Disclaimer: Bleach is a registered trademark for Tite Kubo and Shonen Magazine. No copyright infringement intended. All rights reserved.
Bab 2
Rukia menggerakkan kakinya sepanjang koridor perlahan-lahan. Ada sesuatu yang sedang mengganggu pikirannya. Dia berkali-kali meyakinkan dirinya sendiri bahwa itu bukan sesuatu yang penting; bahwa apa yang dia lihat kemarin malam sama sekali tidak penting. Bukan apa-apa. Dia hanya melihat bayangan. Cuma bayangan. Dan benda hitam itu bisa berarti apa saja. Apa saja.
Tapi kalau bayangan itu membuatnya merinding…
Perempuan itu berhenti di depan lift. Melihat kotak besi ini membuatnya bingung. Kenapa dia sepertinya agak segan untuk masuk dan membiarkan elevator membawanya ke lantai empat? Berbagai pikiran seolah menghantuinya, di tengah keheningan yang mulai merayap bersama ketakutannya menunggu pintu lift terbuka. Haruskah dia naik? Kenapa dia tidak harus naik? Kenapa dia takut?
Pintu lift berdenting, dan membuka dengan perlahan. Tanpa sadar, Rukia menahan napas.
Kosong.
Tiada suatu apa di dalamnya. Memaksakan kakinya untuk melangkah mantap, Rukia memasukinya. Tas kecil di tangannya berayun ketika dia berjalan. Dia berbalik begitu ada di dalam, waspada dengan siapa pun yang akan datang. Tanpa sebab yang jelas. Di dalam lift ini terang, dinding yang berkilau memantulkan cahaya dan juga bayangan tubuhnya di keempat sisi, tapi Rukia menatap lurus ke depan selama beberapa saat.
Tak ada orang yang masuk. Rukia menutup pintu lift sebelum menekan tombol lantai empat. Dentingan halus mengiringi panel besi yang menggeser dan bertemu di tengah. Tidak ada apa-apa. Tidak ada orang yang tiba-tiba menahannya, tidak ada kelebatan bayangan aneh yang melintas, tidak ada rasa merinding yang menyerang seketika. Semua aman-aman saja. Dan Rukia sendirian di dalam elevator ini, jadi dia mestinya merasa aman. Ya. Semestinya dia merasa aman.
Namun ketika sekarang saja dia masih merasa tidak aman, apakah benar ada yang tidak beres? Dan kalaupun ada sesuatu yang memang tidak beres, apakah itu bukan dirinya sendiri?
Rukia mengetuk-ngetukkan sepatunya di lantai elevator, sembari benda itu bergerak ke lantai empat. Dia harus mengenyahkan pikiran ini sesegera mungkin. Tapi dia penasaran juga. Lantas dia harus apa? Bercerita pada Rangiku bahwa dia merasakan hal-hal aneh? Mana mungkin gadis itu mau percaya. Rukia sendiri sebenarnya tak percaya.
Pintu lift berdenting untuk kedua kalinya. Dia sudah sampai di lantau tujuan. Tak ada yang terjadi. Rukia menunggu pintu lift bergeser kembali.
Juushiro Ukitake sudah berdiri di depan elevator. Tapi matanya tidak seperti orang yang sedang menunggu lift, tetapi mengarah ke dinding di dekat tombol penunjuk. Dia tak sadar Rukia sudah berdiri di depannya, menatapnya heran.
"Ah, Ukitake-san," sapa Rukia. Dia tak bisa menahan diri. "Ada apa?" tanyanya. Matanya ikut-ikut melihat ke arah pandang kepala divisinya. Ternyata laki-laki itu sedang menatap garis cokelat lurus yang membujur dari langit-langit ke lantai, menyusuri sepanjang tembok.
"Tidak. Tapi seingatku garis ini belum ada saat aku pulang kemarin."
Rukia mengangkat bahunya. Nah, dia tak pernah memerhatikan noda di dinding seperti kepala bagiannya. Persoalannya saja sudah banyak. "Kupikir… aku juga tak melihatnya," kata dia setengah berbohong. "Mungkin di lantai atas ada kopi tumpah dan merembes, atau ada kabel yang terbakar," Rukia menyarankan.
Urahara berdehem. "Kopi tumpah, mungkin. Tapi kalau kabel terbakar, itu bahaya. Bisa-bisa kita semua dapat musibah." Dia menoleh pada bawahannya. "Kau tahu nomor telepon pengelola gedung? Mungkin dia bisa membantu kita dengan masalah ini."
Bawahannya mengangguk. "Ya, aku tahu. Nanti akan kuhubungi."
"Oh ya, dan satu lagi," Urahara menahan Rukia pergi. "Bisakah kau antarkan laporan keuangan bulan ini ke lantai tiga belas? Aizen meminta laporan untuk bulan September. Katanya kita belum mengumpulkannya. Laporannya ada di atas mejaku. Nanti pergilah dengan Matsumoto."
"Rangiku sudah datang?"
"Sudah," jawab atasannya. "Tepat sebelummu. Tapi mungkin dia sekarang mengecat kukunya lagi. Kau pergilah bersamanya."
Rukia tak menjawab, dia cuma mohon diri sebelum kembali ke ruangannya. Dia memerhatikan kubikelnya, dan tiba-tiba dia berhenti. Ya juga, dia membatin. Kubikelnya memang berada satu garis lurus dengan lorong lantai empat. Rupanya ini yang dikatakan Momo tentang tusuk sate dan tolak bala. Kemarin Rukia mencari beberapa info tentang ini via internet. Katanya, posisi seperti itu tidak baik, dan dia harus memasang benda yang bisa memantulkan cahaya sebagai penangkal.
Itu sebabnya Momo begitu peduli soal cermin yang digantung.
"Halo," Rangiku menyapa rekannya ketika Rukia melintas. Tapi wanita itu tidak menjawab, dia terus berjalan ke kubikelnya dengan muka tertekuk. Penasaran, wanita itu menopangkan dagunya di pembatas antara mereka. "Sepertinya ada yang berwajah muram hari ini."
Rukia tersentak. "Oh, kau mengatakan sesuatu?"
Bibir Rangiku dikerutkan. "Ya, aku menyapamu. Tapi kau sepertinya sangat sibuk dengan urusanmu sampai-sampai telingamu tertutup. Kenapa? Ada masalah? Tadi malam kau tidur nyenyak? Atau mungkin kau bermimpi aneh?"
