a/n: Update juga setelah berbulan-bulan, hehehe. Author sangat berterima kasih kepada pembaca dan mereka yang memberi review.
untuk 'Neko-Ai-Nyan': Terima kasih untuk reviewnya. Ya, dibalik otot kawat, sifat maskulin dan sorot mata tajam Chris, ada kesedihan mendalam. Author sangat yakin sampai saat ini dia masih berduka meski tidak memperlihatkannya.
untuk 'Guest reviewer': Terima kasih untuk reviewnya. Meski anda tidak menggnakan akun resmi FFn, usul anda sangat dihargai. Memang author sudah ada rencana untuk mengubah sudut pandang cerita. Ini adalah chapter terakhir yang menggunakan Chris' POV.
Without further ado, inilah lanjutan dari Tragedi 24 Juli. Check it out.
Perjalanan dari R.P.D. menuju Racoon Forest di sekitar Arklay Mountain dengan helikopter memakan waktu 20 menit, namun bagiku terasa berjam-jam. Sempat kulihat rekan-rekanku di sini. Bradley "Chickenheart" Vickers berkutat dengan kemudi, Joseph Frost terlihat tegang, Jill Valentine hanya menatap jendela, Albert Wesker tetap memasang poker face di balik kacamata hitamnya sementara Barry Burton memegang erat Colt Python favoritnya. Tidak ada yang berbicara, hening. Setidaknya sampai Jill tiba-tiba mengatakan sesuatu yang membuatku mengangkat alis.
"Wesker, Ada asap yang terlihat mencurigakan pada arah jam 2."
"Vickers, kita mendarat di dekat sumber asap itu. Minimal kita bisa berharap menemukan jejak mengenai keberadaan Tim Bravo, atau mungkin petunjuk untuk kasus pembunuhan di wilayah ini."
"Roger, Kapten Wesker."
Ya, tentu saja asap itu mencurigakan. Jelas itu bukan asap dari api unggun dan mustahil ada orang yang repot-repot membakar sampah di tengah hutan pegunungan ini. Jika kita tidak dapat petunjuk dari entah apa sumber asap ini, well, I'll be damned.
Begitu helicopter mendarat, aku, Jill, Barry, Joseph dan Wesker keluar dan menjejak rumput hutan. Selagi kami menuju sumber asap itu kami memutuskan hanya membawa Berreta dan kantung amunisi yang ada pada sabuk yang kami kenakan serta satu kaleng cairan P3K (dengan pengecualian Joseph membawa senapan Remmington dan Barry membawa Colt Python). Peralatan berat yang tiak efisien untuk dibawa seperti Rocket Launcher ditinggal di dalam helicopter. Untuk itulah Vickers tetap berada di dalam helicopter, jika terjadi apa-apa kami akan langsung kembali ke helicopter untuk menyusun rencana.
Betapa terkejutnya kami ketika sampai pada sumber asap. Kuakui, Wesker patut mendapat penghargaan dalam usaha mempertahankan poker face dan tetap memakai kacamata hitam di mana hari sudah gelap seperti ini. Helikopter yang digunakan Tim Bravo, mengalami kerusakan cukup parah. Mungkin mereka mengalami kecelakaan sewaktu mendarat. Yang mencurigakan adalah fakta bahwa tidak ada satupun Tim Bravo di dalam helicopter meski sebagian peralatan mereka masih tertinggal di sana.
Firasat buruk, pikirku. Jangan-jangan mereka… Tidak, Chris. Jangan. Aku menggelengkan kepala berusaha menjernihkan otak. Pikiran negative adalah pantangan terbesar dalam menyelesaikan misi.
"Kapten Wesker, aku masih belum bisa mengontak Richard Aiken." Joseph berkata.
"Seperti yang tadi kubilang, mungkin radionya mengalami kerusakan. Pasti ada sesuatu yang bisa kita temukan di sekitar sini. Kita berpencar, aku dan Valentine ke arah jam 3, Redfield, kau ke arah jam 6, Burton menuju arah jam 9 dan Frost mencari ke arah jam 12." Wesker terlihat tenang sekali, wajar saja kalau dia –meski menyebalkan –cukup menjanjikan sebagai kapten.
"Jika kalian mendapatkan sesuatu, segera beri tanda. Waspada setiap saat, apapun yang berpotensi mengancam keselamatan kalian, jangan ragu untuk melepaskan tembakan. Kita di sini menjalankan misi sebagai satuan khusus, sebagai anggota S.T.A.R.S. dan aku ingin komitmen penuh. Laksanakan."
"SIAP! LAKSANAKAN!" Kami serentak menjawab dengan lantang dan mulai melakukan pencarian.
Wesker mungkin sedikit paranoid, maksudku, memangnya ada perkumpulan maniak yang menunggu mangsa di sini, sehingga kita perlu memberondong mereka dengan timah panas? Yang benar saja.
