ROBIN HOOD MENCURI CINTA

Author : Kiela Yue

Cast : Luhan, Baekhyun, Sehun, Kai Kris and the rest of EXO

Chapter : 3/?

Disclaimer : FF ini punya saya. Dan EXO milik EXOtics. XD lalu Luhan milik saya.

.

.

DLDR!

.

Ahem, buat yang masih dibawah umur tapi tetap pengen baca ff ni, silakan Tutup mata aja, tapi jarinya ga usah dirapatin. XD Kalo ga, tutup mata pake kaca pembesar. Hohoho~

.

.

.

Summary : Robin Hood adalah pencuri baik hati yang mencuri dari orang kaya dan membagikannya pada orang miskin. Bagaimana jika Robin Hood nya terdiri dari kumpulan namja – namja mesum?

.

.

.

Chapter 3

Ruangan yang biasanya digunakan untuk rapat kini dipenuhi kantong – kantong kecil yang telah berisi bahan makanan dan uang. Dua orang namja yang berada didalam terlihat begitu serius dengan pekerjaannya tanpa mempedulikan matahari yang mulai menuju peraduannya. Keringat yang mengucur dari pelipis mereka abaikan.

"Kapan kita membagikannya?"

Kris menoleh sebentar, lalu kembali menghitung kantong – kantong itu. "Tentu saja malam ini. Lalu kapan lagi?"

"Bukannya aku tidak mau. Tapi bukankah besok cafe harus buka? Aku tidak ingin dicurigai. Masa cafe ini selalu tutup setiap kali terjadi kasus pencurian dirumah bangsawan."

"Siapa yang mau tutup? Besok tetap buka kok."

"Tapi kita belum belanja. Baekhyun tidak bisa diharapkan dan Luhan kasihan kalau harus belanja sendiri ke kota."

"Itu salahmu yang membuat Baekhyun seperti itu."

Kai menghela nafas pelan. "Iya iyaa... ngomong – ngomong Sehun mana? Kalau hanya berdua, apa tidak kesusahan membagikannya dimalam hari saat semua orang tertidur?"

"Aduh!" Kris menepuk jidatnya. "Katanya dia mau kembali kerumahnya dan kembali besok sore. Ck, sepertinya besok kita memang harus tutup dan kita berangkat ke desa Fuu besok malam saja. Sekarang kita lebih baik istirahat."

Kai tersenyum mendengar saran Kris. Dari tadi itulah yang ingin ia dengar. Ia pun keluar dengan penuh semangat diikuti Kris dan mengunci pintu kayu itu.

.

Keesokan harinya saat Sehun kembali, mereka berempat minus Bekhyun langsung bersiap – siap untuk membagikan hasil rampasan mereka. Sehun menghela nafas pelan.

"Ada apa?" tanya Kris.

"Dikota tersebar kabar kalau Robin Hood mulai menunjukkan niat aslinya."

"Maksudmu?" Luhan menghentikan kegiatannya dan memandangi Sehun. Tapi ia cepat – cepat memalingkan wajah karena tidak sanggup berhadapan dengan mata itu. Darahnya terasa berdesir aneh.

"Karena kita belum membagikannya, prajurit menyebar berita kalau kita mencuri untuk kepentingan sendiri. Selama ini berbuat baik hanya untuk mendapat simpati rakyat saja. Padahal kita hanya terlambat satu hari kan?"

Kris memandangi Kai seperti ingin memakan namja itu bulat – bulat. Kai hanya nyengir gaje dan memasang senyuman konyol. "Sudahlah. Pokoknya malam ini kita bagikan agar mereka tahu kalau kita tidak menginginkan barang hasil curian. Lagian kita mengambil harta Sungmin dan membagikannya ke daerah kekuasaannya yang miskin. Cukup adil kan?"

Sehun mengangguk.

"Kita berangkat sekarang!"

