.My BOY.
Author: Park Ona
Cast: ChanBaek, slight KrisTao, HunHan, Kaisoo, and more.
Genre: Romance, Comedy
Rating: M
Summary: Byun Baekhyun, mahasiswi Sungkyunkwan tingkat akhir, menolak dijodohkan karena ingin bebas. Hidupnya yang serampangan dan urakan menjadi pelampiasannya di tengah rasa kesepiannya. Tak ada seorang pun namja yang mampu menaklukkan hatinya. Kecuali 'orang itu'. Mampukah Baekhyun mengatasi permasalahannya?
Warning: Genderswitch, OOC, typo, tidak sesuai EYD.
.
.
Don't like Don't read
.
Give me review please
.
Be Good Readers, NO PLAGIAT
.
Happy Reading
.
.
Chap 4
Tubuh itu terdiam. Mata itu menelusuri objek di depannya. Jari panjangnya bergerak menyentuh ciptaan Tuhan yang terduduk di hadapannya. Mereka terdiam dalam kegelapan.
"Aku tidak mau."
"…."
"Kau mabuk."
"Diam kau brengsek! Setubuhi aku sekarang juga!"
"Tidak. Berhubungan di bawah kendali alkohol sama seperti berhubungan dengan sex doll. Tak menyenangkan." Chanyeol bangkit berdiri. Kaki jenjangnya melangkah ke pintu keluar.
GREP
Sepasang lengan mungil melingkar di perutnya yang hampir terbentuk.
"Aku membutuhkanmu"
Chanyeol mendongakkan kepalanya menyentuh puncak kepala yeoja mungil yang memeluknya sambil meresapi panas tubuh yeoja yang berbeda 2 tahun dengannya. Anak sulung keluarga Kim ini bisa merasakannya. Ketakutan, kekhawatiran, kegelisahan, dan kesedihan saat lengan kurus itu membingkai perutnya yang tak terbalut apapun. Yeoja ini menawarkan hidangan lezat padanya yang haus akan nafsu. Tentu sebagai manusia normal yang butuh kepuasan jasmani, ia tak akan menolaknya. Singa yang kelaparan tak pernah melepas seekor kelinci bukan? Namun, ia menolak hidangan mahal yang tak akan bisa didapatnya dari yeoja lain. Berusaha menjadi gentleman? Atau pura-pura simpati? Entahlah.
"Kau tak harus menyerahkan tubuhmu padaku. Keperawanan sangat penting bagi seorang gadis terhormat sepertimu."
Chanyeol membalikkan tubuhnya. Dada bidang tak berbalut kain miliknya menabrak lembut wajah si manis dan membawanya dalam pelukan hangat. "Kegiatan ini tidak ada dalam kontrak kerjasama kita. Kau dan aku terikat sebuah kontrak. Mengertilah."
Sepasang hazel cokelat menatap sayu onyx bulat Chanyeol. Hazel yang selalu disukai namja bertubuh jangkung itu kala ia sedang merengek. "Aku tak peduli. Persetan dengan perjodohan itu. Semua orang bisa berbuat seenaknya. Aku lelah. aku lelah menunggu kepastian." Mata itu, bibir itu dan suara itu, ugh, sungguh mempesona.
"Kau harus menyerahkannya pada suamimu kelak. Pada malam pertamamu. Kau sangat berharga Baekhyun." Chanyeol menatap ke dalam hazel yang memantulkan bayangannya. Hampa.
Yeoja itu menggelengkan kepalanya dan menyeringai. "Kalau kau tak mau, biar aku yang memulai."
"Nghh" Chanyeol bergerak gelisah. Jalinan jari lentik menekan daging tak bertulang miliknya di bawah sana. "Jangan menggodahhkuu ngghh Baekhhyunn sshh"
"Sudah kubilang, aku membutuhkanmu sayang. Setubuhi aku sekarang." Baekhyun menyeringai, matanya sedikit lelah, tapi ia berusaha menahannya.
Chanyeol menyipitkan matanya. "Kau yang memintanya Wu Baekhyun. jangan salahkan aku jika aku tak bisa berhenti."
Chanyeol meraup bibir mungil itu secara ganas. Iya tak menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Baekhyun terlena dan menikmati cumbuan Chanyeol meskipun ia tak membalasnya. Lengan kurusnya melingkar sempurna di leher namja jangkung yang sedikit menunduk itu.
CAKK
CAKK
"Ermmhh"
"Kenapa? Kau merasa panas hm?" kata Chanyeol disela-sela ciumannya. Tangan kanannya menurunkan tali bra hitam Baekhyun sementara tangan kirinya meraba punggung Baekhyun mencari pengait bra disana.
"Ermmhh" Baekhyun melenguh saat branya terlepas dan meluncur bebas ke lantai. Chanyeol mencubit pelan nipple pink yang tengah merekah disana.
"Gomawo karena sudah melucuti pakaianmu sebelumnya, jadi pekerjaanku tak terlalu sulit," pikir Chanyeol sambil menuntun tuannya menuju tempat tidurnya.
BRUKK
"Ngghh" Baekhyun menggeliat. Ciuman Chanyeol turun ke leher putihnya.
