.My BOY.

Author: Park Ona

Cast: ChanBaek, slight KrisTao, HunHan, Kaisoo, and more.

Genre: Romance, Comedy

Rating: M

Summary: Byun Baekhyun, mahasiswi Sungkyunkwan tingkat akhir, menolak dijodohkan karena ingin bebas. Hidupnya yang serampangan dan urakan menjadi pelampiasannya di tengah rasa kesepiannya. Tak ada seorang pun namja yang mampu menaklukkan hatinya. Kecuali 'orang itu'. Mampukah Baekhyun mengatasi permasalahannya?

Warning: Genderswitch, OOC, typo, tidak sesuai EYD.

.

.

Don't like Don't read

.

Give me review please

.

Be Good Readers, NO PLAGIAT

.

Happy Reading

.

.

Chap 6

"Emm ckk ahh… hisapp teruss engghh"

Desahan dan kecipak lidah memenuhi ruangan 8x8 meter berdesain minimalis.

"Anghh Chann… akuu— ahh… Ayo masukkan punyamuu Chann… enghh" Yeoja itu melenguh lagi ketika sebuah tangan menggosok klitorisnya. Padahal ia baru mencapai puncak ketika payudaranya mendapat service dari namja di atasnya.

Namja itu mempersiapkan juniornya di depan hole sang yeoja. Ia memejamkan mata membayangkan nikmatnya saat juniornya dijepit hole ketat yeoja di bawahnya.

"Ahhh… Channhhh akuu takk tahann. Uhhh…"

"Hahh hahh, tunggu sebentarr babyy"

"Chanyeolll, I'm Uhhh…."

"Togetherr"

"Chanyeol…"

.

Namja itu membuka mata dan mengangkat tubuhnya menjauhi yeoja di bawahnya yang terheran-heran.

"Maaf Jae Rin aku tak bisa."

Yeoja itu bangkit dan memeluk Chanyeol dari belakang. "Kenapa? Bukankah sudah ku katakan kau boleh melakukannya meskipun kau bukan yang pertama?"

Chanyeol tersenyum miring. Sama seperti yang lain rupanya.

"Maaf."

"Ssstt… uljimaa. Biar aku yang menenangkanmu." Yeoja itu membawa Chanyeol duduk dan memeluknya. "Lakukan sesuatu yang bisa membuatmu tenang." Ia menyandarkan kepala Chanyeol di dadanya yang ranum. Sesekali meremas surai cokelat namja itu bermaksud untuk merangsangnya, namun tak ada tanggapan sama sekali. Yang ada namja itu semakin menunduk sendu.

.

.

.

"Sun-ah, di mana Chanyeol?" seorang yeoja paruh baya bertanya pada maidnya yang sedang membersihkan pigura foto di ruang keluarga. Ia memperhatikan sekitarnya. Anak sulungnya tidak keluar kamar sejak tadi padahal hari ini ia tak ada jadwal kerja. Yeoja berdimple itu cukup terkejut dengan perubahan pada anaknya akhir-akhir ini. Kedua anaknya adalah namja yang hiperaktif. Si kakak yang selalu melakukan sesuatu yang membuatnya awet memamerkan senyum lima jarinya seharian —entah apa yang dilakukannya— dan si adik yang selalu melakukan hal untuk menunjang kulit tubuhnya yang selalu dibanggakannya, jika mereka tak ada kerjaan dikantor, sekarang berubah—terutama si kakak. Setiap pulang dari kantor, ia selalu mengurung diri di kamar. Yeoja yang dulunya berkebangsaan China ini selalu tersenyum ketika sang anak pulang dari kerjanya, karena ia selalu berteriak "aku pulang". Sekarang ia pun tak mengetahui sang anak sudah pulang atau belum karena tak ada teriakan aku pulang darinya. Semenjak kepulangannya hari itu, dimana ia pulang dalam keadaan berantakan dan wajah muram, membuat sang eomma mengerutkan keningnya. Ada apa dengan anakku? Tak biasanya ia menjadi pemuram seperti ini.

"Tuan muda belum keluar kamar sejak tadi, Nyonya," yeoja muda berpakaian ala western maid membungkukkan badannya.

Sang majikan menggelengkan kepala. "Baiklah, aku akan menemuinya. Teruskan pekerjaanmu." Yeoja itu semakin membungkukkan badannya ketika nyonyanya melewatinya menuju tangga.

KRIET

"Chanyeol…"

"Eomma?"

Yeoja itu memasuki kamar sang anak setelah menutup pintu. Mendudukkan diri di tempat tidur sang anak yang membelakanginya. "Ada apa nak? Tak biasanya kau begini. Ada masalah?" yeoja itu menyentuh bahu kekar sang anak.

Namja berambut cokelat kayu yang ditarik ke atas itu hanya diam. Mata kelerengnya menatap keluar jendela kaca yang menampilkan rumput hijau diluar. Tubuhnya melengkung seperti udang. "Tidak ada."

"Kau berubah sejak kepulanganmu, nak. Eomma merindukan Chanyeol eomma yang bijaksana dan lembut."

Terdengar helaan nafas berat. "Tidak ada apa-apa eomma."

"Apa ini mengenai Baekhyun?"

DEG

Yeoja itu merasakan tubuh anaknya bereaksi. Terbukti ada sedikit pergerakan di sana meskipun tubuhnya tetap membelakangi sang eomma.

"Eomma sudah tau semuanya. Tao ahjumma sudah menceritakannya pada eomma. Karena itu kami mempercepat pernikahan kalian. Toh kalian sama-sama dewasa dan Baekhyun juga sudah lulus kuliah. Ini waktu yang tepat untuk kalian memulai hidup baru."

"Eomma, bagaimana eomma dan appa bisa bertemu dan menikah? Apakah sama sepertiku?"

Tangan yeoja paruh baya itu mengelus punggung anaknya. "Suatu hari ketika eomma terduduk di pinggir jalan dan menangis seorang pegawai kantoran datang menghampiri eomma dan menawarkan bantuan. Ia tampan dan rupawan. Hatinya lembut dan murah senyum. Eomma hanya mengikutinya ketika ia membawa eomma ke rumahnya dan merawat eomma hingga eomma kembali ceria. Eomma menangis karena hampir diperkosa namjachingu eomma bersama teman-temannya. Karena perbuatan orang itu, eomma menjadi dekat dengannya dan kami mulai berhubungan. Suatu ketika, kami berdua sama-sama mabuk setelah merayakan kelulusan eomma dari universitas dan kami tidur bersama. Ia janji akan bertanggungjawab setelah melakukakannya dan eomma mensyukurinya. Ketika waigong dan waipo (kakek-nenek) mengetahui hubungan kami, mereka marah dan memulangkan eomma ke China. Mereka tidak setuju karena orang itu hanya seorang pegawai kantoran biasa yang tak punya apa-apa. Selama eomma di China, orang itu tak pernah menghubungi eomma. Kami kehilangan kontak dan eomma tak tahu apa yang terjadi padanya." yeoja paruh baya itu menghela nafas "Suatu hari seorang berpakaian rapi datang ke rumah kami dan meminta eomma menikah dengan tuannya. Eomma menolak karena saat itu eomma tidak mengenal orang itu dan eomma sedang mengandung dirimu. Orang itu terus memaksa dan akhirnya waigong menyetujuinya. Setelah mereka memberikan uang dan tanah sebagai jaminannya. Eomma merasa eomma sudah dijual oleh mereka."