Kai, Sehun dan Luhan pun mengikuti Kris. Mereka berjalan tanpa banyak bicara dan membiarkan suara derap kaki kuda yang mendominasi. Apalagi karena malam mulai menjelang dan cuaca semakin gelap. Mereka pasti bisa membagikannya malam ini tanpa ada halangan.

.

Setelah kejadian keterlambatan itu dan penduduk sempat curiga pada Robin Hood, keadaan kembali normal karena keesokan harinya ditemui kantong – kantong kecil disetiap rumah yang ada di desa Fuu. Prajurit yang menyebar berita sangat kesal. Bagaimanapun mereka mencari, tetap saja sosok yang mengaku pencuri baik itu tidak kelihatan. Gerakannya sangat cepat seperti kilat dan langsung hilang begitu saja.

"Aku yakin pelakunya bukan hanya satu orang saja," ujar seorang yang menjadi komandan pasukan. Sedangkan prajurit lainnya mengangguk.

"Benar, Suho. Sekuat apapun, dia tidak mungkin membawa barang sebanyak itu dalam satu malam saja. Pasti ada yang membantunya."

"Satu lagi," Suho menambahkan. "Pasti ada orang lain atau orang dari golongan bangsawan yang membantu mereka. Mereka tahu persis denah rumah yang mereka curi dan tahu tempat penyimpanannya. Pencuri murahan tidak akan pernah tahu itu. Jadi.. sekarang kita kembali lagi ke rumah Sungmin. Mungkin korban yang pingsan kemarin sudah sadar."

"Siap!" para bawahannya menghormat patuh.

.

Tidak perlu menunggu lama, mereka sudah sampai dirumah yang dituju. Prajurit yang sudah sadar ditanyai berbagai macam oleh Suho dan teman - temannya. Namja itu menjelaskan dengan detail wajah pencuri yang ia ingat ada dua orang. Yang satu berwajah kecil dan yang satu lagi memiliki garis rahang yang tegas walau wajahnya tidak terlihat karena ditutupi hingga hidung. Si pria berwajah mungil memiliki mata yang cantik dan rambut berantakan serta berbau aneh. Sedangkan pria yang satu lagi memiliki bentuk mata yang aneh, ujungnya sedikit naik. Hidungnya tidak terlalu mancung dan kulitnya tidak putih, bahkan bisa dibilang coklat. Suho dan yang lainnya mengangguk – angguk ayam mendengarkan cerita penjaga itu yang terlihat sangat yakin dengan apa yang ia lihat.

Seorang pria yang jago melukis mendengarkan dengan penuh seksama setiap detail bentuk wajah yang ia dengar dan menggambarkannya diatas kain kasar dengan tinta hitam. Keningnya berkerut pertanda ia tengah serius dan fokus pada pekerjaannya.

"Selesai!" pelukis itu menunjukkan hasil karyanya pada mereka yang ada disana. Wajah orang yang melihatnya cukup puas karena hasil gambarnya cukup manusiawi. Masih enak untuk dipandang.

Suho tersenyum dan mengambil dua buah sket wajah yang terpampang di depannya. "Bagus. Sekarang aku akan pergi ke kota Andorra untuk memajangnya. Tapi sebelumnya, bisakah kamu memperbanyaknya, tuan Chen?"

Chen mengangguk antusias. Apalagi saat Suho menyodorkan sekantong uang padanya.

.

.

Luhan menguap lebar saat bangun tidur dan langsung melahap susu yang ada diatas meja. Ia tahu susu itu untuknya karena ada tulisan 'Luhan' digelasnya. Kebiasaan mereka untuk menamai gelas yang biasa mereka pakai.

"Tidurmu nyenyak?" tanya Kai. Ia tengah membuatkan sarapan dan memakai apron bunga - bunga. Luhan hampir tersedak.

"Kai! Jangan membuatku kaget. Kenapa apronmu seperti itu?"

"Oh ini? Ini punya Baekhyun, kupinjam. Habisnya punyaku dicuci. Memangnya kenapa?"