SLURPP
"Uuhhh" tercipta tanda kemerahan di lehernya.
"Ku peringatkan. Aku tak akan berhenti jika memulai sesuatu," bisik Chanyeol. Baekhyun memandang Chanyeol dengan wajah memerah penuh nafsu.
"Terserah kau saja."
Baekhyun meremas spreinya. Kakinya bergerak naik turun gelisah diantara himpitan Chanyeol. Matanya memejam dengan bibir tergigit. Nafasnya tercekat dengan kepala menengadah.
"Uuhh ugh uhh nggh"
Chanyeol tersenyum melihatnya. Ia semakin memperkuat hisapannya di breast kenyal Baekhyun. Tangan kirinya meremas breast satunya dengan pijatan lembut. 'Tidak montok, tapi cukup berisi dan kenyal.'
"Chan.. uhhh"
"Kenapa? Suka?"
Baekhyun mengangguk. Matanya semakin memejam erat.
"Jangan ditahan. Nikmati saja. Keluarkan suaramu jika kau mau."
"Uhh… Ngghh"
Chanyeol menjadi gelap mendengar suara desahan Baekhyun. Otaknya tak mampu berfikir, hanya ada suara Baekhyun yang memenuhi memorinya.
"Chann…"
Tangannya semakin bergerilya. Menyusuri perut datar Baekhyun turun ke bawah hingga menyentuh vulva sang yeoja 'Lembut dan hangat.'
"Kau basah Baekhyun."
Nafas Baekhyun tak beraturan. Keringat mengalir dari seluruh tubuhnya, menambah kesan seksi nan erotis di depan mata Chanyeol. Chanyeol membuka paksa underwear hitam pembungkusnya dan mulai memasuki jari telujuknya.
"Ah! Apa yang… huahhh" Baekhyun mengangkat tubuhnya ingin melihat apa yang dilakukan anak buahnya disana.
"Sshh.. tenanglah," bisik Chanyeol. Ia mulai menggerakkan 3 jarinya maju mundur di dalam liang Baekhyun. 'Betul-betul sempit. Jariku saja susah bergerak, apalagi juniorku' Chanyeol memandang gundukan di selangkangannya yang membesar sejak tadi.
Baekhyun kembali berbaring dan bergerak gelisah. "Nghh… ngghh… Lagii ngghh"
Gerakan itu semakin cepat. Jari yang keluar masuk dan kepala yang terlempar ke kiri dan kanan.
"Ngh… nghh Chann akuu nghhh HUWAA"
Chanyeol menarik perlahan ketiga jarinya. Basah dan lengket. Ia menjilatnya dengan gerakan seduktif.
SLURP
"Hah hahh hahh, apa yang kau lakukan?" Baekhyun mendongakkan kepala melihat Chanyeol menjilat tangannya sendiri.
"Menikmati cairan mu. Ini enak, kau mau?" Chanyeol menyodorkan jari panjangnya.
"Tidak. Rasanya pasti aneh. Ugh" Baekhyun memegangi kepalanya. Rasa pusing menyerangnya seketika. Efek dari sebotol vodka yang dihabiskannya tadi.
"Tak kusangka kau mudah berorgasme" Chanyeol menjilati cuping Baekhyun. Ia kembali menaiki tubuh yeoja mungil itu.
"Nghh… hanya seperempat. Sisa dari minumanku dan Sehun 3 bulan lalu."
"Kau mengerikan." Chanyeol hendak mencium bibir mungil Baekhyun, namun ditolak oleh sang empunya. Yeoja itu memalingkan kepalanya hingga Chanyeol hanya mencium pipinya.
"Kenapa?"
"Tidak. Langsung ke intinya saja."
Chanyeol ingin protes. Tapi ia lebih memilih memuaskan nafsunya yang tertahan sejak tadi.
"Kuperingatkan sekali lagi. Aku tak akan berhenti jika sudah memulainya Baekhyun. Kau siap?"
Baekhyun menggidikkan bahunya membuat Chanyeol gemas. "Kau yang memintanya."
Tubuh putih itu kembali terbaring dengan kaki membuka lebar. Sebuah benda panjang nan keras sudah siap di pintu masuknya, membelai lembut belahan labia mayora. "Aku mulai"
Chanyeol mulai mendorong juniornya sambil mencium mesra kening Baekhyun. "Lakukan apa saja untuk mengalihkan rasa sakitmu."
Baekhyun mengangguk dan mencengkeram kedua lengan kekar namja yang tengah menyetubuinya. "Ughh…"
"Yeol, cepat masukkan. Dia pasti kesakitan."
"Ughh… Sebentar Dara eonnie, ini sempitthh."
"Arrgghh, cakit, cakiitt hikcc hikkcc cakitt, eomma.."
"Sempitthh eonnie, nggak bisa masuk "
"Bukan sempit, tapi punyamu yang kecil. Haish, sudahlah. Tunggu sampai kalian besar saja. Salahmu juga tidak bisa menahannya. Sudah kubilang bersetubuh denganku saja, kau tak mau."