Hei, aku merasa kita sedang diawasi. Aku menoleh ke kanan, ke kiri, lalu ke belakang, tidak melihat apapun yang mencurigakan. Hmm, mungkin hanya perasaanku saja. Aku sedang berusaha mencari barangkali ada jejak sepatu di antara rerumputan ketika suara Joseph terdengar.
"Hei! Di sini ada pistol yang terjatuh! Pasti milik salah satu anggota Tim Bravo!"
Aku menoleh ke arah Joseph setelah menyerah dalam upaya mencari jejak kaki manusia di balik rerumputan.
"Frost," Wesker menjawab tanpa menoleh kepada Joseph, "Anggota S.T.A.R.S. yang direkrut sudah melewati kriteria khusus, termasuk kompetensi dalam tugas. Mustahil mereka berbuat ceroboh seperti meninggalkan pistol."
"Tapi, ini benar-benar Berreta khusus milik S.T.A.R.S. aku yakin sekali."
"Joseph, coba angkat tinggi-tinggi pistol itu supaya kami bisa melihatnya." Barry berkata.
Joseph menggangguk lau memungut pistol itu, memperlihatkannya pada kami.
Meski hari sudah malam, kami bisa melihat dengan jelas apa yang ada di tangan Joseph. Yang dia pungut memang sebuah Berreta, tetapi ada sesuatu yang tak seharusnya ada di sana, yang tidak termasuk spare part pistol. Perutku bergejolak, berusaha keras untuk menahan diri supaya tidak muntah melihat pemandangan memuakkan itu. Potongan tangan manusia dengan darah yang mengering sedang menggenggam gagang pistol.
"UWWAAAAA!" Kudengar Joseph menjerit, wajar saja jika dia terkejut. Dan kini aku tahu siapa –atau apa yang sejak tadi terus mengawasi kami.
Anjing-anjing liar keluar dari persembunyian mereka mendengar jeritan Joseph–mereka bukan anjing liar biasa, kulit mereka berwarna merah gelap dengan moncong berlumuran darah dan ukuran mereka lebih besar dari Doberman, penampakan yang cukup untuk memberimu mimpi buruk selama seminggu penuh.
"Sialan!" Joseph menyiapkansenapannya, siap menembak.
"Semua, kita bantu Frost!" Suara Wesker menggelegar.
Sayangnya tidak semudah itu bagiku untuk membantu Joseph, karena anjing-anjing itu mulai menyerangku juga. Aku menarik pelatuk pistolku, melubangi kepala setiap anjing yang mencoba dekat-dekat denganku. Kulihat Joseph menumbangkan tiga anjing dengan senapan yang dia bawa. Begitu Jill sampai ke tempat Joseph berada, kupikir situasi akan membaik.
Aku salah. Joseph justru terkena serangan fatal. Dia menjerit kesakitan, cukup untuk membuat ciut nyali orang biasa.
Aku dan Jill berusaha membantu, kami menembaki anjing-anjing yang menyerang Joseph. Tetapi jumlah amunisi kami tidak sebanding dengan banyaknya 'anjing jadi-jadian' yang ada di hutan terkutuk ini.
"JOOSEEEPPHH!" Suara Jill terdengar sangat menyayat. Joseph Frost sudah tiada, terkena gigitan fatal di bagian leher, tenggorokannya sobek dan darah mengalir deras dari kaki kanannya.
AKu mendengar sesuatu, seperti bunyi baling-baling. Bunyi baling-baling helicopter ini rasanya – wait a second, jangan bilang kalau Chicken itu gemetar ketakutan mendengar jeritan Joseph.
"TIDAK! TUNGGU, VICKERS! JANGAN PERGI!" Sia-sia saja aku berteriak, Brad Vickers sudah lepas landas, kabur dengan helicopter dengan sebagian persediaan kami masih di dalam sana, meninggalkan kami di hutan ini.
"FUCKING CHICKENSHIT!" Aku berteriak frustrasi.
Habislah sudah. Kami terdampar di tengah hutan bersama 'anjing-anjing gila' dan entah makhluk apa lagi yang mungkin berkeliaran di sini. Tidak ada tanda-tanda mengenai keberadaan Tim Bravo selain pistol yang dipungut almarhum Joseph. Tak ada harapan, setidaknya begitu menurutku. Tetapi Wesker berpendapat lain.
"Burton, Redfield, Valentine, ada sebuah mansion di arah jam 5 dari jasad Frost. Aku ingin supaya kita terus berlari sampai kita ada di mansion itu. Anjing-anjing itu terlalu banyak untuk kita lawan. Kita berlindung di sana untuk sementara waktu."
"Aku jadi ingin merokok." Kataku lemas, moodku benar-benar rusak.