"Tidak ada," jawab Luhan cepat. Walau dalam hati ia ingin menertawakan Kai karena terlihat feminim, tapi ia tahankan saja. Takut kalau Kai hilang akal dan akan menerkamnya.

"Kalau sudah selesai cepat mandi. Hari ini jadwal kita untuk belanja ke kota."

Luhan mengangguk. Ia menghabiskan susunya dan mengambil sepotong roti lagi. "Itu untuk siapa?" Luhan menunjuk piring ditangan Kai.

"Untuk Baekhyun."

Luhan hanya mengangguk. Tapi rasanya kali ini Baekhyun sedang bertingkah. Sudah tiga hari sejak Kai menyerangnya tapi namja itu tetap terbaring dan beralasan tubuhnya masih sakit? Huh! Pasti dia bermalas – malasan dan berusaha untuk menghindar. Tapi biarlah, toh dibanding Baekhyun Luhan lebih sering mengakali teman – temannya. Hahahaaa..

.

Daripada melayani pelanggan di cafe dan berada diruangan tertutup, Luhan lebih senang berbelanja seperti sekarang. Menghirup udara luar yang jauh lebih segar selama perjalanan. Apalagi saat tiba di kota dan melihat keramaian yang tetap, Luhan merasa seperti hidup kembali dari rutinitas yang membosankan. Sialnya, mereka hanya belanja setiap sekali dua hari. Ia sendiri heran kenapa Kris mau repot – repot jadi pencuri padahal uangnya dari cafe sudah lebih dari cukup. Ia bahkan tahu kalau Kris sering menabung seperti yang ia lakukan. Tapi karena niat Kris tulus ia menikmatinya saja.

"Aww.." karena melamun, Luhan tidak sadar sudah menabrak seorang namja berseragam prajurit. Luhan cepat – cepat menunduk dan minta maaf. Biasanya prajurit sangat sombong dan tidak segan memarahi atau memaki orang yang menabrak mereka. Tapi yang ini berbeda. Namja itu malah menunduk dan bertanya apa Luhan baik – baik saja.

"Eoh?" Luhan membulatkan matanya kaget.

Namja itu tersenyum manis.

"A.. aku baik – baik saja, tuan.."

"Baguslah. Tadinya kupikir kamu terluka. Kalau begitu aku pergi, jaga dirimu ya, namja manis."

Kai yang sedari tadi memilih untuk memperhatikan dari jauh merasa heran kenapa Luhan tetap memandangi namja yang telah pergi itu. Apa mungkin Luhan terpesona? Tidak tidak. Itu tidak benar.

"Kau kenapa?" Kai tidak tahan untuk tidak bertanya.

"Itu.. andai semua bangsawan dan prajurit sebaik dia, pasti Aria ini akan nyaman."

Kai hanya manggut – manggut. Luhan terlalu gampang terpesona. "Sudahlah. Sebaiknya kita cepat. Aku tidak ingin melihat Kris marah karena nafasnya sangat bau."

Luhan mengangguk dan mereka kembali berjalan. Kali ini Kai menggenggam tangan Luhan dengan erat. Ia tidak ingin Luhan terjatuh lagi seperti tadi. Sedangkan Luhan merasa senang Kai perhatian padanya. Namja yang pertama kali menyelamatkan hidupnya.

Setiap kali berbelanja, Luhan selalu menyempatkan diri untuk melihat – lihat baju atau kain yang bagus. Walau ia melakukannya dengan diam – diam, Kai tetap bisa melihatnya.

"Kalau ingin, beli saja. Jangan tahan seleramu, Luhan."

"Tii.. tidak." Luhan menggelengkan kepalanya. Ia malu kepergok. Luhan cukup tahu diri untuk tidak membeli yang aneh – aneh. Ia sudah cukup berterima kasih ada yang menerimanya dan memiliki tempat untuk berteduh.

Kai mengeratkan pegangannya dan menautkan jari mereka. "Aku tahu kamu menginginkannya. Setelah sekian lama bersama, aku tidak menyangka kamu masih menganggapku dan Kris sebagai orang asing. Bukankah kamu punya cukup uang?"

