Disclaimer: Bleach is a registered trademark for Tite Kubo and Shonen Magazine. No copyright infringement intended. All rights reserved.


Bab 3

Benar-benar tak ada yang harus mereka takuti.

Tapi semua, di luar dugaan mereka, berjalan sangat lambat. Bagaimana mungkin mereka tidak merasa makin takut?

Tiga wanita menuruni tangga dari lantai empat sampai basemen seperti kesetanan dengan ketakutan tergambar jelas. Kalau saja ada satu bunyi aneh lagi, mereka semua pasti langsung berteriak. Suara sepatu yang rata-rata berhak menggema di seluruh koridor, tapi tak ada satu wajah pun terlihat lega dan bebas dari kekhawatiran, kendati dalam hati ketiganya mengulang-ulang satu kalimat: benar-benar tak ada yang perlu mereka takuti.

Rukia baru bisa bernapas ketika dia sudah duduk di balik kemudi dan mengenakan sabuk pengaman. Dia bahkan lupa kalau dirinya sempat tak bernapas. Dia ingin semua ini berlalu. Semua ini cuma mimpi. Mimpi yang keji. Wajahnya ditelungkupkan di setir yang keras, mulutnya menggumam, "Ya Tuhan, itu semua tidak nyata. Itu semua tidak nyata…"

Tapi… ini nyata, batinnya membenarkan. Ia tak tahu apa yang sebenarnya ada di dalam elevator itu. Yang jelas, dia cuma bisa melihat sinar terlampau terang menembus koridor lantai empat yang gelap dari dalam lift. Mungkin cuma itu. Atau ada sesuatu yang lain. Bayangan atau apa. Tapi mendadak, semua terasa kabur, karena mereka bertiga sudah kepalang lari tunggang-langgang.

Ponsel Rukia berbunyi.

"Kenapa kau belum keluar juga dari basemen laknat itu?" Rangiku.

Rukia mengangkat muka, mengepit ponsel dengan pundaknya, dan menyalakan mesin. "Aku sudah keluar, mobilku di depan restoran." Dia sama sekali tidak melihat apakah di sebelah mobilnya ada kendaraan lain sebelum mengepot dan memutar kemudi dengan kecepatan tinggi, mengakibatkan bunyi ban berdecit yang demikian keras merobek sekitarnya. Untung saja sekarang sudah pukul… dua belas kurang.

Seperti Rukia, Rangiku masih gemetaran ketika dia membanting keras pintu sedan putih kepunyaan sahabatnya. Dia berlari kencang dari depan kantornya. "Oh Tuhan. Tembak aku. Katakan kalau semua itu tidak nyata." Bibirnya yang gemetar bahkan sudah memutih.

Rukia melongok ke belakang Rangiku tapi tak ada penumpang lain. "Momo mana?"

"Demi Tuhan, apa aku tahu? Cepat menyingkir dari sini! Aku tak mau berlama-lama ada di tempat seperti ini!" belalak Rangiku.

Rukia menurut. Sebetulnya dia juga ogah lama-lama di tempat ini. Dia membanting setirnya ke jalan utama, kemudian memacu mobilnya sedikit lebih kencang.

Di belakang, Rangiku menggosok mukanya cemas. Dia bersumpah tak akan mau terlibat dalam urusan macam begini lagi. Apa pun bersedia ia lakukan, asal tidak dihantui bahkan ketika dia sampai di apartemennya. Dia tak mau diikuti makhluk gaib, tapi setidaknya dia tak melihat apa pun, selain kendaraan yang ada di belakang mobil Rukia.

"Kita tidak akan diikuti siapa-siapa, kan?"

Rukia memutar bola matanya. "Oh ayolah. Kau bahkan belum menjawab pertanyaanku. Di mana Momo?"

"Aku tak tahu!" Bibir Rangiku bergetar. Dia melirik bayangan mata Rukia dari kaca tengah. "Tadi sesampai di luar aku langsung lari." Dia berusaha menjaga suaranya. "Mana mungkin aku sempat bertanya ke mana dia akan pergi?"

Rukia mengembuskan napas, dan, tanpa diduga sampai dirinya sendiri keheranan, dia memutar setir dengan kecepatan tinggi, kembali ke kantor, sampai-sampai penumpang yang ada di belakangnya tersentak akibat kelembaman yang mendadak.

Rangiku menatap sekelilingnya, panik. "Rukia? Rukia! Kita mau ke mana?"

"Tentu saja mencariteman cenayangmu itu!" bentak sang pengemudi.

Rangiku merepet di belakangnya, tak dihiraukan Rukia. Sebenarnya bukannya Rukia ingin berlama-lama dalam keadaan seperti ini. Kalau saja hatinya tidak merasa aneh, sudah sedari tadi dia melarikan diri, dan memilih mengebut kembali ke apartemennya. Apartemen yang hangat, nyaman, bebas dari hantu. Tapi dia merasa tidak enak. Suatu kesalahan kalau membiarkan siapa pun berada di kantor tadi, apalagi sendirian. Apalagi kalau kasusnya adalah Momo. Di sana tidak aman! Bahkan untuk seseorang seperti dirinya. Ke mana wanita itu?

Mungkin lamunannya yang terlalu mengerutkan kening membuatnya tak bisa menangkap pandang bertanya dari Rangiku. "Tapi kenapa?" tanya orang itu.

Rukia tak menjawab. Tepatnya, dia tak mampu menjawab. Seluruh indranya sekarang dicurahkan pada kemudi dan jalan yang ada di depannya. Persetan dengan orang itu. Firasatnya mengatakan memang ada sesuatu yang tak baik dengan kantor itu, dengan elevator itu. Dan sekarang Momo tak ada. Kenapa otaknya seolah mengatakan bahwa ada kaitan antara dua hal ini?

Ban berdecit di gang dekat kantor. Mereka tiba di belakang gedung; di depan sana terlalu mencolok. Lagi pula, tak ada siapa-siapa di depan sana. Suasana sudah menggelap. Kegelapan menghujam dan memeluk semua benda. Asap knalpot yang samar bahkan menimbulkan bunyi berdesis yang halus. Rukia menyalakan lampu di dalam mobilnya. Dia takkan suka dengan kegelapan setelah malam ini.

Rangiku menatap takut ke sekelilingnya. Dia menekan tombol penutup jendela, padahal kaca mobil sudah tertutup sempurna. "Momo pasti sudah pulang, Rukia. Ayo kita pulang. Aku takut…" bisiknya khawatir.

Ya, mungkin Momo sudah pulang. Mungkin saja sebenarnya dia tidak lebih dari kucing penakut. Dia paling-paling sudah pulang dan berada di apartemennya. Tapi, berapa kali Rukia mencoba menumbuhkan pikiran itu, selalu ada sesuatu dalam benaknya yang mengatakan sebaliknya. Tidak, dia tidak pulang. Tidak, dia masih ada di sana. Tidak, dia sekarang sudah terbunuh.