Delikan Rukia membuat cengiran Rangiku sirna. "Yah, kalau aku ditelan warna indigo, mungkin aku akan bermimpi yang aneh-aneh. Tidak, tidak ada apa-apa." Dia mengembuskan napas. "Tidurmu sendiri bagaimana?" Mendadak dia merasa perlu bertanya. Lagi pula, dia butuh topik obrolan pagi.
Temannya tersenyum. "Oh, eksotis sekali," ujar Rangiku bangga. "Aku bercinta dengan seekor rubah. Rubahku. Dia begitu kasar, ganas, dan brutal, tapi benar-benar nikmat," sambungnya penuh penghayatan. "Celanaku langsung basah ketika aku bangun tadi."
Rukia menganga. "B-bercinta? M-maksudmu seks? Dengan s-seekor r-rubah?" Dia menatap sekelilingnya. Para pegawai sepertinya belum datang. Urahara pun menghilang entah ke mana. Mungkin itu sebabnya wanita ini mampu menceritakan mimpi erotisnya dengan penuh… semangat. Tapi melihat gaya bicaranya tadi, Rukia rasa bahkan kalau seisi kantor ada di sini pun, Rangiku akan menceritakan pengalaman vulgarnya dengan begitu… terbuka.
Rangiku memutar bola matanya. "Tentu saja seks, Rukia! Kau pikir aku bercinta bagaimana lagi dengan ru—o-oh, kau tak tahu siapa rubahku, ya?" tanyanya skeptis.
"Terangi aku," sahut Rukia.
Wanita beriris abu-abu itu tersenyum. "Rubah itu pacarku," jawabnya. "Namanya Gin—Gin Ichimaru. Pegawai administrasi di lantai dua. Kau belum pernah lihat orangnya, ya? Sepertinya kau bingung ketika aku menyebut namanya."
Rukia cuma menggeleng. "Aku sering tugas luar. Mana kutahu siapa nama pegawai di sini. Tapi kalau kau memberitahuku ciri-cirinya, mungkin aku bisa ingat siapa dia."
"Kepalanya tak terlalu besar," Rangiku mulai memperagakan. "Rambutnya juga sedikit lepek, seperti surai kuda yang halus, warnanya perak. Tapi yang paling mencolok itu matanya." Rangiku menarik sudut matanya yang bercelak. "Sipit sekali. Bahkan kau tak bisa melihat irisnya. Karena sipitnya itulah, seperti rubah. Makanya kujuluki rubah. Tapi jangan tertipu. Kalau dia sedang marah atau ng… klimaks, matanya jadi sedikit terbuka. Menyeramkan, tapi justru itu yang paling kusukai. Bagaimana? Kau pernah lihat orangnya tidak?" tanyanya bersemangat.
Rukia berpikir sebentar. Dari deskripsinya, pacar Rangiku itu punya tampang yang… unik. Tapi sejauh dia bekerja di stasiun televisi ini, belum pernah dilihatnya orang seperti itu. "Belum," kata Rukia. "Tapi apa kalian tidak apa-apa pacaran dalam kantor yang sama? Office affair kan dilarang?"
"Tidak, kalau pacarmu adalah cucu pemilik perusahaan tempatmu bekerja," koreksi Rangiku.
Ah, ya. Tentu saja. Ternyata marga Ichimaru itu bukan kebetulan bermarga sama dengan direktur perusahaan. Mereka keluarga. "Oh," Rukia membulatkan mulutnya. "Kalau begitu masa depanmu sudah pasti terjamin."
"Aku tak mau meninggal tanpa harta," timpal Rangiku, setengah bernyanyi.
Rukia menghela napas. Beruntung sekali wanita ini. Apa karena dia memiliki payudara dengan ukuran di atas normal? Sepertinya demikian. Rukia mengalihkan perhatiannya pada meja kerja sang kepala divisi dan teringat perintah Urahara tadi. "Kau sibuk?" Dia menoleh pada Rangiku.
"Semua pekerjaan sudah selesai," sahutnya. "Ada apa?"
Rukia mengangkat map cokelat yang baru saja diambilnya. "Antar aku ke lantai tiga belas. Urahara-san menyuruhku memberi ini pada Aizen. Aku disuruhnya pergi bersamamu."
Ekspresi Rangiku berubah. Dia mengerang. "Urahara itu pasti mau membunuhku," keluhnya. "Dia sebenarnya ingin menyuruhku bertemu dengan pria nyinyir itu lagi. Sepertinya dia belum puas menertawaiku karena disindir-sindir perkutut berjambul lantai tiga belas." Dia diam sejenak. "Kau tidak bisa mengantarnya sendiri, Rukia? Ku-mo-hon?"
"Aku tak tahu pria nyinyir bermarga Aizen mana yang kau maksud," sahutnya. Dia mengacungkan map itu pada sahabatnya. "Antarkan aku, atau kita berdua diomeli Urahara. Setidaknya kalau kau disindir, aku juga pasti kena getahnya."
"Baiklah, baiklah," Rangiku menyerah. Dia keluar dari persembunyiannya, mengambil map yang dipegang Rukia. "Ayo."
Mereka berjalan ke arah elevator. Urahara tak terlihat lagi, entah di mana mereka berada sekarang. Beberapa pegawai keluar dari dalam sana, menjadikan lift benar-benar kosong. Tanpa berpikir, mereka berdua memasukinya. Rukia tak memerhatikan garis cokelat yang tadi dipermasalahkan kepala bagiannya. Apalagi Rangiku. Dia menutup pintu lift, dan mereka berdua pun melaju.
Begitu pintu lift tertutup, Rukia merasakan ada yang tak beres. Mendadak udara panas seperti menipiskan atmosfer di ruangan itu, menjadikan Rukia sedikit susah bernapas. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya gelisah. Dia pasti berhalusinasi. Rangiku saja tidak merasakan apa-apa. Semua ini pasti gara-gara dia terlalu asyik dengan pikirannya sendiri.
Bunyi dentingan halus mengiringi pintu lift yang membuka di lantai enam. Seorang laki-laki berambut perak dan bermata garis memasuki ruangan, menuju ke bagian belakang lift.