"Aku menabungnya."

"Kalau begitu aku akan membelikanmu!"

"Tidak usah! Aku tidak menginginkannya, sungguh!"

Luhan hanya pasrah saja saat Kai mengajaknya masuk ke sebuah toko dan menyuruh Luhan untuk memilih. Saat ia menolak, Kai mengancam akan mencumbunya saat itu juga. Mau tidak mau Luhan terpaksa memilih dan Kai membayarnya dengan uangnya sendiri.

"Terima kasih..."

"Sama – sama..." ujar Kai sambil tersenyum. Luhan yang tadinya menunduk mengangkat kepalanya dan membalas senyuman Kai. Mereka berpandangan untuk beberapa saat hingga akhirnya Kai memutuskan untuk menghapus jarak diantara mereka dan mencium bibir Luhan lembut. Kai tidak tahu kenapa ia sangat menyayangi Luhan seperti ini. Walau Luhan lebih tua darinya, ia tetap merasa kalau ia lah yang seharusnya melindungi Luhan, bukan seballiknya.

"Ekhem!" sebuah suara- yang ternyata suara pemilik toko menghentikan kegiatan mereka. Wajah Luhan memerah dan Kai menggaruk tengkuknya.

"Maaf paman. Bisa mengambil baju satu potong lagi? Sama dengan yang tadi tapi warnanya beda."

Paman bertubuh tambun itu menggerutu pelan. Niatnya untuk memarahi dua orang namja yang tidak sopan ia batalkan karena namja itu menambah belanjaanya.

"Untuk Baekhyun," Kai menjawab pandangan Luhan yang penuh pertanyaan dan Luhan mengangguk pelan.

Setelah itu mereka kembali melanjutkan acara belanja yang sesungguhnya. Meski kakinya terasa pegal karena bolak – balik sambil membawa karung, Luhan merasa senang. Keramaian ini membuat perasaannya hidup. Saat perjalanan pulang, ia heran melihat banyak sekali orang yang berkumpul dipersimpangan jalan. Sebenarnya Kai ingin menolak permintaan Luhan untuk melihat apa yang terjadi, tapi melihat Luhan yang antusias, ia tidak tega. Mereka pun merubah arah.

"SKETSA WAJAH PENCURI JAHAT YANG MENGAKU SEBAGAI ROBIN HOOD!"

Kai dan Luhan berpandangan saat melihat judul yang ditulis dengan huruf yang besar. Mereka pun mulai menerobos untuk melihatnya dengan lebih jelas. Saat dua buah sket wajah terpampang di depannya, Luhan tidak bisa tidak tertawa.

"BUAHAHAHAAA... Asta ha ga... HHAHAHAAAAAA" Luhan sampai memegangi perutnya karena sakit. Sedangkan Kai memberengut. Orang – orang yang disana memilih untuk menjauh karena mereka mengira Luhan orang gila dilihat dari caranya tertawa.

"Hentikan tertawamu, Luhan!"

"Ti.. tidak.. itu sangaat lucu... huahhaaaaa..."

Kai memillih diam. Bagaimana mungkin ia tidak kesal saat melihat sket yang disebut sebagai wajah kelompok Robin Hood? Kai yakin itu sket wajahnya walau perbandingan dengan yang aslinya bagaikan langit dan bumi. Wajar saja Luhan tertawa sampai berguling – guling seperti itu. Wajah pencuri yang digambar benar – benar jelek. Mata Kai terlihat seperti mata musang, bentuk wajahnya hancur total seperti habis ditendang kuda. Belum lagi rambutnya yang acak – acakan seperti padang rumput. Huh! Apa mata yang jadi saksi rusak total?