Pikiran yang mulai membuatnya tersiksa membuat Rukia harus mengambil tindakan. Mungkin dia tidak berpikir panjang, tapi yang jelas, dia sudah turun dan menapakkan kakinya di jalan yang dingin.

Rangiku menjengit, matanya terbuka lebar-lebar. "Rukia! Kau mau ke mana?"

Yang ditanya tidak menjawab, tapi mendengar pintu mobil terbuka dan tertutup untuk kedua kalinya, Rukia tahu kalau Rangiku mengikutinya. Setidaknya bukan dia yang mengajak.

Sekelilingnya sepi. Terasa mencekam. Rukia melangkah lambat-lambat, melintasi sepanjang lorong. Ia menuju pintu belakang gedung. Sesekali dia memanggil Momo dengan suaranya yang lirih, tapi tak ada yang menjawab atau menyahuti. Di belakangnya, Rangiku terus-terusan berbisik bahwa yang mereka cari mungki sudah pulang. "Mungkin dia sudah pulang, Rukia…" Kali lain dia berlirih, "Dia tak ada di sini…"

Tidak, sesuatu dalam hati Rukia membantah. Dia masih ada di sini…

Suara kersikan tiba-tiba membuat keduanya tersentak hebat. "Ya Tuhan! Apa itu?" Rangiku seketika berputar dan memekik. Ketika dia menghadap Rukia kembali, mukanya sudah seputih kapur. Dia bersumpah, dibayar satu juta yen pun dia tak akan lagi mau mengalami keadaan seperti ini.

Sekelebat bayangan hitam rendah berlari di belakang mereka.

"Kucing," kata Rukia. Suaranya seperti tercekik.

Dia melanjutkan langkah, dengan jantung yang berdegup memusingkan. Dia semakin dekat ke gagang pintu di belakang gedung, di dekat kanopi. Tangannya baru saja akan terjulur membuka pintu belakang itu ketika kepalanya seperti ditetesi sesuatu.

Penerangan remang-remang membuat Rukia tak bisa melihat apa yang menetesinya. Dia mendongak. Tak ada apa-apa di atas sana. Mungkin jendela di atas sana ada yang terbuka, tapi semua tampak sama dari bawah sini. Dia menurunkan kepalanya, dan sesuatu itu menetes kembali, mengenai pipinya. Dingin, tapi anehnya berbau itu menetes kembali tepat di atas bibirnya. Rasanya asin. Tak ada air radiator pendingin ruangan yang berasa asin. Apalagi kental seperti ini.

Ketika dia menoleh untuk menatap Rangiku, dia sebenarnya sudah tahu apa itu, bahkan sebelum sahabatnya itu membuka mulutnya sebagai refleks atas mukanya yang berlumuran saja, saat itu Rukia tak menyia-nyiakan dirinya sendiri untuk tidak segera menyingkir dari tempat itu. Persetan dengan apa yang ada di atas sana, dia tak peduli lagi, dan dia tak mau berada lebih lama lagi di tempat itu.

Tempat yang, kini dia akui, benar-benar terkutuk.

###

Rukia mengerem mobilnya di basemen, menghasilkan jerit decit ban yang penuh kekalutan. Dan ketidakmengertian. Seperti dirinya. Kepalanya kini penuh, terlalu penuh untuk memikirkan apa-apa. Dia takut, dia khawatir, dia gentar. Dan tak paham akan apa yang barusan dialaminya.

Baiklah, batinnya, sambil menghela napas, atau tepatnya memaksa diri mengembuskan napas beratnya. Dia melihat sekeliling. Selain banyak mobil, tak ada hal lain yang bisa ia lihat. Maksudnya, hal-hal yang kasat mata.

Dan apakah itu berarti noda darah, tetesan darah, dan sensasi dingin, asin, serta amis itu cuma halusinasinya saja? Oh Tuhan, pikirnya sambil lagi-lagi menempelkan keningnya ke setir. Dia merasakan sensasi itu. Rangiku juga melihatnya.

"Sumpah, Rukia, aku lihat ada darah di wajahmu! Setetes demi setetes," ia ingat kata-kata Rangiku tadi tatkala ia masih sibuk menyeka mukanya dengan tisu. Mereka, saat itu, sudah terbirit-birit dan berada di dalam mobil. Dan tentu saja sepanjang pelarian mereka, mereka berteriak. Keras. Dijatuhi darah bukan sesuatu yang akan membuat seseorang bersorak kegirangan, kan?

"Tapi kenapa sekarang sudah bersih?" tambahnya kemudian.

Yang bisa keluar dari mulut Rukia saat itu hanyalah, "Aku tidak tahu."

Rukia menutup pintu mobilnya. Mencoba mengalihkan perhatian, dia melangkah menuju tangga. Dia sedikit tersentak ketika lampu yang di atasnya berkedap-kedip. Ditatapnya lampu neon itu beberapa saat. Sinarnya membuat kontras gelap yang ada di basemen. "Sial," umpat Rukia pelan. Semua ini sudah terlalu memengaruhinya, sedikit lagi untuk menjadikannya gila.

"Tapi aku tak akan kalah semudah itu," gumamnya. Dia berjalan, sepatunya berkelotak di lantai basemen dan anak tangga. Sebagaimana katanya tadi, dia tak takut. Dan dia tak akan kalah. Dia hanya… berantisipasi. Dengan mengeratkan pegangan pada tas tangan, berjalan menyusuri koridor sepi apartemennya dengan langkah cepat setengah berlari, menengok untuk memastikan tidak ada yang mengikutinya, dan segera mengunci pintu apartemen begitu tubuhnya masuk. Tidak ada siapa pun yang boleh masuk selain dirinya. Tidak ada apa pun yang boleh masuk. Kelihatan atau tidak.

Berada dalam apartemen sendiri setelah situasi yang dialaminya membuat Rukia, mau tak mau, menjadi paranoid. Dia melihat sekeliling sebelum masuk ke suatu ruangan. Dia menyalakan lampu di semua ruangan yang akan dimasuki. Ia terus-terusan merinding. Apa dia… diikuti? "Oh tidak, tentu saja tidak," dia berbicara sendiri.

Sebaiknya dia mandi. Dia mempersiapkan segalanya, dan mengenakan kimono mandi setelah melepas pakaiannya. Ada baiknya berendam di saat-saat begini. Melemaskan urat saraf yang sudah begitu tegang.

Dituangkannya sabun beraroma lavender banyak-banyak ke dalam bak sebelum melangkahkan kakinya masuk. Kehangatan air dan aroma sabun yang menenangkan betul-betul menyenangkan—terutama setelah apa yang ia alami. Dengan ini dia bisa melupakan semuanya. Tidak ada yang terjadi, Rukia, dia meyakinkan dirinya sendiri. Tidak ada yang terjadi, batinnya lagi. Dia memejamkan matanya, beringsut menikmati hangatnya air…

Sampai air itu tiba-tiba terasa lengket dan asin. Keheranan, dia membuka matanya…

Sebelum sebuah teriakan merobek keheningan apartemennya. Teriakannya sendiri.