Tunggu dulu. Laki-laki, berambut perak, dan bermata garis? Tidakkah dia bukan…
Lenguhan, erangan, dan bunyi berdecap yang terdengar beberapa detik kemudian agaknya menjawab pertanyaan Rukia. Benar saja. Dia meringis. Rupanya laki-laki ini yang namanya Gin Ichimaru. Rukia mulai bisa menerka, mungkin, apa yang mereka lakukan di belakangnya, tapi tidakkah mereka sadar bahwa ada orang ketiga di sini? Ingin rasanya dia melabrak pasangan mesum ini, tapi lehernya seolah-olah kaku. Dugaan mengenai apa yang… dilakukan dua orang ini berseliweran di kepalanya, mondar-mandir dan membuat seluruh badannya terasa panas. Dia tak mau melihat pantulannya di kaca; Rukia cuma melirik ujung sepatunya dengan muka memerah.
Tapi ketika lift meninggalkan lantai sebelas dan gerakan erotis di belakangnya masih terus berlanjut, Rukia merasa ini saatnya dia berbalik. "Tidak bisakah kalian menyimpan ciuman panas kalian di… Ya Tuhan." Rukia langsung memalingkan mukanya yang merah padam.
Pasangan itu terkekeh. "Maaf," Gin menyeletuk sambil mengaitkan celana panjangnya, sementara di sebelahnya Rangiku mengancingkan blusnya, rambutnya sedikit berantakan dan basah terkena peluh. "Sudah beberapa lama ini aku tidak menemuinya, Rukia." Dia tampaknya sudah tahu siapa Rukia.
"Setengah jam, Sayang," tambah Rangiku.
Gin mengangguk. "Dan tentunya rasa kangen itu normal bagi pasangan seperti kami."
Rukia menoleh dan melongo. Dua orang itu tersenyum seperti tanpa dosa. Ya. Kangen. Tentu saja. Tiga puluh menit tak berjumpa dan langsung mencupang seperti orang tak makan dua bulan. Astaga, kiamat sudah dekat. Bingung mau berkata apa, dia hanya memasang senyum salah tingkah terbaik yang dimiliki. Begitu dentingan lift berbunyi tanda mereka sudah tiba di lantai tiga belas, Rukia langsung berusaha menarik lengan Rangiku.
Tapi wanita itu memilih mengecup bibir Gin terlebih dulu. Kecupan panas. "Kita teruskan di apartemenmu, Sayang."
Gin hanya melambai seraya menutup pintu elevator. Dari sini, Rukia bisa melihat bibir pria itu memerah. Sebagaimana halnya beberapa titik di lehernya tadi. Lagi-lagi dia cuma bisa membuka mulutnya, menatap pintu besi elevator.
Baru beberapa detik kemudian dia bisa bicara. "Aku tak percaya denganmu," katanya benci.
"Hei, kenapa tidak?" sahut Rangiku riang. "Quickies itu penting bagi kelangsungan hubungan asmara. Riset membuktikan. Pasangan yang rajin melakukan seks tempo cepat jauh lebih mesra ketimbang pasangan yang hanya melakukan hubungan seks normal di atas tempat tidur pada malam hari," jelasnya yakin dan lancar.
"Tapi tidak di elevator kantor."
"Bersama pewaris kantor tempatmu bekerja, di mana pun tidak jadi masalah. Tapi… tunggu dulu. Apa kau tidak sadar tadi tidak ada orang yang naik lift sepanjang lantai empat hingga tiga belas?"
Rukia diam saja.
"Memangnya kau tak pernah melakukannya?" pancing Rangiku lagi.
Sahabatnya berbalik dan melangkah lebar-lebar. "Aku belum punya pacar."
"Serius?"
Rukia tak menjawab seruan sahabatnya. Dia menuju sebuah pintu yang menuju ke ruang kerja lantai tiga belas. Seorang pemuda berdiri di depannya, rambutnya merah tertata tinggi, bercelemek, membawa nampan berisi makanan di atasnya. Dia melongok sebentar ke dalam ruangan sebelum menarik kepalanya lagi, setengah berpikir untuk masuk ruangan itu.
"Lho, Bon? Ada apa? Kok di sini?"
Pria yang dipanggil Babon menoleh. "Namaku Renji, bukan Babon," koreksinya datar. Dia mengangkat bawaannya. "Membawakan makanan perkutut berjambul lantai tiga belas. Tapi kata pegawainya tadi, suasana hatinya sedang buruk. Pegawainya mangkir kerja selama dua minggu dan dia marah-marah." Dia menatap Rangiku. "Dan semuanya katanya gara-gara bagian Kreatif belum menyampaikan laporan keuangan bulan September."
"Ini kami bawakan," timpal Rukia. Dia diam, berpikir sejenak. Untuk ukuran pengelola kafetaria, Rukia harus akui jaringan informasi Renji yahud juga. Tapi mangkir kerja selama dua minggu? Nah, itu berita baru.
Tiba-tiba Rangiku nyeletuk. "Oh, maksudmu si Inoue, ya?"
Rukia menoleh. "Kau tahu?"
"Siapa yang tidak tahu?" sahut Rangiku. "Orihime Inoue. Terakhir terlihat awal Oktober. Setelah hari ketika dia diberi tugas segudang oleh Aizen, dia tak pernah terlihat lagi. Padahal ketika komputernya diperiksa keesokan harinya, semua pekerjaan itu sudah selesai. Entah kapan dan di mana dia menyelesaikannya. Tapi sampai sekarang… dia tak pernah muncul lagi di kantor ini." Rangiku mengakhiri kata-katanya dengan nada dramatis.
"Mungkin dia ingin berlibur?" tawar Rukia.
"Berlibur tanpa pakaian? Aku sangsi," kali ini Renji membalas. "Dua hari setelah kehilangannya, orang tuanya melapor ke polisi. Dan mereka menggeledah apartemennya. Tapi tak ada yang hilang. Maksudnya, tak ada pakaian yang terambil. Semua masih ada di tempatnya—tas bepergian, dan lain-lain. Bahkan kendaraannya juga ada di apartemen itu."
"Dan dia tidak diculik atau apa, jika kau bertanya," tambah Rangiku. "Semua orang sudah ditanyai, dan kata mereka, tak ada yang aneh dengan Inoue. Dia tidak sedang dekat dengan siapa-siapa, dia tidak pernah pergi ke daerah yang aneh-aneh, dan orang tuanya juga bukan orang kaya. Singkatnya, bukan target yang bagus untuk diculik."