"Kai.. aku kasihan padamu. Menurutku kamu lumayan tamvan, tapi kenapa yang digambar malah jadi seperti itu? Hahaha... "

"Itu bukan aku!" bentak Kai tidak terima. Ia makin kesal karena sket gambar wajah Baekhyun terlihat lebih lumayan walau agak berlebihan. Mungkin orang yang melihat sosok mereka mengatakan Baekhyun cantik, jadi disitu terlihat kalau bulu mata Baekhyun sangat panjang dan tidak punya jakun. Persis wanita.

"Jadi, itu wajahmu ya?"

Seorang prajurit yang wajahnya tidak asing bagi Luhan mendekati mereka dengan senyumannya yang aneh. Manis tapi tidak tulus. Namja itu juga mulai mengeluarkan pedangnya. "Bagaimana kalau kalian ikut saja dengan kami sekarang?"

Luhan beringsut mundur dan tanpa menunggu aba – aba mereka langsung berlari. Namja itu dan teman – temannya ikutan mengejar. Kai tertinggal karena kakinya tersandung. Saat Luhan hendak menolongnya, prajurit itu sudah menangkap Kai dan dengan sangat menyesal ia berlari sendirian. Karena ia memang sangat cepat berlari, ia bisa lolos dengan mudah. Meski demikian ia tetap berusaha untuk mengingat wajah prajurit yang tadi.

.

Kris terus mondar mandir karena dari tadi Kai dan Luhan belum juga menampakkan batang hidungnya. Padahal mereka hanya berbelanja untuk bahan – bahan café. Jangan katakan Kai menghabisi Luhan disana. Aishh… terkadang Kris heran kenapa kemesuman Kai sangat akut seperti itu.

Tiba – tiba saja ia melihat Baekhyun yang berjalan dengan santai sambil bersenandung ria. Kris mengerutkan keningnya. Seingatnya Baekhyun mengaku sakit karena kelakuan Kai, tapi sekarang kok terlihat biasa saja? Ia pun mendekati namja cantik itu.

"Hey Baekhyun! Kamu tidak sakit lagi?"

Baekhyun nyengir. "Hehehe.. udah sembuh sih. Kemarin itu Sehun datang sambil membawakan obat."

"Obat apa?"

"Tidak tahu. Katanya untuk lecet. Saat dioleskan, bagian bawahku yang sakit langsung sembuh dalam waktu sehari. Benar – benar obat mujarab. Hanya saja... aku sedikit menyesal kenapa tidak memaksa Sehun yang mengoleskannya sendiri."

"Maksudmu?"

"Begini looh~" Baekhyun mulai menjelaskan. "Sehun tau aku sakit dan dia membawa obat. Tapi dia tidak mau mengoleskannya karena itu area pribadi. Jadi dia menyuruh Luhan. Dan entah kenapa Luhan bodoh itu mau saja. Padahal kan aku ingin melihat bagaimana reaksi Sehun saat melihat hole ku yang sexy. Dan anehnya, dia langsung keluar saat Luhan membuka celanaku dengan wajah yang memerah. Hahahaa…"

"Kamu berniat menggodanya?" Tanya Kris sambil mendekati Baekhyun. Ia langsung merangkul pinggang ramping Baekhyun dan memasukkan tangannya kedalam kaos yang ia kenakan.

Baekhyun yang mengerti menggerakkan pinggulnya hingga junior mereka yang masih terbalut celana bergesekan. "Tentu saja hh. Bukankah kamu tahu aku senang menggoda namja – namja tamvan? Seperti sekarang?" Baekhyun menggigit bibir bawahnya sensual.

Kris memasang senyuman mautnya sebelum akhirnya menciumi namja gatel itu dengan ganas. Bibir Baekhyun yang manis terus ia sesapi dengan semangat. Lidahnya yang memang sudah terlatih dengan cepat menemukan jalan untuk masuk kedalam mulut Baekhyun dan mengabsen isinya. Baekhyun tidak bisa berbuat banyak, ia hanya mengikuti irama permainan Kris yang setiap saat semakin lihai.