Rukia berontak. Dia berusaha keluar dari bak mandi itu… tapi usahanya nihil. Karena sepasang tangan kekar dan kotor, entah muncul dari mana, berusaha merenggut napas dari lehernya. Tercekik erat, Rukia meronta dan mencakar tangan siapa—atau apa—yang sedang melakukan hal itu padanya. Dia menggapai-gapai pinggir bak, tapi semuanya menjadi licin. Licin dan berbau amis, terlumuri cairan berwarna merah pekat.

Dia berusaha membuka matanya, tapi tak ada yang sesuatu yang jelas dapat dilihatnya sebelum semua tertelan gelap.

###

Rukia tersentak dan menatap sekelilingnya tepat setelah dia membuka mata.

Ia ada di kamar mandi. Tampaknya ia baru saja bangun tidur. Bangun dari sebuah mimpi buruk.

Apa benar mimpi buruk? Rukia baru sadar bahwa ia masih bertelanjang, berendam di dalam bak mandi yang kini membuat kulit jarinya mulai memutih dan mengkerut. Ia langsung mengangkat tubuh, menyandarkan punggung pada dinding bak berendam dengan kepanikan hebat dan refleks berlebih.

Tentu saja tak ada apa-apa. Tapi itu tak membuatnya tenang; malah membuatnya makin khawatir.

Mandi telah tidak lagi menjadi pelarian stres yang bagus, Rukia berpendapat. Ia langsung berdiri, mengeringkan tubuh, mengenakan baju pertama yang dapat ia temukan, kemudian bergelung di bawah selimut dengan tubuh yang masih saja gemetaran.

Rukia berdoa, moga-moga malam ini ia tak bermimpi buruk.

###

"Kau sakit?"

"Diam," semprot Rukia dingin. Renji yang melontarkan pertanyaan itu langsung bungkam, kendati matanya tetap memerhatikan Rukia. Ia menyerahkan roti dan barang-barang lain pesanan wanita itu sebelum kembali ke dapur di belakang.

Rangiku tiba-tiba saja menghampirinya di meja kafetaria. Ada sesuatu yang berbeda dalam gerak-geriknya. Ia ketakutan.

"Puji Tuhan kau masih hidup," komentar Rukia.

Yang dia ajak bicara cuma tersenyum tanpa makna. Padahal dalam hati dia ketakutan setengah mati. "K-kau juga."

Tatapan memang menyiratkan isi hati. "Demi Tuhan, aku tahu kalau kita semua tidak baik-baik saja. Tapi sebenarnya tidak ada yang terjadi. Demi Tuhan, tidak ada yang terjadi. Kita hanya kebetulan saja mengalami mimpi buruk. Mimpi buruk yang... kurang lebih sama."

Rangiku duduk di hadapan Rukia ketika mendengar itu. Ia langsung memutar bola mata. Sengaja direndahkan suaranya sedikit agar tak ada yang curiga, ia berkata, "Berhenti menyebut nama Tuhan." Dia mengancam, "Ia sama sekali tak menolongku, karena aku sendirian, dan aku tahu kalau kau juga mengalami hal yang sama."

Rukia menelan ludahnya. "Ada yang..."

"Ya, ada." Rangiku tak memberi kesempatan lawan bicaranya untuk menyelesaikan. "Dan itu, terus terang, menghantuiku. Di setiap usahaku memejamkan mata. Untuk dua minggu ini, Rukia! Dua minggu!"

Ia melanjutkan, "Kau juga tahu apa yang terjadi. Ini belum selesai, Rukia. Ini belum selesai karena kita belum menyelesaikannya. Kita harus menyelesaikannya, Rukia. Kita harus menyudahi ini semua."

"Tidak ada yang harus kita selesaikan, Rangiku. Kau terlalu percaya dengan hal-hal gaib... yang bahkan tidak nyata," jawab Rukia. Ia memberi penekanan pada empat kata terakhir.

Tapi Rangiku tahu, pertahanan Rukia sudah mulai goyah. Ia diamkan saja wanita itu bicara.

"Jadi kita tidak akan melakukan apa-apa. Karena memang tidak ada apa-apa." Rukia mengerutkan dahi. "Sekarang berhenti bicara, karena selain tak ada apa-apa, kau membuat nafsu makanku menghilang."

"Oh ya?" Rangiku menyambar. Di pelipisnya ada peluh entah dari mana. "Ada apa-apa, Rukia." Wanita berdada besar itu bersiap bangkit. "Ada apa-apa. Kau tahu, Hinamori menghilang dua minggu ini. Ia dilihat untuk terakhir kalinya saat ia pulang kantor dengan wajah ketakutan. Kau tahu apa artinya?"

Rukia tak menjawab.

"Mereka—ia—atau apa pun makhluk itu—mengincar kita, Rukia. Kita semua."

Ia berbalik, tapi kembali memutar tubuhnya menghadap Rukia yang kini benar-benar kaget.

"Jangan lagi kau mengatakan kalau tidak ada apa-apa, Rukia."

Kini nafsu makan Rukia benar-benar hilang. Ia langsung mengejar Rangiku. "Tunggu aku!" serunya.

Sepasang mata menatap mereka dari kejauhan...

###

Rukia tak berani naik lift. Begitu pula dengan Rangiku. Saat ini mereka berjalan bersisian, meniti tangga menuju lantai empat. "Mungkin kita mesti bersyukur kantor kita berada di lantai empat," Rangiku berkelakar. "Kalau saja kantor kita ada di lantai tiga belas, akan seperti apa tampang kita saat keluar dari tangga ini?"

"Bagaimanapun, meski lelah, kita masih hidup," putus Rukia. "Ketimbang kita naik elevator dan keluar-keluar kita sudah tak bernyawa."

Sahabatnya itu langsung diam.

Ketika membuka pintu tangga, mereka menjumpai Urahara yang sibuk menatap sesuatu di dinding bercat putih. Rukia ikut melirik ke arah pandang atasannya itu, dan sesaat, angin dingin disertai isi perut yang teraduk-aduk memenuhi ruang pikirnya.

"Astaga..." Rangiku berbisik.

Urahara tampaknya mendengar Rangiku, karena ia langsung berbalik. Mulanya ia tampak keheranan melihat ekspresi wanita itu, tapi saat ia menyadari ada Rukia di sebelahnya, wajah pria berambut panjang keperakan itu langsung berubah paham. Ia memanggil Rukia untuk mendekat.

"Ya..." Rukia membuka pembicaraan.

Atasannya agak heran, baru sekali ini ia susah tersenyum pada Rukia. Padahal gadis ini adalah salah satu karyawannya yang cukup baik. "Seingatku, kemarin aku sudah mengingatkanmu soal satu ini."

Ia bahkan tak sadar akan wajah Rukia yang memucat bingung. "Tentang apa, Pak...?"

Kisuke menghela napasnya. Entah apa yang terjadi dengan wanita ini, tapi saat ini ia tak bermain kuis. "Kau bisa lihat sendiri apa yang ada di belakang kita semua. Kau tentunya ingat kalau aku sudah memintamu menelepon Biro Umum, Biro Perlengkapan, Biro Rumah Tangga, atau siapa saja yang kau pikir bertanggung jawab soal ini. Sudahkah kau melakukannya?"