"Kami berangkat ke Seoul dan melangsungkan pernikahan. Alangkah terkejutnya eomma begitu mengetahui orang yang menikahi eomma adalah appamu. Waigong dan waipo tak bisa mengelak karena mereka telah menikmati hasilnya dan mereka terpaksa menyerahkan eomma padanya. Eomma tak tahu harus gembira atau sedih karenanya. Di satu sisi, eomma memang masih mencintai appa dan eomma senang karena akhirnya kami menikah. Itu berarti kau mempunyai seorang appa, Chanyeol. Di sisi lain, eomma marah karena ia tak memberitahu eomma bahwa sesungguhnya ia adalah pemilik perusahaan tekstil dan suka berpenampilan sederhana hanya untuk menutupi kekayaannya. Karena itu eomma merasa tertipu. Tapi di atas semua itu, eomma tetap bersyukur karena appa juga mencintai eomma. Kami melewati suka dan duka bersama. Hingga saat kau lahir, appa sangat senang dan bangga. Meskipun saat itu keadaan perusahaan terancam gulung tikar, ia masih bisa tersenyum tulus saat menggendongmu. Begitulah ceritanya anakku."

Chanyeol tersenyum miris. Apa yang terjadi pada orang tuanya sama seperti yang terjadi pada dirinya. Ia mendekati Baekhyun dan memberikan harapan padanya lalu pergi begitu saja setelah menidurinya. Chanyeol memang mencintai yeoja itu. Karena itu ia mau saja saat Baekhyun memintanya melakukan segala hal yang disukainya. Namun Chanyeol tak bisa menjadikan Baekhyun sebagai yeojachingunya karena ia takut melukai yeoja itu. Ia sadar bisa melukai yeoja itu kapan saja karena kontrol terhadap nafsunya sangat buruk. Berada di dekat yeoja itu membuatnya semakin gila karena aroma tubuh Baekhyun begitu menggoda baginya. Karena itu ia rela berhubungan dengan yeoja lain sebagai pelampiasan asalkan Baekhyun tidak terluka dan menunggu saat yang tepat. Tapi kini yang terjadi adalah Chanyeol yang meninggalkannya setelah menidurinya. Sungguh jika ia tak ketahuan bersandiwara oleh Tao dan Baekhyun masih belum mengingatnya, ia masih ingin berada di samping gadis itu. Ia masih ingin memeluk dan menciumi gadis itu kala ia terlelap. Karena Chanyeol begitu menggilainya.

Chanyeol membalikkan tubuhnya dan memandang sang eomma yang duduk di pinggir tempat tidurnya.

"Eomma bagaimana jika aku sudah meniduri Baekhyun? Apakah perjanjiannya batal?," tanya Chanyeol dengan suara serak.

Mata Yixing, eommanya, membulat ketika mendengar perkataan anak sulungnya. Dalam perjanjian dikatakan bahwa jika anak keluarga Wu itu menikah dengan Chanyeol tidak perawan lagi maka perjanjian itu batal. Perjanjian? Ya, pernikahan mereka didasari atas perjanjian antara Halmoni Baekhyun dan Kim Joonmyeon, ayah Chanyeol, yang berisi Chanyeol akan menikah dengan Baekhyun dan harta warisan Chanyeol menjadi milik keluarga Wu untuk membayar sisa hutangnya. Perjanjiannya akan batal jika Baekhyun menikah dalam keadaan hamil atau tidak perawan karena Kim Joonmyeon, appa Chanyeol, tidak menginginkan anaknya mengasuh anak yang bukan darah dagingnya. Namun tidak disebutkan jika yang membobol adalah Chanyeol sendiri, apakah pernikahan itu masih berlangsung atau batal. Tentu Yixing tidak memberitahukan poin terakhir pada Chanyeol karena hanya dia yang tahu alasan Joonmyeon mengeluarkan statement itu.

"Be…benarkah itu Chanyeol?"

Chanyeol mengangguk lemah. Ia sadar ia salah. "Aku tahu aku memiliki kontrol yang buruk terhadap nafsuku eomma. Aku kelepasan saat itu dan menidurinya. Aku kalah dengan diriku sendiri." Chanyeol menutup wajahnya dengan telapak tangannya dan menenggelamkannya dalam lututnya.

Yixing membawa Chanyeol dalam pelukannya. "Chanyeol, apakah ada orang lain yang mengetahui ini selain kalian berdua?"

Chanyeol menggeleng.

"Eomma pikir itu tak masalah. Selama tak ada yang tahu. Kecuali jika appa dan keluarga Wu tahu. Lakukan sesuai pilihan hatimu." Keduanya lama terdiam. Yixing menepuk punggung sang anak,"Eomma tau kau sangat mencintainya. Kau menginginkannya bukan? Karena itu lakukan yang terbaik untuk menyambut pernikahan kalian. Karena itu adalah hari bahagia untuk kalian berdua."

"Eomma… aku…"

"Eomma menyayangimu nak. Kau dan Jongin. Kalian berdua adalah anak kesanyangan appa dan eomma sampai kapanpun. Apapun pilihan kalian eomma akan selalu mendukungnya. Lakukan yang terbaik untuk hidup kalian."

Namja itu membalas pelukan sang eomma dan menangis terisak disana. "Aku merasa brengsek eomma. Aku tak pantas mendapatkannya, tapi hatiku menginginkannya. Aku mencintainya. Karena itu… karena itu, aku…. hiks, hiks…"

"Menangislah nak selama itu bisa meringankanmu."

"Sekarang aku sangat menyesal eomma. Aku takut ia tak mau menerimaku eomma. Aku…"

"Chanyeol, yakinlah pada dirimu sendiri. Baekhyun akan menerima semua itu. Eomma tahu siapa dia. Sekeras apapun ia, ia masih mempunyai hati. Ia hanyalah gadis kecil yang butuh kasih sayang Chanyeol. Raih dan bimbinglah ia. Ia membutuhkanmu karena hanya itu yang bisa kau berikan padanya. Karena itu jangan merasa kau tak pantas dengannya. Kalian saling membutuhkan. Kuatkan dirimu. Kau seorang namja dan kau harus tegas. Eomma ingin Chanyeol eomma yang dingin dan tegas di kantor tapi lembut dan penyayang dirumah itu kembali." Yeoja itu tersenyum sambil mengelus pipi sang anak. Perlahan seulas senyum manis terukir di bibir namja tinggi itu. Ia kembali membawa sang eomma dalam pelukannya.