"Ng..hh Kris." Baekhyun mendesah saat ia merasakan lidah Kris yang kini sudah bermain di juniornya dan menyesapinya dengan nikmat. Kakinya bergerak – gerak tidak nyaman menerima rangsangan yang membuatnya melayang. Seingatnya tadi mereka memulainya diruang tengah, tapi sekarang sudah berada diatas tempat tidur Kris. Pakaian yang mereka kenakan sudah tanggal seluruhnya dan berserakan disepanjang jalan.

"Ouh…" hisapan Kris pada benda keramat miliknya membuat Baekhyun tidak berhenti mendesah. Rambut Kris ia genggam dengan kuat. Pandangannya mulai tidak fokus saat jari panjang Kris mulai menggoda hole nya. Oh tidak. Perasaan yang familiar ini mulai menghampiri Baekhyun. Perutnya serasa dililit tapi tidak sakit. Rasanya seperti menantikan hal begitu memuaskan.

Kris tersenyum senang saat Baekhyun akhirnya mengeluarkan seluruh hasratnya. Ia menelannya dengan senang hati. Kapanpun, rasa dan aroma sperm Baekhyun memang selalu terasa nikmat.

Dada Baekhyun naik turun dengan cepat pertanda ia sedang berusaha untuk mengambil nafas. Tapi hal itu tidak berlangsung lama karena Kris sudah mendudukkannya. Kris berdiri didepannya dengan bertumpu pada lutut. Juniornya ia arahkan pada bibir Baekhyun.

"Sekarang giliranmu~"

Baekhyun menjilat bibirnya sebelum akhirnya lidahnya berpindah pada ujung benda tumpul panjang yang terlihat sangat menginginkannya. Kepalanya bergerak maju mundur karena ia berusaha untuk memasukkan seluruh benda itu kedalam mulutnya, walau itu sedikit mustahil. Kris menggeram karena ia merasakan juniornya yang begitu dimanja. Kepalanya mendongak keatas, mulutnya terbuka lebar sambil mengucapkan kata – kata penyemangat bagi Baekhyun.

"Sudah cukup sayang~" Kris menarik miliknya dari mulut Baekhyun. Baekhyun mengerucutkan bibirnya karena ia masih ingin bermain.

"Jangan cemberut. Aku hanya ingin secepatnya memasukimu."

Baekhyun tersenyum lebar. Ia kembali berbaring dan membuka kakinya lebar – lebar. Hole sempitnya terlihat sangat menggoda. Kris mulai memposisikan juniornya tepat didepan lubang kenikmatan Baekhyun. Ia sudah sangat siap sekarang.

"KRIIIS… BAEKHYUUUUUUUUUUUUUN!"

Bagaimanapun bentuknya, Kris tidak pernah menyukai teriakan, ia lebih suka mendengar desahan. Apalagi jika teriakan itu mengganggu kesenangannya.

Baekhyun yang melihat kemunculan luhan sama sekali tidak menghiraukannya.

"YAK! KALIAN BERDUA CEPAT HENTIKAAAAAAAAN! KAI TERTANGKAP!"

Baekhyun langsung terbangun dan menjauh dari Kris.

"Maksudmu?"

"Dia tertangkap! Tadi ada sketsa wajah Robin Hood yang disebar dikota!"

"Apa? Mereka menyebar selebaran sketsa wajah Robin Hood di Kota?" Kali ini Baekhyun yang berteriak. Cepat – cepat ia memunguti pakaiannya. Ia panik. Pasti karena malam itu.

"Yak yakkk! Kau mau kemana? Selesaikan ini dulu!" Kris berteriak frustasi. Tapi yang menyahutinya hanya suara pintu yang ditutup dengan keras.

Kris mengumpat karena ia belum selesai. Meski ia khawatir dengan keadaan Kai, tapi ia lebih khawatir pada keadaan adik kecilnya. Dengan amat sangat terpaksa, ia harus melakukannya sendirian.

.

"Jadi.. bisa kau ceritakan bagaimana detilnya?" Tanya Kris dengan wajah masam.