Rukia berpikir lagi. Sepertinya dia pernah mendengar sekelumit kasus ini di acara kriminal malam yang suka ia tonton. "Tunggu dulu. Apa kasus ini sudah masuk televisi? Perasaan aku pernah menontonya beberapa hari lalu. Tapi kok aku baru tahu ya kalau korbannya adalah pegawai kantor kita?"
Si pria berambut merah menoleh dan memutar bola matanya. "Itulah," katanya. "Yang aku herankan adalah kenapa kau baru tahu kalau kasus penculikan yang sedang terkenal itu melibatkan orang yang sekantor denganmu. Memangnya kau ke mana saja, Rukia?"
"Dan yang aku herankan adalah mengapa kalian bertiga meributkan sampah di depan ruanganku tanpa sadar kalau kalian juga termasuk salah satu di antaranya. Mengapa kalian tidak sekalian saja mengais sampah di tempatnya?"
Suara dingin tapi nyelekit itu membuat semua orang tersentak. Ketiganya menoleh, hanya untuk menyadari bahwa seorang pria tiga puluhan, bermata cokelat dan memiliki jambul kecil di dahinya, menatap dingin para penggosip dari balik kacamatanya.
Ini pasti Aizen, batin Rukia.
###
Rangiku menjulur-julurkan kepalanya untuk meregangkan otot, sementara di sebelahnya, Rukia cuma bisa menatap lantai gemetar. Kata-kata Aizen yang dijadikan bahan ceramah tentang pekerjaan, disertai berbagai sindiran-sindiran baik halus maupun kasar betul-betul membuat jantungnya terasa tertusuk. Setengah tak bersemangat, jarinya menekan tombol lift. Kepalanya sedikit pening. Dia menoleh, dan mendapati Rangiku ikut-ikutan menunduk; mulutnya berkomat-kamit.
"Sedang apa kau?" tanya Rukia heran.
"Berdoa," jawab Rangiku. "Semoga jiwa Aizen bisa ditenangkan dalam penjara terdalam. Heran ada manusia seperti itu." Dia berjengit. "Semoga anak-anakku nanti tidak ada yang bersifat sama sepertinya. Dan semoga dia mandul, agar sifat sindir-menyindir-menjadi-satunya tidak menurun pada manusia-manusia malang yang haus akan dahaga rohani."
"Amin," timpal Rukia datar.
Lagi-lagi bunyi dentingan menyinggahi pendengaran mereka. Tak ada yang aneh… bagi Rangiku.
Tapi mendadak, Rukia merasa merinding. Dia diam saja ketika pintu besi lift membuka. "Kenapa kau diam?" tanya sahabatnya heran. Si gadis bermata biru tersentak sebelum akhirnya berhasil menguasai diri. "Y-ya," katanya seraya masuk ke dalam kotak besi yang akan membawa mereka kembali ke lantai empat. Akhirnya, dengan suara geseran pelan, pintu besi itu tertutup.
Hening. Tak ada suara. Benar-benar sepi. Dan ini membuat Rukia tidak nyaman. Sungguh-sungguh tidak nyaman. Atmosfer di sekitarnya berubah dingin dan menipis dalam detik yang sama. Rukia berusaha menoleh, tapi entah mengapa seperti ada sesuatu yang menahannya. Menahan, sekaligus menekan dengan intens. Kepalanya mulai benar-benar pusing sekarang. Telinganya berdenging tidak wajar. Ada apa ini, batinnya gemetar.
Dan ketika angin dingin berembus di tengkuknya, Rukia memaksakan dirinya untuk menoleh.
Sepasang tangan berlumuran darah langsung mencekiknya, membuatnya kehabisan napas. Dunia gelap pun langsung menyongsongnya, membuatnya tak ingat apa-apa lagi setelahnya, meskipun sesaat sebelum dia kehilangan kesadaran, dia tahu ada yang tak wajar.
Karena tangan itu menyembul dari dinding elevator, tak bertubuh.
###
"Rukia? Rukia!"
Yang dipanggil mengerutkan dahinya sembari membuka mata dengan kekuatan penuh. Tapi untuk orang-orang di sekitarnya sekarang, Rukia bersusah payah memaksa kelopak matanya untuk membuka. Sekarang gadis berambut hitam itu berusaha duduk, matanya masih mengerjap-ngerjap. Kepalanya agak berat, kendati tidak sepening tadi. Dia melihat sekitarnya, mendapati Rangiku memandangnya penuh rasa cemas. Resepsionis di meja lobi sekilas menatapnya khawatir, tapi wanita itu agaknya menilai kalau Rukia sudah baik-baik saja. Pasti dia menimbulkan kerumunan kecil tadi.
Dia menahan tangan Rangiku yang terangkat ingin menyentuh mukanya. "Aku baik-baik saja," katanya sambil menegakkan punggung. "Apa yang terjadi?"
Sahabatnya menelan ludah. "K-kau sesak napas di dalam lift—dan pingsan."
Ada sesuatu yang disembunyikan Rangiku. "S-sesak napas?" Dia tak punya penyakit asma. "Itu saja?"
"Y-yah, kau bertingkah aneh," aku wanita yang duduk di sebelahnya sambil memberikan sebotol air mineral. "Kau memegang lehermu dengan kedua tangan. Seperti ada yang mencekikmu—tapi aku tak tahu apa, karena aku tak bisa melihatnya. Kau benar-benar membuatku ketakutan di dalam sana," sambungnya seraya mengangkat tangan.
Tapi ekspresi wajahnya sama sekali belum berubah, pikir Rukia sambil meneguk airnya. "Benar hanya itu?"
Rangiku diam sebentar sebelum akhirnya menyerah. "Baiklah, baiklah, kau model orang yang sepertinya akan selalu tahu kalau ada sesuatu kusembunyikan," sahutnya. Dia menutup mukanya, kemudian berkata cukup tidak jelas, "Lihat di mana kita berada sekarang."
Rukia melirik sekitarnya. Lho, ini bukan tujuan mereka. Meskipun masih berada dalam gedung yang sama. "Kenapa kita bisa ada di sini?" Mendadak dia ingat kejadian semalam, ketika dia melihar secercah bayangan hitam melintas di depan elevator yang menutup.
Kejadiannya juga di lobi lantai dua ini.