"Gomawo eomma. Eomma memang yang terbaik."

Yeoja itu tersenyum menampilkan lesung pipi yang cantik di kedua pipinya tanpa dilihat sang anak. "Semoga ini yang terbaik bagimu nak..."

.

.

.

Seorang gadis mendorong pintu kaca di depannya. Mata sipitnya menyusuri ruangan yang berisi meja dan kursi yang disusun sedemikian rupa. Kepalanya mendongak agar memperluas pandangan. Sebuah lengan kurus terangkat di ujung dekat dinding. Bibirnya melengkung ke atas. Gadis itu melangkah menuju orang yang mengangkat tangan.

"Ada apa memanggilku kemari Sehun?" gadis itu –Baekhyun- menarik tempat duduk yang ada di hadapan orang yang mengangkat tangan tadi.

"Noona, aku sudah dengar dari Appa. Pernikahanmu seminggu lagi. benarkah?"

Yeoja manis itu menyunggingkan senyum miris. "Itu benar."

Sehun menyatukan kedua telapak tangannya di atas meja. Ia membuang nafas. "Noona, aku tau kau tak menginginkan hal ini. Kenapa tak menolaknya?"

Baekhyun menatap Sehun. "Aku terkena karma. Untuk apa aku bertahan?"

Sehun membulatkan matanya. "Maksud noona?"

Baekhyun membuang pandang ke luar jendela café. Ia tersenyum menatap para pejalan kaki yang hilir-mudik di luar. "Aku tak bisa menahannya malam itu. Kami melakukannya. Untuk yang kedua kalinya. Aku menyerahkan yang selalu kujaga selama ini padanya. Dan saat itulah aku menyadari bahwa aku kebobolan. Aku tahu ini salah. Tapi nyatanya aku menikmatinya. Dan sekarang dia menghilang entah kemana. Miris bukan?"

Sehun menatap sang kakak iba. Ia mengerti bagaimana rasanya jika ia yang ada di posisi sang kakak. Saat mengetahui Luhan hamil waktu itu saja sudah membuatnya ingin bunuh diri. Pasalnya ia belum siap menjadi seorang ayah. Mengurus diri sendiri saja susah apalagi mengurus seorang bayi? Apalagi jika kehilangan hal yang selama ini kau jaga dengan sangat baik. Untung saja Baekhyun termasuk gadis yang tegar dan kuat. Meskipun hampir tiap hari ia menangis diam-diam merutuki kebodohannya.

"Aku merasa seperti pengemis ketika mengingat saat aku mabuk. Dan seperti pelacur ketika merasakan untuk yang kedua kalinya. Dan inilah akibatnya. Dia menghilang setelah malam itu. Padahal aku merasa mulai menyukainya." Baekhyun menundukkan kepalanya. "Aku akan sangat bersyukur jika nanti calon suamiku menceraikanku karena tahu istrinya tidak perawan lagi. Bukankah begitu persyaratannya?"

Percakapan mereka terhenti sejenak ketika seorang waitress mengantar segelas jus strawberry dan strawberry cake ke hadapan Baekhyun serta secangkir Mochacinno kedua untuk Sehun.

Sehun meniup perlahan Mochacinno yang masih mengepul dan menikmati aromanya. "Noona, apa kau sudah tahu tentang calon suamimu?" Bibirnya menyentuh bibir cangkir porselen. Cairan hangat bewarna cokelat mengalir perlahan menuju kerongkongannya.

Yeoja manis itu menggeleng lemah. Ia memang tak tahu seluk-beluk calon suaminya. Ia menganggap hanya membuang waktu untuk mencari tahu tentangnya. "Dia anak dari keluarga Kim, dan direktur di Kim Corp. Tinggi, tampan, menawan. Hanya itu. Aku tak peduli. Toh nantinya ia akan menceraikanku juga."

"Apa noona yakin ia akan menceraikan noona secepat itu?"

"Wu Sehun, namja mana yang ingin menikahi yeoja yang sudah kehilangan kesuciannya. Lagipula kami tak pernah bertemu. Kecuali dirimu. Kau melakukannya sebelum waktunya" Baekhyun menatap tajam sang adik. Sedotan putih menempel di bibir mungilnya, menghubungkan jus ditangan dan rongga mulutnya.

Sehun tersenyum. "Masalahku berbeda Noona. Aku memang mencintainya. Meskipun ia sudah kubobol duluan. Kuakui aku memang pecundang. Tapi, aku tetap memilih mempertahankannya. Aku tak mau kehilangannya."

"Kau bicara seperti itu karena takut dihapus dari daftar nama pewaris, tuan Wu. Dasar licik!"

Sehun tertawa renyah. "Awalnya begitu. Tapi sekarang aku menikmatinya. Tak ada salahnya menikah muda." Sehun kembali menyeruput Mochachinnonya. "Hanya sebatas itu kau mengenal orang yang akan hidup bersamamu, noona?"

Baekhyun menggidikkan bahunya. Ia memotong kecil cake didepannya dan memasukkan dalam mulutnya. Seketika makanan itu melumer memenuhi rongga mulutnya. Manis dan asam di saat bersamaan.

Sehun menghela nafas. "Sebenarnya dia adalah orang yang pernah hadir dalam hidupmu noona. Namun kau melupakannya. Ani. Kau tak mengingatnya. Semua tentangnya. Terhapus dari memorimu."

Baekhyun mengernyitkan dahi,"Kau bicara apa Wu Sehun? Aku tak mengerti."

"Ku harap kau siap noona. Dengarkan penjelasanku dan aku tak mau disela." Sehun menatap tajam sang kakak. Kedua mata sipit itu bertemu.

"Baiklah. terserahmu." Baekhyun meletakkan gelas jusnya dan mengatur posisi duduk senyaman mungkin. "Mulailah."

.

.

.

"Namanya Kim Chanyeol. Anak pertama keluarga Kim. Namja berusia 25 tahun. Lulusan S2 bisnis Amerika. Tampan, tinggi, dan menawan. Seperti katamu noona. Ia bak pangeran dalam dunia komik. Di gilai yeoja muda, di kagumi para orang tua. Hidupnya sempurna. Siapa yang menolak menikah dengan namja seperti dia?"

Baekhyun menggoyangkan kaki mungilnya di bangku taman. Ia sudah mengakhiri pertemuan dengan namdongsaengnya sejak 30 menit yang lalu. Namun perkataan Sehun masih terngiang di telinganya.