"Hikss hikss hikss, oppa jahatt. Cakiitt hikss…"
"Heii, mau kemana Baekkie…"
Baekhyun membuka matanya dan langsung menarik tubuhnya. Berlari kekamar mandi dan menguncinya dari dalam. Ia memutar keran shower hingga membasahi tubuh nakednya. Perlahan ia merosot ke lantai marmer yang dingin."Kenapa datang lagi? hiks…"
Ingatan itu. Ingatan saat ia berumur 4 tahun dan dicabuli oleh orang yang disukainya kembali hadir dalam ingatannya yang sudah terlupakan. Ingatan yang hilang bersamaan dengan hilangnya kabar dari orang itu kini hadir disaat ia akan menikmati sex pertamanya yang akan sangat menyenangkan baginya.
"Aku memang jalang. Hiks hiks" ia memeluk kedua lututnya dan menenggelamkan kepalanya disana.
TOK TOK TOK
"Baekhyun, Wu Baekhyun, keluarlah."
TOK TOK TOK
Chanyeol terus mengetuk pintu putih itu. Tak ada jawaban, hanya suara air yang terdengar. Chanyeol mengambil ancang-ancang ingin mendobrak, tapi diurungkannya. "Apa dia mengingatnya?"
Chanyeol menjauhi pintu tersebut dan kembali ke kamarnya, melakukan permainan tunggal mengingat kejantanannya sudah mengacung tegak sejak tadi. "Bermain sendiri memang menyebalkan."
.
.
.
Sudah 3 hari berlalu sejak hari itu. Baekhyun sedikit berubah. Ia menjadi pendiam dan pandangannya kosong. Kyungsoo selalu menasehatinya dengan banyak hal, tapi itu hanyalah angin lalu bagi yeoja berambut blonde ini. Ia lebih banyak menghabiskan waktu bekerja di kafe Kyungsoo dan Bar Crim's hingga dini hari. Ia harus segera mengisi pundi-pundi tabungannya sebelum sang eomma memeriksa penghasilannya. Pernikahannya semakin dekat dan tak ada kepastian dari sang eomma mengenai namja yang dibelinya—Chanyeol—apakah bisa membantunya atau tidak. Baekhyun pun seakan tak peduli. Yang terpenting baginya hanya mencari uang dengan cara yang lebih baik dari menjual diri.
Chanyeol? Namja jangkung itu menghilang keesokan harinya. Baekhyun hanya mengingat ia akan pergi selama seminggu atau lebih bersama bosnya, seperti yang dikatakannya sebelumnya sebagai alasan, dan itu cukup bagi Baekhyun. Tak ada Chanyeol, tak ada rasa malu dan canggung. Tak ada Chanyeol, tak ada kekikukkan. Tak ada Chanyeol, sepi… tunggu. Sepi?
Baekhyun menghela nafasnya dan merapikan rambutnya yang sudah dikuncir kuda didepan cermin. Ia baru pulang dari kafe Kyungsoo dan bersiap ke bar Crim's untuk dinas malamnya.
"Setidaknya ini lebih baik dibandingkan menari telanjang."
.
.
.
Seorang namja menghempaskan tubuhnya ke kursi kerjanya. Ia melonggarkan dasi yang mengikat kuat dilehernya sejak tadi pagi. Ini sudah jam 8 malam dan dia baru selesai menghadiri rapat dengan klien bisnisnya untuk membuat kontrak kerja baru. Sungguh hari yang melelahkan baginya.
Na eureureong eureureong eureureong dae
Na eureureong eureureong_
"Yeoboseoyo eomma"
"Yeoboseoyo Channie. Bagaimana kabarmu nak?"
"Aku baik-baik saja eomma. Aku di Jeju bersama Jongin."
"Eomma tau sayang. Bagaimana pekerjaanmu? Kapan kau pulang? Appa merindukanmu."
Chanyeol menghela napas,"Aku belum mau pulang. Jangan pedulikan aku."
"Eomma khawatir sayang. Apa fasilitas di sini kurang bagimu? Sejak pulang dari Amerika kau menolak pulang ke rumah dan tinggal di jalanan. Apa enaknya menjadi gelandangan begitu? Bagaimana tidurmu? Makanmu? Semuanya pasti tidak sehat."
"Eomma tenang saja. Aku bisa mengatur semuanya."
"Hhh…. Terserah kau saja. Oia, eomma sudah bertemu dengan anak dari keluarga Wu. Tak kusangka dia sudah sebesar itu. Dia sangat cantik dan manis. Tapi sepertinya ia sedikit canggung dengan eomma, padahal dulu ia sering bermain di rumah"
"Iya eomma." Chanyeol teringat masa kecilnya bersama Baekhyun. Berlari dan bermain bersama di halaman rumah Keluarga Wu maupun rumahnya, karena mereka bertetangga. Baekhyun selalu memakai dress manis dengan rambut diikat. Dan yang menjadi favorit Chanyeol adalah apple hairnya.
"Pulanglah jika kau ada waktu. Pernikahanmu dipercepat atas permintaan Wu ahjumma. Karena itu eomma menelponmu. Kita perlu mempersiapkannya."
"Kapan itu eomma?"
"Secepatnya."
TOK TOK TOK
"Masuk."
"Hyung, kau harus bersiap. Kita ada pemotretan dan wawancara malam ini." Seorang namja dengan pakaian casual menghampiri hyungnya yang sedang duduk di balik meja.
