yang sudah menangis disana.
"ini yang terbaik untuk mereka" Baekhyun berkata disela isakannya.
"Cinta mereka begitu mengharukan" Kyungsoo menambahkan.
Kris hanya tersenyum simpul mendengar ucapan mereka.
"Mereka akan memulai hidup baru disurga" Tao bersuara serak.
"Yaa... Kurasa begitu.. bahkan Tuhan tidak tega memisahkan mereka" Kris menambahkan.
.
.
.
Xi Luhan dan Oh Sehun wafat dihari yang sama. Di pagi yang cerah dan indah. Tubuh dingin mereka yang masih saling menggenggam satu sama lain. Bukankah sebuah keajaiban? Luhan yang meninggal karena penyakitnya sedangkan Sehun tidak diketahui apa yang membuatnya meninggal secara mendadak seperti itu.
Setelah kejadian tersebut. Kedua orang tua Sehun benar-benar mendapatkan balasan dari Tuhan. merka mengalami frustasi yang cukup berat. Bahkan Eommanya benar-benar gila dan menganggap bahwa sehun masih ada.
Sedangkan Kris dan Tao tinggal bersama dan memulai hidup baru. Mereka terus mengingat keberadaan Sehun dan Luhan dikehidupan mereka.
.
.
.
Dan lagi... bukankah Tuhan itu sangatlah baik? Dan percayakah bahwa Tuhan akan membalas semuanya dan melakukan apa yang terbaik untuk kita? Jadi jangan pernah mengeluh dan teruslah berusaha melakukan hal yang terbaik. Karena Tuhan akan selalu melihat kita dimanapun kita berada. Dan Tuhan pasti sudah menyiapkan hal yang terindah untuk kita. Percayalah!
-END-
.
.
Gimanaaaa? Mengecewakan? Gagal? Aneh? Menyedihkan?
Dan akhirnya end jugaaaa~~~ makassiiiih banyak buat yang udah mau baca sampe akhir. Makasiiih deh pokoknyaaaa... hehe review please? Kasi opini kalian buat endingnya yaaaa~!
THANKS A LOT BUAT SEMUANYA!