Luhan pun menceritakan semuanya. Matanya berkaca – kaca karena Kai seperti itu akibat kesalahannya. Apalagi baju yang dibelikan Kai untuknya dan Baekhyun entah dimana sekarang. Kris yang ingin marah menghela nafas. Ia tidak tega melihat Luhan seperti itu. Kris tahu dengan jelas bagaimana perasaan Luhan pada Kai, karena Kai lah yang dulunya menyelamatkan hidup Luhan.

"Sudah jangan takut. Kamu seperti tidak mengenalnya saja. Dia namja yang hebat dan bisa diandalkan. Aku yakin itu."

"Kai tenang? Dari sisi mananya?" omel Baekhyun.

"Jangan hanya melihat Kai dari sisi mesumnya. Dia pasti kembali. Kalau mau kamu boleh taruhan denganku."

Baekhyun masih ingin mengomel, tapi tidak jadi karena Kris sudah meninggakannya dengan Luhan yang menunduk sambil menggigit bibirnya. Bahunya bergetar pertanda ia mulai menangis.

"Sudahlah.. dia pasti baik – baik saja. Meski aku tidak tahu bagaimana caranya meloloskan diri, tapi aku percaya pada kata – kata Kris. Jangan khawatir, ne? Wajahmu jelek sekali kalau menangis. Tapi aku senang sih, nantinya tidak ada lagi om om mesum yang mengajakmu kencan dan aku akan menang taruhan."

Meski kalimat Baekhyun aneh, Luhan berusaha untuk tersenyum. Setidaknya ia tidak ingin membuat temannya khawatir padanya.

.

Sementara itu, Kai mendekam disebuah ruang tertutup dan diinterogasi oleh namja bernama Suho dan teman – temannya yang lain.

"Jadi, apa maksud temanmu yang mengatakan kalau kamu adalah Robin Hood yang ada di gambar itu?"

Kai menjilat bibirnya. Entah sudah berapa kali pertanyaan itu diulang.

"Aku sudah bilang dia bercanda. Dia itu keterlaluan kalau menghina orang lain. Dan lagi aku tamvan lalu orang yang ada di gambar itu jelek sekali. Aku yakin anak kecil akan menangis kalau gambar itu ditunjukkan padanya."

"Lalu, kenapa kalian melarikan diri?"

Sebuah smirk terpampang dibibir Kai. "Nah, itu dia. Harusnya anda semua tahu kalau rakyat jelata seperti kami sangat takut pada prajurit. Apalagi kalau sampai membuat mereka marah. Seperti sekarang, aku mendekam disini dan bahan belanjaanku berserakan. Mungkin aku akan dipecat bosku. Aduuh~" Kai memasang wajah memelas.

Suho menghela nafas pelan. "Memangnya kamu bekerja dimana?"

"Saya bekerja disebuah café yang ada dipinggiran kota. Yang melarikan diri itu temanku. Dia lari karena waktu kecil dia melihat orangtuanya dibunuh dengan pedang. Makanya dia berlari saat melihat benda tajam. Dia hanya menyukai benda yang tumpul. Lalu bosku orangnya sangat galak dan senang memukul. Kalau dia tahu belanjaanku hancur, mungkin aku harus mempersiapkan diri untuk dipecat."

Kali ini Suho terdiam. Ia sedikit kasihan pada Kai. Sepertinya namja ini memang berkata jujur. Ditubuhnya atau didalam karung yang mereka bawa tidak ditemukan benda mencurigakan. Meski hatinya tidak tenang, kali ini ia membiarkan Kai untuk pulang.

"Terima kasih, tuan. Semoga anda dan orang terkasih anda panjang umur." Kai membungkuk lama sambil mengambil kembali dua buah karung yang disodorkan prajurit itu padanya. Ia sama sekali tidak menduga prajurit itu gampang dibohongi. Mungkin mereka tidak pernah menonton drama makanya tidak tahu kalau Kai hanya berakting saja. Kai sadar kalau namja bernama Suho masih mengawasinya dan menyuruh seseorang untuk mengikutinya dari belakang. Menyusahkan saja.