"Mana kutahu?" sahut Rangiku gusar. "Aku sudah mencoba menekan tombol ke lantai empat—tapi lift itu tidak berhenti di sana—alih-alih berhenti, malah terus, dan baru berhenti di sini. Dan tombolnya menyala, Rukia! Padahal aku tak pernah menekannya!" Nyata terdengar kepanikan dalam setiap patah kata yang terucap darinya.
Tiba-tiba sahabatnya berdiri. "Kita harus mencari tahu ada apa ini. Sepertinya aku tahu siapa orang yang pantas untuk kita salahkan." Dia berjalan cepat ke sudut koridor. Beberapa orang lalu-lalang di dekat mereka, namun Rukia tak hirau. Dia kesal dengan ini. Seumur hidupnya bekerja di sini, belum pernah dia diganggu makhluk tak jelas. Dan setelah hari itu—setelah peringatan itu, lebih tepatnya, hari-harinya dihiasi ketakutan. Perlahan namun pasti. Dan Rukia tahu, ini pekerjaan siapa.
Dia tiba di antara lift dan tangga darurat, berhenti untuk menimbang-nimbang.
"Tunggu, Rukia, kita mau ke mana?" Rangiku di belakangnya berseru heran.
Rukia membuka pintu menuju tangga darurat, dan menuruninya, melangkah menuju basemen tempat perpustakaan berada. Kelotakan sepatu di belakangnya menandakan bahwa dia tidak sendiri; Rangiku turut menemani. Begitu Rukia mengambil jalan di basemen menuju perpustakaan, rentetan pertanyaan dari bibir Rangiku langsung sirna—dia tahu apa yang dilakukan sahabatnya ini.
Meskipun demikian tetap saja ini sangat tidak rasional. Dia menahan tangan Rukia tepat saat dia akan membuka pintu. "Tunggu dulu," katanya tak sabar. "Apa kau pikir Momo yang menyebabkan semua ini?"
Rukia menatap sahabatnya kesal. "Kalau ya?"
"Sungguh—aku tak mengerti jalan pikiranmu! Kau pikir dirimu mulai bisa melihat hal-hal yang aneh-aneh, begitu? Sadar, Rukia, hal-hal seperti itu tidak ada! Apa yang kualami—maksudku, aku akui kalau aku memang merinding, kalau aku memang merasakan ada sesuatu yang tak beres—tapi semua pasti bisa dijelaskan!"
"Termasuk fakta bahwa aku merasa dicekik tangan yang menyembul dari dinding lift?"
"Kau bisa saja salah lihat!"
Rukia terdiam, kemudian memutar gagang pintu. "Kuharap aku salah lihat, Rangiku. Tapi kalau kau juga merasakan sesuatu yang aneh, meski kau membantahnya, aku tak menganggap apa yang kulihat tadi hanya sekadar ilusi. Dan kupikir aku tahu siapa dalang semua ini," tutupnya marah. Dia melangkah, memasuki ruangan. Rangiku mengekor, sambil menggigit bibirnya. Dia tak bisa membantah kata-kata Rukia barusan, karena memang… dia juga merasakannya.
Mereka menghampiri meja peminjaman kaset, yang ditempati gadis bercepol. "Kami ingin bicara denganmu," kata Rukia dingin, tanpa tedeng aling-aling.
###
"Menurutmu apa yang kau lakukan pada kami?" Rukia mencampakkan punggung Momo di tembok keramik kamar mandi wanita, mengabaikan tatapannya yang heran. "Aku tahu kalau kau sudah tahu bahwa kami tak percaya semua yang kau katakan, tapi tidak harus seperti ini cara untuk membuat kami percaya kalau kau punya kemampuan supranatural! Tak bisakah kau membiarkan kami hidup dengan tenang?" ujarnya ketus.
Momo membelalakkan matanya, menatap dua wanita di depannya bingung. "A-aku… sama sekali tak mengerti apa yang kalian bicarakan."
Rangiku menggigit bibirnya, tapi Rukia malah menggeram. "Ini soal elevator itu! Apa yang kau lakukan pada kami? Kumohon, jangan membuatku marah, Hinamori-san. Ini bukan saatnya kau mengerjai kami agar kami percaya pada semua omong kosongmu!" serunya.
Dia mengira Momo akan tertawa sinis atau apa—tapi gadis itu malah membelalakkan matanya lebar-lebar. Mukanya memucat. "K-kalian menaiki lift itu? Apa yang kalian lihat? Apa yang kalian lihat?" desaknya, membuat Rukia mengerutkan kening. Apa ini juga bagian dari taktik wanita ini? Kalau benar, oh betapa pintarnya dia!
"R-Rukia merasa lehernya dicekik," ujar Rangiku takut-takut, "oleh sepasang tangan berdarah yang keluar dari dinding. Dan lift itu tiba-tiba saja tidak berhenti di lantai empat—tapi malah turun, terus ke lobi lantai dua." Ia menelan ludah setelah mengucapkannya. Mukanya ketakutan, seolah-olah dia betul-betul merasakan sendiri dicekik sepasang tangan tak terlihat.
"Itu bukan ulahmu?" tanya Rukia tajam. Dia masih setengah tidak percaya.
Momo menggeleng. "Aku tak bisa melakukan hal-hal seperti itu. Aku hanya bisa merasakan. Tapi kenapa kalian masih naik lift itu?" tanyanya setengah menyesal. "Sudah kukatakan, jangan naik lift itu. Kenapa kalian masih menaikinya juga?"
"Wo-ho," Rukia bersedekap, kemudian mengangkat sebelah tangannya tak percaya. Kemarahan mulai terbit lagi. "Memangnya ada apa di dalam sana? Hantu? Dedemit? Kenapa kau tak mau mengaku saja kalau semua ini cuma akal-akalanmu agar kami percaya bualanmu soal makhluk halus?" ujarnya ketus.
"Karena itu memang bukan bualan, Kuchiki-san!" seru Momo. "Di sana memang ada makhluk—banyak, malah. Tempat itu beraura negatif. Di sana banyak… potongan-potongan tubuh. Dan mereka mencari orang-orang seperti kita—orang-orang yang bisa merasakan keberadaannya! Itu sebabnya kita harus berhati-hati, karena wanita muda adalah sasaran empuk makhluk yang ada di dalam elevator itu!"