Rukia tak menjawab untuk beberapa saat. Ia malah menggigit bibir bawahnya di tengah kebingungan. "B-belum, Tuan."

Untung saja Urahara bukan atasannya yang lama, yang tidak bisa menahan dirinya itu. Pria itu hanya menatapnya tepat di kedua mata selama beberapa waktu, mengembuskan napas, dan muka merahnya berangsur membaik. "Sudah kusuruh kau melakukannya, kan? Apa kau sibuk?"

Rukia menggeleng. "Tidak."

Kisuke menghela napasnya lagi. "Teleponlah. Aku tak mengerti apa yang menyebabkan noda itu. Dan... ini mungkin cuma imajinasiku saja, tapi semua itu membuat kantor ini jadi jorok dan suram. Lihat saja sendiri. Perhatikan."

Noda itu diperhatikan Rukia baik-baik. Bulu tengkuknya berdiri lagi, ketika tiba-tiba saja dia memastikan apa noda itu sebenarnya...

Darah.

"Apa kalian juga merasa kalau udara di sekitar sini jadi sedikit amis dan pengap?"

Rangiku bertanya dengan suaranya yang tertahan, "Amis, Urahara-san?"

"Ya, amis... atau itu cuma bau sepatuku, ya?" Ia tertawa.

Baik Rukia dan Rangiku tak tertawa.

"Ah, intinya, Kuchiki, tolong ya, teleponkan Biro Rumah Tangga. Mungkin pelumas AC di atas melumer atau bocor. Aku mau rapat di lantai sembilan belas." Ia beranjak ke belakang dua wanita itu dan menekan tombol elevator. "Sekali lagi, tolong ya?"

Dua wanita itu tak menjawab. Rangiku menatap noda itu sambil menahan napasnya. Rukia merasa kakinya gemetar tanpa alasan jelas. Bahkan wanita itu tak sadar dengan sekelilingnya. Rukia tampak seolah terserap dalam aura suram yang dipancarkan sekitarnya...

Ia melangkah. Mendekat, dan kian mendekati noda di dinding.

Langkahnya terhenti ketika ia mencium sesuatu.

Saat itu juga, semua isi perutnya seperti ingin keluar.

Rukia terbirit-birit, menuju toilet di lantai empat. Tak dipedulikannya teriakan panik Rangiku di belakangnya, dan tak dipedulikannya juga lampu toilet yang mulai berkedip tepat ketika Rukia membuka pintu.

Rukia memuntahkan isi perutnya di atas kloset dingin. Rasa jijik, mual, bercampur dengan keringat dingin yang merembes di sepanjang tengkuk dan pelipis membuat perut yang sebenarnya telah kosong lagi-lagi dipaksa mengeluarkan entah apa. Pinggiran kloset itu dicengkeramnya erat-erat. Pengharum ruangan otomatis yang biasanya menguarkan bau setiap tujuh puluh lima detik seolah-olah tak bekerja. Bau yang menyebar dari noda di dinding itu benar-benar tak enak. Campuran dari aroma lumut basah dan tembok gedung tua. Di atas semua itu, sepercik aroma tajam merusak segalanya. Bau amis yang tak mungkin bisa ia lupakan.

Wangi darah.

Rukia berusaha bernapas dan menegakkan diri. Sudah jauh lebih baik. Ia tak mual lagi.

Tapi begitu selesai muntah, mendadak hawa itu kembali.

Hawa dingin yang sama. Rukia pernah merasakan ini. Di elevator, saat ketika tangan tak bertubuh itu mencoba merenggut lehernya.

Ya Tuhan, yang kemarin itu benar-benar tangan, pikir Rukia panik.

Tapi bisakah dia berpikir lama saat itu? Tidak bisa. Hawa dingin masih saja menyerang tengkuknya, membuat ia tak bisa merasakan hal lain selain dingin yang menjalar, merayapi badannya. Rukia mencoba menggerakkan tubuh dengan memutarnya.

Saat itu juga lampu toilet mulai berkedip-kedip.

"Rangiku, ini tidak lucu," Rukia mengatakan hal pertama yang terlintas di kepalanya. Ia mencoba berdiri kendati kakinya seperti menolak, masih goyah untuk bisa menopang tubuhnya. "Kau ada di sana?" Rukia memanggil lagi.

Suara tetesan air membuatnya memunggungi pintu lagi. Dingin itu makin merayap, makin menyebar di tengah kegelapan dan terang yang hanya bertahan sekilas, sebelum kembali menjadi gelap.

Telinga Rukia mendadak mendenging. Atau dia merasa mendengar dengingan yang begitu dekat dengan telinganya?

Ketakutan, dengan napas yang menderu cepat, Rukia mencoba berbalik.

Tapi ia sebenarnya tak perlu repot-repot melakukan itu, sungguh. Karena sesuatu menjerat lehernya, menariknya, kemudian menghantamnya keras pada pintu toilet yang terkunci.

Rukia meronta. Hebat. Jeratan sesuatu di lehernya itu benar-benar kuat, menjepit jalur napasnya. Ia mencoba bersuara tapi yang terdengar hanya suara yang dikenalnya keluar dari seseorang yang tercekik.

Dia memang tercekik.

"To... long..." Rukia merintih. Ia menggapai-gapai ke dekat lehernya, mencoba melepaskan apa pun yang menjeritnya, tapi anehnya, ia tak bisa menemukan apa-apa. Ia tak menemukan tangan, atau tali, atau apa pun yang menjerat lehernya itu. Ia dicekik udara kosong?

Ya Tuhan, ia akan mati. Dengan cara seperti ini. Ia tahu, semua manusia memang akan mati, tapi yang jelas semua manusia tidak mati dengan tercekik udara kosong di dalam toilet berhantu, kan?

Rukia berusaha memanggil Tuhannya lagi. Tak ada yang datang, padahal napasnya kini akan segera putus. Erangannya berubah menjadi seperti suara anak bebek yang diinjak sepatu bot. Kakinya mulai mengejang, sepatunya telah terlepas. Berusaha ia menarik perhatian siapa saja dengan memukul pintu toilet, tapi pintu itu tak terjangkaunya. Tentu saja.

Ini bukan mimpi, pikirannya yang mulai kekurangan oksigen bicara. Aku dibunuh hantu Inoue. Aku dibunuh hantu Inoue. Aku dibunuh hantu... ternyata hantu bisa membunuh...

"Rukia...! Rukia!"

Inoue... aku bahkan tak tahu apa kau mengenalku... aku tak pernah mengganggumu...

"Rukia...!"

Secepat kedatangannya, semua berhenti dengan tiba-tiba. Tekanan di lehernya mendadak hilang, bersamaan dengan pintu toiletnya yang menjeblak terbuka. Kehilangan keseimbangan, Rukia langsung jatuh telentang di lantai dingin kamar mandi itu, sebelum disinggahi serangkaian batuk super menyiksa yang rasa-rasanya akan merobek kerongkongan dan tenggorokannya sekaligus.