"Keluarga Kim adalah teman dekat keluarga kita. Mereka bertetangga dengan kita sewaktu kita masih kecil dan pindah ke Jepang saat noona berusia 12 tahun. Joonmyeon ahjussi memiliki hutang kepada halmoni. Ia tak sanggup membayarnya dengan uang. Aku kurang tahu berapa jumlahnya. Tapi itu sanggup membuat keluarga itu kehilangan seluruh harta kekayaannya. Kebetulan halmoni melihat kedekatan noona dan anak pertamanya saat kalian masih kecil. Beliau meminta anak itu untuk menjadi suami noona ketika kalian sudah dewasa. Halmoni berpikir sebagian kekayaan milik keluarga Kim yang merupakan bagiannya akan menjadi milik kita, sebagai pengganti hutang jadi appa tak terlalu pusing mengurusi utang-piutang dengan keluarga mereka. Begitulah dan Joonmyeon ahjussi setuju."

Baekhyun menghirup nafas dalam-dalam sambil menikmati semilir angin yang membelai wajah cantiknya.

"Sejak kecil noona sangat dekat dengan Chanyeol hyung. Kalian tak terpisahkan. Dimana ada noona, pasti ada Chanyeol hyung. Aku sempat iri dengannya yang bisa memonopoli noona sesuka hati, padahal noona adalah noonaku. Hari dimana mereka ke Jepang, noona pingsan setelah kejatuhan sebuah guci. Kami sempat khawatir akan terjadi sesuatu yang buruk pada noona. Syukurlah hal itu tidak terjadi. Noona segera siuman dan seperti tak terjadi apa-apa. Kami bersyukur akan hal itu. Tapi ternyata ada satu hal yang noona lupakan. Yaitu keluarga Kim. Semua hal tentang keluarga itu sama sekali tak noona ingat. Aneh memang. Kami sempat bingung dan kaget bagaimana hal itu bisa terjadi. Kata dokter noona mengalami trauma dengan mereka sebelumnya sehingga melupakan mereka. Ini membuat eomma sedih. Dokter berkata hanya orang yang membuat noona traumalah yang bisa mengembalikan ingatan noona. Dan sialnya kami tak bisa menemukan orang itu. Semua anggota keluarga itu terlihat baik dan sempurna. Tak ada satupun yang dapat kami curigai penyebab trauma noona."

Baekhyun membuka matanya dan mengangkat tangannya ke atas, seolah ingin menyentuh awan.

"Kuharap noona mengerti hal ini. Dan satu hal yang harus noona ketahui. Calon suami noona, adalah namja yang noona beli dari perdagangan gelap, yang selama ini hidup dengan noona, Kim Chanyeol. Dialah orangnya."

TES

"Hujan?" Baekhyun beranjak berdiri dan berjalan pelan dalam derasnya hujan. Ia begitu menikmati setiap langkahnya. Biarlah. Perkataan Sehun di café tadi membuat kepalanya sedikit pusing. Ia tak menyangka ada banyak hal yang ia lupakan setelah kejadian itu. Dan lagi calon suaminya adalah orang yang selama ini dekat dengannya, yang sudah menyentuh tubuhnya, Kim Chanyeol.

"Aku mengetahui semuanya dari appa karena aku penasaran kenapa eomma begitu gigih melaksanakan pernikahan kalian. Selain itu, aku tak pernah melihat Chanyeol hyung selama ini. Kudengar ia masih kekantornya tapi langsung mengurung diri di kamar begitu pulang kerumah. Noona, lakukan sesuatu sesuai pilihan hatimu. Aku tau kau pasti sanggup menjalaninya. Kami mendukungmu noona."

BRUK

"Ah, Mianhae, mianhae… saya buru-buru."

Baekhyun mencoba berdiri. "Gwencha-" matanya membulat melihat siapa yang menabraknya. Ia langsung berdiri dan meninggalkan orang tersebut yang masih berdiri mematung di depannya.

"Wu Baekhyun, tunggu!"

.

.

Yeoja mungil itu berjalan melalui lorong sempit tempat biasa ia lewati. Namun tanpa sadar beberapa orang mengikutinya dari belakang. Jumlahnya 3 orang, semuanya namja, dan mereka berbau alkohol.

"Sendirian manis?"

Tubuh mungil itu berbalik. "Ck, mau apa kalian?"

"Ikutlah dengan kami. Kita bersenang-senang."

Yeoja itu mengacuhkan mereka dan kembali berjalan.

GREP

"Kubilang ikut kami!"

"Sudah kubilang ak—mmppff"

BUG

"Akh! Sialan kau." Namja itu menunjuk yeoja itu dengan jarinya.

"Apa? Mau melawan? Ayo maju!" ia mengayunkan tangannya.

"Berani juga kau!" Namja lainnya maju berbarengan dan mulai melayangkan pukulan pada yeoja mungil itu. Dengan sigap ia menangkis semua pukulan yang ada. Perkelahian pun tak dapat dihindari. Pukulan demi pukulan dapat dihalaunya, tendangan para namja itu pun dapat dihindarinya. Hingga seorang dari mereka menjegal kakinya hingga yeoja mungil itu terjatuh.

"Aww" tubuhnya menyentuh dinginnya aspal dengan keras.

"Menyerahlah. Kau tidak akan terluka. Benar kan teman-teman, hahaha…"

"Cih, tak akan!" yeoja itu bangkit berdiri dan memasang kuda-kuda lagi. Pukulan demi pukulan menghujaninya. Gerakannya mulai tak beraturan dan melambat akibat terbentur lantai jalanan tadi.

"Uhukk…" ia memuntahkan cairan merah pekat.

"Hahh hahh… kau masih kuat bocah?" tersisa satu namja yang masih berdiri. Kedua temannya berhasil ditumbangkan yeoja bermata sipit itu.

"Kau yang terakhir…" lirihnya. Dengan sisa kekuatannya ia kembali berkelahi dengan namja yang jauh lebih besar dan tinggi darinya. Beruntung namja itu sudah mabuk berat hingga pukulannya tak lagi fokus. Sekuat tenaga yeoja itu melayangkan pukulannya hingga namja gembul itu terbaring di lantai.

Yeoja itu terduduk di lantai. Lututnya menyentuh dinginnya jalanan di malam hari. "Hahh hahh aku tak kuatt lagii. Uhukk uhukk…" Pandangannya mulai mengabur.

"Baekhyun!"

Ia melihat seseorang berlari ke arahnya. Orang itu menggunakan jubah panjang. Ia tak bisa melihat wajahnya, tapi namja itu sangat tinggi. Tinggi seperti tiang. Seperti tiang listrik.

BRUK

.

.

.

"Ini laporan dari perusahaan kita di China. Ini adalah hasil penjualan bulan lalu di Myeongdong dan ini hasil rapat dengan partner kita dari Paris. Setelah ini ada…. Hyung, kau mendengarkanku?" Jongin menatap namja dihadapannya yang terpaku memegang bolpoin.

"Hyung, kau mendengarkanku?" ulangnya. Ia melambaikan tangannya di wajah orang itu. Namja itu sadar dan menoleh ke arahnya, "bisa kau ulangi Jongin?"