"Eomma, nanti ku telpon. Dah eomma."
TUUTT
"Jam berapa?"
"Jam 9. Apa itu tadi eomma? Beliau baru saja menelponku."
Namja itu terlonjak "Aku tak mau. Kau saja yang pergi. Aku mau istirahat." Namja itu menutup wajahnya dengan punggung tangannya. Ia merasa sangat lelah setelah 3 hari melakukan kegiatan yang berhubungan dengan klien bisnisnya.
"Tidak bisa hyung. Ini menampilkan desain terbaru produk kita."
"Apa model kita sudah habis? Bukankah stok model yang kau punya puluhan Jongin?"
"Tidak hyung, ini khusus kita berdua. Kita akan memakai rancangan dari desainer Wu Zitao. Bukankah dia desainer idamanmu? Wu ahjumma pasti senang jika bertemu denganmu. Kau harus bangga karena dia mau bekerja sama dengan kita."
Namja itu menegakkan tubuhnya. "MWO?"
"Aku tahu hyung lelah, aku juga lelah. Kita sama. Kali ini ayo kita buat sesuatu yang menggemparkan dunia hiburan. Aku tak sabar melihat wajahku di cover depan majalah mereka."
"Tu… tunggu dulu."
"Setelah ini kita kembali ke Seoul hyung, penerbangan malam ini. Aku tahu kau sudah tak sabar bertemu tuanmu. Karena itu ayo bergegas." Jongin menarik tangan hyungnya tanpa peduli protesan dari namja tinggi itu.
"Bukan itu masalahnya Kim Jongin, aku…."
.
.
.
Baekhyun menghela nafas. Ia melihat sekelilingnya. Udara dipenuhi asap rokok dan bau alkohol menguar di mana-mana. Ia tahu tidak seharusnya ia menerima pekerjaan ini, tapi ia harus melakukannya jika ingin tabungannya kembali terisi karena bayarannya yang lumayan. Berbeda jauh dari café kecil Kyungsoo meskipun ia harus merelakan jam tidurnya terbagi dengan bekerja dari pagi hingga kembali pagi.
"Menyesal menerima pekerjaan ini agasshi?"
"Hyungseong oppa? Ani. Aku hanya belum terbiasa. Dulu aku yang menari dan berteriak-teriak disana. Sekarang aku yang menjadi pelayan. Menyedihkan." Baekhyun menumpu dagunya di balik meja bar menatap dance floor yang dipenuhi lautan manusia. Sudah tiga hari ia bekerja disini dan ia sudah mengumpulkan 100 dollar dengan upah perhari 30 dollar plus bonus karena ia pegawai baru.
Namja berprofesi sebagai bartender yang berdiri di sampingnya hanya tersenyum. "Nasibmu masih lebih baik dibandingkan mereka." Namja itu menunjuk penari striping yang sedang pole dance di panggung mereka. Menampilkan tubuh sexy nan menggiurkan dengan tampilan half naked.
Baekhyun memejamkan matanya dan menggelengkan kepala. Ia tak sanggup melihat para yeoja itu mempertontonkan kemolekan tubuh mereka hanya demi lembaran uang. Hyunseong benar. Setidaknya ia tak diharuskan memakai topi kelinci dan busana two piece ketika mengantarkan minuman ke meja pelayan. Berkat permintaan Hyunseong, ia berdiri di balik meja bartender dengan pakaian lengkap khas pelayan restoran. Karena Hyunseong membutuhkan partner untuk mengantarkan minuman akibat pengunjung bar yang banyak setiap malamnya.
"Aku berhutang padamu oppa. Bagaimana aku harus membalasnya?"
Namja berambut maroon itu berpikir. "Bagaimana dengan makan malam di restoran Jepang?"
"Oke." Keduanya tertawa bersama. Hyunseong kembali meracik minuman karena seorang yeoja sexy datang memesan cocktail dengan manjanya. Baekhyun menunggu Hyunseong menyelesaikan racikannya sambil menyusuri keadaan bar dengan mata sabitnya sampai pandangannya berhenti di salah satu sudut.
"Hei manis, temani kami malam ini."
"Tidak. Aku tidak mau. Pergi!"
"Jangan begitu sayang. Aku merindukan desahanmu hm?"
"Ahh, jangan meremass bokongku. Singkirkan tanganmu brengsek!"
"Makanya, ayo kita bermain. Aku sudah capek-capek memanggil temanku. Kau harus mau melayani kami."
"Tidak lepaskan aku Doojun!"
"Ayolah sayangg"
"Heii!"
Ketiga namja itu menoleh.
"Baekhyun?" bisik yeoja berambut pink yang dikerumuni namja berbadan atletis tersebut.
"Lepaskan dia!" Baekhyun menunjuk seorang yang mencengkeram lengan yeoja itu.
"Siapa kau berani membentak kami?"
"Ku bilang lepaskan dia! Dia tak mau dengan kalian. Carilah yang lain." Baekhyun menarik kasar tangan yeoja itu melewati meja bartender. "Oppa, aku ijin. Gajiku malam ini tak usah dibayar saja," teriaknya sambil berjalan.
Hyunseong menggelengkan kepalanya. "Dasar keluarga Wu."