Rangiku mendekatinya, wajahnya belepotan maskaranya yang luntur akibat air mata. "Rukia!" ia menjerit. Ia berlutut kemudian menangis hebat di dekat Rukia. "Ya Tuhan! Rukia... ini sudah keterlaluan, Rukia, aku tak sanggup... Demi Tuhan aku tak sanggup lagi, ini sudah kelewatan..."

Wanita beriris violet itu berusaha bernapas. Bahkan memasukkan udara dalam volume yang cukup ke dalam paru-paru telah membuatnya mengeluarkan air mata, saking susah dan sakitnya. "Aku... Inoue... dia..."

Merinding Rangiku mendengar nama itu. "Itu karena dia tidak tenang, Rukia," bisiknya panik. "Dia tak tenang, dia mengganggu kita..."

"Kau... tak ada... itu bohong..." Rukia berusaha duduk.

"Tidak," Rangiku masih terisak. "Kita harus menyelesaikan ini, kita harus menyudahi ini, Rukia..." Dia membantu Rukia berdiri, memutar tubuhnya untuk keluar, dan tiba-tiba matanya menangkap sesuatu. Ekspresinya langsung berubah. "Ya Tuhan..." Ia menangis lagi, menutup mulut dan matanya. "Ya Tuhan, tolong aku, Tuhan, tolong aku, aku tak mau mati, aku tak mau mati..." Rangiku mundur selangkah.

Rukia melihat apa yang dilihat Rangiku di kaca wastafel. Tulisan yang dibuat dengan lipstik. Yang aneh adalah, Rukia belum pernah melihat warna lipstik itu, yang notabene adalah oranye cerah.

Pergi atau mati.

Amarah muncul di dalam diri Rukia. Cukup sudah! "Ini... tak benar," gumam Rukia kesal. Ia mendekat dan langsung berusaha menghapus tulisan itu. "Kita tak melakukan apa-apa. Kita tak mengganggu siapa-siapa. Apalagi hantu. Kita tak mengganggu mereka," ujar Rukia sambil terus menghapus. "Kita tak mengganggu... oh Rangiku, hentikan tangismu! Kita tak mengganggu!" bentak Rukia keras.

"Jangan lupa apa yang baru saja terjadi, Rukia."

Rukia terdiam. Ia melihat kembali ke cermin, tempat wajahnya balas memandang. Ketakutan, kecemasan, dan kesedihan berpadu dalam sorot mata ungunya yang menyuram. Tapi ia berusaha kuat. Ia menatap Rangiku yang gemetar melalui cermin. Sesuatu di lehernya menarik perhatian. Bekas cekikan yang mulai membiru, berbentuk strip melingkar, seolah-olah ia sedang mengenakan choker ungu.

Sesuatu langsung melintas di kepala Rukia.

"Baik, akan kita selesaikan."

Rangiku mengangkat mukanya, heran dengan kemantapan dalam suara Rukia.

Yang dipandang tersenyum. "Akan kubuktikan kalau hantu itu tidak ada. Yang ada... cuma pembunuh jahanam. Pembunuh yang meminjam nama hantu Inoue."

Temannya heran, dari mana Rukia bisa mendapat pemikiran seperti itu. Hanya saja, dia tak bisa berkata apa-apa.

Pintu toilet terbuka dan seseorang masuk.

Renji menatap heran dua wanita yang berdiri di hadapannya.

"Astaga, apa yang kalian lakukan di toilet pria?"

###

"Aku tak bisa menghubungi Momo."

Entah, kini rasanya Rukia takut. Ia mengutuk dirinya sendiri yang berkeras kalau hantu itu tak ada. Bahkan kalau memang benar yang mencekiknya di toilet tadi adalah orang yang ia curigai, yang mencekiknya di lift kemarin itu siapa? Dan di mana Hinamori?

"Firasatku tentangnya itu tidak enak, Rukia..." Rangiku mulai ketakutan. "Bagaimana kalau dia dibunuh oleh..."

"Hantu tak bisa membunuh manusia—dia bahkan tak bisa menyentuh kita."

"Lalu kenapa kemarin kau..."

"Itu bukan hantu. Itu... aku tak tahu itu apa, yang jelas itu bukan hantu."

"Tapi kau kan..."

"Yang jelas itu bukan hantu! Hantu itu... tidak ada." Bahkan suaranya sendiri terdengar tidak yakin. "Hinamori pasti ada di suatu tempat. Dia..." Rukia berusaha mengarang alasan yang kedengarannya logis, "... pasti diculik pelaku pembunuh Inoue. Ya. Inoue dibunuh, dan... ah sudahlah!"

Bahkan dirinya sendiri tak nyaman membicarakan ini. Ia membuka sabuk pengaman dan turun dari mobil. Rangiku mengikuti di belakangnya. Ia tak bisa menahan diri untuk tidak bertanya, "Kau yakin kita akan melakukan ini?"

"Yang mengusulkan ini semua, kau, kan?" Rukia mendadak berbisik dengan suara rendah.

"Memang, tapi aku merasa ragu..." Rangiku berhenti berbicara ketika Rukia mengangkat tangannya. "Ada apa?" Dia berbisik.

Rukia menunjuk panel indikator lift. "Liftnya bergerak turun."

Tepat setelah ia selesai mengatakannya, dentingan halus terdengar. Pintu lift itu membuka, di tengah ketegangan yang menyergap dua wanita di hadapannya.

Tak ada siapapun keluar dari sana.

Rukia sudah menduganya. Ia menghela napas di tengah ketakutan. Ada yang menyapa mereka. "Kita naik?" tanyanya.

Rangiku menelan ludahnya, mengabaikan rasa takut yang muncul, kemudian mengangguk. "Kita harus menyelesaikan ini," kembali ia mengulang hal yang sama.

Mereka menuju lantai empat yang gelap. Setiap dua anak tangga mereka berhenti, memasang telinga baik-baik, menanti setiap pergerakan, menanti setiap suara, kasat mata atau tidak. Lampu-lampu dengan sensor gerak menyala setiap kali mereka lewati, kemudian mati ketika mereka meninggalkannya.

Rukia menggenggam handel besi pintu berterakan angka empat, kemudian memutarnya. Pintu membuka dan berderit pelan.

Keheningan menyapa mereka. Mata Rukia mencoba beradaptasi dengan kegelapan. Sinar lampu jalan yang menerobos tak banyak membantu. Ia mencoba melangkah, tapi Rangiku menghentikannya. "J-jangan terlalu jauh," katanya. Ia tak mau mendekati elevator itu.

Rukia juga. "Y-ya," jawabnya.

Mereka menggelar kain di tengah selasar. Sudah tak mereka pedulikan lagi aturan-aturan Kokkuri, entah jumlah orang yang mesti ganjil ataupun tempat pelaksanaan yang dekat dengan energi arwah. Mereka hanya ingin tahu di mana Hinamori sebelum orang lain sadar kalau gadis itu menghilang.