Jongin menghela nafas. Sudah sejak tadi ia berkoar menjelaskan berbagai dokumen di hadapannya, tapi ternyata hyung sekaligus atasannya ini tidak memperhatikan rupanya.

"Aku tahu kau sibuk dengan pernikahanmu hyung, tapi kita harus menyelesaikan ini dalam dua hari. Hanya tersisa esok dan minggu depan adalah pernikahanmu. Ku mohon mengertilah."

Namja itu menatap Jongin dengan pandangan menyesal. "Maafkan aku Jongin. Aku sedang tidak konsentrasi. Akan kuusahakan selesai secepatnya." Ia mengubah mimik wajahnya. Ia mengambil dokumen di hadapannya dan membacanya.

Jongin menatap orang yang berbeda 2 tahun dengannya. Tersirat kelelahan di wajahnya meskipun ia berkata baik-baik saja. Jongin tau, bukan hanya raganya yang kelelahan, tapi hatinya juga.

"Aku tau kau sedang memikirkannya hyung. Tenang saja, ia sudah berada di tempat yang aman. Bukankah kau sendiri yang mengantarnya ke rumah Sehun malam itu?"

"Lanjutkan pekerjaanmu Jongin."

"Hyung, jika kau mencintainya kenapa tidak kau rawat saja dia dan kalian bisa kembali berbaikan."

"Kau digaji bukan untuk menceramahi orang lain."

"Ku dengar dari Sehun, noona menyebut namamu dalam tidurnya. Lihat, kalian sama-sama tersiksa. Lupakan janjimu dengan Tao ahjumma. Aku yakin ia hanya mengerjaimu."

SRAKK

Namja itu menaruh dokumennya,"Rapat hari ini selesai. Kau bisa kembali ke ruanganmu, Direktur Kim."

"Ini masalah yang rumit. Maksudku perjodohan ini dan hubungan kalian. Tahukah hyung arti dari semua ini? Ini tak lebih hanya sebagai balas budi. Formalitas. Urusan orangtua yang harus ditanggung sang anak." Jongin berusaha terus berbicara agar didengar namja yang kini berdiri di belakang kursinya, memandang pemandangan Seoul dari kaca dibelakangnya.

"Kau bisa saja membatalkannya jika sikapmu seperti ini, hyung. Memberi harapan dan kau meninggalkannya begitu saja."

"Aku tak meninggalkannya Jongin, aku hanya menunggu saatnya tiba. Sesuai perjanjian dengan Nyonya Wu. Tak tahukah kau betapa sakitnya aku saat melihatnya kembali berkelahi seperti kemarin?"

Jongin berdiri dan menghampiri namja tiang itu. "Tidak meninggalkannya, tapi tetap tidur dengan yeoja lain. Apa itu yang kau sebut menunggu waktunya tiba hyung? Kau mengkhawatirkannya tapi tak pernah menjaganya."

"Aku hanya tak ingin menyakitinya lebih dari ini. Kita sama-sama buruk dalam mengontrol nafsu."

"Perjodohanmu, pembayaran hutang appa dan keperawanan yeoja itu, tidakkah kau menganggap semua itu adalah hal yang berharga hyung? Sangat sulit mencari yeoja seperti dirinya. Mandiri, pintar, cantik, memiliki kekayaan, dan juga virgin. Di mana kau bisa mendapatkan semua itu? Semua yeoja yang sudah kita tiduri selama ini adalah yeoja sampah yang tak berguna. Menjual kesucian demi pemuasan nafsu. Sungguh menyedihkan." Jongin menghela nafas. "Bersyukurlah ia tak mengingat kejadian waktu itu. Saat kau akan memasukkan vibrator ke dalam liangnya. Aku tak tau apa yang akan terjadi jika ia mengingat hal itu."

Namja itu menoleh,"Darimana kau tahu Jongin?"

Jongin bersmirk,"Meskipun aku baru 3 tahun waktu itu, tapi aku bisa melihat hyung. Kau sudah mengotori pikiranku sejak saat itu. Bisa dibilang kaulah yang menularkan sifat mesumku padaku meskipun aku lebih liar darimu."

Jongin berbalik dan menyusun dokumennya yang berantakan. "Kuharap kau tak mengecewakan appa dan eomma dalam pernikahanmu nanti. Jangan sampai salah satu yeojamu datang hyung. Aku tak ingin ia semakin menderita."

BLAM

Namja itu menatap lurus ke depan. Pikirannya dipenuhi yeoja yang dimaksud namdongsaengnya. Semua kenangan berkelebat dalam memorinya. Ia menutup mata sejenak. Keningnya mengerut. "Apa yang bisa kulakukan untuk menebus kesalahanku? Aku juga tersiksa jika harus terpisah lagi darimu."

.

.

.

"Maaf Jae Rin, aku tak bisa meneruskan hubungan ini."

"Kenapa? Bukankah sudah ku katakan padamu jika aku serius? Apa belum cukup apa yang kuberikan selama ini padamu?"

"Tidak. Kau sudah memberikan yang terbaik. Tapi aku tak bisa melanjutkan ini. Aku tak mencintaimu Jae Rin. Sejak awal sudah kukatakan bahwa aku mencintai seseorang."

"Chanyeol… tak bisakah aku menempati hatimu meskipun aku sudah memberikan segalanya padamu? Aku sangat mencintaimu Chanyeol. Ku mohon jangan tinggalkan aku…"

"Aku tak bisa. Seharusnya aku tak menerimamu waktu. Maafkan aku. Aku sungguh minta maaf. Semoga kau mendapatkan namja yang lebih baik dariku Jae Rin. Permisi."

"Chanyeol, tunggu. Chanyeol!"

Chanyeol berlari keluar restoran mewah itu. Ia berjalan sambil menunduk setelah berada jauh dari sana. Ia merasa sudah melakukan hal yang benar. Seharusnya ia melakukan ini sejak 3 hari yang lalu dimana anak perdana menteri itu mengutarakan perasaan padanya. Ia tahu ia harus menolaknya, tapi karena rasa egonya yang tinggi dan juga yeoja itu menawarkan segalanya untuknya, ia menyetujuinya. Chanyeol hanya membutuhkan pelampiasan kala ia tak bisa mendapatkan apa yang diinginkannya. Ia tak mau merusak apa yang dianggapnya berharganya Kejadian malam itu masih membekas di benaknya, apalagi saat ia mengingat wajah damai malaikatnya ketika tertidur membuatnya semakin merindu.

"Ini barangmu ahjumma. Maaf saya sedikit lama. Sangat sulit menemukan pencopet itu," kata seorang yeoja.

"Gomawo agasshi. Kau sungguh baik. Aigo, lihatlah dirimu. Kenapa penuh dengan luka? Apa pencopet itu menghajarmu?"