.

Setelah cukup lama, akhirnya Kai tiba di depan EXO café. Pemandangan pertama yang menyambutnya adalah Luhan yang menangis dan langsung berlari memeluknya.

"Kai.. hiks.. kupikir kita tidak akan bertemu lagi."

Kai mengangkat sebelah alisnya. Ia seperti baru kembali dari medan perang. Masa sih Luhan lupa pada kemampuan aktingnya yang bagus banget?

"Hei! Apa – apaan ini? kamu jangan menangis. Wajahmu jelek seperti kakek – kakek reot."

Luhan menjauhkan wajahnya. Ia paling benci disamakan dengan pria tua.

"Kkamjong bodoh! Aku mengkhawatirkanmu tahu!"

"Benar, dari tadi Luhan terus menangis," Kris menimpali. "Aku sih biasa saja."

Kai meletakkan karungnya dan memegang kedua pipi Luhan. "Jangan menangis, hyung. Kau tahu aku tidak suka itu."

Luhan merasa hatinya menghangat mendengar ucapan Kai.

"Kau.. mencuri kesempatan," Luhan berkata pelan saat Kai mulai menciumnya. Tapi ia biarkan saja karena Kai hanya melumatnya dengan pelan. Tidak ada permainan yang kasar.

"AKHEM!" Kris sengaja berdehem keras karena ia melihat Sehun yang sudah datang sebelum kemunculan Kai mulai mengepalkan tangannya melihat adegan kisseu KaiHan. Rahang namja itu sudah mengeras.

"Maaf, tidak bermaksud mengganggu. Tapi kita sudah harus beraksi lagi, teman – teman."

Baekhyun membulatkan matanya kaget. "Kita belum sampai seminggu istirahat."

"Tidak ada penolakan," ujar Kris kalem. "Sehun sudah mengumpulkan data orang yang akan kita curi."

Luhan tidak tahu kenapa wajahnya memerah saat Sehun memandanginya. Ia memilih untuk duduk disamping Kris saat mereka memasuki ruang pertemuan. Sedangkan prajurit yang tadinya mengikuti Kai mulai melangkah menjauh. Ia sama sekali tidak menemukan hal yang mencurigakan.

.

"Bangsawan yang kita incar kali ini bukan bangsawan jahat seperti Sungmin. Tapi baru – baru ini mendapat suap dari utusan kerajaan Qing karena mereka ingin mengambil ikan yang ada diperairan wilayahnnya. Jadi sudah selayaknya untuk membagikan uang itu pada orang desa miskin dipinggir pantai. Lalu…"

"Memangnya dia siapa?" potong Kai. Ia tidak suka mendengar penjelasan. Lagipula, tumben sekali Sehun banyak bicara dan memandangnya dengan tatapan sinis. Masa sih Sehun sedang dalam masa periodnya?

Sehun menghela nafas pelan. Ia benar – benar kesal pada Kai.

"Bangsawan yang kita incar berikutnya adalah... Bangsawan Park!"

Te Be Ce

.

Preview next chap

… "Hei Baekhyun! Aku tahu kalau kamu laki – laki!"… Baekhyun merasa sial kenapa ia harus terjebak didalam rengkuhan bangsawan berbadan besar ini! kenapa bukan Luhan?"…

.

BIG THANKS TO:KyBlacklist

littlebyul... xelo... RirinSekarini.. titis anggraeni... hongkihanna... diaanastari... .. Fujoshi203... KyBlacklist... tuti handayani... younlaycious88... .. Guest... eyelinerbaekhyun... kim heeki... ... asroyasrii... Lean fujoshi hunhan shipper... HyunRa... 0312luLuEXOticS... luhan deer... KkamCon Penjahat FanFic... lisnana1... ssnowish... jessikwang . . Oh Dhan Mi... Novey... luhansgirlorz... The Biggest Fan of YunJae... xiaolu odult..

.

gA ADA yg ketinggalan kan? ^.^

rnr lagi?