Baekhyun menghentikan langkahnya di sebuah gang kecil. Ia menoleh ke belakang dan memasang wajah datar. "Bisakah kau diam Xi Luhan? Telingaku bisa tuli jika kau bersuara sepanjang jalan," protes Baekhyun karena sejak tadi yeoja berkebangsaan China itu terus bertanya kenapa Baekhyun mau menolongnya.
Yeoja itu menunduk. "Ma… maaf Baekhyun."
Baekhyun memutar mata malas. "Aku akan mengantarmu pulang. Aku tak mau terjadi sesuatu dengan keponakanku."
Luhan terkesiap. "Kau mengetahuinya?"
"Kau memang jalang Luhan, tapi ku akui kau jalang tangguh. Masih bertahan hidup meskipun sudah dibuang orang yang kau cintai. Kuharap kau tak membuang bayinya. Karena jika itu terjadi, aku akan membunuhmu." Baekhyun terus menarik tangan Luhan menembus malam gelap menuju rumah Luhan. Diam-diam Luhan tersenyum sambil mengelus perutnya yang mulai membuncit. 'Kau memang baik Baekhyun.'
Tiba-tiba gerombolan namja menghadang mereka. Jumlahnya 5 orang. Mereka adalah namja yang ada di bar tadi yang mengikuti Baekhyun dan Luhan diam-diam.
"Hai gadis manis. Tak baik berkeliaran sendirian di malam hari. Eomma bisa marah pada kalian."
"Mau apa lagi?" Baekhyun memutar matanya malas melihat kumpulan namja yang sama dengan namja yang ada di bar tadi.
"Tentu saja kalian berdua. Hm… aku mau dirimu sayang. Bagaimana dengan kalian?" seorang bertubuh tambun mengelus pipi Baekhyun tapi ditepisnya.
"Terserah kau saja Bos."
Mereka mengepung Baekhyun dan Luhan.
"Kuperingatkan kalian. Jangan mendekat!" Baekhyun mundur perlahan ketika melihat namja itu mendekatinya.
"Kau tidak bisa kabur sayang."
Baekhyun memasang kuda-kuda. Seorang diantara mereka menyentuh tangan Baekhyun dan ditepisnya.
"Ouh, mau main kasar rupanya. Ayo teman-teman, habisi dia!"
Mereka menghajar Baekhyun. Semua tendangan dan pukulan yang mereka layangkan dapat ditepis dengan baik oleh Baekhyun. Sampai salah satu diantaranya menjegal kaki Baekhyun hingga ia terjatuh. Dengan segera ketiga namja itu menghajar dan menendang tubuh mungil Baekhyun dengan beringas. Dua orang lainnya menahan Luhan yang meronta dan menangis hebat. Baekhyun yang terbaring di lantai terbatuk-batuk dan mengeluarkan darah segar dari mulutnya. Luhan hanya bisa menangis memandang keadaan Baekhyun yang mengenaskan.
"Baekhyun… hentikan. Ku mohon hentikan! Jangan hajar dia… Baekhyunn" yeoja itu menarik-narik lengan namja-namja kekar itu tetapi malah terhempas karena mereka mengacuhkannya.
Kelima namja itu mendekati Baekhyun. Masing-masing mulai melucuti pakaian Baekhyun.
"Lepass uhukk lepass brengsekk uhukk"
SRAK
"Hei!"
BUAGH
"Siapa kau?!" Mereka menghentikan aktivitasnya setelah seseorang menghajar salah satu dari mereka hingga tersungkur ditanah.
Namja itu menghampiri Baekhyun dan mengangkat tubuh yeoja yang sudah terbaring lemah di lantai. Pakaiannya robek menampilkan kulit putih susu menggoda dengan luka dan lebam di sekujur tubuh.
"Maaf aku terlambat" bisiknya di telinga Baekhyun.
"Paboo" lirih Baekhyun. Kepalanya terkulai lemas di pelukan namja itu.
"Apa kalian yang membuatnya seperti ini?"
"Kenapa? Apa dia pelayanmu? Tolong urus dia. Lain kali jangan mencampuri urusan kami jika tak mau seperti ini," jawab si wajah sangar.
DUAGH
"Jangan berani menyentuh yeojaku dengan tangan kotormu, brengsek!" namja berambut blonde menunduk memegang juniornya yang ditendang Chanyeol. "Jongin, urus mereka! Kalau perlu habisi saja. Aku akan membawa Baekhyun ke rumah sakit. Ku tunggu disana." Namja itu melangkah keluar meninggalkan kerumunan yang kembali memadat setelah membuka jalan.
Namja yang dipanggil Jongin menarik tangannya ke atas untuk peregangan dan menampilkan smirknya. "Baiklah hyung. Akan kubuat mereka tak bisa jalan."
BUAGH
BUAGH
DUAGH
Uhukk
Jongin menepuk ujung kemejanya dan celana denimnya. Kelima namja belang itu tengah tersungkur di tanah.
"Beruntung kalian berakhir ditanganku karena kalian hanya menderita patah tulang. Jika kalian berakhir di tangan hyungku, nyawa kalian yang akan melayang."