"Rukia..." Rangiku berbisik dengan napas tertahan, "...gelasnya bergerak..."

Rukia mencoba menjawab kalau ia tahu, tapi suaranya tak keluar. Tanpa berpikir, ia langsung meletakkan jari di atas gelas yang kini, bergerak makin liar.

Adalah Rangiku yang betul-betul masih bisa bicara. Mereka bahkan belum memanggil arwah siapa-siapa! "S-siapa kau? M-mau apa kau?"

Gelas itu menunjuk tiga aksara. Sagase.

"C-cari..." Rukia berdesis.

"A-apa yang harus kami cari?"

Gelas itu bergerak cepat, dan makin cepat, sebelum melewati beberapa huruf yang bisa dirangkai. "Cari... rambut terang... sembunyi... mati... mati... mati..."

Gelas itu bergerak makin liar, Rukia khawatir akan pecah seperti terakhir kali.

Tapi tidak. Benda itu malah berhenti.

Keheningan kembali berbunyi dalam telinga mereka. Setidaknya untuk beberapa saat, sampai tiba-tiba telinga mereka yang dipasang pada level setajam mungkin itu menangkap suara rintihan dan minta tolong. Mereka kenal betul suara itu.

Suara Hinamori.

Rukia menoleh, menatap Rangiku. "Kau dengar?" Sesuatu membuat matanya terbelalak.

Rangiku mengangguk. "Hinamori," mulutnya bergerak tanpa suara.

Entah mendapat kekuatan dari mana, Rukia bangkit, kemudian berteriak sambil bergerak ke sana kemari. "Hinamori!" teriaknya. "Di mana kau?"

Rangiku yang lebih tenang langsung tahu. "R-Rukia...! Ruang AHU!" Ia merujuk pada ruangan tempat sentral instalasi pendingin ruangan setiap lantai. Tak berpikir, ia berlari dan berbelok di koridor, menuju lift barang.

Astaga, lift barang!

Rukia merasa mulai mengerti akan sesuatu, kendati saat itu ia tak berkata apa-apa. Ia mengikuti Rangiku, dan benar saja, erangan tertahan Momo terdengar dari balik pintu besi. Rangiku mengabaikan tanda "PINTU RUSAK" yang dipasang di pegangan pintu. Tentu itu bohong, karena ketika kunci diputar, pintu itu bisa terbuka.

"T-tolong..."

Momo menangis ketika yang membuka pintu bukan penculik menyeramkan yang menyekap dirinya di tengah-tengah pendingin ruangan. Keadaannya membuat Rukia dan Rangiku membelalakkan mata. Ia betul-betul mengenaskan. Tangan dan kakinya terikat, di pelipisnya menempel darah kering. "Tolong..." katanya lagi.

Tak butuh waktu lama bagi mereka berdua untuk membuka ikatan Hinamori. Setidaknya, di hati mereka ada kelegaan bahwa ini bukan pekerjaan hantu; bahwa hantu bahkan tak bisa menyentuh manusia. Tapi kalau bukan hantu... siapa?

"Astaga, Rangiku, aku mengerti..."

"Bantu dulu aku melepaskan kaki Hinamori, Rukia!" bentak Rangiku.

Rukia membantu Rangiku melepas ikatan di kaki Hinamori. Mereka membopong tubuh lemas perempuan itu ke dekat lorong, kemudian mendudukkannya di lantai.

"Jadi siapa yang melakukan ini padamu?" tanya Rangiku, panik.

"Aku tak tahu," jawab Hinamori. "Aku sedang menunggu kendaraan malam itu dan kepalaku dipukul dari belakang, keras sekali. Setelahnya yang kuketahui, aku ada di dalam sana," katanya pelan. Air matanya masih belum berhenti mengalir.

"Itu tidak penting. Yang penting sekarang kita cepat keluar dari sini dan lapor polisi sebelum penjahat itu kembali dan sadar Hinamori sudah tidak ada."

Semua mengangguk. Rangiku membantu Hinamori berdiri. Untungnya ia masih bisa berjalan. Mereka menuju pintu tangga, namun saat Rukia memutar pegangannya, tak ada yang terjadi. Matanya terbelalak ngeri.

Rangiku dan Hinamori yang berdiri di belakangnya paham apa yang terjadi.

Mereka tak sendirian di sini.

"Lift..." bisik Hinamori penuh ketegangan.

Mereka bertiga cepat-cepat berjalan menuju lift. Dan seakan menambah ketegangan mereka, panel indikator lantai menunjukkan bahwa lift sedang turun dari lantai sembilan.

"Ada yang menggunakan elevatornya," Rangiku berbisik tertahan.

Rukia mencoba menenangkan, "Mungkin satpam yang patroli. Semoga saja," gumam Rukia tak yakin sambil menekan tombol. Ini malam Sabtu, kemungkinan patroli di malam seperti ini adalah sangat sempit.

Lift berdenting di depan mereka. Pintunya membuka pelan, menunjukkan ruang dalam lift yang gelap. Betul-betul gelap pekat.

Momo melangkah maju. "Mungkin lampunya mati..."

Terlambat.

Sebuah kapak melayang dari dalam elevator dan langsung menghujam kepala wanita malang itu.

Rangiku kontan melepas Momo yang tadi dipapahnya dan langsung mencoba menjerit. Meskipun tak ada suara yang keluar dari dalam mulutnya.

"Oh, sayang sekali. Kenapa kau tak ikut kukapak sekalian, Nona Matsumoto?"

Rukia membelalakkan matanya. Ketegangan yang demikian intens membuatnya hanya bisa menatap semua itu, tak mampu bergerak barang seinci pun. Itu suara pria, dan dia ingat pernah mendengarnya di mana.

Si petugas kebersihan.

Sesosok pria keluar dari dalam lift sambil menekan sakelar lampu di dalam sana. Lift itu menyala terang, sinarnya memantul dari dinding elevator itu. Ia mengenakan seragam petugas kebersihan, hanya saja alat yang ada di tangannya adalah sebuah kapak yang meneteskan darah, bukannya tongkat pel. Senyum mengembang di bibirnya, sebuah senyum kejam tanpa ampun.

Rukia masih tak percaya bahwa dia melihat genangan darah di lantai mengalir di celah lift, menetes ke lantai bawah, sehingga dia tak mendengar Rangiku berujar, "Astaga..."

"Kau mengingatku rupanya, Rangiku?"

Rangiku mundur selangkah. Matanya membeliak, takut dan terkejut. "Tak mungkin. Kau sudah mati, kau sudah mati..."

Pria itu terkikik. Suaranya menjijikkan. "Aku tak bisa mati, Rangiku Matsumoto." Ia diam sebentar, membiarkan kata-katanya mengendap, kemudian menambahkan, "Ichigo Kurosaki tak bisa mati."

"Kau sudah mati..."