"Hehehe… tak apa. Saya bisa membersihkannya nanti. Yang penting barang ahjumma bisa diselamatkan. Ah, saya permisi dulu ahjumma. Berhati-hatilah di jalan lain kali. Dahh ahjumma…" yeoja itu berlari meninggalkan wanita paruh baya yang memandangnya khawatir.

"Semoga Tuhan membalas kebaikanmu nak…"

Chanyeol mengamati yeoja itu. Ia memutuskan untuk mengikutinya. Didepannya yeoja bertubuh mungil berjalan tertatih. Ia berhenti di sebuah bangku taman untuk beristirahat sejenak. Celana jeansnya digulungnya sebatas lutut. Ia meringis ketika udara dingin menerpa dan rasa sakit disaat bersamaan. Hari itu cuaca Seoul memang dingin. Wajar jika orang-orang memakai jaket tebal, dan sepatu boot serta pakaian hangat untuk melindungi diri.

"Ah, biru lagi. Ck, kuat juga tendangan ahjussi tadi. Untung dia tak menendang perutku. Ugh…" yeoja itu memegang perutnya yang terasa nyeri. Tangannya dikepalkannya dan memukul pelan bahunya sekedar melepas penat. Ia sedikit menepuk lebam di tulang keringnya sebelum menurunkan kembali skinny jeansnya. Tangan mungilnya membersihkan bercak darah yang mengalir di telapak tangan dan buku jarinya. Setelah itu ia kembali berdiri dan berusaha berjalan seperti biasa. Meskipun langkahnya pincang dan aneh.

Chanyeol yang menyaksikan semua itu dari kejauhan tertegun. Ingin rasanya ia berlari menghampiri gadis itu dan membersihkan semua lukanya. Memeluk dan menciumi gadis itu. Memberikan rasa hangat dan nyaman padanya. Ia menginginkan semua itu. Baru kemarin ia mengangkat tubuh mungil itu dari dinginnya aspal jalanan, sekarang ia mendapat lebam di tulang keringnya. Tangan Chanyeol terkepal erat. Chanyeol tak habis pikir, terbuat dari apakah tubuh mungil itu hingga mampu menerima pukulan dan hantaman para namja yang selalu berkelahi dengannya. Chanyeol ingin berada di sampingnya, melindungi dan memeluknya. Tak ingin lagi melihat ada luka ditubuh gadis itu karena ia sangat berharga. Tapi Chanyeol memiliki janji yang tak bisa diingkarinya.

.

"Chanyeol, maafkan appa karena harus menikahkanmu dengannya tanpa memberitahumu dulu. Jika kalian sudah menjadi suami istri, harta kekayaanmu akan menjadi milik keluarga Wu karena hanya dengan cara ini appa bisa melunasi hutang appa dengan halmoni Wu."

"….Eomma tahu siapa dia. Sekeras apapun ia, ia masih mempunyai hati. Ia hanyalah gadis kecil yang butuh kasih sayang Chanyeol. Raih dan bimbinglah ia. Ia membutuhkanmu karena hanya itu yang bisa kau berikan padanya…"

"Tidak meninggalkannya, tapi tetap tidur dengan yeoja lain. Apa itu yang kau sebut menunggu waktunya tiba hyung? Kau mengkhawatirkannya tapi tak pernah menjaganya."

"….Untuk sementara jauhi Baekhyun. Aku tak mau Baekhyun hamil sebelum menikah. Aku akan menyiapkan pernikahan kalian setelah Sehun. Tunggu hingga waktunya tiba…"

.

Chanyeol memukul pohon yang ada disebelahnya. "Sampai kapan akan seperti ini.."

.

.

.

"Baekhyunnie…" suara seseorang memecah gendang telinga Baekhyun ketika ia memasuki kafe tempatnya bekerja beberapa waktu lalu. Ia tersenyum dan merentangkan tangan, menyambut pelukan hangat dari sahabatnya, Do Kyungsoo, anak pemiliki kafe ini.

"Kau semakin cantik saja Kyungie. Apa yang terjadi padamu? Ooo… jangan bilang si itam sudah berbuat mesum padamu?" ledek Baekhyun ketika duduk bersama Kyungsoo di ayunan yang ada di rooftop.

Kyungsoo menunduk malu. Semburat merah menghiasi pipi chubbynya. "Hm… itu… iya. Kemarin aku dan Jongin hm… ciuman."

"Aigoo, lihatlah uri Kyungsoo sudah berani ciuman sekarang. Hahaha… kau hebat Kyungie," Baekhyun mencubit pipi chubby sahabatnya gemas.

"Baekhyunnie berkelahi lagi yah? Kenapa tanganmu berdarah?"

Baekhyun menarik tangannya. "Hah? A.. Ini bukan berkelahi kok. Tadi aku tak sengaja terjatuh. Dan yah… begitulah."

Kyungsoo menggembungkan pipinya."Baekhyunnie bohong. Baekhyunnie habis berkelahi kan. Biar aku ambilkan kotak P3K dulu di bawah."

"Ehhh tak usah. Kyungsoo…"

Terlambat. Kyungsoo sudah berlari menuruni tangga menuju dapur dimana kotak P3K berada.

"Dasar anak itu. Padahal aku hanya ingin main. Duh, perutku sakitt." Baekhyun menyamankan posisinya di atas ayunan. Sebelah tangannya menutupi kedua matanya. "Chanyeol pabo!"

DEG

Chanyeol tersentak. Ia menoleh ke kanan dan kiri. Hanya ada deretan mobil di sampingnya.

"Baekhyun…" Ia menghela nafas. Saat ini ia tengah terjebak macet di jalanan Seoul. Chanyeol menggigiti bibirnya. "Sial!"

.

.

.

Baekhyun memandang wajahnya di depan cermin. Senyuman manis terulas di bibir yeoja yang ada di belakangnya.

"Kau cantik Baekhyun." Yeoja itu ikut memandangi wajah Baekhyun yang sudah dipoles make up. Eyeliner, eyeshadow lembut, blush on tipis, bedak tipis, dan lipgloss pink lembut menghiasi bagian wajah yeoja lulusan arsitek itu. Wajah cantiknya hanya diam memandang bayangan dirinya.

"Sudah waktunya." Panggil seseorang setelah membuka pintu.

"Kajja, kau harus bersiap Baekhyun. Sebentar lagi appa menjemputmu." Yeoja itu membantu Baekhyun berdiri dari duduknya. Sebuah gaun putih panjang terkembang ketika Baekhyun berdiri. Gaun yang menampilkan bahu mungil nan mulus yang dihiasi dengan krystal Swarovski lembut dan berlian mewah di bagian dada hingga ujung membentuk untaian bunga nan cantik di sepanjang gaunnya. Gaun buatan tangan sang eomma sangat pas di tubuh mungil Baekhyun. Baekhyun tampak sedikit kesulitan berjalan mengingat gaun itu menutupi jarak pandangnya ke bawah.