"Lakukan itu setelah misi kita selesai." Wesker berkata datar. Aku hanya mendengus gusar.
"Kita berlari sekarang! Menuju mansion!" Barry berkata lantang, diikuti derap suara kaki kami yang berlari sekencang mungkin menuju tempat aman –atau tempat yang kami pikir bebas dari bahaya.
Setelah berlari gila-gilaan, kami akhirnya tiba di dalam mansion yang dibangun di tengah hutan ini. Seharusnya aku heran, orang macam apa yang mau mendirikan mansion di tengah hutan yang banyak makhluk biadab berkeliaran? Namun ada hal yang lebih penting. Aku, Jill, Wesker dan Barry untuk sementara waktu aman dari anjing jadi-jadian itu. Tunggu dulu, aku tidak melihat sosok bongsor dengan rompi merah dan berjanggut.
"Kita terpisah dari Barry." Bagiku perkataan Jill ini adalah sebuah pernyataan, bukan pertanyaan.
"Kita tidak boleh menyerah," aku berkata lebih kepada diriku sendiri daripada rekanku, "Belum ada kepastian Barry tewas atau tidak. Dia pasti segera menyusul."
DOORRR!
Bunyi letupan pistol membuatku tersentak.
"Siapa di sana!"
"Redfield, pergilah ke arah sumber suara pistol tadi," Wesker memberiku perintah. "Cari tahu apa yang terjadi di sana. Mungkin ada petunjuk mengenai Tim Bravo. Valentine, kau lakukan investigasi di ruangan sebelah timur. Aku berjaga-jaga di sini, laporkan setiap hal yang tidak wajar padaku."
"Roger."
Saat ini aku berada di suatu ruangan dengan pola papan catur di lantainya, detik jam klasik terdengar jelas di sini. (a/n: Hayo, yang tidak tau tentang Grandfather Clock misterius ini, mendingan pensiun aja dari fans RE :p. hehe.)
Aku tidak suka suasana ini, sunyi, misterius. Aku membuka pintu di sudut ruangan. Siapa yang menduga kalau aku akan disambut oleh pemandangan yang kupikir hanya ada dicerita horror?
Aku memang pernah menonton film mengenai kanibal yang mengoyak daging manusia. But this is different! Di depan mataku sendiri, orang aneh –yang sepertinya kanibal -menggigit leher mayat manusia di dekatnya sampai putus lalu memakan dagingnya. Darah membasahi lantai dan bau busuk menyengat hidungku. Ini jauh lebih parah daripada kematian Joseph.
Kanibal ini menoleh. Kanibal ini menyadari keberadaanku. Bukan kanibal biasa, kulit wajahnya pucat dan berkerut, seperti hamper terkelupas. Tatapannya kosong. Dia bermaksud menyerangku. Aku tak punya pilihan. Aku mengokang pistol dan mengarahkan moncongnya pada pemakan manusia ini.
"Di sini polisi! Kau ditangkap atas tindakan kanibalisme! Angkat tangan, tetap di tempatmu atau aku harus menembakmu!" Aku tak tahu jika dia mengerti perkataanku. Kanibal ini hanya mengeluarkan suara erangan tertahan dan tangannya ke depan berusaha menggapaiku. Aku menganggapnya sebagai tindakan perlawanan. Aku menembak tempurung lututnya. Jika dia manusia, seharusnya dia terjatuh menjerit kesakitan, tetapi dengan terpincang-pincang kanibal ini tetap menuju ke arahku. Mustahil. Mustahil zombie itu ada.
"Shit!" Tanpa pikir panjang aku melubangi kepalanya. Ini gila, pikirku.
Zombie, mustahil. Mayat yang ada di ruangan ini ternyata Kenneth Sullivan dari Tim Bravo. AKu memejamkan mata almarhum Ken dan mengambil amunisi yang ada padanya. Harus melapor, Wesker harus tahu kegilaan ini.
Begitu aku sampai di ruangan utama aku tidak melihat Wesker. Dia seharusnya berjaga di sini.
"WESKER! JILL!" Aku berteriak, berusaha memanggil. "BARRY! JIKA KALIAN DENGAR SUARAKU, BERI JAWABAN! WESKER!" Percuma. Sekarang aku benar-benar sendirian di mansion yang entah ada berapa banyak zombie. Tunggu, masih ada Tim Bravo lain yang mungkin ada di sini. Masih ada harapan. Berjuanglah Chris!
Sudah kuputuskan untuk menginvestigasi lantai dua dulu. Lebih banyak zombie berkeliaran, aku tidak mau harus menghamburkan peluru di sini. Zombie itu lamban, mudah lolos dari mereka jika bisa aku berlari cepat.
(a/n: Mulai chapter berikutnya, cerita ini akan menggunakan sudut pandang orang ketiga serba tahu.)