Rukia mendengus. "Kau pikir kami percaya? Begini ya, Hinamori-san. Kami—aku dan Matsumoto—tak pernah mengalami kejadian apa pun dengan lift yang kau agung-agungkan itu—apa pun—selama kami bekerja di sini. Tapi semenjak kau memberitahu kami bahwa ada sesuatu yang aneh dengan elevator sialan itu—kami mengalaminya! Kalau kau berpikir secara rasional tanpa embel-embel aura dan makhluk gaib, kau juga pasti akan berpikir bahwa pelakunya adalah orang yang memberitahumu!" Rukia mengembuskan napasnya yang terengah-engah, dadanya naik turun. Dia harap, ancaman ini berpengaruh pada wanita sialan ini. "Ayo kita pergi!" ujarnya kasar pada Rangiku, sebelum menariknya menjauh.
"Kalau kalian memang tidak percaya, kenapa tidak kita buktikan saja sama-sama?"
Kata-kata yang tajam terucap membuat mereka berdua menghentikan langkah. Rukia menoleh. Momo balas menantang mereka dengan matanya yang setengah memerah, napasnya juga tersengal.
"Apa maksudmu?" tanya Rangiku dengan dahi berkerut.
"Kalian menuduhku jadi penyebab semua ini. Ya, aku memang sudah tahu kalau kau tidak percaya pada kata-kataku sejak pertama kali kita bertemu, Kuchiki-san. Tapi aku paling tak suka dituduh yang tidak-tidak. Kalian menantangku, jadi baiklah. Kenapa kita tidak buktikan saja, apakah makhluk gaib itu benar-benar ada apa tidak? Agar kalian bisa lihat sendiri bahwa aku tidak berbohong!"
Dia mengatakan hal itu keras-keras sebelum bergerak, menubrukkan bahunya secara tak sengaja ke pundak Rukia. Wanita beriris ungu itu tak mampu berkata apa-apa, dia cuma menatap punggung Momo yang menjauh dengan muka mengeras.
Mereka semua tak sadar, di belakang mereka, sepasang mata cokelat menatap semua yang mereka perbuat tadi.
Dan mata itu mendelik marah.
###
"Kau yakin akan melakukan ini?" Rukia bertanya pada bayangan dirinya yang ada di depan cermin.
Baiklah. Otaknya bekerja lagi. Seumur-umur, belum pernah dia melakukan hal-hal mistis seperti pemanggilan setan atau apa. Tapi dia bisa menduga kalau nanti Hinamori akan melakukan satu ritual yang pasti berkaitan dengan komunikasi makhluk gaib. Ingin rasanya dia menolak ajakan Momo untuk membuktikan perkataannya, tapi menolak sama saja dengan membuktikan dua hal: dia percaya akan setan yang diisukan Momo dan dia pengecut. Dan Rukia sama sekali tak ingin kehilangan muka, kasarnya, jadi dia pikir dia harus menghadapi semua ini.
Akibatnya, di sinilah dia berada sekarang: dalam mobil yang dipacunya menuju kantor dengan kecepatan tinggi. Beberapa menit berlalu sebelum dia memarkir kendaraannya di depan sebuah restoran. Tak menimbulkan kecurigaan dengan pakaian yang menarik perhatian, Rukia melangkah tenang, menembus kerumunan pejalan kaki menuju sebuah gedung berlantai belasan di dekat sebuah perempatan yang tak ramai. Dia mendapati Rangiku berdiri di depannya, menunggu.
"Dia sudah datang?" tanya Rukia. Wanita berjaket hitam itu mengangguk. Dalam hati Rukia mendecih. Jadi sekarang dia yang tidak percaya kalau Rukia akan datang, akibatnya dia menyuruh Rangiku menunggu di sini. Dia pikir Rukia wanita penakut?
Dia menarik tangan Rangiku masuk ke dalam gedung via lorong sempit di samping kantor. "Di mana dia?"
"Aku di sini," sebuah suara menyahuti.
Rukia menoleh. Dari balik pintu, kepala Momo menyembul. Cahaya kuning pucat dari pantri berpendar di belakangnya. Tatapannya biasa saja, meski Rukia tahu dirinya sedang balas memandang gadis itu sinis. Dia melangkahkan kakinya mendekat. "Jadi?" tanyanya setelah mereka berdua sama-sama bisa melihat dengan jelas. "Apa yang akan kita lakukan?"
"Membuktikan kalau aku tidak berbohong."
"Caranya?" celetuk Rangiku tiba-tiba.
Momo mengangkat tas kain yang ada di tangannya. "Ada di sini," jawabnya ringan. "Tapi sebelumnya kita harus mencari tempat yang pas dulu."
"Di mana? Di dalam lift?"
Momo terkekeh mendengar perkataan Rangiku. Dia menoleh. "Tidak perlu. Kita akan melakukannya di lantai empat. Kalau kita memanggil makhluk astral, kita tidak mesti berada di sumbernya. Asal kita berada dalam daerah kekuasaan makhluk itu, sudah cukup."
Bola mata Rukia berputar. "Dan daerah kekuasaannya adalah gedung kantor ini," ujarnya skeptis.
Momo tidak menjawab, tapi dia memimpin jalan menuju tangga. Sebenarnya Rangiku agak enggan naik tangga menuju lantai empat dengan sepatu berhak yang ia kenakan, tapi berhubung ia ingin tahu, jadi diikutinya saja dua gadis yang ada di depannya. Mereka melangkah tanpa obrolan santai—tiga orang ini sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Apa sebenarnya rencana gadis ini, tanya Rukia dalam hati. Kalau dia akan melakukan sesuatu yang tidak-tidak, Rukia harus siap.
Mereka tiba di koridor lantai empat yang gelap. Hanya lampu pengaman dan penunjuk pintu keluar berwarna hijau berpendar di tengah pekatnya kegelapan. Tak ada siapa pun di sini. Semua orang sudah pulang, termasuk penjaga keamanan, karena ini hari Jumat. Para pegawai pasti ingin berlibur, tanpa harus lembur sendiri; pekerjaan yang menyiksa di tengah sepinya kantor seperti saat ini. Mereka bahkan dapat mendengar suara napas masing-masing, saking sepinya.
"Jadi apa sebenarnya yang akan kita lakukan?" tanya Rukia tak sabar.
Di depannya, Momo merogoh sesuatu dari dalam tas kainnya. Tangannya gemetar, tapi Rukia dan Rangiku tak bisa melihatnya lantaran gelap. Mereka hanya memusatkan pikiran pada apa yang ada dalam tas itu.