Seorang dari mereka berusaha mendongak dan membuka mulutnya. "Si—siapa kalian?"
Jongin menaikkan alisnya kemudian tersenyum. "Kim brothers. Sampai jumpa." Jongin berniat membalikkan badannya, namun ia terhenti. "Ikut aku." Ia menarik tangan yeoja mungil yang sejak tadi terpana melihat pemandangan di depannya. Jongin dan yeoja itu keluar dari gang sempit dan memasuki Ferarri merah Jongin. Jongin langsung memacu kuda jingkrak itu membelah jalanan malam Seoul.
.
.
.
Chanyeol mengelus wajah Baekhyun yang penuh darah. Luka di kening kanannya sudah menghilang sedangkan kening kirinya masih menempel hansaplast bermotif animal yang berubah warna menjadi merah gelap akibat darah yang keluar dari robekan diatasnya. Bajunya sobek di beberapa bagian hingga perut datar dan lututnya sedikit terbuka.
"Dasar bodoh. Bekerja mati-matian padahal uangmu banyak. Sebenarnya apa yang kau pikirkan hm? Mau membunuh diri sendiri?" Chanyeol mengecup kening Baekhyun yang tak terkena darah cukup lama. "Apa ini sambutanmu ketika kutinggal seminggu? Hhh, sepertinya aku tak bisa meninggalkanmu lagi." Chanyeol mengusap bibir tipis Baekhyun yang robek di sudutnya. Luka goresan tampak samar di kedua lengan putih Baekhyun bekas cakaran Luhan waktu itu, saat Chanyeol mengangkat lengan baju Baekhyun yang terkena darah. Ia menghela nafas melihat tubuh Baekhyun yang penuh luka dan memar. "Berhentilah menyakiti dirimu sendiri. Tubuhmu indah Baekhyun."
"Tuan muda kita sudah sampai," kata supir Chanyeol dari depan setelah mobil berhenti sempurna. Chanyeol mengangguk dan membawa Baekhyun turun. Ia bergegas menuju UGD dan membaringkan pemiliknya disalah satu brankar.
.
.
.
Tao merasa gelisah. Tidak biasanya ia merasa deg-degan saat memikirkan anak perempuannya. Sepanjang perjalanan pulang dari Jeju entah kenapa perasaannya tidak enak dan tubuhnya panas. Padahal ia sedang memikirkan Baekhyun dan Chanyeol, calon menantunya.
Tao sempat terkejut melihat Chanyeol di peragaan busana Kim brothers. Ia sempat ingin memberondong namja lulusan Amerika itu dengan sejuta pertanyaan namun didahului oleh Chanyeol yang menjelaskan semuanya secara runtut dan detail. Membuat wanita 42 tahun itu betah duduk lama dan menunda pemotetran hingga 15 menit, padahal ia orang yang sangat menghargai waktu dan benci keterlambatan. Tao benar-benar tak menyangka bahwa anaknya selama ini tinggal bersama calon suaminya tanpa diketahuinya. Ia hanya menepuk dahi dan menggelengkan kepalanya. Betapa polosnya anak perempuannya yang terkenal tomboy itu. Dan Tao sempat ingin memarahi anak dari teman baiknya namun hal itu bisa diatasi dengan baik. Kali ini hatinya merasa tak tenang. Bukan karena ingin segera menikahkan anaknya, tapi ia ingin cepat-cepat bertemu Baekhyunnya.
"Kau tak apa sayang?" tanya Yi Fan, appa Baekhyun, dari tempat tidur. Mata elangnya menatap dibalik kacamata baca yang bertengger di hidung mancungnya. Ia sedang membaca koran dan memastikan apa yang dilakukan sang istri didepan cermin sejak tadi. Tidak biasanya istrinya bergerak gelisah.
Tao menghentikan kegiatan menyisirnya dan menatap pantulan menawan di cerminnya. Ia meletakkan sisirnya dan berdiri dari hadapan meja riasnya. Berjalan perlahan menuju tempat peraduan dengan sang suami. Rambut hitam panjangnya terurai begitu saja. bersinar ketika sinar rembulan menyapa di balik jendela.
"Aku merindukan Baekhyun. Ia sudah tak memberi kabar sejak 2 bulan lalu. Hatiku tak tenang. Aku takut terjadi apa-apa dengannya Kris," ucap Tao. Ia sudah duduk sempurna di samping suaminya dan bersandar di headbroad ranjang mewah itu.
Yi Fan melipat korannya, meletakkannya diatas nakas berikut kacamata bacanya. "Mungkin dia sedang sibuk sayang. Kudengar dari Sehun ia sudah mengikuti ujian skripsinya dan memperoleh nilai terbaik. Tenang saja sebentar lagi gadis kita akan jadi arsitektur hebat menggantikan ayahnya."
Kris merangkul tubuh sang istri, mengajaknya mendekat.
"Yah, tapi aku tetap khawatir Kris. Ia anak kita. Ia jauh dari kita. Ia membutuhkan kita. Aku takut terjadi sesuatu padanya. Aku takut Kris. Aku takut. Hiks"
"Tenanglah sayang. Yakinlah dia baik-baik saja." Yi Fan mengelus punggung sang istri, bermaksud menenangkan wanita yang masih tetap cantik di usia 40an itu.