"Hati-hati Baekhyun. Jangan gugup. Kau harus menguasai diri," bisik yeoja itu sambil memperbaiki gaun di bagian belakang.

"Apakah kau akan mengiriku nanti Luhan?"

Yeoja itu tersenyum manis. "Tidak sayangku. Aku akan duduk disamping Sehun. Kau dan appa akan berjalan menuju altar setelah kedua gadis kecil itu menabur bunga. Kau harus menguasai dirimu. Tersenyumlah selalu karena ini hari istimewamu."

Baekhyun tersenyum miris. Ia tak tahu mengapa ia bisa menyetujui semua ini dan berdiri disini. Padahal semalam ia telah mengemasi barang-barangnya berniat kabur.

"Apa rasanya seperti ini?" Baekhyun memegangi dada bagian kirinya. Rasanya ada sesuatu yang mendesak untuk keluar disana. Perutnya terasa tegang dan nyeri. Luka dalamnya beberapa waktu lalu sepertinya belum sembuh.

Luhan menggapai tangan itu dan menggenggamnya lembut. "Aku tahu kau gugup. Aku juga merasakan hal yang sama waktu itu. Tapi percayalah kau pasti bisa melakukannya. Pikirkan bagaimana wajah Chanyeol yang akan terpesona denganmu nanti. Oh, aku tak sabar untuk melihatnya. Kudengar ia sangat tampan."

Baekhyun kembali tersenyum miris. Ia merutuki dirinya yang begitu saja menyetujui kemanapun kakinya melangkah yang membawanya ke tempat ini. Ia bingung akan tindakannya. Ia bingung akan perasaannya.

"Sudah siap anak appa?" tuan Wu memasuki ruang tata rias dengan stelan tuxedo lengkap. Di usianya yang kepala 4, ia masih terlihat tampan mengenakan pakaian formal itu.

Luhan mundur sejenak memberikan ruang untuk ayah mertuanya menghampiri adik iparnya.

"Kajja. Semua sudah menunggumu." Yifan mengulurkan lengannya untuk diapit sang anak. Baekhyun memasukkan lengan kurusnya bertautan dengan sang appa. Ingin rasanya ia memeluk erat appanya seperti biasanya, namun ia sadar ia harus berubah.

"Aku siap appa." Senyuman manis terukir di bibir manisnya. Senyuman tulus hingga menampilkan eye smile kebanggaannya.

.

.

.

"Hari ini, kita berada di tempat ini untuk menyaksikan janji suci antara kedua anak manusia yang disatukan dibawah ikatan pernikahan. Kim Chanyeol, bersediakah kau menerima Wu Baekhyun sebagai pasangan hidupmu, dalam suka maupun duka, kini dan selamanya?"

"Ya, saya bersedia."

"Wu Baekhyun, bersediakah kau menerima Kim Chanyeol sebagai pasangan hidupmu, dalam suka maupun duka, kini dan selamanya?"

Baekhyun terdiam. Ia merasa ada sesuatu yang akan terjadi.

"Saya ulangi. Wu Baekhyun, bersediakah kau menerima Kim Chanyeol sebagai pasangan hidupmu, dalam suka maupun duka, kini dan selamanya?"

Masih diam. Semua orang saling berpandangan cemas.

Chanyeol menyentuh punggung tangan Baekhyun membuat yeoja itu tersentak. "Ya, saya bersedia." Ia kembali menundukkan kepala.

"Dengan demikian apa yang sudah disatukan Tuhan tidak dapat diceraikan manusia. Mulai saat ini dan sampai selama-lamanya kalian akan hidup sebagai suami-istri."

.

.

.

"Chukae Baekhyun, akhirnya kau menikah juga."

"Chukae Baekhyun, kau sangat cantik."

"Aigoo uri Baekhyun benar-benar seperti malaikat malam ini. Cantik sekali…"

Baekhyun tersenyum menanggapi pujian teman-temannya yang hadir di acara resepsi pernikahan pada malam harinya. Disebelahnya sang suami berdiri mendampinginya.

"Kau suka pestanya?" bisik Chanyeol di telinga Baekhyun.

"Hm? Yah. Sangat cantik. Gomawo," jawab Baekhyun canggung.

"Tak usah canggung. Aku suamimu Baekhyun." Chanyeol tersenyum pada istrinya. Baekhyun membalas senyumannya tanpa melihat wajah sang suami. Ia merasa perasaannya sedang tak baik.

"Dimana pengantinnya?" teriak seseorang. "Aku mau bertemu orang yang sudah merebut Chanyeol dariku. Tunjukkan dimana dia sekarang juga!"

Semua orang menoleh dan mencari sumber suara. Seorang yeoja menerobos tamu undangan hingga berdiri tepat di depan Baekhyun.

"Ooo, jadi ini istri Chanyeol. Brengsek kau!"

PLAK

"Apa yang kau pakai hingga Chanyeol jatuh ke dalam pelukanmu hah?"

Baekhyun memegang pipinya yang terasa perih. Pukulan yeoja itu sangat keras hingga pipinya berwarna merah. Ia mengernyitkan dahi. Siapa yeoja ini?

"Apa yang_ Jae Rin?"

"Jadi ini alasanmu memutuskan hubungan kita? Kau meninggalkanku karena akan menikah dengan yeoja pendek ini?" yeoja itu menunjuk Baekhyun.

"Maaf, apa maksud anda agasshi?"

Yeoja itu menatap Baekhyun marah. "Dengar yah yeoja jalang! Chanyeol ini adalah namjachinguku. Kami berpacaran baru 3 hari dan ia memutuskan hubungan kami setelah tidur denganku. Kenapa ada masalah?"

"3 hari?" mata Baekhyun memicing.

"Iya 3 hari yang lalu…" yeoja itu berkacak pinggang di depan Baekhyun.

"Bukankah kau anak perdana menteri Han? Dan bukankah kau sudah menikah? Lalu kau berpacaran dengannya dan tidur bersama dalam waktu 3 hari. Siapa yang jalang disini?" tanya Baekhyun. Semua tamu undangan tersenyum mendengarnya. Betul yang dikatakan Baekhyun. Yeoja dihadapannya adalah anak dari perdana menteri Korea Utara, Han Jae Min, Han Jae Rin. Ia sudah menikah dengan seorang politisi beberapa bulan lalu. kabarnya hubungan mereka kurang harmonis karena sikap Jae Rin yang hobi berpesta, menghamburkan uang dan bertingkah semaunya.

Yeoja itu terdiam. Chanyeol menoleh ke arah Baekhyun. "Baekhyun, aku bisa jelaskan_"

"Dengar yah, kau bisa menyelesaikan masalahmu dengannya besok. Kuminta sekarang pergi dari sini karena kau sudah merusak pestaku."