"Kau pikir kalian bisa menyingkirkanku semudah itu?" Pria bernama Ichigo itu menyandarkan kapaknya, melangkahi mayat Hinamori dengan mudah, kemudian menyalakan sebatang rokok. "Ayolah. Kalian butuh rencana yang lebih matang. Menenggelamkan orang setelah menabraknya, kuberi tahu, bukan pilihan baik. Lebih baik sepertiku, menghabisi Inoue menggunakan... eits, Nona, mau apa kau dengan itu?"

Rukia langsung mundur, tepat ketika Ichigo meraih kapaknya, kemudian mengayunkannya pada perut Rukia. Tidak kena! "Rangiku, lari!" teriaknya. Ia sendiri berusaha lari memutari koridor, menuju lift barang yang tadi, kemudian menekan tombolnya. Rukia tak terkejut mendapati lift ini berfungsi. Ichigo—atau siapa pun ia—pasti menggunakan lift barang untuk bergerak dalam gedung ini.

Pria itu tertawa kejam, membuat Rukia merinding. Astaga, ia pembunuh...

Sepertinya Rukia mulai mengerti apa yang terjadi. Inoue dibunuh pria ini. Agaknya ia dan Rangiku melakukan sesuatu pada Ichigo—entah apa—dan itu membuat pria itu merasa perlu untuk membalas dendam...

Lolongan Rangiku menghentikan semua kegiatan Rukia. Dalam kepanikan, Rukia menekan tombol elevator itu berkali-kali.

Terbuka!

Ia mendengar suara langkah yang semakin cepat ketika ia cepat-cepat menutup pintu lift. Bayangan pria itu, disertai bunyi gedoran di pintu, adalah hal terakhir yang bisa dimengerti Rukia sebelum lift itu bergerak naik.

Tunggu! Bergerak naik? Tak percaya, Rukia melihat ke panel di dalam lift. Angka yang tertera di sana semakin besar.

Mata Rukia terbelalak. Ada apa ini...? Ia ingat betul tadi menekan tombol G...

Hawa dingin mendadak terasa di dalam kotak kaca itu, disertai lampu yang tiba-tiba menyala. Rukia bisa melihat pantulan dirinya, tampak ketakutan dan panik. Mukanya berminyak, matanya menyiratkan bahwa ia ingin segera keluar dari tempat terkutuk ini...

Sampai rasanya tangannya digenggam seseorang. Rukia tak berani melihat, jadi ia memejamkan mata. Udara kembali berubah dingin, tapi dingin kali ini berbeda. Sesuatu terasa dingin di ujung jarinya, membuat Rukia berani untuk membuka mata. Ia bahkan tak berani melihat langsung, hanya pantulannya yang berani untuk diperhatikan Rukia.

Di sanalah ia. Sesosok wanita berkulit pucat, dengan rambut cokelat panjang bernoda hitam di sisi kanannya. Mengenakan pakaian kerja, ia menatap sendu dengan senyumnya yang dingin.

Orihime Inoue, gumam Rukia dalam hati.

Hantu Inoue—atau apa pun yang dilihat Rukia itu—agaknya bisa mendengar isi hati. Ia mengangguk.

Elevator itu berhenti di lantai tiga belas. Dentingannya membuyarkan perhatian Rukia, dan ketika ia berusaha melihat lagi, sosok itu telah menghilang.

Baiklah, ia tak tahu mengapa ia dipertemukan dengan sosok tadi, atau mengapa sosok tadi ingin bertemu, tapi keduanya sama-sama tak membantu, selain bahwa itu membuat Rukia sedikit punya waktu. Waktu yang sangat ia butuhkan untuk menelepon polisi.

Rukia melakukannya dengan cepat, karena setelah ia menutup telepon, langkah-langkah panjang bergema di belakangnya. "Aku terlambat, ya?"

Dari senyum jahatnya, Rukia tahu kalau ia telah menghabisi Rangiku. "A-aku sudah menelepon polisi," katanya. "Mereka akan tiba sebentar lagi. Dan kau akan tamat," ia mencoba mengancam.

Ichigo tertawa, sepertinya apa yang dikatakan Rukia itu sangat lucu. "'Kau akan tamat'? Woo... apa kau tak bisa memikirkan ancaman yang lebih... mengena, ketimbang itu?" ejeknya. "Dan selagi kau berpikir, bagaimana kalau kau merasakan sedikit kapakku ini?" Ia mulai mengayunkan kapaknya seperti orang gila.

Rukia berjengit, kemudian langsung berusaha menyingkir dari sana.

"Mau ke mana?" psikopat itu berteriak. "Kau juga akan mati, bajingan. Seperti mereka semua."

Sepertinya mengejar korban benar-benar jadi hal yang menyenangkan baginya. Dan dia menyebut Rukia bajingan. Seakan semua ini belum cukup... Ia tak mau mati konyol!

Rukia berusaha berbelok di koridor selatan, tapi bagian sana tampaknya sedang direnovasi. Sialan, umpatnya dalam hati. Kalau begitu, kenapa dia harus tersasar di lantai tiga belas?

Langkah-langkah kaki kembali terdengar di belakangnya. Ichigo berjalan pelan-pelan, senyum sumringah tak bisa dilepaskan dari wajahnya. "Kau tak tahu kalau aku sudah sangat familiar dengan daerah ini," katanya. "Lihat dirimu sekarang," ia mendekat lagi. "Kau tak ubahnya seperti tikus yang sudah terpojok, menunggu dihancurkan."

Semakin ia mendekat, tangan Rukia mulai meraba-raba dinding. Berharap mencari sesuatu yang bisa membuatnya bertahan hidup, apa saja! Kegelapan ini tampaknya begitu memudahkan bagi Ichigo, tapi begitu menyulitkan bagi dia.

Dan di detik Ichigo mengayunkan kapaknya, sepersekian detik sebelumnya Rukia telah mendapatkan sesuatu.

Sebuah pintu. Rukia membukanya, kemudian langsung masuk dan menguncinya dari dalam.

Di luar sana, Ichigo menyumpah. "Oh ayolah... buka pintunya, pelacur!"

Rukia mencoba tak mengindahkan apa pun yang dikatakan pria itu. "Di mana... di mana..."

Sebuah pantri. Dia ada di pantri lantai tiga belas.

Sesuatu menarik perhatian indra pendengarannya. Sirine polisi!

Rukia menyalakan dan mematikan lampu untuk menarik perhatian. Mereka harus tahu kalau ia ada di dalam ruangan ini!

Dari luar terdengar suara ribut-ribut, seperti sesuatu menghantam gagang pintu. Tidak. Ichigo sedang berusaha menghancurkan kunci dan mendobrak pintunya!

"Tolong!" Rukia berteriak, ketika kondisi ruangan sedang terang. "To... ARGH!" Ia terjengkang ke belakang, menghantam rak piring di sisi lain ruangan. Tampaknya Ichigo baru saja menarik kerah bajunya dan menghempasnya ke belakang.

"Kau mengajak main rupanya, heh?" ujarnya marah. "Kau ingin disiksa rupanya?" Ia langsung mematikan lampu, membuat mereka berdua tertelan keheningan dan kegelapan.

