24 Juli 1998 - Berita mengenai kasus pembunuhan ganjil yang terjadi di lingkungan sekitar Pegunungan Arklay sedang banyak dibicarakan. Mayat bergelimpangan di jalanan, sungai, bahkan sampai ke hutan. Tubuh mereka penuh bekas gigitan, terkoyak, bahkan ada organ dalam yang hilang. Ada kecurigaan bahwa kanibalistik merajalela di wilayah itu. Tim Bravo S.T.A.R.S. sudah berangkat menuju TKP kemarin atas perintah langsung Kapolda Brian Irons untuk menginvestigasi kasus mengerikan itu. Hingga kini belum ada kontak dari mereka.

Saat itu kami –Tim Alpha sedang rapat di ruang kerja lantai 2. Kapten Wesker -orangnya perfeksionis, menjengkelkan dan selalu pakai kacamata hitam, dasar sok keren- sibuk menerangkan strategi di papan tulis.

"Menurut perintah Kapolda, kita akan berangkat menyusul Tim Bravo tiga jam lagi, kecuali jika mereka mengontak kita dan memberikan sinyal situasi darurat maka kita akan langsung menuju TKP. Vickers, masih belum ada kontak dari Tim Bravo?"

"S..Siap Pak! Um.. maksudku Kapten Wesker! Belum ada kontak dari Tim Bravo!" Vickers menjawab dengan terbata-bata, dia memang mudah gugup, si Chicken itu. Wesker menggelengkan kepalanya.

"Nah, sesampainya di TKP, Frost, kau langsung hubungi Aiken. Tanyakan di mana para anggota Tim Bravo, mengapa dia tidak mengontak markas begitu mereka mendarat. Apakah perintahku cukup jelas, Frost?"

"Ya Kapten Wesker!" ujar Frost-orang yang tampangnya seperti rapper.

"Burton, apakah amunisi sudah siap?"

"Roger, Wesker." Jawab pria bertubuh bongsor dan berjanggut yang disebut Burton.

"Bagus. Redfield, pastikan tidak ada prosedur yang salah –" belum sempat Wesker menyelesaikan kalimatnya, radio komunikasi markas berbunyi. Ada yang mengontak markas.

BIP BIP BIP BIP

"Pasti itu Richard!" Seru seorang wanita berambut brunette yang bernama Jill Valentine.

"Vickers, aktifkan loudspeaker." Perintah Wesker.

Vickers mengangguk lalu menekan tombol berwarna merah.

"Aiken, di sini Wesker, Tim Alpha, ganti."

"Zztt….ar…ken...bzzz…vo.."

"Aiken, Bisa kau perjelas? Bagaimana situasi di sana?"

"Bzzz….na…zztt..ster….bzz…..ntuan..bzzzt"

Kesabaranku mulai menipis, pasti ada yang tidak beres. Tidak biasanya radio tersendat-sendat begini.

"RICHARD! ADA APA? BERITAHU KAMI, RICHARD?" Aku mulai berteriak di depan radio komunikasi, tak menghiraukan Brad Vickers yang sampai menutup telinganya.

"Bzzz…zzz…zztt…"

Suara Richard tidak terdengar lagi. Sunyi beberapa detik sampai Wesker akhirnya bersuara.

"Itu sinyal daruratnya. Vickers, siapkan helicopter. Kita berangkat sekarang."

sampai sini bagaimana ceritanya? baguskah atau ada yang masih kurang?

review please, kritik yang membangun akan sangat dihargai oleh author.