"Heh, memangnya kau siapa? Tak ada orang yang berani mengusirku karena aku anak perdana menteri." Sombong yeoja itu. Itu benar. Semua orang yang ada di sana tak ada yang berani menyentuhnya. Pengawal yang sudah disiapkan pun hanya diam ditempat karena sudah dihalau duluan oleh bodyguardnya.

"Lihatkan, tak ada yang berani. Lagipula_"

PLAK

SLASH

"Ini khusus tamu yang memiliki undangan. Dan anda tak memilikinya. Silahkan tinggalkan tempat ini." Baekhyun membalikkan gelasnya yang sudah kosong. Ia menampar dan menyiram wajah yeoja itu dengan wine di tangannya.

"Kauu_"

"Pengawal, tolong bawa keluar yeoja ini dan bawa dia ke kepolisian karena ia mengganggu pestaku. Jangan takut, ini adalah pestaku jadi aku yang berhak disini. Singkirkan semua bodyguardnya jika mereka melawan. Kalian bebas melakukan semau kalian," teriak Baekhyun. seketika suasana ricuh dimana beberapa pengawal menarik paksa yeoja itu dan lainnya terlibat perkelahian dengan bodyguardnya yang tak mau mengalah.

.

.

"Wah, kau hebat Baekhyun. Ini memang pestamu. Huh, dasar yeoja pengganggu! Pergi saja sana. Hush, hush…" Luhan melambaikan tangannya pada Jae Rin yang berteriak-teriak minta tolong. Sehun terkekeh melihat kelakuan absurd sang istri. Perutnya sudah membuncit, tapi kelakuannya seperti anak kecil.

Kyungsoo dan Jongin mendekati Baekhyun dan Chanyeol.

"Pasti sakit. Ku kompres air hangat yah.." tawar Kyungsoo sambil memegang pipi Baekhyun yang memanas.

"Tak usah, Kyungie. Nanti sembuh sendiri kok, Kyungie. Ah, bagaimana kalau kita makan itu. Aku belum mencicipi croissant isi kimchi itu. Yang membuat suaminya Minseok noona. Ayo kita cicipi."

"Jinjja? Jongdae oppa? Chef terkenal itu? Wahh, pasti enak," mata Kyungsoo berbinar terang mendengar kata makanan.

"Kajja…" Kyungsoo dan Baekhyun memisahkan diri menuju meja makanan dan mulai mengambil berbagai macam makanan yang terhidang di sana.

Jongin yang berada di dekat Chanyeol hanya menghela napas. "Akhirnya terjadi juga." Ia menoleh ke arah Baekhyun dan Kyungsoo yang asik melahap makanan dengan ceria. "Dia menyembunyikan sesuatu. Kau membuatnya terluka lagi hyung."

Chanyeol hanya memandang Baekhyun dalam diam. Dia masih kaget dengan kejadian tadi. Bukannya Baekhyun yang syok, tapi malah dirinya. Jongin benar. Baekhyun akan marah jika ada orang yang mengganggu kegiatannya karena memang begitulah ia. Tapi saat ini ia tertawa riang bersama Kyungsoo. Sepertinya Baekhyun memang menyembunyikan sesuatu. Tadi saja perkataan Chanyeol disela olehnya.

"Chanyeol, ikut appa sebentar," Joonmyeon, ayah Chanyeol dan Jongin menghampiri kedua anaknya dan menarik lengan Chanyeol. Chanyeol hanya pasrah mengikuti kemana sang appa membawanya. Ia tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Ia akan disidang oleh ke empat orang tuanya.

.

.

TBC

.

.

Aaaa…. Aku telat lagii. Karena sibuk menyambut Natal Ona jadi lupa meneruskan ff ini. Terima kasih untuk Jiae, bbhyun, dan readers lain ats peringatannya. Tenang, aku nggak mungkin upload ff 1x pertahun XD. Aku masih sayang kalian. karena itu aku upload lgi. next mungkin paling lama sebulanan lha #nyengir #jitakOna #kabuurr

Hehehe… banyak yg ngira kalo ChanBaek NC itu cma di mimpi saja. NONONO itu Real pemirsa. Tpi kebawa ke mimpi Baekhyun sangking kangennya si Baek sma Yeollienya cie, cie, cie… jdi intinya Baekhyun sudah kebobolan #ClapYourHand ehh. Disini mereka sudah menikah. Tapi apakah kehidupan mereka selanjutnya baik-baik saja? kita tunggu saja pemirsa… #evilSmirk maaf disini nggak ada NCnya Chap depan bakalan full lho. Siapkan mata dan hati anda XD

Aaaa…. Miracle in December sudah out. Jadi sedih waktu dengarnya. Lagu natal itu biasanya ceria dan bersemangat. Tapi karena ini temanya cinta, jadi mellow. Apalagi yg Orchestra vers. Aku suka suara trio vocal ini. Serasa melayang. Pengen punya suara seperti mereka. Suaraku setipe dengan Baekhyun, tapi nggak bisa nyanyi sebagus dia

Maaf karena aku nggak bisa blas review satu-satu. Luar biasa sambutannya di ff ku yg ini. Jdi aku blas lewat PM aja ya. Mohon pengertiannya #bowing tetaplah membaca dan kasi review ya. Apapun itu aku terima kok :3

Big Thanks to:

zoldyck, Park Bee, exindira, MinwooImitasi, , Guest, , baekchanchan, dobichan, , eyelinerbaekhyun, pinzame, byunyol, rachel suliss, BaekYeolShip, chika love baby baekhyun, ChanLoveBaek, ByunnaPark, Deer Panda, zhoelichy, lia10, ShinjiWoo920202, L'm0, Pcycy, Lhnzm Inc, Gita Safira, TrimCloudSparkKyu, phindi, Dini Kusuma, inggit, derpfangirl, bbhyun, Luhanude, SHY Fukuru, shinlophloph, Chanbaek, cho cheonsa, uwiechan92, nicha, BertaburCinta, .1, Fifia SPENSABAEXO138, sh28, im kirin, Namu Hwang, ChanBaek HunHan, Welcum Baek, baekchannie, eggxbacon, HyoDin Exostan, Byun Naochan, Jessica807, ExoticBaby'z, 88wolfkind, shinelikeseeker, shanty9411, BBCindy, Byun Jinhyun, ichanyeollie, miszshanty05, MidnightPandragon1728, younlaycious88, Majey Jannah, bekichan077, KimRyeona19, ,Kim Jaerin, flawlessaliens, bellasung21, starbucks91, hongkihanna, zee Konstantin, sung hyu-jin, KIMJUNMONEY, SyJessi22, Wu Lian Hua-Lyn Wu, Jung Eunhee, Keun Yoon, KimdiHyun, Sabil, Putry KyusungKrishun, Nadin, I was a dreamer, nanat, heecha lee, pinoya, bekichan0707, changmomoMINE, ByunBaeyuki, Kimmy, Yoonie-Moon, Jiae, bonggogi, ssoulmate.

Ada yang double? Atao tertinggal? Semoga tidak.