Tapi selembar kertas yang Momo keluarkan malah membuat Rukia memutar bola matanya tak percaya.
"Kokkuri-san? Kau menganggap kami ini anak SMP atau apa?"
Gadis bercepol itu tidak menggubris. "Kokkuri-san bukan sekadar permainan anak SMP, Rukia. Tapi ini memang betul-betul media pemanggilan arwah… yang setidaknya jauh lebih aman daripada kerasukan setan," katanya dengan nada tajam.
Kening Rangiku mengernyit. "Sebaiknya kita coba saja dulu," sahutnya. "Aku yakin Momo tidak berniat untuk berbohong. Kecuali kalau ternyata semua setan yang kita lihat memang sugesti yang ditanamkan olehnya."
Momo tak menjawab, tapi matanya mendelik menatap Rangiku. Mungkin dia merasa kesal, bahwa ternyata temannya yang dia kira percaya dan tertarik akan hal-hal berbau mistis hanyalah kamuflase belaka. Dia merasa dipermainkan. Momo harap setelah kejadian malam ini, baik Rukia maupun Rangiku tidak memandang kejadian-kejadian di sekitarnya ini sebelah mata. Dia tidak berbohong—mengapa dua wanita ini sangat susah untuk percaya?
Di sebelahnya, Rukia juga berpikir seraya menyaksikan Momo mengeluarkan perlengkapannya—sebuah lilin dan sloki kaca bening. Kalau benar Momo menanamkan sugesti agar mereka melihat hal-hal yang aneh, untuk apa dia melakukannya? Dia tidak tahu bahwa Rukia dan Rangiku tak percaya akan seluruh kata-katanya—setidaknya sampai tadi ketika mereka melabraknya. Lantas, kalau ternyata bukan itu sebabnya, apakah tingkah Momo ini berkaitan dengan hal lain—misalnya pria, sebagai contoh? Kalau dengan Rangiku, itu mungkin. Siapa tahu Momo sebenarnya menyukai Gin dan ia berusaha mendapatkan pria itu dengan berbagai cara. Baik yang nyata maupun yang tidak.
Tapi kenapa dirinya diikutkan?
Dan lagi, kalaupun apa yang ia lihat kemarin hanya ilusi… sepertinya tidak. Tangan itu seolah benar-benar ada dan mencekiknya. Bau amis darah dari tangan itu pun masih bisa diingat Rukia, sampai saat ini.
Apa itu yang namanya ilusi?
Rukia menggosok tengkuknya ketika Momo menyalakan lilin—sesaat dia merasa tidak nyaman. Dia meletakkan lilin itu di tengah-tengah mereka yang sudah duduk bersila—entah kapan posisi mereka sudah seperti ini. "Kalian sudah siap?" tanya si gadis bercepol. Baik Rukia dan Rangiku mengangguk.
"Letakkan jari kalian di atas sloki ini," perintahnya. Teman-temannya menurut, meskipun kening mereka tetap berkerut.
Momo memejamkan mata. "Dia ada di sini," katanya.
Rukia sudah akan menoleh untuk melihat—atau merasakan—sesuatu, namun hal itu batal karena Momo bersuara lirih dengan nada benar-benar halus, "Kokkuri-san, Kokkuri-san, keluarlah. Apa kau mendengar kami? Kokkuri-san, Kokkuri-san, keluarlah. Apa kau mendengar kami? Kalau kau mendengar kami, jawablah 'Ya', kalau kau mendengar kami, jawablah 'Ya'."
Rangiku menelan ludahnya. Peluhnya berkilau tertimpa cahaya lilin yang bergoyang-goyang.
"Kokkuri-san, Kokkuri-san, keluarlah. Apa kau mendengar kami? Kokkuri-san, Kokkuri-san, keluarlah, kalau kau mendengar kami, jawablah 'Ya'…" tiba-tiba ucapannya terhenti, dan mata mereka semua membelalak.
Sloki itu bergerak sendiri, menuju kata 'Ya'.
"Siapa yang menggerakkannya?" Rukia protes, menatap dua wanita lainnya tajam. Rangiku menggeleng ketakutan, tapi dia tidak mengangkat jarinya. Momo tetap berusaha tenang, meskipun dia sekilas mendelik ke arah gadis beriris ungu. Haruskah dia mempermasalahkan itu di saat seperti ini?
"T-terima kasih sudah datang, Kokkuri-san... kami ingin bertanya beberapa hal padamu, sudilah kiranya engkau menjawab…"
Kata-kata Momo kembali terputus, karena mendadak hal di luar kendalinya terjadi.
Cahaya lilin yang semula tenang mendadak berubah gelisah, bergoyang-goyang padahal di ruangan itu tidak ada angin. Sloki yang mereka sentuh dengan jari tiba-tiba bergerak-gerak di seluruh permukaan kertas tak tentu arah, seperti ada tangan tak terlihat yang memegangnya kemudian menggerakkannya di luar kendali tiga wanita yang menyentuhnya secara fisik.
Rangiku sudah sangat gemetar. "M-Momo, a-ada apa ini, k-kenapa d-dia bergerak s-sendiri…"
Wajah Momo juga sudah mulai memutih, keringat berkumpul di dahinya. "Aku juga tak tahu." Dia berusaha tenang, meskipun suaranya kentara gemetar. "Kokkuri-san, Kokkuri-san?" Dia memanggil-manggil. "K-kami hanya ingin bertanya beberapa hal padamu…"
Pergerakan sloki di atas kertas itu semakin menggila, untuk beberapa saat. Lalu tiba-tiba saja, sloki itu menunjuk beberapa huruf hiragana yang ada di atas kertas itu, secara cepat dan berurutan. Rukia membaca huruf-huruf itu pelan-pelan di dalam hatinya.
Wa… ta… shi… ko… kku… ri… ja… na…i. Watashi Kokkuri janai? 'Aku bukan Kokkuri?'
Baiklah. Ini bukan main-main lagi. "Siapa kau?" tanya Rukia ketus. "Siapa namamu?"
Yang lain tak bicara apa-apa, mereka hanya menatap sloki itu berputar-putar kembali di atas kertas tak terkendali, sebelum akhirnya kembali seperti tadi, menunjuk beberapa aksara. Rangiku merepet, "W-wa… su… re… ru…" Sloki itu terus menunjuk empat huruf tadi berulang-ulang, makin lama makin cepat.