Tao mengangguk sambil sesenggukan. Baekhyun adalah gadis yang kuat dan tegar. Ia tak pernah mengeluh ataupun menangis di depan orang tuanya. Sangat berbeda dengan Sehun yang manja dan semaunya sendiri. Baekhyun yang dulu manis dan penurut perlahan berubah ketika menginjak dewasa. Ia sedikit membangkang dan berbuat sesuatu yang tak jarang melukai dirinya. Alasannya selalu sama, membela diri dari orang yang membullynya.
Tao masih mengingat dengan jelas ketika ia melahirkan anak pertamanya di bulan purnama. Karena itu ia memberikan nama Baekhyun yang berarti murni dan berbudi luhur, bayi itu sangat mungil dan bersinar. Ia menangis dengan kencang dan terdiam ketika sang eomma membelai hangat pipinya. Ia selalu tertidur dengan pulas di pelukan eomma dan appanya, serta tak pernah rewel ketika malam. Ia belajar berjalan dan berbicara dengan baik. Otaknya cerdas, perangainya baik dan tutur katanya sopan. Jika ia tersenyum akan menampilkan eye smile yang sangat manis, membuat orang-orang sekelilingnya luluh dan ingin memeluknya. Tao merindukan Baekhyun yang dulu. Baekhyun kecil yang sangat manis dan imut dengan apple hairnya.
Yi Fan mengecup puncak kepala istrinya berkali-kali. Ibu jarinya menghapus airmata Tao yang mengaliri kedua pipinya. "Kris…"
Yi Fan terus menciumi istrinya. Ciumannya turun ke bibir kucing sang istri.
"Ermm… ssshhh"
Mereka saling melumat dan menikmati ciuman panas itu. Yi Fan membaringkan tubuh sang istri perlahan tanpa melepas tautan mereka dan tangannya mulai bekerja. Ia mulai membuka tali penghalang baju tidur berbahan sutera Tao dan melepas ciumannya.
"Angkat tubuhmu baby. Buka bajumu."
Tao mengerucutkan bibirnya dan mulai membuka dress panjang itu dengan sekali tarikan. Menampilkan tubuh langsingnya yang tak berubah sejak melahirkan Sehun. "Kau culas Wu Fan! Aku sudah telanjang dan kau masih lengkap!"
Yi Fan menampilkan senyum mautnya yang mampu membuat yeoja lain pingsan dan membentangkan tangannya. "Kenapa tidak kau bukakan baby?"
Tao kembali ke tempat tidur dan menerjang tubuh sang suami. Membuka baju tidur ayah dari buah hatinya tergesa-gesa dan kembali melumat bibir sang suami dengan ganas. Yi Fan menyandarkan punggungnya di headboard dan membalas kecupan sang istri sambil meremas payudaranya dengan kecepatan yang berbeda. Tao mengerang tertahan dan kadang melepas ciuman panasnya sambil mendongakkan kepala. Menikmati sentuhan tangan dingin suaminya yang selalu memanjakannya.
"Ahh… Kriss" ia kembali mendesah ketika pria yang berbeda 3 tahun darinya itu mengecupi dan menghisap kuat leher jenjangnya. Melukiskan mahakarya khas Wu Yi Fan. Yi Fan terus menciumi tubuh sang istri sambil membimbingnya kembali berbaring. Setelah puas melukis mahakaryanya, Yi Fan berkonsentrasi dengan bagian bawah sang istri yang sudah memerah. Ia mengelus perlahan mulai dari puncak hingga ke bagian dasar. Membuat Tao semakin melayang.
"Ouhh Kriss. Jangann mengodaakkuu. Masukkann sajaa ahh"
Yi Fan tersenyum mendapat lampu hijau dari sang istri. Ia kembali memanjakan bibir lembut sang istri yang sedikit membengkak dan memasukkan 3 jari sekaligus ke dalam sana. Tao menggigit lidah Yi Fan ketika ketiga jari itu masuk secara tiba-tiba. Hendak ia lepaskan ciumannya namun ditahan oleh Yi Fan dan langsung diserang bertubi-tubi. Ciuman panas yang memabukkan, tangan kirinya yang memanjakan payudaranya bergantian dan jari tangan yang keluar-masuk dibawah sana membuat Tao menggelinjang nikmat. Suaminya memang selalu juara untuk urusan ranjang.
Appa si blonde dan si platina itu mengeluarkan jarinya ketika sesuatu yang basah mengalir deras dari dalam sana. "Kau hebat baby," bisiknya sambil menjilati cairan istrinya.
"Masukkann Kriss, hahh hahh"
Yi Fan menggeleng. "Tidak sayang. Belum bangun."
Tao mengernyitkan dahinya. "Sini biar ku lihat." Yi Fan bergeser dan duduk di pinggiran ranjang sedangkan Tao berdiri di hadapannya. Tangannya memegang benda tak bertulang perantara sperma itu dan menariknya ke atas. Suatu kelalaian bagi Tao dan Yi Fan sudah hapal dengan hal ini adalah Tao menggunakan handjob dengan posisi berdiri depat di hadapan Yi Fan dan memijat penis suaminya ke atas bukan ke depan. Ini keuntungan bagi Yi Fan karena posisi vagina Tao hanya beberapa senti dari penisnya. Dengan sedikit gerakan, ia bisa memasukkan benda itu ke jalan lahir kedua anaknya.