Rukia tak mencoba untuk berkata-kata. Sirine itu mendekat, tapi beberapa menit kemudian, bunyinya mulai terdengar menjauh. Tampaknya petugas yang ada dalam mobil itu tidak menyadari apa yang terjadi di lantai tiga belas, karena yang mereka perhatikan adalah lantai satunya.

Ichigo tertawa. "Kau menunggu polisi? Mereka tak akan datang," katanya sinis. "Aku tahu kau akan menelepon, jadi aku menyuruh Rangiku—yang baru saja aku habisi, kalau kau mau tahu—untuk menelepon polisi dan mengatakan bahwa kalau ada seseorang bernama Rukia Kuchiki menelepon, itu hanya lelucon." Ia tertawa lagi. "Kau berpikir dirimu begitu pintar, padahal sebenarnya kau tak lebih dari seorang imbisil..."

Apa yang dikatakannya, bagi Rukia, benar-benar menjijikkan. Tapi ia tak punya pilihan lain selain mengulur waktu...

"D-dari mana kau tahu namaku?" Rukia berusaha terdengar marah.

"Oh, dari sepotong telinga milik temanmu Matsumoto," Ichigo terkikik.

Rukia meludahi Ichigo. "Orang gila!"

Pria itu mengayunkan kapaknya. "Jangan meludah, bangsat!"

Kapaknya menyambar rak piring, menjadikan beberapa benda di atasnya hancur berkeping-keping. Untung saja Rukia bisa menghindar. Tapi ini belum selesai! Otaknya menganalisis cepat. Apa... apa yang bisa ia gunakan untuk menghabisi pria gila ini? Ia menjangkau benda pertama yang dapat dipegangnya di atas meja. Sebuah korek api.

Matanya menyisir ruangan itu lagi. Astaga, itu dia!

Rukia menelan ludahnya. Ini dia. Sangat nekat, tapi dia harus mempertaruhkan nyawanya sendiri untuk bisa selamat.

Keberuntungan kedua bagi wanita itu adalah bahwa ia sadar di waktu yang tepat. Ichigo mengayunkan kapaknya lagi. "Hah!" Rukia kembali menghindar. "Kau bodoh! Kau cuma bisa membunuh! Bahkan kau tak bisa berpikir!" ejeknya.

"Kurang ajar! Mati kau!" Pria itu kembali mengayunkan kapaknya. Kali ini, senjatanya mengenai sesuatu di atas meja dapur, dan benda itu mengeluarkan bunyi berdesis dan bau yang khas.

Yang baru saja dihantam Ichigo adalah sebuah kompor gas.

Kini semua ada di tangan Rukia. Posisi mereka sudah berbalik. Tangan Rukia menjangkau gagang pintu. Tak butuh waktu lama baginya untuk menyalakan korek api itu.

"Kini kau yang mati, Ichigo Kurosaki," kata Rukia dingin ketika ia melemparkan seluruh isi korek api yang telah ia bakar ke atas kompor yang bocor.

Ruangan itu pun meledak.

###

Tak ada hal lain yang bisa Rukia lakukan selain menangis. Bahkan usaha penenangan diri dari petugas ambulans tak berarti banyak. Apalagi dengan rasa nyeri akibat luka bakar yang ada di sekujur tubuhnya berkat ledakan itu.

"Sudahlah, Nona," kata-kata ini adalah yang terakhir didengarnya ketika masih sadar. "Semua sudah berakhir. Kau telah melakukan sesuatu yang tepat. Semua sudah berakhir."

Semua sudah berakhir...

Rukia membuka matanya yang berat. Bau antiseptik, warna serbaputih, dan suasana suram menyerbu panca inderanya. Anehnya, semua ini membuatnya sedikit nyaman. Sedikit memang, tapi ia sangat menghargai ini.

Seseorang di dekat mejanya memegang tangannya. Si perawat dengan rambut hijau. Seakan mengerti pandang bingung yang ada di wajah Rukia, ia menjelaskan, "Kau di rumah sakit."

Tentu saja. Tempat mana lagi yang punya situasi seperti ini?

Seperti prosedur pada umumnya, perawat itu memanggil tim dokter, dan mereka mulai memeriksa Rukia dari segala segi. Pemeriksaan itu berlangsung beberapa belas menit, dan perawat itu lagi-lagi membisikkan sesuatu di telinga Rukia setelah mereka selesai. "Kau akan baik-baik saja," katanya. "Kau cuma perlu istirahat. Aku akan menambah dosis obat tidurmu. Tidur nyenyak," katanya.

Ketika si perawat mengatakan itu, Rukia entah kenapa menjadi semakin mengantuk... sampai akhirnya ia terlelap di dalam mimpi.

Ini baru tidur yang sebenarnya. Tidur yang benar-benar tenang, ketika ia bisa bernapas sesuka hati, dengan bau antiseptik yang menenangkan, serta oksigen yang melimpah ruah khusus untuknya...

Rukia menarik napasnya sekali. Aneh, rasanya udaranya tak cukup. Ia menarik napas lagi. Tak ada yang ia hirup. Begitu terus, sampai napas Rukia berubah jadi ngos-ngosan dan pendek-pendek. Ada apa ini?

Rukia mulai terbatuk-batuk, tapi tak ada suara yang berhasil ia keluarkan. Jantungnya mulai berdetak kencang, protes karena tidak mendapat pasokan oksigen yang cukup. Apa yang terjadi?"

Secepat kilat, Rukia membuka matanya.

Sekitarnya gelap, ini sudah malam, tapi ia sadar, ada pergerakan di dekatnya.

Sesosok pria.

Pria itu sedang membungkuk sedikit di depan selang oksigen Rukia. Wanita itu mulai panik. Ia mencoba berkata-kata, tapi tanpa hasil. Napasnya mulai tiada, lehernya serasa tercekik. Ia mencoba menggerakkan tangannya, tapi sekujur tubuhnya serasa mati rasa. Siapa orang ini dan apa maunya?

Butuh beberapa menit bagi Rukia untuk sadar bahwa ia sedang dibunuh, sampai tiba-tiba saja pria itu berbalik dan mendekati Rukia. Tubuhnya tak terlihat dalam jaket dan topeng ski macam itu, tapi Rukia sadar dia mengenal pria ini dari aroma yang menguar dari tubuhnya.

Bau daging yang terbakar menggantikan oksigen yang masuk ke dalam paru-parunya. Sebuah aroma yang membuatnya tersiksa, pasti berasal dari pria ini.

Ichigo mengangkat sedikit topeng skinya untuk menyapa.

"Sayang, bukankah sudah kubilang kalau aku tak bisa mati?"

.

end.

2013.10.19


Catatan: Akhirnya selesai! Terima kasih banyak untuk dukungan semangatnya selama ini. Sampai jumpa di cerita selanjutnya!

Darries: Kalau update kilat, rasanya saya agak susah. Tapi saya akan berusaha menulis di kala saya sempat. Terima kasih banyak, ya.