"K-kau lupa?" Suara Rukia meninggi. "Apa kau tinggal di kantor ini, di lantai ini?" Dia merasa tidak perlu takut dengan makhluk tak terlihat ini, karena dia tak percaya. "Apa kau tinggal di kantor ini?" Rukia mengulangi pertanyaannya.
Gelas itu berputar beberapa kali sebelum menunjuk satu kata. Ya.
Kali ini Momo memilih untuk bertanya. "Di mana? Di mana kau tinggal?"
Seakan mengerti, gelas itu bergeser, menunjuk beberapa huruf kembali. Ku… ro… i… ku… ro… i…
"Gelap? Apa maksudmu?"
Sloki bening itu berputar-putar dengan kecepatan lebih gila daripada biasanya, sebelum menunjuk aksara katakana di sisi kanan kertas. Rukia mengerutkan keningnya melihat pergerakan ini, tapi pekikan pelan Rangiku-lah yang membuat jantungnya tersentak.
"E… re… be… taa."
Elevator.
Pasti makhluk halus sialan ini yang mencekik dan mengerjainya, batin Rukia meradang. "Kau tinggal di lift? Kalau begitu pasti kau yang mencekikku kemarin? Jawab!"
Momo mencoba memperingatkan Rukia untuk tidak terlalu keras bertanya pada gelas itu (baiklah, sebenarnya pada makhluk gaibnya), tapi Rukia tak menatapnya, jadi ia tak peduli. Lagi pula, gelas itu berputar-putar sebelum menunjuk satu kata yang membuat ketiga wanita itu membelalakkan matanya lebar-lebar.
Ya.
Rukia mendengus. "Baiklah," katanya. "Kenapa kau melakukannya? Kenapa kau tak diam tenang di alammu saja, hah? Kenapa kau harus mengganggu kami?"
Mendadak gelas yang mereka sentuh bertiga berputar lagi, lebih kencang daripada biasanya. "A-apa dia… tersinggung, Rukia?" lirih Rangiku. Tapi Rukia tak menjawab, dia meneguk ludahnya. Memang pertanyaannya tadi agak sedikit ketus, tapi… makhluk halus ini, kalau memang benar dia yang mengendalikan gelas sake ini, tidak marah, kan?
Seperti tadi, sloki bening itu berputar dan menunjuk beberapa huruf. Mereka semua membacanya dalam hati.
Ku… ro… i e… re… be… taa… wo… no… bo… ra… na… i. Kuroi erebetaa wo noboranai.
"Jangan naik elevator gelap."
Entah siapa yang mengucapkan itu, tak ada yang menggubris, karena gelas itu kembali bergerak, kali ini lebih menggila. Tangan mereka bertiga bahkan sampai seolah tertarik-tarik, dengan hentakan dan putaran yang makin lama makin cepat.
Rukia mulai merasa ada sesuatu yang tidak beres di sini. "K-kenapa kami tidak boleh naik lift itu? Apa yang salah dengannya?"
Pertanyaan itu tidak dijawab; karena gelas itu masih terus berputar.
Rukia menelan ludahnya. Dia mulai panik. "Kenapa kau begitu tahu soal ini? Kenapa kau memperingatkan kami? Siapa kau sebenarnya?"
"R-Rukia, s-sepertinya d-dia marah…" Rangiku meleter, di tengah pergerakan yang demikian menggila. Cahaya lilin belum menunjukkan tanda-tanda akan menenang, malah sekali waktu cahaya itu meredup, seperti ada yang meniup lilin tersebut. Padahal Rukia tak bisa merasakan embusan angin di dekat mereka, selain memang, suhu udara mendadak jatuh tanpa sebab yang jelas.
Dia memutuskan untuk tidak memedulikan kata-kata takut Rangiku. "Aku tanya, siapa kau sebenarnya? Kenapa kau begitu peduli dengan kami? Siapa kau?"
Gelas itu belum berhenti; dan tidak menunjukkan tanda-tanda akan menjawab.
Tiba-tiba Rukia mengingat satu nama. Dia masih belum yakin akan menanyakan ini, karenanya dia menelan ludahnya. Tapi keadaan semakin lama semakin tak terkendali, dan dia harus menyelesaikan segalanya.
"Apa kau Orihime Inoue?"
Gelas itu berputar makin kencang…
Sebelum akhirnya meledak, bersamaan dengan lilin yang padam.
"Ahh!" Mereka bertiga memekik, berusaha melindungi diri dari serpihan kaca yang beterbangan ke segala arah dengan menutup muka. Hening mengiringi. Tak ada yang bicara, hanya suara napas yang ngos-ngosan saja yang membuktikan bahwa mereka bertiga masih ada di sana, menatap kertas yang kini masih ada di tengah koridor dengan tatapan tidak percaya.
Momo membuka suaranya. "K-kalian t-tidak apa-apa?"
Nyata terdengar ketakutan hebat dalam suara itu.
"A-aku tidak apa-apa," gagap Rukia. Dia merinding hebat, tanpa sebab yang jelas. Udara memang mendadak kembali panas seperti saat mereka pertama kali masuk ke gedung ini, tapi justru itu yang membuatnya ketakutan. Kalau begitu, benarkah tadi ada makhluk astral yang melingkupi mereka, menjadikan suhu udara jatuh tanpa sebab yang jelas?
Dan benarkah makhluk itu… Orihime Inoue?
Tiba-tiba dia sadar suara Rangiku tak terdengar. "Rangiku?" Rukia memanggil. "Kau tak apa?"
Sesosok tubuh bangkit di sebelah Momo. "Y-ya, aku b-baik…"
Tapi kata-katanya tidak selesai, karena dia mendengar suara yang tak asing. Momo dan Rukia pun mendengarnya.
Dentingan halus dan jelas, dari ujung koridor.
Gemetar, mereka bertiga menoleh dengan mata terbuka lebar. Apa yang akan terjadi selanjutnya benar-benar bukan sesuatu yang bisa diterima akal sehat.
Pintu elevator bergeser, menunjukkan ruangan terang yang ada di baliknya.
Di panel dalam, tombol angka empat yang tadi menyala, padam dalam sedetik.
.
.
to be continued.
2012.12.1 10.01 am.
Catatan: Republished bro dan sis. Well, what do you think? Apa yang perlu "dibagusin" dari tulisan saya? Terima kasih banyak :)