Yi Fan tiba-tiba berdiri dan mencengkeram bahu Tao serta melesakkan penisnya ke vagina istrinya. Membuat Tao kaget dan berteriak.
"AAAAAAA Kris!"
Yi Fan kembali duduk di pinggiran tempat tidur dan tersenyum pada sang istri. "Maaf baby, aku sudah tidak tahan melihat payudaranmu."
Tao baru akan memukul Yi Fan ketika suaminya mengangkat tubuhnya ke atas dan menurunkannya sambil menghisap payudara sang istri. "Ouhhh"
"Kauu suka hm?"
Yi Fan kembali mengangkat tubuh istrinya dan menghentakkan penisnya disana. Tak lama Tao mulai bergerak sendiri dengan berpegangan pada bahu Kris. "Yahh Kris. Ouhhh yahh, terusss disanaaa. Lagihhh… errmmm… hisap Kriss teruss emmm"
Yi Fan tersenyum melihat istrinya saat ini. Tubuhnya naik turun dengan keringat membasahinya, payudaranya bergoyang dan bibir sexynya meneriakkan namanya. "Krisss… hmm…"
Yi Fan membantu memegangi tubuh istrinya dan menghisap payudaranya yang bergoyang.
"Oughh Kriss, I wanna comee. Anghhh"
Yi Fan semakin mempercepat gerakannya membuat tubuh istrinya bergetar hebat.
"Kriss…"
"Together baby"
3, 4 kali dorongan akhirnya cairan mereka keluar bersamaan. "Krisss/Babyyy"
"Hahh hahh hahh Kris aku_"
"Malam ini cukup satu ronde saja sayang. Aku tahu kau lelah setelah perjalanan dari Jeju. Istirahatlah. Besok kita akan mengunjungi Baekhyun." Yi Fan mengecup puncak kepala istrinya.
"Xie Xie Ge. Wo ai ni" ujar Tao dengan aksen Cinanya. Ia memejamkan mata di pangkuan sang suami.
"Wo ai ni Wu Zitao." Yi Fan mengangkat tubuh sang istri yang tertidur dipangkuannya dan membaringkannya di tempat tidur, lalu berbaring di samping sang istri, menarik selimut dan menyusul sang istri ke alam mimpi.
TBC
Jangan bilang ini kurang HOT karena Ona harus berjungkir balik memutar otak mencari ide NCan yang baik. Nggak ding, ini lebay. Tapi memang bener, memikirkan adegan NC itu butuh tenaga ekstra dan konsentrasi penuh #mulaiNgaco.
Yayy… halo readernim. Maafkan saya yang terlambat update. Saya tau para readers uda pada ngamuk2 menanti ff absurd nggak jelas ini. Biasa, masalah jaringan dan kesibukan harian membuat Ona jdi telat publishnya. #bowing.
Chap depan Ona nggak bisa prediksi. Bakal cepat ato nggak. Tergantung mood, waktu dan kesempatan. Tapi Ona usahain selalu update #puppyEyes.
Yak, mari membalas review:
Zoldyk: uda lanjut :3
SHY Fukuru: Luhan bru hamil muda XD Ahahaha… uda kejawab semuanya di Chap ini #nyengirBarengChanyeol
AnitaLee: hahahaha… Baekkie memang lagi 'butuh'
Indaah: Chanbaek momentnya disesuain sama ceritanya. Tapi akan sllu ada kok :3 ini suda lnjutt
Exindira: oke. Lanjut baca yahh
Byun Naochan: hahaha… lanjut baca yahh
ByunnaPark: ini uda update :3 lanjut baca yahh
TrinCloudSparkyu: hahaha.. ini uda lanjut :3
minwooImitasi: ini uda lanjut :3
dobichan: ini uda lanjut :3
edogawa ruffy: hahaha… maksud Baekhyun bukan itu. Dia punya alasan sendiri. yuk lanjut baca :3
Jessica807: karakter Chanyeol memang susah ditebak. Dan saya suka membuatnya jdi org mesum :3 setiap pria dewasa pasti butuh pemuasan jasmani. Karena itu smua 'namja' disini pada mesum XD
ShinJiWoo920202: 1. Yup. Kai itu lebih pervert dari Chanyeol #keliatanDariMukanya #digetokJongin, 2. Uda lebih malah. Hahaha… yg di dalam mobil? Hm… ksi tau nggak yah XD
Rachel suliss: uda lanjut :3
ExoticBaby'z: uda lanjut :3
Wu Lian Hua-Lyn Wu: hahahha… ini uda lanjut chingu. Jangan stress yahh :3
88wolfkind: uda lanjut :3
Shinelightseeker: hahaha… malah dia yg digituin. Ini uda lanjut :3
Shantyy9411: salam kenal shanty. Uda lanjut :3
Mela queen 1: hehe ini uda lanjut :3
BBCindy: uda lanjut :3
Byun Jinhyun: uda lanjut chingu :3
Ichanyeollie: uda lanjut :3
